Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Selasa, 21 Juni 2011

Menumbuhkan Cinta


Baca: 1 Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
1 Petrus 5:7
Semua orang dimuka bumi ini pastilah pernah merasakan cinta, tidak terkecuali kita. Cinta dapat menyapa kita, tidak peduli latar belakang dan status sosial kita, tidak memandang usia, tua maupun muda. Na­mun sangat disayangkan terkadang kita lupa untuk memeliharanya.
Cinta bukanlah hal yang statis, tetapi penuh dengan kedinamisan. Sebenarnya cinta tidak pernah benar-benar mati dalam hidup kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Yang ada kitalah yang sering menyia-nyiakan cinta dan menempatkannya dalam tempat yang tak layak.
Rasa khawatir merupakan salah satu sebab yang membuat kita tidak dapat menumbuhkembangkan cinta. Khawatir membuat kita selalu merasa was-was. Khawatir menyita banyak waktu kita, lebih dari itu khawatir menyita perhatian kita.
Biarkanlah cinta tumbuh apa adanya. Yakinlah bahwa Tuhan akan senantiasa memelihara cinta yang kita miliki. Yang terpenting adalah bagaimana kita merawat dan memelihara cinta yang kita miliki agar orang di sekitar kita bisa melihat dan merasakan cinta yang ada da­lam diri kita. Bak bunga mawar di taman, harum semerbak ke seluruh desa, memancarkan aroma dan warna kemilau penuh pesona.
Pernahkah kita menyerahkan kekhawatiran yang kita miliki kepada Tuhan? Jika belum, sekaranglah saatnya. Dengan demikian cahaya cinta yang kita miliki tidak tertutup oleh bayang-bayang kekhawatiran. Pada gilirannya cinta yang kita pancarkan akan memancarkan cinta Allah. —Darmanto
Cinta hanya mungkin tumbuh dalam kebebasan hati yang tidak diliputi oleh rasa kekhawatiran dan ketakutan.
Y. P. B. Wiratmoko, Merenung Sejenak

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 20 Juni 2011

Akar Pahit

Baca: Ibrani 12:14-15
Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauh­kan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Ibrani 12:15
Orang-orang yang percaya, bahwa ber­dasarkan kasih karunia Allah telah dise-lamatkan oleh dan di dalam Tuhan Yesus, terpanggil untuk menyatukan diri di da­lam jemaat, yaitu persekutuan para orang percaya. Di dalam persekutuan tersebut para orang percaya diharapkan mau saling tolong-menolong dan topang-menopang, baik untuk kehidupan iman-kerohanian mereka, maupun dalam menjalani kehidup-an sehari-hari.
Paulus dalam Galatia 6:2 memberikan nasihat agar dalam persekutuan tersebut hendaknya para warganya mau saling “bertolong-tolongan” dalam menanggung beban masing-masing. Sebab, dengan berbuat demikian, itu membuktikan bahwa mereka telah “memenuhi hukum Kristus”, yaitu hukum untuk mengasihi sesama se-perti diri sendiri. Hidup saling tolong-menolong dan kasih-mengasihi itu juga harus menjadi ciri khas bagi persekutuan orang-orang percaya, sekaligus menjadi wujud dari ucapan syukur atas kasih karunia yang diakui dan dipercaya telah diperoleh dari Tuhan.
Meskipun demikian, ciri khas tersebut dalam kenyataannya sering tidak tampak tumbuh dan berkembang dalam kehidupan bersama melalui persekutuan. Bukannya saling tolong-menolong berdasarkan kasih, melainkan justru saling “gigit-menggigit” dengan penuh keben­cian. Dalam hal ini Surat Ibrani mengemukakan bahwa keadaan yang seperti itu disebabkan oleh “tumbuhnya akar pahit” dalam kehidupan orang percaya. Akar pahit itu tumbuh sebagai akibat dari menjauhnya seseorang dari kasih karunia Allah. Yaitu sikap yang melupakan bahwa ia telah terlebih dahulu memperoleh kasih pengampunan dari Allah, sehingga selanjutnya harus juga mengasihi dan bersedia mengampuni sesama. —Pdt. Em. Sutarno
Waspadalah. Jangan biarkan akar-akar pahit yang merusak dan mencemarkan kehidupan pribadi dan persekutuan, tumbuh dan berkembang dengan suburnya.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 02 Juni 2011

Menjadi Tua Dan Bahagia


Baca: Mazmur 25:12-13
Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.
Mazmur 25:13

Orang yang disebut oleh pemazmur “akan menetap dalam kebahagiaan” itu adalah orang yang sudah lanjut usia, karena ia te­lah beranak-cucu. Dengan kata lain, orang tersebut, meskipun sudah tua dengan se­gala kekurangan dan kelemahannya, namun tetap dalam keadaan berbahagia. Mengapa? Karena ia “takut akan Tuhan”, sehingga Tu­han selalu menunjukkan jalan mana yang harus dipilihnya. Dengan kata lain, takut kepada Tuhan itu telah membuatnya taat kepada-Nya dan selalu berada dalam jalan yang dikehendaki-Nya (ayat 12). Melalui kata-katanya itu pemazmur memberikan kesaksian dan pengajaran yang berisi syarat dan jaminan, bahwa orang akan tetap dapat berbahagia sampai lanjut usianya, ka­lau ia mau menghormati dan menyegani Tuhan, dengan berperilaku yang selalu sesuai dengan petunjuk dan hukum-hukum-Nya.
Dalam keadaan telah menjadi tua, sering kita merasakan adanya ban­yak faktor fisik dan kejiwaan yang membuat kita sulit untuk dapat mera­sakan kebahagiaan. Bukannya kebahagiaan, tetapi justru kegelisahan, kekuatiran dan ketakutan karena merasa kesejahteraan dan keselamatan kita terancam, padahal kita tidak mampu melawan atau menghindar dari ancaman tersebut.
Sikap “takut akan Tuhan” berarti menghormati dan menaati Dia, karena percaya akan kemahakuasaan dan kasih-Nya. Dengan demikian, sikap “takut akan Tuhan” juga berarti mempercayakan diri kepada-Nya. Dan sikap yang demikian itu pasti mendatangkan kebahagiaan, kare-na percaya bahwa Tuhan akan melindungi dari segala ancaman yang mencelakakan. —Pdt. Em. Sutarno

Iman dan ketaatan kepada Tuhan, menjadi syarat dan
jaminan bagi terciptanya kebahagiaan sejati.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 01 Juni 2011

Seperti Pala


Baca: Mazmur 90:12-17
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12

Ibu mertua saya sangat mahir membuat manisan, dan yang paling saya kagumi saat ia mengolah manisan pala. Saya sering melihat bagaimana buah pala mentah diolah, kulit dikupas dan daging buahnya dijadikan man­isan. Sari buah pala ditiris untuk sirup. Biji pala dijemur untuk bumbu dapur, dan se­laput merah biji digunakan sebagai pewarna makanan. Kulit pala pun bisa dimanfaatkan untuk pupuk atau makanan ternak.  Ada satu rahasia yang ingin saya sampai­kan kepada Anda, “Pilihlah pala yang sudah matang, itu yang terbaik untuk manisan.” Ya, seperti pala yang matang, meski kulit sudah lisut, kita adalah generasi terbaik yang bisa memberi nikmat kepada orang-orang di sekitar kita. Mintalah kepada Tuhan agar kita beroleh hati yang bijak dan penuh sukacita, “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana... Kenyangkanlah kami di waktu pagi dengan kasih setia-Mu, supaya kami bersorak-sorai dan bersukacita semasa hari-hari kami” (ayat 12, 14).
Dan, seperti buah pala yang banyak memberi manfaat, kita juga bisa berarti bagi orang lain. Jangan terlalu fokus pada diri sendiri, kata John Ruskin, “Ketika seseorang terbungkus di dalam dirinya sendiri, ia hanya menjadi sesuatu yang sangat kecil.” Lakukanlah perbuatan baik untuk orang lain, dan mohon kepada Tuhan, “Kiranya kemurahan Tuhan, Allah kami, atas kami, dan teguhkanlah perbuatan tangan kami, ya, perbuatan tangan kami, teguhkanlah itu” (ayat 17). Amin. —Agus Santosa.

Anda akan selalu mendapatkan segala yang anda inginkan
apabila Anda mau membantu orang lain mendapatkan
apa yang mereka inginkan. —Zig Ziglar




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 31 Mei 2011

Hari Usia Lanjut


Baca: Amsal 3:1-2
Hai anakku, janganlah engkau melupakan ajaranku, dan biarlah hatimu memelihara perintahku, karena panjang umur dan lanjut usia serta sejahtera akan ditambah­kannya kepadamu.
Amsal 3:1-2

Hampir semua anak menyukai saat-saat berulang tahun karena ulang tahun ber-arti makanan dan hadiah. Kita bisa melihat binar-binar kebahagiaan di mata si anak. Bahkan sebuah balon sudah bisa memba­hagiakan anak kecil yang berulang tahun. Bagaimana dengan kita yang sudah lanjut usia? Apakah ulang tahun masih me-nggembirakan? Kita pasti tidak lagi terlalu mengharap makanan dan kado bukan? Ke­banyakan para lanjut usia mengharapkan anak-anak, menantu-menantu dan para cucu bisa berkumpul di hari ulang tahunnya. Tetapi, kenyataan tidak selalu se-perti yang diharapkan. Anak-anak sibuk dengan pekerjaan dan keluarganya. Jadi, beruntunglah kita jika mereka masih mengingat ulang tahun kita.
Mungkin ada pula di antara kita yang tidak suka berulang tahun, karena tidak memiliki siapa-siapa untuk berbagi tawa bahagia. Walau begitu janganlah merana. Bukankah Tuhan tak pernah meninggalkan kita sendirian?
Bagaimanapun juga ulang tahun adalah saat untuk bersyukur. Saat yang baik untuk mengingat kasih setia Tuhan dalam hidup kita. Ulang tahun juga dapat menjadi momen untuk merenung, “Apa yang masih bisa aku lakukan bagi Tuhan, keluarga, dan sesama di usia ku ini?” Juga merupakan saat yang baik untuk makin mendekatkan diri kepada Tuhan.
Hari ini Indonesia memperingati Hari Usia Lanjut. Ada gereja-gereja yang merayakan hari ini dengan ibadah syukur. Sungguh, lanjut usia adalah anugerah Tuhan yang patut kita syukuri. Selamat merayakan Hari Usia Lanjut. Berbahagialah, diberkatilah, dan jadilah berkat selalu. —Liana Poedjihastuti

Pokok doa: Bagi para lanjut usia.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 30 Mei 2011

Falsafah Untung


Baca: Habakuk 3:17-19
Allah Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa,
Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
Habakuk 3:19

Sebagian dari kita tentu pernah mendengar falsafah untung, yang merupakan falsafah Jawa yang selalu berkata untung dalam keadaan seburuk apa pun. Contoh, ketika melihat seorang anak jatuh dan lecet-lecet, orang akan berkata: “Untung cuma lecet, tidak patah tulang.” Jika memang patah tulang, orang akan berkata: “Untung cuma patah tulang, dan tidak putus sama sekali.” Jika memang ada anggota tubuhnya yang putus, orang akan berkata: “Untung cuma putus, tidak mati.” Jika memang langsung mati saat kecelakaan, si untung kembali dipakai dengan perkataan: “Un­tung langsung mati sehingga tidak perlu menderita dan mengeluarkan banyak biaya.”
Falsafah untung adalah salah satu cara untuk kita bisa mengucap syu­kur dalam seberat apapun tekanan hidup yang datang silih berganti. Ada banyak orang hari ini masuk rumah sakit jiwa atau bunuh diri dengan berbagai cara karena melihat hidup hanya dari sisi yang negatif, padahal hidup ini sesungguhnya sangat indah kalau kita mau belajar bersyukur dan tidak larut dalam kesedihan.
Nabi Habakuk bisa menulis ayat-ayat yang sangat menginspirasi dan menguatkan orang-orang percaya yang sedang berbeban berat karena dia melihat sisi yang positif di balik penderitaan. Tuhan sering kali mengizinkan masalah datang supaya kita belajar bersukacita dalam segala hal. Tuhan ingin kita mengerti bahwa sukacita yang sejati tidak ditentukan dari hal-hal yang bersifat duniawi saja seperti harta, kesehatan, atau pangkat, namun dari seberapa kita tetap berterima kasih dan setia mengikut Tuhan dalam segala situasi. —Richard T.G.R
Jangan biarkan keadaan yang memburuk
mencuri sukacita Anda.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 29 Mei 2011

Indahnya Masa Tua


Baca: Mazmur 92:13-16
Sampai masa tuamu aku tetap dia dan sampai masa putih rambutmu menggendong kamu. telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4

Pak Joko sekarang berusia 85 tahun. Badan­nya sudah tidak sekuat dulu, harus ditopang jika berjalan, dan sering sakit-sakitan. Dulu pada waktu muda, tubuhnya masih cukup kuat untuk jalan sehat, dan sering bepergian ke mana dia suka. Masa tua selalu dikaitkan dengan kele­mahan. Orang tua akan loyo, pikun, pende-ngaran berkurang, rabun jauh, dan masih banyak lagi. Hal itu tidak bisa dihindari, karena kodrat manusia seperti itu. Itulah masa lanjut usia. Semuanya serba lambat, lemah dan tidak berdaya.
Tuhan memberikan masa tua pada manusia bukan digunakan un­tuk mengeluh hanya karena sudah tidak kuat jalan dan tidak bisa lagi bepergian semaunya. Kita bisa bayangkan bahwa pada masa muda, kita seakan melakukan perjalanan melalui jalan tol, tanpa hambatan. Hidup semangat, penuh idealisme, dan cita-cita. Sedangkan pada masa tua seakan perjalanan kita sudah keluar dari jalan tol. Tetapi, masa ini banyak sekali keindahannya. Ketika mobil harus berjalan merayap karena banyak tikungan dan tanjakan, kita merasakan udara pegunungan yang segar dan pemandangan yang sangat indah. Sekali-kali kita melihat ke bawah, ke lembah di belakang kita, melihat jalan berbelok-belok yang tadi kita lalui, tampak indah. Itulah perjalanan hidup yang harus kita syukuri.
Mengapa kita mampu menjalani hidup sampai puluhan tahun? Mengapa kita bisa menempuh jarak sejauh itu? Karena Tuhan men­dukung, menjunjung dan menggendong kita dari masa muda hingga masa tua. Selamat menikmati masa tua yang indah bersama Tuhan. —Prihanto Ngesti Basuki.
Doa: Tuhan, mampukan mensyukuri segala sesuatu yang telah
Engkau berikan padaku sampai masa tuaku ini. Amin.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 28 Mei 2011

Bergembiralah !


Baca: Amsal 17:22
Hati yang gembira membuat muka berseri-seri, tetapi kepedihan hati mematahkan semangat.
Amsal 15:13

 “Mau berbuat baik saja susah.” Suatu ka­limat yang menggambarkan keputusasaan se-seorang. Tampaknya hanya kalimat yang sederhana, tetapi jika dirasakan dampaknya sungguh luar biasa. Bagaimana tidak, orang yang mau berbuat baik saja mengalami kesu­litan. Lalu apa yang harus diperbuat?
Amsal 15:13 dan Amsal 17:22 meng­ingatkan kita untuk tidak berputus asa melainkan untuk bergembira sebab kegem­biraan mampu membuat kita bangkit mela­wan keterpurukan. Sebaliknya kekesalan dan semangat yang mengendur dapat membuat kita menjadi tak berdaya dan akhirnya terkapar.
Keberadaan kita di tengah-tengah lingkungan kita adalah untuk menjadi motivator dan inspirator bagi orang lain. Bagaimana bisa kita memotivasi orang lain kalau diri kita sendiri terpuruk, dan bagaimana mungkin kita menjadi inspirator bagi lingkungan kita kalau kualitas hidup kita digerogoti oleh keputusasaan.
Kita masih punya tugas yang telah Tuhan percayakan kepada kita untuk menjadi garam dan terang bagi lingkungan kita. Jika kita tidak mampu merealisasikan hal itu hanya karena kita selalu dirundung keputusasaan, maka berarti kita menyia-siakan kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. Oleh karena itu sekaranglah saatnya bagi kita untuk bangkit, membuat diri bersukacita, agar kita mampu untuk berbuah yang dapat dinikmati dan dirasakan oleh orang di sekitar kita. Dengan berbuah lebat dan dapat dinikmati oleh orang di sekitar kita berarti kita telah menghargai kepercayaan yang Tuhan berikan kepada kita. —Darmanto.

Pada akhirnya sekali lagi “...bergembiralah karena Tuhan;
maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang  diinginkan hatimu.” —Mazmur 37:4



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 27 Mei 2011

Anugerah Usia Lanjut


Baca: Kejadian 50:22-26
...Tidak lama lagi aku akan mati; tentu Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini....
Kejadian 50:24

Pesan-pesan terakhir dari seseorang yang akan menghadap Tuhan sering kali menjadi kenangan yang tak terlupakan bagi yang ditinggalkan. Yusuf dipanggil Tuhan pada usia seratus sepuluh tahun. Sebelum kemati­annya, ia masih bisa berkata kepada saudara-saudaranya yang dahulu mereka-rekakan yang jahat kepadanya. Apa yang kira-kira akan kita buat sebagai pesan terakhir hidup kita?
Katakan bahwa menjadi tua adalah anugerah. Menjadi tua bukan untuk disesali atau berharap segera kembali ke surga. Menjadi tua adalah anugerah. Tuliskanlah kenangan-kenangan indah perjalanan hidup kita dan waris-kan untuk dibaca anak-anak dan para cucu. Siapa tahu tulisan itu mem­beri inspirasi hidup kepada yang muda.
Bersihkan hati dengan memberi pengampunan. Jangan mening­galkan dunia ini dengan masalah yang belum selesai. Yusuf yang pernah dikhianati saudara-saudaranya tetap memberi pesan-pesan sebelum ia menutup mata. Lebih baik menutup mata dengan damai sejahtera dari pada membawa masalah yang tak terselesaikan. Anda memilih yang mana?
Kata-kata optimis dan mengandung berkat Allah. Kata Yusuf: “...Allah akan memperhatikan kamu dan membawa kamu keluar dari negeri ini...” Yusuf menghibur saudara-saudaranya, bukan malah dihibur. Sebuah pertanda bahwa di hari tuanya Yusuf tetap memiliki iman yang teguh di dalam Tuhan. Ubahlah saat-saat perpisahan bukan dengan air mata, tetapi dengan iman yang luar biasa. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Usia lanjut bukan cuma bonus, tetapi anugerah dari Tuhan
agar kita memuliakan dia melalui kesempatan yang disediakan-Nya.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 26 Mei 2011

Tiada Kata Terlambat

Baca: Kejadian 18:1-15
Sesungguhnya Aku akan kembali tahun depan mendapatkan engkau,
pada waktu itu Sara, istrimu, akan mempunyai seorang anak laki-laki.
Kejadian 18:10

Badannya tinggi tapi tidak kurus, kacama­tanya sangat tebal namun semangatnya luar biasa. Ketika memasuki usia pensiun sebagai hakim (63 tahun), dia memilih mengambil program pasca sarjana S2. Setelah lulus, bu­kannya menikmati hidup bersama anak dan cucu melainkan bersekolah lagi ke jenjang doktor. Di usia 68 tahun gelar Doktor disan­dangnya, tetapi dia belum puas dan memilih menjadi dosen di beberapa universitas. Saat ini usianya 72 tahun. Ketika saya bertanya kepada Bapak—sapaan saya untuknya, mengapa tidak bersantai saja bersama cucu? Jawabnya, “Masih ada ba-nyak pekerjaan yang harus diselesaikan untuk negara ini agar maju dan adil.” Istrinya seorang profesor yang juga mengajar di beberapa universi­tas. “Apakah ibu tidak lelah harus keluar kota setiap minggu?” tanya saya suatu kali. Jawabnya, “Saya senang membagi ilmu kepada murid-murid, hanya itu yang saya punya dan dapat saya bagikan.”
Cerita ini adalah sedikit dari banyak kisah tentang dosen-dosen yang masih berkarya di usia senja. Mereka terus berkarya tidak mengenal usia. Cerita ini mengingatkan saya kepada Abraham. Di tengah-tengah kegalauannya untuk mendapatkan keturunan di usia senjanya, Abraham telah bertemu dengan Tuhan melalui tiga orang yang berdiri didepan kemahnya (ayat 1-2). Karya dan simpati Abraham kepada mereka, telah menuai berkat sehingga Abraham dikarunia anak. Tidak ada kata terlam­bat bagi Tuhan, untuk kita selalu berkarya. Mari kita terus berkarya untuk sesama. —Pramudya

Tuhan hadir menghampiri kita melalui orang-orang
di sekitar kita, mari kita buka pintu hati kita.





=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 25 Mei 2011

Seandainya


Baca: 1 Tawarikh 16:34
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
1Tawarikh 16:34

Pada dasarnya manusia sangat senang ber-andai-andai. Hal ini disebabkan kekurang­percayaan manusia kepada Tuhan. Hidup yang sudah dilengkapi oleh Tuhan dengan segala yang baik, dirasakan masih jauh dari harapannya. Sesuatu yang sudah cukup ber­dasarkan rencana Tuhan dirasakan kurang oleh manusia karena tidak sesuai dengan pikirannya sendiri. Hal ini menjadikan rasa syukur kita hilang.
Jikalau hal ini terus-menerus muncul da­lam pikiran kita, maka yang muncul dalam angan-angan kita adalah terus berandai-andai. Misalnya, seandainya saya kaya, seandainya saya jadi pemimpin, dan sejumlah seandainya yang lain, yang belum pernah dicapai.
Kita yang sudah memasuki usia lanjut sebaiknya lebih memperhatikan kehidupan spiritualitas kita. Semakin lanjut usia semakin menajamkan hidup spiritualitas kita. Bukannya malah menajamkan mulut dan lidah kita sehingga melukai sesama.
Jikalau ada angan-angan atau cita-cita yang belum kesampaian, kita berdoa kiranya Tuhan memberi hikmat kepada anak-anak kita sehingga anak-anak kita dimungkinkan dapat merealisasikannya sesuai dengan kehendak-Nya.
Yang perlu terus kita ingat adalah bahwa Allah beserta kita (Imanuel) melalui kehadiran Juru Selamat kita, Tuhan Yesus (Matius 1:23). Jikalau begitu kurang apa lagi? Mengapa kita masih dipenjarakan oleh pikiran yang berandai-andai yang pada akhirnya membuat kita tidak dapat me­nyucap syukur kepada Tuhan?
Mari mulai sekarang kita lebih mengucap syukur kepada Tuhan karena Ia baik. Sungguh, untuk selama-lamanya kasih setia-Nya. —Adi Soesanto.
Semoga iman kita bertumbuh, sehat, menjadi gemuk dan berbuah.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 24 Mei 2011

Genggaman Kita


Baca: Mazmur 90:12
Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12

Ada yang kita genggam dalam hidup kita. Sesuatu yang berharga biasanya digenggam erat-erat, seolah tidak boleh hilang atau terlepas dari tangan kita. Jabatan, karier dan kedudukan sering kali kita genggam erat- erat, supaya tidak jatuh ke tangan orang lain. Bahkan kalau perlu kita pertahankan mati-matian. Namun karena faktor usia yang tidak dapat dicegah, orang harus rela melepaskan semuanya itu dan memasuki babak baru pada saat pensiun. Kita harus iklas dan legowo menyerahkan kepada yang lebih muda.
Kita buka genggaman tangan kita, itu adalah langkah kedua sesudah kita sadar bahwa kita harus menyerahkan kepemimpinan kita kepada yang lebih muda. Kita menarik diri selangkah, mundur ke belakang, tiba saatnya kita menjadi seorang pengamat dan penasihat. Membiarkan orang lain yang menentukan keputusan dan kita tidak menjadi sosok penyulit di sampingnya.
Kita cari peran baru yang masih dapat dilakukan. Sosok pensiun-an bukan menjadi laskar tidak berguna yang sudah tidak dapat apa-apa. Dalam waktu luang kita dapat menjadi penulis yang produktif, dengan segudang pengalaman yang dapat menjadi wahana belajar bagi siapa saja yang rindu untuk belajar mendapatkan kearifan kehidupan, menekuni hobi baru, aktif dalam kegiatan sosial termasuk di gereja. Itu adalah tindakan yang jauh lebih bijaksana dan berguna dan orang lain akan merasakan manfaatnya.
Pemazmur mengajarkan ajar kita bijak menghitung hari-hari kita agar kita mendapatkan makna hidup yang bijaksana. Termasuk menjalaninya dan mengisinya dengan bermakna. —Pdt. Agus Wiyanto.

Hari hari hidup manusia adalah terus maju ke depan,
bukan mundur ke belakang dan kembali ke masa silam.
Sambutlah hari baru dengan semangat baru.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 23 Mei 2011

Rendah Hati

Baca: Filipi 2:3
...Sebaliknya hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.
Filipi 2:3

Seorang hakim yang sombong suatu kali berkata kepada seorang petani tua, “Mengapa kamu tidak menegakkan kepalamu seperti saya? Saya tidak menunduk di hadapan Tu­han ataupun di hadapan manusia.” Jawab petani tua itu, “Pak Hakim, lihatlah sawah itu. Hanya biji yang kosong yang tegak. Biji yang berisi menunduk rendah” (ide ceritera Caper’s Weekly).
Barangkali kita tersenyum mendengar cerita ini. Barangkali pula sebagai orang lan-jut usia kita ikut bangga, karena yang berkata sedemikian bijak adalah seorang tua. Namun cerita itu pasti bukan untuk menggambarkan bahwa setiap orang tua identik dengan rendah hati.
Kita tahu betapa sulitnya menjadi rendah hati, apalagi bagi orang tua. Kecenderungan manusia adalah membanggakan dirinya. Sebagai orang tua tak jarang kita juga memiliki kecondongan itu. Merasa diri telah banyak “makan asam garam”, banyak pengetahuan dan pengalaman. Di sisi lain sebagai orang tua harus mulai melangkah ke belakang. Jika kita tidak waspada, tanpa kita sadari ke dua hal itu, (aku punya pengalaman, jadi aku tak mau surut ke belakang) bisa menjebak kita dalam sikap tinggi hati. Dibutuhkan sikap legowo, rela atau ikhlas.
Sesungguhnya Allah menentang orang yang congkak, tetapi meng-asihani orang yang rendah hati (Yakobus 4:6). Oleh karena itu mari kita merendahkan hati kita di hadapan Tuhan karena itu seperti magnet yang akan menarik belas kasih dan uluran tangan Tuhan. Mari menjadi teladan sikap rendah hati di mana pun kita berada dan sebagai apa pun kita. —Liana Poedjihastuti.

Doa: Ya Tuhan, berilah kami rahmat rendah hati. Amin




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 22 Mei 2011

Obesitas Rohani


Baca: Mazmur 1
Ia seperti pohon yang ditanam di tepi aliran air, yang menghasilkan buah­nya pada musimnya, dan yang tidak layu daunnya; apa saja yang diper-
buatnya berhasil.
Mazmur 1:3

Hampir setiap orang takut dengan kege-mukan. Ada yang gemuk minta dikuruskan, yang kurus minta gemuk. Manusia memang repot. Mendengar obesitas, orang menjadi takut karena penyakit yang satu ini membuat orang susah bergerak dan berubah bentuk kurang menarik. Bagaimana dengan obesitas rohani? Ge­muk secara rohani tidak membuat orang takut, tetapi justru bersyukur karena asupan gizi yang dari Tuhan benar-benar berlebih. Pemazmur mengalami hal itu. Bagaimana caranya agar kita gemuk se-cara rohani?
Posisikan di tempat Tuhan bukan di tempat lain. Pemazmur ber­jalan, berdiri dan duduk di tempat yang disediakan Tuhan (ayat 1). Di usia lanjut setelah sekian tahun kita berjalan, berdiri, duduk dalam ke-sibukan mengurus anak-anak, usaha, dan karier, apakah tidak sebaiknya kita mulai menempatkan diri di posisi Tuhan? Cobalah!
Ubah kesukaan duniawi menjadi kesukaaan surgawi. Pemazmur berkata bahwa kesukaannya ialah Taurat Tuhan. Di usia lanjut agar men-cegah pikun usahakan untuk sering membaca agar mendapat manfaat ganda dari kegiatan itu, yaitu mencegah kepikunan dan gemuk dengan firman Tuhan. Cobalah!
Jika hati senang, maka penampilan tetap semangat. Pemazmur menulis bahwa pohon yang ditanam di tepi aliran air tidak layu daunnya. Hidup yang terus diisi dengan firman Tuhan akan beda penampilannya dengan hidup yang kosong. Tetap semangat, ceria dan optimis meng-hadapi hari depan. Cobalah pasti bisa! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Obesitas rohani adalah gemuk dari dalam, tetapi tetap tampil
menarik karena cahaya Ilahi menyembul keluar.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 21 Mei 2011

Mengubah Pikiran


Baca: Efesus 4:17-32
...supaya kamu dibarui di dalam roh dan pikiranmu....
Efesus 4:23

Selama bertahun-tahun seorang petani ter­paksa membajak di sekeliling sebuah batu besar yang ada di tengah sawahnya. Suatu hari petani ini memutuskan untuk melaku­kan sesuatu. Ia mengambil sebuah linggis dan menancapkannya ke dasar batu itu. Ia sangat terkejut karena ternyata batu itu hanya mempunyai ketebalan tiga puluh sentimeter dan dapat dihancurkan dengan mudah. Ia tersenyum dan lega sebab selama bertahun-tahun ia mengalami kesulitan karena adanya batu itu. Seharusnya, betapa mudahnya ia
dapat menyingkirkan batu itu, kalau ia segera mengubah pikirannya dan mencari cara lain mengatasinya.
Mengapa kita sulit menjadi berkat bagi orang lain? Mengapa hidup kita seolah kehilangan makna? Mengapa banyak ketidakbahagiaan dan ketidakpuasan terjadi dalam hidup kita? Mungkin kita perlu mengubah pola pikir dan cara hidup kita yang selama ini begitu dikuasai oleh pikir-an yang menyesatkan yang kemudian tanpa kita sadari terekspresi dalam sikap hidup kita.
Paulus menggunakan istilah “manusia lama” dengan pikiran dan pe-ngertiannya yang gelap, telah mematikan kemampuan manusia untuk menjadi berarti dan bermakna. Kita harus mengambil keputusan untuk mengubah pikiran dan hati yang berpusat pada hal-hal yang menyesatkan dan mengarahkannya pada Kristus (ayat 20-22). Cara demikian akan menjadikan kita sebagai “manusia baru” yang memiliki pikiran dan hati Kristus dan memampukan kita untuk mengerjakan perbuatan-perbuatan yang mendatangkan kebaikan dan membangun kehidupan orang lain (ayat 28-32). —Pdt. Meyske S. Tungka.

Rintangan terbesar untuk bertumbuh dan berbuah di dalam iman adalah keengganan untuk mengubah pikiran dan cara hidup yang sia-sia.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 20 Mei 2011

Mantan Aktivis

Baca: Yohanes 4:31-38
“Makanan-Ku ialah melakukan kehendak Dia yang mengutus Aku
dan menyelesaikan pekerjaan-Nya”
Yohanes 4:34

Disebut mantan panatua karena memang seseorang tadinya pernah mengemban jabatan itu dan sekarang sudah tidak lagi. Sebab jabatan itu memang ada periode atau masa baktinya. Demikian pula halnya dengan sebutan mantan ketua komisi, dan sebutan lainnya. Semua tadi berkaitan dengan jabat-an yang memang ada periodenya, kalau begitu, tepatkah sebutan mantan aktivis?
Walau mungkin banyak orang latah me-nggunakan istilah ini, bukankah semesti- nya kita justru perlu risih mendengar istilah
seperti ini. Sebab mantan aktivis berarti dahulu pernah aktif tetapi seka­rang tidak. Padahal, bukankah semestinya kalau menggunakan penger­tian yang benar, menjadi aktivis itu sepanjang hayat, seumur hidup. Sebab menjadi aktivis itu bukan jabatan yang punya periode. Menjadi aktivis itu sebutan yang melekat pada siapa pun yang bergiat menggunakan waktu, tenaga dan pikiran untuk melayani pekerjaan Tuhan.
Sudah barang tentu beda kurun usia, akan berbeda pula jenis aktivi­tas yang dijalaninya. Kegiatan seorang aktivis yang berusia remaja pasti berbeda dengan kegiatan seorang aktivis yang berusia lanjut. Tetapi ini artinya, sampai usia lanjut pun seseorang masih tetap bisa menjadi seorang aktivis.
Seorang bapak di usia mudanya pernah menjabat penatua, kemudian ia aktif di komisi. Jabatan terakhirnya adalah ketua komisi usia lanjut. Setelah periode pelayannya berakhir, ia terlibat dalam kegiatan pelawatan, kegiatan kelompok doa, kegiatan paduan suara. Pendek kata, tak pernah ada kata berhenti untuk kegiatan melayani Tuhan. Bagaimana dengan Anda? —Handoyo.

Makan dilakukan manusia selama masih hidup, dari muda
sampai tua. Itu sebabnya Tuhan Yesus berkata: makanan-Ku
ialah melakukan...dan menyelesaikan pekerjaan-Nya.





=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi