Lemak dan kolesterol
dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat
ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Kalau lemak takjenuh justru
menyehatkan, lemak jenuh malah membahayakan kalau kita rakus mengkonsumsinya.
Rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh
enaknya menu berlemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi
takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari
porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat
(P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya
25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.
Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio
kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan
lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi
harus di atas 3.0.
Akibat cenderung kelebihan porsi menu berlemak,
tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan
pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini
yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau
sewaktu-waktu tubuh kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah
menjadi tenaga.
Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan
tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga.
Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.
TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi.
Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan
semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh
darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan
hampir di semua bagian tubuh mana saja.
Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan
hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk
memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula. Jangan
lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu berlemak belaka,
melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak
tubuh tambah menumpuk juga.
Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan
maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga
beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika
patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan
lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di
mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa
tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.
Seperti kolesterol, lemak
bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh
membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K,
beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.
Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak
linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai
kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit bisa muncul jika menu
harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri.
Kolesterol sendiri dibutuhkan buat pembuat hormon.
Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang
lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak
takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang
tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti
minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya. Sedang
minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, secukupnya saja.
Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh
justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat
terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam
sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low
Density Lipoprotein).
Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak
maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak nabati murni yang berisi lemak
belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain
membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung
memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya
selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.
Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah
teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan, atau dipakai berulang. Maka
tak sehat mengkonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan jajanan gorengan, yang
tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah
berapa kali dipakai ulang.
Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan
lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total
kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 kalori sehari.
Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara
dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja.
Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas
kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin
seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.
Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi
lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang
membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa
sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih
saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu
kalau itu jenis makanan ‘ampas’ junkfood sebab yang kebanyakan tertinggal
berupa gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna
buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin.
Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang
rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain
bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal
jauh lebih segar. Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan
di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________