Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 29 Mei 2011

Indahnya Masa Tua


Baca: Mazmur 92:13-16
Sampai masa tuamu aku tetap dia dan sampai masa putih rambutmu menggendong kamu. telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4

Pak Joko sekarang berusia 85 tahun. Badan­nya sudah tidak sekuat dulu, harus ditopang jika berjalan, dan sering sakit-sakitan. Dulu pada waktu muda, tubuhnya masih cukup kuat untuk jalan sehat, dan sering bepergian ke mana dia suka. Masa tua selalu dikaitkan dengan kele­mahan. Orang tua akan loyo, pikun, pende-ngaran berkurang, rabun jauh, dan masih banyak lagi. Hal itu tidak bisa dihindari, karena kodrat manusia seperti itu. Itulah masa lanjut usia. Semuanya serba lambat, lemah dan tidak berdaya.
Tuhan memberikan masa tua pada manusia bukan digunakan un­tuk mengeluh hanya karena sudah tidak kuat jalan dan tidak bisa lagi bepergian semaunya. Kita bisa bayangkan bahwa pada masa muda, kita seakan melakukan perjalanan melalui jalan tol, tanpa hambatan. Hidup semangat, penuh idealisme, dan cita-cita. Sedangkan pada masa tua seakan perjalanan kita sudah keluar dari jalan tol. Tetapi, masa ini banyak sekali keindahannya. Ketika mobil harus berjalan merayap karena banyak tikungan dan tanjakan, kita merasakan udara pegunungan yang segar dan pemandangan yang sangat indah. Sekali-kali kita melihat ke bawah, ke lembah di belakang kita, melihat jalan berbelok-belok yang tadi kita lalui, tampak indah. Itulah perjalanan hidup yang harus kita syukuri.
Mengapa kita mampu menjalani hidup sampai puluhan tahun? Mengapa kita bisa menempuh jarak sejauh itu? Karena Tuhan men­dukung, menjunjung dan menggendong kita dari masa muda hingga masa tua. Selamat menikmati masa tua yang indah bersama Tuhan. —Prihanto Ngesti Basuki.
Doa: Tuhan, mampukan mensyukuri segala sesuatu yang telah
Engkau berikan padaku sampai masa tuaku ini. Amin.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 28 Mei 2011

Bergembiralah !


Baca: Amsal 17:22
Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
Amsal 15:13

 “Mau berbuat baik saja susah.” Suatu ka­limat yang menggambarkan keputusasaan se-seorang. Tampaknya hanya kalimat yang sederhana, tetapi jika dirasakan dampaknya sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, orang yang mau berbuat baik saja mengalami kesu­litan. Lalu apa yang harus diperbuat?
Amsal 15:13 dan Amsal 17:22 meng­ingatkan kita untuk tidak berputus asa melainkan untuk bergembira sebab kegem­biraan mampu membuat kita bangkit mela­wan keterpurukan. Sebaliknya kekesalan dan semangat yang mengendur dapat membuat kita menjadi tak berdaya dan akhirnya terkapar.
Keberadaan kita di tengah-tengah lingkungan kita adalah untuk menjadi motivator dan inspirator bagi orang lain. Bagaimana bisa kita memotivasi orang lain kalau diri kita sendiri terpuruk, dan bagaimana mungkin kita menjadi inspirator bagi lingkungan kita kalau kualitas hidup kita digerogoti oleh keputusasaan.
Kita masih punya tugas yang telah Tuhan percayakan kepada kita untuk menjadi garam dan terang bagi lingkungan kita. Jika kita tidak mampu merealisasikan hal itu hanya karena kita selalu dirundung keputusasaan, maka berarti kita menyia-siakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Oleh karena itu sekaranglah saatnya bagi kita untuk bangkit, membuat diri bersukacita, agar kita mampu untuk berbuah yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh orang di sekitar kita. Dengan berbuah lebat dan dapat dinikmati oleh orang di sekitar kita berarti kita telah menghargai kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. —Darmanto.

Pada akhirnya sekali lagi “...bergembiralah karena Tuhan;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang  diinginkan hatimu.” —Mazmur 37:4



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 27 Mei 2011

Anugerah Usia Lanjut


Baca: Kejadian 50:22-26
...Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini....
Kejadian 50:24

Pesan-pesan terakhir dari seseorang yang akan menghadap Tuhan sering kali menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan. Yusuf dipanggil Tuhan pada usia seratus sepuluh tahun. Sebelum kemati­annya, ia masih bisa berkata kepada saudara-saudaranya yang dahulu mereka-rekakan yang jahat kepadanya. Apa yang kira-kira akan kita buat sebagai pesan terakhir hidup kita?
Katakan bahwa menjadi tua adalah anugerah. Menjadi tua bukan untuk disesali atau berharap segera kembali ke surga. Menjadi tua adalah anugerah. Tuliskanlah kenangan-kenangan indah perjalanan hidup kita dan waris-kan untuk dibaca anak-anak dan para cucu. Siapa tahu tulisan itu mem­beri inspirasi hidup kepada yang muda.
Bersihkan hati dengan memberi pengampunan. Jangan mening­galkan dunia ini dengan masalah yang belum selesai. Yusuf yang pernah dikhianati saudara-saudaranya tetap memberi pesan-pesan sebelum ia menutup mata. Lebih baik menutup mata dengan damai sejahtera dari pada membawa masalah yang tak terselesaikan. Anda memilih yang mana?
Kata-kata optimis dan mengandung berkat Allah. Kata Yusuf: “...Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini...” Yusuf menghibur saudara-saudaranya, bukan malah dihibur. Sebuah pertanda bahwa di hari tuanya Yusuf tetap memiliki iman yang teguh di dalam Tuhan. Ubahlah saat-saat perpisahan bukan dengan air mata, tetapi dengan iman yang luar biasa. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Usia lanjut bukan cuma bonus, tetapi anugerah dari Tuhan
agar kita memuliakan dia melalui kesempatan yang disediakan-Nya.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 26 Mei 2011

Tiada Kata Terlambat

Baca: Kejadian 18:1-15
Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau,
pada waktu itu Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.
Kejadian 18:10

Badannya tinggi tapi tidak kurus, kacama­tanya sangat tebal namun semangatnya luar biasa. Ketika memasuki usia pensiun sebagai hakim (63 tahun), dia memilih mengambil program pasca sarjana S2. Setelah lulus, bu­kannya menikmati hidup bersama anak dan cucu melainkan bersekolah lagi ke jenjang doktor. Di usia 68 tahun gelar Doktor disan­dangnya, tetapi dia belum puas dan memilih menjadi dosen di beberapa universitas. Saat ini usianya 72 tahun. Ketika saya bertanya kepada Bapak—sapaan saya untuknya, mengapa tidak bersantai saja bersama cucu? Jawabnya, “Masih ada ba-nyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk negara ini agar maju dan adil.” Istrinya seorang profesor yang juga mengajar di beberapa universi­tas. “Apakah ibu tidak lelah harus keluar kota setiap minggu?” tanya saya suatu kali. Jawabnya, “Saya senang membagi ilmu kepada murid-murid, hanya itu yang saya punya dan dapat saya bagikan.”
Cerita ini adalah sedikit dari banyak kisah tentang dosen-dosen yang masih berkarya di usia senja. Mereka terus berkarya tidak mengenal usia. Cerita ini mengingatkan saya kepada Abraham. Di tengah-tengah kegalauannya untuk mendapatkan keturunan di usia senjanya, Abraham telah bertemu dengan Tuhan melalui tiga orang yang berdiri didepan kemahnya (ayat 1-2). Karya dan simpati Abraham kepada mereka, telah menuai berkat sehingga Abraham dikarunia anak. Tidak ada kata terlam­bat bagi Tuhan, untuk kita selalu berkarya. Mari kita terus berkarya untuk sesama. —Pramudya

Tuhan hadir menghampiri kita melalui orang-orang
di sekitar kita, mari kita buka pintu hati kita.





=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 25 Mei 2011

Seandainya


Baca: 1 Tawarikh 16:34
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
1Tawarikh 16:34

Pada dasarnya manusia sangat senang ber-andai-andai. Hal ini disebabkan kekurang­percayaan manusia kepada Tuhan. Hidup yang sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan segala yang baik, dirasakan masih jauh dari harapannya. Sesuatu yang sudah cukup ber­dasarkan rencana Tuhan dirasakan kurang oleh manusia karena tidak sesuai dengan pikirannya sendiri. Hal ini menjadikan rasa syukur kita hilang.
Jikalau hal ini terus-menerus muncul da­lam pikiran kita, maka yang muncul dalam angan-angan kita adalah terus berandai-andai. Misalnya, seandainya saya kaya, seandainya saya jadi pemimpin, dan sejumlah seandainya yang lain, yang belum pernah dicapai.
Kita yang sudah memasuki usia lanjut sebaiknya lebih memperhatikan kehidupan spiritualitas kita. Semakin lanjut usia semakin menajamkan hidup spiritualitas kita. Bukannya malah menajamkan mulut dan lidah kita sehingga melukai sesama.
Jikalau ada angan-angan atau cita-cita yang belum kesampaian, kita berdoa kiranya Tuhan memberi hikmat kepada anak-anak kita sehingga anak-anak kita dimungkinkan dapat merealisasikannya sesuai dengan kehendak-Nya.
Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa Allah beserta kita (Imanuel) melalui kehadiran Juru Selamat kita, Tuhan Yesus (Matius 1:23). Jikalau begitu kurang apa lagi? Mengapa kita masih dipenjarakan oleh pikiran yang berandai-andai yang pada akhirnya membuat kita tidak dapat me­nyucap syukur kepada Tuhan?
Mari mulai sekarang kita lebih mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia baik. Sungguh, untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Adi Soesanto.
Semoga iman kita bertumbuh, sehat, menjadi gemuk dan berbuah.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 24 Mei 2011

Genggaman Kita


Baca: Mazmur 90:12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12

Ada yang kita genggam dalam hidup kita. Sesuatu yang berharga biasanya digenggam erat-erat, seolah tidak boleh hilang atau terlepas dari tangan kita. Jabatan, karier dan kedudukan sering kali kita genggam erat- erat, supaya tidak jatuh ke tangan orang lain. Bahkan kalau perlu kita pertahankan mati-matian. Namun karena faktor usia yang tidak dapat dicegah, orang harus rela melepaskan semuanya itu dan memasuki babak baru pada saat pensiun. Kita harus iklas dan legowo menyerahkan kepada yang lebih muda.
Kita buka genggaman tangan kita, itu adalah langkah kedua sesudah kita sadar bahwa kita harus menyerahkan kepemimpinan kita kepada yang lebih muda. Kita menarik diri selangkah, mundur ke belakang, tiba saatnya kita menjadi seorang pengamat dan penasihat. Membiarkan orang lain yang menentukan keputusan dan kita tidak menjadi sosok penyulit di sampingnya.
Kita cari peran baru yang masih dapat dilakukan. Sosok pensiun-an bukan menjadi laskar tidak berguna yang sudah tidak dapat apa-apa. Dalam waktu luang kita dapat menjadi penulis yang produktif, dengan segudang pengalaman yang dapat menjadi wahana belajar bagi siapa saja yang rindu untuk belajar mendapatkan kearifan kehidupan, menekuni hobi baru, aktif dalam kegiatan sosial termasuk di gereja. Itu adalah tindakan yang jauh lebih bijaksana dan berguna dan orang lain akan merasakan manfaatnya.
Pemazmur mengajarkan ajar kita bijak menghitung hari-hari kita agar kita mendapatkan makna hidup yang bijaksana. Termasuk menjalaninya dan mengisinya dengan bermakna. —Pdt. Agus Wiyanto.

Hari hari hidup manusia adalah terus maju ke depan,
bukan mundur ke belakang dan kembali ke masa silam.
Sambutlah hari baru dengan semangat baru.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 23 Mei 2011

Rendah Hati

Baca: Filipi 2:3
...Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
Filipi 2:3

Seorang hakim yang sombong suatu kali berkata kepada seorang petani tua, “Mengapa kamu tidak menegakkan kepalamu seperti saya? Saya tidak menunduk di hadapan Tu­han ataupun di hadapan manusia.” Jawab petani tua itu, “Pak Hakim, lihatlah sawah itu. Hanya biji yang kosong yang tegak. Biji yang berisi menunduk rendah” (ide ceritera Caper’s Weekly).
Barangkali kita tersenyum mendengar cerita ini. Barangkali pula sebagai orang lan-jut usia kita ikut bangga, karena yang berkata sedemikian bijak adalah seorang tua. Namun cerita itu pasti bukan untuk menggambarkan bahwa setiap orang tua identik dengan rendah hati.
Kita tahu betapa sulitnya menjadi rendah hati, apalagi bagi orang tua. Kecenderungan manusia adalah membanggakan dirinya. Sebagai orang tua tak jarang kita juga memiliki kecondongan itu. Merasa diri telah banyak “makan asam garam”, banyak pengetahuan dan pengalaman. Di sisi lain sebagai orang tua harus mulai melangkah ke belakang. Jika kita tidak waspada, tanpa kita sadari ke dua hal itu, (aku punya pengalaman, jadi aku tak mau surut ke belakang) bisa menjebak kita dalam sikap tinggi hati. Dibutuhkan sikap legowo, rela atau ikhlas.
Sesungguhnya Allah menentang orang yang congkak, tetapi meng-asihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6). Oleh karena itu mari kita merendahkan hati kita di hadapan Tuhan karena itu seperti magnet yang akan menarik belas kasih dan uluran tangan Tuhan. Mari menjadi teladan sikap rendah hati di mana pun kita berada dan sebagai apa pun kita. —Liana Poedjihastuti.

Doa: Ya Tuhan, berilah kami rahmat rendah hati. Amin




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 22 Mei 2011

Obesitas Rohani


Baca: Mazmur 1
Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah­nya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diper-
buatnya berhasil.
Mazmur 1:3

Hampir setiap orang takut dengan kege-mukan. Ada yang gemuk minta dikuruskan, yang kurus minta gemuk. Manusia memang repot. Mendengar obesitas, orang menjadi takut karena penyakit yang satu ini membuat orang susah bergerak dan berubah bentuk kurang menarik. Bagaimana dengan obesitas rohani? Ge­muk secara rohani tidak membuat orang takut, tetapi justru bersyukur karena asupan gizi yang dari Tuhan benar-benar berlebih. Pemazmur mengalami hal itu. Bagaimana caranya agar kita gemuk se-cara rohani?
Posisikan di tempat Tuhan bukan di tempat lain. Pemazmur ber­jalan, berdiri dan duduk di tempat yang disediakan Tuhan (ayat 1). Di usia lanjut setelah sekian tahun kita berjalan, berdiri, duduk dalam ke-sibukan mengurus anak-anak, usaha, dan karier, apakah tidak sebaiknya kita mulai menempatkan diri di posisi Tuhan? Cobalah!
Ubah kesukaan duniawi menjadi kesukaaan surgawi. Pemazmur berkata bahwa kesukaannya ialah Taurat Tuhan. Di usia lanjut agar men-cegah pikun usahakan untuk sering membaca agar mendapat manfaat ganda dari kegiatan itu, yaitu mencegah kepikunan dan gemuk dengan firman Tuhan. Cobalah!
Jika hati senang, maka penampilan tetap semangat. Pemazmur menulis bahwa pohon yang ditanam di tepi aliran air tidak layu daunnya. Hidup yang terus diisi dengan firman Tuhan akan beda penampilannya dengan hidup yang kosong. Tetap semangat, ceria dan optimis meng-hadapi hari depan. Cobalah pasti bisa! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Obesitas rohani adalah gemuk dari dalam, tetapi tetap tampil
menarik karena cahaya Ilahi menyembul keluar.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 21 Mei 2011

Mengubah Pikiran


Baca: Efesus 4:17-32
...supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu....
Efesus 4:23

Selama bertahun-tahun seorang petani ter­paksa membajak di sekeliling sebuah batu besar yang ada di tengah sawahnya. Suatu hari petani ini memutuskan untuk melaku­kan sesuatu. Ia mengambil sebuah linggis dan menancapkannya ke dasar batu itu. Ia sangat terkejut karena ternyata batu itu hanya mempunyai ketebalan tiga puluh sentimeter dan dapat dihancurkan dengan mudah. Ia tersenyum dan lega sebab selama bertahun-tahun ia mengalami kesulitan karena adanya batu itu. Seharusnya, betapa mudahnya ia
dapat menyingkirkan batu itu, kalau ia segera mengubah pikirannya dan mencari cara lain mengatasinya.
Mengapa kita sulit menjadi berkat bagi orang lain? Mengapa hidup kita seolah kehilangan makna? Mengapa banyak ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan terjadi dalam hidup kita? Mungkin kita perlu mengubah pola pikir dan cara hidup kita yang selama ini begitu dikuasai oleh pikir-an yang menyesatkan yang kemudian tanpa kita sadari terekspresi dalam sikap hidup kita.
Paulus menggunakan istilah “manusia lama” dengan pikiran dan pe-ngertiannya yang gelap, telah mematikan kemampuan manusia untuk menjadi berarti dan bermakna. Kita harus mengambil keputusan untuk mengubah pikiran dan hati yang berpusat pada hal-hal yang menyesatkan dan mengarahkannya pada Kristus (ayat 20-22). Cara demikian akan menjadikan kita sebagai “manusia baru” yang memiliki pikiran dan hati Kristus dan memampukan kita untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan membangun kehidupan orang lain (ayat 28-32). —Pdt. Meyske S. Tungka.

Rintangan terbesar untuk bertumbuh dan berbuah di dalam iman adalah keengganan untuk mengubah pikiran dan cara hidup yang sia-sia.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 20 Mei 2011

Mantan Aktivis

Baca: Yohanes 4:31-38
“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”
Yohanes 4:34

Disebut mantan panatua karena memang seseorang tadinya pernah mengemban jabatan itu dan sekarang sudah tidak lagi. Sebab jabatan itu memang ada periode atau masa baktinya. Demikian pula halnya dengan sebutan mantan ketua komisi, dan sebutan lainnya. Semua tadi berkaitan dengan jabat-an yang memang ada periodenya, kalau begitu, tepatkah sebutan mantan aktivis?
Walau mungkin banyak orang latah me-nggunakan istilah ini, bukankah semesti- nya kita justru perlu risih mendengar istilah
seperti ini. Sebab mantan aktivis berarti dahulu pernah aktif tetapi seka­rang tidak. Padahal, bukankah semestinya kalau menggunakan penger­tian yang benar, menjadi aktivis itu sepanjang hayat, seumur hidup. Sebab menjadi aktivis itu bukan jabatan yang punya periode. Menjadi aktivis itu sebutan yang melekat pada siapa pun yang bergiat menggunakan waktu, tenaga dan pikiran untuk melayani pekerjaan Tuhan.
Sudah barang tentu beda kurun usia, akan berbeda pula jenis aktivi­tas yang dijalaninya. Kegiatan seorang aktivis yang berusia remaja pasti berbeda dengan kegiatan seorang aktivis yang berusia lanjut. Tetapi ini artinya, sampai usia lanjut pun seseorang masih tetap bisa menjadi seorang aktivis.
Seorang bapak di usia mudanya pernah menjabat penatua, kemudian ia aktif di komisi. Jabatan terakhirnya adalah ketua komisi usia lanjut. Setelah periode pelayannya berakhir, ia terlibat dalam kegiatan pelawatan, kegiatan kelompok doa, kegiatan paduan suara. Pendek kata, tak pernah ada kata berhenti untuk kegiatan melayani Tuhan. Bagaimana dengan Anda? —Handoyo.

Makan dilakukan manusia selama masih hidup, dari muda
sampai tua. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: makanan-Ku
ialah melakukan...dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.





=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 19 Mei 2011

Harus Rendah Hati


Baca: 1 Petrus 5:3-7
Demikian juga kamu, hai orang-orang muda, tunduklah kepada orang-orang tua. dan kamu semua, rendahkanlah dirimu seorang terhadap yang lain.
1 Petrus 5:5

Nasihat Petrus kepada para orang muda untuk tunduk kepada orang-orang tua, selayaknya dapat membesarkan hati kita para lanjut usia. Sebab, berdasarkan nasihat tersebut, menjadi tua ternyata tidak berarti hilangnya hormat dan kewibawaan. Meski telah mengalami berbagai kemerosotan dan kemunduran di segala aspek kehidupan, namun ternyata masih dianggap layak dan perlu dipatuhi oleh mereka yang muda.
Meskipun demikian, kita juga perlu was-pada, karena nasihat tersebut dapat mendorong kita untuk berpikiran dan bersikap keliru terhadap mereka yang muda. Itu muncul, kalau nasihat Petrus itu kita artikan bahwa keharusan orang muda untuk tunduk kepada orang tua itu disebabkan orang tua pasti selalu benar dan harus dituruti. Kalau orang muda tidak tunduk atau tidak patuh kepada kita, kita tersinggung dan sakit hati. Sikap seperti ini sebenarnya sumbernya ada pada kesombongan!
Oleh sebab itu, penting bagi kita untuk memperhatikan juga nasihat Petrus selanjutnya, ketika ia mengingatkan, “Dan kamu semua, rendah­kanlah dirimu seorang terhadap yang lain.” Orang muda hendaknya mau merendahkan diri terhadap orang tua, tetapi sebaliknya orang tua juga harus bersedia merendahkan diri terhadap orang muda, dengan menghormati dan menghargai pendapat serta sikap mereka. Peringatan Petrus tersebut, bagi kita para orang tua, juga berarti harus bersedia melakukan introspeksi atau mawas diri. Sebab, mungkin saja sebenarnya kita sendirilah yang keliru. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, ajar dan mampukan kami untuk tidak merasa
menjadi yang paling benar sendiri, sehingga tidak mau merendahkan diri. Amin.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 18 Mei 2011

Biji Sesawi dan Ragi

Baca: Matius 13:31-34
Memang biji itu yang paling kecil dari segala jenis benih, tetapi apa­bila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran yang lain, bahkan menjadi pohon, sehingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya... Hal Kerajaan Surga itu seumpama ragi....  Matius 13:32-33
Tuhan Yesus mengumpamakan hal Keraja-an Surga seumpama biji sesawi yang diambil dan ditaburkan orang di ladangnya. Apabila sudah tumbuh, sesawi itu lebih besar daripada sayuran lain, bahkan menjadi pohon, hingga burung-burung di udara datang bersarang pada cabang-cabangnya.” (ayat 31-32). Kera­jaan Surga juga seumpama ragi yang diambil dan diadukkan ke dalam tepung terigu tiga sukat sampai khamir seluruhnya (ayat 33).
Biji sesawi memerlukan ladang untuk da-pat tumbuh, dan ragi dapat mengkhamirkan bila diadukkan ke dalam tepung. Seperti penabur benih dan perempuan pembuat adonan itu, tentunya Tuhan menginginkan kita menjadi lahan yang baik agar firman-Nya dapat tinggal dan tumbuh, dan dengan begitu kita pun menjadi pribadi yang bertumbuh.
Pertumbuhan juga ditunjukkan melalui hasil yang nyata. Pertumbuh-an biji sesawi akan melampaui pertumbuhan sayuran yang lain, bahkan akan menjadi tempat bersarang bagi burung-burung. Tentang ragi, dari pengalaman saya, setiap satu gram ragi dapat memuaikan lima puluh gram tepung! Ini berarti bahwa ragi dapat memberikan perubahan yang luas.
Jika kita mau memberikan hati kita sebagai lahan yang baik bagi fir­man Tuhan, berarti kita juga harus siap memberikan kesediaan untuk menyatakan Kabar Baik, kasih, karya dan keagungan Tuhan, melalui kata-kata dan sikap hidup, agar orang-orang yang mengenal kita dan orang-orang di sekitar kita mau mengenal Tuhan kita dan percaya kepada-Nya. Firman Tuhan yang hidup dalam diri kita harus mendatangkan manfaat yang optimal. —Ocky Sundari
Yang ditaburkan di tanah yang baik ialah orang yang mendengar
firman itu dan mengerti, dan karena itu ia berbuah, ada yang seratus
kali lipat, ada yang enam puluh kali lipat, ada yang tiga puluh
kali lipat.” —Matius 13:23



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 17 Mei 2011

J a m u

 
Baca: Mazmur 141:3
Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!
Mazmur 141:3

“Kalau mau sehat, orang harus bisa jamu,” kata ibu saya suatu kali ketika beliau ber-kunjung ke rumah saya.” “Jamu apa?” tanya saya ingin tahu. “Jaga mulut. Mulutnya dijaga jangan sampai makan sembarangan. Orang sakit itu banyak disebabkan oleh ma­kan yang tidak dikontrol,” jawab ibu saya. Ups, jadi jamu yang dimaksud ibu saya itu ternyata jaga mulut. Saya lalu bertanya ke­pada ibu saya darimana datangnya falsafah itu. Inilah kisahnya.
Beberapa waktu yang lalu ibu saya mengalami masalah dengan giginya. Dalam usianya yang mendekati 80 ta­hun, hanya beberapa gigi yang masih tinggal. Hampir semua giginya sudah diganti gigi palsu. Rupanya gigi palsu ini pun bermasalah. Karenanya ibu saya tidak bisa makan dengan nyaman beberapa waktu lamanya, bahkan sampai saat ini.
Untuk usianya, kondisi fisik ibu bisa disebut masih bugar. Tak heran, karena ia ketat menjaga makan dan berolahraga. Namun sejak ada ma-salah dengan giginya, ibu kehilangan selera makannya.
Ibu baru menyadari betapa tidak nyamannya tidak memiliki gigi. Bu­kan hanya itu, ibu saya juga mendapat hikmah dari peristiwa ini. Katanya “O, mungkin supaya tidak makan sembarangan ya, Tuhan membuat orang tua kehilangan gigi.”
Betul juga pikir saya. Sejalan dengan itu, orang juga harus jaga mu­lut dari membicarakan orang, menjelek-jelekkan orang, mengeluh, mengumpat, berdusta, dan yang lainnya supaya sehat mental dan rohaninya. Untuk itulah kita memohon agar Tuhan berjaga-jaga di pintu bibir kita. Anda mau mencoba falsafah jamu? Jamu... jamu...! —Liana Poedjihastuti.

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa
yang menahan bibirnya, berakal budi. —Amsal 10:19




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 16 Mei 2011

Romantis Dengan Tuhan


Baca: Filipi 1:9-11
Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.
Filipi 1:10

Ada pesan romantis yang ditulis Adam dan istri Nuh. “Hawa sayangku, kau ada­lah satu-satunya gadisku. Tanpamu rasanya aku sendirian di dunia ini,” demikian tulis Adam. Istri Nuh menulis untuk suaminya, “Nuh, aku tidak mengeluh, sayang. Tapi ketika engkau mengatakan bahwa kita akan pergi berlayar untuk ulang tahun pernikahan kita, aku membayangkan sesuatu yang lain dalam pikiranku.” Romatis bukan?
Bagaimana kalau hal seperti itu kita ber­lakukan kepada Tuhan. Di usia lanjut bila kita memiliki hubungan yang romantis dengan Tuhan, maka hari Tuhan tidak lagi menakutkan.
Berikan kasih yang melimpah kepada Tuhan dan sesama. Paulus berdoa semoga kasihmu makin melimpah. Kasih Tuhan sudah terbukti, tinggal bagaimana kita membalas kasih-Nya dan menyatakan kasih kita kepada sesama. Mulailah dari diri sendiri.
Hubungan yang dekat akan memberi kepekaan. Apa yang kita pilih di usia lanjut? Merasa hebat, masih kuat, punya pengaruh dan berkuasa? Sebaiknya kita memakai ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Jika kita menunduk, maka ada dua hal kita dapatkan: Kita mendekat kepada Tuhan dan kita menghormati mereka yang membanggakan kita di usia lanjut.
Hidup tanpa cacat dan padat berisi. Suci dan tak bercacat serta penuh dengan buah kebenaran seharusnya menjadi kerinduan kita di usia lanjut. Bila saatnya tiba, tinggalkan senyum kepada mereka, jangan raut muka yang masih penuh beban berat. Damai sejahtera akan menyertai kita dan untuk mereka yang melihat kepergian kita, setuju? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Hidup romantis di dunia bisa berakhir tetapi hidup romantis dengan
Tuhan akan ada selama-lamanya baik di dunia maupun di surga.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 15 Mei 2011

Tetap Kuat

Baca: 2 Korintus 4:16-18
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meski-pun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibarui dari sehari ke sehari.
2 Korintus 4:16

Manusia merupakan makhluk psiko-somatis. Keberadaannya itu mencakup dua aspek, batiniah atau rohaniah, dan lahiriah atau jasmaniah. Kedua aspek tersebut dapat, dan memang perlu dibeda-bedakan, namun tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam hu-bungan itu Paulus bersaksi, bahwa meskipun keadaan jasmaniahnya itu oleh berbagai hal, misalnya bertambahnya usia, gangguan kesehatan, penderitaan dan siksaan, dan sebagainya, namun keadaan rohaniahnya tidak, karena terus dibarui.
Roma 5:3-4 ia menyatakan, “Kita malah bermegah juga dalam ke-sengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji me-nimbulkan pengharapan.” Inilah rupanya yang dimaksudkannya, ketika ia dengan tegas bersaksi bahwa manusia batiniahnya itu “dibarui dari sehari ke sehari”. Dengan kata lain, segala sesuatu yang membuat keadaan lahiriah atau jasmanih kita itu merosot, hendaknya jangan sampai membuat keadaan batiniah atau rohaniah kita juga ikut merosot, melainkan justru dibarui atau menjadi semakin kuat karena tetap berpengharapan.
Keyakinan Paulus yang demikian itu telah mampu membuatnya “tidak tawar hati”, meski secara lahiriah harus mengalami berbagai ketidakenakan dan penderitaan itu. Terlebih-lebih ia juga yakin, bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, karuniakan kepada kami keyakinan seperti yang ada
pada Paulus, sehingga kami juga menjadi tidak akan tawar hati dan
berputus asa menghadapi berbagai kemerosotan yang harus kami
alami akibat semakin bertambahnya umur kami. Amin.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 14 Mei 2011

Semak Duri


Baca: Hakim-hakim 9:8-15
Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon: ...datanglah berlindung
di bawah naunganku....
Hakim-hakim 9:15

Syahdan pohon-pohon di Gunung Libanon pergi meminang pohon yang mau menjadi raja atas mereka, “Jadilah raja atas kami, Zai­tun!” Pohon zaitun menolak, “Apakah aku harus meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia?” Mereka menemui pohon ara, “Jadilah raja atas kami!” Ara juga menolak, “Aku takkan meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik.” Pohon anggur pun diminta ke-sediaannya menjadi raja, “Ah, tidak, aku tak mau meninggalkan air buah anggurku, yang
menyukakan hati Allah dan manusia, lalu pergi melayang di atas pohon-pohon.”
Akhirnya, pohon-pohon itu menyodorkan pilihan kepada semak duri, “Marilah, jadilah raja atas kami!”Jawab semak duri itu, “Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kalian, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di Gunung Libanon!” (ayat 15). Semak duri memegahkan diri jadi raja atas pohon-pohon yang perkasa. Ia takabur memberikan naungan padahal tak rindang. Ia mengancam akan membakar pohon aras, padahal ia justru yang mudah terbakar.
John Mason dalam The Impossible Is Possible menulis: “Kesombongan adalah satu-satunya penyakit di mana si pasien merasa sehat sementara membuat setiap orang di sekitarnya merasa sakit. Kesombongan mudah berkembang tetapi tidak menghasilkan buah.” Jangan seperti semak duri yang tidak menghasilkan buah apa pun. Tetaplah menjadi diri kita, seperti zaitun yang memberikan minyak terbaiknya, seperti pohon ara yang menghasilkan buah manis, dan seperti pohon anggur yang menyukakan hati Allah dan sesama kita. —Agus Santosa
Kaca pembesar terhebat di dunia adalah mata manusia ketika
memandang dirinya sendiri. —Paus Alexander


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 11 Mei 2011

Hikmat Rambut Putih

Baca: Amsal 16:31
Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.
Amsal 16:31

Memutihnya rambut atau ubanan meru­pakan tanda penuaan. Menjadi tua pada umumnya berarti kemunduran dan keme-rosotan dalam berbagai hal. Oleh sebab itu orang pada umumnya tidak senang menga­lami kenyataan bahwa dirinya menjadi tua. Upaya untuk mencat rambut agar warnanya tetap hitam, merupakan wujud dari reaksi penolakan tersebut.
Namun, penulis Kitab Amsal rupanya mempunyai pemahaman yang lain menge­nai rambut yang berubah warna menjadi  putih itu. Baginya, rambut putih merupakan “mahkota yang indah”. Dengan kata lain, baginya rambut putih itu bukan merupakan tanda yang harus disesali dan dihindari, melainkan justru harus dibanggakan dan disyukuri! Mahkota bermakna keagungan dan kemuliaan. Jadi, putihnya rambut, menjadi lambang dari keagungan dan kemuliaan yang ada pada diri pemiliknya. Namun dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa menurut Amsal, mahkota itu didapat melalui kehidupan yang ada pada jalan kebenaran. Artinya melalui kehidupan yang menaati kehendak dan hukum-hukum Tuhan. Sebab, kebenaran di sini yang dimaksudkan adalah kebenaran Tuhan sendiri.
Pesan yang dapat kita tarik dari pernyataan Amsal itu ialah, bahwa kita tidak perlu risau menjadi tua, asal hidup kita itu kita usaha­kan selalu berada “pada jalan kebenaran”. Dalam hal ini, berbagai pengalaman dan pelajaran dari hal menaati kehendak Tuhan yang telah “terkumpul” selama hidup kita itu mungkin dapat dibagikan, sehingga menjadi kesaksian dan mungkin juga berkat bagi orang lain. —Pdt. Em. Sutarno.

Semakin tua harus berarti semakin benar dan bijaksana, agar kepatuhan dan ketertundukan orang muda tidak menjadi sia-sia.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 10 Mei 2011

Berubah Untuk Berbuah

Baca: Yohanes 15:1-8
...barangsiapa tinggal di dalam Aku dan di dalam dia, ia berbuah banyak....
Yohanes 15:5

Bagi orang yang hidup di kota besar, pe­mandangan mobil-mobil mewah bermesin dan berbodi canggih berseliweran di jalan merupakan pemandangan biasa. Kecang­gihan teknologi masing-masing ditawarkan sebagai nilai lebih kepada para konsumennya. Tanpa itu, sebetulnya mobil-mobil tersebut hanyalah “mobil biasa-biasa” saja.
Manusia sering menganggap dirinya “bia-sa-biasa” saja. Namun, bila kita dengan jeli melihat dan merasakan, kita ini sesungguh­nya dianugerahi Allah berbagai kemampuan  yang harus kita kembangkan dan kita pakai agar kita menjadi “alat yang kecil” di tangan-Nya, menyatakan kebaikan dan kebenaran. Dari hari ke hari kita perlu mengupayakan agar kita berkembang menjadi lebih baik. Semakin berumur kita semakin menemukan diri kita makin lebih bermakna. Hari ini lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Begitulah terus-menerus “evolusi” kehidupan kita se-harusnya berlangsung.
Agar dapat menjadi semakin baik, kita harus menempel pada pokok anggur yang benar, yaitu Tuhan Yesus. “...Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku... Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 4 dan 5).
Marilah kita berubah agar bisa berbuah, dari kebiasaan-kebiasaan buruk ke arah yang lebih menyenangkan hati Tuhan, dan menguat­kan sesama. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu
berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah
murid-murid-Ku. —Yohanes 15:8



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 09 Mei 2011

Tua-Tua Keladi


Baca: Mazmur 92:13-16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.
Mazmur 92:15

Pepatah“Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”, sebenarnya bisa dibaca positif, walaupun sering dipakai untuk sindiran orang usia lanjut yang tidak tahu diri. Harus dibedakan antara menjadi dan menjadi-jadi.Yang positif adalah yang menjadi bijaksana, berhikmat, menjadi teladan. Yang negatif adalah yang menjadi-jadi tidak baik, tidak bisa diteladani oleh anak-cucu. Akibatnya mempermalukan keluarga, gereja dan mas-yarakat.
Bagaimana kehidupan kita setelah memasuki usia lanjut, menjadi atau menjadi-jadi? Pemazmur berkata bahwa pada masa tua pun mereka masih berbuah. Berbuah apa dan bagaima­na?
Hidup menjadi harapan dan menarik perhatian. Pohon yang tidak berbuah akan ditebang. Sedangkan pohon yang berbuah akan menjadi harapan setiap orang untuk datang mendekat dan memetik buahnya. Saat usia lanjut masihkah kita memiliki daya tarik bagi orang lain karena ada buah dari kesetiaan kita mengikut Kristus?
Yang terpancar di luar berasal dari dalam. Sehat luar dan dalam adalah sebutan bagi orang yang memang bersih hidupnya dan sehat ba­dannya. Tidak ada orang yang bisa menipu kata hatinya sendiri. Siapakah yang ada di dalam hati kita saat ini: Tuhan Yesus atau yang lain?”
Semakin tua seharusnya semakin padat berisi. Gemuk dan segar adalah kata lain dari hidup yang padat berisi. Semakin tua apa yang kita kumpulkan? Masihkah kita mengejar yang duniawi atau semakin mendekat kepada Tuhan? Wariskan keteladanan iman kepada anak cucu lebih dari pada harta benda duniawi yang kadang malah menjadi akar perpecahan keluarga. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Tampilkanlah hal-hal yang rohani di hari tua, hidup
ini akan lebih bersinar ke arah surga.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 08 Mei 2011

Tanpa Batas


Baca: Yakobus 1:12-18
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Yakobus 1:14

Ketika sedang berjalan-jalan, seorang raja berpapasan dengan pengemis. Raja bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku?” Si penge-mis menjawab, “Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.” Sang raja merasa tersinggung, “Tentu aku dapat memenuhi permintaan­mu. Bukankah aku raja yang berkuasa dan kaya raya?” Si pengemis lalu mengulurkan mangkuk penadah sedekah sambil berkata, “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini.” Raja menjadi geram dan merasa ditantang.
Ia segera memerintahkan bendahara kerajaan untuk mengisi penuh mangkuk pengemis itu dengan emas, namun mangkuk itu tidak pernah bisa terisi penuh. Mangkuk itu seakan berlubang. Semua emas, berlian, dan permata berharga dalam istana telah habis.
Akhirnya dengan rasa malu raja bertanya, “Terbuat dari apakah mang­kuk sedekah ini?” Pengemis itu tersenyum dan menjawab, “Mangkuk ini terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang membuat manusia selalu bergumul dalam hidupnya.”
Keinginan tanpa batas dapat menjadi bencana bagi manusia (ayat 15). Di usia yang semakin bertambah, adakah keinginan hati kita semakin bertambah? Semakin ingin dihormati, diperhitungkan, diakui? Ada ba-nyak orang tua yang mengalami penderitaan dan rasa keterasingan karena kehilangan kekuatan untuk menjadi yang utama di tengah masyarakat, di tengah keluarga. Merasa puas dan cukup adalah salah satu cara menikmati hidup. Merasa puas dan cukup juga mendatangkan keberkatan dan kesaksian bagi orang yang melihat hidup yang kita syukuri. —Pdt. Meyske S. Tungka
Hal yang tersulit adalah mengatakan “Tidak”
kepada diri sendiri.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi