Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Selasa, 17 Mei 2011

J a m u

 
Baca: Mazmur 141:3
Awasilah mulutku, ya Tuhan, berjagalah pada pintu bibirku!
Mazmur 141:3

“Kalau mau sehat, orang harus bisa jamu,” kata ibu saya suatu kali ketika beliau ber-kunjung ke rumah saya.” “Jamu apa?” tanya saya ingin tahu. “Jaga mulut. Mulutnya dijaga jangan sampai makan sembarangan. Orang sakit itu banyak disebabkan oleh ma­kan yang tidak dikontrol,” jawab ibu saya. Ups, jadi jamu yang dimaksud ibu saya itu ternyata jaga mulut. Saya lalu bertanya ke­pada ibu saya darimana datangnya falsafah itu. Inilah kisahnya.
Beberapa waktu yang lalu ibu saya mengalami masalah dengan giginya. Dalam usianya yang mendekati 80 ta­hun, hanya beberapa gigi yang masih tinggal. Hampir semua giginya sudah diganti gigi palsu. Rupanya gigi palsu ini pun bermasalah. Karenanya ibu saya tidak bisa makan dengan nyaman beberapa waktu lamanya, bahkan sampai saat ini.
Untuk usianya, kondisi fisik ibu bisa disebut masih bugar. Tak heran, karena ia ketat menjaga makan dan berolahraga. Namun sejak ada ma-salah dengan giginya, ibu kehilangan selera makannya.
Ibu baru menyadari betapa tidak nyamannya tidak memiliki gigi. Bu­kan hanya itu, ibu saya juga mendapat hikmah dari peristiwa ini. Katanya “O, mungkin supaya tidak makan sembarangan ya, Tuhan membuat orang tua kehilangan gigi.”
Betul juga pikir saya. Sejalan dengan itu, orang juga harus jaga mu­lut dari membicarakan orang, menjelek-jelekkan orang, mengeluh, mengumpat, berdusta, dan yang lainnya supaya sehat mental dan rohaninya. Untuk itulah kita memohon agar Tuhan berjaga-jaga di pintu bibir kita. Anda mau mencoba falsafah jamu? Jamu... jamu...! —Liana Poedjihastuti.

Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi siapa
yang menahan bibirnya, berakal budi. —Amsal 10:19




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 16 Mei 2011

Romantis Dengan Tuhan


Baca: Filipi 1:9-11
Sehingga kamu dapat memilih apa yang baik, supaya kamu suci dan tak bercacat menjelang hari Kristus.
Filipi 1:10

Ada pesan romantis yang ditulis Adam dan istri Nuh. “Hawa sayangku, kau ada­lah satu-satunya gadisku. Tanpamu rasanya aku sendirian di dunia ini,” demikian tulis Adam. Istri Nuh menulis untuk suaminya, “Nuh, aku tidak mengeluh, sayang. Tapi ketika engkau mengatakan bahwa kita akan pergi berlayar untuk ulang tahun pernikahan kita, aku membayangkan sesuatu yang lain dalam pikiranku.” Romatis bukan?
Bagaimana kalau hal seperti itu kita ber­lakukan kepada Tuhan. Di usia lanjut bila kita memiliki hubungan yang romantis dengan Tuhan, maka hari Tuhan tidak lagi menakutkan.
Berikan kasih yang melimpah kepada Tuhan dan sesama. Paulus berdoa semoga kasihmu makin melimpah. Kasih Tuhan sudah terbukti, tinggal bagaimana kita membalas kasih-Nya dan menyatakan kasih kita kepada sesama. Mulailah dari diri sendiri.
Hubungan yang dekat akan memberi kepekaan. Apa yang kita pilih di usia lanjut? Merasa hebat, masih kuat, punya pengaruh dan berkuasa? Sebaiknya kita memakai ilmu padi, semakin berisi semakin menunduk. Jika kita menunduk, maka ada dua hal kita dapatkan: Kita mendekat kepada Tuhan dan kita menghormati mereka yang membanggakan kita di usia lanjut.
Hidup tanpa cacat dan padat berisi. Suci dan tak bercacat serta penuh dengan buah kebenaran seharusnya menjadi kerinduan kita di usia lanjut. Bila saatnya tiba, tinggalkan senyum kepada mereka, jangan raut muka yang masih penuh beban berat. Damai sejahtera akan menyertai kita dan untuk mereka yang melihat kepergian kita, setuju? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Hidup romantis di dunia bisa berakhir tetapi hidup romantis dengan
Tuhan akan ada selama-lamanya baik di dunia maupun di surga.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 15 Mei 2011

Tetap Kuat

Baca: 2 Korintus 4:16-18
Sebab itu kami tidak tawar hati, tetapi meski-pun manusia lahiriah kami semakin merosot, namun manusia batiniah kami dibarui dari sehari ke sehari.
2 Korintus 4:16

Manusia merupakan makhluk psiko-somatis. Keberadaannya itu mencakup dua aspek, batiniah atau rohaniah, dan lahiriah atau jasmaniah. Kedua aspek tersebut dapat, dan memang perlu dibeda-bedakan, namun tidak dapat dipisah-pisahkan. Dalam hu-bungan itu Paulus bersaksi, bahwa meskipun keadaan jasmaniahnya itu oleh berbagai hal, misalnya bertambahnya usia, gangguan kesehatan, penderitaan dan siksaan, dan sebagainya, namun keadaan rohaniahnya tidak, karena terus dibarui.
Roma 5:3-4 ia menyatakan, “Kita malah bermegah juga dalam ke-sengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji, dan tahan uji me-nimbulkan pengharapan.” Inilah rupanya yang dimaksudkannya, ketika ia dengan tegas bersaksi bahwa manusia batiniahnya itu “dibarui dari sehari ke sehari”. Dengan kata lain, segala sesuatu yang membuat keadaan lahiriah atau jasmanih kita itu merosot, hendaknya jangan sampai membuat keadaan batiniah atau rohaniah kita juga ikut merosot, melainkan justru dibarui atau menjadi semakin kuat karena tetap berpengharapan.
Keyakinan Paulus yang demikian itu telah mampu membuatnya “tidak tawar hati”, meski secara lahiriah harus mengalami berbagai ketidakenakan dan penderitaan itu. Terlebih-lebih ia juga yakin, bahwa “penderitaan zaman sekarang ini tidak dapat dibandingkan dengan kemuliaan yang akan dinyatakan kepada kita” (Roma 8:18). —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, karuniakan kepada kami keyakinan seperti yang ada
pada Paulus, sehingga kami juga menjadi tidak akan tawar hati dan
berputus asa menghadapi berbagai kemerosotan yang harus kami
alami akibat semakin bertambahnya umur kami. Amin.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 14 Mei 2011

Semak Duri


Baca: Hakim-hakim 9:8-15
Jawab semak duri itu kepada pohon-pohon: ...datanglah berlindung
di bawah naunganku....
Hakim-hakim 9:15

Syahdan pohon-pohon di Gunung Libanon pergi meminang pohon yang mau menjadi raja atas mereka, “Jadilah raja atas kami, Zai­tun!” Pohon zaitun menolak, “Apakah aku harus meninggalkan minyakku yang dipakai untuk menghormati Allah dan manusia?” Mereka menemui pohon ara, “Jadilah raja atas kami!” Ara juga menolak, “Aku takkan meninggalkan manisanku dan buah-buahku yang baik.” Pohon anggur pun diminta ke-sediaannya menjadi raja, “Ah, tidak, aku tak mau meninggalkan air buah anggurku, yang
menyukakan hati Allah dan manusia, lalu pergi melayang di atas pohon-pohon.”
Akhirnya, pohon-pohon itu menyodorkan pilihan kepada semak duri, “Marilah, jadilah raja atas kami!”Jawab semak duri itu, “Jika kamu sungguh-sungguh mau mengurapi aku menjadi raja atas kalian, datanglah berlindung di bawah naunganku; tetapi jika tidak, biarlah api keluar dari semak duri dan memakan habis pohon-pohon aras yang di Gunung Libanon!” (ayat 15). Semak duri memegahkan diri jadi raja atas pohon-pohon yang perkasa. Ia takabur memberikan naungan padahal tak rindang. Ia mengancam akan membakar pohon aras, padahal ia justru yang mudah terbakar.
John Mason dalam The Impossible Is Possible menulis: “Kesombongan adalah satu-satunya penyakit di mana si pasien merasa sehat sementara membuat setiap orang di sekitarnya merasa sakit. Kesombongan mudah berkembang tetapi tidak menghasilkan buah.” Jangan seperti semak duri yang tidak menghasilkan buah apa pun. Tetaplah menjadi diri kita, seperti zaitun yang memberikan minyak terbaiknya, seperti pohon ara yang menghasilkan buah manis, dan seperti pohon anggur yang menyukakan hati Allah dan sesama kita. —Agus Santosa
Kaca pembesar terhebat di dunia adalah mata manusia ketika
memandang dirinya sendiri. —Paus Alexander


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 11 Mei 2011

Hikmat Rambut Putih

Baca: Amsal 16:31
Rambut putih adalah mahkota yang indah, yang didapat pada jalan kebenaran.
Amsal 16:31

Memutihnya rambut atau ubanan meru­pakan tanda penuaan. Menjadi tua pada umumnya berarti kemunduran dan keme-rosotan dalam berbagai hal. Oleh sebab itu orang pada umumnya tidak senang menga­lami kenyataan bahwa dirinya menjadi tua. Upaya untuk mencat rambut agar warnanya tetap hitam, merupakan wujud dari reaksi penolakan tersebut.
Namun, penulis Kitab Amsal rupanya mempunyai pemahaman yang lain menge­nai rambut yang berubah warna menjadi  putih itu. Baginya, rambut putih merupakan “mahkota yang indah”. Dengan kata lain, baginya rambut putih itu bukan merupakan tanda yang harus disesali dan dihindari, melainkan justru harus dibanggakan dan disyukuri! Mahkota bermakna keagungan dan kemuliaan. Jadi, putihnya rambut, menjadi lambang dari keagungan dan kemuliaan yang ada pada diri pemiliknya. Namun dalam hal ini perlu kita perhatikan, bahwa menurut Amsal, mahkota itu didapat melalui kehidupan yang ada pada jalan kebenaran. Artinya melalui kehidupan yang menaati kehendak dan hukum-hukum Tuhan. Sebab, kebenaran di sini yang dimaksudkan adalah kebenaran Tuhan sendiri.
Pesan yang dapat kita tarik dari pernyataan Amsal itu ialah, bahwa kita tidak perlu risau menjadi tua, asal hidup kita itu kita usaha­kan selalu berada “pada jalan kebenaran”. Dalam hal ini, berbagai pengalaman dan pelajaran dari hal menaati kehendak Tuhan yang telah “terkumpul” selama hidup kita itu mungkin dapat dibagikan, sehingga menjadi kesaksian dan mungkin juga berkat bagi orang lain. —Pdt. Em. Sutarno.

Semakin tua harus berarti semakin benar dan bijaksana, agar kepatuhan dan ketertundukan orang muda tidak menjadi sia-sia.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 10 Mei 2011

Berubah Untuk Berbuah

Baca: Yohanes 15:1-8
...barangsiapa tinggal di dalam Aku dan di dalam dia, ia berbuah banyak....
Yohanes 15:5

Bagi orang yang hidup di kota besar, pe­mandangan mobil-mobil mewah bermesin dan berbodi canggih berseliweran di jalan merupakan pemandangan biasa. Kecang­gihan teknologi masing-masing ditawarkan sebagai nilai lebih kepada para konsumennya. Tanpa itu, sebetulnya mobil-mobil tersebut hanyalah “mobil biasa-biasa” saja.
Manusia sering menganggap dirinya “bia-sa-biasa” saja. Namun, bila kita dengan jeli melihat dan merasakan, kita ini sesungguh­nya dianugerahi Allah berbagai kemampuan  yang harus kita kembangkan dan kita pakai agar kita menjadi “alat yang kecil” di tangan-Nya, menyatakan kebaikan dan kebenaran. Dari hari ke hari kita perlu mengupayakan agar kita berkembang menjadi lebih baik. Semakin berumur kita semakin menemukan diri kita makin lebih bermakna. Hari ini lebih baik dari hari kemarin. Hari esok harus lebih baik dari hari ini. Begitulah terus-menerus “evolusi” kehidupan kita se-harusnya berlangsung.
Agar dapat menjadi semakin baik, kita harus menempel pada pokok anggur yang benar, yaitu Tuhan Yesus. “...Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah, jikalau kamu tidak tinggal di dalam Aku... Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (ayat 4 dan 5).
Marilah kita berubah agar bisa berbuah, dari kebiasaan-kebiasaan buruk ke arah yang lebih menyenangkan hati Tuhan, dan menguat­kan sesama. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, yaitu jika kamu
berbuah banyak dan dengan demikian kamu adalah
murid-murid-Ku. —Yohanes 15:8



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 09 Mei 2011

Tua-Tua Keladi


Baca: Mazmur 92:13-16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar.
Mazmur 92:15

Pepatah“Tua-tua keladi, makin tua makin menjadi”, sebenarnya bisa dibaca positif, walaupun sering dipakai untuk sindiran orang usia lanjut yang tidak tahu diri. Harus dibedakan antara menjadi dan menjadi-jadi.Yang positif adalah yang menjadi bijaksana, berhikmat, menjadi teladan. Yang negatif adalah yang menjadi-jadi tidak baik, tidak bisa diteladani oleh anak-cucu. Akibatnya mempermalukan keluarga, gereja dan mas-yarakat.
Bagaimana kehidupan kita setelah memasuki usia lanjut, menjadi atau menjadi-jadi? Pemazmur berkata bahwa pada masa tua pun mereka masih berbuah. Berbuah apa dan bagaima­na?
Hidup menjadi harapan dan menarik perhatian. Pohon yang tidak berbuah akan ditebang. Sedangkan pohon yang berbuah akan menjadi harapan setiap orang untuk datang mendekat dan memetik buahnya. Saat usia lanjut masihkah kita memiliki daya tarik bagi orang lain karena ada buah dari kesetiaan kita mengikut Kristus?
Yang terpancar di luar berasal dari dalam. Sehat luar dan dalam adalah sebutan bagi orang yang memang bersih hidupnya dan sehat ba­dannya. Tidak ada orang yang bisa menipu kata hatinya sendiri. Siapakah yang ada di dalam hati kita saat ini: Tuhan Yesus atau yang lain?”
Semakin tua seharusnya semakin padat berisi. Gemuk dan segar adalah kata lain dari hidup yang padat berisi. Semakin tua apa yang kita kumpulkan? Masihkah kita mengejar yang duniawi atau semakin mendekat kepada Tuhan? Wariskan keteladanan iman kepada anak cucu lebih dari pada harta benda duniawi yang kadang malah menjadi akar perpecahan keluarga. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Tampilkanlah hal-hal yang rohani di hari tua, hidup
ini akan lebih bersinar ke arah surga.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 08 Mei 2011

Tanpa Batas


Baca: Yakobus 1:12-18
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya.
Yakobus 1:14

Ketika sedang berjalan-jalan, seorang raja berpapasan dengan pengemis. Raja bertanya, “Apa yang kau inginkan dariku?” Si penge-mis menjawab, “Tuanku bertanya, seakan-akan tuanku dapat memenuhi permintaan hamba.” Sang raja merasa tersinggung, “Tentu aku dapat memenuhi permintaan­mu. Bukankah aku raja yang berkuasa dan kaya raya?” Si pengemis lalu mengulurkan mangkuk penadah sedekah sambil berkata, “Tuanku dapat mengisi penuh mangkuk ini.” Raja menjadi geram dan merasa ditantang.
Ia segera memerintahkan bendahara kerajaan untuk mengisi penuh mangkuk pengemis itu dengan emas, namun mangkuk itu tidak pernah bisa terisi penuh. Mangkuk itu seakan berlubang. Semua emas, berlian, dan permata berharga dalam istana telah habis.
Akhirnya dengan rasa malu raja bertanya, “Terbuat dari apakah mang­kuk sedekah ini?” Pengemis itu tersenyum dan menjawab, “Mangkuk ini terbuat dari keinginan manusia yang tanpa batas. Itulah yang membuat manusia selalu bergumul dalam hidupnya.”
Keinginan tanpa batas dapat menjadi bencana bagi manusia (ayat 15). Di usia yang semakin bertambah, adakah keinginan hati kita semakin bertambah? Semakin ingin dihormati, diperhitungkan, diakui? Ada ba-nyak orang tua yang mengalami penderitaan dan rasa keterasingan karena kehilangan kekuatan untuk menjadi yang utama di tengah masyarakat, di tengah keluarga. Merasa puas dan cukup adalah salah satu cara menikmati hidup. Merasa puas dan cukup juga mendatangkan keberkatan dan kesaksian bagi orang yang melihat hidup yang kita syukuri. —Pdt. Meyske S. Tungka
Hal yang tersulit adalah mengatakan “Tidak”
kepada diri sendiri.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 07 Mei 2011

Doa Ibu Tua


Baca: Mazmur 34:16-20
Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka Tuhan mendengar....
Mazmur 34:18

Ada seorang ibu lanjut usia, orangnya pen­diam lagi pemalu, tak banyak bicara, di ka­langan jemaat gereja pun ia kurang dikenal, namanya tak pernah muncul di warta gereja. Namun, sebagai jemaat biasa yang disebut sebagai “bukan apa-apa,” tidak lalu berarti ia tidak punya “apa-apa” untuk dibicarakan.
Satu hal yang patut dibicarakan dari ibu tua ini adalah doanya. Bukan karena doanya indah menawan bak ujaran seorang sastrawan. Karena doanya ini doa pribadi, mengucapkannya pun dengan suara hampir berbisik, tak berani ia menyuarakannya di depan umum. Tetapi ia de-ngan tekun menaikkannya, di sepanjang hari tuanya.
Tentang doanya ini, suatu kali ia berkisah kepada seseorang yang amat dekat dengannya. Isinya adalah sebuah permohonan kepada Tuhan, bu­nyinya kira-kira begini: “Tuhan, berilah aku umur panjang supaya bisa nyawang (menunggui, melihat) anak-cucuku. Tapi sekiranya Engkau memberi aku umur panjang, jangan beri aku sakit-sakitan. Namun, jika Engkau beri juga aku sakit, jangan lama-lama Tuhan, supaya aku cepat menghadap Engkau. Semua tadi demi tidak terlalu menyusahkan anak-cucu.”
Ibu ini sekarang sudah tinggal bersama Tuhan dalam keabadian. Ia berpulang dalam usia 90 tahun, setalah menderita sakit 2-3 hari.
Alangkah indahnya. Doanya sungguh didengar Tuhan. Sebab isi doa itu adalah prinsip hidup yang dipegangnya: Boleh menjadi tua, tapi jangan sampai terlalu menyusahkan siapa-siapa. Itulah kerinduannya. Itulah doanya. Dan, ternyata Tuhan mendengar dan mengabulkannya. —Handoyo

Biarlah aku menjadi tua yang tetap berguna, bukan
justru selalu menyusahkan siapa-saja.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 05 Mei 2011

Buah Untuk Tuhan

Baca: Matius 25:14-30
Karena itu sudahlah  seharusnya uangku itu kauberikan kepada orang yang menjalankan uang, supaya sekembaliku aku menerimanya serta dengan bunganya.
Matius 25:27

Setiap hari saya mengkonsumsi madu untuk menjaga kesehatan. Madu itu sendiri berasal dari kerja keras para lebah yang hinggap dari satu bunga ke bunga lain untuk menda-patkan cairan manis yang akan mereka olah dalam sarangnya menjadi madu. Setelah jadi, para peternak madu akan mengambil madu itu untuk mereka jual. Sebagian kita mungkin tak pernah tahu betapa hebatnya lebah mencari bunga. Untuk menghasilkan satu gram madu, lebah harus mengumpul­kan cairan manis dari 125 kepala bunga.
Kerja keras lebah seakan sia-sia karena madu itu diambil peternak lebah untuk dijual. Namun lebah tak pernah ngambek, demo atau menyerang manusia karena mereka tahu hasil kerja keras mereka menyehatkan manusia. Ada banyak orang hari ini komplain kepada Tuhan mengapa kerja kerasnya seakan-akan tidak dihargai dan sia-sia. Sewaktu muda mereka berjuang mati-matian dalam karier, keluarga, dan hidup sesuai firman Tuhan. Tetapi, waktu usia beranjak senja, orang-orang tak lagi meng­hargai kontribusi mereka selama belasan tahun bekerja. Anak sudah jarang menengok setelah berkeluarga. Tuhan sendiri seakan-akan tak menghargai usaha mereka hidup seturut firman-Nya.
Jikalau Anda hari ini mengalami hal ini, mari belajar dari lebah. Lebah tak pernah ngambek saat manusia seenaknya mengambil madu hasil kerja kerasnya. Lebah membiarkan manusia menikmati buah kerja kerasnya untuk kebaikan manusia sekalipun manusia tidak mengucapkan terima kasih. Berapa pun talenta yang telah Tuhan berikan kepada kita, kembangkanlah agar berbuah bagi Tuhan. —Richard T.G.R
Apa pun buah dari talenta yang kita punya, ikhlaslah itu dinikmati
orang lain dan nama Tuhan yang dimuliakan.



=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 04 Mei 2011

Bukan Penghalang


Baca: Lukas 1:5-7
Dan sesungguhnya Elisabet, sanakmu itu, ia pun sedang mengandung seorang anak laki-laki pada hari tuanya dan inilah bulan yang keenam bagi dia,  yang disebut mandul.  Sebab bagi allah tidak ada yang mustahil.
Lukas 1:36-37

Zakharia dan istrinya, Elisabet, sudah lanjut usia. Mereka orang-orang beriman yang saleh, tetapi tidak mempunyai anak. Meskipun demikian mereka terus berdoa agar dikaruniai anak, sebab bagi masyarakat Yahudi waktu itu, perempuan yang tidak da­pat melahirkan anak dianggap aib. Ternyata Tuhan mendengarkan dan mengabulkan doa mereka. Di masa tuanya itu Elisabet me-ngandung seorang anak laki-laki, Yohanes, yang kelak menjadi pendahulu Kristus. Seperti difirmankan oleh malaikat, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil”.
Dari kisah Elisabet itu dapat ditarik pelajaran, bahwa Elisabet, selain ditolong Tuhan, ternyata juga masih dipakai-Nya untuk melaksanakan rencana-Nya. Mengapa Tuhan memilih Elisabet, hal itu tentu berdasar­kan kebijaksanaan-Nya yang di luar jangkauan pemahaman manusia. Pada sisi yang lain, rupanya ada hal-hal yang terdapat pada diri Elisabet yang menjadi alasan Tuhan memilihnya. Misalnya, ia itu seorang yang saleh dan tekun dalam berdoa. Selain itu ia juga seorang yang mengalami penderitaan batin yang cukup berat.
Apa yang terjadi dengan Elisabet, mungkin juga dapat terjadi dengan kita, meski bentuk dan realitasnya berbeda. Yang pasti, Tuhan men-dengarkan doa orang saleh yang menderita dan dapat melepaskan penderitaan tersebut, bahkan masih memakainya untuk melak­sanakan rencana-Nya. Oleh sebab itu, jangan kita menjadi putus asa karena kondisi kita yang lemah dan tak berdaya. Bagi Dia, tidak ada yang mustahil. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, dalam keadaan kami yang terasa semakin lemah dan
tak berdaya, mampukanlah kami untuk tetap tegar dan berpengharapan bahwa Engkau berkenan menolong dan bahkan memakai kami. Amin.




=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 03 Mei 2011

Tertawalah!


Baca: Mazmur 63:1-9
Sungguh Engkau telah menjadi pertolonganku,
dan dalam naungan sayap-Mu aku bersorak-sorai.
Mazmur 63:8

Usia lanjut dikenal sebagai gudang penyakit. Seorang ibu dalam penderitaannya mengeluh dan menyesal mengapa dirinya sakit. Ada ibu lain yang ketika sakit dan dikunjungi untuk didoakan malah ganti mendoakan yang melawatnya. Wajah ibu yang mendoa­kan justru tampak lebih ceria daripada yang mengeluh.Di dalam pergumulan dan kesusahannya, Daud tetap bersukacita, apa rahasianya?
Ada kehausan untuk menikmati air hidup. Jiwaku haus dan tubuhku rindu ke-
pada Allah. Keseimbangan dalam hidup harus tetap dijaga walaupun dalam kondisi yang terburuk. Kekuatan untuk bertahan bukan dari diri kita, tetapi dari Allah (ayat 3). Untuk bisa tertawa dalam penderitaan, tetaplah memandang Tuhan dan mencari kekuatan-Nya.
Kasih setia Tuhan tak terputus oleh penderitaan hidup. Adalah salah bila dalam penderitaan kita menghujat Tuhan atau mulai mundur iman. Kasih setia-Mu lebih baik daripada hidup. Hidup bisa berakhir di dunia ini, tetapi kasih setia Tuhan tak berkesudahan. Sampai kita menutup mata Tuhan Yesus tetap beserta dan akan membukakan mata iman untuk melihat suurga.
Tertawalah untuk menertawakan hidup ini. Kemunduran hidup di usia lanjut kadang menimbulkan hal-hal yang bisa membuat kita tertawa sendiri. Bisa jadi itulah cara Tuhan untuk menghibur diri kita: kaca mata sudah dipakai masih dicari-cari, baru saja makan masih ber­tanya apakah saya sudah makan atau belum? Penderitaan akan menjadi ringan bila kita berhasil memandangnya dengan tertawa. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Hidup penuh senyum dan tawa akan
terasa lebih sehat dan segar.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 02 Mei 2011

Menjadi Gemuk dan Segar


Refleksi Tema:

Menjadi Gemuk dan Segar

Malam itu dingin dan hujan, demikian Mary Clymonths memulai kisahnya. Saya sedang menunggu bus ketika saya melihat seorang perempuan tua turun dari sebuah bus dan berjalan menuju halte di mana saya berdiri. “Malam yang buruk, ya,” sapanya. “Semoga kita tak perlu menunggu terlalu lama,” lanjutnya. “Ibu mau ke mana?” tanya saya, dan dia pun memberi tahu tujuannya. “Lho, bukankah bus tadi menuju ke tempat yang Ibu maksudkan? Mengapa Ibu turun dari bus itu sebelum sampai ke tujuan?”
Sedikit malu dan dengan terbata-bata ibu itu berkata, “Di bus tadi ada seorang pemuda cacat. Tak seorang pun menawarkan tempat duduk kepadanya. Aku tahu dia akan malu kalau seorang perempuan tua se-perti aku ini berdiri untuknya. Dia berdiri dekat kursiku, karena itu aku berpura-pura sudah waktunya turun. Jadi, dia tak merasa malu. Bagiku kan masih ada bus yang lain.”
Bukankah ini kisah yang luar biasa? Biasanya yang tua yang perlu ditolong atau yang mengharapkan pertolongan. Tetapi ini sebaliknya, dan caranya juga sungguh istimewa. Perempuan tua itu pasti seorang yang bijaksana.
Sebagai lanjut usia kita diharapkan masih menjadi berkat. Menjadi gemuk dan segar, kata Pemazmur (Mazmur 92:15). Agar menjadi gemuk dan segar, kita harus menyukai Taurat Tuhan dan merenungkan Taurat itu siang dan malam (Mazmur 1:2). Taurat Tuhan itu sempurna, menyegarkan jiwa (Mazmur 19:8).
Renungan Musabulan ini mengajak kita agar tetap menjadi berkat dalam keterbatasan kita. Semoga iman kita terus bertumbuh, menjadi gemuk dan segar. —Liana Poedjihastuti

Membuka Hari

Baca: Markus 12:41-44
Lalu datanglah seorang janda yang miskin dan ia memasukkan dua peser, yaitu satu duit.
Markus12:42

Ibu Maan, perempuan setengah baya yang selalu diingat istri saya. Ia orang sederhana, penjual makanan kecil di pasar dengan peng­hasilan yang pas-pasan. Ia datang bersama tim kunjungan gereja, membesuk istri saya yang tengah terbaring di rumah sakit. Ketika hendak pamit pulang, ibu Maan menggeng­gam erat tangan istri saya sembari memberi selembar uang tanda kasih. Tidak banyak, tetapi pemberian itu telah mengisi hati istri saya bertahun-tahun lamanya, sampai hari ini. Ia memberi dari kekurangannya.
Kisah indah lima belas tahun yang lalu itu mengingatkan saya pada janda miskin yang mempersembahkan uang dua peser, satu duit. Ke­tika Yesus melihat pemberiannya, Ia berkata kepada murid-murid-Nya, “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang yang memasukkan uang ke dalam peti persembahan... janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya” (ayat 43-44).
Kedua perempuan itu mengajarkan kita, bahwa memberi adalah perbuatan membuka hati. Memberi harus diawali dari hati. Seberapa lebar kita membuka hati, selebar itulah tangan kita terbuka untuk memberi. Dan, sesungguhnya dengan membuka hati kita, Anda dan saya akan membuat hidup ini menjadi lebih berarti, bukan saja bagi orang lain tetapi juga bagi diri kita. Inilah rahasia menjadi rahmat, saat kita membuka hati untuk kita orang lain, itulah saat yang menyegarkan hidup kita. Mari buka hati kita agar segar senantiasa hidup ini. —Agus Santosa.

Adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
—Kisah Para Rasul 20:35


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 01 Mei 2011

Napas Kehidupan

Baca: Yohanes 12:26
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 12:26

Tuhan Allah mengembuskan napas hidup ke dalam hidung manusia pertama itu, demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup. Dengan napas hidup itu, ma­nusia tidak hanya hidup, melainkan harus membangun hidup yang menjadi berkat bagi banyak orang. Ini bukan hal yang mu­dah. Sesungguhnya hidup menjadi berkat merupakan rencana Allah, panggilan Allah bagi kita. Namun, betapa sering berkat hidup dalam diri kita, tersembunyi, bahkan terdesak oleh kecenderungan kita untuk mengutuk, mencelakakan, bahkan membinasakan orang lain. Kecen-derungan ini disebabkan oleh bersemayamnya illah-illah mencari keun­tungan dan kenikmatan diri sendiri semata, kelekatan-kelekatan pada harta dan kesenangan-kesenangan pribadi yang mendukakan Allah. Semua itu bagaikan belenggu maut yang mematikan.
Kita harus melepaskan belenggu maut, yakni segala kelekatan itu. Meninggalkan kelekatan-kelekatan itu tentu memberikan rasa sakit dan penderitaan. Dengan upaya kita sendiri mustahil kita bisa melakukan­nya. Syukur kepada Allah yang telah mengutus Putra-Nya, Yesus Kristus, untuk membantu kita. Sesungguhnya Dia yang telah melepaskan kita dari belenggu dosa, Dia juga yang dapat melepaskan kita dari belenggu kelekatan-kelekatan itu. Ia sudah menderita bagi kita demi melepas­kan kita dari dosa dan kelekatan kita, maka kita juga dipanggil untuk mau menderita demi kebaikan dan hidup sesama kita. Kita dipanggil untuk memberikan napas kehidupan bagi sesama kita, bukan bau kematian. Kita dipanggil untuk menebar berkat. —Liana Poedjihastuti.

Jadilah berkat, bukan laknat.

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 30 April 2011

Melayani Dengan Sukacita


Baca: Yohanes 12:26
Barangsiapa melayani Aku, ia harus mengikut Aku dan di mana berada, di situ pun pelayan-Ku akan berada. Barangsiapa melayani Aku, ia akan dihormati Bapa.
Yohanes 12:26
Melayani dengan sukacita saat ini sering disalahartikan. Sukacita karena si pelayan mendapatkan kebutuhan jasmaniah sesuai yang diinginkannya. Demikian yang me­layani dalam hal ini hanya sekadar sesuatu yang dilakukan oleh pelayan tidak peduli apakah orang lain merasa terlayani atau tidak.
Kristus mengajarkan kepada kita untuk melayani dengan sukacita bukan karena si pelayan memperoleh segala sesuatu. Tanpa memperoleh apa pun pelayanan harus tetap dilakukan dengan sukacita. Tentu bukanlah hal yang mudah untuk meng-ikuti teladan Kristus di dalam melayani.
Kristus menyampaikan tantangan-tantangan pada kita di dalam meng-ikuti Dia untuk melayani. “Pergilah, sesungguhnya Aku mengutus kamu seperti anak domba ke tengah-tengah serigala” (Lukas 10:3). “Janganlah membawa pundit-pundi atau bekal atau kasut...” (Lukas 10:4). “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku.” (Lukas 9:23).
Tantangan yang Kristus berikan untuk melayani Dia tidak menyirat­kan senyum sedikit pun, apalagi sukacita. Lalu, bagiamana kita dapat ber­sukacita dalam melayani? Kristus bukan hanya memberikan tantangan, tetapi Dia juga memberikan “resep” untuk menghadapinya. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat... (Matius 11:28-30). Ajakan Juru Selamat kita untuk belajar kepada-Nya menjadikan pelayanan kita sesulit dan seberat apa pun, memberi kelegaan dan ketenangan. Seseorang yang memiliki kelegaan dan ketenangan akan memancarkan sukacita. —Soetrisno Soeparto.

Saat kita melayani, seharusnya kita belajar dari dia yang kita
layani, karena dia melayani dengan sukacita, maka
kita pun dapat melayani dengan sukacita.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 29 April 2011

Komitmen dan Konsistensi


Baca: Yohanes 6:66-69
Tuhan, kepada siapakah kami akan pergi? Perkataan-Mu adalah per­kataan hidup yang kekal; dan kami telah percaya dan tahu, bahwa engkau adalah Yang Kudus dari Allah.
Yohanes 6:68-69

Mengikut Yesus tidak membutuhkan se-mangat yang menggebu-gebu pada awal perjalanan, karena semangat awal akan lun­tur ketika menghadapi kesulitan di tengah jalan. Yang dibutuhkan adalah “komitmen” dan “konsistensi” untuk menjalankannya. Komitmen adalah janji kepada Tuhan, dan tekad pada diri sendiri untuk melakukan sekuat tenaga, dan melakukan secara kon­sisten apa yang telah kita sepakati. Walau jalannya sulit, bukan menjadi alasan untuk menghindar.
Ada banyak orang yang mengikut Yesus mundur di tengah jalan, ketika terbentang jurang kesulitan dalam realitas yang harus dihadapi. Terlebih lagi ketika tahu Yesus akan disalibkan. Pengharapan yang me-reka bangun terputus ketika Yesus ditangkap dan diadili, padahal banyak orang mengharapkan Yesus akan tampil sebagai sosok Mesias yang akan melepaskan dari belenggu penjajahan Romawi. Harapan itu menjadi sirna dan punah seketika.
Yesus menantang kedua belas murid-Nya: apakah mau setia atau mau ikut pergi juga seperti dilakukan orang banyak? Syukurlah Petrus men­jawab, mewakili para murid yang lain: “Perkataan Yesus adalah perkataan yang hidup yang Dia percaya, dan Yesus adalah utusan Allah yang sejati.”
Kembangkan komitmen Anda menjadi pengikut Kristus dan jalani dengan setia. Kembangkan sikap menjadi seorang pahlawan sejati, bukan karena mengalahkan musuhnya dengan kekerasan dan senjata, tetapi dengan kekuatan cinta, mengampuni dan memaafkan dengan jiwa besar. Itu rahasia kekuatan yang dicontohkan Yesus di jalan salib yang harus kita ikuti. —Pdt. Agus Wiyanto.

Kita mengikut Yesus yang tidak menunjukkan jalan kekerasan
untuk membalas kekerasan yang menimpa-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 28 April 2011

Berserah Diri


Baca: Daniel 3:14-28
...hendaklah tuanku mengetahui, ya raja, bahwa kami tidak akan memuja dewa tuanku, dan tidak akan menyembah patung emas yang tuanku dirikan itu.
Daniel 3:18

Dalam pengalaman hidup beriman, tidak jarang kita diperhadapkan dengan keadaan yang sungguh mencekam dan tidak gampang. Di situ tidak mudah mengambil keputusan apa pun, karena semua kemungkinan yang sempat kita mampu pikirkan mempunyai risiko yang menyangkut hidup atau mati.
Dalam situasi sulit, banyak orang berusaha menyelamatkan hidupnya dengan berbagai macam cara: ada yang menghindar dengan melarikan diri, bersembunyi, mela­wan dengan kekerasan, atau berargumentasi
dan mencari kompromi. Tetapi hampir tidak pernah terpikirkan untuk “memikul salib” yang pernah dianjurkan Tuhan Yesus (Matius 16:24).
Sadrakh, Mesakh, dan Abetnego dihadapkan pada pilihan sulit ketika mereka harus memilih mengikuti perintah raja atau menolaknya. Raja memerintahkan agar setiap orang menyembah patung dewa-dewa yang didirikannya. Orang-orang yang menolak perintah ini akan dibakar hidup-hidup. Keadaan itu ternyata dipergunakan oleh Sadrakh, Mesakh, dan Abetnego untuk menyatakan ikrar iman mereka. Mereka ternyata tetap teguh berpegang pada Allah nenek moyangnya, tanpa syarat apa pun. Mereka mengatakan dengan tegas kepada raja bahwa Allah nenek moyang mereka mampu menyelamatkan mereka dari tangan raja. Se­andainya tidak pun, mereka tetap tidak akan mengikuti perintah raja. Mereka percaya kepada Allah dan menyerahkan diri kepada-Nya, dan tidak menuntut Allah untuk memenuhi keinginan mereka. Berserah diri secara penuh merupakan wujud iman yang benar. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Tuhan, mampukanlah kami mempertahankan
iman kami kepada-Mu di tengah-tengah dunia yang
penuh tantangan dan pencobaan ini. Amin.

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 27 April 2011

Salib Memberi Semangat Hidup

Baca: Lukas 23:50-56
Dan setelah pulang, mereka menyediakan rempah-rempah dan minyak mur.
Lukas 23:56

Wanita sejati dicirikan dengan kesetiaannya dalam banyak hal. Itulah para murid wanita yang mengiring Yesus sejak dari Galilea sampai ke kubur-Nya. Salib di Golgota telah membuat para wanita benar-benar merasa kehilangan Seorang yang luar biasa yang tiada bandingnya. Walaupun mayat Yesus telah masuk ke kubur mereka tetap pulang de-ngan semangat untuk menyediakan rempah-rempah dan minyak mur. Bagaimana para wanita itu memandang salib Yesus?
Salib bukan akhir segala-galanya untuk berhenti menjadi pengikut. Kengerian melihat proses pengadilan Yesus sampai penyaliban-Nya tidak menyurutkan para wanita “pemanggul salib” itu untuk tega meninggalkan Yesus. Adakah kita seperti mereka yang setia walaupun hidupnya penuh risiko?
Salib menyemangatkan orang untuk berbuat sesuatu bagi Tuhan. Yusuf dari Arimatea mengambil bagian mempersembahkan kubur yang masih baru buat Yesus dan para wanita “pemanggul salib” mengambil bagian menyiapkan rempah-rempah bagi mayat Yesus. Cara ini bisa kita tiru ketika kita merasa telah “berutang” kepada pengorbanan-Nya.
Salib membuat rasa takut menjadi berani bertindak. Para wanita “pemanggul salib” tidak ada rasa takut sampai berani mendekat ke kubur dan memperhatikan bagaimana mayat Yesus dibaringkan. Cinta telah mengalahkan ketakutan menjadi berani bersaksi bahwa mereka adalah pengikut yang setia. Bagaimana kesaksian kita di tengah-tengah orang yang terang-terangan menolak Yesus? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono.

Kala hidup ini menjadi letih dan lesu, ingatlah semangat para
wanita yang mengiring Yesus sampai ke kubur-Nya.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 26 April 2011

Salib Melenyapkan Perseteruan


Baca: Efesus 2:16-18
Untuk memperdamaikan keduanya, di dalam satu tubuh, dengan allah oleh salib, dengan melenyapkan perseteruan pada salib itu.
Efesus 2:16

Di dalam kehidupan bersama antarmanu­sia, masalah perbedaan mengenai berbagai hal, seperti pendapat dan sikap, latar bela­kang budaya dan etnis, tingkat sosial-ekono­mi dan pendidikan, dan sebagainya, sering menimbulkan permusuhan dan perseteruan. Hal ini disebabkan masing-masing pihak bersikukuh mempertahankan kebenarannya sendiri, yang sering disertai pula dengan keinginan untuk mewujudkan kepenting-annya sendiri saja. Dalam hal ini, permusuh-an itu terjadi karena adanya dosa egoisme.
Sedang dosa tersebut merupakan akibat dari rusaknya hubungan baik antara manusia dengan Tuhan dan manusia dengan sesamanya.
Salib Kristus merupakan pengorbanan yang mutlak dan sempurna, yang sekaligus juga memunyai makna pendamaian, yaitu terdamaikan­nya manusia dengan Tuhan dan dengan sesamanya. Dengan demikian, barangsiapa yang percaya akan makna salib Kristus yang demikian itu, ia telah didamaikan dengan Tuhan dan sesamanya, hingga terlepas dari ancaman permusuhan, di tengah-tengah perbedaan apa pun yang ada. Hal seperti inilah yang terjadi di jemaat Efesus, di antara orang-orang Kristen keturunan Yahudi dan yang bukan Yahudi. Dahulu, di antara mereka itu terjadi jarak bahkan permusuhan yang tajam. Tetapi salib Kristus menyadarkan dan mendorong mereka untuk mau saling mengorbankan diri demi kesejahteraan sesama, sehingga mereka dapat diperdamaikan dan dirukunkan.
Apa yang terjadi pada jemaat Efesus itu sudah selayaknya terjadi pula dalam jemaat kita. Berbagai sekat pemisah yang mungkin masih ada, harus dirobohkan, oleh dan demi salib-Nya. —Pdt. Em. Sutarno.

Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka
akan disebut anak-anak Allah. —Matius 5:9

=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi