Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 04 Maret 2011

Salah Jalan

Bacaan Alkitab: Mazmur 25:1-5
Beritahukanlah jalan-jalan-mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku.
Mazmur 25:4

Ada kejadian lucu dalam Speedy Tour d’Indonesia 2010. Para pebalap dan ofisial termasuk chief commissaire tersesat di jalan utara kota Adiwerna, Kabupaten Tegal. Aki­batnya balapan sepeda itu di-start ulang. Itu balapan sepeda.
Pilihan dalam perjalanan hidup kita tidak bisa di-start ulang. Sekali salah jalan risiko harus kita lalui. Pernikahan yang salah jalan mengakibatkan masalah bahkan perceraian. Untuk tidak salah jalan, inilah petunjuk dari Tuhan dalam menjalani hidup ini.
Miliki keberanian percaya kepada Tuhan (ayat 2). Kita kadang-kadang tidak berani percaya kepada Tuhan karena terlalu mengandalkan percaya diri: merasa hebat, kuat, masih muda, dan merasa masih bisa. Atau penuh keraguan bahwa Tuhan bisa melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia. Jangan meremehkan Tuhan walaupun Dia tidak kelihatan!
Berharap bahwa jalan Tuhan adalah yang terbaik (ayat 3). Menan­tikan Tuhan pasti akan mendapat petunjuk yang akan menuntun kita daripada berjalan menurut cara dan akal kita sendiri. Tuhan dinantikan karena jalan-Nya sempurna dan terbaik dari semua yang baik menurut kita. Berjalanlah bersama-Nya mulai sekarang.
Jangan malu bertanya agar tidak sesat di perjalanan hidup ini (ayat 4). Tuhan adalah Roh dan kita juga diembusi dengan roh-Nya menjadi makhluk hidup. Tuhan tidak pernah tidur agar manusia bisa bertanya setiap saat kepada-Nya dan Dia akan memberitahukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Komunikasi sudah dibuka Tuhan. Bagaimana dengan kita? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Daripada berputar-putar salah jalan lebih baik ambil jalan
Tuhan yang pasti tidak akan membuat pusing.

Kamis, 03 Maret 2011

Hanya Sekali

Bacaan Alkitab: Ibrani 9:23-28
...manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.
Ibrani 9:27

Inti nas kita hari ini menyatakan bahwa, sebagai Imam Besar Kristus telah mengor­bankan diri-Nya sendiri untuk penebusan dosa. Bukan sekadar mengorbankan hewan kurban apa pun. Oleh karena itu pengorban­an-Nya hanya satu kali saja saat kedatangan-Nya yang pertama. Manusia diberi kesem­patan untuk memilih dan bersikap terhadap karya Kristus itu. Pada kedatangan-Nya yang kedua kelak, Ia akan menghakimi manusia berdasar sikap pilihannya tadi. Menyadari hal ini, mestinya menjadikan kita bersikap bijak dalam menjalani hidup ini.
Ada sementara orang yang berpandangan, “Urip mung sepisan wae kok digawe angel “ (hidup hanya sekali saja kok dibuat susah). Artinya dalam hidup yang hanya sekali ini berbuatlah menuruti semua keinginan hati, sebab kalau tidak sekarang kapan lagi kesempatannya.
Bahwa hidup hanya satu kali, itu benar. Mati pun hanya satu kali. Tetapi setelah itu akan ada penghakiman, demikian kata Alkitab. Ini yang barangkali terabaikan dalam pandangan di atas. Maka kalau mau bijaksana dalam menjalani hidup ini, pandangan yang dianut semestinya “Urip pancen mung sepisan, mula kuwi sing ati-ati” (hidup memang hanya satu kali, oleh karena itu berhati-hatilah).
Kristus sudah mengorbankan diri-Nya, setelah itu Ia akan mengha­kimi. Kita pun sekarang sedang menjalani hidup yang hanya satu kali, dan pada waktunya akan mati, lalu dihakimi. Maka bijaksanalah dalam menjalani hidup, dengan berhati-hati, tidak semberono. Karena se­muanya harus kita pertanggungjawabkan pada waktunya. —Handoyo.

Bila kesempatan datang berkali-kali, orang akan menggunakannya
dengan sesuka hati, tetapi bila kesempatan datang hanya satu kali,
maka orang akan menggunakannya dengan hati-hati.

Rabu, 02 Maret 2011

Pilihan Hidup

Dalam menjalani kehidupan ini kita se­lalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan dari yang mudah sampai yang sulit. Begitu mata melek, kita sudah disodori pilihan mau berdoa dahulu, atau langsung mandi, atau melakukan tugas-tugas rumah tangga. Hari ini mau masak apa, mengenakan pakaian yang mana, pergi ke mana. Ini adalah pilihan yang relatif gampang, tidak berisiko. Ada pilihan-pilihan yang sulit, seperti memilih karier dan jodoh. Semakin sulit pilihannya, semakin kita harus berhati-hati, sebab salah
pilih bisa celaka.
Kehidupan kita, sukses tidaknya, bahagia tidaknya banyak ditentukan oleh pilihan yang kita ambil. Pilih gaya hidup sehat atau yang mengun­dang penyakit. Mau memilih untuk mengasihi atau terus membenci. Bekerja secara jujur atau korup, dan lain sebagainya.
Musa menghadapkan bangsa Israel pada dua pilihan: “Aku meng-hadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kema­tian dan kecelakaan” (Ulangan 30:15). Jalan kehidupan, keberuntungan, jalan berkat, jika mereka mengasihi Tuhan, hidup menurut jalan yang ditunjukkannya, dan menaati perintah-Nya (ayat 16.) Sebaliknya jalan kematian jika mereka berpaling dari Allah, meninggalkan ketetapan-ketetapan-Nya (ayat 17-18).
Musa mendorong bangsa Israel untuk memilih kehidupan. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu (ayat 19).
Dalam memilih kita juga mengacu pada dua kriteria ini. Jalan kehidupan atau kebinasaan, berkat atau kutuk. Apa pilihan Anda? Yang jelas aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yosua 24:15). —Liana Poedjihastuti

Sama Setiap Nada

Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 9:4-5
Siapa bersih kelakuannya, aman jalan­nya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.
Amsal 10:9

Di dalam tubuh piano berjajar sejumlah tuts yang menyimpan dentingan nada do-re-mi-fa-sol-la-si... yang indah dan akurat. Tak satu pun dentingan nada itu yang berniat mengelabui telinga kita, selalu sama di nada yang sama. Inilah kebenaran do-re-mi yang tak usang oleh gelegar musik cadas, dan tak hanyut oleh lentiknya musik klasik. Sesung­guhnya kita juga rindu akan kebenaran do-re-mi yang konsisten. Kita rindu pada ritme kehidupan piano yang penuh integritas, benar setiap saat.
Integritas menyiratkan ketaatan kita pada perintah suara hati yang dikendalikan oleh ketulusan untuk hidup benar. Kita menjadi taat dalam kebenaran ilahi. Ini berarti Tuhan sendiri yang menjadi penguji hati kita (1 Tawarikh 29:17). Jadi, hidup penuh integritas adalah hidup yang tidak condong pada yang salah, tetapi hidup yang mengandalkan kebenaran ilahi. Kita bukan saja menjauh dari kemunafikan, tetapi juga mempertebal keyakinan untuk tidak memilih jalan hidup yang berliku-liku dan keliru.
Barangkali kita terlalu lugu menyikapi kehidupan ini, dan sering kali naif menilai keberhasilan kita. Kita terkadang plin-plan menyikapi hal-hal yang penting, dan sering menangisi perkara yang sia-sia. Namun mulai hari ini tetapkanlah sebuah keputusan hati untuk membangun integ­ritas diri kita. Kita harus berani membedakan yang benar dan yang salah, berani melaksanakan apa yang kita yakini benar, dan berani secara terbuka mengatakan apa yang telah kita yakini dan lakukan. —Agus Santosa.

Andaikata integritas itu memiliki lawan kata, barangkali lawan kata itu
adalah korupsi—lolosnya segala sesuatu yang kita ketahui salah.
—Stephen L. Carter

Senin, 28 Februari 2011

Mendengarkan Adalah Cinta

Baca: Lukas 10:38-42
...Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.
Lukas 10:39
Pada umumnya orang lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Padahal bukan orang yang banyak bicara yang dibutuhkan, melainkan orang yang mau mendengarkan. Begitu pentingnya mendengarkan sampai ada yang mengatakan kalau saja ada yang mau mendengarkan, maka orang tidak akan merasa hidup dan persoalannya begitu sukar untuk diatasi. Orang yang didengarkan akan merasa tenang dan merasa bahwa ada orang yang peduli. Mendengarkan adalah tindakan cinta, tindakan kepedulian,  suatu komitmen diri kita kepada orang lain, demikian kata Rouel L. Howe. Barangkali itulah sebabnya mengapa kita dikaruniai dua telinga dan hanya satu mulut.
Mendengarkan adalah memindahkan pusat perhatian dari diri sendiri kepada orang yang didengarkan. Ini bukan pekerjaan yang mudah, utamanya bagi mereka yang memiliki otoritas atau kekuasaan seperti orangtua, atasan, para lanjut usia, dan yang lain. Bukankah sebagai orang yang memiliki kekuasaan dan otoritas harus lebih didengarkan?
Mendengarkan itu sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Diperlukan kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan, juga latihan agar dapat mendengarkan.
Rupanya Maria tahu benar bahwa mendengarkan adalah pernyataan cinta, itulah sebabnya ia lebih memilih untuk duduk dekat Yesus, men­dengarkan Dia. Tindakan Maria ini dipuji Yesus (ayat 42).
Mulai hari ini marilah kita lebih mau mendengarkan, sebagai ung­kapan rasa syukur atas cinta Tuhan yang melimpah dalam hidup kita. Dengan kita mendengarkan kiranya orang-orang dapat merasakan kasih sayang. —Liana Poedjihastuti.

...menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan kurban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh... —Pengkotbah 4:17

Minggu, 27 Februari 2011

Semua Karena Cinta


Baca: Kidung Agung 8:6-7
Taruhlah aku seperti me­terai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api seperti nyala api Tuhan! Kidung Agung 8:6-7

...dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan kar’na kuat dan hebatku... Semua ka­rena cinta.. semua karena cinta...‘tak mampu diriku dapat berdiri tegar... terima kasih cinta...
Masih ingat penggalan refrein lagu popu­lar di atas? Saya sebenarnya lebih setuju jika kata “tak” pada kalimat “tak mampu diriku dapat berdiri tegar” diganti “kan”, sehingga menjadi “kan mampu diriku dapat berdiri tegar”. Ya, cinta itu penuh daya, power of love, demikian sering kali diungkapkan.
Seperti halnya cinta Allah bagi kita umat-Nya. Kidung Agung 8:6-7 ini merupakan ungkapan bahasa cinta Allah pada umat-Nya. Cinta yang tidak terpisahkan: melekat kuat dan erat; serta penuh daya seperti maut yang tak terhindarkan. Cinta itu adalah cinta yang tanpa pamrih; tulus; rela berkorban; sedia mengampuni. Cinta sejati, yang ada hanya karena kesetiaan. Cinta Allah yang mau memberi diri-Nya untuk pengampunan segala dosa kita. Itu semua nilai kehidupan yang tak terukur dan tak tergantikan secara materi.
Cinta yang seperti itulah yang dibutuhkan dalam relasi kehidupan umat Tuhan di dunia ini, antara pasangan suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, saudara bersaudara, teman seiman, bahkan antar sesama manusia. Cinta Allah itulah yang semestinya menjadi penghayatan kita dalam hidup bersama sesama di tengah-tengah dunia, oleh karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang membuat dunia sekeliling kita menjadi berdaya, ketika kita saling membagikan cinta Allah melalui sikap perbuatan dan perkataan. —Pdt. Amalia P. E. Lalenoh.

Kita mungkin tidak mampu melakukan hal-hal yang
besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil
dengan cinta yang besar. —Sr.Teresa

Sabtu, 26 Februari 2011

Dihajar Tuhan Karena Cinta

Baca: Ibrani 12:5-8
Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Ibrani 12:6
Berapa banyak anak-anak yang disakiti hatinya oleh orangtuanya sendiri: dihajar, dipukul, cacat seumur hidup bahkan sampai pada kematiannya. Ada orangtua menghajar karena cinta, ada yang menghajar karena pelampiasan kemarahan karena anak itu sebenarnya tidak dikehendaki lahir.
Beda dengan cara Tuhan menghajar anak-anak-Nya. Tindakan Tuhan mengan-dung edukasi demi masa depan anak-anak Tuhan itu sendiri. Dihajar karena cinta-Nya, bagaimana bila hal itu terjadi pada kita?
Pendidikan Tuhan memang keras, tetapi sangat berfaedah. Keras beda dengan kejam. Keras mengarah pada kedisiplinan hidup. Jangan menganggap enteng didikan Tuhan, cobalah periksa diri sendiri kenapa sampai Tuhan mengizinkan yang tidak enak terjadi dalam hidup kita. Terimalah hajaran Tuhan itu dan hiduplah lebih beriman kepada-Nya.
Dikasihi Tuhan tidak selamanya hanya menerima yang baik. Tuhan mengasihi melalui berkat-berkat-Nya, tetapi juga melalui pen-deritaan dan ujian hidup. Dari cara-cara Tuhan itu akan muncul orang-orang yang bertobat atau sebaliknya orang-orang yang makin jauh dari Tuhan. Belajarlah berkata seperti Ayub: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10).
Seberat apa pun hajaran Tuhan, kita tetaplah anak-Nya. Pengakuan sebagai anak oleh Tuhan membuat kita bahagia karena tindakan-Nya yang keras tidak akan membinasakan kita. Bagi Dia, semakin kita di­hajar berarti semakin didekatkan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hanya ada satu pilihan di antara: Mau marah atau mau bertobat? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Dalam pendidikan Tuhan hanya ada satu tujuan, yaitu pembaruan
karakter agar semakin sempurna seperti Bapa di surga.

Jumat, 25 Februari 2011

Kasih Seorang Ibu

Kasih Seorang Ibu
Baca: Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk mem­berikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Markus 10:45
Alkisah seorang gadis bernama Cindy, anak seorang janda miskin. Ia terjerumus dalam pergaulan bebas, minuman keras, dan narkoba. Hidupnya berantakan. Ibunya sangat sedih melihat cara hidup anaknya itu. Para tetangga berbisik-bisik membicarakan Cindy. Si ibu berusaha melakukan apa saja untuk menyadarkan anaknya. Pernah ia mengundang pendeta untuk menasihati anaknya itu, tetapi hasilnya nol besar, malah ia merasa malu karena dengan kasar Cindy mengusir pendeta itu. Sampai suatu saat Cindy jatuh sakit, harus berbaring di tempat tidur berbulan-bulan. Dengan setia si ibu merawat. Tentu saja hal ini sangat menyita waktu dan tenaga si ibu, sebab ia juga harus mencari nafkah dengan berjualan kue. Tidak hanya itu, untuk menambah penghasilan ia lalu menjadi buruh cuci dan setrika. Tetangga merasa kasihan melihatnya, pekerjaan itu berat untuk orang seusianya. Tetapi tak sepatah kata keluhan keluar dari mulutnya. Ibu Cindy tak kenal putus asa, ia terus mendoakan agar Cindy kembali ke jalan yang benar. Melihat apa yang dilakukan ibunya, hati Cindy tersentuh. Kasih ibunya yang meneladani kasih Yesus mem­buat ia bertobat, menerima Yesus yang telah memberikan nyawa-Nya untuk orang berdosa seperti dirinya.
Bagaimana dengan kita? Sebagai orangtua, apakah kita telah menun­jukkan kasih sayang yang rela berkorban kepada anak-anak kita? Sebagai anak, sudahkah kita mengasihi orangtua kita dengan kasih yang tulus? Dan apakah kita telah mengasihi sesama kita sama seperti Yesus telah mengasihi kita? —Teguh Pribadi.

Doa: Ya Tuhan, ajarkan kami untuk mengasihi seperti
Engkau telah mengasihi kami. Amin.

Kamis, 24 Februari 2011

Cinta Itu Memberi

Baca: Kisah Para Rasul 20:35
...sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
Kisah Para Rasul 20:35

Dalam praktik sehari-hari ternyata konsep memberi, selalu berkonotasi “mengeluar­kan”, dan dalam memberi terus-menerus cepat atau lambat nanti pasti kita akan keha­bisan juga. Ketakutan kehabisan inilah yang membuat kita tidak mudah untuk memberi, bahkan cenderung menjadi kikir.
Dalam pandangan Tuhan Yesus ternyata konsep memberi dianggap lebih utama dari­pada menerima. Karena di dalam memberi, membagi dan mengeluarkan sebenarnya itu cermin dari seseorang yang dalam hatinya penuh syukur, kegembiraan dan kebahagiaan. Ya, hanya orang yang merasa sudah menerima begitu banyak hal dari Tuhan, yang merasa hidupnya su­dah diberkati Tuhan akan selalu terpancar kesadaran memberi, membagi, mengeluarkan dari dirinya.
Dari dasar pandangan inilah kita dapat memahami apa itu mencin­tai. Cinta pada hakikatnya adalah kesediaan memberi, berbagi dan mengeluarkan dari diri kita. Secara sadar, spontan yang keluar dari hati yang mencintai. Sebab di sana tidak ada tuntutan, perhitungan untung-rugi, juga tidak ada gengsi dan kebanggaan diri yang mengha­langi. Yang ada adalah keinginan untuk memberi sesuatu yang terbaik dari yang dimiliki. Hanya itu. Cinta selalu tidak bersyarat, tidak pamrih. Cinta juga tidak memasang label harga, bagi cinta tidak ada yang ter­lalu mahal. Cinta yang sesungguhnya tersemai dalam hati yang merasa sudah mendapat cinta Kristus yang tidak pernah melihat siapa kita. Ia mengasihi kita sebagaimana adanya kita. Ia mau menerima kita tanpa syarat. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Hati yang diresapi oleh cinta Kristus akan menjadi telaga persemaian
benih cinta yang takkan pernah lekang, dari sana akan terus
mengalirkan cinta tanpa henti. memberi dan memberi.

Rabu, 23 Februari 2011

Saling Mengasihi


Baca: Yohanes 13:34-35
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.
Yohanes 13:35
Sebagai pengikut Kristus, kita menerima amanat dari-Nya untuk menjadi saksi-Nya yang memberitakan dan menunjukkan, bahwa Dia adalah Juru Selamat. Kesaksian yang harus kita lakukan itu tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga perbuatan nyata, sesuai dengan apa yang telah diajar­kan dan dilakukan-Nya. Melalui kesaksian, kita sekaligus juga menunjukkan bahwa kita menjadi murid dan pengikut Kristus yang setia dan taat. Dengan demikian, kesaksian kita itu juga menjadi indikator seberapa be-
sar kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya. Semakin besar dan kuat kesetiaan serta ketaatan kita, semakin besar dan kuat pula keinginan serta perbuatan kesaksian kita.
Dalam hubungan itu, perlu kita sadari pentingnya keserasian antara apa yang kita beritakan dengan perilaku kita sendiri. Dengan kata lain, hidup dan perilaku kita itu harus sesuai dengan, atau menjadi perwujudan dari kesaksian kita. Perilaku yang tidak sesuai dengan kesaksian, akan melemahkan kesaksian itu sendiri, sehingga membuat orang menjadi tidak mau mempercayainya.
Menyadari betapa penting dan mendasarnya prinsip kasih yang men-jadi inti dari ajaran dan karya Yesus, maka dengan menjalankan perintah-Nya untuk mengasihi sesama, hal itu menjadi wujud dari kesaksian dan bukti kepemuridan kepada Kristus. Melalui perbuatan kasih yang kita lakukan, semua orang akan melihat bahwa kita adalah pengikut dan saksi Kristus. Itulah aspek dan pengaruh lain dari perbuatan kasih yang patut kita perhatikan dan jadikan pendorong untuk melakukannya. —Pdt. Em. Sutarno.

Perbuatan saling mengasihi tidak hanya menjadi bukti
kepemuridan Kristus, tetapi juga keksaksian yang
efektif tentang dia yang penuh kasih.

Selasa, 22 Februari 2011

Cinta Mengalahkan Segalanya

Baca: Daniel 6:11-12
...tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Daniel 6:11
Sebuah penelitian di Inggris yang dimuat dalam jurnal Archives of Sexual Behavior melaporkan bahwa seorang pria hanya butuh waktu 8,2 detik untuk jatuh cinta kepada se-orang wanita yang dijumpainya. Itulah jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertanyaan-nya butuh berapa lama seorang manusia jatuh cinta dalam pandangan pertamanya kepada Tuhan?
Daniel membuktikan cinta-Nya yang kuat kepada Tuhan walaupun diancam hu­kuman mati dilempar ke dalam gua singa
(ayat 13). Bagaimana membuktikan bahwa cinta kita kepada Tuhan adalah untuk yang utama dan selamanya?
Tidak gentar menghadapi tantangan manusia. Selama kita hidup benar dan hanya fokus kepada Allah, maka apa pun keadaan dan ke­nyataan yang bakal terjadi tidak akan menyurutkan nyali dan iman kita kepada Allah. Surat perintah raja tidak mengggetarkan Daniel. Percayalah Allah selalu di pihak kita, orang-orang yang dibenarkan Tuhan.
Carilah Tuhan. Daniel menghadap Allah dalam kerendahan hati, doa dan pujian. Itulah kekuatan cinta yang tak terkalahkan. Asal masih ada cinta kepada Tuhan, akan ada jalan terbuka untuk menerima kekuatan Allah. Apa yang Anda lakukan ketika hidup ini terancam dengan banyak masalah dan persoalan?
Tetaplah bersaksi dan jangan undur sedikit pun. Daniel dicari oleh pihak penguasa Babel dan mereka menemukan Daniel sedang berdoa memohon kepada Allah (ayat 12). Jangan berhenti beribadah, berdoa dan menyembah Allah walaupun hidup ini sedang banyak masalah. Semakin banyak berdoa, semakin banyak kuasa Allah menaungi kita. Percayalah! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Jika cinta kepada Tuhan sudah bisa mengalahkan segalanya, maka
itulah cinta sejati yang akan terus dibawa setia sampai mati.

Senin, 21 Februari 2011

Menarik

Baca: Efesus 1:5-8
...Ia telah menentukan kita... sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya... menurut kekayaan kasih karunia-Nya. - Efesus 1:5, 7
Psikolog Jerman, Erich Fromm, dalam bu­kunya, The Art of Loving, menuturkan bahwa manusia modern begitu gemar mengunjungi estalase toko, bazaar, plaza, atau mall untuk membeli barang-barang yang diinginkan, entah cash atau dengan menggesek kartu kredit. Fromm menandaskan bahwa cinta manusia modern juga menggunakan mo-dus yang tak jauh berbeda. Perempuan yang menarik bagi lelaki sekarang tak ubahnya adalah “bingkisan” yang diinginkannya. Sebaliknya, bagi perempuan, lelaki yang
menarik adalah “hadiah” yang selalu mereka dambakan.
Menarik itu berarti sehimpunan sikap manis yang menawan, karak-ter populer yang dicari di berbagai estalase cinta. Menarik juga memuat serumpun kondisi, syarat atau kualifikasi. Anda akan mencintai saya sesuai syarat yang Anda pandang menarik, begitu juga saya mencintai Anda karena sesuai syarat yang saya inginkan. Ketika Anda pas dengan kualifikasi saya, jatuh cintalah saya kepada Anda! Nah, sejatinya, saya ini jatuh cinta kepada Anda, atau pada persyaratan saya yang kebetulan Anda miliki?
Jika saja Tuhan bekerja dengan modus ini, maka hari ini takkan ada penebusan! Tuhan tidak mengasihi Anda dan saya karena kita menarik. Yesus tidak menebus kita karena Anda dan saya memenuhi syarat-syarat hukum Taurat. Tuhan mengasihi kita sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (ayat 5). Penebusan oleh darah-Nya itu menurut kekayaan kasih karunia Tuhan (ayat 7). Kita seharusnya bercermin pada Yesus, sanggupkah kita mengasihi orang lain menurut kerelaan dan kekayaan kasih karunia yang kita terima dari Tuhan? —Agus Santosa.
Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu
yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan
orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar
dan orang yang tidak benar. —Matius 5:45

Minggu, 20 Februari 2011

Dimuliakan Nama-Mu

Baca: Yohanes 13:34-35
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.
Yohanes 13:35
Teknologi informasi semakin canggih, sehingga dunia seolah-olah tanpa batas. Sejak 1998, berita kekerasan sering terjadi di Indonesia, salah satunya karena ulah para teroris. Sebelum 1998 mungkin kekerasan juga telah ada, tetapi informasi sulit didapat sehingga seolah-olah semua hidup damai.
Akhir-akhir ini pemerintah proaktif me­merangi terorisme, ada banyak teroris yang tertangkap bahkan terbunuh. Tindakan ini memancing pembalasan dari teroris, antara lain peristiwa Polsek Hamparan Perak, Su-
matera Utara yang mengakibatkan tiga polisi terbunuh. Dalih teroris melakukan perbuatannya adalah perintah agama memerangi kaum kafir dan antek-anteknya (dahulu sasarannya tempat yang banyak dikunjungi orang Amerika atau Australia, sekarang bergeser ke polisi yang dianggap musuh karena memerangi mereka).
Terjadilah kekerasan dilawan dengan kekerasan. Ketika seorang re­porter mewawancarai seorang istri polisi yang terbunuh, dan bertanya apa harapannya, inilah jawabnya: “Kalau teroris itu tertangkap, jangan dibunuh.” Mengapa? tanya sang reporter. Si istri menjelaskan bahwa dalam kebaktian keluarga di malam hari sebelum peristiwa terjadi, suaminya berdoa: “Tuhan lindungi aku dalam perjalanan dan di kantor. Jadikan segala yang aku perbuat menjadi berguna dan mendatangkan damai, sehingga nama-Mu dimuliakan.” Si istri menambahkan, “Orang Kristen tidak boleh membalas kejahatan dengan kejahatan.“
Kalimat itu mengingatkan kita akan ucapan Yesus di kayu salib “Bapa ampuni mereka, karena mereka tidak tahu apa yang diperbuatnya.” Dan, dapatkah kita juga mengampuni demi memuliakan nama-Nya? —Pramudya.

Mengampuni adalah perwujudan cinta,
dan damai adalah tujuan cinta.

Sabtu, 19 Februari 2011

Persaingan Positif

Baca: Galatia 6:2
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu me­menuhi hukum Kristus.
Galatia 6:2
Persaingan melawan orang lain akan meng-uras emosi dan tenaga, bahkan pada akhirnya akan menghasilkan setumpuk kekecewaan pada diri sendiri. Dalam persaingan, ke­tika kita menang dan orang lain kalah, kita bahagia, tetapi hanya sesaat, sifatnya tidak langgeng. Pesaing kita selalu menjadi an-caman, dan menanti saat yang tepat untuk dapat mengalahkan kita. Dapat disimpulkan bahwa persaingan melawan orang lain selalu berakhir dengan kepedihan mendalam. Ka­lau begitu mengapa tidak diganti dengan
persaingan yang positif? Kita berlomba bukan untuk menjatuhkan orang lain, tetapi untuk kebaikan orang lain. Itu adalah pandangan yang sangat Kristiani, seperti dikatakan Paulus dalam Galatia 6:2.
Berusahalah untuk berbuat baik kepada orang lain yang mampu kita jangkau. Hukum resonansi mengatakan bahwa orang yang sudah merasakan kebaikan, akan membalas dengan kebaikan juga. Jadi, suasana yang ada bukan kompetisi untuk mengalahkan yang lain, tetapi untuk mengangkat orang lain. Usaha yang lebih mulia bukan, apalagi kalau didasari dengan prinsip orang yang lemah layak kita bantu, harus kita angkat agar tidak tenggelam?
Jikalau kita sudah melakukan hal ini, kita akan disebut sebagai orang yang bijak. Tetapi ini belum cukup, kita masih perlu bersaing melawan diri sendiri, agar terus termotivasi: prestasi hari ini jangan kalah dengan prestasi hari kemarin. Ini pun belum cukup, kita perlu bersaing untuk menjadi citra Allah yang baik di dunia dalam profesi kita masing-masing. Selamat mencoba. —Pdt. Agus Wiyanto.

Anda dan saya ditugaskan di bumi, untuk melakukan sesuatu
secara produktif dan maksimal demi kemuliaan nama-Nya.

Jumat, 18 Februari 2011

Kasih Dalam Perbuatan

Baca: 1 Yohanes 3:11-18
Anak-anakku marilah kita mengasihi bukan dengan perkataan atau dengan lidah, tetapi dengan perbuatan dan dalam kebenaran.
1 Yohanes 3:18
Saya pernah mengikuti seminar tentang solidaritas dengan wong cilik (orang yang tersisihkan), yang biasanya diadakan oleh LSM yang bergerak di bidang kemasyarakat-an. Mereka ingin memperjuangkan nasib wong cilik dalam struktur masyarakat yang tidak adil. Lalu bagaimana implementasi-nya dalam kehidupan sehari-hari, apakah tergerak hati kita untuk menolong secara pribadi kalau berjumpa dengan orang yang tidak mampu yang membutuhkan pendam-pingan?
Memang kasih tidak boleh tinggal dalam wacana melainkan harus dalam wujud perbuatan. Kita bisa melihat dan meneladani Yesus Kris­tus, yang rendah hati dan lemah lembut. Ia setiap hari bergaul dengan rakyat biasa, orang kebanyakan, masyarakat menengah ke bawah. Hati dan tangan-Nya terbuka untuk menolong mereka yang sakit, kerasukan setan dan mereka yang lapar.
Kita perlu mengalami persekutuan dengan Tuhan Yesus secara erat, supaya kita memiliki hati Yesus yang berbelas kasihan. Hanya dengan demikian kita bisa mewujudkan kasih dalam bentuk perbuatan nyata.
Tuhan Yesus menghendaki kita mau memecahkan roti bagi mereka yang lapar, memberi tempat tumpangan bagi mereka yang memerlukan, pakaian bagi yang telanjang. Kita berbagi dengan apa yang kita sendiri butuhkan setiap hari. Jika kita melakukannya, maka pada waktu itulah terang kita akan merekah seperti fajar (Yesaya 58:7-8,10). Kasih tidak berhenti pada wacana, tetapi diteruskan melalui perbuatan nyata. —A. Budipranoto.

Doa: Berilah kami hati yang berbelas kasihan, ya Tuhan,
supaya kami siap mewujudkan kasih dengan perbuatan. Amin.

Kamis, 17 Februari 2011

Cinta Buta

Baca: 2 Samuel 11:2-10
Lalu Daud menyuruh orang bertanya tentang perempuan itu dan orang berkata: “Itu adalah Batsyeba binti Eliam, istri uria orang het itu.”
2 Samuel 11:3
Banyak orang menyesal setelah menjalani berumah tangga hanya untuk beberapa ta­hun lamanya. Alasannya karena telah salah pilih pasangan. Inilah yang disebut Cinta buta. Bukan cinta yang membutakan tetapi nafsu cinta membuat orang tidak memiliki hikmat untuk mengenali pasangannya sebe­lum menikah. Daud yang sudah berumah tangga, masih juga mengincar Batsyeba, istei Uria. Ia lupa sebagai raja yang diurapi Allah. Firman Tuhan memberi petunjuk ba-gaimana menjalin cinta yang kudus dalam keluarga:
Buatlah mata kita untuk tidak membandingkan pasangan sendiri dengan orang lain. Daud tergiur melihat Batsyeba yang sangat elok rupanya (ayat 2). Ia lupa kepada keluarganya sendiri yang pernah ia bawa dalam doa syukur agar selalu diberkati Tuhan (2 Samuel 7:29). Jangan membanding-bandingkan suami, istri, anak-anak dengan yang lain. Penyesalan selalu datang belakangan dan fatal.
Sebelum bertanya kepada orang lain, bertanyalah kepada Tu­han. Daud bertanya kepada orang lain tentang siapa perempuan cantik itu. Daud tidak bertanya kepada Tuhan apakah cara hidup yang se-perti itu berkenan di hadapan-Nya. Daud sudah meniadakan iman dan mengedepankan nafsu berahi semata. Bertanyalah kepada Tuhan bila ada masalah dalam keluarga kita. Awas setan ada di sekitar kita!
Dalam kasus penyelewengan tidak berlaku kata “Lanjutkan!” Demi kebahagiaan dan cinta kepada keluarga lebih baik berkata “Berhenti sam­pai di sini.“ Daud tidak mau berhenti hingga apa yang di tabur akhirnya dituainya sendiri (2 Samuel 12:18). —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Cinta Tuhan tidak akan membuat orang mengalami cinta
buta dan akhirnya terperosok ke dalam dosa.

Rabu, 16 Februari 2011

Ketaatan Pada Kebenaran

Baca: 1 Petrus 1:21-23
Karena kamu telah menyucikan dirimu oleh ketaatan kepada kebe­naran, sehingga kamu dapat mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas, hendaklah kamu bersungguh-sungguh saling mengasihi dengan segenap hati.
1 Petrus 1:22
Kasih menjadi unsur yang sangat penting dan mendasar dalam kepercayaan kita. Ka-sih itu jugalah yang memberikan ciri khusus atau jati diri bagi keyakinan kita. Dalam hu-bungan ini, secara sadar atau tidak sadar, kita mungkin lalu beranggapan bahwa dalam hidup dan kegiatan kita, “dengan sendiri-nya” kita pasti berupaya melaksanakan perin-tah untuk mengasihi itu. Pada sisi yang lain, kalau kita mau jujur kepada diri sendiri dan sesama, kita pasti juga akan mengakui bahwa upaya tersebut lebih banyak gagalnya ke-
timbang berhasilnya. Kita cenderung untuk selalu lebih mengasihi diri sendiri ketimbang mengasihi Tuhan dan sesama. Karena itu kita men­jadi kurang memperhatikan dan bahkan meniadakan kasih kita kepada Tuhan dan sesama.
Petrus menyadarkan kita, bahwa kita hanya akan dapat melakukan atau “mengamalkan kasih persaudaraan yang tulus ikhlas”, apabila kita telah “menyucikan diri” kita “oleh ketaatan pada kebenaran”. Artinya, berbuat sesuatu berdasarkan dan oleh kasih, bukan merupakan hal yang dengan sendirinya akan kita lakukan. Untuk itu kita terlebih dahulu harus menjadikan hidup dan perilaku kita itu sungguh-sungguh sesuai dengan kehendak Tuhan, sebagaimana dinyatakan di dalam perintah dan hukum-hukum-Nya. Dengan kata lain, kalau kita benar-benar ber­sedia menaati perintah-perintah-Nya, kita tentu juga akan bersedia menjalankan kasih, karena seluruh hukum Taurat dan kitab para nabi tergantung kepada kasih itu (Matius 22:37-40). —Pdt. Em. Sutarno
Doa: Tuhan, tambahkan ketaatan kami pada perintah-
perintah-Mu, agar kami mampu mengasihi sebagaimana
Kauperintahkan kepada kami. Amin.

Selasa, 15 Februari 2011

Tak Pernah Sempurna

Baca: Efesus 3:14-21
Aku berdoa, supaya kamu bersama-sama dengan segala orang kudus dapat memahami, betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus....
Efesus 3:18
Rasanya baru kemarin saya alami kenangan manis yang tidak pernah terlupakan bersama ibu saya. Hari itu, saya harus menerima kenyataan bahwa ibu saya telah dipanggil pulang Tuhan. Kematian telah menjemput­nya. Beberapa hari setelah kepergiannya saya merasakan kehilangan yang sangat dalam. Sore itu, seorang teman pelayan datang mengunjungi saya. Dalam kesedihan saya menyampaikan kepadanya bahwa saya be­lum dapat memberi banyak dan membalas kebaikan ibu, karena waktu itu saya belum
menyelesaikan studi, dan masih banyak beban yang harus ditanggung. Teman pelayan ini mengatakan: “Kita tidak pernah dapat membalas kebaikan dan pengorbanan Ibu kita. Kasih anak sepanjang galah, kasih Ibu sepanjang jalan. Kalau kita ingin membalasnya, bagilah kasih sayang yang pernah kita nikmati darinya kepada orang lain.”
Kata-kata ini baru saya mengerti setelah saya menjadi seorang ibu. Cinta selalu ingin memberi bukan menerima, sebab dalam memberi itulah, kepenuhan cinta kita rasakan dan alami. Betapa bahagianya jika kita memberi dan berkorban untuk anak-anak kita. Kita tidak menghi­tung pengorbanan waktu, tenaga, uang atau apa pun demi kebahagiaan dan kebaikan mereka.
Kristus menunjukkan cinta-Nya yang memberi, Ia memberi segala yang ada pada-Nya, termasuk jiwa-Nya untuk kita. Cinta-Nya membuat kita mengerti, tak cukup kata, waktu atau harta kita untuk membalas-Nya. Dalam memberi itulah, Ia menerima cinta kita, cinta yang tidak pernah sempurna, sampai kita bertanya: “Apa yang dapat kubalaskan kepada-Mu Tuhan?” —Pdt. Meyske S. Tungka.

Satu hal yang membuat kita merasa selalu kekurangan adalah
cinta. Dan satu hal yang tak pernah cukup banyak kita
berikan adalah cinta. —Henry Miller

Senin, 14 Februari 2011

Valentine's Day

Baca: 1 Korintus 13:4-7
Maka Ester dapat menimbulkan kasih sayang pada semua orang yang melihat dia.
Ester 2:15
Hari Valentine jatuh pada hari ini, 14 Februari. Inilah hari di mana setiap orang menyatakan cintanya dengan berbagai cara. Memang itulah indahnya hidup, jika kita bisa menunjukkan kasih sayang pada orang lain. Itulah yang tercatat dalam Ester 2:15, semua orang yang bergaul dengan Ester mencintai dia. Mengapa? Karena Ester menunjukkan kasih sayangnya pada mereka.
Ayunan langkah dua kaki bisa terjadi karena salah satu kaki memulainya, de­mikian juga kasih sayang dan cinta. Kita tidak bisa berharap orang mencintai kita jika kita tidak lebih dahulu melakukannya. Jika kita ramah, orang lain pun ramah. Sebaliknya jika kita cemberut, orang lain pun akan cemberut. Kalau kita bermuka masam, dunia pun akan bermuka masam kepada kita. Jika kita terse­nyum, dunia akan balik tersenyum kepada kita.
Kasih sayang berputar secara timbal balik. Saat kita menunjukkan kasih sayang kepada orang lain, kita menjadi pemberi dan orang lain menjadi penerima. Pengaruhnya, pada orang lain timbul kasih sayang terhadap kita; saat itu orang lain menjadi pemberi dan kita menjadi penerima. Jadi kita melakukan dua hal sekaligus, menolong orang lain memberi cinta dan menolong orang itu untuk mencintai. Hidup adalah putaran memberi dan menerima kasih sayang. Tetapi putaran itu hanya akan terjadi jika ada pihak yang memulai. Kitalah yang memulainya, dengan menimbulkan kasih sayang pada orang di sekitar kita, seperti Tuhan Yesus telah memulainya untuk kita. —Prihanto Ngesti Basuki.
Ada banyak orang yang membutuhkan “gambar hati” dari kita.
Tidak perlu menunggu tanggal 14 Februari, sebab setiap hari
pun bisa menjadi manis seperti hari Valentine.

Minggu, 13 Februari 2011

Berbagi Kasih Sayang

Baca: Matius 22:34-40
Dan hukum yang kedua, yang sama dengan itu, ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.
Matius 22:39
Hari kasih sayang atau dikenal dengan Valentine’s Day diperingati setiap tanggal 14 Februari. Mengapa? Inilah kisahnya. Se­orang uskup di Roma bernama Valentinus mengajarkan tentang kasih kepada setiap umat seperti yang diajarkan oleh Yesus da­lam Matius 22:39 dengan membuat kartu berbentuk hati dengan tulisan Yesus loves you dan membagikannya kepada mereka yang ditemuinya. Ajaran Valentinus ditentang keras oleh Kaisar Claudius yang terkenal kejam pada masa itu, sehingga Valentinus dipenjarakan. Meski di dalam penjara, ia tetap mengajarkan kasih sayang sehingga banyak orang menerima Yesus sebagai Tuhan. Valentinus divonis hukuman mati, dan untuk mengenang jasanya, maka hari kematiannya, 14 Februari, dijadian Valentine’s Day.
Kita dapat melaksanakan perintah Tuhan Yesus untuk mengasihi tidak hanya setiap tanggal 14 Februari, tetapi setiap hari. Dengan kemampuan, situasi, dan kondisi kita masing-masing yang merupakan anugerah Tu­han, kita perlu melimpahkan atau berbagi kasih kepada saudara-saudara kita yang memerlukan bantuan. Misalnya jika kita memiliki pakaian yang masih pantas pakai, kita berikan kepada mereka yang membutuhkan daripada ditumpuk di almari hanya sebagai kenang-kenangan saja. Tak dapat dipungkiri, masih ada di antara kita yang bersikukuh, “daripada diberikan lebih baik dijual robengan.”
Marilah kita berbagi kasih, uang, makanan, dan yang lainnya kepada mereka yang ada di penjara, panti asuhan, orang miskin, dan mereka yang membutuhkan pertolongan, sebagai ungkapan syukur kita. —Teguh Pribadi.

Doa: Tuhan, ubahlah diri kami menjadi manusia yang peduli,
mau berbagi kasih kepada sesama sesuai yang
Engkau ajarkan kepada kami. Amin.