Sekarang internet kian
menggampangkan orang menambah wawasan medis. Semua penyakit bisa dibaca tuntas
di internet. Bahkan awam pun bisa berinteraksi langsung dengan ahlinya. Apa
bahayanya?
Bagi sekelompok orang, semakin banyak tahu
penyakit, semakin muncul perasaan takut. Konon itu sebabnya buku dan tabloid
kesehatan tidak dicari segala orang. Banyak orang takut membaca seluk beluk
penyakit lantaran cenderung diproyeksikan pada diri sendiri.
Kondisi itu sekarang sudah menggejala pada banyak
pengguna internet. Label baru orang dengan kondisi itu disebut sebagai internet
print out syndrome. Dr. Trover Roscoe menjulukinya sebagai Cyberchondria.
Studi di Universitas Alabama, AS, melihat
munculnya kondisi orang-orang yang cenderung mendiagnosis penyakitnya sendiri
setelah membaca rangkaian gejala-gejala suatu penyakit di internet. Orang
merasa dirinya sedang berpenyakit setiap kali membaca gejala dan tanda-tanda
suatu penyakit.
Kita teringat kasus Baron von Munhausen dahulu
yang berhasil mengelabui sekian banyak dokter bedah. Ia menguasai semua gejala
penyakit bedah, mampu pula memerankan diri sebagai pasien bedah betulan. Dokter
bedahnya yakin kalau ia benar kasus bedah. Namun setiap kali dibedah, hasilnya
selalu nihil sebab memang ia tidak sakit. Ia memetik kenikmatan saban kali
berhasil mengelabui dokter bedahnya. Von Munhausen mengidap penyakit jiwa doyan
berbohong (pathological liar), dan merasa nikmat kalau berhasil bikin orang
lain tertipu.
Sindroma Munhausen bagian dari apa yang disebut
hypochondria. Orang selalu merasa dirinya banyak penyakit, tapi secara medis
tidak terbukti ada. Benar-benar merasa ada keluhan penyakit entah apa saja,
namun tak ditemukan kelainan apa-apa kalau diperiksa. Kondisi seperti itu bisa
juga tergolong gangguan jiwa somatoform. Orang yang merasa dirinya sakit terus
padahal tidak sakit disebut hypochondriasis.
Orang dengan cyberchondria pun punya kebiasaan
langsung mendiagnosis diri sendiri sakit setiap kali membaca gejala suatu
penyakit di dunia cyber. Ia merasa kena usus buntu begitu tahu gejala usus
buntu itu nyeri di perut kanan bawah, demam, mual, dan sembelit. Padahal di
mata medis, tidak semua gejala seperti itu tentu usus buntu. Orang dengan
cyberchondria terganggu logika medisnya. Gejala medis yang (kelihatannya) sama,
belum tentu mewakili penyakit yang sama, atau mungkin bukan penyakit apa-apa.
Berjuta-juta orang yang mengeluh nyeri kepala setiap harinya. Tapi cuma
satu-dua saja yang nyeri kepalanya bermakna gejala tumor otak, misalnya.
Kecenderungan orang yang bersikap menyederhanakan
dalam mendiagnosis keluhannya sendiri, berpotensi menumpuk kecemasan dalam
dirinya. Orang yang punya bakat pencemas mudah sekali gundah setiap kali tahu
lebih banyak tentang gejala-gejala penyakit. Kecemasan sendiri membuat orang rentan
jatuh sakit. Boleh jadi orang menjadi sakit justru akibat rasa cemasnya sendiri
yang dibiarkan terus berlarut-larut.
Bahaya timbul jika dari mendiagnosis penyakit
sendiri, orang langsung mengobatinya sendiri. Mata merah tidak selalu berarti
infeksi. Maka tidak semua obat tetes mata merah boleh buat semua gejala mata
merah. Mata merah bisa berarti alergi, bukan tak mungkin glaucoma, penyakit
mata serius yang bisa buta jika terlambat diobati. Jika salah mengobatinya
sendiri bisa fatal sebab terlambat diberi obat yang tepat.
Simplifikasi bahwa gejala yang sama tentu
mewakili penyakit yang sama menggampangkan orang berswamedikasi. Ketika ongkos
berobat sekarang serba mahal, sikap berswamedikasi memang menjadi dewa penolong
rakyat kecil. Tentu tak selalu aman.
Jika orang dengan cyberchondria merasa yakin pada
diagnosisnya yang belum tentu betul, memilih mengobati diri sendiri bisa
berisiko buruk. Bisa jadi semua keluhan mencret dianggap perlu diberi
antimencret, padahal tidak semua kasus mencret perlu distop, misalnya.
Semakin gamblang dunia
kesehatan virtual, semakin telanjang informasi medis yang tidak semuanya perlu
pasien ketahui. Oleh karena sesungguhnya ada bagian-bagian informasi yang cukup
hanya dokter saja yang tahu jika itu dianggap bisa berakibat merundung pikiran
pasien dan tak ada manfaatnya buat penyembuhan. Ini sisi ruginya kalau awam
rajin berinternet medik.
Ketelanjangan informasi medis tidak sehat buat
semua orang. Bagi yang lemah jiwa, alih-alih membuat orang lebih sehat dan
waspada terhadap penyakit, informasi medik di internet bisa-bisa malah mungkin
menambah berat sakitnya.
Sekarang semakin diyakini kalau pikiran kuat
pengaruhnya pada badan. Pikiran negatif menurunkan dayatahan, selain merusak
sistem dalam ‘mesin’ tubuh. Sebaliknya pikiran positif, termasuk berdoa,
bermeditasi, dan berzikir, misalnya, meningkatkan dayatahan tubuh. Orang dengan
cyberchondriasis cenderung berisiko dirundung pikiran negatif.
Pada orang awam, informasi medis yang sangat
telanjang berpotensi menimbulkan pikiran negatif. Orang yang semula sehat bisa
mendadak jadi sakit betulan begitu diberi tahu kalau di tubuhnya sudah ada
penyakit. Bukan mustahil bisa membuatnya stres berat.
Bagi orang yang takut menghadapi kenyataan,
jiwanya bisa langsung runtuh begitu mendengar ada yang tidak beres pada
tubuhnya. Begitu pula yang mungkin dilakukan oleh ketelanjangan informasi medis
di internet yang terbuka buat setiap orang kapan saja orang mau. Termasuk jika
menimpa orang yang berbakat hypochondria, mereka yang selalu merasa badannya
tidak pernah waras terus. Yang seperti itu kini banyak menggejala di dunia,
akibat saking rajinnya orang membuka cybermedicine.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________