Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Sabtu, 07 Mei 2011

Doa Ibu Tua


Baca: Mazmur 34:16-20
Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar....
Mazmur 34:18

Ada seorang ibu lanjut usia, orangnya pen­diam lagi pemalu, tak banyak bicara, di ka­langan jemaat gereja pun ia kurang dikenal, namanya tak pernah muncul di warta gereja. Namun, sebagai jemaat biasa yang disebut sebagai “bukan apa-apa,” tidak lalu berarti ia tidak punya “apa-apa” untuk dibicarakan.
Satu hal yang patut dibicarakan dari ibu tua ini adalah doanya. Bukan karena doanya indah menawan bak ujaran seorang sastrawan. Karena doanya ini doa pribadi, mengucapkannya pun dengan suara hampir berbisik, tak berani ia menyuarakannya di depan umum. Tetapi ia de-ngan tekun menaikkannya, di sepanjang hari tuanya.
Tentang doanya ini, suatu kali ia berkisah kepada seseorang yang amat dekat dengannya. Isinya adalah sebuah permohonan kepada Tuhan, bu­nyinya kira-kira begini: “Tuhan, berilah aku umur panjang supaya bisa nyawang (menunggui, melihat) anak-cucuku. Tapi sekiranya Engkau memberi aku umur panjang, jangan beri aku sakit-sakitan. Namun, jika Engkau beri juga aku sakit, jangan lama-lama Tuhan, supaya aku cepat menghadap Engkau. Semua tadi demi tidak terlalu menyusahkan anak-cucu.”
Ibu ini sekarang sudah tinggal bersama Tuhan dalam keabadian. Ia berpulang dalam usia 90 tahun, setalah menderita sakit 2-3 hari.
Alangkah indahnya. Doanya sungguh didengar Tuhan. Sebab isi doa itu adalah prinsip hidup yang dipegangnya: Boleh menjadi tua, tapi jangan sampai terlalu menyusahkan siapa-siapa. Itulah kerinduannya. Itulah doanya. Dan, ternyata Tuhan mendengar dan mengabulkannya. —Handoyo

Biarlah aku menjadi tua yang tetap berguna, bukan
justru selalu menyusahkan siapa-saja.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 05 Mei 2011

Buah Untuk Tuhan

Baca: Matius 25:14-30
Karena itu sudahlah  seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Matius 25:27

Setiap hari saya mengkonsumsi madu untuk menjaga kesehatan. Madu itu sendiri berasal dari kerja keras para lebah yang hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk menda-patkan cairan manis yang akan mereka olah dalam sarangnya menjadi madu. Setelah jadi, para peternak madu akan mengambil madu itu untuk mereka jual. Sebagian kita mungkin tak pernah tahu betapa hebatnya lebah mencari bunga. Untuk menghasilkan satu gram madu, lebah harus mengumpul­kan cairan manis dari 125 kepala bunga.
Kerja keras lebah seakan sia-sia karena madu itu diambil peternak lebah untuk dijual. Namun lebah tak pernah ngambek, demo atau menyerang manusia karena mereka tahu hasil kerja keras mereka menyehatkan manusia. Ada banyak orang hari ini komplain kepada Tuhan mengapa kerja kerasnya seakan-akan tidak dihargai dan sia-sia. Sewaktu muda mereka berjuang mati-matian dalam karier, keluarga, dan hidup sesuai firman Tuhan. Tetapi, waktu usia beranjak senja, orang-orang tak lagi meng­hargai kontribusi mereka selama belasan tahun bekerja. Anak sudah jarang menengok setelah berkeluarga. Tuhan sendiri seakan-akan tak menghargai usaha mereka hidup seturut firman-Nya.
Jikalau Anda hari ini mengalami hal ini, mari belajar dari lebah. Lebah tak pernah ngambek saat manusia seenaknya mengambil madu hasil kerja kerasnya. Lebah membiarkan manusia menikmati buah kerja kerasnya untuk kebaikan manusia sekalipun manusia tidak mengucapkan terima kasih. Berapa pun talenta yang telah Tuhan berikan kepada kita, kembangkanlah agar berbuah bagi Tuhan. —Richard T.G.R
Apa pun buah dari talenta yang kita punya, ikhlaslah itu dinikmati
orang lain dan nama Tuhan yang dimuliakan.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 04 Mei 2011

Bukan Penghalang


Baca: Lukas 1:5-7
Dan sesungguhnya Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia,  yang disebut mandul.  Sebab bagi allah tidak ada yang mustahil.
Lukas 1:36-37

Zakharia dan istrinya, Elisabet, sudah lanjut usia. Mereka orang-orang beriman yang saleh, tetapi tidak mempunyai anak. Meskipun demikian mereka terus berdoa agar dikaruniai anak, sebab bagi masyarakat Yahudi waktu itu, perempuan yang tidak da­pat melahirkan anak dianggap aib. Ternyata Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa mereka. Di masa tuanya itu Elisabet me-ngandung seorang anak laki-laki, Yohanes, yang kelak menjadi pendahulu Kristus. Seperti difirmankan oleh malaikat, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.
Dari kisah Elisabet itu dapat ditarik pelajaran, bahwa Elisabet, selain ditolong Tuhan, ternyata juga masih dipakai-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya. Mengapa Tuhan memilih Elisabet, hal itu tentu berdasar­kan kebijaksanaan-Nya yang di luar jangkauan pemahaman manusia. Pada sisi yang lain, rupanya ada hal-hal yang terdapat pada diri Elisabet yang menjadi alasan Tuhan memilihnya. Misalnya, ia itu seorang yang saleh dan tekun dalam berdoa. Selain itu ia juga seorang yang mengalami penderitaan batin yang cukup berat.
Apa yang terjadi dengan Elisabet, mungkin juga dapat terjadi dengan kita, meski bentuk dan realitasnya berbeda. Yang pasti, Tuhan men-dengarkan doa orang saleh yang menderita dan dapat melepaskan penderitaan tersebut, bahkan masih memakainya untuk melak­sanakan rencana-Nya. Oleh sebab itu, jangan kita menjadi putus asa karena kondisi kita yang lemah dan tak berdaya. Bagi Dia, tidak ada yang mustahil. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, dalam keadaan kami yang terasa semakin lemah dan
tak berdaya, mampukanlah kami untuk tetap tegar dan berpengharapan bahwa Engkau berkenan menolong dan bahkan memakai kami. Amin.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 03 Mei 2011

Tertawalah!


Baca: Mazmur 63:1-9
Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku,
dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.
Mazmur 63:8

Usia lanjut dikenal sebagai gudang penyakit. Seorang ibu dalam penderitaannya mengeluh dan menyesal mengapa dirinya sakit. Ada ibu lain yang ketika sakit dan dikunjungi untuk didoakan malah ganti mendoakan yang melawatnya. Wajah ibu yang mendoa­kan justru tampak lebih ceria daripada yang mengeluh.Di dalam pergumulan dan kesusahannya, Daud tetap bersukacita, apa rahasianya?
Ada kehausan untuk menikmati air hidup. Jiwaku haus dan tubuhku rindu ke-
pada Allah. Keseimbangan dalam hidup harus tetap dijaga walaupun dalam kondisi yang terburuk. Kekuatan untuk bertahan bukan dari diri kita, tetapi dari Allah (ayat 3). Untuk bisa tertawa dalam penderitaan, tetaplah memandang Tuhan dan mencari kekuatan-Nya.
Kasih setia Tuhan tak terputus oleh penderitaan hidup. Adalah salah bila dalam penderitaan kita menghujat Tuhan atau mulai mundur iman. Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup. Hidup bisa berakhir di dunia ini, tetapi kasih setia Tuhan tak berkesudahan. Sampai kita menutup mata Tuhan Yesus tetap beserta dan akan membukakan mata iman untuk melihat suurga.
Tertawalah untuk menertawakan hidup ini. Kemunduran hidup di usia lanjut kadang menimbulkan hal-hal yang bisa membuat kita tertawa sendiri. Bisa jadi itulah cara Tuhan untuk menghibur diri kita: kaca mata sudah dipakai masih dicari-cari, baru saja makan masih ber­tanya apakah saya sudah makan atau belum? Penderitaan akan menjadi ringan bila kita berhasil memandangnya dengan tertawa. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Hidup penuh senyum dan tawa akan
terasa lebih sehat dan segar.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 02 Mei 2011

Menjadi Gemuk dan Segar


Refleksi Tema:

Menjadi Gemuk dan Segar

Malam itu dingin dan hujan, demikian Mary Clymonths memulai kisahnya. Saya sedang menunggu bus ketika saya melihat seorang perempuan tua turun dari sebuah bus dan berjalan menuju halte di mana saya berdiri. “Malam yang buruk, ya,” sapanya. “Semoga kita tak perlu menunggu terlalu lama,” lanjutnya. “Ibu mau ke mana?” tanya saya, dan dia pun memberi tahu tujuannya. “Lho, bukankah bus tadi menuju ke tempat yang Ibu maksudkan? Mengapa Ibu turun dari bus itu sebelum sampai ke tujuan?”
Sedikit malu dan dengan terbata-bata ibu itu berkata, “Di bus tadi ada seorang pemuda cacat. Tak seorang pun menawarkan tempat duduk kepadanya. Aku tahu dia akan malu kalau seorang perempuan tua se-perti aku ini berdiri untuknya. Dia berdiri dekat kursiku, karena itu aku berpura-pura sudah waktunya turun. Jadi, dia tak merasa malu. Bagiku kan masih ada bus yang lain.”
Bukankah ini kisah yang luar biasa? Biasanya yang tua yang perlu ditolong atau yang mengharapkan pertolongan. Tetapi ini sebaliknya, dan caranya juga sungguh istimewa. Perempuan tua itu pasti seorang yang bijaksana.
Sebagai lanjut usia kita diharapkan masih menjadi berkat. Menjadi gemuk dan segar, kata Pemazmur (Mazmur 92:15). Agar menjadi gemuk dan segar, kita harus menyukai Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2). Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa (Mazmur 19:8).
Renungan Musabulan ini mengajak kita agar tetap menjadi berkat dalam keterbatasan kita. Semoga iman kita terus bertumbuh, menjadi gemuk dan segar. —Liana Poedjihastuti

Membuka Hari

Baca: Markus 12:41-44
Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
Markus12:42

Ibu Maan, perempuan setengah baya yang selalu diingat istri saya. Ia orang sederhana, penjual makanan kecil di pasar dengan peng­hasilan yang pas-pasan. Ia datang bersama tim kunjungan gereja, membesuk istri saya yang tengah terbaring di rumah sakit. Ketika hendak pamit pulang, ibu Maan menggeng­gam erat tangan istri saya sembari memberi selembar uang tanda kasih. Tidak banyak, tetapi pemberian itu telah mengisi hati istri saya bertahun-tahun lamanya, sampai hari ini. Ia memberi dari kekurangannya.
Kisah indah lima belas tahun yang lalu itu mengingatkan saya pada janda miskin yang mempersembahkan uang dua peser, satu duit. Ke­tika Yesus melihat pemberiannya, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan... janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (ayat 43-44).
Kedua perempuan itu mengajarkan kita, bahwa memberi adalah perbuatan membuka hati. Memberi harus diawali dari hati. Seberapa lebar kita membuka hati, selebar itulah tangan kita terbuka untuk memberi. Dan, sesungguhnya dengan membuka hati kita, Anda dan saya akan membuat hidup ini menjadi lebih berarti, bukan saja bagi orang lain tetapi juga bagi diri kita. Inilah rahasia menjadi rahmat, saat kita membuka hati untuk kita orang lain, itulah saat yang menyegarkan hidup kita. Mari buka hati kita agar segar senantiasa hidup ini. —Agus Santosa.

Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
—Kisah Para Rasul 20:35


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 01 Mei 2011

Napas Kehidupan

Baca: Yohanes 12:26
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 12:26

Tuhan Allah mengembuskan napas hidup ke dalam hidung manusia pertama itu, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Dengan napas hidup itu, ma­nusia tidak hanya hidup, melainkan harus membangun hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Ini bukan hal yang mu­dah. Sesungguhnya hidup menjadi berkat merupakan rencana Allah, panggilan Allah bagi kita. Namun, betapa sering berkat hidup dalam diri kita, tersembunyi, bahkan terdesak oleh kecenderungan kita untuk mengutuk, mencelakakan, bahkan membinasakan orang lain. Kecen-derungan ini disebabkan oleh bersemayamnya illah-illah mencari keun­tungan dan kenikmatan diri sendiri semata, kelekatan-kelekatan pada harta dan kesenangan-kesenangan pribadi yang mendukakan Allah. Semua itu bagaikan belenggu maut yang mematikan.
Kita harus melepaskan belenggu maut, yakni segala kelekatan itu. Meninggalkan kelekatan-kelekatan itu tentu memberikan rasa sakit dan penderitaan. Dengan upaya kita sendiri mustahil kita bisa melakukan­nya. Syukur kepada Allah yang telah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk membantu kita. Sesungguhnya Dia yang telah melepaskan kita dari belenggu dosa, Dia juga yang dapat melepaskan kita dari belenggu kelekatan-kelekatan itu. Ia sudah menderita bagi kita demi melepas­kan kita dari dosa dan kelekatan kita, maka kita juga dipanggil untuk mau menderita demi kebaikan dan hidup sesama kita. Kita dipanggil untuk memberikan napas kehidupan bagi sesama kita, bukan bau kematian. Kita dipanggil untuk menebar berkat. —Liana Poedjihastuti.

Jadilah berkat, bukan laknat.

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 30 April 2011

Melayani Dengan Sukacita


Baca: Yohanes 12:26
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 12:26
Melayani dengan sukacita saat ini sering disalahartikan. Sukacita karena si pelayan mendapatkan kebutuhan jasmaniah sesuai yang diinginkannya. Demikian yang me­layani dalam hal ini hanya sekadar sesuatu yang dilakukan oleh pelayan tidak peduli apakah orang lain merasa terlayani atau tidak.
Kristus mengajarkan kepada kita untuk melayani dengan sukacita bukan karena si pelayan memperoleh segala sesuatu. Tanpa memperoleh apa pun pelayanan harus tetap dilakukan dengan sukacita. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk meng-ikuti teladan Kristus di dalam melayani.
Kristus menyampaikan tantangan-tantangan pada kita di dalam meng-ikuti Dia untuk melayani. “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:3). “Janganlah membawa pundit-pundi atau bekal atau kasut...” (Lukas 10:4). “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).
Tantangan yang Kristus berikan untuk melayani Dia tidak menyirat­kan senyum sedikit pun, apalagi sukacita. Lalu, bagiamana kita dapat ber­sukacita dalam melayani? Kristus bukan hanya memberikan tantangan, tetapi Dia juga memberikan “resep” untuk menghadapinya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat... (Matius 11:28-30). Ajakan Juru Selamat kita untuk belajar kepada-Nya menjadikan pelayanan kita sesulit dan seberat apa pun, memberi kelegaan dan ketenangan. Seseorang yang memiliki kelegaan dan ketenangan akan memancarkan sukacita. —Soetrisno Soeparto.

Saat kita melayani, seharusnya kita belajar dari dia yang kita
layani, karena dia melayani dengan sukacita, maka
kita pun dapat melayani dengan sukacita.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 29 April 2011

Komitmen dan Konsistensi


Baca: Yohanes 6:66-69
Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah per­kataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa engkau adalah Yang Kudus dari Allah.
Yohanes 6:68-69

Mengikut Yesus tidak membutuhkan se-mangat yang menggebu-gebu pada awal perjalanan, karena semangat awal akan lun­tur ketika menghadapi kesulitan di tengah jalan. Yang dibutuhkan adalah “komitmen” dan “konsistensi” untuk menjalankannya. Komitmen adalah janji kepada Tuhan, dan tekad pada diri sendiri untuk melakukan sekuat tenaga, dan melakukan secara kon­sisten apa yang telah kita sepakati. Walau jalannya sulit, bukan menjadi alasan untuk menghindar.
Ada banyak orang yang mengikut Yesus mundur di tengah jalan, ketika terbentang jurang kesulitan dalam realitas yang harus dihadapi. Terlebih lagi ketika tahu Yesus akan disalibkan. Pengharapan yang me-reka bangun terputus ketika Yesus ditangkap dan diadili, padahal banyak orang mengharapkan Yesus akan tampil sebagai sosok Mesias yang akan melepaskan dari belenggu penjajahan Romawi. Harapan itu menjadi sirna dan punah seketika.
Yesus menantang kedua belas murid-Nya: apakah mau setia atau mau ikut pergi juga seperti dilakukan orang banyak? Syukurlah Petrus men­jawab, mewakili para murid yang lain: “Perkataan Yesus adalah perkataan yang hidup yang Dia percaya, dan Yesus adalah utusan Allah yang sejati.”
Kembangkan komitmen Anda menjadi pengikut Kristus dan jalani dengan setia. Kembangkan sikap menjadi seorang pahlawan sejati, bukan karena mengalahkan musuhnya dengan kekerasan dan senjata, tetapi dengan kekuatan cinta, mengampuni dan memaafkan dengan jiwa besar. Itu rahasia kekuatan yang dicontohkan Yesus di jalan salib yang harus kita ikuti. —Pdt. Agus Wiyanto.

Kita mengikut Yesus yang tidak menunjukkan jalan kekerasan
untuk membalas kekerasan yang menimpa-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 28 April 2011

Berserah Diri


Baca: Daniel 3:14-28
...hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.
Daniel 3:18

Dalam pengalaman hidup beriman, tidak jarang kita diperhadapkan dengan keadaan yang sungguh mencekam dan tidak gampang. Di situ tidak mudah mengambil keputusan apa pun, karena semua kemungkinan yang sempat kita mampu pikirkan mempunyai risiko yang menyangkut hidup atau mati.
Dalam situasi sulit, banyak orang berusaha menyelamatkan hidupnya dengan berbagai macam cara: ada yang menghindar dengan melarikan diri, bersembunyi, mela­wan dengan kekerasan, atau berargumentasi
dan mencari kompromi. Tetapi hampir tidak pernah terpikirkan untuk “memikul salib” yang pernah dianjurkan Tuhan Yesus (Matius 16:24).
Sadrakh, Mesakh, dan Abetnego dihadapkan pada pilihan sulit ketika mereka harus memilih mengikuti perintah raja atau menolaknya. Raja memerintahkan agar setiap orang menyembah patung dewa-dewa yang didirikannya. Orang-orang yang menolak perintah ini akan dibakar hidup-hidup. Keadaan itu ternyata dipergunakan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abetnego untuk menyatakan ikrar iman mereka. Mereka ternyata tetap teguh berpegang pada Allah nenek moyangnya, tanpa syarat apa pun. Mereka mengatakan dengan tegas kepada raja bahwa Allah nenek moyang mereka mampu menyelamatkan mereka dari tangan raja. Se­andainya tidak pun, mereka tetap tidak akan mengikuti perintah raja. Mereka percaya kepada Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan tidak menuntut Allah untuk memenuhi keinginan mereka. Berserah diri secara penuh merupakan wujud iman yang benar. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami mempertahankan
iman kami kepada-Mu di tengah-tengah dunia yang
penuh tantangan dan pencobaan ini. Amin.

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 27 April 2011

Salib Memberi Semangat Hidup

Baca: Lukas 23:50-56
Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.
Lukas 23:56

Wanita sejati dicirikan dengan kesetiaannya dalam banyak hal. Itulah para murid wanita yang mengiring Yesus sejak dari Galilea sampai ke kubur-Nya. Salib di Golgota telah membuat para wanita benar-benar merasa kehilangan Seorang yang luar biasa yang tiada bandingnya. Walaupun mayat Yesus telah masuk ke kubur mereka tetap pulang de-ngan semangat untuk menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Bagaimana para wanita itu memandang salib Yesus?
Salib bukan akhir segala-galanya untuk berhenti menjadi pengikut. Kengerian melihat proses pengadilan Yesus sampai penyaliban-Nya tidak menyurutkan para wanita “pemanggul salib” itu untuk tega meninggalkan Yesus. Adakah kita seperti mereka yang setia walaupun hidupnya penuh risiko?
Salib menyemangatkan orang untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan. Yusuf dari Arimatea mengambil bagian mempersembahkan kubur yang masih baru buat Yesus dan para wanita “pemanggul salib” mengambil bagian menyiapkan rempah-rempah bagi mayat Yesus. Cara ini bisa kita tiru ketika kita merasa telah “berutang” kepada pengorbanan-Nya.
Salib membuat rasa takut menjadi berani bertindak. Para wanita “pemanggul salib” tidak ada rasa takut sampai berani mendekat ke kubur dan memperhatikan bagaimana mayat Yesus dibaringkan. Cinta telah mengalahkan ketakutan menjadi berani bersaksi bahwa mereka adalah pengikut yang setia. Bagaimana kesaksian kita di tengah-tengah orang yang terang-terangan menolak Yesus? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono.

Kala hidup ini menjadi letih dan lesu, ingatlah semangat para
wanita yang mengiring Yesus sampai ke kubur-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 26 April 2011

Salib Melenyapkan Perseteruan


Baca: Efesus 2:16-18
Untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Efesus 2:16

Di dalam kehidupan bersama antarmanu­sia, masalah perbedaan mengenai berbagai hal, seperti pendapat dan sikap, latar bela­kang budaya dan etnis, tingkat sosial-ekono­mi dan pendidikan, dan sebagainya, sering menimbulkan permusuhan dan perseteruan. Hal ini disebabkan masing-masing pihak bersikukuh mempertahankan kebenarannya sendiri, yang sering disertai pula dengan keinginan untuk mewujudkan kepenting-annya sendiri saja. Dalam hal ini, permusuh-an itu terjadi karena adanya dosa egoisme.
Sedang dosa tersebut merupakan akibat dari rusaknya hubungan baik antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya.
Salib Kristus merupakan pengorbanan yang mutlak dan sempurna, yang sekaligus juga memunyai makna pendamaian, yaitu terdamaikan­nya manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Dengan demikian, barangsiapa yang percaya akan makna salib Kristus yang demikian itu, ia telah didamaikan dengan Tuhan dan sesamanya, hingga terlepas dari ancaman permusuhan, di tengah-tengah perbedaan apa pun yang ada. Hal seperti inilah yang terjadi di jemaat Efesus, di antara orang-orang Kristen keturunan Yahudi dan yang bukan Yahudi. Dahulu, di antara mereka itu terjadi jarak bahkan permusuhan yang tajam. Tetapi salib Kristus menyadarkan dan mendorong mereka untuk mau saling mengorbankan diri demi kesejahteraan sesama, sehingga mereka dapat diperdamaikan dan dirukunkan.
Apa yang terjadi pada jemaat Efesus itu sudah selayaknya terjadi pula dalam jemaat kita. Berbagai sekat pemisah yang mungkin masih ada, harus dirobohkan, oleh dan demi salib-Nya. —Pdt. Em. Sutarno.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka
akan disebut anak-anak Allah. —Matius 5:9

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 25 April 2011

Setelah Matahari Terbit


Baca: Markus 16:1-8
Dan pagi-pagi benar pada hari pertama minggu itu, setelah matahari terbit, pergilah mereka ke kubur.
Markus16:2

Matahari terbit menandai datangnya hari baru. Datangnya hari baru menandai datangnya pengalaman baru, tantangan baru, kejutan baru dan sudah tentu... ber­kat baru. Tetapi apakah yang diperbuat oleh sejumlah perempuan pengikut Yesus yang di­catat dalam teks ini? Mereka pergi ke kubur Yesus untuk meminyaki mayat Yesus. Apa yang mereka lakukan ini adalah “kegiatan” yang hendak mereka lakukan pada hari Yesus mati namun tidak bisa, sebab Sabat sudah tiba. Karena itu, apa yang mereka perbuat ini merupakan sebuah lukisan hidup banyak  orang yang hidup dengan pandangan dan orientasi yang tertuju ke bela­kang, bukan pada hari ini dan ke masa depan, ke mana hidup sebenarnya sedang bergerak.
“Pergilah mereka ke kubur.” Kubur adalah tempat yang mati. Kubur bukan tempat yang hidup. Dan ke tempat inilah sekelompok pengikut Yesus pergi pada waktu hari masih “pagi-pagi benar... setelah matahari terbit.” Ini adalah lukisan kehidupan orang yang dikuasai oleh memori yang mematikan kehidupan bukan malah menghidupkannya. Kejadian-kejadian pahit, yang mengecewakan dan melukai hidup dari masa lalu, yang lebih banyak mewarnai ingatan, sikap dan perilaku di hari baru demi hari baru. Karena sikap dan cara hidup seperti ini maka ketika kabar baik datang, yang dilakukan bukannya bersukacita dan bersyu­kur tetapi malah lari, merasa gentar dan takut (ayat 8). —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa.

Setelah matahari terbit hari ini, apa yang anda lakukan? apakah
Anda meneruskan kesedihan, kekecewaan, kemarahan, kebencian?
Ataukah Anda memilih bersukacita dan bersyukur karena keselamatan
yang Tuhan kerjakan untuk anda di dalam peristiwa-peristiwa itu?

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 24 April 2011

Salib Yang Mengubahkan


Baca: Keluaran 30:34-38
Sebagian dari ukupan itu haruslah kaugiling sampai halus....
Keluaran 30:36

Tak ada perhiasan yang indah tanpa di-proses dalam perapian. Demikian juga ke­bahagiaan tidak datang dengan sendirinya. Keselamatan tidak datang tanpa pengor­banan. Menjadi pengikut Kristus sejati tidak mungkin tanpa melewati proses memanggul salib-Nya. Hanya orang yang mau menjalan­inya dengan tekun akan benar-benar berubah menjadi indah serupa dengan Dia
Tuhan mengolah apa yang terbaik da­lam pandangan-Nya. Sebagai pemanggul salib kita harus rela jika Tuhan membiarkan
berbagai masalah datang ke dalam hidup kita. Seperti getah damar, kulit lokan dan getah rasa mala yang dicampur kemenyan, maka jadilah bau wangi-wangian yang berkenan di hadapan Tuhan (ayat 34-35). Tidak ada maksud jahat bila kita sedang “dicampur” dengan berbagai masalah agar mengeluarkan bau harum yang memuji Dia.
Tuhan menekan sampai lumat untuk menghasilkan yang prima. Ada bahan ukupan yang harus digiling sampai halus agar menimbulkan suasana yang kudus (ayat 36). Melalui “salib” watak yang keras di lem­butkan, sifat yang kasar diperhalus dan hidup yang ceroboh ditertibkan. Kadang kala tangan-Nya yang pernah kena paku seakan menusuk tajam hidup kita. Namun di balik itu Tuhan sedang mengubah hidup kita menjadi lebih indah dan berkenan di hadapan-Nya.
Tuhan mengubah agar kita menjadi indah bagi orang lain. Semua bahan yang diolah hanya untuk dipersembahkan kepada Tuhan bukan untuk diri sendiri. Sampai menghirup baunya pun sangat dilarang (ayat 37-38). Jikalau kita diberi “salib” oleh Tuhan, maka jalanilah untuk kemuliaan-Nya bukan untuk diri sendiri. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono.

Salib Yesus mengubah kematian menjadi hidup
dan membuat si penghujat menjadi percaya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 23 April 2011

Eloi, Eloi, Lama Sabakhtani

Baca: Markus 15:33-41
Dan pada jam tiga berserulah Yesus dengan suara nyaring: “Eloi, lama sabakhtani?” yang berarti: Allahku, mengapa Engkau meninggalkan Aku?
Markus 15:34

Teriakan Yesus, “Eloi, Eloi, lama sabakh-tani” menurut tafsir Alkitab tradisional di­pahami sebagai jeritan manusia yang sedang berada di dasar jurang penderitaan. Ia men­derita secara fisik—tergantung dengan kaki-tangan terpaku pada sebuah salib; secara mental—ditinggalkan sendiri oleh semua kawan dekat yang lari menyelamatkan diri sendiri; dan secara spiritual—ditinggalkan Allah. Melihat Orang yang sangat menderita ini, apa yang bisa kita pelajari tentang ke-salahan yang sering dibuat orang ketika me-
lihat sesamanya yang menderita?
Kesalahan pertama, mengharapkan orang lain datang menolongnya (ayat 35-36). Kedua, memberikan pertolongan yang keliru (ayat 36). Air anggur asam yang diberikan kepada Yesus dimaksud untuk “memperpan­jang” hidupnya sampai Elia yang dinanti datang menolong-Nya. Orang menolong sesamanya yang menderita bukan untuk membebaskannya melainkan untuk membuatnya “bertahan” dalam deritanya. Kesalahan ketiga, memandang dari kejauhan (ayat 40-41). Mereka tidak berbuat apa-apa selama sesamanya menderita. Hanya melihat saja dan menunggu sampai ia mati. Nanti setelah mati baru berbuat sesuatu (ayat 42-47).
Yesus memberi kita teladan yang terbalik dari praktik umum manusia. Ketimbang menunggu orang lain, Ia sendiri turun tangan menolong. Bukannya menjauh, Ia malah mengambil bagian dalam derita manusia dan memberi manusia yang menderita pertolongan yang tepat. Kepada teladan inilah Tuhan Yesus memanggil kita semua untuk melakukannya. —Pdt. Markus Dominggus Lere Dawa.

Tatkala mengetahui sesama yang menderita, selama ini
apakah yang lebih banyak kita lakukan? diam saja? Berharap?
Berdoa? Atau, memberi pertolongan yang tepat?


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 22 April 2011

Jadilah Kehendak-Mu

Kamis, 21 April 2011
Jadilah Kehendak-Mu
Baca: Matius 26:36-46
Lalu Ia pergi untuk kedua kalinya dan berdoa, kata-nya: “Ya Bapa-Ku jikalau cawan ini tidak mungkin lalu, kecuali apabila Aku meminumnya, jadilah kehendak-Mu!”
Matius 26:42

Peristiwa yang dialami Tuhan Yesus meng­ingatkan kita bahwa Dia sebagai Manusia juga menghadapi persoalan-persoalan yang berat. Semula Tuhan Yesus berharap agar para murid bersikap sebagai pendamping diri-Nya. Akan tetapi, di saat Ia berjuang menggumuli berbagai konsekuensi dahsyat yang harus ditanggung-Nya, para murid justru tertidur lelap tanpa beban.
Jika kita mengamati pergumulan Tuhan Yesus di Taman Getsemani ini, ada saat di mana Ia ingin sekali melepaskan hal yang di-
sebut-Nya sebagai cawan pahit. Sikap Yesus mengajarkan kepada kita tentang bagaimana Dia bersikap terhadap pergumulan yang sangat berat dalam hidup-Nya, yaitu berdoa, mempersiapkan hati sehingga dengan hati yang tulus tunduk pada kehendak Bapa, bukan memaksa Allah untuk menuruti kehendak-Nya.
Apa yang Tuhan Yesus lakukan di Taman Getsemani bukan sedang bernegosiasi dengan Allah, melainkan untuk menegaskan bahwa Dia berserah penuh pada Allah. Tuhan Yesus tahu bahwa apa yang akan di-lakukan-Nya, yaitu menderita dan mati di salib bukanlah untuk kepen-tingan diri-Nya sendiri, tetapi untuk menggenapi rencana keselamatan Allah bagi umat manusia.
Hal yang memampukan kita tunduk pada kehendak Allah adalah membina hubungan yang erat dengan Bapa. Ini yang membuat kita mampu menghadapi pergumulan berat yang menimpa kita, seperti yang telah dilakukan Tuhan Yesus di Taman Getsemani. —Prihanto Ngesti Basuki.
Doa: Ya Tuhan, ajarlah aku menempatkan kehendak-Mu
dalam setiap langkahku. Amin.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 21 April 2011

Urapan Maria

Baca: Yohanes 12:1-8
Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku.
Yohanes 12:7

Mendapat kesempatan mengalami ke­bersamaan yang begitu pribadi menjelang kematian seseorang yang kita sayangi dan hormati, menjadi peristiwa yang tidak mung­kin terlupakan. Maria mendapatkan kesem­patan itu. Keinginan yang begitu kuat untuk berada di sisi Yesus dan melakukan tindakan pengurapan pada diri Yesus, adalah sebuah keberanian yang lahir dari kekuatan hati untuk mengasihi dan menghormati Yesus.
Pengurapan itu telah mengejutkan orang-orang yang hadir di situ. Menurut ukuran
etika, apa yang dilakukan Maria adalah sebuah tindakan yang tidak layak, sebab Sang Rabbi telah diurapi oleh seorang perempuan biasa, bahkan seorang perempuan sundal (Lukas 7:37). Dari sudut pandang Yudas Iskariot pengurapan dengan minyak yang mahal itu merupakan tindakan pemborosan.
Yesus justru menerima tindakan Maria dengan hati terbuka. Yesus melihat pada keberanian yang lahir dari luapan kasih dan penghormatan yang mendalam dari diri Maria, dan itu hanya mampu dilakukan oleh orang-orang yang begitu rindu dijamah oleh cinta ilahi yang ada dalam diri Yesus.
Urapan Maria adalah peristiwa imaniah antara kehausan seorang anak manusia akan pemulihan dari noda-noda dosa, dengan Tuhan yang bersedia menyambut dan menerima bentuk pengabdian dan pemberian diri yang penuh tobat. Cara-cara seperti ini amat dihargai Yesus lebih daripada sekadar rangkaian tindakan yang mengatasnamakan kebajikan. Yesus menerima pengabdian dan pemberian diri dari hati yang bernyala oleh kasih. —Pdt. Meyske S. Tungka.

Mengurapi Yesus berarti mengikut Yesus di jalan Salib,
rela mengalami penderitaan demi kesetiaan pada Dia. Dan
tak ada yang terlalu mahal bagi hati yang mencinta.

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 20 April 2011

Pengakuan Dosa


Baca: Lukas 18:13
Ya allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.
Lukas 18:13

Seorang misionaris di China memiliki sebuah gereja kecil dan sederhana tanpa hiasan apa pun. Suatu hari menjelang Paskah beberapa umat pergi ke gereja yang lebih be­sar di kota lain. Mereka melihat gereja besar itu penuh dengan poster dan hiasan-hiasan berwarna warni. Timbul keinginan untuk juga menghias gereja mereka di desa. Mereka tiba kembali ke desa pada hari Sabtu sunyi. Tak ada kesempatan lagi untuk membuat hiasan. Setelah berunding, akhirnya mereka cepat-cepat pergi ke binatu, meminjam beberapa potong pakaian bersih. Mereka menggantungkan pakaian-pa-kaian bersih itu pada sebuah bambu panjang membentang dalam gereja. Tentu saja misionaris itu terkejut melihat hiasan unik yang terdiri dari berbagai jenis pakaian yang baru dicuci bersih. Pakaian bersih, Tonne penulis kisah ini menyimpulkan, betapa cocoknya sebagai simbol orang yang telah mengakui dosa sebelum Paskah.
Sayang, tidaklah mudah untuk mengakui kesalahan atau dosa diri sendiri karena orang cenderung menganggap diri benar, tak bersalah. Padahal mengakui diri sebagai orang berdosa diperlukan bagi keselamat-an kita. Pengakuan bahwa dirinya berdosa akan membawa pada penye­salan dan pertobatan yang benar. Berani mengakui dosa dan kesalahan sendiri merupakan jalan untuk bisa merasakan belas kasihan Allah yang Maharahim, yang tidak memperhitungkan dosa-dosa manusia. Dengan mengakui dosa di hadapan Allah, kita akan merasakan tindakan-Nya yang mengampuni, membersihkan dan menjadikan kita sebagai ciptaan baru. Sudahkah kita? —Liana Poedjihastuti.

Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang
lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
—2 Korintus 5:17



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 19 April 2011

Mata Ganti Mata?

Baca: Matius 5:38-42
...siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepadanya pipi kirimu.
Matius 5:39

Mata ganti mata. Gigi ganti gigi. Kita rasa itu adil dan lebih serasi dengan akal sehat. Tetapi apa yang Tuhan Yesus ajarkan? “Janganlah kamu melawan orang yang berbuat jahat kepadamu, melainkan siapa pun yang menampar pipi kananmu, berilah juga kepa­danya pipi kirimu” (ayat 39). Ah, tentu saja di dalam hati kita berontak! Jika seseorang menampar pipi kiriku, kutampar juga pipi kirinya! Manusiawi sekali, dan Tuhan me­mang tidak mengajar kita sekadar manusiawi, tetapi menjadi seperti Dia.
Apa yang Yesus ajarkan itu suatu paradoks, berbenturan dengan pendapat umum, tak lazim, tetapi mengandung kebenaran sejati. Jika Anda ditampar dan menampar balik, mungkin saja itu benar. Mata ganti mata rasanya lebih adil, tetapi Yesus menistakan tindakan demikian. “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini...” (Roma 12:2). Yesus ingin kita berbuat lebih untuk orang lain, “...siapa pun yang me­maksa engkau berjalan sejauh satu mil, berjalanlah bersama dia sejauh dua mil” (ayat 41).
Kent M. Keith menerjemahkan tindakan paradoksal ini di dalam situsnya Paradoxical Commandments.com. Ia menulis, “Seseorang butuh pertolongan Anda, tetapi mungkin akan menyerang saat Anda mengulur­kan tangan, bagaimanapun tolonglah mereka! Ketika Anda memberikan yang terbaik kepada dunia, mungkin itu membuat Anda ditendang, bagaimanapun tetap berikanlah yang terbaik! Kebaikan yang hari ini Anda lakukan mungkin akan dilupakan besok, bagaimanapun tetaplah berbuat baik!” Inilah cara yang paling sederhana, ujian paling mudah untuk memanggul salib, yakni melakukan tindakan benar di mata Tuhan. —Agus Santosa.

Orang Kristen harus seperti sebatang lilin, tetap tenang
dan terbakar pada saat yang sama. —Merv Rosell


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi