Serangan jantung selain
stroke, sekarang menimpa usia yang lebih muda, dan kalangan mana saja. Tidak
selalu sebab faktor turunan, lebih karena kesalahan gaya hidup, kalau mereka
yang tak berbakat jantung koroner atau stroke, masih terkena juga. Lebih
lantaran ulah sendiri, jika penyakit yang sebetulnya dapat dicegah itu, menimpa
kita juga. Bagaimana mudah mencegah penyakit yang tak selalu perlu terjadi itu?
JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa
keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi korban, orang serumah
harus memikulnya bersama. Bagi keluarga, merawat pasien jantung dan stroke
bukan urusan satu-dua tahun.
Bisa jadi pasien yang dirawat di rumah menjadi
beban keluarga sepanjang sisa hidup. Dan itu bisa berarti ongkos dapur harus
lebih dihemat, dan negara telanjur kehilangan sumber daya bangsa yang mungkin
masih produktif.
Apalagi jika yang menjadi korban tulang punggung
keluarga. Kendati pasien jantung dan stroke masih bisa aktif bekerja, namun tak
sebagus kinerja selagi masih normal. Maka seberapa bisa malapetaka itu jangan
sampai singgah ke rumah kita. Bagaimanakah cara mencegahnya agar tamu tak
diundang itu tidak datang?
Menjinakkan faktor risiko
Boleh dibilang hampir semua serangan jantung dan
stroke sesungguhnya dapat kita cegah. Bagi yang berisiko terkena, perlu
berupaya mengurangi semua faktor risiko yang diwarisinya. Sedang bagi yang
tidak berisiko, jangan membiarkan risiko itu masuk dan bersarang dalam
kehidupan.
Meniadakan faktor risiko penyakit jantung dan
koroner berarti perlu ada usaha agar tubuh tidak gemuk, tak darah tinggi, tiada
kencing manis, lemak darah tidak dibiarkan terus meninggi, bertekad untuk
berhenti merokok, dan tidak memilih pola hidup yang memancing stres. Itu semua
bisa diupayakan dengan cara lebih arif dalam makan, rajin bergerak badan,
selain rutin minum obat.
Jangan menyerah pada keadaan. Mungkin ada bakat
darah tinggi dan kencing manis. Dan itu bukan akhir segalanya. Obat dan cara
hidup dapat mengendalikannya sehingga tidak harus merusak badan nantinya.
Membiarkan keduanya merajalela, itulah kesalahan.
Dengan menghapus faktor risiko terserang jantung
dan stroke, mereka yang membawa risiko bisa memiliki harapan hidup sama panjang
dengan mereka yang tidak mewarisi risiko. Sebaliknya justru mereka yang
sebetulnya tidak mewarisi risiko kena jantung dan stroke bisa mengundang risiko
itu datang jika tubuhnya dibiarkan gemuk.
Gemuk bisa berarti banyak. Lemak darahnya mungkin
tinggi, bisa jadi ada kencing manis juga. Apalagi kalau tetap merokok, darah
tinggi dan kencing manis yang diidap bukan karena warisan melainkan lantaran
salah dalam pola dan gaya hidup, bisa menjadi petaka.
Tanpa diobati, membiarkan kedua penyakit menahun
itu orang akan menanggung nasib yang sama buruknya dengan mereka yang mewarisi
turunan berisiko. Fakta begini yang semakin banyak tumbuh dalam keluarga
modern, yang kecukupan maupun yang serba kekurangan. Orang susah yang hanya
mampu makan dengan ikan asin tiap hari mencetuskan darah tinggi juga yang
mungkin bukan bakatnya. Konsumsi garam dapur berlebihan pencetus kebanyakan
darah tinggi orang sekarang.
Kaya miskin sama saja
Orang bisa mati akibat kekayaannya, bisa juga
lantaran hidup serba kekurangan. Yang hidup kecukupan, berkelimpahruahan yang
ditumpahkan ke dalam menu dan keliru dalam memilih gaya dan pola hidup itulah
yang membawanya masuk ke dalam risiko terkena jantung, dan atau stroke.
Petaka yang sama dialami pula oleh yang karena
kepapaan hidupnya sehingga membawanya jatuh ke dalam risiko terserang jantung
dan stroke juga. Faktor peradangan (inflamasi) oleh kuman tertentu (Chlamydia
sp) pada pembuluh darah, kini kedapatan menjadi salah satu penyebab
terbentuknya penyumbat pembuluh koroner jantung dan otak (atherosclerosis). Itu
berarti kaum papa berisiko kena jantung dan stroke juga.
Begitu juga dengan peran vitamin-mineral tertentu
terhadap keutuhan pembuluh darah tubuh yang bisa juga dirusak oleh racun
radikal bebas dari menu harian, polusi udara, atau dari mana pun datangnya.
Itu maka dibanding tubuh orang yang hidup
kecukupan, tubuh orang papa lebih rentan terkena peradangan selain kekurangan
vitamin-mineral sehingga nasib pembuluh darahnya sama buruk dengan orang
kecukupan dalam hal terserang jantung dan stroke.
Kita tahu warisan bertubuh gemuk, darah tinggi,
dan kencing manis sebagai faktor risiko kena penyakit jantung dan stroke, tidak
harus berasal dari silsilah kelompok orang berkecukupan. Orang yang hidupnya
susah dan membiarkan gemuk akan sama memikul risiko terserang jantung koroner,
atau stroke-nya juga. Belum dihitung faktor stres terhadap kemunculan jantung
koroner dan stroke.
Akibat kepapaan, ketidakmampuan, dan
ketidak-terdidikannya, mengonsumsi menu murah yang mengandung racun radikal
bebas menjadi penyebab lain serangan jantung dan stroke di kalangan kaum papa.
Kita tahu dampak sosial penyakit jantung dan
stroke bagi keluarga papa lebih tak terpikulkan. Selain kehilangan
produktivitas, penyakitnya belum tentu tuntas terobati. Jika harus operasi
bypass, atau dipasang cincin stent, yang ratusan juta rupiah, misalnya.
Kembali hidup pasrah alami
Maka pilihan hidup kembali ke alam, siapa pun
kita, sikap bijak hidup di alam modern. Menu alami, guyub dalam keluarga, sikap
menerima, mengendurkan stressor, dan merasa cukup sebagai orang biasa.
Kita melihat dari tokoh-tokoh nama besar. Di
antara mereka juga kalangan atlet. Kelihatan secara fisik mereka bugar. Tapi
kalau nyatanya terserang jantung koroner atau stroke juga, itu karena stressor
yang mereka pikul melebihi kemampuan ketahanan jiwa.
Orang kecil, yang hidupnya dirundung kesusahan
memikul stressor yang berbeda. Namun sesungguhnya, sikap pasrah, dan positif
terhadap stressor, tahu bahwa Tuhan bekerja, dan memberi jalan kepada kita,
sikap pasrah sempurna insani. Tidak berharap lebih, tahu porsi sendiri, sikap
mawas diri, merasa cukup untuk apa yang sudah Tuhan beri-merupakan bentuk
kepasrahan total yang menyehatkan jiwa. Separo penyakit orang sekarang, faktor
stres pencetusnya. Percuma badan sudah dibuat bugar, kalau jiwa getas dan
rapuh. Percuma badan dan jiwa tegar, dirundung stressor tak berkesudahan jiwa
akan kalah juga. Pada saat jiwa gagal menyesuaikan diri dengan stressor itulah,
orang jatuh stres. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satunya berupa serangan
jantung, dan atau stroke.
Memilih makan sederhana, tidak berlebih, hidup
santai, tidak mimpi muluk, nyaman dalam keluarga, bercengkerama dengan
tetangga, merasa diri diterima orang lain, merasa memberi manfaat dan berkat
bagi orang lain, dan hidup guyub, barangkali cara mudah dan murah membatalkan penyakit
yang tidak sederhana dampaknya bagi anggaran keluarga, pekerjaan, dan beban
keluarga di kemudian hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________