Tidak ada kelompok khusus
penyakit hanya dalam keluarga. Namun ada kecenderungan sebuah keluarga berisiko
terkena penyakit tertentu. Sebagian sebab warisan herediter yang dibawa anak,
sebagian lagi sebab kelemahan fisik milik masing-masing orangtuanya, dan
sebagian lainnya sebab kebiasaan, pola, dan gaya hidup yang terbentuk dalam
masing-masing keluarga. Seperti apakah bentuk penyakit itu?
PERKAWINAN secara fisik merupakan senyawa dua
perangkat gen yang pasti tidak sama. Pihak ibu maupun pihak ayah membawa
perangkat gennya sendiri. Termasuk gen lemah yang akan diwarisi kepada
anak-anaknya. Itu maka, penyakit keturunan bisa berasal dari pihak ayah, bisa
juga dari pihak ibu, kalau bukan bersamaan dari keduanya.
Ada ratusan penyakit keturunan. Sebagian berasal
dari cacat pada kromosom seks (XX pada wanita, dan XY pada pria), sebagian lagi
dibawa otosom (yang berjumlah 22 pasang).
Cacat pada seks kromosom, berarti bentuk warisan
yang bersifat jender. Ada yang diwarisi pihak ibu, ada juga yang oleh pihak
ayah. Buta warna, misalnya, dibawa pihak ibu. Ibu sendiri (XX) tidak buta
warna, namun mewariskannya kepada anak lelakinya (XY). Dan apabila jenis
penyakit keturunan seorang anak dalam sebuah keluarga tidak terlacak secara
genetika, bisa jadi anaknya anak tetangga.
Jadi penyakit keturunan yang dimiliki sebuah
keluarga, bersifat khas jenisnya. Ibu atau ayah akan mewarisi terus jenis
penyakit keturunan yang sama pada garis keturunannya. Mungkin belum tentu
muncul penyakitnya pada anak, melainkan hanya dibawa dalam gen-nya. Penyakit
keturunan baru muncul apabila gen lemah yang sama dari suami dan istri saling
bertemu (perkawinan incest, antar segaris darah).
Penyakit darah thalassemia, misalnya. Kendati ibu
atau ayah membawa gen lemah ini, namun penyakitnya tidak muncul pada dirinya.
Gen lemah penyakit ini hanya diwariskan kepada anak-anaknya. Penyakitnya baru
akan muncul apabila gen lemah yang sama diwariskan pihak ibu maupun oleh pihak
ayah. Jika hanya salah satu pihak saja yang mewariskannya, anak hanya membawa
gen lemahnya, namun anak tidak menjadi sakit. Bila nanti anak menikah dengan
orang yang juga memiliki gen lemah yang sama, pada ketika itulah penyakitnya
baru akan diwarisi anak-anak keturunannya kelak.
Untuk menyebut beberapa, penyakit jiwa, sumbing,
kelainan bentuk kepala, tergolong keturunan. Termasuk kencing manis. Pembawa
bibit kencing manis kawin dengan pembawa bibit yang sama, akan melahirkan anak
yang kencing manis.
Kebiasaan keluarga
Selain itu, dalam sebuah
keluarga memiliki pola kebiasaan kesehariannya yang mungkin tidak sama dengan
keluarga lain. Kebiasaan memilih jenis menu, jadwal tidur, adakah jadwal tidur
siang, sampai soal kebersihan, serta kebiasaan sehat maupun yang kurang sehat.
Tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan, atau kebiasaan makan tanpa sendok.
Dua kebiasaan dalam keluarga yang besar dampaknya
terhadap munculnya penyakit, yakni kebiasaan menu meja makan keluarga, dan
kebiasaan jorok. Keluarga yang semua anggota keluarganya berbadan subur,
kebanyakan ibunya rajin masak, dan doyan makan pula.
Celakanya lagi, si ibu masih beranggapan kalau
anak yang sehat itu anak yang seperti anak kingkong. Jadi bukan saja porsi
makannya pakai piring berukuran sangat besar, ukuran gelas minumnya pun seperti
yang dimiliki raja.
Keluarga yang semua pasukannya berbadan
subur-subur, tentu berbakat terkena penyakit akibat kegemukan. Hampir pasti
kencing manis (tipe 2), kalau bukan darah tinggi, dan kelak jantung koroner,
dan stroke jika risiko lain untuk terkena itu juga dimiliki, seperti malas
gerak (sedentary), padahal sejatinya tidak mewarisi gen untuk terkena penyakit
itu.
Kita tahu bahwa masing-masing tubuh membawa
kelemahan organnya sendiri. Pihak ibu mungkin lemah lambungnya, dan pihak ayah
lemah paru-parunya. Bakat lemah yang bersifat konstitusi tubuh ini secara
familial diwariskan juga.
Jika kebiasaan ibu memilihkan menu yang merusak
lambung, dan kebiasaan keluarga membuatnya rentan pula terserang penyakit paru,
maka penyakit lambung dan penyakit paru-paru, menjadi bagian dari kecenderungan
penyakit dalam keluarga tersebut.
Jika keluarga tersebut sangat doyan makan pedas,
menu dengan bumbu merangsang, dan ayah kurang suka berolahraga, misalnya,
kecenderungan terkena penyakit di atas lebih besar kemungknan terjadi dalam
keluarga tersebut.
Hal lain dalam mengonsumsi obat. Ada keluarga
yang gampang sekali mengonsumsi obat, selain ada juga yang tidak sedikit-sedikit
sembarang minum obat. Buat yang rajin minum obat tentu buruk efeknya terhadap
ginjal dan hati anggota keluarga, dibanding yang tidak gampang mengonsumsi
obat. Termasuk kebiasaan minum jamu, herbal, dan obat tradisional.
Demikian pula untuk bakat kanker. Bakat kanker
seseorang dibawa dalam gennya. Bakatnya ini belum tentu muncul jika tidak
bertemu dengan kebiasaan, pola, serta gaya hidup yang mendukungnya. Bila
terpapar virus kanker (papilomatous virus, misalnya), atau terpapar oleh menu
“racun”, obat, jamu, gas dalam udara, gelombang elektromagnetik peralatan rumah
yang kesemuanya mencemari tubuh dengan radikal bebas (free radicals) tinggi,
maka kanker pun menjadi muncul. Ini salah satu penjelasan kenapa sekarang
semakin banyak yang terkena kanker dibanding orang dulu.
Kebiasaan dalam jadwal tidur malam, rutin makan
di restoran, apa saja yang mengisi kulkas rumah, menentukan penyakit yang bakal
menimpa keluarga. Ada keluarga yang tidurnya cenderung lebih larut, dan
bangunnya lebih siang. Kebiasaan begadang, atau menjadi seperti kalong, tentu
berbeda kerentanan keluarga terkena beberapa penyakit.
Isi kulkas rumah yang banyak cemilan serba manis,
minumya bukan air putih melainkan soft drink, sirop, banyak batang cokelat,
tart, dan es krim, berbeda ragam penyakitnya dengan keluarga yang tidak memilih
suka nyamil, kurang suka yang serba manis. Lidah anak juga dibentuk oleh meja
makan ibu. Yang jenis menunya “kental” (spicy) tak suka menu yang hambar kurang
bumbu.
Keluarga yang menunya cenderung asin, juga
berisiko menjadikannya darah tinggi semua. Konsumsi garam dapur berkorelasi
dengan kejadian darah tinggi. Darah tinggi membawa konsekuensi tersendiri pada
jantung, dan kejadian stroke nantinya.
Belum kalau punya kebiasaan jorok. Satu yang
lumrah dilakukan. Tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan, atau sehabis
dari kakus. Kalau juga mencuci tangan sekadar asal basah doang. Masih basah
sudah memegang nasi, atau menyomot lauk. Padahal sebelumnya baru memegang uang,
menyentuh handle pintu WC, gagang telepon umum, tombol lift, itu semua
titik-titik berkumpulnya bibit penyakit. Termasuk sehabis duduk di kursi bus
kota, bangku tunggu apotek, atau gedung bioskop, lalu membawanya ke kamar
tidur. Keluarga demikian rajin mencret, dan berisiko terjangkit sederet
penyakit infeksi perut, atau saluran napas atas.
Lidah keluarga dibentuk oleh meja makan ibu.
Kebiasaan keluarga juga sebagian besar dibentuk oleh wawasan kesehatan ibu.
Pola dan gaya hidup keluarga dibentuk oleh komitmen sehat ayah dan ibu.
Termasuk jika keluarga tidak suka berolahraga, rentan celaka (accident
pronesness), sebentar-sebentar terjatuh, terkilir, dan lemah saja safety
first-nya.
Barangkali termasuk juga sering terkena radang
lubang hidung lantaran kebiasaan (maaf) mengupil dalam keluarga di mana dan kapan
saja. Bisa jadi kebiasaan mulai dari opa dan oma, papi-mami, sampai cucu dan
cicit, siapa tahu merupakan bagian dari hobi harian keluarga tertentu juga:
Penyakit bisul di lubang hidung!
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________