Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 11 Februari 2011

Berapa Banyak Boleh Makan Lemak

Tayang: Sabtu, 19 Mei 2007 · Kometar:Belum Ada 
LEMAK dan gula sumber tenaga bagi tubuh, selain memberi rasa gurih santapan kita. Dalam makanan selain lemak ada juga kolesterol. Makanan berlemak belum tentu ada kolesterolnya. Kacang betul tidak berkolesterol, tapi ada lemaknya. Dan lemak maupun kolesterol sama-sama jahatnya jika dikonsumsi berlebihan.
Lemak dan kolesterol dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Lemak takjenuh justru menyehatkan. Sedang lemak jenuh membahayakan kalau kita rakus mengonsumsinya.
Tapi rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh enaknya menu lemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat (P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya 25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.
Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi harus di atas 3.0.
Akibat kelebihan porsi menu lemak, tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah menjadi tenaga. Tapi cadangan tentu tak perlu berlebihan.
Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga. Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.
TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi. Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan hampir di semua bagian tubuh mana saja.
Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula.
Jangan lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu lemak belaka, melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak tubuh tambah menumpuk juga.
Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.
Seperti kolesterol, lemak bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K, beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.
Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit, misalnya, bisa muncul jika menu harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Kolesterol dibutuhkan buat pembuat hormon.
Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya, sedang minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, dikonsumsi secukupnya saja.
Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low Density Lipoprotein).
Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak murni yang berisi lemak belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.
Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan kelewat tinggi, atau dipakai berulang. Maka tak sehat mengonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan makan jajanan gorengan, yang tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah berapa kali dipakai ulang.
Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 -3.000 kalori sehari. Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja. Sesendok makan minyak goreng berisi 15 Gram.
Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.
Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu kalau itu jenis makanan “ampas” junkfood sebab yang tertinggal hanya gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin. Itu yang disebut “menu kosong”.
Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal jauh lebih segar.
Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari. Sekali lagi, kesehatan kita ada di dapur, bukan di restoran.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Kesehatan ada di dapur bukan di restoran

Tayang: Sabtu, 14 Juli 2007 · Kometar:Belum Ada 
Lemak dan kolesterol dibutuhkan tubuh setiap hari. Seperti kolesterol, ada jenis kolesterol jahat ada juga jenis yang baik. Begitu juga dengan lemak. Kalau lemak takjenuh justru menyehatkan, lemak jenuh malah membahayakan kalau kita rakus mengkonsumsinya.
Rata-rata mulut orang modern sudah dirusak oleh enaknya menu berlemak. Porsi lemak dalam menu harian sering kebablasan melebihi takaran yang dibutuhkan tubuh. Porsi lemak jenuh hampir selalu lebih besar dari porsi lemak takjenuh. Itu maka nilai menu Polyunsaturated fat/Saturated fat (P/S) orang modern cenderung rendah atau sekitar 0,33 jika lemak takjenuh hanya 25% sedang lemak jenuhnya mencapai 75%.
Yang menyehatkan mestinya punya nilai ratio kebalikannya. Lemak tak jenuh (P) yang 75% dari total lemak yang dimakan, dan lemak jenuhnya (S) cukup 25% saja, sehingga ratio P/S yang terbilang tinggi harus di atas 3.0.
Akibat cenderung kelebihan porsi menu berlemak, tubuh menggendong kelebihan lemak. Lemak yang berlebih paling banyak disimpan pada organ ginjal, hati, dan jantung, selain di bawah kulit. Gajih di kulit ini yang membuat orang terlihat tambun. Fungsi gajih sebagai cadangan kalau sewaktu-waktu tubuh kekurangan makan, atau sedang berpuasa, untuk diubah menjadi tenaga.
Menu lemak porsi berlebih bukan cuma bikin badan tak sedap dipandang. Kadar lemak darah triglyceride (TG) ikut meninggi juga. Jika sudah begitu, umumnya kolesterolnya juga ikut tinggi pula.
TG tinggi sama buruknya dengan kolesterol tinggi. Sekutu keduanya membawa orang memikul risiko kena jantung koroner, stroke, dan semua jenis penyakit pembuluh darah. Karat lemak penyumpal pada pipa pembuluh darah akan lebih cepat terbentuk juga pada pembuluh darah bolamata, ginjal, dan hampir di semua bagian tubuh mana saja.
Repotnya budaya makan yang salah mengantarkan hidup jadi sesat. Anggapan gemuk itu makmur, membawa para ibu berpikir untuk memberi anak porsi makan kelewat berlebihan, sejak anak masih bayi mula. Jangan lupa, yang bikin lemak berlebih dalam tubuh bukan cuma menu berlemak belaka, melainkan karbohidrat juga. Makan nasi sebakul setiap hari bikin cadangan lemak tubuh tambah menumpuk juga.
Jika sejak kecil anak kelebihan porsi makan maupun menu lemaknya, sel-sel lemak tubuhnya bukan saja gemuk-gemuk, tapi juga beranak-pinak lebih banyak dari yang dimiliki anak normal. Itu sebab jika patron sel lemak tubuh sudah terbentuk begitu, tak mungkin bisa dikempiskan lagi. Itu berarti gemuk sedari kecil jadi malapetaka di usia tua. Maka di mana-mana negara maju sekarang mulai belajar dari kesalahan di masa lalu. Bahwa tidak gemuk itu sehat, dan gemuk berarti sedang menggali kubur sendiri.
Seperti kolesterol, lemak bukan harus dijadikan musuh. Serba sedikit dan secukupnya saja tubuh membutuhkan keduanya setiap hari. Selain buat transpor vitamin A,D,E, dan K, beberapa jenis lemak bersifat esensial, atau tidak boleh tidak ada dalam menu.
Salah satu lemak esensial dalam bentuk asam lemak linoleac dan linolenac, selain beberapa asam lemak esensial yang jika sampai kekurangan, tubuh jadi sakit. Eksem dan penyakit kulit bisa muncul jika menu harian kekurangan linoleac, sebab tubuh tidak bisa memproduksinya sendiri. Kolesterol sendiri dibutuhkan buat pembuat hormon.
Lemak jenuh berasal dari lemak hewani, sedang lemak takjenuh berasal dari bahan nabati. Tubuh butuh kedua-duanya, namun lemak takjenuh lebih berharga ketimbang lemak jenuh. Maka pilihan paling sehat memang tetap berpihak pada lemak takjenuh yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti minyak bunga matahari, minyak zaitun, minyak jagung, dan sejenisnya. Sedang minyak jenuh dari minyak kelapa, minyak hewan, secukupnya saja.
Kalau lemak jenuh bikin penyakit, lemak takjenuh justru menghapuskan penyakit. Maka sekarang banyak ditawarkan makanan sehat terbuat dari lemak takjenuh ganda termasuk khasiat minyak ikan dari laut dalam sebagai senjata anti terhadap lemak jahat TG maupun kolesterol jahat LDL (Low Density Lipoprotein).
Dalam sebuah bahan makanan bisa terkandung lemak maupun kolesterol sekaligus. Hanya minyak nabati murni yang berisi lemak belaka. Daging merah mengandung lemak selain kolesterol juga. Maka selain membatasi lemak jenuh dari daging merah (kambing, babi, sapi), perlu cenderung memilih daging putih dari pilihan daging kelinci, unggas, ikan, dan sejenisnya selain perlu memperbanyak jenis minyak nabati.
Tapi jangan lupa. Minyak takjenuh bisa berubah teroksidasi menjadi lemak jenuh jika dipanaskan, atau dipakai berulang. Maka tak sehat mengkonsumsi minyak jelantah, atau kebiasaan jajanan gorengan, yang tak jelas jenis minyaknya, apakah minyak bekas entah dari mana, dan sudah berapa kali dipakai ulang.
Kalau begitu berapa banyak tubuh membutuhkan lemak? Rata-rata kita membutuhkan sekitar 15 persen lemak sehari dari total kalori. Orang dewasa dengan kerja kantoran butuh sekitar 2.500 kalori sehari. Jadi kebutuhan lemaknya sekitar 375-450 kalori. Oleh karena 1 gram lemak setara dengan 9 kalori, maka kebutuhan lemak sehari sekitar 40-50 Gram saja.
Namun konsumsi lemak berbeda-beda antar lintas kultur, pola dan kebiasaan makan, maupun ras tertentu. Penduduk di hawa dingin seperti di Eskimo butuh lemak lebih banyak buat penghangat tubuh.
Tapi kultur Barat cenderung punya pola konsumsi lemak rata-rata sampai 35-35 persen dari total kalori sehari. Kultur itu yang membawa generasi mereka menyimpan ancaman penyakit jantung dan stroke. Tanpa sadar kita meniru kesalahan fatal budaya Barat, ketika setiap hari kita masih saja memilih burger, hotdog, fried chicken, dan fastfood yang semua orang tahu kalau itu jenis makanan ‘ampas’ junkfood sebab yang kebanyakan tertinggal berupa gula, garam, dan lemak, selain bumbu penyedap, pengawet, dan zat warna buatan, yang sudah hampa gizi dan kehilangan vitamin.
Sungguh mungkin kita lupa kalau kita punya pisang rebus, jagung bakar, pepes ikan, dan lalapan yang jauh lebih kaya gizi. Selain bukan tergolong menu pembawa maut yang bikin kita mati prematur, makanan lokal jauh lebih segar. Jadi sesungguhnya umur kita juga ditentukan oleh apa masakan di dapur dan seberapa bijak menu yang tersaji di meja makan ibu setiap hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Iklan Obat Kita

Tayang: Minggu, 9 Desember 2007 · Kometar:Belum Ada 
RAMAI dibicarakan orang minuman berserat, minuman penyegar, dan sejenisnya (smart drink) yang di Barat disangsikan orang. Orang bertanya apa ada faedahnya? Kalau ada, apa perlu diminum? Kalau memang perlu, apa tidak ada efek sampingnya?
Pasien kita umumnya kelewat gampang termakan iklan obat. Jika iklan obat semakin genit, konsumen pasti merugi. Iklan obat keputihan di televisi, misalnya. Pasien mungkin mengira jenis keputihan cuma satu, dan obatnya hanya itu. Bujukan iklan barang tentu tak menyembuhkan jika keputihannya disebabkan infeksi. Keputihan juga bisa gejala kanker kandungan. Jika kanker terus mengandalkan obat iklan, kanker tak sembuh. Itu berarti kanker tertunda tidak diterapi. Terlambat kanker diterapi, buruk buntutnya.
Demikian pula bunyi iklan obat batuk, atau obat mencret. Di mata medis terkesan iklan menyederhanakan penyakit. Persepsi masyarakat tentang penyakit jadi rancu, seakan semua obat batuk, obat mencret, atau obat lainnya niscaya menyembuhkannya. Padahal tidak begitu di penglihatan medis. Penyebab penyakit bisa lebih dari satu. Lain penyebabnya, lain pula obatnya.
Harus diakui pranata kesehatan masyarakat kita rata-rata belum tinggi. Wawasan dan pengetahuan obat masyarakat belum memadai untuk berobat swamedikasi. Padahal di tengah krisis begini, agar berobat bisa efisien, ketika harga dan ongkos berobat masih tinggi, selama sakit belum berat, berswa-medikasi dianggap pilihan paling tepat.
Namun pilihan berswamedikasi membahayakan khalayak jika iklan obat masih mengecoh. Masih banyak konsumen terpedaya iklan panas dalam, susu kuda liar, jamu sarirapet, benalu kanker, serat antisembelit, dan entah apa lagi yang tak jelas indikasi dan sukar masuk nalar medis. Pasien kita pun gampang sembarang memakai sendiri obat resep dokter, karena obat dokter bisa dibeli bebas di pasar gelap.
Sejatinya tidak semua yang mengaku obat, masuk nalar medis. Dunia medis sendiri sedang ditantang mengorek begitu banyak ragam pengobatan dan penyembuhan nonmedis yang membingungkan pasien. Memang tidak semuanya nonsens. Ada yang perlu diperhitungkan.
Harus diakui pula pengetahuan dokter tentang phytopharmaca, tumbuhan berkhasiat, dan jamu, tidak seluruhnya dikuasai. Alih-alih memberi advis profesional, mengenal produk saja pun dokter mungkin belum tahu. Padahal kini banyak jamu nakal sebab diisi obat dokter, selain ramuan yang mengaku bisa menyembuhkan segala penyakit. Dalam nalar medis, tak ada obat penyembuh seribu satu macam penyakit seperti kata iklan.
Di mata medis pun tidak semua obat tradisional aman dikonsumsi. Belum lagi menghadapi banjirnya pengobat dan penyembuh tradisional berkedok terapi alternatif. Tidak semua yang mengaku terapi alternatif bisa diterima nalar medis. Namun harus diakui ada terapi dan penyembuhan alternatif yang masuk akal medis, sambil harus dicegah jika masih ada masyarakat terkecoh oleh iklan penyembuhan herpes, AIDS, atau hepatitis, yang di dunia medis belum ada obatnya. Logikanya, andai obat atau penyembuh nonmedis seperti itu terbukti benar, sudah dari dulu-dulu untuk temuan itu berhak mendapatkan Nobel. Nyatanya tidak.
SELAMA pranata dan wawasan kesehatan konsumen belum tinggi, berbahaya jika iklan obat, terapi alternatif, dan obat tradisional yang mengecoh tidak ditindak. Di keseharian masih ada pasien pergi ke orang pintar. Kasus tumor yang minta diangkat orang pintar, lalu pasien kecele sebab yang dikeluarkan cuma gajih kambing, misalnya, bukan kejadian satu-dua kali.
Selama nalar medis masyarakat belum tajam, pengobatan nonmedis mudah melipat-lipat akal sehat. Bahwa ada terapi alternatif yang masuk akal medis, sudah bagian dari penerimaan medis. Praktek accupuncture, homeopathy, macrobiotics, dan banyak lagi, kini berdampingan memperkaya praktik medis. Namun itu tak menjadi berarti setiap pengobatan maupun penyembuhan nonmedis laik diterima. Dan oleh karena nalar medis masyarakat masih lemah, banyak iklan obat memanfaatkan kelemahan semacam itu buat mengecoh.
Di Amerika yang masyarakatnya sudah lebih “melek sehat” pun Badan Pengawasan Obat Amerika FDA cukup dipusingkan iklan obat. Dalam setahun FDA harus mengirimi tak kurang 100 surat kepada perusahaan farmasi nakal. Mereka diimbau tidak memasang iklan obat yang menyesatkan di TV, majalah, atau koran. Jenis iklan yang membangun persepsi seolah obat bisa untuk segala penyakit (Dr.Bradford Ponzt). Rata-rata iklan obat menjanjikan klim efektivitas obat secara berlebihan, dan tidak balans menyebut efek samping.
Buat masyarakat kita yang masih belum semua “melek sehat”, pembuat iklan obat yang condong “mengambang” perlu diajak berunding. Media massa yang memuat iklan obat, pengobat nonmedis, dan penyembuh yang serong, juga perlu diajak mempertajam nalar medis agar masyarakat tak sesat berobat dan memilih obat dalam berswamedikasi.
Iklan obat tetes mata yang menjanjikan rabun jauh tak perlu pakai kacamata, sukar diterima nalar medis. Iklan obat kuat oles dari Cina, teknik memperbesar kemaluan, jamu sehat lelaki, samimawon. Tak jelas unsur berkhasiat tangkur buaya, pasak bumi, dan sejenisnya buat indikasi seks. Selain terkecoh boleh jadi juga membahayakan.
Jika iklan obat kulit berisi bahan berbahaya mercury dibiarkan, konsumen berisiko kena kanker kulit. Selain bahan berbahaya, mungkin akibat salah cara pakai sebab tak semua konsumen bisa baca aturan pakai dalam bahasa asing, sehingga bisa buruk efek sampingnya.
Begitu juga dengan obat kurus suntikan amphetamine di salon-salon yang berpotensi bikin sakit jantung, jadi murus-murus terus, atau menimbulkan kecanduan. Iklan obat gemuk tapi bikin tembam dan jerawatan, dan mens jadi kacau sebab isinya hormon berbahaya. Selain menyalahi kaidah medis, iklan-iklan nakal seperti itu berisiko merusak kesehatan konsumen.
ETIKA beriklan harus sama jujurnya dengan kerja profesi dokter. Jika iklan obat masih tak etis, semakin tumpul nalar medis masyarakat dibuatnya, dan masyarakat tersesat untuk menjadi sehat, selain tak hemat membelanjakan obat.
Ke depan kita masih akan menyaksikan masyarakat tersesat sewaktu berobat, oleh karena tentu jumlah obat bebas yang beredar semakin banyak dan beragam, sedang masyarakat belum dibikin pintar memilih obat, dan cara berobat yang benar. Itu berarti, ongkos berobat swamedikasi agar bisa mengirit, malah jadi pemborosan, dan hasilnya pun mungkin nihil.
Dalam berswamedikasi masyarakat perlu dimampukan kritis memilih berobat. Pemasang iklan obat, biro iklan, dan mereka yang menawarkan pengobatan dan penyembuhan nonmedis, perlu diajak bersepakat tidak menambah bodoh konsumen. Kontrol pemerintah terhadap semua iklan obat yang nakal tidak boleh lagi setengah hati.
Diperlukan sebuah komitmen ulang. Bahwa pekerjaan servis, melakukan reparasi, perawatan, pengobatan, dan penyembuhan terhadap tubuh manusia sepatutnya tetap diluhurkan. Tak elok membujuk orang sakit yang masih saja cenderung disikapi seperti sedang menawarkan parfum, menu akhir pekan, mirip layanan montir radio, atau kesibukan layaknya di sebuah bengkel mobil.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:
 

Perlunya “Paspor Medik”

Tayang: Rabu, 16 Januari 2008 · Kometar:Belum Ada 
BUKAN sedikit kasus fatal yang tak perlu terjadi bila dokter mengenali betul sosok medis setiap pasiennya. Tak cukup dokter teliti bertanya kepada pasien semata. Upaya untuk mencegah beragam kejadian medis yang tak diinginkan, perlu tahu pula seluruh riwayat medis pasien. Bahkan sejak pasien lahir.
Untuk maksud itu di kamar praktik sudah barang tentu tak cukup waktu mengorek semua data medis pasien. Maka kehadiran “paspor medik” yang mencatat seluruh data medis pasien sejak lahir, sungguh diperlukan. Terlebih untuk pasien kita yang rekam mediknya biasanya tercecer di mana-mana, sering tak lengkap, alih-alih utuh. Pasien sendiri berpindah-pindah dokter. Tak jelas pernah sakit apa, mengidap penyakit atau kelemahan apa, punyakah alergi?
“Paspor medik” bukan saja mencatat riwayat penyakit yang pernah pasien derita, melainkan pula semua data ihwal obat yang pernah diberikan,tindakan medis yang pernah dilakukan, serta catatan alergi, bakat penyakit turunan, atau kelainan medis lain yang perlu diwaspadai.
Ambil contoh kasus Stevens-Johnson Syndrome (SJS) yang sampai berakhir dengan kematian. Orang bertanya apa SJS juga kasus malpraktik? Kalau bukan, mengapa pasien yang merugi?
SJS tergolong kelainan kulit dan selaput lendir paling buruk dalam bentuk lepuh, dan merah meradang pada sekujur tubuh (erythema multiforme). Jika salah menangani, sering-sering berujung fatal.
Harus diakui, kebanyakan kasus SJS tak jelas penyebabnya. Obat dan terapi sinar diduga faktor pembangkit (induce) pada orang dewasa. Selain obat penenang barbiturate, antibiotika penisilin dan sulfonamide penyebab yang sering dituding.
Pada anak, SJS bisa terbangkitkan selama sedang terinfeksi. Sering-sering selagi terserang virus herpes simplex, dimasuki virus coxsackie, echovirus, selain pada ketika diserbu kuman mycoplasma pneumoniae, psittacosis, atau bisa juga saat dihinggapi jamur histoplasma, serangan SJS kerap menimbrung. Pada sebagian kasus, SJS juga muncul pascavaksinasi (cacar, BCG, polio).
Belum jelas mekanismenya sehingga obat dan infeksi sampai membangkitkan reaksi kulit hebat. Diduga ini bentuk reaksi hipersensitivitas. Tak ubahnya reaksi alergi obat yang muncul hanya berupa kaligata (biduran), atau syok (anaphylactic shock) bila berat, SJS bentuk reaksi alergi tergolong paling parah.
SAYANGNYA kemunculan alergi obat umumnya tak selalu bisa diprediksi. Yang bisa dilakukan dokter hanya menaruh sikap waspada memilihkan obat bagi pasien yang menyimpan bakat alergi. Untuk itu dokter tak boleh luput menanyakan ihwal bakat alergi obat. Namun tahu saja kalau pasien yang akan diberi obat berbakat alergi sering tak cukup. Mengapa? Karena spektrum obat berpotensi membangkitkan alergi bisa saja bukan dari jenis obat yang lazim. Bahkan tercatat, suntikan vitamin saja pun bisa alergi.
Apalagi andai dokter tidak menganggap perlu menanyakan bakat alergi pasien yang akan diberinya resep, dan pasien sendiri tidak tahu kalau bakat alerginya perlu diinformasikan kepada dokter yang akan memberinya obat. Terkait urusan pemberian obat, setiap dokter sudah memikul risiko sebagai penyulut munculnya kasus alergi obat. Di mata awam, pihak dokter berada dalam posisi dipersalahkan karena pasien beranggapan dokternya harus sudah tahu. Termasuk dalam hal kasus SJS.
Namun dibanding dokter di negara maju, dokter kita galibnya lebih berisiko menghadapi kasus reaksi alergi obat yang berisiko berperkara. Mengapa? Karena rekam medik pasien yang dilazimkan di semua negara maju, di kita sering tak lengkap kalau bukan malah tidak ada. Lebih sering dokter tak mengenal utuh siapa sosok pasiennya. Padahal ada pasien yang sekaligus tak cocok lebih dari satu jenis obat. Yang ekstrem, pasien tak berani mencoba minum obat apa pun.
Persoalan alergi obat diperpelik oleh tradisi rata-rata pasien kita tak memiliki dokter keluarga sehingga dokter yang dikunjungi belum tentu mengenal betul pasiennya, termasuk bila memiliki bakat alergi. Selain itu tradisi bergonta-ganti dokter, tiap kali selalu bertemu dokter berwajah baru, menambah risiko menerima obat yang tak cocok.
Lain dari itu, komunikasi dokter-pasien cenderung diburu waktu, sehingga pasien tak sempat bertanya ihwal obat yang dokter berikan, ikut meninggikan risiko bangkitnya kasus tak cocok obat (drug hypersensitivity reaction). Habis minum obat bibir jadi jontor, atau langsung pening dan gatal-gatal,misalnya.Masih untung kalau tak langsung semaput.
Alih-alih dilakukan tes terlebih dulu pada pasien yang dicurigai alergi sebelum obat yang dicurigai berpotensi membangkitkan reaksi alergi, sering-sering dokter tak cukup waktu menjelaskan ihwal perangai dan bagaimana kerja obat yang diresepkan. Padahal catatan MESO (monitoring efek samping obat) membeberkan fakta semakin berderet obat yang menyimpan bakat membangkitkan reaksi alergi.
ITU maka menjadi penting bagi setiap pasien memiliki “paspor medik”. Dalam “paspor medik” tercatat pula bakat alergi terhadap obat apa (saja). Dengan membaca “paspor medik”, untuk dokter yang pertama kali dikunjungi, pasien pun mengenal utuh sosok medis pasiennya, sehingga kasus dokter salah memilihkan obat, tak cocok obat, termasuk kasus SJS, tak lagi perlu terjadi.
“Paspor medik” yang selalu berada di kantong pasien berjasa juga sebagai label, misal, untuk pengidap diabetes andai suatu saat jatuh pingsan di tempat umum, sehingga pihak penolong tahu harus bagaimana. Manfaat lain bagi pengidap jantung, ayan, sedang mengonsumsi corticosteroid, pengidap penyakit menahun lainnya terkait dengan kemungkinan menghadapi krisis, atau kegawatdaruratan medik di tempat-tempat umum.
Melihat tabiat reaksi alergi obat, harus diakui kalau sejatinya tak semua kasus seperti itu bermuatan malapraktik. Kasus alergi obat akibat kondisi “bukan pasien dikenal”, atau SJS yang terbangkitkan ketika seseorang tengah terserang infeksi, arifnya bukan kepada pihak dokter delik aduannya layak dikirimkan.
Kasus alergi obat dikategorikan malpraktik bila dokter masih juga memberikan obat yang jelas-jelas ia tahu bakal membangkitkan reaksi alergi terhadap pasien yang ia tahu menyimpan bakat alergi. Majelis MKEK (atau Konsil Kesehatan) yang akan melacak dan menilai apakah betul seorang dokter telah berbuat alpa sehingga sampai-sampai membangkitkan kasus alergi obat apalagi bila sampai menghilangkan nyawa pasien yang secara perhitungan medik dan kapasitas profesinya seharusnya sudah bisa diprediksinya.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Serangan Jantung dan Stroke Dapatkah Dicegah?

Tayang: Selasa, 24 Juni 2008 · Kometar:Belum Ada 
Serangan jantung selain stroke, sekarang menimpa usia yang lebih muda, dan kalangan mana saja. Tidak selalu sebab faktor turunan, lebih karena kesalahan gaya hidup, kalau mereka yang tak berbakat jantung koroner atau stroke, masih terkena juga. Lebih lantaran ulah sendiri, jika penyakit yang sebetulnya dapat dicegah itu, menimpa kita juga. Bagaimana mudah mencegah penyakit yang tak selalu perlu terjadi itu?
JANGAN sampai penyakit jantung dan stroke menimpa keluarga kita. Sekali ada anggota keluarga yang menjadi korban, orang serumah harus memikulnya bersama. Bagi keluarga, merawat pasien jantung dan stroke bukan urusan satu-dua tahun.
Bisa jadi pasien yang dirawat di rumah menjadi beban keluarga sepanjang sisa hidup. Dan itu bisa berarti ongkos dapur harus lebih dihemat, dan negara telanjur kehilangan sumber daya bangsa yang mungkin masih produktif.
Apalagi jika yang menjadi korban tulang punggung keluarga. Kendati pasien jantung dan stroke masih bisa aktif bekerja, namun tak sebagus kinerja selagi masih normal. Maka seberapa bisa malapetaka itu jangan sampai singgah ke rumah kita. Bagaimanakah cara mencegahnya agar tamu tak diundang itu tidak datang?

Menjinakkan faktor risiko

Boleh dibilang hampir semua serangan jantung dan stroke sesungguhnya dapat kita cegah. Bagi yang berisiko terkena, perlu berupaya mengurangi semua faktor risiko yang diwarisinya. Sedang bagi yang tidak berisiko, jangan membiarkan risiko itu masuk dan bersarang dalam kehidupan.
Meniadakan faktor risiko penyakit jantung dan koroner berarti perlu ada usaha agar tubuh tidak gemuk, tak darah tinggi, tiada kencing manis, lemak darah tidak dibiarkan terus meninggi, bertekad untuk berhenti merokok, dan tidak memilih pola hidup yang memancing stres. Itu semua bisa diupayakan dengan cara lebih arif dalam makan, rajin bergerak badan, selain rutin minum obat.
Jangan menyerah pada keadaan. Mungkin ada bakat darah tinggi dan kencing manis. Dan itu bukan akhir segalanya. Obat dan cara hidup dapat mengendalikannya sehingga tidak harus merusak badan nantinya. Membiarkan keduanya merajalela, itulah kesalahan.
Dengan menghapus faktor risiko terserang jantung dan stroke, mereka yang membawa risiko bisa memiliki harapan hidup sama panjang dengan mereka yang tidak mewarisi risiko. Sebaliknya justru mereka yang sebetulnya tidak mewarisi risiko kena jantung dan stroke bisa mengundang risiko itu datang jika tubuhnya dibiarkan gemuk.
Gemuk bisa berarti banyak. Lemak darahnya mungkin tinggi, bisa jadi ada kencing manis juga. Apalagi kalau tetap merokok, darah tinggi dan kencing manis yang diidap bukan karena warisan melainkan lantaran salah dalam pola dan gaya hidup, bisa menjadi petaka.
Tanpa diobati, membiarkan kedua penyakit menahun itu orang akan menanggung nasib yang sama buruknya dengan mereka yang mewarisi turunan berisiko. Fakta begini yang semakin banyak tumbuh dalam keluarga modern, yang kecukupan maupun yang serba kekurangan. Orang susah yang hanya mampu makan dengan ikan asin tiap hari mencetuskan darah tinggi juga yang mungkin bukan bakatnya. Konsumsi garam dapur berlebihan pencetus kebanyakan darah tinggi orang sekarang.

Kaya miskin sama saja

Orang bisa mati akibat kekayaannya, bisa juga lantaran hidup serba kekurangan. Yang hidup kecukupan, berkelimpahruahan yang ditumpahkan ke dalam menu dan keliru dalam memilih gaya dan pola hidup itulah yang membawanya masuk ke dalam risiko terkena jantung, dan atau stroke.
Petaka yang sama dialami pula oleh yang karena kepapaan hidupnya sehingga membawanya jatuh ke dalam risiko terserang jantung dan stroke juga. Faktor peradangan (inflamasi) oleh kuman tertentu (Chlamydia sp) pada pembuluh darah, kini kedapatan menjadi salah satu penyebab terbentuknya penyumbat pembuluh koroner jantung dan otak (atherosclerosis). Itu berarti kaum papa berisiko kena jantung dan stroke juga.
Begitu juga dengan peran vitamin-mineral tertentu terhadap keutuhan pembuluh darah tubuh yang bisa juga dirusak oleh racun radikal bebas dari menu harian, polusi udara, atau dari mana pun datangnya.
Itu maka dibanding tubuh orang yang hidup kecukupan, tubuh orang papa lebih rentan terkena peradangan selain kekurangan vitamin-mineral sehingga nasib pembuluh darahnya sama buruk dengan orang kecukupan dalam hal terserang jantung dan stroke.
Kita tahu warisan bertubuh gemuk, darah tinggi, dan kencing manis sebagai faktor risiko kena penyakit jantung dan stroke, tidak harus berasal dari silsilah kelompok orang berkecukupan. Orang yang hidupnya susah dan membiarkan gemuk akan sama memikul risiko terserang jantung koroner, atau stroke-nya juga. Belum dihitung faktor stres terhadap kemunculan jantung koroner dan stroke.
Akibat kepapaan, ketidakmampuan, dan ketidak-terdidikannya, mengonsumsi menu murah yang mengandung racun radikal bebas menjadi penyebab lain serangan jantung dan stroke di kalangan kaum papa.
Kita tahu dampak sosial penyakit jantung dan stroke bagi keluarga papa lebih tak terpikulkan. Selain kehilangan produktivitas, penyakitnya belum tentu tuntas terobati. Jika harus operasi bypass, atau dipasang cincin stent, yang ratusan juta rupiah, misalnya.

Kembali hidup pasrah alami

Maka pilihan hidup kembali ke alam, siapa pun kita, sikap bijak hidup di alam modern. Menu alami, guyub dalam keluarga, sikap menerima, mengendurkan stressor, dan merasa cukup sebagai orang biasa.
Kita melihat dari tokoh-tokoh nama besar. Di antara mereka juga kalangan atlet. Kelihatan secara fisik mereka bugar. Tapi kalau nyatanya terserang jantung koroner atau stroke juga, itu karena stressor yang mereka pikul melebihi kemampuan ketahanan jiwa.
Orang kecil, yang hidupnya dirundung kesusahan memikul stressor yang berbeda. Namun sesungguhnya, sikap pasrah, dan positif terhadap stressor, tahu bahwa Tuhan bekerja, dan memberi jalan kepada kita, sikap pasrah sempurna insani. Tidak berharap lebih, tahu porsi sendiri, sikap mawas diri, merasa cukup untuk apa yang sudah Tuhan beri-merupakan bentuk kepasrahan total yang menyehatkan jiwa. Separo penyakit orang sekarang, faktor stres pencetusnya. Percuma badan sudah dibuat bugar, kalau jiwa getas dan rapuh. Percuma badan dan jiwa tegar, dirundung stressor tak berkesudahan jiwa akan kalah juga. Pada saat jiwa gagal menyesuaikan diri dengan stressor itulah, orang jatuh stres. Bentuknya bisa macam-macam. Salah satunya berupa serangan jantung, dan atau stroke.
Memilih makan sederhana, tidak berlebih, hidup santai, tidak mimpi muluk, nyaman dalam keluarga, bercengkerama dengan tetangga, merasa diri diterima orang lain, merasa memberi manfaat dan berkat bagi orang lain, dan hidup guyub, barangkali cara mudah dan murah membatalkan penyakit yang tidak sederhana dampaknya bagi anggaran keluarga, pekerjaan, dan beban keluarga di kemudian hari.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Awas Gagal Ginjal

Tayang: Senin, 3 November 2008 · Kometar:1 
Seorang CEO perusahaan nasional baru-baru ini dicangkok ginjal hanya sebab urusan sepele. Tidak pernah check up. Tahu-tahu fungsi ginjalnya sudah jelek. Celakanya, tidak merasa ada keluhan berarti selama ini. Bagaimana mungkin?
BUKAN cerita baru kalau kecolongan gagal ginjal lalu mau tak mau harus cangkok ginjal. Gara-gara soal kecil, ongkosnya jadi mahal. Maka informasi ihwal bagaimana menjadikan “sehat itu murah” (Sorry meminjam judul sebuah buku saya), sebetulnya betapa berharga.
Juga ihwal kasus seorang mantan pejabat yang saya temui tahun lalu. Ia menyesal baru mengenal saya setelah cangkok ginjal. Ia tidak tahu kalau minum obat Cina buat encok selama beberapa tahun telah merusak ginjalnya, tanpa ia insafi.
Betul keluhan encoknya mereda sejak minum obat tak jelas itu, namun telah mengorbankan ginjalnya yang mahal itu. “Kalau saja sebelumnya saya mengenal dokter, dan mendapat informasi bahwa minum jamu, obat tradisional, atau herbal sembarangan, bisa membahayakan ginjal, saya tidak jadi begini…,” ujar sang mantan yang memang benar banyak uangnya, tak soal harus cangkok ginjal.
Tapi uang itu tersedot juga buat ongkos ganti ginjal sekitar Rp 400 juta, dan tiap hari harus minum obat seharinya sekitar Rp 100 ribu terus menerus agar ginjalnya tidak ditolak tubuhnya.
Dua kasus di atas jadi pelajaran mahal, betapa mudah ginjal menjadi rusak, yang sesungguhnya tidak sukar mencegah hal itu terjadi. Percuma banyak uang kalau ginjal sudah cacat fungsinya. Kendati tertolong, lebih baik memiliki ginjal sehat.
Bagaimana caranya menjaga ginjal agar senantiasa sehat?

Cukup minum dll.

Benar. Cara sederhana tidak boleh kurang minum. Sang CEO di atas menjawab pertanyaan wartawan ketika diwawancara menyatakan bahwa sebetulnya dilarang banyak minum, seolah minum banyak disalahkan sebagai perusak ginjal.
Yang betul, bahwa setelah ginjal menjadi payah, lalu gagal, memang tidak lagi boleh banyak minum, dan minum amat dibatasi. Tujuannya agar tidak membeni ginjal yang sudah kepayahan (renal failure), selain membatasi asupan menu berprotein, dan mineral kalium (dari bebuahan).
Namun selama ginjal masih sehat, justru perlu banyak minum agar fungsi menyaringnya lancar. Ginjal menyaring sekitar 170 liter darah yang melaluinya dalam sehari, dan deras 1,2 liter/menit, untuk menghasilkan sekitar 1-2 liter urin/hari nonstop sepanjang hayat. Tugas ini dipikul oleh pembuluh darah rambut yang berupa gelungan (glomerulous) yang dalam sebuah ginjal berisi 1,2 juta buah. Maka untuk itu asupan minum tidak boleh kurang. Termasuk jika kehilangan cairan atau darah tubuh.
Agar fungsi penyaringan ginjal lancar dan normal, kondisi pembuluh darah kapiler ini harus normal, tanpa ada bendungan, sumbatan, atau kerusakan. Setiap kondisi yang menyebabkan terganggunya aliran dan derasnya darah memasuki ginjal, akan menurunkan fungsi ginjal.
Fungsi ginjal juga terganggu apabila aliran urin yang diproduksi terganggu. Sampah darah yang berisi racun, dan sisa metabolisme yang mestinya dibuang tidak boleh terbendung di dalam ginjal. Adanya batu kemih, entah di ginjal, di pipa saluran ureter (penghubung ginjal dan kandung kemih), maupun di kandung kemih sendiri, akan menahan pengeluaran urin yang diproduksi ginjal. Ginjal terendam urin, dan itu yang akan mengganggu fungsinya, selain merusaknya (hydronephrosis). Hal ini juga terjadi pada tumor ginjal, kista ginjal, ginjal, atau pada pembesaran prostat.
Fungsi ginjal menurun juga bila telah terjadi komplikasi akibat hipertensi dibiarkan untuk waktu lama, selain sebab kencing manis, asam urat tinggi, sehingga struktur ginjal terganggu. Ginjal jadi bocor mengeluarkan yang mestinya dibuang, atau menahan yang mestinya diperlukan tubuh. Maka tubuh keracunan sisa sampah metabolisme, khususnya ureum (uremia), selain kehilangan zat dan mineral lain. Mulut jadi berbau pesing. Ini jadi salah satu petunjuk fungsi ginjal menurun.
Maka salah satu cara sederhana mengetahui fungsi ginjal cukup dengan memeriksa laboratorium darah kadar ureum yang tak boleh lebih dari 40 mg/dl, selain kadar creatinine yang kurang dari 1,0. Atas dasar nilai abnormal inilah indikasi perlu cangkok ginjal ditetapkan.

Waspadai infeksi kemih

Selain tak boleh kurang minum, sebaiknya tidak menahan kencing. Terutama bagi mereka yang ada riwayat infeksi saluran kemih. Jangan anggap enteng infeksi kemih. Perempuan lebih rentan (sebab saluran kemih bawahnya lebih pendek daripada pria). Anyang-anyangan sehabis hubungan seksual, selesai mens, atau menjalani puasa minum, harus dicurigai sebagai awal infeksi saluran kemih bawah.
Infeksi saluran kemih bawah (urethritis) yang tidak tuntas diobati akan sering kambuh, dan lama-lama menjalar ke ginjal juga. Ginjal yang sudah terinfeksi, akan rentan untuk rusak, selain memicu terbentuknya batu.
Adanya batu kemih dan infeksi saluran kemih merupakan lingkaran setan perusak ginjal. Ada infeksi mencetuskan pembentukan batu, dan sebaliknya adanya batu mencetuskan kumatnya infeksi kemih. Maka rantai itu harus diputus dengan cara menyembuhkan tuntas infeksinya, dan meniadakan pembentukan batu kemihnya.
Batu kemih terbentuk karena dua hal. Pertama faktor bakat (turunan). Pada orang yang mewarisi bakat, mudah terbentuk batu kemih. Dasar pembentuk batu berasal dari kalsium (zat kapur), yang bercampur dengan kolesterol, atau asam urat, fosfat, oxalat, maka terbentuk batu yang berjenis-jenis itu. Dengan cara “analisis batu” kemih dapat diketahui jenis batunya apa.
Mereka yang berbakat batu kemih berisiko terganggu fungsi ginjalnya. Maka punya batu kemih jangan dipelihara, karena tidak bakal jadi jimat. Segera dibuang. Saatnya ketika masih halus berupa kristal.
Mereka yang berbakat asam urat tinggi, atau calcium tinggi, dan punya gangguan metabolisme mineral, seperti pada penyakit anak gondok (parathyroid), kelenjar anak ginjal suprarenalis, serta pada gangguan ginjal sendiri, maka keseimbangan mineral darah terganggu yang berujung pembentukan batu kemih juga.
Kurang minum dan sering puasa minum acap membangkitkan serangan batu kemih yang sudah ada sebelumnya. Pembentukan batu kemih tidak diinsafi pasien jika tidak dilakukan foto perut, dan atau laboratorium darah dan urin. Lebih banyak kasus batu yang ditemukan kebetulan, atau sudah telanjur menimbulkan serangan kolik (mulas mendadak), atau batu kemihnya keluar bersama urin sewaktu kencing, dan kencingnya merah karena bercampur darah.
Riwayat batu kemih harus menjadi peringatan kalau memiliki bakat batu kemih. Waspada, karena pembentukan batu, sekalipun sudah keluar, bisa berulang setelah beberapa tahun. Untuk itu perlu upaya mencegahnya, dengan cara meniadakan faktor risiko pembentukan batunya.
Kalau ada asam urat, kadar dalam darah harus di bawah nilai normal (7,0). Kalau batu kolesterol, tentu kadar koleserol darah harus di bawah 200 mg/dl terus. Perlu diingat, jika tidak ada riwayat darah tinggi mendadak hipertensi, harus dipikirkan kemungkinan batu kemih. Kerusakan ginjal dapat menimbulkan hipertensi juga, selain hipertensi yang dipelihara sendiri akan merusak ginjal juga, sebagaimana komplikasi diabetes.

Penyakit ginjal lain

Gejala gangguan ginjal muncul sebagai pembengkak pada kelopak mata, tungkai, dan kaki. Pola berkemih berubah lebih sering, dan kemudian jadi berkurang kencingnya. Sifat urin juga berbuah keruh, atau berwarna merah, selain nyeri selama berkemih, dan ada riwayat keluar batu sewaktu berkemih.
Selain itu, kemungkinan ada sakit pinggang. Bedanya dengan sakit pinggang umumnya, sakit pinggang ginjal tetap nyeri kendati tidak menggerakkan pinggang. Sakit pinggang disertai demam, mual, nyeri kepala, tanda infeksi ginjal.
Penyakit ginjal bukan cuma infeksi dan batu saja, melainkan banyak lagi jenis lain di luar itu. Ada kerentanan ginjal sebab proses otoimun. Ada zat dalam darah yang merusak ginjal milik sendiri, sehingga terjadi kelainan ginjal (glomerulonephritis, GNA). Menyerupai infeksi namun bukan infeksi. Terjadi infeksi di luar ginjal (tenggorokan) namun yang dirusak ginjalnya.
Hal lain terjadi juga penyakit nephrotic syndrome, semacam kebocoran ginjal, sehingga yang mestinya disaring jadi bocor ke dalam urin, disertai dengan kumpulan gejala lain, seperti protein banyak keluar bersama urin sehingga tubuh kehilangan banyak protein, dan kadar kolesterol darah meninggi. Sama seperti GNA di atas, lama-lama bikin ginjal jadi rusak dan payah juga jika tidak disembuhkan.
Tumor ginjal bisa menyerang bayi dan anak, selain kanker ginjal pada orang dewasa juga. Kerusakan oleh desakan tumor yang mengganggu fungsi ginjalnya, sehingga bisa berakhir dengan gagal ginjal sebagai gejala terminalnya. Ginjal juga rusak sebab trauma benturan, tumbukan (petinju).
Setiap aliran darah ke dalam ginjal yang menurun mendadak, termasuk pada serangan perdarahan (kecelakaan, persalinan, operasi), akan mengancam ginjal juga. Termasuk sehabis serangan diare hebat. Maka yang sederhana dan sepele begini jangan diabaikan karena ongkosnya menjadi luar biasa mahal.
Tidak semua cangkok ginjal berhasil mulus. Selain sulit mendapatkan donor yang cocok, ongkos, dan pemeliharaan lanjutan ginjal baru juga tidak murah. Karena ginjal yang sudah menurun fungsinya juga berarti menurun pula dayatahan tubuh, maka harus terbebas dari ancaman infeksi dari luar.
Ginjal yang sudah lemah bikin kurang kadar Hb (haemoglobin), sehingga jadi pucat (anemia). Ginjal juga mengaktifkan fungsi vitamin D, maka terancam kekurangan vitamin D dengan segala akibatnya jika ginjal mengalami kerusakan. Semua tanda dan gejala seperti sudah disebut di atas hendaknya menjadi petunjuk sederhana, ada yang sedang mengganggu ginjal kita, Tuhan memberi kita cuma dua itu. Sayangi dan rawatlah baik-baik sejak kecil. Salam.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Sehatnya Perempuan Sebagai Kekasih, Istri, dan Ibu

Tayang: Minggu, 16 Agustus 2009 · Kometar:Belum Ada 
TUBUH bagi wanita itu aset. Maka perlu dipelihara. Tak perlu harus memiliki yang sempurna. Namun tak cukup puas hanya memiliki tubuh semata. Yang dikaruniai bertubuh sempurna bukan tak perlu merawatnya. Sebaliknya tak perlu cemas kalau bertubuh kurang sempurna. Banyak cara untuk menyiasati.
Iptek medik kian berkembang bagaimana kekurangan fisik bisa dipoles, ditembel, disumpal, direparasi sehingga mendekati sosok yang lebih bagus. Namun jauh lebih penting dari itu. Bukan cuma dari sosok tubuhnya seorang wanita dinilai. Di balik fisik tersimpan sex appeal sebagai dayapikat pribadi. Yang melihat sex appeal akan menemukan kelebihan perempuan sekalipun tidak cantik. Kecantikan tersembunyi ini yang perlu dibuat mekar.
Beruntung jadi perempuan, kata kaum lelaki. Secara biologis wanita rata-rata berumur lima tahun lebih panjang dari pria. Ada perbedaan konstruksi susunan saraf, selain beban stres, ancaman dan risiko lebih kendur dibanding yang lazim kaum pria hadapi. Itu alasan kalau mau sehidup semati dalam perkawinan, pilihlah suami yang lima tahun lebih muda supaya tahun kematiannya kurang lebih bisa bareng.
Benar, tubuh saja bukan segalanya, karena wanita juga perlu isi kepala. Cantik di luar saja tak cukup. Isi kepala dan kepribadian ikut menentukan kalau bukan malah yang lebih terasa menonjol, siapa sesungguhnya seorang wanita. Nobody atau somebody? Oleh adanya muatan itu pula ia menjadi somebody. Terlebih bekal menjadi ratu di rumah tangga. Ternyata menjadi istri elegant bukanlah dilahirkan, melainkan bisa dan harus dipelajari.
Bukan saja tubuh, otak wanita tak serupa dengan otak lelaki. Selain struktur, juga cara kerjanya pun tak sepenuhnya sama. Ada kekurangannya, selain otak wanita memiliki pula kelebihan. Setiap suami perlu memahami perbedaan itu supaya istri tampil utuh melakukan peran gendernya sebagai istri, ibu, dan kekasih. Misal, bahwa dari sananya wanita itu lebih doyan bicara (Baca: bergosip) dibanding lelaki bukan tanpa sebab. Memang ada yang berbeda pada unsur di otaknya. Bayi perempuan lebih lekas bicara dibanding bayi lelaki. Perempuan cenderung lebih cerewet dibanding laki-laki. Pekerjaan yang lebih menggunakan kemahiran berbicara diberikan kepada kaum ibu saja ketimbang kepada seorang kakek.
Suka bersolek juga bagian lain dari tabiat wanita. Sedang kelemahan lelaki terus terang masih pada matanya (visual). Pemahaman wanita ihwal ini perlu dicermati betul agar ia senantiasa berupaya untuk tampil elok setiap saat. Bukan saja di luar rumah. Karena tak sedikit istri tanpa ia sendiri menginsafi sejatinya berdandan untuk suami orang lain. Hanya wangi, mempesona kalau ke luar rumah. Sedang di rumah pakai gulungan rambut, muka penuh masker, dan daster bau dapur. Total jenderal suami cuma kebagian bau dan jeleknya doang.
Bukan sedikit suami di rumah sering kali susah membedakan mana yang Inem, dan mana yang nyonya rumah. Lelaki yang kodratnya terfokus pada hal-hal yang visual, boleh jadi terganggu seks dan libidonya kalau melihat istri di rumah ternyata tak seindah teman di kantornya, misalnya. Celaka kalau suami terus saja merasakan istri tidak lebih mengkilap dari wanita yang seliweran di luar rumah.
Menjadi ratu di rumah sendiri tak bisa hanya mengandalkan warisan tubuh yang elok belaka. Percuma punya tubuh sexy, dan wajah cantik bila ternyata statusnya tidak sehat. Maka kesehatan harus menjadi nomor satu. Bukan saja sehat fisik, melainkan juga jiwa. Lebih dari itu, sehat pula secara sosial, dan spiritual. Kita menyebutnya total fitness.
Bukan harus menjadi rahasia lagi kalau mahkota wanita itu ada empat. Kulit, rambut, gigi, selain bagian-bagian tubuh yang sensual. Satu di antara yang sensual itu tentu payudara, selain body model gitar Spanyol. Maka selain kesehatan secara umum, keempat unsur mahkota itu perlu senantiasa mendapat perhatian penuh.
Namun tentu sekali lagi perlu disebut bahwa keindahan dari dalam, yakni sex appeal umumnya bisa menutupi kekurangan pada kulit, rambut, dan bagian sensual tubuh lainnya. Sosok wanita di mata lelaki (normal) juga dilihat sebagai suatu keseluruhan (holistic). Seperti apa getar sex appeal-nya. Termasuk tidak boleh kurang darah (anemia), dan mulut wajib dirawat jangan sampai baunya tak beda dengan kakus.
Untuk menjadi sehat empat faktor perlu diperhatikan. Menu harian, gerak badan, tidur dan jeda selain pintar mengelola stres. Kalau yang basic itu dikuasai, setidaknya kesehatan secara umum sudah di tangan.
Cekatan menjaga kesehatan mata, hidung, telinga, selain keempat mahkota milik setiap wanita jangan sampai diabaikan. Untuk itu kenapa tidak memilih ikut menjadi Inem di rumah sendiri, misalnya? Inem sering lebih merah pipinya, dan sexy body-nya karena Inem tak berhenti bergerak. Kalau bisa melakukan pekerjaan di rumah sendiri, kenapa harus minta bantuan Inem. Lakukan juga menyiram tanaman, menyapu, bersih-bersih, dan pekerjaan domestic ringan lainnya. Gerakan sewaktu melakukan pekerjaan di rumah tergolong kegiatan yang mengerahkan sekujur otot-otot sehingga tidak kaku, dan tekanan darah lebih deras mengalir. Derasnya aliran darah yang bikin muka lebih merah berbinar, tanpa perlu ditempeli kulit tomat sekalipun.
Secara khusus, kesehatan juga bisa berarti ada ancaman penyakit. Ada sekelompok penyakit yang lazim pada wanita. Terlebih pada wanita merdeka (Baca: wanita karir) yang sekarang makin berisiko menghadapi “open marriage”. Wanita yang karena aktivitas kesehariannya sering bertemu juga dengan lelaki dan suami orang lain. Kasus keputihan, tumor, kanker, dan infeksi saluran kemih, penyakit yang perlu diwaspadai. Bisa jadi akibat seks bebas. Termasuk kemandulan akibat penyakit menular seksual. Tersumbatnya saluran telur sering sebagai akibat kuman menular seksual hasil seks bebas.
Sedikit banyak kehadiran penyakit memengaruhi penampilan juga. Istri tak tampil utuh penuh bila ada yang dirasa, bila ada sesuatu yang merongrong tubuhnya. Bukan tak mungkin wanita sebagai ratu rumah tangga sekalipun berisiko terancam penyakit kelamin, termasuk herpes bibir, herpes kelamin, atau sekadar anyang-anyangan.
Seks. Ya percuma sensual, kalau bodoh dalam hal seks. Agaknya harus batal sebagai ratu rumah tangga kalau seks istri tidak naik kelas. Dan lumrahnya setiap istri belajar seks selama perkawinan (learning by doing sex).
Kalau umpama istri juga bertemu dengan suami yang seksnya masih sering kagok, tentu akan sama menjadi sengsaranya nasib perkawinan ke depan. Atau gagal tampil bukan sebagaimana anggunnya seorang ratu rumah tangga di kamar tidurnya sendiri lagi namanya. Musuh perempuan badan yang gampang melar. Badan terus melar, satu yang tak terelakkan oleh rata-rata kaum wanita. Makan sedikit, tetap saja montok. Maka perlu pandai-pandai memilih menu berkualitas agar tidak memicu badan berubah menjadi tambur. Ingat, kelemahan sekaligus kejelian suami terhadap istri masih tetap ada di matanya, kendati ia sudah menjadi kakek. Itu sebab istri perlu tetap menjaga agar tetap indah di mata suami. Tak soal pakai apa atau dibagaimanakan, asalkan tetap full press body.
Maka rawatlah terus penglihatan suami agar masih terpelihara melihat yang serba indah-indah itu pada sosok istri. Untuk itu mungkin perlu konsultasi berbusana yang cocok, perigel dalam soal seks yang indah, barangkali siapa tahu diperlukan pula reparasi vagina, atau demi mampu tampil utuh penuh ala John Robert Power, misalnya.
Itu semua perlu diingat dan dielingkan kembali semata karena dengan semakin tua suami, semakin bersantan ia. Sedang makin tua istri, seringnya makin berduri. Maka wahai semua istri yang mengaku masih melakukan peran jadi ratu rumah tangga, tetaplah berupaya tampil selucu kucing, dan bukan segalak landak. Kalau nggak percaya tanya saja pada Inul.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:

Snackaholic

Tayang: Senin, 26 Oktober 2009 · Kometar:Belum Ada 
DOMINASI penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itu sebab mengapa kejadian jantung koroner, stroke, bahkan kanker kini menimpa kelompok usia lebih muda.
Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih kecil. Cita rasa dirusak oleh jajanan dan menu restoran sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak bisa menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan ibu. Menu gorengan mengalahkan rebusan.
Celaka, melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan desa. Di mana-mana anak lebih memilih keripik ketimbang kacang rebus. Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan, dan mencari ubi, labu, bulgur, padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk. Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya, dan kerupuk memakai penyedap dan zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.

Gizi “generasi televisi”

Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai “generasi televisi”. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih-alih bergizi. Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap, pemanis buatannya (sweetener). Karena tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Menu serba manis, asin, dan berlemak sumber penyakit hari depan. Sihir iklan televisi merongrong pilihan sehat selera makan anak.
Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah. Namun FDA, badan POM di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan kesehatan. Di kita begitu menjamur industri makanan rumahan sehingga tak terjangkau oleh kendali Badan POM kita. Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang memakai bahan berbahaya plastik bikin garing gorengan, menyampurkan kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.
Minyak trans sudah beberapa negara melarang dikonsumsi. Hampir semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak yang tak menyehatkan. Sama tak menyehatkan minyak goreng bekas restoran yang ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan. Yang kaya maupun rakyat papa di kita kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak mengisafi bertahun-tahun menelan carcinogen pencetus kanker dalam menu harian.
Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di Ibukota negara pun masih banyak beredar. Apalagi di kampung dan desa. Tiap hari menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti bibit kanker tengah ditanamkan. Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk anti belatung yang disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak semua terbebas dari zat carcinogen
Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu tercemar carcinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi orangtua yang menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.
Dibanding makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih aman, namun kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan mentega (junk food). Sedang yang buatan rumahan selain belum tentu cukup bergizi, tak higienis, mungkin tidak aman dikonsumsi melihat zat additif yang dipilihnya.

Kembali ke meja makan nenek

Saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu meja makan nenek. Selain lebih murah juga menyehatkan. Menu tradisonal bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan itu bukan bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat atau ayam goreng melainkan pisang rebus, atau tahu dan tempe bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada gandum dan air tebu.
Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan kalori, dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan. Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini.
Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditi itu yang sedang gandrung orang cari sekarang. Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.
Ketika banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan enzim, orang mengejar sayuran dan bebuahan segar saja. Orang mulai meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah secara berlebihan, dan dengan cara serta alat masak yang berbahaya kandungan bahan logam, dan tingkat perapiannya.
Belum terlambat kampanye menu sehat di sekolah, dan mengajak peran media massa, televisi khususnya. Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.
Demi tujuan menginvestasi generasi sehat, lidah anak perlu disetel ulang. Jangan sampai lagi membangun “generasi kerupuk” dan kelompok usia produktif sampai mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu, dan jajanan.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:

Sehat itu Murah Asal Tahu Jurusnya

Tayang: Minggu, 22 November 2009 · Kometar:Belum Ada 
TIDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda.
Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat untuk mulai membangun kembali kesehatan Anda. Yakinlah bahwa Anda belumlah mendekati akhir hidup.
Hidup adalah sebuah proyek, dan Anda manajernya. Apa yang Anda pikir dan lakukan tentang kesehatan merupakan investasi hari tua Anda. Potensi untuk sehat ditentukan oleh semua yang sudah Anda kerjakan sebagai manajer proyek. Kualitas hidup Anda merupakan akumulasi dari segala kebiasaan, keyakinan, sikap yang dijalani sepanjang proyek hidup Anda sampai hari ini. Targetnya supaya memperoleh hidup yang selalu baru di sepanjang usia.
Tak cukup hanya memperoleh umur panjang. Tujuan utama hidup di dunia sekarang bukan untuk menambah agar lebih tua belaka, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia agar tetap sehat sepanjang hayat. Untuk itu harus pintar, dan bijak melakoni hidup.
Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Peran dokter kecil saja. Pandai-pandai mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku perjalanan hidup Anda. Bila bijak belajar dari membaca buku hidup, kita boleh berharap ada bonus umur di tahun senja kita kelak.
Mari kita baca otobiografi tubuh kita masing-masing. Baik buruknya masa tua ditentukan pula oleh kesehatan kita hari ini. Kuasa, harta, kedudukan tidak akan ada artinya kalau tidak sehat. Konsep “Sehat Itu Murah” (sebuah judul buku penulis) ingin menambah tebal buku hidup Anda. Saya mengajak Anda memulainya dari sekarang.
Untuk sehat, peran gen dalam sel tubuh Anda hanya sepertiga. Selebihnya soal gaya hidup. Mungkin Anda selama ini keliru memilih gaya hidup. Namun tak pernah terlambat buat membuka kembali lembaran baru hidup sehat. Anggap hidup Anda bakal terulur lebih lama. Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.
Sekarang kita memasuki “Graying Revolution”. Semakin banyak orang berumur panjang di dunia. Tapi tidak semua berbahagia. Karena memang tak cukup berumur panjang semata kalau ternyata tidak berkualitas. Target proyek hidup Anda haruslah bagaimana menjadi tua yang berkualitas. Untuk itu healthy-aging perlu dibangun. Dengan menjadi tua yang berkualitas berarti diri Anda adalah aset, dan bukan beban.
Anda harus berani menolak mengaku tua, kalau jiwa dan spirit Anda tetap belia. Kibarkan sikap Peter-Pan-Syndrome. Bahwa hidup cuma sekali. Pupuk dengan hal-hal yang positif saja. Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa menghapus kesedihan dunia, dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.
Rajin check up kesehatan saja belum cukup. Anda juga montir yang perlu cerdik melakukan check up terhadap kehidupan. Ciptakan kegembiraan bagi orang lain juga. Manfaatkan setiap kesempatan, agar otak tidak tidur, dan hari-hari selalu terasa baru. Untuk bisa menjadi begitu, tetap sehat kuncinya. Orang yang sehat sudah merasa bersyukur walau sekadar menjadi orang biasa belaka.Seseorang menjadi sangat kaya raya bila kondisinya sehat.
“Sehat Itu Murah” bukan slogan, melainkan keyakinan medis yang saya kumpulkan, dan simpulkan sendiri. Itu saya peroleh dari pergaulan keseharian dengan pasien, surat-surat konsultasi yang saya terima puluhan tahun lamanya, pertanyaan yang diajukan selama seminar, dan talkshow, makin meyakinkan saya bahwa untuk sehat ternyata tidak mahal. Setiap orang punya potensi untuk bisa tiba sampai ke situ, asalkan mau.
Konsep “Sehat Itu Murah” saja mungkin tidak lengkap. Namun yang sekecil ini pun ingin menambah tebal buku hidup Anda. Tidak ada cara lain untuk menjadi sehat. Mungkin Anda harus menyetel ulang mesin hidup Anda jika keliru. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi Anda bisa.
***
Sebuah studi mengungkapkan kalau tubuh manusia didesain buat bisa bertahan hidup sampai 120 tahun (Maximum Life Potential, Dr. Walter M. Bortz). Namun lebih banyak orang yang hidupnya tidak panjang. Apa masih mungkin sekarang ini setiap orang mampu menempuh umur sepanjang itu? Saya mengajak Anda menjawabnya bisa.
Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas lapuk, dan aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh lantaran masalah kesehatan bakal lebih banyak muncul di hari tua.
Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidup dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang (harmoni). Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check up juga terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (“Ruralisasi”).
Agar menjadi kurang bermasalah dalam kesehatan, pikirkan pula seberapa bagus harusnya kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus, dan gundul. Sudah cukupkah tenang dan ayem jiwa kita sehingga stressor dalam hidup tidak merongrong jasmani kita.
Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, begitu juga kanker diperburuk oleh hadirnya stres. Barangkali itu sebab usia krisis orang di dunia yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, karena cenderung dirundung stres yang berkepanjangan (malstress), krisis orang sekarang sudah muncul ketika umur belum masuk 40 tahunan.
Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul pada orang sekarang. Badannya sehat, tapi keluhan fisiknya macam-macam. Inilah bentuk keluhan penyakit di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang tengah merana.
***
SESUNGGUHNYA masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tidak punya masalah kesehatan sampai di ujung hayat? Inilah beberapa butir kiat kita yang masih mungkin kita kerjakan demi tetap sehat berkualitas sampai di ujung umur.
1. Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya. Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh terus menerus dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri berkomplot membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.
Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, kondisi darah tinggi pun tetap kita pelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh ragam zat gizi, termasuk sejumlah vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah tubuh kita tetap belia.
Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja menu berkualitas (menjadi pemakan segala).
Dinding pembuluh darah yang sehat, darah yang berisi lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Maka kerja jantung perlu optimal. Dengan cara begitu sel-sel tubuh tidak kekurangan makanan, dan optimal menunjang tubuh. Sekian miliar sel tubuh tetap bugar dan tidak layu.
Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana. Sel organ yang merana akan kian mundur fungsinya.
Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi seperti ini juga. Sel kekurangan zat gizi, selain tidak selalu kecukupan oksigen.
Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan pasien semakin mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.
Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.
Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa harus kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degeneratif. Menyaksikan semakin lajunya proses degeneratif itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling, peraih Nobel vitamin C, mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib menjadi krisisnya sel tubuh kebanyakan orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).
2. Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal.
Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrong keutuhan pembuluh darah, khususnya oleh kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk bisa mencapai itu, selain perlu obat dan pantang ini-itu, perlu pula menu seimbang, yakni menu yang memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.
Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang tengah diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan. Menu barat yang keliru namun menjadi masalah orang Indonesia karena kita meniru pilihan makan yang tidak tepat.
3. Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi sudah tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang kian mencemari tubuh.
Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas, kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.
4. Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, serta junk food yang sebetulnya sudah banyak kehilangan zat gizinya, dan tergolong boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi dari normal.
Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justru yang tergolong sehat. Begitu hendaknya kita sampai ujung usia.
STATUS kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga menjadikan berat badan selalu melebihi ukuran normal. Pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?
Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan asupan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 45 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri (essential) dan hanya mengandalkan dari menu harian.
Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, merupakan “menu ampas’, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah yang salah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ternak, maupun tubuh manusia.
Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sekarang ini sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya dibanding yang dikonsumsi nenek moyang kita dulu. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: antara lain keluhan letih-lelah-lesu. Tak sedikit keluhan orang sekarang yang bukan suatu entitas penyakit. Bisa jadi hanya sekadar “kurang gizi” orang modern.
Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral alit yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya setiap hari. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini bila pola makan masih monodiet selain memilih “menu ampas”.
Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak “penyakit” (kurang gizi) yang mengejewantah sebagai keluhan dan gejala yang mungkin bukan entity suatu penyakit.
Polusi kita sudah bikin kuyup manusia di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, serta radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk risiko terkena kanker.
HIDUP sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan. Merasa diri bermakna. Bukan saja tahu arah ke mana hidup, melainkan juga benar juga menempuhnya di mata Tuhan.
Tak perlu minta bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) bakal meningkatkan risiko jantung koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, dan fitness, misalnya).
Untuk vitamin batin kita perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal. Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Tertawa juga meningkatkan hormon endorfin, morfin yang diproduksi tubuh, untuk mengendurkan rasa perih-pedih kehidupan.
Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, sehingga berhasil membangun hidup seimbang antara pikir, laku, dan rasa.
Makalah Bulan Keluarga GKI Pondok Indah, Jakarta, 10 Oktober 2009
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:
 

Telapak Kaki Nyeri, Kenapa?

Jawaban Surat Pembaca
Tayang: Senin, 7 Juni 2010 · Kometar:4 
Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.
Pertanyaan saya:
  1. Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?
  2. Atau memang ada penyakit tertentu?
Bd.
Jakarta
Sdr Bd.
Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.
Kita tahu pada orang dengan berat badannya berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.
Bila benar berat badan Anda berlebih, besar kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki, kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya rasa nyeri di situ.
Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya meradang itu tetap berlangsung.
Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan masalah pada kaki.
Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.
Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.
Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley, basket, atau senam jenis yang high impact.
Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).
Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada pengaruh buruk dari situ.
Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.
Saran saya, apabila setelah meghentikan semua yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.
Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi (NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber: