Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 11 Februari 2011

Telapak Kaki Nyeri, Kenapa?

Jawaban Surat Pembaca
Tayang: Senin, 7 Juni 2010 · Kometar:4 
Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.
Pertanyaan saya:
  1. Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?
  2. Atau memang ada penyakit tertentu?
Bd.
Jakarta
Sdr Bd.
Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.
Kita tahu pada orang dengan berat badannya berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.
Bila benar berat badan Anda berlebih, besar kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki, kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya rasa nyeri di situ.
Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya meradang itu tetap berlangsung.
Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan masalah pada kaki.
Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.
Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.
Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley, basket, atau senam jenis yang high impact.
Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).
Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada pengaruh buruk dari situ.
Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.
Saran saya, apabila setelah meghentikan semua yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.
Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi (NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________