Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Sabtu, 16 April 2011

Melihat Diri Yesus


Baca: Markus 15:1-39
Dan oleh karena Pilatus ingin memuaskan hati orang banyak itu, ia membebaskan Barabas bagi mereka. Tetapi Yesus disesahnya lalu diserah-kannya untuk disalibkan.
Markus 15:15

Dalam kisah sengsara Tuhan Yesus kita menemukan banyak pribadi yang terlibat dalam peristiwa penangkapan dan penyalib-an itu. Kita dapat mengenal mereka satu per satu dari tindakan atau kata-kata mereka. Hal ini sering kita jadikan sebagai bahan renungan bahwa kita juga melakukan hal-hal yang mereka lakukan, entah perbuatan baik maupun perbuatan jahat. Secara jujur kita katakan bahwa kita pun tidak lebih baik dari mereka, sering melakukan yang jahat. Bacaan Alkitab hari ini mau mengajak kita meneliti
peran tokoh-tokoh itu sehingga membuat kita belajar dari setiap penga-laman mereka.
Kisah sengsara Yesus juga dapat kita jadikan cermin kehidupan kita, bukan dengan merenungkan pribadi-pribadi di dalam kisah itu secara sendiri-sendiri, tetapi merenungkan secara menyeluruh semua perilaku para tokoh itu, entah yang berperilaku baik maupun yang berperilaku jahat. Karena bila kita lugas memperhatikan kehidupan kita sendiri, justru sering terjadi pergumulan antara kebaikan yang ingin kita lakukan dan kejahatan yang justru jadi kenyataan.
Dalam membaca dan merenungkan kisah sengsara Tuhan Yesus itu, kita tetap melihat dan merasakan, betapa Tuhan sungguh mengasihi dan ingin mencari dan menyelamatkan kita dengan menempuh jalan penderitaan dan kematian. Dan dengan dasar ini, kita dapat bercermin dan menerima diri kita apa adanya, dan menyadari bahwa diri kita itu dicintai oleh Allah. Dari situ kita diajak membangun kehidupan baru berdasarkan cinta itu. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Terima kasih, ya Tuhan, atas pengorbanan-Mu dalam  menanggung dosa dan penderitaan kami. Ajarilah kami untuk  melakukan kebaikan sesuai dengan kehendak-Mu. Amin.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 15 April 2011

Dianiaya Karena Kristus

Baca: Matius 5:11-12
Berbahagialah kamu, jika karena aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan
segala yang jahat. Bersuka-citalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi sebelum kamu.
Matius 5:11-12

Dalam rangka mempersatukan seluruh bangsa, Pemerintah Romawi pada abad per­tama dan kedua mempersonifikasikan Kaisar sebagai dewa bagi seluruh warga kekaisaran. Satu tahun sekali warga mempersembahkan dupa kepada kaisar dan yang melakukan mendapat tanda libellus ,semacam sertifikat, sehingga bagi mereka yang telah menerima tanda tersebut beroleh ketentraman dan keberuntungan hidup. Orang Kristen tidak mau ikut ambil bagian dalam penyembahan kepada kaisar, karena yang patut disembah
hanyalah Kristus, Anak Allah, Juru Selamat dunia. Akibatnya, terjadi penganiayaan secara fisik yang luar biasa pada abad pertama.
Hal serupa juga terjadi di negara otoriter yang mempunyai ideologi komunisme seperti di Uni Soviet seperti zaman Lenin dan Stalin, atau di China zaman Mao Ze Tung. Berbeda dengan ideologi negara yang otoriter bisa berakibat pengikut Kristus teraniaya. Demikian pula bila pengikut Kristus yang minoritas tinggal di tengah mayoritas agama lain, yang memiliki dogma dan ajaran yang lain, maka pengikut Kristus bisa mengalami penganiayaan, seperti orang Kristen di tengah masyarakat beragama Yahudi pada abad pertama (Wahyu 2: 8-11). Demikian pula dalam suatu komunitas kecil, jika ada salah seorang anggota keluarga menjadi pengikut Kristus, maka bisa terjadi kebencian bahkan pengu­siran karena perbedaan agama, apabila tidak ada toleransi agama. Walau demikian tetaplah setia, sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi, bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahnya besar di surga. —A. Budipranoto.

Doa: Berilah kesetiaan kepada kami untuk tetap menjadi pengikut Kristus
sampai akhir hayat, meskipun terkadang kami mengalami perlakuan
yang tidak adil sebagai golongan minoritas. Amin.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 14 April 2011

Tetap Setia

Baca: 2 Samuel 22:26
Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela berlaku tidak bercela.
2 Samuel 22:26

Kisah kehidupan yang menyesakkan dia­lami masinis kereta api yang ditahan karena kecelakaan kereta api di Bintaro, Jakarta, beberapa tahun yang lampau, yang dikenal sebagai “Tragedi Bintaro”. Ia menuturkan bahwa istrinya meninggalkannya saat dia berada dalam tahanan.
Saat seseorang berada dalam kecukupan, bahkan kelimpahan tidaklah sulit untuk ber­sikap setia. Namun dalam situasi tertekan, kekurangan, menderita, di sinilah kesetiaan itu teruji. Kristus mengajarkan kepada kita,
bagaimana tetap setia dalam situasi yang tidak baik, dalam kesulitan, tekanan ataupun situasi yang tidak diharapkan. Kristus pun memberi teladan kesetiaan saat Dia mengalami penderitaan dan kematian-Nya di kayu salib.
Kristus menghadapi tuduhan palsu bukan dengan kegusaran ataupun ketakutan (Markus 14:56). Ia merespons tindakan yang tidak terpuji, bukan dengan membalas perlakuan sama tetapi dengan sikap bijaksana (Yohanes 18:22-23). Yesus tetap melangkah seturut dengan kehendak Bapa-Nya meskipun secara sadar Ia tahu penderitaan dan kematian sudah menanti (Yohanes 19:17). Menghadapi semua itu Kristus tidak mengeluh (Matius 27:32). Dan menjelang kematianNya, Kristus tetap tertuju kepada Bapa-Nya (Lukas 23:46).
Teladan Kristus yang tetap setia saat penderitaan menderaNya, menuntun kita untuk belajar tetap setia. Tetap setia dalam saat-saat yang sulit bukanlah sesuatu yang mudah namun tetap dapat terwujud bila kita terus memperjuangkannya. —Soetrisno Soeparto

Kesetiaan, teruji melalui kesulitan dan penderitaan.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 13 April 2011

Salib Meniadakan Kutuk


Baca: Galatia 3:11-14
Kristus telah menebus kita dari kutuk hukum Taurat dengan jalan menjadi kutuk karena kita, sebab ada ter-tulis, “Terkutuklah orang yang digantung pada
kayu salib!”
Galatia 3:13

Menurut ajaran para ahli Taurat, keselamat-an hanya akan terjadi dengan menaati dan menjalankan hukum-hukum Taurat secara cermat, penuh dan benar. Sebaiknya, tanpa menaati dan menjalankan Taurat sedemikian itu, akan mendatangkan hukuman dan ke­binasaan. Dalam hal ini Taurat lalu berarti mengimplikasikan berkat keselamatan, tetapi sekaligus juga kutuk kebinasaan. Padahal, oleh kuasa dosa, manusia cenderung untuk tidak akan mampu menaati dan memenuhi tuntutan Taurat. Oleh sebab itu, Taurat da-
lam hal ini menjadi lebih mengimplikasikan kutuk ketimbang berkat.
Berbeda dengan ajaran para ahli Taurat, Paulus menyatakan bahwa keselamatan itu terjadi bukan karena menjalankan Taurat yang harus sempurna itu, melainkan oleh iman atau kepercayaan kepada salib Kris­tus. Melalui salib itu, Tuhan Yesus telah menebus dan menyelamatkan kita dari kutuk Taurat yang seharusnya kita tanggung, karena kita tidak mampu memenuhi tuntutan Taurat itu dengan sempurna.
Jikalau kita mengimani dan mempercayai salib Kristus, itu berarti kita mengakui betapa besar kasih Tuhan kepada kita, yang meskipun oleh kelemahan dan dosa-dosa yang ada pada kita, sehingga kita tidak mampu memenuhi tuntutan Taurat atau hukum-hukum Tuhan itu, namun tetap berkenan menyelamatkan kita. Oleh sebab itu, mengi­mani dan mempercayai salib Kristus harus pula mendorong kita untuk bersyukur, dengan cara berusaha sekuat tenaga menenjalani kehidupan yang penuh ketaatan kepada-Nya. —Pdt. Em. Sutarno

Oleh salib Kristus, kita menaati hukum Tuhan bukan
untuk mendapatkan keselamatan, melainkan untuk
mengucapkan syukur atas pengorbanan-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 12 April 2011

Diangon Tuhan


Baca: 2 Timotius 1:9-12
...aku yakin bahwa Dia berkuasa memeliharakan apa yang telah dipercaya­kan-Nya kepadaku hingga pada hari Tuhan.
2 Timotius 1:12
Ada sungai yang membentang, memisah­kan halaman belakang rumah saya dengan persawahan. Sekali waktu saya sering me­nyaksikan sekawanan bebek sedang digiring menyusuri sungai di sekitar persawahan itu. Bebek-bebek itu diangon, digembalakan untuk mencari makan. Itulah salah satu cara memelihara bebek di pedesaan. Ternak itu tidak dikandang lalu diberi makan, tetapi diangon.
Saya merenung, seperti itukah cara Tuhan memelihara kita, diangon dan tidak dikan-
dang. Kita dilepas dalam penggembalaan-Nya. Kita digiring untuk me-ngenali dan menemukan sendiri panggilan-Nya atas hidup kita (ayat 9). Tetapi, apakah kita tahu apa yang dirindukan Tuhan saat menggem­balakan kita? Tuhan ingin kita melakukan yang terbaik untuk diri-Nya. Tuhan tidak ingin kita menafikan apa yang telah dipercayakan-Nya kepada kita.
Namun kita sering menafikan-Nya. Mengapa? Itu karena kita menolak untuk menderita (ayat 12). Kita takut menderita. Kita tak mau mende-rita. Kita tak tahan menderita. Kita bahkan terkadang malu memanggul salib. Kita malu memberitakan kasih Tuhan. Kita malu menjadi saksi Kristus. Ya, Yesus memang sudah terlanjur menderita untuk kita. Tetapi, tidakkah Ia juga berhak malu dan tak mau memelihara kita? Renung­kanlah, ketika kita menafikan panggilan Tuhan, sesungguhnya kita sedang menolak pemeliharaan-Nya. Jadi, mengapa kita tidak lebih merapat lagi ke dalam penggembalaan Tuhan? Izinkanlah Roh Kudus menudungi kita, niscaya Ia menggiring kita menemukan yang terbaik juga. —Agus Santosa
Tuhan tak pernah menggiring kita melintasi jalan
yang paling sedikit tantangannya, karena jalan seperti itu
hanya membuat kita menjauh dari-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 11 April 2011

Menjadi Manusia Allah


Baca: Roma 6:13
Dan janganlah kamu menyerahkan anggota-anggota tubuhmu kepada dosa untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup....
Roma 6:13

Peristiwa kematian Tuhan Yesus di atas Kayu Salib adalah sebuah momentum yang luar biasa bagi kehidupan umat manusia, khususnya bagi mereka yang percaya dan mengakui Yesus sebagai Tuhan dan Juru Selamat. Namun dalam perjalanan hidup ini tidak sedikit orang yang mengaku percaya melupakan makna penting peristiwa itu bagi hidupnya.
Walaupun sudah mengaku menjadi orang percaya, namun kehidupannya masih tidak mencerminkan hidup baru, sebaliknya, masih berkutat terus dengan persoalan dan cara hidup lama. Roma 6:13 mengingatkan kita untuk berjalan kembali sebagai manusia yang telah diselamatkan Allah melalui kematian Tuhan Yesus di atas Kayu salib. Menjauhkan diri dari kelaliman, dan memasrahkan kehidupan kita kepada Allah karena sekarang ini kita telah dihidupkan kembali oleh kematian Tuhan Yesus di Kayu Salib dan menjadi manusia baru, ma­nusia Allah. Manusia yang mengejar keadilan, ibadah, kesetiaan, kasih, kesabaran, dan kelembutan (1 Timotius 6:10-11). Sudahkah kita me­nyadari dan melakukan hal itu? Ataukah kita masih berada dalam eforia kemenangan kehidupan kita sehingga lupa untuk menapaki jalan yang harus kita lalui sebagai manusia Allah?
Sekarang saatnya kita kembali ke jalan Allah dan mengakui bahwa Allah telah menyelamatkan hidup kita dan mengampuni dosa kita. Marilah kita hidup dengan tidak bercela, tidak tertaklukkan oleh dunia, melainkan tetap beriman kepada Allah, tetap percaya meskipun tidak melihat. —Darmanto

jadilah manusia allah, manusia yang selalu berjuang
dalam pertandingan mengejar kasih, kesetiaan,
kesabaran dan kelembutan.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 10 April 2011

Menjadi Murid Yesus


Baca: Lukas 14:27-35
Barangsiapa tidak memikul salibnya dan mengikut Aku, ia tidak dapat menjadi murid-Ku.
Lukas 14:27

Seorang kaya membuat sebuah ruang doa di rumahnya, tetapi tak pernah digunakan un­tuk berdoa. Yesus duduk di ruang tamu dan berkata, “Iblis akan selalu datang ke rumah ini karena Aku tidak pernah kalian temui di ruang doa.” Mereka sadar dan segera berkata, “Tuhan Yesus, Engkau adalah Guru kami. Kami mau menjadi murid-Mu.” Sejak itu ruang doa benar-benar menjadi mezbah keluarga. Ketika Iblis datang lagi, maka Yesus yang menemuinya sendiri. Dan Iblis berkata: “Oh, maaf, salah alamat!” Boleh tertawa, tetapi adakah mezbah keluarga di rumah Anda?
Menjadi murid Yesus harus disiplin dalam mezbah keluarga. Ada-kah ruang doa tanpa doa dan ruang hati tanpa Yesus? Memanggul salib berarti hidup disiplin secara rohani walaupun mengikat dan membuat sementara orang tidak nyaman. Jangan menyebut diri murid Yesus kalau tidak mau didisiplin.
Memikul salib berarti berjalan dengan beban dari Tuhan. Ada mu­rid yang enggan mengerjakan PR karena tidak menyukai mata pelajaran atau tidak suka cara gurunya mengajar. Tidak demikian dengan Yesus. Ia Guru yang menyenangkan dan ajaran-Nya pun mengenakkan. Yang membuat kita enggan memikul salib-Nya ka-rena kita merasa mengikut Dia menambahi beban dan tidak bisa bebas. Bukankah demikian?
Jangan pakai atribut salib kalau bukan murid Yesus sejati. Pakai atribut salib itu ringan karena hanya anting-anting atau bandul kalung. Tetapi konsekuensi dari memakai atribut itu bisa menjadi teladan atau menjadi batu sandungan. Pilih yang mana, pakai atribut menjadi tanda murid sejati atau sekadar etalase berjalan? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono
Salib Yesus bukan sekadar palang kayu. Salib Yesus
adalah kayu yang mengubah hidup manusia.


 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 09 April 2011

Risiko

Baca: Daniel 6:1-29
Allahku telah mengutus malaikat-Nya untuk meng­atupkan mulut singa-singa itu, sehingga mereka tidak mengapa-apakan aku....
Daniel 6:23

Tubuhnya kecil, usianya 82 tahun, tetapi keteguhan sikapnya luar biasa. Dialah Mbah Maridjan. Saat Merapi meletus tahun 2006, ia mengatakan dalam sebuah wawancara: “Merapi tidak meletus, kalau meletus itu habis. Merapi seperti orang hidup yang ber­napas, kalau sedang batuk ya mengeluarkan dahak. Kalau membuang kotoran pasti tidak di depan istana Jogja, melainkan di sam-pingnya.” Keyakinan itu membuatnya tidak mau mengungsi, walau saat itu didatangi wakil presiden. Apa yang dikatakannya benar.
Merapi meletus, tapi awan panasnya melewati sungai yang cuma berjarak ratusan meter dari desanya.
Tahun 2010, sesaat sebelum Merapi meletus, si mbah tetap tidak mau mengungsi, “Saya diminta menjaga Merapi oleh Sultan Jogja, karena itu harus bertanggung jawab. Jika saya pergi, siapa yang jaga. Apa pun risikonya saya di sini.” Bagi kebanyakan orang, sikap itu dinilai “bodoh, konyol”, tetapi bagi si mbah itulah sikap yang mengamini keyakinan­nya, walau berisiko. Akhirnya Mbah Marijan ditemukan meninggal di rumahnya yang hancur terkena awan panas.
Terlepas benar atau salah keyakinan dan sikap Mbah Marijan, ada yang dapat kita renungkan, yakni “keyakinan itu harus diamini dengan sikap, walau berisiko”. Ada banyak orang Kristen yakin, Yesus adalah Juru Selamatnya, tetapi mereka tidak mau menanggung risiko ketika dihadapkan pada dua pilihan “lari dari keyakinan—selamat” atau “tetap pada keyakinan—mati”. Yudas memilih uang dan mengkhianati Yesus. Daniel memilih Tuhan, walau dimasukkan ke dalam kandang singa. Lalu bagaimana dengan kita? —Pramudya
Yesus sadar akan risiko yang harus diterima-Nya,
ketika Dia memilih menyelamatkan kita.

==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 08 April 2011

Dianiaya Demi Kebenaran


Baca: Matius 5:10
Berbahagialah orang yang teraniaya oleh sebab kebenaran, karena mereka­lah yang empunya Kerajaan Surga.
Matius 5:10
Kisah nyata ini terjadi di sebuah kota kecil di Jawa. Ada seorang hakim Kristen, yang jujur dan tidak mau menerima suap, dan i-ngin menegakkan keadilan dalam menangani perkara di pengadilan. Rekan-rekan sekantor tentu tidak senang dengan keberadaannya. Akhirnya oleh atasannya dia dimutasikan ke Papua.
Di Indonesia saat ini, pengikut Kristus yang benar-benar ingin menegakkan nilai-nilai kristiani (keadilan, kebenaran, keju­juran) dalam pekerjaannya sehari-hari malah  mengalami perlakuan yang tidak baik, karena lingkungan kerjanya korup, menerima suap. Mereka menjadi terasing di tengah lingkungannya.
Meskipun Presiden Susilo Bambang Yudoyono berjanji akan mem­berantas korupsi pada waktu kampanye, hingga saat ini aparat penegak hukum masih dipermainkan oleh para koruptor dan mafianya. Per­juangan untuk menegakkan kebenaran, keadilan dan kejujuran masih panjang. Pasti nanti ada pahlawan-pahlawan keadilan, kebenaran dan kejujuran yang menjadi martir. Mungkin perang terhadap koruptor ini baru selesai sepuluh tahun kemudian, bahkan lebih.
Tuhan Yesus mengajarkan kepada para pengikut-Nya supaya me­nyadari jika mau konsisten hidup menegakkan nilai-nilai Kerajaan Allah yakni kasih, kebenaran, keadilan dan kejujuran, mereka akan mengalami aniaya dari lingkungan yang membencinya. Tetaplah taat. Berbahagialah kita jika melakukan yang demikian, karena kita yang empunya Kerajaan Surga. —A. Budipranoto

Doa: Berilah kami kesetiaan untuk tetap bersikap jujur, benar
dan adil, meskipun masyarakat di sekitar kami memusuhi, karena
kami melakukan itu untuk memuliakan nama-Mu. Amin.


 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 07 April 2011

Bukan Batu Sandungan


Baca: 1 Korintus 1:23-25
Kami memberitakan  Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.
1 Korintus 1:23

Pemberitaan Paulus mengenai Kristus se-bagai Juru Selamat, namun yang mati di kayu salib, sulit dapat diterima oleh banyak orang. Bagi orang Yahudi, pemberitaan tersebut menjadi batu sandungan, karena bertentangan dengan ajaran dan penghara­pan mereka, bahwa Mesias harus merupakan Raja perkasa yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Bagi orang bukan Yahu­di, pemberitaan tentang Juru Selamat yang disalib itu juga tidak dapat diterima, karena dianggap merupakan kebodohan yang tidak sesuai dengan akal sehat. Bagaimana mungkin mempercayai Juru Selamat yang tidak dapat menyelamatkan diri sendiri?
Namun, menurut kesaksian Paulus, bagi orang-orang yang oleh kuasa Tuhan dipanggil untuk menerima keselamatan dari-Nya, Kristus yang disalib itu justru menunjukkan “kekuatan dan hikmat Allah”. Bahwa Kristus mau dan sanggup melakukan pengorbanan yang begitu besar sehingga rela disalib, itu merupakan tindakan yang menunjukkan betapa tinggi hikmat-Nya dan besar kuasa-Nya yang melampaui segala hikmat dan kekuatan manusia.
Sikap dan anggapan terhadap salib Kristus sebagai batu sandungan dan kebodohan itu ternyata hidup juga di kalangan banyak orang sampai sekarang ini, termasuk kita yang mengaku percaya kepada-Nya. Bukankah kita sering juga mengharapkan dan berusaha menjadikan Kristus sebagai yang penuh kekuasaan dan kemegahan, melalui kehidupan dan aktivitas kita sebagai Gereja maupun pribadi? Sikap dan anggapan seperti itu tidak sesuai dengan makna salib yang sesung­guhnya, sehingga harus kita hindari. —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk memahami dan
mempercayai salib sebagai hikmat dan kekuatan-Mu
yang menyelamatkan kami. Amin.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 06 April 2011

Salib-Ku Enak

Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.
Matius 11:30

 “Jadi orang Kristen kok susah ya? Dulu sebe­lum jadi Kristen, aku berpikir orang Kristen itu enak. Selalu bersukacita. Di mana saja, kapan saja selalu menyanyi. Dalam upacara pemakaman yang sedang diliputi dukacita saja menyanyi, apalagi pada saat suasana su­kacita. Tetapi kok setelah jadi orang Kristen, ternyata tidak seindah yang kubayangkan...”
Ya, mungkin ada di antara kita yang pernah memiliki pemikiran seperti itu, yaitu jadi orang Kristen itu enak, tanpa masalah, dan semuanya bisa beres.
Oh, jangan terburu-buru berpikiran seperti itu! Sebab, setiap manusia, termasuk juga anak-anak Tuhan, selama ia masih hidup di dunia ini, sama sekali tidak steril dengan yang namanya masalah. Siapa pun kita, pasti suatu saat akan menghadapi masalah-masalah kehidupan. Hanya saja, sebagai orang-orang beriman, kita diberi kekuatan yang luar biasa oleh Tuhan di dalam menghadapi setiap permasalahan hidup tersebut.
Secara jelas, di dalam bacaan hari ini, kita bisa melihat janji Tuhan tersebut, yaitu pada saat kita mau datang dan menyerahkan segala per-masalahan hidup kita, Tuhan pasti akan memberikan kelegaan kepada kita. Tuhan tahu persis, sampai batas mana kita mampu untuk memikul salib kita masing-masing. Jadi, percayalah apa pun masalah kehidupan yang kita alami, kita pasti sanggup untuk melewatinya, karena salib yang kita pikul itu enak, dan itu pas buat kita. —David N. Widi

Menjadi anak-anak Tuhan tidak berarti steril dari
masalah kehidupan. namun yang pasti, anak-anak
Tuhan pasti mampu memikulnya, karena salib
yang kita pikul itu enak.



==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 05 April 2011

Menjadi Pengikut Kristus

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 2:5
Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
1 Korintus 2:5
Memanggul salib bukanlah nasib tidak berdaya yang harus dihadapi manusia de-ngan perasaan menyerah. Tuhan tidak men­ciptakan manusia untuk menjadi semacam “wayang” yang ditaruh di dalam kotak, usai dipentaskan oleh “sang dalang” dalam suatu lakon pertunjukan. Sudah selesai lakon yang dimainkan dan kalah dalam pertarungan melawan kerasnya kehidupan, tentu wayang tersebut akan dimasukkan kotak. Tinggal tokoh yang kuat dan super yang bertahan.
Salib adalah konsekuensi logis yang harus dijalani, ketika manusia harus menghadapi berbagai kesulitan dengan menujukkan “integritas” dan “identitas” imannya. Tidak ada iman yang bertumbuh dengan matang kalau tidak dirabuk dengan kesulitan dan penderitaan yang datang menderanya. Kesulitan justru menjadi semacam pupuk yang memberikan spirit maju, karena kita mempunyai Tuhan yang hidup, bukan menjadi alasan lari dari gelanggang.
Seperti ditunjukkan Yesus yang berani menghadapi jalan salib dengan konsekuen dan konsisten menjalaninya, harus mencapai puncak bukit Golgota demi menebus dosa umat manusia. Sekalipun berat langkah yang harus dijalani, itu tidak menyurutkan semangat dan tekat-Nya, menjalani jalan salib sampai tuntas.
Sebagai pengikut Yesus ada salib yang harus ditanggung, seperti ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya. Mereka akan dibenci dan tidak disukai banyak orang. Namun jangan merasa takut. Jangan pernah menye-rah sebagai pengikut Tuhan. Kita bukan ikut Yesus yang kalah memikul salib, tetapi Yesus pemenang, Ia yang mengalahkan musuh-Nya dengan cinta kasih. —Pdt. Agus Wiyanto.

Seberat apa pun salib yang anda pikul jangan coba membandingkan
dengan salib orang lain, lalu berkata salib saya lebih berat dan sukar. Ada porsi yang mampu kita tanggung dan Tuhan akan menyertai-Nya.


 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Salib Besar Dan Kecil


Bacaan Alkitab: Lukas 9:22-27
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memi­kul salibnya setiap hari  dan mengikut Aku.”
Lukas 9:23

Beratnya memanggul salib digambarkan se­bagai berikut: Ada tiga pemanggul salib yang sama besar dan sama beratnya. Di tengah perjalanan seorang dari mereka meletakkan salib itu karena merasa sudah tidak sanggup memanggulnya. Yang seorang lagi memo­tongnya menjadi salib kecil dan ringan. Sampailah mereka di sebuah jurang tanpa jembatan. Kedua pemanggul salib menyesal karena telah meninggalkan dan mengubah salib yang mereka panggul. Hanya seorang saja yang bisa melewati jurang itu karena
salib yang besar itu cukup menjadi jembatan untuk menyeberang. Ba­gaimana dengan “salib Tuhan” yang sedang Anda panggul?
Mengikut Yesus bukan seperti mengikut seorang tokoh dunia. Ta­waran yang dihadapkan Tuhan Yesus bukan kedudukan enak, kebahagiaan masa depan, tetapi penderitaan seperti apa yang dialami-Nya (ayat 22). Jangan pernah bermimpi bahwa mengikut Yesus semua jalan jadi mulus. Jalan Tuhan memang sukar, tetapi ujung jalan-Nya pasti indah.
Mengikut Yesus harus ada yang hilang untuk bisa mendapat. Ke­hilangan nyawa adalah kata lain kehilangan yang istimewa dalam dunia ini (ayat 24). Kehilangan itu akan mendapat yang lebih istimewa sebagai upah kerelaannya untuk meninggalkan yang ditawarkan dunia. Pasti tidak rugi. Sanggupkah kita?
Mengikut Yesus, yang surgawi lebih menjanjikan daripada yang duniawi. Kekayaan, kedudukan, kesenangan macam apa pun tidak ada yang bisa menggantikan sukacita surgawi yang akan kita terima bila men­jadi pengikut Yesus yang taat dan setia. Percayalah Yesus tidak menjanjikan pepesan kosong. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono.
Salib Yesus memang berat, tetapi berjalan bersama-nya yang
berat akan menjadi ringan karena Ia selalu mengajak
kita untuk bicara dalam perjalanan ini.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 04 April 2011

Menerima Ajakan


Bacaan Alkitab: Lukas 9:57-62
Yesus berkata... “Serigala mempunyai liang dan burung mempu­nyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Lukas 9:58

Sering kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Bahkan ada pula lagu-lagu rohani yang sering kita nyanyikan, menyatakan ke-sanggupan kita mengikut Yesus. Benarkah kita sanggup dan sedang mengikuti Tuhan Yesus, ke mana pun arah-Nya?
Teringat saya akan anak kami ketika dia masih kecil. Suatu waktu dia menangis saat kami akan meninggalkannya di rumah, dan baru berhenti menangis ketika kami membawanya serta. Tetapi tak lama kemu­dian ia merengek minta pulang. Tentu saja,
sebab ia merasa tak nyaman di perjalanan, dan merasa tak dapat melaku­kan apa yang diinginkannya. Barangkali kita juga bersikap seperti itu ketika ingin mengikut Yesus.
Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan undangan Tuhan.Yesus memberikan sebuah ajakan kepada seseorang untuk mengikut Dia (ayat 59), tetapi di samping itu kepada seorang lainnya Ia mengatakan bahwa diri-Nya “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (ayat 58). Sebuah peringatan yang membuat kita berpikir berulang kali apakah mau ikut atau tidak, apalagi bila kita berada di tempat dan waktu tersebut; tak tahu ke mana arah dan tujuan kepergian-Nya.
Kepada orang-orang yang bermaksud mengikuti Dia, tetapi memiliki prioritas lain yang lebih penting, Tuhan Yesus tidak berkenan (ayat 60 dan 62). Sekarang, keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau menerima ajakan Tuhan Yesus dan mengikuti-Nya dan siap dengan apa pun konsekuensinya? —Ocky Sundari.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan
mengikut Aku, Ia tidak layak bagi-Ku.
—Matius 10:38


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 03 April 2011

Merendahkan Diri


Bacaan Alkitab: Matius 20:26-27, 23:11-12
Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.
Amsal 29:23

Apa warna pakaian yang Anda kenakan hari ini? Tentu itu pilihan Anda! Ya, apa yang kita kenakan merupakan pilihan kita, termasuk menjadi rendah hati juga pilihan kita. Kerendahan hati seperti pakaian yang membalut pribadi kita. Ini seperti nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose, agar orang-orang pilihan Allah selain mengenakan belas kasihan, kemurahan, kelemahlembutan dan kesabaran, juga mengenakan kerendahan hati (Kolose 3:12).
Apakah kita membalut diri dengan kerendahan hati? Itu pilihan kita! Yesus memberikan pilihan kepada Anda dan saya, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Tentang pilihan ini, C. Peter Wagner dalam bukunya, Humility, menjelas­kan bahwa meninggikan dan merendahkan merupakan kata kerja aktif, sedangkan direndahkan dan ditinggikan adalah kata kerja pasif. Kata kerja aktif menunjukkan bahwa tindakan itu tergantung sepenuhnya pada kehendak kita, sedangkan yang pasif membutuhkan kehendak Tuhan. Jadi, jika kita memilih untuk rendah hati, kita akan ditinggikan Tuhan. Jika kita tidak rendah hati, Tuhan tidak akan meninggikan kita.
Renungan hari ini ingin menuntun agar kita juga rendah hati dalam menunaikan pelayanan kita. Agar kita tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia, sebaliknya dengan rendah hati kita menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri (Filipi 2:3). Izinkanlah kerendahan hati membalut pelayanan kita, hari ini dan juga hari-hari selanjutnya! —Agus Santosa.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan
Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-
Nya pada waktunya. —1 Petrus 5:6

 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 02 April 2011

Memanggul Salib

Setiap kali berbelanja di pasar tradisional, saya selalu dibuat kagum oleh keperkasaan para perempuan setengah baya yang menjual jasa dengan memanggul barang belanja para pembeli maupun barang kulakan pedagang. Mereka terlihat perkasa saat memikul atau memanggul beban berat dengan selendang pengikat di pundak yang dililitkan pada punggung.
Memikul atau memanggul adalah mele­takkan beban di atas tubuh, dan ketika Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mengikut Dia harus memikul salibnya setiap hari, artinya kita harus siap me-manggul beban demi Yesus, Mesias dari Allah. [Kata mesias berasal dari kata dalam bahasa Ibrani masyiakh, yang artinya orang yang diurapi. Kata ini sepadan dengan kata khristos dalam bahasa Yunani yang artinya juga yang diurapi. Kita lebih akrab menyapa-Nya, Kristus.]
Yesus adalah Mesias pilihan Allah, Yang diurapi Allah, Anak Domba Paskah yang rela menanggung banyak penderitaan, disalibkan, mati dan bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa manusia. Yesus adalah Kurban terakhir dan paling sempurna bagi penebusan dosa umat manusia. Jika Anda dan saya adalah umat tebusan-Nya, kita seharus­nya mematuhi kehendak-Nya dengan menyediakan diri demi Dia dan memikul salib kita setiap hari. Ini adalah bukti bahwa kita rela mati dan mau memanggul penderitaan demi Yesus Mesias. Inilah kematian yang mengantarkan kita pada kehidupan kekal oleh penebusan Yesus Kristus, Anak Domba Paskah yang diurapi Allah.
Renungan Harian MUSA bulan ini menyajikan tiga puluh renungan yang menuntun kita untuk menilik hati, kehendak dan tindakan kita agar lebih setia, tegar dan rendah hati dalam memikul Salib. Selamat Paskah. —Agus Santosa

Jumat, 01 April 2011

Bukan Aku Lagi

Baca: Lukas 18:11-12
...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Galatia 2:20

Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Lukas 18:11-12).
Bagaimana perasaan Anda ketika mem­baca doa orang Farisi ini? Mungkin ada yang merasa itu doa yang wajar, karena kenyataan­nya demikian. Tetapi, saya yakin, banyak di antara kita yang merasa neg, berasa mual, mendengar doa semacam itu. Sepintas doa ini kedengaran mengucap syukur, tetapi sebenarnya menyombongkan diri. Doanya lebih berisi pamer diri. Bayangkan hanya satu kali dia menyebut “Mu”, sementara lima kali menyebut “aku”.
Inilah kecenderungan manusia pada umumnya: merasa diri paling baik, paling hebat, paling benar, bahkan di hadapan Tuhan sekalipun. Manusia yang sebetulnya miskin dan papa cenderung menyombong­kan diri dan memuja-muja diri. Betapa ironis, sebab Allah yang begitu berkuasa dan kaya malah begitu rendah hati.
Sering kali kita tergoda untuk unjuk diri, melakukan sesuatu hanya sekadar agar dilihat orang (Matius 23:5). Membangun citra taat dan setia padahal hatinya memendam berbagai rupa-rupa kejahatan.
Paulus mengingatkan kita, “...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Marilah membebaskan diri dari hidup yang hanya berpusat pada aku, agar dapat berpusat ke­pada Kristus, hingga orang yang melihat, tidak merasa neg, melainkan memuliakan Allah. —Liana Poedjihastuti
Ambillah dari diriku segala yang memisahkan diriku dari Dikau.
Berilah kepadaku segala yang mendekatkan diriku kepada
Ambillah diriku dari diriku dan berikanlah seluruh diriku
kepada Dikau. —Doa Santo Nicolaus Von Der Flue


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 31 Maret 2011

Pilihan Yang Sulit

Bacaan Alkitab: Filipi 1:21-26
Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
Filipi 1:23-24

Jika kita lupa minum obat yang diharus-kan, maka menyesal hanya sebentar. Jikalau kita salah jalan, maka memutar arah butuh waktu agak lama, kalau salah potong rambut sehingga terlalu pendek, butuh waktu satu bulan. Tidak naik kelas, harus menunggu setahun. Bagaimana kalau salah pilih pa-sangan hidup? Bisa kecewa seumur hidup dan masalah akan datang silih berganti.
Salah pilih fatal akibatnya. Firman Tuhan memberi nasihat bagaimana memilih yang tepat di antara hal yang terkadang sama-sama pentingnya.
Pikirkan manfaatnya lebih dahulu baru bertindak. Paulus berkata, “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (ayat 22). Hidup ini anugerah dari Tuhan sehingga tidak boleh kita miliki untuk diri sendiri.
Pilihlah yang terbaik diantara yang baik. Bagi Paulus pergi dan diam bersama Kristus, itu memang jauh lebih baik (ayat 23). Dengan demikian akan terbebas dari semua penderitaannya di dunia ini. Tetapi kalau tugas dari Tuhan masih harus dilanjutkan, yang terbaik harus menjadi prioritas. Masih adakah tugas yang Tuhan percayakan kepada kita? Jangan berhenti sebelum menyelesaikannya.
Pilihlah yang lebih perlu kalau Tuhan masih mau memakai kita. Dalam kondisi apa pun: sakit, kecewa, putus asa jangan sekali-kali meninggalkan Tuhan. Lebih baik kita bergumul apakah yang kita hadapi adalah sebuah tantangan atau ujian iman. Bila kita masih dipakai Tuhan, mengapa memilih yang terburuk? Pikirkan bahwa Tuhan masih memakai kita dan kita masih diperlukan banyak orang. Setuju? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Pilihan yang sulit adalah sebuah tantangan agar kita
terus naik sampai ke puncak kemenangan.


======================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 29 Maret 2011

Hanya Pada-Mu

Bacaan Alkitab: Lukas 18:35-43
Anak Daud, kasihanilah aku!
Lukas 18:39

Pada bulan Agustus 2010, terjadi kecela­kaan di salah satu tambang emas di Cile, sebuah negara di Amerika Latin. Terowong-an tambang runtuh menutup jalur keluar, sehingga 33 orang penambang terjebak di kedalaman 700 meter. Istri presiden Cile, meminta suaminya terus berjuang menyela­matkan para penambang tersebut. Presiden lalu memerintahkan penyelamatan para pe­nambang dengan biaya berapa pun. Presiden dan istrinya tanpa lelah menggalang dana di negaranya dan seluruh dunia, terjun lang-
sung mengkoordinir usaha penyelamatan, memberi semangat regu pe­nyelamat dan para penambang, ketika berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya para penambang berhasil diselamatkan. Seluruh dunia bersorak dan kagum akan perjuangan sang presiden. Tiga puluh tiga orang adalah jumlah kecil dibandingkan dengan penduduk Cile. Seandainya presiden tidak menyelamatkan 33 orang tersebut, mungkin rakyat Cile dan dunia memakluminya karena sungguh mustahil bisa menyelamatkan 33 orang di kedalaman 700 meter di bawah tanah. Tetapi pilihan tepat presiden telah menyelamatkan para penambang, dan pilihan itu telah pula menjadikan negara Cile terkenal di dunia.
Bagaimana dengan kita? Ada banyak pilihan di depan mata kita. Mana yang akan kita pilih? Si Buta dari Yerikho memilih meminta kesembuhan kepada Yesus, karena dia percaya Yesus adalah pilihan tepat untuk menyembuhkan penyakitnya. Yesus menyembuhkannya, dan ia memuliakan nama Allah. Semua orang yang ada disitu melihatnya dan juga memuliakan Allah. —Pramudya.

Pilihan tepat akan menjadikan hidup bermakna,
pilihan salah akan membuat hidup menderita.


===================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi