Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Sabtu, 12 Maret 2011

Jalan Sempit, Pintu Sesak

Bacaan Alkitab: Matius 7:13-14
Karena sesaklah pintu dan sempitlah jalan yang menuju kepada kehidupan, dan sedikit orang yang mendapatinya.
Matius 7:14

Dalam kehidupan masyarakat, apa yang dipilih dan diikuti oleh banyak orang, bia-sanya kita anggap itulah yang benar, baik ataupun menyenangkan. Rumah makan yang selalu dipadati oleh banyak pengun­jung, misalnya, membuat kita beranggapan bahwa makanan yang disajikan pasti enak. Dengan anggapan yang seperti itu kita men-jadi rela untuk mengantri atau makan ber-desak-desakan dengan orang lain. Demikian juga dalam memilih pimpinan. Siapa yang mendapatkan suara paling banyak, dialah
yang kita anggap paling tepat untuk menjadi pemimpin kita.
Namun Yesus mengingatkan, bahwa pintu dan jalan menuju ke ke­benaran dan keselamatan Tuhan itu merupakan “pintu yng sesak” dan “jalan yang sempit”, bukan yang lebar dan luas. Dengan kata-kata kiasan tersebut Yesus hendak menegaskan bahwa jalan yang harus dilewati untuk sampai ke kebenaran dan keselamatan sejati itu sulit dan tidak mudah. Oleh kenyataan itu, maka meski menuju ke keselamatan dan kehidupan, hanya sedikit orang saja yang mau memilih pintu dan jalan yang seperti itu. Sebaliknya, meski sebenarnya menuju ke kebinasaan, banyak orang yang tertarik dan cenderung memilih pintu yang lebar dan jalan yang luas itu, karena lebih mudah dan nyaman dilalui. Dalam hal ini, nasi­hat dan amanat Yesus jelas dan tegas, “Masuklah melalui pintu yang sesak itu!” Kekhawatiran dan ketakutan akan munculnya kesulitan dan kesengsaraan, jangan menjadi penghalang dan penghambat, karena yang memerintahkan itu juga menjanjikan, “Aku menyertai kamu senantiasa” (Matius 28:20). —Pdt. Em. Sutarno.

doa: Tuhan, engkau mengetahui kelemahan dan kebimbangan kami
dalam memilih pintu dan jalan-mu. Kuatkanlah kami oleh roh Kudus-
Mu, agar kami mau dan berani menaati perintah-Mu. Amin.

Jumat, 11 Maret 2011

Allah Sang Maharahim


Bacaan Alkitab: Yohanes 3:16-21
Sebab Allah mengutus Anak-Nya ke dalam dunia bukan untuk menghakimi dunia, melainkan untuk menyelamatkannya oleh Dia.
Yohanes 3:17

Seorang ibu duduk di kursi roda, ditemani putrinya yang sudah beranjak dewasa. Mata ibu ini mulai rabun, pendengarannya juga sudah berkurang. Ketika melihat burung-burung berterbangan dia bertanya, “Itu burung apa?” “Itu bangau, Ibu,” jawab pu­trinya. “O, bangau ya, kalau yang itu, yang putih-putih, apa itu?” tanya si ibu lagi. De-ngan sedikit kesal sang putri menjawab, “Itu juga bangau!” “Oh, bangau juga ya.” Kata si ibu, lalu lanjutnya “Nah, kalau itu burung apa ya?” “Bangau-bangau, Bu!” jawab sang
putri dengan nada meninggi. Ibu tua tadi tersenyum, memorinya kem­bali ke-35 tahun yang lalu ketika putrinya masih kanak-kanak. Lalu ia bicara pelan, “Aku jadi ingat, dahulu ketika aku memangkumu aku menjawab pertanyaan yang sama darimu 10 kali, 20 kali dan berkali-kali. Sekarang, kalau tidak salah aku baru bertanya tiga kali, tapi kamu sudah membentakku dua kali.” Mendengar perkataan ibunya sang putri terdiam, lalu mendekap ibunya erat-erat sambil menitikkan air mata ia berkata, “Maafkan aku Ibu.”
Bagai seorang ibu yang lebih memilih berdiam diri mengasuh anaknya, Allah dengan sabar mendengarkan berbagai protes kita. Allah dengan sabar memberi jawab atas pertanyaan-pertanyaan kita yang sama dan menjengkelkan: “Belum sekarang anak-Ku, belum tiba waktunya, sabar ya.” Itulah kerahiman Allah, maka biarlah dalam masa Pra Paskah ini, kita yang sudah ditebus dengan darah Kristus belajar sifat-sifat kerahiman Ilahi. Tidak cepat marah, belajar sabar, dan belajar menjadi tempat perteduhan ketimbang penghakiman. —Pdt. Guntur Wibisono.

Bertumbuh adalah ciri makhluk hidup, berkembang adalah ciri manusia, dan manusia bisa berkembang ketika mau belajar kehidupan.
—Anton Hang

Kamis, 10 Maret 2011

Rabu Abu

Baca: Yunus 3:4-10
Karena itu sadarlah dan bertobatlah, supaya dosamu dihapuskan.
Kisah Para Rasul 3:19


Hari ini, menurut tahun gerejawi, adalah Rabu Abu, hari dimulainya masa Pra-Paskah (Lent). Ibadah hari Rabu Abu ditandai de-ngan mengoleskan abu pada dahi umat.
Sudah sejak berabad-abad sebelum ke-lahiran Kristus, abu telah menjadi tanda pertobatan. Ketika raja Niniwe mendengar Tuhan akan membinasakan Ninewe, turun­lah ia dari singgasananya, ditanggalkannya jubahnya, diselubungkannya kain kabung, lalu duduklah ia di abu (ayat 6). Ia juga me-merintahkan rakyat, bahkan ternak, untuk berpuasa dan bertobat, berbalik dari tingkah lakunya yang jahat (ayat 7-8). Abu melambangkan awal perubahan dan pertobatan. Abu juga mengingatkan kita akan kefanaan dan keterbatasan kita, sebab engkau debu dan engkau akan kembali menjadi debu (Kejadian 3:19). Jadi, tanda abu pada dahi mendorong umat untuk bertobat sebab satu-satu-nya keselamatan ialah dari Tuhan, sekaligus mengingatkan umat akan ketidakabadiannya.
Hari ini kita diingatkan untuk menjalani masa Pra-Paskah, masa pertobatan dengan memeriksa batin kita, menyesali dosa-dosa kita, me­nyangkal diri, berpuasa, dan memberi sedekah. Masa ini juga merupakan masa mengenang pengorbanan Kristus, yang karena cinta-Nya kepada manusia, rela mati di kayu salib. Inilah masa untuk merenung ulang undangan hidup baru di dalam Yesus, masa untuk mempersiapkan diri menyambut Paskah.
Marilah kita bertobat, berbalik dari tingkah laku kita yang jahat, yang mendukakan Dia. Bagi kita yang bertobat, Tuhan berjanji mengha­puskan semua dosa kita (ayat 19). Maukah kita? —Liana Poedjihastuti.

Pengakuan dosa adalah langkah pertama ke pertobatan.
—Pepatah Inggris

Rabu, 09 Maret 2011

Kanan Kiri Oke

Bacaan Alkitab: Ulangan 5:28-33
Maka lakukanlah semuanya itu dengan setia, seperti yang diper­intahkan kepadamu oleh Tuhan, Allahmu. Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri.
Ulangan 5:32

Ketika film Kanan Kiri Oke Warkop diputar di beberapa gedung bioskop, ham­pir setiap malam dipadati penonton. Tetapi dalam kenyataan hidup ini kita tidak bisa kanan kiri oke.
Di hadapan Tuhan, manusia harus me-milih antara yang kudus dan yang dosa, yang benar dan yang salah. Tuhan Allah, setelah memberi sepuluh hukum kepada Musa, meminta umat agar tidak menyimpang ke ka­nan atau ke kiri. Tuhan mengajar kita untuk selalu fokus kepada Dia agar kita berkenan
kepada-Nya.
Hati yang mencintai Tuhan tidak akan tergoda melihat yang lain. Tuhan senang melihat umat-Nya yang memiliki hati yang selalu takut kepada-Nya. Sebagai upah Tuhan menjanjikan kesejahteraan bagi keturunan kita (ayat 29). Hati yang terarah kepada Tuhan menghasilkan berkat yang lurus terarah kepada kita. Lakukan dan imani kebenaran firman ini.
Yang sudah lama meninggalkan Tuhan segeralah kembali. Tuhan memerintahkan umat Israel untuk kembali ke kemah mereka (ayat 30). Kembali ke kemah adalah kembali pada persekutuan di antara mereka. Jangan biarkan hidup ini terus berada di luar kemah Tuhan. Apakah kita sudah lama meninggalkan Tuhan dan tidak lagi fokus kepada Yesus?
Tuhan meminta kesetiaan lebih daripada sekadar percaya. Percaya dengan mudah diucapkan mulut. Hari ini percaya, besok sudah lupa janjinya. Tidak demikian dengan kesetiaan. Setia berarti menjalankan tanpa bertanya lagi dan yang dilakukan hanya taat dan taat sampai mati. Sudahkah kita fokus hanya kepada Tuhan Yesus, Penolong satu-satunya dalam hidup kita? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Fokus kepada Tuhan Yesus akan menolong kita untuk tidak lagi tertarik melihat dunia ini yang bisa menarik ke kanan atau ke kiri.

Selasa, 08 Maret 2011

Berharga Di Mata Tuhan

Bacaan Alkitab: Yesaya 43:1-7
Oleh karena engkau berharga di mata-Ku dan mulia, dan aku ini mengasihi engkau.
Yesaya 43:4

Seorang remaja patah hati ditinggal ke-kasihnya lalu gantung diri. Demikian pula anak kelas 5 SD, gantung diri gara-gara tidak dibelikan sepeda. Sepertinya hidup yang diberikan Tuhan sudah tiada berarti lagi. Renungan kali ini mengajak kita melihat kembali arti hidup yang sesungguhnya.
Mari kita perhatikan kisah hidup ikan salmon. Ikan yang dagingnya secuil tapi harganya puluhan ribu itu ternyata adalah jenis ikan laut yang unik. Saat musim berte­lur tiba, mereka akan berbondong-bondong
ke tempat asal mereka, yaitu di sungai pada dataran tinggi. Mereka me­nempuh jarak ribuan kilometer, ombak besar, arus sungai yang deras, dan bebatuan yang tajam, yang dapat melukai tubuhnya. Ketika sam­pai di hulu, dalam keadaan lelah dan terluka, mereka bertelur. Dalam kepayahannya induk salmon lalu mencari tempat untuk meletakkan telur-telurnya hingga akhirnya mati. Dan, saat telur-telur itu menetas, tahukah Anda, dari mana mereka memperoleh makanan? Dari bangkai induk ikan yang telah mati! Penelitian membuktikan bahwa bangkai itu justru mengandung karbon, protein sebagai sumber makanan terbaik bagi anak-anak salmon sampai mereka bisa mandiri.
Bagaimana dengan kita? Seperti tulisan agung dalam Kitab Yesaya, kita kembali diingatkan betapa setiap kita, adalah milik kepunyaan Allah yang ditenun dibentuk agar berharga dan melengkapi bagi hidup sesama. Adakah hidup kita sudah berharga? Semoga melalui perjuangan hidup kita, pengorbanan kita bagi orang lain, bahkan lewat kepergian kita pun akan membawa arti bagi banyak orang, lebih lagi bagi Tuhan. —Pdt. Guntur Wibisono.

Ingatlah bahwa kehidupan bukanlah apa yang terjadi pada kita,
tetapi apa yang kita lakukan utuk menyikapi apa yang
akan terjadi tersebut. —Anonim

Senin, 07 Maret 2011

Secangkir Kopi

Bacaan Alkitab: Amsal 15:3

Mata Tuhan ada di segala tempat, mengawasi orang jahat dan orang baik.
Amsal 15:3

Saya adalah penikmat kopi. Menikmati secangkir kopi di pagi hari menyegarkan. Di siang hari kopi memicu adrenalin di kala lesu. Penikmat kopi berkata: “Secangkir kopi setiap hari akan mewarnai hidup sepanjang hari.” Menyajikan kopi yang nikmat bukan hanya bergantung pada kualitas biji kopi semata, tetapi juga penyimpanan, penggi-lingan, dan paling penting adalah penyaji-annya dalam cangkir cantik yang menggoda selera. Buktinya orang tidak sayang mem­bayar lebih untuk menikmati kopi Starbuck
atau Cofee Been.
Hidup manusia bagaikan secangkir kopi, dengan senyum, sapa dan salam yang ditawarkan, akan mewarnai hidup orang lain yang dijumpai dengan kegembiraan. Meneruskan kegembiraan dimulai dari diri sendiri. Dalam pelayanan di gereja, berilah senyum, sapa dan ucapan terima kasih kepada koster gereja yang membukakan pintu. Berilah senyum kera­mahtamahan kepada para tetangga dan warga di kompleks perumahan Anda, kepada sopir yang setia mengantarkan Anda.
Hati yang gembira adalah obat yang mujarab, membawa keceriaan kepada orang yang ada di sekeliling kita, dan menularkan kegembiraan kepada siapa pun yang kita jumpai dalam keseharian kita, tetapi muka yang muram dan masam akan membuat kita menjadi lebih tua daripada usia biologis kita.
Menyanyikan keceriaan dan memancarkan kegembiraan bukan pekerjaan yang sulit. Setiap orang bisa melakukan. Anda pun bisa, hanya butuh keikhlasan hati dan sikap yang bersyukur kepada Tuhan. Itu modal utama untuk memancarkan keceriaan. —Pdt. Agus Wiyanto.

Marilah memancarkan keceriaan di sekitar kita.

Minggu, 06 Maret 2011

Memilih Yang Baik

Bacaan Alkitab: Mazmur 37:27-29
Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik.
Mazmur 37:27

Perintah Tuhan itu jelas. “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik!” Namun dalam kehidupan ini, perintah yang begitu jelas dan sederhana itu ternyata tidak mu­dah untuk kita taati secara konsekuen dan konsisten. Oleh berbagai pertimbangan dan dalih yang kita buat-buat sendiri, apa yang jahat dan apa yang baik itu lalu sering menjadi kabur dan tidak jelas. Sering juga keduanya menjadi tercampur: jahat tetapi terasa baik; dan baik tetapi sebenarnya ja­hat. Misalnya, tidak memberikan bantuan
kepada orang miskin dengan alasan untuk mendidik supaya dia tidak malas, itu baik atau jahat?
Oleh sebab itu, di dalam melakukan sesuatu perbuatan, kita perlu dengan jujur dan sungguh-sungguh meneliti motivasi atau alasan terdalam yang ada pada kita dalam melakukan perbuatan tersebut. Kalau alasannya lebih mengarah untuk mencari keenakan dan kemu-dahan diri sendiri, maka perbuatan yang kita lalukan itu jelas tidak baik atau bahkan jahat. Misalnya, kalau alasan terdalam untuk tidak mem­berikan bantuan itu sebenarnya karena tidak mau kehilangan sebagian dari milik kita, alias kikir, maka alasan untuk “mendidik orang supaya tidak malas” itu hanyalah alasan yang dibuat-buat atau dalih untuk tidak memberikan bantuan.
Dalam rangka meneliti dan menguji apakah perbuatan kita terhadap sesama itu baik atau jahat, maka salah satu tolok ukur utama yang perlu kita perhatikan ialah, apakah perbuatan tersebut demi kepentingan sesama itu, atau jangan-jangan demi kepentingan kita sendiri saja. —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, tolong mampukan kami untuk selalu mengutamakan
kepentingan sesama, dan bukan kepentingan kami sendiri,
dalam berbuat. Amin.

Sabtu, 05 Maret 2011

Tanggalkanlah Kasutmu

Bacaan Alkitab: Keluaran 3:1-5
Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus.”
Keluaran 3:5

Semak duri itu menyala, tetapi aneh, tidak terbakar. Melihat penglihatan yang hebat itu, Musa yang saat itu sedang menggembalakan kambing domba mertuanya, bermaksud memeriksanya (ayat 3). Tetapi langkahnya terhenti karena tiba-tiba terdengar Allah me­manggil namanya dari tengah-tengah semak duri itu: “Musa, Musa!” dan ia menjawab: “Ya, Allah.” Lalu Ia berfirman: “Janganlah datang dekat-dekat: tanggalkanlah kasutmu dari kakimu, sebab tempat, di mana engkau berdiri itu, adalah tanah yang kudus” (ayat 4-5).
Kasut, sandal, sepatu, dan sejenisnya biasa kita pakai untuk melin-dungi kaki agar bersih, tidak kena kerikil atau terantuk batu. Mengenakan kasut membuat kaki kita aman dan nyaman. Kecuali itu kasut, utamanya yang branded, juga dapat mengangkat gengsi. Tetapi, di hadirat Allah, kita harus “menanggalkan kasut”, meninggalkan gengsi dan status. Kita bertemu Allah sebagaimana adanya kita.
Kita membutuhkan perjumpaan pribadi dengan Allah. Ya Allah, Engkaulah Allahku, aku mencari Engkau, jiwaku haus kepada-Mu, tubuhku rindu kepada-Mu, seperti tanah yang kering dan tandus, tiada berair (Mazmur 63:2). Tanpa perjumpaan itu hidup kita terasa kering dan kosong. Hanya Allah yang sanggup memuaskan dahaga jiwa kita melalui perjumpaan dengan Dia. Dengan mengosongkan diri: akal budi, afeksi, dan kehendak kita, maka Allah dapat mengisinya dengan cinta-Nya dan menguasai hidup kita. Kita menanggalkan rasa aman dan nyaman karena kekuatan sendiri. Sebagai gantinya kita berserah pada pimpinan dan kehendak-Nya. —Liana Poedjihastuti.

Maukah aku melepaskan “kasut”ku: gengsi, status, kehendakku
supaya aku dapat melakukan kehendak-Nya?

Jumat, 04 Maret 2011

Salah Jalan

Bacaan Alkitab: Mazmur 25:1-5
Beritahukanlah jalan-jalan-mu kepadaku, ya Tuhan, tunjukkanlah itu kepadaku.
Mazmur 25:4

Ada kejadian lucu dalam Speedy Tour d’Indonesia 2010. Para pebalap dan ofisial termasuk chief commissaire tersesat di jalan utara kota Adiwerna, Kabupaten Tegal. Aki­batnya balapan sepeda itu di-start ulang. Itu balapan sepeda.
Pilihan dalam perjalanan hidup kita tidak bisa di-start ulang. Sekali salah jalan risiko harus kita lalui. Pernikahan yang salah jalan mengakibatkan masalah bahkan perceraian. Untuk tidak salah jalan, inilah petunjuk dari Tuhan dalam menjalani hidup ini.
Miliki keberanian percaya kepada Tuhan (ayat 2). Kita kadang-kadang tidak berani percaya kepada Tuhan karena terlalu mengandalkan percaya diri: merasa hebat, kuat, masih muda, dan merasa masih bisa. Atau penuh keraguan bahwa Tuhan bisa melakukan sesuatu di luar kemampuan manusia. Jangan meremehkan Tuhan walaupun Dia tidak kelihatan!
Berharap bahwa jalan Tuhan adalah yang terbaik (ayat 3). Menan­tikan Tuhan pasti akan mendapat petunjuk yang akan menuntun kita daripada berjalan menurut cara dan akal kita sendiri. Tuhan dinantikan karena jalan-Nya sempurna dan terbaik dari semua yang baik menurut kita. Berjalanlah bersama-Nya mulai sekarang.
Jangan malu bertanya agar tidak sesat di perjalanan hidup ini (ayat 4). Tuhan adalah Roh dan kita juga diembusi dengan roh-Nya menjadi makhluk hidup. Tuhan tidak pernah tidur agar manusia bisa bertanya setiap saat kepada-Nya dan Dia akan memberitahukan apa yang menjadi kehendak-Nya. Komunikasi sudah dibuka Tuhan. Bagaimana dengan kita? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Daripada berputar-putar salah jalan lebih baik ambil jalan
Tuhan yang pasti tidak akan membuat pusing.

Kamis, 03 Maret 2011

Hanya Sekali

Bacaan Alkitab: Ibrani 9:23-28
...manusia ditetapkan untuk mati hanya satu kali saja, dan sesudah itu dihakimi.
Ibrani 9:27

Inti nas kita hari ini menyatakan bahwa, sebagai Imam Besar Kristus telah mengor­bankan diri-Nya sendiri untuk penebusan dosa. Bukan sekadar mengorbankan hewan kurban apa pun. Oleh karena itu pengorban­an-Nya hanya satu kali saja saat kedatangan-Nya yang pertama. Manusia diberi kesem­patan untuk memilih dan bersikap terhadap karya Kristus itu. Pada kedatangan-Nya yang kedua kelak, Ia akan menghakimi manusia berdasar sikap pilihannya tadi. Menyadari hal ini, mestinya menjadikan kita bersikap bijak dalam menjalani hidup ini.
Ada sementara orang yang berpandangan, “Urip mung sepisan wae kok digawe angel “ (hidup hanya sekali saja kok dibuat susah). Artinya dalam hidup yang hanya sekali ini berbuatlah menuruti semua keinginan hati, sebab kalau tidak sekarang kapan lagi kesempatannya.
Bahwa hidup hanya satu kali, itu benar. Mati pun hanya satu kali. Tetapi setelah itu akan ada penghakiman, demikian kata Alkitab. Ini yang barangkali terabaikan dalam pandangan di atas. Maka kalau mau bijaksana dalam menjalani hidup ini, pandangan yang dianut semestinya “Urip pancen mung sepisan, mula kuwi sing ati-ati” (hidup memang hanya satu kali, oleh karena itu berhati-hatilah).
Kristus sudah mengorbankan diri-Nya, setelah itu Ia akan mengha­kimi. Kita pun sekarang sedang menjalani hidup yang hanya satu kali, dan pada waktunya akan mati, lalu dihakimi. Maka bijaksanalah dalam menjalani hidup, dengan berhati-hati, tidak semberono. Karena se­muanya harus kita pertanggungjawabkan pada waktunya. —Handoyo.

Bila kesempatan datang berkali-kali, orang akan menggunakannya
dengan sesuka hati, tetapi bila kesempatan datang hanya satu kali,
maka orang akan menggunakannya dengan hati-hati.

Rabu, 02 Maret 2011

Pilihan Hidup

Dalam menjalani kehidupan ini kita se­lalu diperhadapkan pada pilihan-pilihan dari yang mudah sampai yang sulit. Begitu mata melek, kita sudah disodori pilihan mau berdoa dahulu, atau langsung mandi, atau melakukan tugas-tugas rumah tangga. Hari ini mau masak apa, mengenakan pakaian yang mana, pergi ke mana. Ini adalah pilihan yang relatif gampang, tidak berisiko. Ada pilihan-pilihan yang sulit, seperti memilih karier dan jodoh. Semakin sulit pilihannya, semakin kita harus berhati-hati, sebab salah
pilih bisa celaka.
Kehidupan kita, sukses tidaknya, bahagia tidaknya banyak ditentukan oleh pilihan yang kita ambil. Pilih gaya hidup sehat atau yang mengun­dang penyakit. Mau memilih untuk mengasihi atau terus membenci. Bekerja secara jujur atau korup, dan lain sebagainya.
Musa menghadapkan bangsa Israel pada dua pilihan: “Aku meng-hadapkan kepadamu pada hari ini kehidupan dan keberuntungan, kema­tian dan kecelakaan” (Ulangan 30:15). Jalan kehidupan, keberuntungan, jalan berkat, jika mereka mengasihi Tuhan, hidup menurut jalan yang ditunjukkannya, dan menaati perintah-Nya (ayat 16.) Sebaliknya jalan kematian jika mereka berpaling dari Allah, meninggalkan ketetapan-ketetapan-Nya (ayat 17-18).
Musa mendorong bangsa Israel untuk memilih kehidupan. Pilihlah kehidupan, supaya engkau hidup, baik engkau maupun keturunanmu (ayat 19).
Dalam memilih kita juga mengacu pada dua kriteria ini. Jalan kehidupan atau kebinasaan, berkat atau kutuk. Apa pilihan Anda? Yang jelas aku dan seisi rumahku, kami akan beribadah kepada Tuhan (Yosua 24:15). —Liana Poedjihastuti

Sama Setiap Nada

Bacaan Alkitab: 1 Raja-raja 9:4-5
Siapa bersih kelakuannya, aman jalan­nya, tetapi siapa berliku-liku jalannya, akan diketahui.
Amsal 10:9

Di dalam tubuh piano berjajar sejumlah tuts yang menyimpan dentingan nada do-re-mi-fa-sol-la-si... yang indah dan akurat. Tak satu pun dentingan nada itu yang berniat mengelabui telinga kita, selalu sama di nada yang sama. Inilah kebenaran do-re-mi yang tak usang oleh gelegar musik cadas, dan tak hanyut oleh lentiknya musik klasik. Sesung­guhnya kita juga rindu akan kebenaran do-re-mi yang konsisten. Kita rindu pada ritme kehidupan piano yang penuh integritas, benar setiap saat.
Integritas menyiratkan ketaatan kita pada perintah suara hati yang dikendalikan oleh ketulusan untuk hidup benar. Kita menjadi taat dalam kebenaran ilahi. Ini berarti Tuhan sendiri yang menjadi penguji hati kita (1 Tawarikh 29:17). Jadi, hidup penuh integritas adalah hidup yang tidak condong pada yang salah, tetapi hidup yang mengandalkan kebenaran ilahi. Kita bukan saja menjauh dari kemunafikan, tetapi juga mempertebal keyakinan untuk tidak memilih jalan hidup yang berliku-liku dan keliru.
Barangkali kita terlalu lugu menyikapi kehidupan ini, dan sering kali naif menilai keberhasilan kita. Kita terkadang plin-plan menyikapi hal-hal yang penting, dan sering menangisi perkara yang sia-sia. Namun mulai hari ini tetapkanlah sebuah keputusan hati untuk membangun integ­ritas diri kita. Kita harus berani membedakan yang benar dan yang salah, berani melaksanakan apa yang kita yakini benar, dan berani secara terbuka mengatakan apa yang telah kita yakini dan lakukan. —Agus Santosa.

Andaikata integritas itu memiliki lawan kata, barangkali lawan kata itu
adalah korupsi—lolosnya segala sesuatu yang kita ketahui salah.
—Stephen L. Carter

Senin, 28 Februari 2011

Mendengarkan Adalah Cinta

Baca: Lukas 10:38-42
...Maria ini duduk dekat kaki Tuhan dan terus mendengarkan perkataan-Nya.
Lukas 10:39
Pada umumnya orang lebih senang berbicara daripada mendengarkan. Padahal bukan orang yang banyak bicara yang dibutuhkan, melainkan orang yang mau mendengarkan. Begitu pentingnya mendengarkan sampai ada yang mengatakan kalau saja ada yang mau mendengarkan, maka orang tidak akan merasa hidup dan persoalannya begitu sukar untuk diatasi. Orang yang didengarkan akan merasa tenang dan merasa bahwa ada orang yang peduli. Mendengarkan adalah tindakan cinta, tindakan kepedulian,  suatu komitmen diri kita kepada orang lain, demikian kata Rouel L. Howe. Barangkali itulah sebabnya mengapa kita dikaruniai dua telinga dan hanya satu mulut.
Mendengarkan adalah memindahkan pusat perhatian dari diri sendiri kepada orang yang didengarkan. Ini bukan pekerjaan yang mudah, utamanya bagi mereka yang memiliki otoritas atau kekuasaan seperti orangtua, atasan, para lanjut usia, dan yang lain. Bukankah sebagai orang yang memiliki kekuasaan dan otoritas harus lebih didengarkan?
Mendengarkan itu sulit, tetapi bukan berarti tidak bisa dilakukan. Diperlukan kesungguhan, kesabaran, dan ketekunan, juga latihan agar dapat mendengarkan.
Rupanya Maria tahu benar bahwa mendengarkan adalah pernyataan cinta, itulah sebabnya ia lebih memilih untuk duduk dekat Yesus, men­dengarkan Dia. Tindakan Maria ini dipuji Yesus (ayat 42).
Mulai hari ini marilah kita lebih mau mendengarkan, sebagai ung­kapan rasa syukur atas cinta Tuhan yang melimpah dalam hidup kita. Dengan kita mendengarkan kiranya orang-orang dapat merasakan kasih sayang. —Liana Poedjihastuti.

...menghampiri untuk mendengar adalah lebih baik daripada mempersembahkan kurban yang dilakukan oleh orang-orang bodoh... —Pengkotbah 4:17

Minggu, 27 Februari 2011

Semua Karena Cinta


Baca: Kidung Agung 8:6-7
Taruhlah aku seperti me­terai pada hatimu, seperti meterai pada lenganmu, karena cinta kuat seperti maut, kegairahan gigih seperti dunia orang mati, nyalanya adalah nyala api seperti nyala api Tuhan! Kidung Agung 8:6-7

...dan bila aku berdiri tegar sampai hari ini, bukan kar’na kuat dan hebatku... Semua ka­rena cinta.. semua karena cinta...‘tak mampu diriku dapat berdiri tegar... terima kasih cinta...
Masih ingat penggalan refrein lagu popu­lar di atas? Saya sebenarnya lebih setuju jika kata “tak” pada kalimat “tak mampu diriku dapat berdiri tegar” diganti “kan”, sehingga menjadi “kan mampu diriku dapat berdiri tegar”. Ya, cinta itu penuh daya, power of love, demikian sering kali diungkapkan.
Seperti halnya cinta Allah bagi kita umat-Nya. Kidung Agung 8:6-7 ini merupakan ungkapan bahasa cinta Allah pada umat-Nya. Cinta yang tidak terpisahkan: melekat kuat dan erat; serta penuh daya seperti maut yang tak terhindarkan. Cinta itu adalah cinta yang tanpa pamrih; tulus; rela berkorban; sedia mengampuni. Cinta sejati, yang ada hanya karena kesetiaan. Cinta Allah yang mau memberi diri-Nya untuk pengampunan segala dosa kita. Itu semua nilai kehidupan yang tak terukur dan tak tergantikan secara materi.
Cinta yang seperti itulah yang dibutuhkan dalam relasi kehidupan umat Tuhan di dunia ini, antara pasangan suami-istri, orangtua-anak, kakak-adik, saudara bersaudara, teman seiman, bahkan antar sesama manusia. Cinta Allah itulah yang semestinya menjadi penghayatan kita dalam hidup bersama sesama di tengah-tengah dunia, oleh karena Allah telah lebih dahulu mengasihi kita. Cinta yang membuat dunia sekeliling kita menjadi berdaya, ketika kita saling membagikan cinta Allah melalui sikap perbuatan dan perkataan. —Pdt. Amalia P. E. Lalenoh.

Kita mungkin tidak mampu melakukan hal-hal yang
besar, tetapi kita dapat melakukan hal-hal kecil
dengan cinta yang besar. —Sr.Teresa

Sabtu, 26 Februari 2011

Dihajar Tuhan Karena Cinta

Baca: Ibrani 12:5-8
Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihi-Nya, dan Ia menyesah orang yang diakui-Nya sebagai anak.
Ibrani 12:6
Berapa banyak anak-anak yang disakiti hatinya oleh orangtuanya sendiri: dihajar, dipukul, cacat seumur hidup bahkan sampai pada kematiannya. Ada orangtua menghajar karena cinta, ada yang menghajar karena pelampiasan kemarahan karena anak itu sebenarnya tidak dikehendaki lahir.
Beda dengan cara Tuhan menghajar anak-anak-Nya. Tindakan Tuhan mengan-dung edukasi demi masa depan anak-anak Tuhan itu sendiri. Dihajar karena cinta-Nya, bagaimana bila hal itu terjadi pada kita?
Pendidikan Tuhan memang keras, tetapi sangat berfaedah. Keras beda dengan kejam. Keras mengarah pada kedisiplinan hidup. Jangan menganggap enteng didikan Tuhan, cobalah periksa diri sendiri kenapa sampai Tuhan mengizinkan yang tidak enak terjadi dalam hidup kita. Terimalah hajaran Tuhan itu dan hiduplah lebih beriman kepada-Nya.
Dikasihi Tuhan tidak selamanya hanya menerima yang baik. Tuhan mengasihi melalui berkat-berkat-Nya, tetapi juga melalui pen-deritaan dan ujian hidup. Dari cara-cara Tuhan itu akan muncul orang-orang yang bertobat atau sebaliknya orang-orang yang makin jauh dari Tuhan. Belajarlah berkata seperti Ayub: “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? (Ayub 2:10).
Seberat apa pun hajaran Tuhan, kita tetaplah anak-Nya. Pengakuan sebagai anak oleh Tuhan membuat kita bahagia karena tindakan-Nya yang keras tidak akan membinasakan kita. Bagi Dia, semakin kita di­hajar berarti semakin didekatkan untuk menjadi serupa dengan Kristus. Hanya ada satu pilihan di antara: Mau marah atau mau bertobat? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Dalam pendidikan Tuhan hanya ada satu tujuan, yaitu pembaruan
karakter agar semakin sempurna seperti Bapa di surga.

Jumat, 25 Februari 2011

Kasih Seorang Ibu

Kasih Seorang Ibu
Baca: Markus 10:45
Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk mem­berikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang.
Markus 10:45
Alkisah seorang gadis bernama Cindy, anak seorang janda miskin. Ia terjerumus dalam pergaulan bebas, minuman keras, dan narkoba. Hidupnya berantakan. Ibunya sangat sedih melihat cara hidup anaknya itu. Para tetangga berbisik-bisik membicarakan Cindy. Si ibu berusaha melakukan apa saja untuk menyadarkan anaknya. Pernah ia mengundang pendeta untuk menasihati anaknya itu, tetapi hasilnya nol besar, malah ia merasa malu karena dengan kasar Cindy mengusir pendeta itu. Sampai suatu saat Cindy jatuh sakit, harus berbaring di tempat tidur berbulan-bulan. Dengan setia si ibu merawat. Tentu saja hal ini sangat menyita waktu dan tenaga si ibu, sebab ia juga harus mencari nafkah dengan berjualan kue. Tidak hanya itu, untuk menambah penghasilan ia lalu menjadi buruh cuci dan setrika. Tetangga merasa kasihan melihatnya, pekerjaan itu berat untuk orang seusianya. Tetapi tak sepatah kata keluhan keluar dari mulutnya. Ibu Cindy tak kenal putus asa, ia terus mendoakan agar Cindy kembali ke jalan yang benar. Melihat apa yang dilakukan ibunya, hati Cindy tersentuh. Kasih ibunya yang meneladani kasih Yesus mem­buat ia bertobat, menerima Yesus yang telah memberikan nyawa-Nya untuk orang berdosa seperti dirinya.
Bagaimana dengan kita? Sebagai orangtua, apakah kita telah menun­jukkan kasih sayang yang rela berkorban kepada anak-anak kita? Sebagai anak, sudahkah kita mengasihi orangtua kita dengan kasih yang tulus? Dan apakah kita telah mengasihi sesama kita sama seperti Yesus telah mengasihi kita? —Teguh Pribadi.

Doa: Ya Tuhan, ajarkan kami untuk mengasihi seperti
Engkau telah mengasihi kami. Amin.

Kamis, 24 Februari 2011

Cinta Itu Memberi

Baca: Kisah Para Rasul 20:35
...sebab Ia sendiri telah mengatakan: Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
Kisah Para Rasul 20:35

Dalam praktik sehari-hari ternyata konsep memberi, selalu berkonotasi “mengeluar­kan”, dan dalam memberi terus-menerus cepat atau lambat nanti pasti kita akan keha­bisan juga. Ketakutan kehabisan inilah yang membuat kita tidak mudah untuk memberi, bahkan cenderung menjadi kikir.
Dalam pandangan Tuhan Yesus ternyata konsep memberi dianggap lebih utama dari­pada menerima. Karena di dalam memberi, membagi dan mengeluarkan sebenarnya itu cermin dari seseorang yang dalam hatinya penuh syukur, kegembiraan dan kebahagiaan. Ya, hanya orang yang merasa sudah menerima begitu banyak hal dari Tuhan, yang merasa hidupnya su­dah diberkati Tuhan akan selalu terpancar kesadaran memberi, membagi, mengeluarkan dari dirinya.
Dari dasar pandangan inilah kita dapat memahami apa itu mencin­tai. Cinta pada hakikatnya adalah kesediaan memberi, berbagi dan mengeluarkan dari diri kita. Secara sadar, spontan yang keluar dari hati yang mencintai. Sebab di sana tidak ada tuntutan, perhitungan untung-rugi, juga tidak ada gengsi dan kebanggaan diri yang mengha­langi. Yang ada adalah keinginan untuk memberi sesuatu yang terbaik dari yang dimiliki. Hanya itu. Cinta selalu tidak bersyarat, tidak pamrih. Cinta juga tidak memasang label harga, bagi cinta tidak ada yang ter­lalu mahal. Cinta yang sesungguhnya tersemai dalam hati yang merasa sudah mendapat cinta Kristus yang tidak pernah melihat siapa kita. Ia mengasihi kita sebagaimana adanya kita. Ia mau menerima kita tanpa syarat. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Hati yang diresapi oleh cinta Kristus akan menjadi telaga persemaian
benih cinta yang takkan pernah lekang, dari sana akan terus
mengalirkan cinta tanpa henti. memberi dan memberi.

Rabu, 23 Februari 2011

Saling Mengasihi


Baca: Yohanes 13:34-35
Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.
Yohanes 13:35
Sebagai pengikut Kristus, kita menerima amanat dari-Nya untuk menjadi saksi-Nya yang memberitakan dan menunjukkan, bahwa Dia adalah Juru Selamat. Kesaksian yang harus kita lakukan itu tidak hanya melalui perkataan, tetapi juga perbuatan nyata, sesuai dengan apa yang telah diajar­kan dan dilakukan-Nya. Melalui kesaksian, kita sekaligus juga menunjukkan bahwa kita menjadi murid dan pengikut Kristus yang setia dan taat. Dengan demikian, kesaksian kita itu juga menjadi indikator seberapa be-
sar kesetiaan dan ketaatan kita kepada-Nya. Semakin besar dan kuat kesetiaan serta ketaatan kita, semakin besar dan kuat pula keinginan serta perbuatan kesaksian kita.
Dalam hubungan itu, perlu kita sadari pentingnya keserasian antara apa yang kita beritakan dengan perilaku kita sendiri. Dengan kata lain, hidup dan perilaku kita itu harus sesuai dengan, atau menjadi perwujudan dari kesaksian kita. Perilaku yang tidak sesuai dengan kesaksian, akan melemahkan kesaksian itu sendiri, sehingga membuat orang menjadi tidak mau mempercayainya.
Menyadari betapa penting dan mendasarnya prinsip kasih yang men-jadi inti dari ajaran dan karya Yesus, maka dengan menjalankan perintah-Nya untuk mengasihi sesama, hal itu menjadi wujud dari kesaksian dan bukti kepemuridan kepada Kristus. Melalui perbuatan kasih yang kita lakukan, semua orang akan melihat bahwa kita adalah pengikut dan saksi Kristus. Itulah aspek dan pengaruh lain dari perbuatan kasih yang patut kita perhatikan dan jadikan pendorong untuk melakukannya. —Pdt. Em. Sutarno.

Perbuatan saling mengasihi tidak hanya menjadi bukti
kepemuridan Kristus, tetapi juga keksaksian yang
efektif tentang dia yang penuh kasih.

Selasa, 22 Februari 2011

Cinta Mengalahkan Segalanya

Baca: Daniel 6:11-12
...tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya. Daniel 6:11
Sebuah penelitian di Inggris yang dimuat dalam jurnal Archives of Sexual Behavior melaporkan bahwa seorang pria hanya butuh waktu 8,2 detik untuk jatuh cinta kepada se-orang wanita yang dijumpainya. Itulah jatuh cinta pada pandangan pertama. Pertanyaan-nya butuh berapa lama seorang manusia jatuh cinta dalam pandangan pertamanya kepada Tuhan?
Daniel membuktikan cinta-Nya yang kuat kepada Tuhan walaupun diancam hu­kuman mati dilempar ke dalam gua singa
(ayat 13). Bagaimana membuktikan bahwa cinta kita kepada Tuhan adalah untuk yang utama dan selamanya?
Tidak gentar menghadapi tantangan manusia. Selama kita hidup benar dan hanya fokus kepada Allah, maka apa pun keadaan dan ke­nyataan yang bakal terjadi tidak akan menyurutkan nyali dan iman kita kepada Allah. Surat perintah raja tidak mengggetarkan Daniel. Percayalah Allah selalu di pihak kita, orang-orang yang dibenarkan Tuhan.
Carilah Tuhan. Daniel menghadap Allah dalam kerendahan hati, doa dan pujian. Itulah kekuatan cinta yang tak terkalahkan. Asal masih ada cinta kepada Tuhan, akan ada jalan terbuka untuk menerima kekuatan Allah. Apa yang Anda lakukan ketika hidup ini terancam dengan banyak masalah dan persoalan?
Tetaplah bersaksi dan jangan undur sedikit pun. Daniel dicari oleh pihak penguasa Babel dan mereka menemukan Daniel sedang berdoa memohon kepada Allah (ayat 12). Jangan berhenti beribadah, berdoa dan menyembah Allah walaupun hidup ini sedang banyak masalah. Semakin banyak berdoa, semakin banyak kuasa Allah menaungi kita. Percayalah! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Jika cinta kepada Tuhan sudah bisa mengalahkan segalanya, maka
itulah cinta sejati yang akan terus dibawa setia sampai mati.

Senin, 21 Februari 2011

Menarik

Baca: Efesus 1:5-8
...Ia telah menentukan kita... sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya... menurut kekayaan kasih karunia-Nya. - Efesus 1:5, 7
Psikolog Jerman, Erich Fromm, dalam bu­kunya, The Art of Loving, menuturkan bahwa manusia modern begitu gemar mengunjungi estalase toko, bazaar, plaza, atau mall untuk membeli barang-barang yang diinginkan, entah cash atau dengan menggesek kartu kredit. Fromm menandaskan bahwa cinta manusia modern juga menggunakan mo-dus yang tak jauh berbeda. Perempuan yang menarik bagi lelaki sekarang tak ubahnya adalah “bingkisan” yang diinginkannya. Sebaliknya, bagi perempuan, lelaki yang
menarik adalah “hadiah” yang selalu mereka dambakan.
Menarik itu berarti sehimpunan sikap manis yang menawan, karak-ter populer yang dicari di berbagai estalase cinta. Menarik juga memuat serumpun kondisi, syarat atau kualifikasi. Anda akan mencintai saya sesuai syarat yang Anda pandang menarik, begitu juga saya mencintai Anda karena sesuai syarat yang saya inginkan. Ketika Anda pas dengan kualifikasi saya, jatuh cintalah saya kepada Anda! Nah, sejatinya, saya ini jatuh cinta kepada Anda, atau pada persyaratan saya yang kebetulan Anda miliki?
Jika saja Tuhan bekerja dengan modus ini, maka hari ini takkan ada penebusan! Tuhan tidak mengasihi Anda dan saya karena kita menarik. Yesus tidak menebus kita karena Anda dan saya memenuhi syarat-syarat hukum Taurat. Tuhan mengasihi kita sesuai dengan kerelaan kehendak-Nya (ayat 5). Penebusan oleh darah-Nya itu menurut kekayaan kasih karunia Tuhan (ayat 7). Kita seharusnya bercermin pada Yesus, sanggupkah kita mengasihi orang lain menurut kerelaan dan kekayaan kasih karunia yang kita terima dari Tuhan? —Agus Santosa.
Karena dengan demikianlah kamu menjadi anak-anak Bapamu
yang di surga, yang menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan
orang yang baik dan menurunkan hujan bagi orang yang benar
dan orang yang tidak benar. —Matius 5:45