Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 11 Februari 2011

Kram & Ngilu

Tayang: Selasa, 7 November 2006 · Kometar:Belum Ada 
Dok, Saya pria 42 tahun. Belakangan merasa kram di kaki sebelah, kadang-kadang kedua sisi. Juga jemari kaki terasa ngilu. Padahal saya pemakan segala. Saya kuatir ini gejala asam urat. Sebelumnya saya memang makan emping melinjo.
Dari keluhan saya itu apa penyakit saya itu?
Bagaimana saya menjauhkan penyakit saya itu?
Y – Jakarta
Sdr. Y di Jakarta

Membaca keluhan yang Saudara alami, saya menduga lebih mungkin pada gangguan otot. Keluhan kram malam hari juga bagian dari masalah otot. Umumnya pada otot betis. Ini kerap terjadi bila tubuh mengalami kekurangan kalsium (hypocalcemia).
Kekurangan kalsium juga dapat memunculkan gejala pada tangan. Mendadak tangan mengejang, kaku, ujung-ujung jemarinya menyatu. Gambaran ini khas, sekali melihat kita mengingatnya terus (obstetric’s hand).
Keluhan pada jemari kaki yang Anda alami juga saya kira bagian dari itu. Untuk memastikan benar tubuh Anda kekurangan kalsium, dapat diketahui dari pemeriksaan darah di laboratorium. Bila benar kadar kalsium darah lebih rendah dari normalnya, dengan tambahan ekstra kalsium, keluhan kram, mestinya akan mereda.
Kemungkinan asam urat tinggi bukan tak ada. Biasanya terjadi pada orang yang berbakat asam urat tinggi. Pada orang-orang demikian, kendati menu hariannya tidak banyak jenis asam uratnya (purin) tinggi, tetap saja asam urat dalam darah lebih dari normal, atau lebih dari nilai 7,0.
Untuk memastikan bahwa ini gejala asam urat, juga dapat melakukan pemeriksaan laboratorium darah. Dari sana akan kelihatan kalau memang asam urat tinggi penyebabnya. Dan bila ternyata normal saja, kita harus berpikir lain.
Gangguan pada otot juga dapat oleh hal yang lainnya. Bila ternyata bukan oleh kedua penyebab di atas, perlu diperiksa dengan melakukan perekaman otot yang kram (electromyography).
Kalau dari pemeriksaan rekam otot hasilnya ternyata kerja otot juga normal, perlu dipikirkan kemungkinan yang lain lagi. Varices, misalnya. Orang yang jelas varices juga bisa muncul keluhan kram, selain nyeri pada tungkai. Untuk itu Anda bisa melihat sendiri apakah pembuluh darah balik (vena) tersumbat, dan tampak seperti tali membiru di kulit tungkai.
Jangan lupa, bukan saja kekurangan kalsium, sejumlah vitamin juga diperlukan untuk kerja otot. Pembuluh darah dan otot juga membutuhkan vitamin E. Kita tahu vitamin E tak cukup hanya mengandalkan dari menu harian saja. Belum kalau kebutuhan tubuh akan vitamin E meningkat akibat kuyupnya radikal bebas menyerbu tubuh.
Jangan tinggalkan kecukupan vitamin C juga. Sekiranya menu harian tak cukup porsi sayur-mayur dan bebuahan, pikirkan juga kemungkinan ini. Mungkin sudah memerlukan tambahan suplemen multivitamin juga.
KEMBALI kepada kemungkinan asam urat. Jika ternyata benar asam urat tinggi penyebab keluhan Anda, berarti menu harian harus seterusnya bebas dari jenis makanan yang mengandung asam urat tinggi (baca: purin). Selain itu asam urat darah yang sudah telanjur tinggi harus diturunkan dengan minum obat paling sedikit dua-tiga minggu, sampai kadar asam uratnya sudah di bawah normal.
Setelah asam urat darah normal, selanjutnya menu harus selalu bebas makanan ber-purin tinggi. Bahwa benar banyak jenis makanan yang mengandung purin. Namun ada beberapa yang sangat tinggi, sedang, dan rendah saja.
Yang mutlak harus dihindari, termasuk udang, ginjal, otak, kerang, jantung, ikan sardin, ikan hering, kaldu daging, dan daging angsa. Sedang yang boleh dikonsumsi tapi dalam jumlah terbatas, termasuk semua jenis ikan lainnya, daging sapi, semua jenis daging unggas, jamur, asparagus, bayam, kembang kol, kacang-kacangan, dan buncis. Dan yang purin-nya sedikit saja, termasuk susu, telur, keju, tempe, oncom, sayur-mayur selain kembang kol, bayam, asparagus, buncis.
Selain itu pengidap asam urat juga dilarang minum alkohol. Dan apabila benda keton (keracunan atau komplikasi akibat gula darah kelewat tinggi), diet terlalu ketat, mengonsumsi banyak makanan berlemak, semua itu berpotensi menghambat pengeluaran asam urat dari tubuh, sehingga kadar asam urat dalam darah lebih tinggi.
Jangan lupa, yang berbakat asam urat tinggi, juga harus cukup banyak minum, dan mengonsumsi menu berkarbohidrat tinggi. Kemungkinan pembentukan batu urat selalu ada.
Kristal urat selain tersangkut di persendian sehingga menimbulkan serangan penyakit pirai atau gout, juga berpotensi membentuk batu saluran kemih. Kebiasaan menahan kencing, kurang minum, sering mencetuskan serangan kolik oleh adanya batu urat di saluran kemih.
Saya kira itu saja beberapa kemungkinannya. Salam. Tuhan memberkati.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Penyakit Keluarga

Tayang: Minggu, 3 Desember 2006 · Kometar:Belum Ada 
Tidak ada kelompok khusus penyakit hanya dalam keluarga. Namun ada kecenderungan sebuah keluarga berisiko terkena penyakit tertentu. Sebagian sebab warisan herediter yang dibawa anak, sebagian lagi sebab kelemahan fisik milik masing-masing orangtuanya, dan sebagian lainnya sebab kebiasaan, pola, dan gaya hidup yang terbentuk dalam masing-masing keluarga. Seperti apakah bentuk penyakit itu?
PERKAWINAN secara fisik merupakan senyawa dua perangkat gen yang pasti tidak sama. Pihak ibu maupun pihak ayah membawa perangkat gennya sendiri. Termasuk gen lemah yang akan diwarisi kepada anak-anaknya. Itu maka, penyakit keturunan bisa berasal dari pihak ayah, bisa juga dari pihak ibu, kalau bukan bersamaan dari keduanya.
Ada ratusan penyakit keturunan. Sebagian berasal dari cacat pada kromosom seks (XX pada wanita, dan XY pada pria), sebagian lagi dibawa otosom (yang berjumlah 22 pasang).
Cacat pada seks kromosom, berarti bentuk warisan yang bersifat jender. Ada yang diwarisi pihak ibu, ada juga yang oleh pihak ayah. Buta warna, misalnya, dibawa pihak ibu. Ibu sendiri (XX) tidak buta warna, namun mewariskannya kepada anak lelakinya (XY). Dan apabila jenis penyakit keturunan seorang anak dalam sebuah keluarga tidak terlacak secara genetika, bisa jadi anaknya anak tetangga.
Jadi penyakit keturunan yang dimiliki sebuah keluarga, bersifat khas jenisnya. Ibu atau ayah akan mewarisi terus jenis penyakit keturunan yang sama pada garis keturunannya. Mungkin belum tentu muncul penyakitnya pada anak, melainkan hanya dibawa dalam gen-nya. Penyakit keturunan baru muncul apabila gen lemah yang sama dari suami dan istri saling bertemu (perkawinan incest, antar segaris darah).
Penyakit darah thalassemia, misalnya. Kendati ibu atau ayah membawa gen lemah ini, namun penyakitnya tidak muncul pada dirinya. Gen lemah penyakit ini hanya diwariskan kepada anak-anaknya. Penyakitnya baru akan muncul apabila gen lemah yang sama diwariskan pihak ibu maupun oleh pihak ayah. Jika hanya salah satu pihak saja yang mewariskannya, anak hanya membawa gen lemahnya, namun anak tidak menjadi sakit. Bila nanti anak menikah dengan orang yang juga memiliki gen lemah yang sama, pada ketika itulah penyakitnya baru akan diwarisi anak-anak keturunannya kelak.
Untuk menyebut beberapa, penyakit jiwa, sumbing, kelainan bentuk kepala, tergolong keturunan. Termasuk kencing manis. Pembawa bibit kencing manis kawin dengan pembawa bibit yang sama, akan melahirkan anak yang kencing manis.
Kebiasaan keluarga
Selain itu, dalam sebuah keluarga memiliki pola kebiasaan kesehariannya yang mungkin tidak sama dengan keluarga lain. Kebiasaan memilih jenis menu, jadwal tidur, adakah jadwal tidur siang, sampai soal kebersihan, serta kebiasaan sehat maupun yang kurang sehat. Tidak terbiasa cuci tangan sebelum makan, atau kebiasaan makan tanpa sendok.
Dua kebiasaan dalam keluarga yang besar dampaknya terhadap munculnya penyakit, yakni kebiasaan menu meja makan keluarga, dan kebiasaan jorok. Keluarga yang semua anggota keluarganya berbadan subur, kebanyakan ibunya rajin masak, dan doyan makan pula.
Celakanya lagi, si ibu masih beranggapan kalau anak yang sehat itu anak yang seperti anak kingkong. Jadi bukan saja porsi makannya pakai piring berukuran sangat besar, ukuran gelas minumnya pun seperti yang dimiliki raja.
Keluarga yang semua pasukannya berbadan subur-subur, tentu berbakat terkena penyakit akibat kegemukan. Hampir pasti kencing manis (tipe 2), kalau bukan darah tinggi, dan kelak jantung koroner, dan stroke jika risiko lain untuk terkena itu juga dimiliki, seperti malas gerak (sedentary), padahal sejatinya tidak mewarisi gen untuk terkena penyakit itu.
Kita tahu bahwa masing-masing tubuh membawa kelemahan organnya sendiri. Pihak ibu mungkin lemah lambungnya, dan pihak ayah lemah paru-parunya. Bakat lemah yang bersifat konstitusi tubuh ini secara familial diwariskan juga.
Jika kebiasaan ibu memilihkan menu yang merusak lambung, dan kebiasaan keluarga membuatnya rentan pula terserang penyakit paru, maka penyakit lambung dan penyakit paru-paru, menjadi bagian dari kecenderungan penyakit dalam keluarga tersebut.
Jika keluarga tersebut sangat doyan makan pedas, menu dengan bumbu merangsang, dan ayah kurang suka berolahraga, misalnya, kecenderungan terkena penyakit di atas lebih besar kemungknan terjadi dalam keluarga tersebut.
Hal lain dalam mengonsumsi obat. Ada keluarga yang gampang sekali mengonsumsi obat, selain ada juga yang tidak sedikit-sedikit sembarang minum obat. Buat yang rajin minum obat tentu buruk efeknya terhadap ginjal dan hati anggota keluarga, dibanding yang tidak gampang mengonsumsi obat. Termasuk kebiasaan minum jamu, herbal, dan obat tradisional.
Demikian pula untuk bakat kanker. Bakat kanker seseorang dibawa dalam gennya. Bakatnya ini belum tentu muncul jika tidak bertemu dengan kebiasaan, pola, serta gaya hidup yang mendukungnya. Bila terpapar virus kanker (papilomatous virus, misalnya), atau terpapar oleh menu “racun”, obat, jamu, gas dalam udara, gelombang elektromagnetik peralatan rumah yang kesemuanya mencemari tubuh dengan radikal bebas (free radicals) tinggi, maka kanker pun menjadi muncul. Ini salah satu penjelasan kenapa sekarang semakin banyak yang terkena kanker dibanding orang dulu.
Kebiasaan dalam jadwal tidur malam, rutin makan di restoran, apa saja yang mengisi kulkas rumah, menentukan penyakit yang bakal menimpa keluarga. Ada keluarga yang tidurnya cenderung lebih larut, dan bangunnya lebih siang. Kebiasaan begadang, atau menjadi seperti kalong, tentu berbeda kerentanan keluarga terkena beberapa penyakit.
Isi kulkas rumah yang banyak cemilan serba manis, minumya bukan air putih melainkan soft drink, sirop, banyak batang cokelat, tart, dan es krim, berbeda ragam penyakitnya dengan keluarga yang tidak memilih suka nyamil, kurang suka yang serba manis. Lidah anak juga dibentuk oleh meja makan ibu. Yang jenis menunya “kental” (spicy) tak suka menu yang hambar kurang bumbu.
Keluarga yang menunya cenderung asin, juga berisiko menjadikannya darah tinggi semua. Konsumsi garam dapur berkorelasi dengan kejadian darah tinggi. Darah tinggi membawa konsekuensi tersendiri pada jantung, dan kejadian stroke nantinya.
Belum kalau punya kebiasaan jorok. Satu yang lumrah dilakukan. Tidak terbiasa mencuci tangan sebelum makan, atau sehabis dari kakus. Kalau juga mencuci tangan sekadar asal basah doang. Masih basah sudah memegang nasi, atau menyomot lauk. Padahal sebelumnya baru memegang uang, menyentuh handle pintu WC, gagang telepon umum, tombol lift, itu semua titik-titik berkumpulnya bibit penyakit. Termasuk sehabis duduk di kursi bus kota, bangku tunggu apotek, atau gedung bioskop, lalu membawanya ke kamar tidur. Keluarga demikian rajin mencret, dan berisiko terjangkit sederet penyakit infeksi perut, atau saluran napas atas.
Lidah keluarga dibentuk oleh meja makan ibu. Kebiasaan keluarga juga sebagian besar dibentuk oleh wawasan kesehatan ibu. Pola dan gaya hidup keluarga dibentuk oleh komitmen sehat ayah dan ibu. Termasuk jika keluarga tidak suka berolahraga, rentan celaka (accident pronesness), sebentar-sebentar terjatuh, terkilir, dan lemah saja safety first-nya.
Barangkali termasuk juga sering terkena radang lubang hidung lantaran kebiasaan (maaf) mengupil dalam keluarga di mana dan kapan saja. Bisa jadi kebiasaan mulai dari opa dan oma, papi-mami, sampai cucu dan cicit, siapa tahu merupakan bagian dari hobi harian keluarga tertentu juga: Penyakit bisul di lubang hidung!
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Cyberchondria

Tayang: Sabtu, 20 Januari 2007 · Kometar:Belum Ada 
Sekarang internet kian menggampangkan orang menambah wawasan medis. Semua penyakit bisa dibaca tuntas di internet. Bahkan awam pun bisa berinteraksi langsung dengan ahlinya. Apa bahayanya?
Bagi sekelompok orang, semakin banyak tahu penyakit, semakin muncul perasaan takut. Konon itu sebabnya buku dan tabloid kesehatan tidak dicari segala orang. Banyak orang takut membaca seluk beluk penyakit lantaran cenderung diproyeksikan pada diri sendiri.
Kondisi itu sekarang sudah menggejala pada banyak pengguna internet. Label baru orang dengan kondisi itu disebut sebagai internet print out syndrome. Dr. Trover Roscoe menjulukinya sebagai Cyberchondria.
Studi di Universitas Alabama, AS, melihat munculnya kondisi orang-orang yang cenderung mendiagnosis penyakitnya sendiri setelah membaca rangkaian gejala-gejala suatu penyakit di internet. Orang merasa dirinya sedang berpenyakit setiap kali membaca gejala dan tanda-tanda suatu penyakit.
Kita teringat kasus Baron von Munhausen dahulu yang berhasil mengelabui sekian banyak dokter bedah. Ia menguasai semua gejala penyakit bedah, mampu pula memerankan diri sebagai pasien bedah betulan. Dokter bedahnya yakin kalau ia benar kasus bedah. Namun setiap kali dibedah, hasilnya selalu nihil sebab memang ia tidak sakit. Ia memetik kenikmatan saban kali berhasil mengelabui dokter bedahnya. Von Munhausen mengidap penyakit jiwa doyan berbohong (pathological liar), dan merasa nikmat kalau berhasil bikin orang lain tertipu.
Sindroma Munhausen bagian dari apa yang disebut hypochondria. Orang selalu merasa dirinya banyak penyakit, tapi secara medis tidak terbukti ada. Benar-benar merasa ada keluhan penyakit entah apa saja, namun tak ditemukan kelainan apa-apa kalau diperiksa. Kondisi seperti itu bisa juga tergolong gangguan jiwa somatoform. Orang yang merasa dirinya sakit terus padahal tidak sakit disebut hypochondriasis.
Orang dengan cyberchondria pun punya kebiasaan langsung mendiagnosis diri sendiri sakit setiap kali membaca gejala suatu penyakit di dunia cyber. Ia merasa kena usus buntu begitu tahu gejala usus buntu itu nyeri di perut kanan bawah, demam, mual, dan sembelit. Padahal di mata medis, tidak semua gejala seperti itu tentu usus buntu. Orang dengan cyberchondria terganggu logika medisnya. Gejala medis yang (kelihatannya) sama, belum tentu mewakili penyakit yang sama, atau mungkin bukan penyakit apa-apa. Berjuta-juta orang yang mengeluh nyeri kepala setiap harinya. Tapi cuma satu-dua saja yang nyeri kepalanya bermakna gejala tumor otak, misalnya.
Kecenderungan orang yang bersikap menyederhanakan dalam mendiagnosis keluhannya sendiri, berpotensi menumpuk kecemasan dalam dirinya. Orang yang punya bakat pencemas mudah sekali gundah setiap kali tahu lebih banyak tentang gejala-gejala penyakit. Kecemasan sendiri membuat orang rentan jatuh sakit. Boleh jadi orang menjadi sakit justru akibat rasa cemasnya sendiri yang dibiarkan terus berlarut-larut.
Bahaya timbul jika dari mendiagnosis penyakit sendiri, orang langsung mengobatinya sendiri. Mata merah tidak selalu berarti infeksi. Maka tidak semua obat tetes mata merah boleh buat semua gejala mata merah. Mata merah bisa berarti alergi, bukan tak mungkin glaucoma, penyakit mata serius yang bisa buta jika terlambat diobati. Jika salah mengobatinya sendiri bisa fatal sebab terlambat diberi obat yang tepat.
Simplifikasi bahwa gejala yang sama tentu mewakili penyakit yang sama menggampangkan orang berswamedikasi. Ketika ongkos berobat sekarang serba mahal, sikap berswamedikasi memang menjadi dewa penolong rakyat kecil. Tentu tak selalu aman.
Jika orang dengan cyberchondria merasa yakin pada diagnosisnya yang belum tentu betul, memilih mengobati diri sendiri bisa berisiko buruk. Bisa jadi semua keluhan mencret dianggap perlu diberi antimencret, padahal tidak semua kasus mencret perlu distop, misalnya.
Semakin gamblang dunia kesehatan virtual, semakin telanjang informasi medis yang tidak semuanya perlu pasien ketahui. Oleh karena sesungguhnya ada bagian-bagian informasi yang cukup hanya dokter saja yang tahu jika itu dianggap bisa berakibat merundung pikiran pasien dan tak ada manfaatnya buat penyembuhan. Ini sisi ruginya kalau awam rajin berinternet medik.
Ketelanjangan informasi medis tidak sehat buat semua orang. Bagi yang lemah jiwa, alih-alih membuat orang lebih sehat dan waspada terhadap penyakit, informasi medik di internet bisa-bisa malah mungkin menambah berat sakitnya.
Sekarang semakin diyakini kalau pikiran kuat pengaruhnya pada badan. Pikiran negatif menurunkan dayatahan, selain merusak sistem dalam ‘mesin’ tubuh. Sebaliknya pikiran positif, termasuk berdoa, bermeditasi, dan berzikir, misalnya, meningkatkan dayatahan tubuh. Orang dengan cyberchondriasis cenderung berisiko dirundung pikiran negatif.
Pada orang awam, informasi medis yang sangat telanjang berpotensi menimbulkan pikiran negatif. Orang yang semula sehat bisa mendadak jadi sakit betulan begitu diberi tahu kalau di tubuhnya sudah ada penyakit. Bukan mustahil bisa membuatnya stres berat.
Bagi orang yang takut menghadapi kenyataan, jiwanya bisa langsung runtuh begitu mendengar ada yang tidak beres pada tubuhnya. Begitu pula yang mungkin dilakukan oleh ketelanjangan informasi medis di internet yang terbuka buat setiap orang kapan saja orang mau. Termasuk jika menimpa orang yang berbakat hypochondria, mereka yang selalu merasa badannya tidak pernah waras terus. Yang seperti itu kini banyak menggejala di dunia, akibat saking rajinnya orang membuka cybermedicine.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Berapa Banyak Boleh Makan Lemak

Tayang: Sabtu, 19 Mei 2007 · Kometar:Belum Ada 
LEMAK dan gula sumber tenaga bagi tubuh, selain memberi rasa gurih santapan kita. Dalam makanan selain lemak ada juga kolesterol. Makanan berlemak belum tentu ada kolesterolnya. Kacang betul tidak berkolesterol, tapi ada lemaknya. Dan lemak maupun kolesterol sama-sama jahatnya jika dikonsumsi berlebihan.
Lemak dan kolesterol dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Lemak takjenuh justru menyehatkan. Sedang lemak jenuh membahayakan kalau kita rakus mengonsumsinya.
Tapi rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh enaknya menu lemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat (P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya 25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.
Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi harus di atas 3.0.
Akibat kelebihan porsi menu lemak, tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah menjadi tenaga. Tapi cadangan tentu tak perlu berlebihan.
Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga. Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.
TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi. Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan hampir di semua bagian tubuh mana saja.
Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula.
Jangan lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu lemak belaka, melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak tubuh tambah menumpuk juga.
Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.
Seperti kolesterol, lemak bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K, beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.
Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit, misalnya, bisa muncul jika menu harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Kolesterol dibutuhkan buat pembuat hormon.
Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya, sedang minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, dikonsumsi secukupnya saja.
Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low Density Lipoprotein).
Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak murni yang berisi lemak belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.
Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan kelewat tinggi, atau dipakai berulang. Maka tak sehat mengonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan makan jajanan gorengan, yang tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah berapa kali dipakai ulang.
Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 -3.000 kalori sehari. Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja. Sesendok makan minyak goreng berisi 15 Gram.
Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.
Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu kalau itu jenis makanan “ampas” junkfood sebab yang tertinggal hanya gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin. Itu yang disebut “menu kosong”.
Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal jauh lebih segar.
Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari. Sekali lagi, kesehatan kita ada di dapur, bukan di restoran.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Kesehatan ada di dapur bukan di restoran

Tayang: Sabtu, 14 Juli 2007 · Kometar:Belum Ada 
Lemak dan kolesterol dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Kalau lemak takjenuh justru menyehatkan, lemak jenuh malah membahayakan kalau kita rakus mengkonsumsinya.
Rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh enaknya menu berlemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat (P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya 25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.
Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi harus di atas 3.0.
Akibat cenderung kelebihan porsi menu berlemak, tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu tubuh kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah menjadi tenaga.
Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga. Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.
TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi. Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan hampir di semua bagian tubuh mana saja.
Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula. Jangan lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu berlemak belaka, melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak tubuh tambah menumpuk juga.
Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.
Seperti kolesterol, lemak bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K, beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.
Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit bisa muncul jika menu harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Kolesterol sendiri dibutuhkan buat pembuat hormon.
Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya. Sedang minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, secukupnya saja.
Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low Density Lipoprotein).
Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak nabati murni yang berisi lemak belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.
Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan, atau dipakai berulang. Maka tak sehat mengkonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan jajanan gorengan, yang tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah berapa kali dipakai ulang.
Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 kalori sehari. Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja.
Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.
Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu kalau itu jenis makanan ‘ampas’ junkfood sebab yang kebanyakan tertinggal berupa gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin.
Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal jauh lebih segar. Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Iklan Obat Kita

Tayang: Minggu, 9 Desember 2007 · Kometar:Belum Ada 
RAMAI dibicarakan orang minuman berserat, minuman penyegar, dan sejenisnya (smart drink) yang di Barat disangsikan orang. Orang bertanya apa ada faedahnya? Kalau ada, apa perlu diminum? Kalau memang perlu, apa tidak ada efek sampingnya?
Pasien kita umumnya kelewat gampang termakan iklan obat. Jika iklan obat semakin genit, konsumen pasti merugi. Iklan obat keputihan di televisi, misalnya. Pasien mungkin mengira jenis keputihan cuma satu, dan obatnya hanya itu. Bujukan iklan barang tentu tak menyembuhkan jika keputihannya disebabkan infeksi. Keputihan juga bisa gejala kanker kandungan. Jika kanker terus mengandalkan obat iklan, kanker tak sembuh. Itu berarti kanker tertunda tidak diterapi. Terlambat kanker diterapi, buruk buntutnya.
Demikian pula bunyi iklan obat batuk, atau obat mencret. Di mata medis terkesan iklan menyederhanakan penyakit. Persepsi masyarakat tentang penyakit jadi rancu, seakan semua obat batuk, obat mencret, atau obat lainnya niscaya menyembuhkannya. Padahal tidak begitu di penglihatan medis. Penyebab penyakit bisa lebih dari satu. Lain penyebabnya, lain pula obatnya.
Harus diakui pranata kesehatan masyarakat kita rata-rata belum tinggi. Wawasan dan pengetahuan obat masyarakat belum memadai untuk berobat swamedikasi. Padahal di tengah krisis begini, agar berobat bisa efisien, ketika harga dan ongkos berobat masih tinggi, selama sakit belum berat, berswa-medikasi dianggap pilihan paling tepat.
Namun pilihan berswamedikasi membahayakan khalayak jika iklan obat masih mengecoh. Masih banyak konsumen terpedaya iklan panas dalam, susu kuda liar, jamu sarirapet, benalu kanker, serat antisembelit, dan entah apa lagi yang tak jelas indikasi dan sukar masuk nalar medis. Pasien kita pun gampang sembarang memakai sendiri obat resep dokter, karena obat dokter bisa dibeli bebas di pasar gelap.
Sejatinya tidak semua yang mengaku obat, masuk nalar medis. Dunia medis sendiri sedang ditantang mengorek begitu banyak ragam pengobatan dan penyembuhan nonmedis yang membingungkan pasien. Memang tidak semuanya nonsens. Ada yang perlu diperhitungkan.
Harus diakui pula pengetahuan dokter tentang phytopharmaca, tumbuhan berkhasiat, dan jamu, tidak seluruhnya dikuasai. Alih-alih memberi advis profesional, mengenal produk saja pun dokter mungkin belum tahu. Padahal kini banyak jamu nakal sebab diisi obat dokter, selain ramuan yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit. Dalam nalar medis, tak ada obat penyembuh seribu satu macam penyakit seperti kata iklan.
Di mata medis pun tidak semua obat tradisional aman dikonsumsi. Belum lagi menghadapi banjirnya pengobat dan penyembuh tradisional berkedok terapi alternatif. Tidak semua yang mengaku terapi alternatif bisa diterima nalar medis. Namun harus diakui ada terapi dan penyembuhan alternatif yang masuk akal medis, sambil harus dicegah jika masih ada masyarakat terkecoh oleh iklan penyembuhan herpes, AIDS, atau hepatitis, yang di dunia medis belum ada obatnya. Logikanya, andai obat atau penyembuh nonmedis seperti itu terbukti benar, sudah dari dulu-dulu untuk temuan itu berhak mendapatkan Nobel. Nyatanya tidak.
SELAMA pranata dan wawasan kesehatan konsumen belum tinggi, berbahaya jika iklan obat, terapi alternatif, dan obat tradisional yang mengecoh tidak ditindak. Di keseharian masih ada pasien pergi ke orang pintar. Kasus tumor yang minta diangkat orang pintar, lalu pasien kecele sebab yang dikeluarkan cuma gajih kambing, misalnya, bukan kejadian satu-dua kali.
Selama nalar medis masyarakat belum tajam, pengobatan nonmedis mudah melipat-lipat akal sehat. Bahwa ada terapi alternatif yang masuk akal medis, sudah bagian dari penerimaan medis. Praktek accupuncture, homeopathy, macrobiotics, dan banyak lagi, kini berdampingan memperkaya praktik medis. Namun itu tak menjadi berarti setiap pengobatan maupun penyembuhan nonmedis laik diterima. Dan oleh karena nalar medis masyarakat masih lemah, banyak iklan obat memanfaatkan kelemahan semacam itu buat mengecoh.
Di Amerika yang masyarakatnya sudah lebih “melek sehat” pun Badan Pengawasan Obat Amerika FDA cukup dipusingkan iklan obat. Dalam setahun FDA harus mengirimi tak kurang 100 surat kepada perusahaan farmasi nakal. Mereka diimbau tidak memasang iklan obat yang menyesatkan di TV, majalah, atau koran. Jenis iklan yang membangun persepsi seolah obat bisa untuk segala penyakit (Dr.Bradford Ponzt). Rata-rata iklan obat menjanjikan klim efektivitas obat secara berlebihan, dan tidak balans menyebut efek samping.
Buat masyarakat kita yang masih belum semua “melek sehat”, pembuat iklan obat yang condong “mengambang” perlu diajak berunding. Media massa yang memuat iklan obat, pengobat nonmedis, dan penyembuh yang serong, juga perlu diajak mempertajam nalar medis agar masyarakat tak sesat berobat dan memilih obat dalam berswamedikasi.
Iklan obat tetes mata yang menjanjikan rabun jauh tak perlu pakai kacamata, sukar diterima nalar medis. Iklan obat kuat oles dari Cina, teknik memperbesar kemaluan, jamu sehat lelaki, samimawon. Tak jelas unsur berkhasiat tangkur buaya, pasak bumi, dan sejenisnya buat indikasi seks. Selain terkecoh boleh jadi juga membahayakan.
Jika iklan obat kulit berisi bahan berbahaya mercury dibiarkan, konsumen berisiko kena kanker kulit. Selain bahan berbahaya, mungkin akibat salah cara pakai sebab tak semua konsumen bisa baca aturan pakai dalam bahasa asing, sehingga bisa buruk efek sampingnya.
Begitu juga dengan obat kurus suntikan amphetamine di salon-salon yang berpotensi bikin sakit jantung, jadi murus-murus terus, atau menimbulkan kecanduan. Iklan obat gemuk tapi bikin tembam dan jerawatan, dan mens jadi kacau sebab isinya hormon berbahaya. Selain menyalahi kaidah medis, iklan-iklan nakal seperti itu berisiko merusak kesehatan konsumen.
ETIKA beriklan harus sama jujurnya dengan kerja profesi dokter. Jika iklan obat masih tak etis, semakin tumpul nalar medis masyarakat dibuatnya, dan masyarakat tersesat untuk menjadi sehat, selain tak hemat membelanjakan obat.
Ke depan kita masih akan menyaksikan masyarakat tersesat sewaktu berobat, oleh karena tentu jumlah obat bebas yang beredar semakin banyak dan beragam, sedang masyarakat belum dibikin pintar memilih obat, dan cara berobat yang benar. Itu berarti, ongkos berobat swamedikasi agar bisa mengirit, malah jadi pemborosan, dan hasilnya pun mungkin nihil.
Dalam berswamedikasi masyarakat perlu dimampukan kritis memilih berobat. Pemasang iklan obat, biro iklan, dan mereka yang menawarkan pengobatan dan penyembuhan nonmedis, perlu diajak bersepakat tidak menambah bodoh konsumen. Kontrol pemerintah terhadap semua iklan obat yang nakal tidak boleh lagi setengah hati.
Diperlukan sebuah komitmen ulang. Bahwa pekerjaan servis, melakukan reparasi, perawatan, pengobatan, dan penyembuhan terhadap tubuh manusia sepatutnya tetap diluhurkan. Tak elok membujuk orang sakit yang masih saja cenderung disikapi seperti sedang menawarkan parfum, menu akhir pekan, mirip layanan montir radio, atau kesibukan layaknya di sebuah bengkel mobil.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:
 

Perlunya “Paspor Medik”

Tayang: Rabu, 16 Januari 2008 · Kometar:Belum Ada 
BUKAN sedikit kasus fatal yang tak perlu terjadi bila dokter mengenali betul sosok medis setiap pasiennya. Tak cukup dokter teliti bertanya kepada pasien semata. Upaya untuk mencegah beragam kejadian medis yang tak diinginkan, perlu tahu pula seluruh riwayat medis pasien. Bahkan sejak pasien lahir.
Untuk maksud itu di kamar praktik sudah barang tentu tak cukup waktu mengorek semua data medis pasien. Maka kehadiran “paspor medik” yang mencatat seluruh data medis pasien sejak lahir, sungguh diperlukan. Terlebih untuk pasien kita yang rekam mediknya biasanya tercecer di mana-mana, sering tak lengkap, alih-alih utuh. Pasien sendiri berpindah-pindah dokter. Tak jelas pernah sakit apa, mengidap penyakit atau kelemahan apa, punyakah alergi?
“Paspor medik” bukan saja mencatat riwayat penyakit yang pernah pasien derita, melainkan pula semua data ihwal obat yang pernah diberikan,tindakan medis yang pernah dilakukan, serta catatan alergi, bakat penyakit turunan, atau kelainan medis lain yang perlu diwaspadai.
Ambil contoh kasus Stevens-Johnson Syndrome (SJS) yang sampai berakhir dengan kematian. Orang bertanya apa SJS juga kasus malpraktik? Kalau bukan, mengapa pasien yang merugi?
SJS tergolong kelainan kulit dan selaput lendir paling buruk dalam bentuk lepuh, dan merah meradang pada sekujur tubuh (erythema multiforme). Jika salah menangani, sering-sering berujung fatal.
Harus diakui, kebanyakan kasus SJS tak jelas penyebabnya. Obat dan terapi sinar diduga faktor pembangkit (induce) pada orang dewasa. Selain obat penenang barbiturate, antibiotika penisilin dan sulfonamide penyebab yang sering dituding.
Pada anak, SJS bisa terbangkitkan selama sedang terinfeksi. Sering-sering selagi terserang virus herpes simplex, dimasuki virus coxsackie, echovirus, selain pada ketika diserbu kuman mycoplasma pneumoniae, psittacosis, atau bisa juga saat dihinggapi jamur histoplasma, serangan SJS kerap menimbrung. Pada sebagian kasus, SJS juga muncul pascavaksinasi (cacar, BCG, polio).
Belum jelas mekanismenya sehingga obat dan infeksi sampai membangkitkan reaksi kulit hebat. Diduga ini bentuk reaksi hipersensitivitas. Tak ubahnya reaksi alergi obat yang muncul hanya berupa kaligata (biduran), atau syok (anaphylactic shock) bila berat, SJS bentuk reaksi alergi tergolong paling parah.
SAYANGNYA kemunculan alergi obat umumnya tak selalu bisa diprediksi. Yang bisa dilakukan dokter hanya menaruh sikap waspada memilihkan obat bagi pasien yang menyimpan bakat alergi. Untuk itu dokter tak boleh luput menanyakan ihwal bakat alergi obat. Namun tahu saja kalau pasien yang akan diberi obat berbakat alergi sering tak cukup. Mengapa? Karena spektrum obat berpotensi membangkitkan alergi bisa saja bukan dari jenis obat yang lazim. Bahkan tercatat, suntikan vitamin saja pun bisa alergi.
Apalagi andai dokter tidak menganggap perlu menanyakan bakat alergi pasien yang akan diberinya resep, dan pasien sendiri tidak tahu kalau bakat alerginya perlu diinformasikan kepada dokter yang akan memberinya obat. Terkait urusan pemberian obat, setiap dokter sudah memikul risiko sebagai penyulut munculnya kasus alergi obat. Di mata awam, pihak dokter berada dalam posisi dipersalahkan karena pasien beranggapan dokternya harus sudah tahu. Termasuk dalam hal kasus SJS.
Namun dibanding dokter di negara maju, dokter kita galibnya lebih berisiko menghadapi kasus reaksi alergi obat yang berisiko berperkara. Mengapa? Karena rekam medik pasien yang dilazimkan di semua negara maju, di kita sering tak lengkap kalau bukan malah tidak ada. Lebih sering dokter tak mengenal utuh siapa sosok pasiennya. Padahal ada pasien yang sekaligus tak cocok lebih dari satu jenis obat. Yang ekstrem, pasien tak berani mencoba minum obat apa pun.
Persoalan alergi obat diperpelik oleh tradisi rata-rata pasien kita tak memiliki dokter keluarga sehingga dokter yang dikunjungi belum tentu mengenal betul pasiennya, termasuk bila memiliki bakat alergi. Selain itu tradisi bergonta-ganti dokter, tiap kali selalu bertemu dokter berwajah baru, menambah risiko menerima obat yang tak cocok.
Lain dari itu, komunikasi dokter-pasien cenderung diburu waktu, sehingga pasien tak sempat bertanya ihwal obat yang dokter berikan, ikut meninggikan risiko bangkitnya kasus tak cocok obat (drug hypersensitivity reaction). Habis minum obat bibir jadi jontor, atau langsung pening dan gatal-gatal,misalnya.Masih untung kalau tak langsung semaput.
Alih-alih dilakukan tes terlebih dulu pada pasien yang dicurigai alergi sebelum obat yang dicurigai berpotensi membangkitkan reaksi alergi, sering-sering dokter tak cukup waktu menjelaskan ihwal perangai dan bagaimana kerja obat yang diresepkan. Padahal catatan MESO (monitoring efek samping obat) membeberkan fakta semakin berderet obat yang menyimpan bakat membangkitkan reaksi alergi.
ITU maka menjadi penting bagi setiap pasien memiliki “paspor medik”. Dalam “paspor medik” tercatat pula bakat alergi terhadap obat apa (saja). Dengan membaca “paspor medik”, untuk dokter yang pertama kali dikunjungi, pasien pun mengenal utuh sosok medis pasiennya, sehingga kasus dokter salah memilihkan obat, tak cocok obat, termasuk kasus SJS, tak lagi perlu terjadi.
“Paspor medik” yang selalu berada di kantong pasien berjasa juga sebagai label, misal, untuk pengidap diabetes andai suatu saat jatuh pingsan di tempat umum, sehingga pihak penolong tahu harus bagaimana. Manfaat lain bagi pengidap jantung, ayan, sedang mengonsumsi corticosteroid, pengidap penyakit menahun lainnya terkait dengan kemungkinan menghadapi krisis, atau kegawatdaruratan medik di tempat-tempat umum.
Melihat tabiat reaksi alergi obat, harus diakui kalau sejatinya tak semua kasus seperti itu bermuatan malapraktik. Kasus alergi obat akibat kondisi “bukan pasien dikenal”, atau SJS yang terbangkitkan ketika seseorang tengah terserang infeksi, arifnya bukan kepada pihak dokter delik aduannya layak dikirimkan.
Kasus alergi obat dikategorikan malpraktik bila dokter masih juga memberikan obat yang jelas-jelas ia tahu bakal membangkitkan reaksi alergi terhadap pasien yang ia tahu menyimpan bakat alergi. Majelis MKEK (atau Konsil Kesehatan) yang akan melacak dan menilai apakah betul seorang dokter telah berbuat alpa sehingga sampai-sampai membangkitkan kasus alergi obat apalagi bila sampai menghilangkan nyawa pasien yang secara perhitungan medik dan kapasitas profesinya seharusnya sudah bisa diprediksinya.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Serangan Jantung dan Stroke Dapatkah Dicegah?

Tayang: Selasa, 24 Juni 2008 · Kometar:Belum Ada 
Serangan jantung selain stroke, sekarang menimpa usia yang lebih muda, dan kalangan mana saja. Tidak selalu sebab faktor turunan, lebih karena kesalahan gaya hidup, kalau mereka yang tak berbakat jantung koroner atau stroke, masih terkena juga. Lebih lantaran ulah sendiri, jika penyakit yang sebetulnya dapat dicegah itu, menimpa kita juga. Bagaimana mudah mencegah penyakit yang tak selalu perlu terjadi itu?
JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi korban, orang serumah harus memikulnya bersama. Bagi keluarga, merawat pasien jantung dan stroke bukan urusan satu-dua tahun.
Bisa jadi pasien yang dirawat di rumah menjadi beban keluarga sepanjang sisa hidup. Dan itu bisa berarti ongkos dapur harus lebih dihemat, dan negara telanjur kehilangan sumber daya bangsa yang mungkin masih produktif.
Apalagi jika yang menjadi korban tulang punggung keluarga. Kendati pasien jantung dan stroke masih bisa aktif bekerja, namun tak sebagus kinerja selagi masih normal. Maka seberapa bisa malapetaka itu jangan sampai singgah ke rumah kita. Bagaimanakah cara mencegahnya agar tamu tak diundang itu tidak datang?

Menjinakkan faktor risiko

Boleh dibilang hampir semua serangan jantung dan stroke sesungguhnya dapat kita cegah. Bagi yang berisiko terkena, perlu berupaya mengurangi semua faktor risiko yang diwarisinya. Sedang bagi yang tidak berisiko, jangan membiarkan risiko itu masuk dan bersarang dalam kehidupan.
Meniadakan faktor risiko penyakit jantung dan koroner berarti perlu ada usaha agar tubuh tidak gemuk, tak darah tinggi, tiada kencing manis, lemak darah tidak dibiarkan terus meninggi, bertekad untuk berhenti merokok, dan tidak memilih pola hidup yang memancing stres. Itu semua bisa diupayakan dengan cara lebih arif dalam makan, rajin bergerak badan, selain rutin minum obat.
Jangan menyerah pada keadaan. Mungkin ada bakat darah tinggi dan kencing manis. Dan itu bukan akhir segalanya. Obat dan cara hidup dapat mengendalikannya sehingga tidak harus merusak badan nantinya. Membiarkan keduanya merajalela, itulah kesalahan.
Dengan menghapus faktor risiko terserang jantung dan stroke, mereka yang membawa risiko bisa memiliki harapan hidup sama panjang dengan mereka yang tidak mewarisi risiko. Sebaliknya justru mereka yang sebetulnya tidak mewarisi risiko kena jantung dan stroke bisa mengundang risiko itu datang jika tubuhnya dibiarkan gemuk.
Gemuk bisa berarti banyak. Lemak darahnya mungkin tinggi, bisa jadi ada kencing manis juga. Apalagi kalau tetap merokok, darah tinggi dan kencing manis yang diidap bukan karena warisan melainkan lantaran salah dalam pola dan gaya hidup, bisa menjadi petaka.
Tanpa diobati, membiarkan kedua penyakit menahun itu orang akan menanggung nasib yang sama buruknya dengan mereka yang mewarisi turunan berisiko. Fakta begini yang semakin banyak tumbuh dalam keluarga modern, yang kecukupan maupun yang serba kekurangan. Orang susah yang hanya mampu makan dengan ikan asin tiap hari mencetuskan darah tinggi juga yang mungkin bukan bakatnya. Konsumsi garam dapur berlebihan pencetus kebanyakan darah tinggi orang sekarang.

Kaya miskin sama saja

Orang bisa mati akibat kekayaannya, bisa juga lantaran hidup serba kekurangan. Yang hidup kecukupan, berkelimpahruahan yang ditumpahkan ke dalam menu dan keliru dalam memilih gaya dan pola hidup itulah yang membawanya masuk ke dalam risiko terkena jantung, dan atau stroke.
Petaka yang sama dialami pula oleh yang karena kepapaan hidupnya sehingga membawanya jatuh ke dalam risiko terserang jantung dan stroke juga. Faktor peradangan (inflamasi) oleh kuman tertentu (Chlamydia sp) pada pembuluh darah, kini kedapatan menjadi salah satu penyebab terbentuknya penyumbat pembuluh koroner jantung dan otak (atherosclerosis). Itu berarti kaum papa berisiko kena jantung dan stroke juga.
Begitu juga dengan peran vitamin-mineral tertentu terhadap keutuhan pembuluh darah tubuh yang bisa juga dirusak oleh racun radikal bebas dari menu harian, polusi udara, atau dari mana pun datangnya.
Itu maka dibanding tubuh orang yang hidup kecukupan, tubuh orang papa lebih rentan terkena peradangan selain kekurangan vitamin-mineral sehingga nasib pembuluh darahnya sama buruk dengan orang kecukupan dalam hal terserang jantung dan stroke.
Kita tahu warisan bertubuh gemuk, darah tinggi, dan kencing manis sebagai faktor risiko kena penyakit jantung dan stroke, tidak harus berasal dari silsilah kelompok orang berkecukupan. Orang yang hidupnya susah dan membiarkan gemuk akan sama memikul risiko terserang jantung koroner, atau stroke-nya juga. Belum dihitung faktor stres terhadap kemunculan jantung koroner dan stroke.
Akibat kepapaan, ketidakmampuan, dan ketidak-terdidikannya, mengonsumsi menu murah yang mengandung racun radikal bebas menjadi penyebab lain serangan jantung dan stroke di kalangan kaum papa.
Kita tahu dampak sosial penyakit jantung dan stroke bagi keluarga papa lebih tak terpikulkan. Selain kehilangan produktivitas, penyakitnya belum tentu tuntas terobati. Jika harus operasi bypass, atau dipasang cincin stent, yang ratusan juta rupiah, misalnya.

Kembali hidup pasrah alami

Maka pilihan hidup kembali ke alam, siapa pun kita, sikap bijak hidup di alam modern. Menu alami, guyub dalam keluarga, sikap menerima, mengendurkan stressor, dan merasa cukup sebagai orang biasa.
Kita melihat dari tokoh-tokoh nama besar. Di antara mereka juga kalangan atlet. Kelihatan secara fisik mereka bugar. Tapi kalau nyatanya terserang jantung koroner atau stroke juga, itu karena stressor yang mereka pikul melebihi kemampuan ketahanan jiwa.
Orang kecil, yang hidupnya dirundung kesusahan memikul stressor yang berbeda. Namun sesungguhnya, sikap pasrah, dan positif terhadap stressor, tahu bahwa Tuhan bekerja, dan memberi jalan kepada kita, sikap pasrah sempurna insani. Tidak berharap lebih, tahu porsi sendiri, sikap mawas diri, merasa cukup untuk apa yang sudah Tuhan beri-merupakan bentuk kepasrahan total yang menyehatkan jiwa. Separo penyakit orang sekarang, faktor stres pencetusnya. Percuma badan sudah dibuat bugar, kalau jiwa getas dan rapuh. Percuma badan dan jiwa tegar, dirundung stressor tak berkesudahan jiwa akan kalah juga. Pada saat jiwa gagal menyesuaikan diri dengan stressor itulah, orang jatuh stres. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satunya berupa serangan jantung, dan atau stroke.
Memilih makan sederhana, tidak berlebih, hidup santai, tidak mimpi muluk, nyaman dalam keluarga, bercengkerama dengan tetangga, merasa diri diterima orang lain, merasa memberi manfaat dan berkat bagi orang lain, dan hidup guyub, barangkali cara mudah dan murah membatalkan penyakit yang tidak sederhana dampaknya bagi anggaran keluarga, pekerjaan, dan beban keluarga di kemudian hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Awas Gagal Ginjal

Tayang: Senin, 3 November 2008 · Kometar:1 
Seorang CEO perusahaan nasional baru-baru ini dicangkok ginjal hanya sebab urusan sepele. Tidak pernah check up. Tahu-tahu fungsi ginjalnya sudah jelek. Celakanya, tidak merasa ada keluhan berarti selama ini. Bagaimana mungkin?
BUKAN cerita baru kalau kecolongan gagal ginjal lalu mau tak mau harus cangkok ginjal. Gara-gara soal kecil, ongkosnya jadi mahal. Maka informasi ihwal bagaimana menjadikan “sehat itu murah” (Sorry meminjam judul sebuah buku saya), sebetulnya betapa berharga.
Juga ihwal kasus seorang mantan pejabat yang saya temui tahun lalu. Ia menyesal baru mengenal saya setelah cangkok ginjal. Ia tidak tahu kalau minum obat Cina buat encok selama beberapa tahun telah merusak ginjalnya, tanpa ia insafi.
Betul keluhan encoknya mereda sejak minum obat tak jelas itu, namun telah mengorbankan ginjalnya yang mahal itu. “Kalau saja sebelumnya saya mengenal dokter, dan mendapat informasi bahwa minum jamu, obat tradisional, atau herbal sembarangan, bisa membahayakan ginjal, saya tidak jadi begini…,” ujar sang mantan yang memang benar banyak uangnya, tak soal harus cangkok ginjal.
Tapi uang itu tersedot juga buat ongkos ganti ginjal sekitar Rp 400 juta, dan tiap hari harus minum obat seharinya sekitar Rp 100 ribu terus menerus agar ginjalnya tidak ditolak tubuhnya.
Dua kasus di atas jadi pelajaran mahal, betapa mudah ginjal menjadi rusak, yang sesungguhnya tidak sukar mencegah hal itu terjadi. Percuma banyak uang kalau ginjal sudah cacat fungsinya. Kendati tertolong, lebih baik memiliki ginjal sehat.
Bagaimana caranya menjaga ginjal agar senantiasa sehat?

Cukup minum dll.

Benar. Cara sederhana tidak boleh kurang minum. Sang CEO di atas menjawab pertanyaan wartawan ketika diwawancara menyatakan bahwa sebetulnya dilarang banyak minum, seolah minum banyak disalahkan sebagai perusak ginjal.
Yang betul, bahwa setelah ginjal menjadi payah, lalu gagal, memang tidak lagi boleh banyak minum, dan minum amat dibatasi. Tujuannya agar tidak membeni ginjal yang sudah kepayahan (renal failure), selain membatasi asupan menu berprotein, dan mineral kalium (dari bebuahan).
Namun selama ginjal masih sehat, justru perlu banyak minum agar fungsi menyaringnya lancar. Ginjal menyaring sekitar 170 liter darah yang melaluinya dalam sehari, dan deras 1,2 liter/menit, untuk menghasilkan sekitar 1-2 liter urin/hari nonstop sepanjang hayat. Tugas ini dipikul oleh pembuluh darah rambut yang berupa gelungan (glomerulous) yang dalam sebuah ginjal berisi 1,2 juta buah. Maka untuk itu asupan minum tidak boleh kurang. Termasuk jika kehilangan cairan atau darah tubuh.
Agar fungsi penyaringan ginjal lancar dan normal, kondisi pembuluh darah kapiler ini harus normal, tanpa ada bendungan, sumbatan, atau kerusakan. Setiap kondisi yang menyebabkan terganggunya aliran dan derasnya darah memasuki ginjal, akan menurunkan fungsi ginjal.
Fungsi ginjal juga terganggu apabila aliran urin yang diproduksi terganggu. Sampah darah yang berisi racun, dan sisa metabolisme yang mestinya dibuang tidak boleh terbendung di dalam ginjal. Adanya batu kemih, entah di ginjal, di pipa saluran ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), maupun di kandung kemih sendiri, akan menahan pengeluaran urin yang diproduksi ginjal. Ginjal terendam urin, dan itu yang akan mengganggu fungsinya, selain merusaknya (hydronephrosis). Hal ini juga terjadi pada tumor ginjal, kista ginjal, ginjal, atau pada pembesaran prostat.
Fungsi ginjal menurun juga bila telah terjadi komplikasi akibat hipertensi dibiarkan untuk waktu lama, selain sebab kencing manis, asam urat tinggi, sehingga struktur ginjal terganggu. Ginjal jadi bocor mengeluarkan yang mestinya dibuang, atau menahan yang mestinya diperlukan tubuh. Maka tubuh keracunan sisa sampah metabolisme, khususnya ureum (uremia), selain kehilangan zat dan mineral lain. Mulut jadi berbau pesing. Ini jadi salah satu petunjuk fungsi ginjal menurun.
Maka salah satu cara sederhana mengetahui fungsi ginjal cukup dengan memeriksa laboratorium darah kadar ureum yang tak boleh lebih dari 40 mg/dl, selain kadar creatinine yang kurang dari 1,0. Atas dasar nilai abnormal inilah indikasi perlu cangkok ginjal ditetapkan.

Waspadai infeksi kemih

Selain tak boleh kurang minum, sebaiknya tidak menahan kencing. Terutama bagi mereka yang ada riwayat infeksi saluran kemih. Jangan anggap enteng infeksi kemih. Perempuan lebih rentan (sebab saluran kemih bawahnya lebih pendek daripada pria). Anyang-anyangan sehabis hubungan seksual, selesai mens, atau menjalani puasa minum, harus dicurigai sebagai awal infeksi saluran kemih bawah.
Infeksi saluran kemih bawah (urethritis) yang tidak tuntas diobati akan sering kambuh, dan lama-lama menjalar ke ginjal juga. Ginjal yang sudah terinfeksi, akan rentan untuk rusak, selain memicu terbentuknya batu.
Adanya batu kemih dan infeksi saluran kemih merupakan lingkaran setan perusak ginjal. Ada infeksi mencetuskan pembentukan batu, dan sebaliknya adanya batu mencetuskan kumatnya infeksi kemih. Maka rantai itu harus diputus dengan cara menyembuhkan tuntas infeksinya, dan meniadakan pembentukan batu kemihnya.
Batu kemih terbentuk karena dua hal. Pertama faktor bakat (turunan). Pada orang yang mewarisi bakat, mudah terbentuk batu kemih. Dasar pembentuk batu berasal dari kalsium (zat kapur), yang bercampur dengan kolesterol, atau asam urat, fosfat, oxalat, maka terbentuk batu yang berjenis-jenis itu. Dengan cara “analisis batu” kemih dapat diketahui jenis batunya apa.
Mereka yang berbakat batu kemih berisiko terganggu fungsi ginjalnya. Maka punya batu kemih jangan dipelihara, karena tidak bakal jadi jimat. Segera dibuang. Saatnya ketika masih halus berupa kristal.
Mereka yang berbakat asam urat tinggi, atau calcium tinggi, dan punya gangguan metabolisme mineral, seperti pada penyakit anak gondok (parathyroid), kelenjar anak ginjal suprarenalis, serta pada gangguan ginjal sendiri, maka keseimbangan mineral darah terganggu yang berujung pembentukan batu kemih juga.
Kurang minum dan sering puasa minum acap membangkitkan serangan batu kemih yang sudah ada sebelumnya. Pembentukan batu kemih tidak diinsafi pasien jika tidak dilakukan foto perut, dan atau laboratorium darah dan urin. Lebih banyak kasus batu yang ditemukan kebetulan, atau sudah telanjur menimbulkan serangan kolik (mulas mendadak), atau batu kemihnya keluar bersama urin sewaktu kencing, dan kencingnya merah karena bercampur darah.
Riwayat batu kemih harus menjadi peringatan kalau memiliki bakat batu kemih. Waspada, karena pembentukan batu, sekalipun sudah keluar, bisa berulang setelah beberapa tahun. Untuk itu perlu upaya mencegahnya, dengan cara meniadakan faktor risiko pembentukan batunya.
Kalau ada asam urat, kadar dalam darah harus di bawah nilai normal (7,0). Kalau batu kolesterol, tentu kadar koleserol darah harus di bawah 200 mg/dl terus. Perlu diingat, jika tidak ada riwayat darah tinggi mendadak hipertensi, harus dipikirkan kemungkinan batu kemih. Kerusakan ginjal dapat menimbulkan hipertensi juga, selain hipertensi yang dipelihara sendiri akan merusak ginjal juga, sebagaimana komplikasi diabetes.

Penyakit ginjal lain

Gejala gangguan ginjal muncul sebagai pembengkak pada kelopak mata, tungkai, dan kaki. Pola berkemih berubah lebih sering, dan kemudian jadi berkurang kencingnya. Sifat urin juga berbuah keruh, atau berwarna merah, selain nyeri selama berkemih, dan ada riwayat keluar batu sewaktu berkemih.
Selain itu, kemungkinan ada sakit pinggang. Bedanya dengan sakit pinggang umumnya, sakit pinggang ginjal tetap nyeri kendati tidak menggerakkan pinggang. Sakit pinggang disertai demam, mual, nyeri kepala, tanda infeksi ginjal.
Penyakit ginjal bukan cuma infeksi dan batu saja, melainkan banyak lagi jenis lain di luar itu. Ada kerentanan ginjal sebab proses otoimun. Ada zat dalam darah yang merusak ginjal milik sendiri, sehingga terjadi kelainan ginjal (glomerulonephritis, GNA). Menyerupai infeksi namun bukan infeksi. Terjadi infeksi di luar ginjal (tenggorokan) namun yang dirusak ginjalnya.
Hal lain terjadi juga penyakit nephrotic syndrome, semacam kebocoran ginjal, sehingga yang mestinya disaring jadi bocor ke dalam urin, disertai dengan kumpulan gejala lain, seperti protein banyak keluar bersama urin sehingga tubuh kehilangan banyak protein, dan kadar kolesterol darah meninggi. Sama seperti GNA di atas, lama-lama bikin ginjal jadi rusak dan payah juga jika tidak disembuhkan.
Tumor ginjal bisa menyerang bayi dan anak, selain kanker ginjal pada orang dewasa juga. Kerusakan oleh desakan tumor yang mengganggu fungsi ginjalnya, sehingga bisa berakhir dengan gagal ginjal sebagai gejala terminalnya. Ginjal juga rusak sebab trauma benturan, tumbukan (petinju).
Setiap aliran darah ke dalam ginjal yang menurun mendadak, termasuk pada serangan perdarahan (kecelakaan, persalinan, operasi), akan mengancam ginjal juga. Termasuk sehabis serangan diare hebat. Maka yang sederhana dan sepele begini jangan diabaikan karena ongkosnya menjadi luar biasa mahal.
Tidak semua cangkok ginjal berhasil mulus. Selain sulit mendapatkan donor yang cocok, ongkos, dan pemeliharaan lanjutan ginjal baru juga tidak murah. Karena ginjal yang sudah menurun fungsinya juga berarti menurun pula dayatahan tubuh, maka harus terbebas dari ancaman infeksi dari luar.
Ginjal yang sudah lemah bikin kurang kadar Hb (haemoglobin), sehingga jadi pucat (anemia). Ginjal juga mengaktifkan fungsi vitamin D, maka terancam kekurangan vitamin D dengan segala akibatnya jika ginjal mengalami kerusakan. Semua tanda dan gejala seperti sudah disebut di atas hendaknya menjadi petunjuk sederhana, ada yang sedang mengganggu ginjal kita, Tuhan memberi kita cuma dua itu. Sayangi dan rawatlah baik-baik sejak kecil. Salam.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Sehatnya Perempuan Sebagai Kekasih, Istri, dan Ibu

Tayang: Minggu, 16 Agustus 2009 · Kometar:Belum Ada 
TUBUH bagi wanita itu aset. Maka perlu dipelihara. Tak perlu harus memiliki yang sempurna. Namun tak cukup puas hanya memiliki tubuh semata. Yang dikaruniai bertubuh sempurna bukan tak perlu merawatnya. Sebaliknya tak perlu cemas kalau bertubuh kurang sempurna. Banyak cara untuk menyiasati.
Iptek medik kian berkembang bagaimana kekurangan fisik bisa dipoles, ditembel, disumpal, direparasi sehingga mendekati sosok yang lebih bagus. Namun jauh lebih penting dari itu. Bukan cuma dari sosok tubuhnya seorang wanita dinilai. Di balik fisik tersimpan sex appeal sebagai dayapikat pribadi. Yang melihat sex appeal akan menemukan kelebihan perempuan sekalipun tidak cantik. Kecantikan tersembunyi ini yang perlu dibuat mekar.
Beruntung jadi perempuan, kata kaum lelaki. Secara biologis wanita rata-rata berumur lima tahun lebih panjang dari pria. Ada perbedaan konstruksi susunan saraf, selain beban stres, ancaman dan risiko lebih kendur dibanding yang lazim kaum pria hadapi. Itu alasan kalau mau sehidup semati dalam perkawinan, pilihlah suami yang lima tahun lebih muda supaya tahun kematiannya kurang lebih bisa bareng.
Benar, tubuh saja bukan segalanya, karena wanita juga perlu isi kepala. Cantik di luar saja tak cukup. Isi kepala dan kepribadian ikut menentukan kalau bukan malah yang lebih terasa menonjol, siapa sesungguhnya seorang wanita. Nobody atau somebody? Oleh adanya muatan itu pula ia menjadi somebody. Terlebih bekal menjadi ratu di rumah tangga. Ternyata menjadi istri elegant bukanlah dilahirkan, melainkan bisa dan harus dipelajari.
Bukan saja tubuh, otak wanita tak serupa dengan otak lelaki. Selain struktur, juga cara kerjanya pun tak sepenuhnya sama. Ada kekurangannya, selain otak wanita memiliki pula kelebihan. Setiap suami perlu memahami perbedaan itu supaya istri tampil utuh melakukan peran gendernya sebagai istri, ibu, dan kekasih. Misal, bahwa dari sananya wanita itu lebih doyan bicara (Baca: bergosip) dibanding lelaki bukan tanpa sebab. Memang ada yang berbeda pada unsur di otaknya. Bayi perempuan lebih lekas bicara dibanding bayi lelaki. Perempuan cenderung lebih cerewet dibanding laki-laki. Pekerjaan yang lebih menggunakan kemahiran berbicara diberikan kepada kaum ibu saja ketimbang kepada seorang kakek.
Suka bersolek juga bagian lain dari tabiat wanita. Sedang kelemahan lelaki terus terang masih pada matanya (visual). Pemahaman wanita ihwal ini perlu dicermati betul agar ia senantiasa berupaya untuk tampil elok setiap saat. Bukan saja di luar rumah. Karena tak sedikit istri tanpa ia sendiri menginsafi sejatinya berdandan untuk suami orang lain. Hanya wangi, mempesona kalau ke luar rumah. Sedang di rumah pakai gulungan rambut, muka penuh masker, dan daster bau dapur. Total jenderal suami cuma kebagian bau dan jeleknya doang.
Bukan sedikit suami di rumah sering kali susah membedakan mana yang Inem, dan mana yang nyonya rumah. Lelaki yang kodratnya terfokus pada hal-hal yang visual, boleh jadi terganggu seks dan libidonya kalau melihat istri di rumah ternyata tak seindah teman di kantornya, misalnya. Celaka kalau suami terus saja merasakan istri tidak lebih mengkilap dari wanita yang seliweran di luar rumah.
Menjadi ratu di rumah sendiri tak bisa hanya mengandalkan warisan tubuh yang elok belaka. Percuma punya tubuh sexy, dan wajah cantik bila ternyata statusnya tidak sehat. Maka kesehatan harus menjadi nomor satu. Bukan saja sehat fisik, melainkan juga jiwa. Lebih dari itu, sehat pula secara sosial, dan spiritual. Kita menyebutnya total fitness.
Bukan harus menjadi rahasia lagi kalau mahkota wanita itu ada empat. Kulit, rambut, gigi, selain bagian-bagian tubuh yang sensual. Satu di antara yang sensual itu tentu payudara, selain body model gitar Spanyol. Maka selain kesehatan secara umum, keempat unsur mahkota itu perlu senantiasa mendapat perhatian penuh.
Namun tentu sekali lagi perlu disebut bahwa keindahan dari dalam, yakni sex appeal umumnya bisa menutupi kekurangan pada kulit, rambut, dan bagian sensual tubuh lainnya. Sosok wanita di mata lelaki (normal) juga dilihat sebagai suatu keseluruhan (holistic). Seperti apa getar sex appeal-nya. Termasuk tidak boleh kurang darah (anemia), dan mulut wajib dirawat jangan sampai baunya tak beda dengan kakus.
Untuk menjadi sehat empat faktor perlu diperhatikan. Menu harian, gerak badan, tidur dan jeda selain pintar mengelola stres. Kalau yang basic itu dikuasai, setidaknya kesehatan secara umum sudah di tangan.
Cekatan menjaga kesehatan mata, hidung, telinga, selain keempat mahkota milik setiap wanita jangan sampai diabaikan. Untuk itu kenapa tidak memilih ikut menjadi Inem di rumah sendiri, misalnya? Inem sering lebih merah pipinya, dan sexy body-nya karena Inem tak berhenti bergerak. Kalau bisa melakukan pekerjaan di rumah sendiri, kenapa harus minta bantuan Inem. Lakukan juga menyiram tanaman, menyapu, bersih-bersih, dan pekerjaan domestic ringan lainnya. Gerakan sewaktu melakukan pekerjaan di rumah tergolong kegiatan yang mengerahkan sekujur otot-otot sehingga tidak kaku, dan tekanan darah lebih deras mengalir. Derasnya aliran darah yang bikin muka lebih merah berbinar, tanpa perlu ditempeli kulit tomat sekalipun.
Secara khusus, kesehatan juga bisa berarti ada ancaman penyakit. Ada sekelompok penyakit yang lazim pada wanita. Terlebih pada wanita merdeka (Baca: wanita karir) yang sekarang makin berisiko menghadapi “open marriage”. Wanita yang karena aktivitas kesehariannya sering bertemu juga dengan lelaki dan suami orang lain. Kasus keputihan, tumor, kanker, dan infeksi saluran kemih, penyakit yang perlu diwaspadai. Bisa jadi akibat seks bebas. Termasuk kemandulan akibat penyakit menular seksual. Tersumbatnya saluran telur sering sebagai akibat kuman menular seksual hasil seks bebas.
Sedikit banyak kehadiran penyakit memengaruhi penampilan juga. Istri tak tampil utuh penuh bila ada yang dirasa, bila ada sesuatu yang merongrong tubuhnya. Bukan tak mungkin wanita sebagai ratu rumah tangga sekalipun berisiko terancam penyakit kelamin, termasuk herpes bibir, herpes kelamin, atau sekadar anyang-anyangan.
Seks. Ya percuma sensual, kalau bodoh dalam hal seks. Agaknya harus batal sebagai ratu rumah tangga kalau seks istri tidak naik kelas. Dan lumrahnya setiap istri belajar seks selama perkawinan (learning by doing sex).
Kalau umpama istri juga bertemu dengan suami yang seksnya masih sering kagok, tentu akan sama menjadi sengsaranya nasib perkawinan ke depan. Atau gagal tampil bukan sebagaimana anggunnya seorang ratu rumah tangga di kamar tidurnya sendiri lagi namanya. Musuh perempuan badan yang gampang melar. Badan terus melar, satu yang tak terelakkan oleh rata-rata kaum wanita. Makan sedikit, tetap saja montok. Maka perlu pandai-pandai memilih menu berkualitas agar tidak memicu badan berubah menjadi tambur. Ingat, kelemahan sekaligus kejelian suami terhadap istri masih tetap ada di matanya, kendati ia sudah menjadi kakek. Itu sebab istri perlu tetap menjaga agar tetap indah di mata suami. Tak soal pakai apa atau dibagaimanakan, asalkan tetap full press body.
Maka rawatlah terus penglihatan suami agar masih terpelihara melihat yang serba indah-indah itu pada sosok istri. Untuk itu mungkin perlu konsultasi berbusana yang cocok, perigel dalam soal seks yang indah, barangkali siapa tahu diperlukan pula reparasi vagina, atau demi mampu tampil utuh penuh ala John Robert Power, misalnya.
Itu semua perlu diingat dan dielingkan kembali semata karena dengan semakin tua suami, semakin bersantan ia. Sedang makin tua istri, seringnya makin berduri. Maka wahai semua istri yang mengaku masih melakukan peran jadi ratu rumah tangga, tetaplah berupaya tampil selucu kucing, dan bukan segalak landak. Kalau nggak percaya tanya saja pada Inul.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:

Snackaholic

Tayang: Senin, 26 Oktober 2009 · Kometar:Belum Ada 
DOMINASI penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itu sebab mengapa kejadian jantung koroner, stroke, bahkan kanker kini menimpa kelompok usia lebih muda.
Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih kecil. Cita rasa dirusak oleh jajanan dan menu restoran sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak bisa menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan ibu. Menu gorengan mengalahkan rebusan.
Celaka, melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan desa. Di mana-mana anak lebih memilih keripik ketimbang kacang rebus. Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan, dan mencari ubi, labu, bulgur, padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk. Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya, dan kerupuk memakai penyedap dan zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.

Gizi “generasi televisi”

Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai “generasi televisi”. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih-alih bergizi. Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap, pemanis buatannya (sweetener). Karena tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Menu serba manis, asin, dan berlemak sumber penyakit hari depan. Sihir iklan televisi merongrong pilihan sehat selera makan anak.
Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah. Namun FDA, badan POM di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan kesehatan. Di kita begitu menjamur industri makanan rumahan sehingga tak terjangkau oleh kendali Badan POM kita. Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang memakai bahan berbahaya plastik bikin garing gorengan, menyampurkan kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.
Minyak trans sudah beberapa negara melarang dikonsumsi. Hampir semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak yang tak menyehatkan. Sama tak menyehatkan minyak goreng bekas restoran yang ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan. Yang kaya maupun rakyat papa di kita kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak mengisafi bertahun-tahun menelan carcinogen pencetus kanker dalam menu harian.
Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di Ibukota negara pun masih banyak beredar. Apalagi di kampung dan desa. Tiap hari menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti bibit kanker tengah ditanamkan. Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk anti belatung yang disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak semua terbebas dari zat carcinogen
Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu tercemar carcinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi orangtua yang menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.
Dibanding makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih aman, namun kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan mentega (junk food). Sedang yang buatan rumahan selain belum tentu cukup bergizi, tak higienis, mungkin tidak aman dikonsumsi melihat zat additif yang dipilihnya.

Kembali ke meja makan nenek

Saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu meja makan nenek. Selain lebih murah juga menyehatkan. Menu tradisonal bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan itu bukan bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat atau ayam goreng melainkan pisang rebus, atau tahu dan tempe bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada gandum dan air tebu.
Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan kalori, dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan. Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini.
Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditi itu yang sedang gandrung orang cari sekarang. Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.
Ketika banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan enzim, orang mengejar sayuran dan bebuahan segar saja. Orang mulai meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah secara berlebihan, dan dengan cara serta alat masak yang berbahaya kandungan bahan logam, dan tingkat perapiannya.
Belum terlambat kampanye menu sehat di sekolah, dan mengajak peran media massa, televisi khususnya. Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.
Demi tujuan menginvestasi generasi sehat, lidah anak perlu disetel ulang. Jangan sampai lagi membangun “generasi kerupuk” dan kelompok usia produktif sampai mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu, dan jajanan.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber: