Jawaban Surat Pembaca
Tayang: Senin, 7 Juni 2010 · Kometar:4
Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran,
selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya
pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling
hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak
kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.
Pertanyaan saya:
- Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?
- Atau memang ada penyakit tertentu?
Bd.
Jakarta
Sdr Bd.
Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan
Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan
saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan
berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau
alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.
Kita tahu pada orang dengan berat badannya
berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih
berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak
gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai
sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.
Bila benar berat badan Anda berlebih, besar
kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki,
kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya
rasa nyeri di situ.
Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan
saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila
saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya
meradang itu tetap berlangsung.
Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja
berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan
kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan
masalah pada kaki.
Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya
apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau
memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila
tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku
refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan
pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil
menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.
Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari
proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya
sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis
saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.
Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan
kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki
yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih
sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam
rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan
juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk
tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley,
basket, atau senam jenis yang high impact.
Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu
berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih
belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah
menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan
kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki
tergopoh-gopoh (brisk walking).
Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari
meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika
benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika
keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat
pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam
urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada
pengaruh buruk dari situ.
Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab
penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa
muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila
itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan
pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari
pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.
Saran saya, apabila setelah meghentikan semua
yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama
sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar
adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di
telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.
Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi
(NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep
dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep
obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________