Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Rabu, 07 September 2011

Firman Kehidupan

Baca: Filipi 2:12-18
”....sehingga kamu bercaha­ya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus,.... (Filipi 2:15-16).

Dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang tanpa kecuali mempergunakan sistem nilai. Di dalam melakukan pertimbangan dan keputusan selalu kita melakukannya berdasarkan nilai-nilai yang telah kita hayati dan aminkan. Dan sebagai orang percaya tentunya, kita dipanggil untuk memegang nilai-nilai yang dinyatakan dalam firman Tuhan. Sebab di dalam firman Tuhan, kita mengimani nilai-nilai kebenaran ilahi. Yang mana nilai-nilai kebenaran ilahi mampu menyelamatkan dan memberi kepastian. Sebaliknya nilai-nilai “di luar firman Tuhan” bersifat relatif, berubah-ubah dan subyektif. Nilai-nilai “di luar firman Tuhan” tetap kita perlukan, tetapi harus selalu ditempatkan di bawah terang firman Tuhan.
Bilamana kita berpegang pada firman kehidupan, mungkin kita tidak berhasil menyelesaikan masalah secara cepat, tetapi dijamin tepat. Mungkin kita tidak selalu berhasil menyelesaikan masalah atau krisis secara tuntas, tetapi dapat dipertanggung-jawabkan secara moral. Yang pasti dalam menghadapi masalah atau krisis tersebut kita tidak kehilangan pegangan, sebab kita berpegang pada firman kehidupan yang bersumber kepada Kristus.
Jika demikian, mengapa kita masih sering mencari penopang-peno­pang yang lain di luar Kristus? Marilah kita mau hidup mengandalkan Firman kehidupan, yakni Kristus. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, mampukanlah kami untuk selalu berpegang pada firman kehidupanMu. Tanpa Engkau, maka kami tidak akan menemukan kebenaran yang menyelamatkan. Amin.

Selasa, 06 September 2011

Tidak Menyala


Baca: Matius 5:14-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:16).

Barangkali Anda pernah mengalami kejadian ini. Ketika hendak menghidupkan lampu pijar, lampu itu tak mau menyala. Kita langsung menduga bola lampunya rusak dan segera menggantinya dengan bola lampu yang baru. Tapi, lampu masih tak bisa menyala. Barulah kita curiga, jangan-jangan ada pemadaman listrik sementara. Dan benar, bola lampu pijar yang lama masih berfungsi. Yang terjadi adalah putusnya aliran listrik karena terkena giliran pemadaman. Ah…
Hidup spiritualitas kita juga begitu. Kita sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Namun hidup kita tetap belum dapat bercahaya, menjadi terang dunia. Jangankan menerangi dunia, menerangi sekitar kita saja belum mampu. Hidup kita belum bisa menjadi terang karena kita belum melakukan kehendak Allah. Kita masih hidup dalam kegelapan, melakukan perbuatan daging seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatiga 5:19-21).
Agar dapat bersinar, kita harus meninggalkan keinginan daging dan menggantinya dengan keinginan Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Kita baru bisa hidup dalam Roh, dan dengan demikian bersinar, jika kita berpaut kepadaNya. Dia-lah Sumber Kekuatan yang memampukan kita melakukan keinginan Roh yang menyenangkan hati-Nya. —Liana Poedjihastuti

Mari memeriksa hidup kita, jangan-jangan hidup kita tidak menjadi terang selama ini. Jika demikian, mari segera datang kepadaNya agar kita bisa memancarkan sinar-Nya demi untuk kemuliaan nama-Nya.

Senin, 05 September 2011

Pendidikan dan Latihan


Baca: 2 Korintus 5:10
Sebab kita semua harus menghadap takhta pen­gadilan Kristus, supaya setiap orang memperoleh apa yang patut diterimanya, sesuai dengan yang dilaku­kannya dalam hidupnya ini, baik ataupun jahat
(2 Korintus 5:10).

Apa arti hidup manusia di dunia ini yang paling banyak mencapai usia 120 tahun, jika dibandingkan dengan kehidupan kekal nanti? Ibarat petani jika mau menanam padi, terlebih dahulu menebar bibit padi dalam pesemaian. Beberapa minggu kemudian bibit padi yang mulai tumbuh dicabut untuk ditaman di sawah yang sudah dipersiapkan. Hidup kita di dunia yang relatif sangat pendek ini dapat dikatakan sebagai masa ‘pesemaian’, masa pendidikan dan latihan (diklat).
Rasul Paulus menyatakan bahwa kita semua harus menghadap tahta pengadilan Kristus supaya tiap orang memperoleh apa yang patut diteri­manya sesuai dengan yang dilakukan dalam hidupnya, baik ataupun jahat. Oleh karena kita tidak tahu kapan akan dipanggil menghadap tahta pengadilan Kristus, kiranya mulai saat ini, kita perlu lebih tekun lagi belajar dan berlatih agar perilaku kita sehari-hari didasari dengan kasih. Dalam berkomunikasi dengan anggota keluarga dan sesama hendaknya mengunakan kata yang lemah lembut, tidak menge­luarkan kata-kata yang sia-sia. Motif dalam bertindak juga jangan supaya dipuji orang, melainkan melakukan segala sesuatu seperti melayani Tuhan. Setiap melakukan pekerjaan dengan setia dan demi kemuliaan Tuhan kita seperti membangun di atas dasar emas, perak, batu berharga.
Kita menyadari tantangan atau pergumulan dalam melakukan kehen­dak Tuhan. Kita juga sering mengalami jatuh bangun, namun bila kita tetap bersandar dan mengandalkan Yesus, Sang Guru Agung, pasti Dia akan membimbing perjalanan hidup kita. —Teguh Pribadi.

Doa: Ya Tuhan Yesus, bimbing kami dalam perjalanan sisa hidup kami, agar bisa melakukan firman-Mu, demi kemuliaan namaMu. Amin.

Minggu, 04 September 2011

Kapuk Terbang

Baca: Yesaya 45:20-23
Demi Aku sendiri Aku telah bersumpah, dari mulut-Ku telah keluar kebenaran, suatu firman yang tidak dapat ditarik kembali… (Yesaya 45:23).

Pernahkah Anda melihat kapuk terbang? Sekali diterbangkan ia akan membubung tinggi dan sulit untuk ditarik kembali. Bisakah Firman Tuhan dibendung untuk berhenti mempengaruhi hidup setiap orang yang mendengar atau menerimanya?
Yesaya dipakai Tuhan untuk menyadarkan umat yang sudah jauh dari Tuhan sebagai penyembah-penyembah berhala. “Tidak ada Allah selain dari pada-Ku,” firman Tuhan. Apabila Allah berfirman, tidak ada yang dapat menariknya kembali.
Adakah kehidupan rohani kita sedang suam? Merasa jauh dari Tuhan karena telah berbuat dosa? Masih ada kesempatan untuk kembali, jangan terus tenggelam dalam keputusasaan.
Miliki hati yang fokus hanya kepada Tuhan. Dalam keadaan bim­bang, susah, banyak masalah, kadangkala ada bisikan untuk mencari sesembahan lain selain Tuhan Yesus. Manusia suka coba-coba, siapa tahu yang lain bisa menolong lebih cepat dan tuntas. Pegang janji Firman- Nya:Tidak ada Allah selain dari pada-Ku.
Tidak ada juruselamat lain selain Tuhan Yesus (Matius 1:21, Lukas 2:11). Yang lain hanya bisa berkata: ”Semoga, kiranya”, tapi Yesus ber­janji apa yang dikatakan-Nya pasti terjadi. Carilah Juruselamat Tuhan Yesus karena ”tidak ada yang lain kecuali Aku“ (ayat 21).
Yang sudah diucapkan Allah pasti digenapi. Pernahkah Allah berbohong? Seandainya Allah tidak menerbitkan matahari ciptaan-Nya setiap hari, apa jadinya alam ini? (Bilangan 23:19). Pastikan untuk per­caya bahwa Firman yang kita terima dan dengar sungguh-sungguh akan digenapi-Nya. Jangan bimbang dan ragu! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Firman Allah ibarat benih yang sekali ditabur akan bertumbuh dan ibarat kapuk yang sekali diterbangkan tidak akan kembali ke tempatnya lagi.

Sabtu, 03 September 2011

Tidak Akan Kering

Baca: Yeremia 17:5-8
Diberkatilah orang yang mengandalkan Tuhan, yang menaruh harapannya pada Tuhan! (Yeremia 17:7).

Yeremia 17:5-8 menampilkan dua sosok manusia yang sangat berbeda, karena sikap hidup yang berlawanan. Yang pertama, orang yang “mengandalkan manusia”, yang “hatinya menjauh dari Tuhan”. Arti­nya, orang yang berkeyakinan tidak memer­lukan Tuhan, karena beranggapan dengan kekuatannya sendiri mampu mendatangkan kesejahteraan dan keselamatan hidupnya. Sosok kedua, orang yang “mengandalkan Tuhan” dan “menaruh harapannya pada Tuhan”. Artinya, orang yang memiliki kepercayaan bahwa hanya Tuhan sajalah yang dapat diharapkan dan mampu memberikan kesejahteraan serta keselamatan hidupnya.
Terhadap tipe orang pertama, Yeremia menyatakan bahwa hidup orang itu akan seperti semak-rumput yang kering di tanah yang tandus. Orang seperti itu adalah orang yang “terkutuk”. Sedang bagi tipe orang kedua, yang mengandalkan Tuhan, hidupnya bagaikan pohon yang ditanam di tepi air, daunnya selalu hijau dan tidak akan kering, bahkan tidak akan berhenti menghasilkan buah. Orang seperti itu adalah orang yang “diberkati”.
Kehidupan di dunia ini sering dipenuhi oleh berbagai kesulitan dan penderitaan, hingga terasa bagaikan kemarau panjang yang panas dan kering. Namun, bagi orang yang mengandalkan Tuhan, berpegang teguh pada keyakinan bahwa Tuhan adalah sumber kehidupan yang mampu memberikan kesejahteraan dan keselamatan, maka teriknya persoalan dan kesengsaraan tidak akan membuat kehidupan orang itu menjadi layu dan kering, melainkan tetap hijau dan subur, bahkan terus mengeluarkan buah —Pdt. Em. Sutarno.

Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. –Yohanes 15:5