SUDAH lama sejumlah penganan buatan rumahan di
Jambi diberitakan kedapatan menggunakan rhodamine-B, zat pewarna bukan untuk
konsumsi manusia. Dalam catatan Lembaga Perlindungan Konsumen tentu ini bukan
kejadian baru. Sudah lama industri makanan rumahan kita diam-diam, luput dari
pengawasan yang berwenang, oleh karena menggunakan bahan yang sebetulnya bukan
untuk konsumsi manusia. Yang menggunakan bahan kimia aman namun melebihi takaran
yang diperbolehkan.
Pengawet formalin dalam tahu, pemanis buatan
sakarin dalam sirop, limun, dan kecap, serta zat pewarna untuk tekstil,
rhodamine-B salah satunya, ditambahkan dalam saus tomat, kue, dan makanan
jajanan lainnya. Kalau tidak diberitahu, rakyat yang mengonsumsinya setiap hari
harus menanggung rusaknya kesehatan yang mungkin tidak terpulihkan.
Food Standard Agent, Amerika Serikat mengingatkan
kepada publik yang mengonsumsi makanan oriental agar berhati-hati mengonsumsi
kecap. Dari beberapa merk kecap yang diperiksa kedapatan zat kimiawi 3-MCPD dan
1,3 DCP melebihi dosis yang diperkenankan. Kelebihan zat kimiawi jenis ini bisa
mencetuskan kanker (carcinogenic).
Sekitar tahun 80-an di area pabrik semen
Cibinong, Jawa Barat, suatu siang mendadak puluhan karyawan mual, mulas, dan
muntah-muntah sehabis makan mi-baso di pinggir jalan. Setelah dilacak oleh
Dinas Kesehatan, diduga keracunan zat pewarna tekstil dalam saus tomatnya.
Mana mungkin harga sebotol saus tomat industri
rumahan bisa semurah itu kalau isinya benar tomat. Saus tomat murah umumnya
terbuat dari ubi dicampur dengan zat pewarna (untuk tekstil oleh karena
harganya lebih murah), ditambah cuka. Begitu pula dengan sambal botol murah,
atau kecap, sirop, limun produksi rumahan, dengan harga jual yang sukar
diterima akal perhitungan dagang. Saus tomat dan sambal seperti itu kebanyakan
masih dikonsumsi masyarakat bawah dan kita masih melihatnya hari-hari ini.
Proses
bertahun-tahun
Menelan bahan-bahan yang tidak laik dikonsumsi
manusia memang tidak langsung mematikan seperti kalau menelan pestisida.
Demikian pula jika mengonsumsi bahan kimia yang lazim terkandung dalam makanan,
namun jika takarannya melebihi dosis yang diperkenankan, bisa berbahaya juga.
Sebut saja zat kimia dalam kecap, dan bagaimana kita memakai penyedap masakan
(asam glutamat) melebihi takaran.
Dulu pemakaian penyedap masakan menggunakan
takaran terbuat dari kayu ramping layaknya sendok es krim dengan tujuan agar
takaran tidak berlebihan. Sekarang dengan leluasa menuang langsung dari kantung
kemasan, atau dengan sendok makan. Padahal sudah banyak bukti kelebihan
penyedap untuk waktu lama mencetuskan kanker. Sampai sekarang takaran penyedap
di restoran, mi-bakso, soto, dan sejenisnya lipatan kali dosis yang aman dari
ancaman kanker, dan tidak mendapat peringatan.
Kasus keracunan pestisida acap terjadi sebab
bekas kemasan antihama itu di kalangan petani biasa dipakai untuk pembungkus
penganan apa saja. Keracunan sehabis makan pisang goreng yang dibungkus dengan
kertas kemasan pestisida, bukan kejadian sekali dua.Akibat ketidaktahuan yang
sama terjadi pada keracunan bongkrek, atau sehabis mengonsumsi jamur beracun.
Bahan kimia yang tidak laik dikonsumsi dalam
makanan umumnya bersifat pencetus kanker yang efek buruknya baru muncul sekian
tahun kemudian. Ini berbahaya, sebab selama sekian lama mengonsumsinya konsumen
tidak merasakan apa-apa dan tidak sadar kalau dalam tubuhnya sudah ada bom
waktu bakal jatuh sakit, atau calon terserang kanker, dan entah penyakit apa
lagi.
Bukan saja industri rumahan, Lembaga Perlindungan
Konsumen pernah menemukan mutu kecap dan sirop bermerk industri besar bukan
produksi rumahan yang berbeda-beda kemurnian kandungan bahannya, selain ada
juga yang mencampurkan bahan yang tidak laik dikonsumsi. Di mana letak salahnya
kalau semua produk makanan yang tak sehat dikonsumsi, baik rumahan maupun yang
bermerk itu, legal memiliki izin?
Sukar
mengawasi
Di kita, industri makanan rumahan begitu banyak.
Betul sebagian besar telah mendapat izin dari yang berwenang. Namun jika
Lembaga Perlindungan Kosumen kita masih saja menemukan penyimpangan dalam hal
kandungan zat berbahaya, nasib konsumen untuk terlindung dari risiko terkena
penyakit, dan kanker, tidak bertambah baik. Di AS, misalnya, jangankan industri
rumahan (pembuat kue), restoran pun diawasi ketat tata kebersihannya. Bukan
saja dalam hal penggunaan bahan yang tak laik dikonsumsi, izin produksi
terancam dicabut jika higiene produksinya berkategori buruk.
Di kita, kotornya dapur rumah makan, bahaya
cemaran kuman dalam limbah dapur ke makanan yang diolah berlangsung setiap
saat. Restoran dan warung nasi yang mengolah makanan berdekatan dengan kamar
kecil di kita dianggap lumrah. Mencret sehabis minum jus, atau mengonsumsi buah
dingin, terjadi akibat kurang bersihnya makanan disajikan, sebab ketidaktahuan
pengelola, sebetulnya bagian yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi.
Kontrol terhadap produsen makanan kita agaknya
belum sampai ke situ. Rentang jangkau monitoring terhadap semua industri
makanan rumahan belum memungkinkan untuk mengawasi begitu banyak produsen.
Tindakan hukum terhadap produsen yang menyimpang hanya terjadi jika ada laporan
dari konsumen, atau baru jika sudah terjadi kasus. Itu berarti konsumen tetap
belum sepenuhnya terlindung dari ancaman terhadap kesehatan akibat mengonsumsi
makanan berisi zat yang merugikan kesehatan, yang oleh karena tidak dilarang,
terus saja dikonsumsi.
Bagi konsumen kelas atas bukan berarti pasti
bebas sama sekali dari ancaman bahaya mengonsumsi segala jenis makanan olahan.
Keripik kentang, kentang goreng, es krim, pizza (Pepperoni pizza), dan semua
jenis makanan olahan dengan pemanasan bersuhu tinggi, kini terungkap merupakan
pengancam kesehatan juga sebab mengandung zat acrylamide yang bersifat
mencetuskan kanker juga.
Selain itu zat dioxin sudah menyelusup masuk ke
dalam makanan siap-saji, daging, ikan, produk susu, dan semua jenis menu
berlemak. Belum lama ini WHO menetapkan zat dioxin dalam makanan yang dijual,
tergolong pencetus kanker. Hampir semua orang di negara industri (96%) positif
dioxin dalam darahnya akibat tercemar dari makanan olahan yang dikonsumsinya.
Periset Swedia menemukan bahwa semua camilan
dengan karbohidrat tinggi (terigu, kentang, beras, jagung) yang dibakar dan
digoreng dengan suhu tinggi mengandung acrylamide yang bersifat carcinogenic
itu. Acrylamide bahan untuk pembuat plastik dan zat warna, selain pemurni air
minum. Itu sebab tergolong berbahaya juga kemasan masakan restoran yang panas
jika dibungkus dengan bahan plastik, atau menggunakan sterofom. Tak terkecuali
masakan yang berasal dari menu tradisional jika dibakar atau digoreng dengan
suhu tinggi. Kentang mengandung zat asparagine selain gula. Jika asparagine
dipanaskan akan berubah menjadi acrylamide si pencetus kanker itu.
Pilih
bukan menu olahan
Semakin sedikit saja pilihan menu harian kita
yang bebas dari pencemar zat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan sekadar ikan
asin, menu rutin kaum papa pun mengandung zat nitrosamin, yang tergolong zat
pencetus kanker juga. Maka, buat kita yang menginginkan tetap sehat, cara makan
paling arif memang hanya kembali ke jenis menu alami.
Kendati memang tidak seratus persen bersih dari
cemaran pupuk, pestisida, dan mineral berbahaya di tanah maupun sudah mencemari
lautan kita terhadap ikan, kerang, dan semua produk laut, namun makanan alami
seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, padi-padian, belut, dan lele di sawah,
pepaya dan belimbing di pekarangan, daun singkong dan kangkung di kebun
hidroponik, relatif masih lebih bersih dibanding jenis menu olahan yang kita
beli. Terlebih jenis makanan olahan yang diproduksi dengan cara-cara yang tidak
mengindahkan nasib kesehatan konsumennya.
Tanpa memberitahu, tanpa melakukan kontrol dan
monitoring, dan hukum tidak bekerja, berarti diam-diam kita sedang membiarkan
perusakan terhadap sosok kesehatan orang banyak itu terus saja berlangsung.
Sayangnya semua itu tidak selalu konsumen tahu, apalagi menyadarinya.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:
http://gkipi.org/category/artikel-lepas/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________