RAMAI dibicarakan orang
minuman berserat, minuman penyegar, dan sejenisnya (smart drink) yang di Barat
disangsikan orang. Orang bertanya apa ada faedahnya? Kalau ada, apa perlu
diminum? Kalau memang perlu, apa tidak ada efek sampingnya?
Pasien kita umumnya kelewat gampang termakan
iklan obat. Jika iklan obat semakin genit, konsumen pasti merugi. Iklan obat
keputihan di televisi, misalnya. Pasien mungkin mengira jenis keputihan cuma
satu, dan obatnya hanya itu. Bujukan iklan barang tentu tak menyembuhkan jika
keputihannya disebabkan infeksi. Keputihan juga bisa gejala kanker kandungan.
Jika kanker terus mengandalkan obat iklan, kanker tak sembuh. Itu berarti
kanker tertunda tidak diterapi. Terlambat kanker diterapi, buruk buntutnya.
Demikian pula bunyi iklan obat batuk, atau obat
mencret. Di mata medis terkesan iklan menyederhanakan penyakit. Persepsi
masyarakat tentang penyakit jadi rancu, seakan semua obat batuk, obat mencret,
atau obat lainnya niscaya menyembuhkannya. Padahal tidak begitu di penglihatan
medis. Penyebab penyakit bisa lebih dari satu. Lain penyebabnya, lain pula
obatnya.
Harus diakui pranata kesehatan masyarakat kita
rata-rata belum tinggi. Wawasan dan pengetahuan obat masyarakat belum memadai
untuk berobat swamedikasi. Padahal di tengah krisis begini, agar berobat bisa
efisien, ketika harga dan ongkos berobat masih tinggi, selama sakit belum berat,
berswa-medikasi dianggap pilihan paling tepat.
Namun pilihan berswamedikasi membahayakan
khalayak jika iklan obat masih mengecoh. Masih banyak konsumen terpedaya iklan
panas dalam, susu kuda liar, jamu sarirapet, benalu kanker, serat antisembelit,
dan entah apa lagi yang tak jelas indikasi dan sukar masuk nalar medis. Pasien
kita pun gampang sembarang memakai sendiri obat resep dokter, karena obat
dokter bisa dibeli bebas di pasar gelap.
Sejatinya tidak semua yang mengaku obat, masuk
nalar medis. Dunia medis sendiri sedang ditantang mengorek begitu banyak ragam
pengobatan dan penyembuhan nonmedis yang membingungkan pasien. Memang tidak
semuanya nonsens. Ada yang perlu diperhitungkan.
Harus diakui pula pengetahuan dokter tentang
phytopharmaca, tumbuhan berkhasiat, dan jamu, tidak seluruhnya dikuasai.
Alih-alih memberi advis profesional, mengenal produk saja pun dokter mungkin
belum tahu. Padahal kini banyak jamu nakal sebab diisi obat dokter, selain
ramuan yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit. Dalam nalar medis, tak
ada obat penyembuh seribu satu macam penyakit seperti kata iklan.
Di mata medis pun tidak semua obat tradisional
aman dikonsumsi. Belum lagi menghadapi banjirnya pengobat dan penyembuh
tradisional berkedok terapi alternatif. Tidak semua yang mengaku terapi
alternatif bisa diterima nalar medis. Namun harus diakui ada terapi dan
penyembuhan alternatif yang masuk akal medis, sambil harus dicegah jika masih
ada masyarakat terkecoh oleh iklan penyembuhan herpes, AIDS, atau hepatitis,
yang di dunia medis belum ada obatnya. Logikanya, andai obat atau penyembuh
nonmedis seperti itu terbukti benar, sudah dari dulu-dulu untuk temuan itu
berhak mendapatkan Nobel. Nyatanya tidak.
SELAMA pranata dan wawasan kesehatan konsumen
belum tinggi, berbahaya jika iklan obat, terapi alternatif, dan obat
tradisional yang mengecoh tidak ditindak. Di keseharian masih ada pasien pergi
ke orang pintar. Kasus tumor yang minta diangkat orang pintar, lalu pasien
kecele sebab yang dikeluarkan cuma gajih kambing, misalnya, bukan kejadian
satu-dua kali.
Selama nalar medis masyarakat belum tajam,
pengobatan nonmedis mudah melipat-lipat akal sehat. Bahwa ada terapi alternatif
yang masuk akal medis, sudah bagian dari penerimaan medis. Praktek
accupuncture, homeopathy, macrobiotics, dan banyak lagi, kini berdampingan
memperkaya praktik medis. Namun itu tak menjadi berarti setiap pengobatan
maupun penyembuhan nonmedis laik diterima. Dan oleh karena nalar medis
masyarakat masih lemah, banyak iklan obat memanfaatkan kelemahan semacam itu
buat mengecoh.
Di Amerika yang masyarakatnya sudah lebih “melek
sehat” pun Badan Pengawasan Obat Amerika FDA cukup dipusingkan iklan obat.
Dalam setahun FDA harus mengirimi tak kurang 100 surat kepada perusahaan
farmasi nakal. Mereka diimbau tidak memasang iklan obat yang menyesatkan di TV,
majalah, atau koran. Jenis iklan yang membangun persepsi seolah obat bisa untuk
segala penyakit (Dr.Bradford Ponzt). Rata-rata iklan obat menjanjikan klim
efektivitas obat secara berlebihan, dan tidak balans menyebut efek samping.
Buat masyarakat kita yang masih belum semua
“melek sehat”, pembuat iklan obat yang condong “mengambang” perlu diajak
berunding. Media massa yang memuat iklan obat, pengobat nonmedis, dan penyembuh
yang serong, juga perlu diajak mempertajam nalar medis agar masyarakat tak
sesat berobat dan memilih obat dalam berswamedikasi.
Iklan obat tetes mata yang menjanjikan rabun jauh
tak perlu pakai kacamata, sukar diterima nalar medis. Iklan obat kuat oles dari
Cina, teknik memperbesar kemaluan, jamu sehat lelaki, samimawon. Tak jelas
unsur berkhasiat tangkur buaya, pasak bumi, dan sejenisnya buat indikasi seks.
Selain terkecoh boleh jadi juga membahayakan.
Jika iklan obat kulit berisi bahan berbahaya
mercury dibiarkan, konsumen berisiko kena kanker kulit. Selain bahan berbahaya,
mungkin akibat salah cara pakai sebab tak semua konsumen bisa baca aturan pakai
dalam bahasa asing, sehingga bisa buruk efek sampingnya.
Begitu juga dengan obat kurus suntikan
amphetamine di salon-salon yang berpotensi bikin sakit jantung, jadi
murus-murus terus, atau menimbulkan kecanduan. Iklan obat gemuk tapi bikin
tembam dan jerawatan, dan mens jadi kacau sebab isinya hormon berbahaya. Selain
menyalahi kaidah medis, iklan-iklan nakal seperti itu berisiko merusak
kesehatan konsumen.
ETIKA beriklan harus sama jujurnya dengan kerja
profesi dokter. Jika iklan obat masih tak etis, semakin tumpul nalar medis
masyarakat dibuatnya, dan masyarakat tersesat untuk menjadi sehat, selain tak
hemat membelanjakan obat.
Ke depan kita masih akan menyaksikan masyarakat
tersesat sewaktu berobat, oleh karena tentu jumlah obat bebas yang beredar
semakin banyak dan beragam, sedang masyarakat belum dibikin pintar memilih
obat, dan cara berobat yang benar. Itu berarti, ongkos berobat swamedikasi agar
bisa mengirit, malah jadi pemborosan, dan hasilnya pun mungkin nihil.
Dalam berswamedikasi masyarakat perlu dimampukan
kritis memilih berobat. Pemasang iklan obat, biro iklan, dan mereka yang
menawarkan pengobatan dan penyembuhan nonmedis, perlu diajak bersepakat tidak
menambah bodoh konsumen. Kontrol pemerintah terhadap semua iklan obat yang
nakal tidak boleh lagi setengah hati.
Diperlukan sebuah komitmen ulang. Bahwa pekerjaan
servis, melakukan reparasi, perawatan, pengobatan, dan penyembuhan terhadap tubuh
manusia sepatutnya tetap diluhurkan. Tak elok membujuk orang sakit yang masih
saja cenderung disikapi seperti sedang menawarkan parfum, menu akhir pekan,
mirip layanan montir radio, atau kesibukan layaknya di sebuah bengkel mobil.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________