Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 11 Februari 2011

Snackaholic

Tayang: Senin, 26 Oktober 2009 · Kometar:Belum Ada 
DOMINASI penyakit orang sekarang lebih lantaran tak tepat memilih gaya hidup. Salah satunya soal pilihan menu. Penyakit degeneratif dan kanker terbukti berkorelasi dengan apa yang kita makan sedari kecil. Itu sebab mengapa kejadian jantung koroner, stroke, bahkan kanker kini menimpa kelompok usia lebih muda.
Boleh jadi sebab lidah orang sekarang sudah terbentuk salah selagi masih kecil. Cita rasa dirusak oleh jajanan dan menu restoran sejak kanak-kanak. Anak sekarang tak bisa menyukai sayur lodeh, tempe, dan pepes jamur di meja makan ibu. Menu gorengan mengalahkan rebusan.
Celaka, melihat jajanan pabrik sudah merambah kampung dan desa. Di mana-mana anak lebih memilih keripik ketimbang kacang rebus. Ketika kini di Jepang dan orang Barat menjauhi menu olahan, dan mencari ubi, labu, bulgur, padi-padian alami, masyarakat kita masih gandrung pada ayam goreng dan kerupuk. Gorengan kita kebanyakan buruk jenis minyaknya, dan kerupuk memakai penyedap dan zat warna yang belum tentu layak dikonsumsi.

Gizi “generasi televisi”

Tepat bila menyebut generasi anak sekarang sebagai “generasi televisi”. Gizi anak dibangun oleh asupan penganan yang ditawarkan iklan televisi. Belum tentu semua menyehatkan alih-alih bergizi. Yang aman dikonsumsi pun masih perlu dikaji kandungan penyedap, pemanis buatannya (sweetener). Karena tidak semua pemanis buatan aman dikonsumsi. Yang tergolong aman buat orang dewasa belum tentu aman untuk anak. Menu serba manis, asin, dan berlemak sumber penyakit hari depan. Sihir iklan televisi merongrong pilihan sehat selera makan anak.
Di Amerika Serikat, zat kimia dalam industri makanan terus bertambah. Namun FDA, badan POM di sana ketat melarang dan mengawasi produk yang membahayakan kesehatan. Di kita begitu menjamur industri makanan rumahan sehingga tak terjangkau oleh kendali Badan POM kita. Belum terhitung industri makanan yang nakal. Ada yang memakai bahan berbahaya plastik bikin garing gorengan, menyampurkan kimiawi berbahaya untuk minuman cincau, odol palsu, bahan perenyah keripik, zat antilengket mi, selain pengawet yang belum tentu aman dikonsumsi.
Minyak trans sudah beberapa negara melarang dikonsumsi. Hampir semua jajanan, biskuit, penganan yang dijual di pasar memakai minyak yang tak menyehatkan. Sama tak menyehatkan minyak goreng bekas restoran yang ditadah oleh penjaja gorengan pinggir jalan. Yang kaya maupun rakyat papa di kita kini sama-sama memikul risiko kanker sebab tak mengisafi bertahun-tahun menelan carcinogen pencetus kanker dalam menu harian.
Saus tomat dan sambal murah industri rumahan di Ibukota negara pun masih banyak beredar. Apalagi di kampung dan desa. Tiap hari menelan zat warna tekstil rhodamine B dalam saus tomat dan sambal murah, atau warna kuning sirop dan limun methylene yellow, berarti bibit kanker tengah ditanamkan. Belum nitrosamine dalam ikan asin, obat nyamuk anti belatung yang disemprot ke ikan asin, luasnya pemakaian pestisida, kimiawi pengawet kulit apel impor, dan banyak lagi yang tertelan dari air minum, serta jajanan, tak semua terbebas dari zat carcinogen
Ada yang meramalkan, generasi anak sepuluh tahun lalu, sepuluh tahun di depan bakal berbondong-bondong masuk rumah sakit kanker jika konsumsi menu tercemar carcinogen tidak dihentikan. Termasuk generasi orangtua yang menukar menu ikan pindang ke bistik. Kelebihan konsumsi daging juga berkorelasi dengan kejadian kanker.
Dibanding makanan industri rumah, makanan dan penganan pabrik betul lebih aman, namun kelebihan kalori dari minyak, gula, susu, dan mentega (junk food). Sedang yang buatan rumahan selain belum tentu cukup bergizi, tak higienis, mungkin tidak aman dikonsumsi melihat zat additif yang dipilihnya.

Kembali ke meja makan nenek

Saatnya memberi tahu anak dan masyarakat untuk kembali memilih menu meja makan nenek. Selain lebih murah juga menyehatkan. Menu tradisonal bersifat menu seimbang (slow food). Bahwa yang menyehatkan itu bukan bistik, melainkan pepes ikan. Bukan donat atau ayam goreng melainkan pisang rebus, atau tahu dan tempe bacem. Bukan roti putih, melainkan bekatul dan bulgur. Bukan biskuit melainkan talas rebus. Terigu dan gula pasir tidak lebih menyehatkan daripada gandum dan air tebu.
Menu restoran selain bahannya belum tentu segar, umumnya kelebihan kalori, dan diimbuhi kimiawi yang belum tentu aman dan menyehatkan. Sepiring nasi, sepotong ikan, tahu, tempe, dan semangkuk sayur lodeh itu kiprah menu orang yang sadar hidup sehat sekarang ini.
Ketika ubi, ketela, sayur dan buah organik, biji-bijian, kacang-kacangan, dan umbi-umbian tersedia di supermarket, berarti komoditi itu yang sedang gandrung orang cari sekarang. Ketika aneka lalapan hadir makin beraneka di pasar modern, bukti orang gedongan mulai sadar bahwa pilihan sehat bukanlah menu olahan.
Ketika banyak penyakit sebab tubuh orang sekarang kekurangan enzim, orang mengejar sayuran dan bebuahan segar saja. Orang mulai meninggalkan menu yang bahan bakunya disimpan lama, atau yang diolah secara berlebihan, dan dengan cara serta alat masak yang berbahaya kandungan bahan logam, dan tingkat perapiannya.
Belum terlambat kampanye menu sehat di sekolah, dan mengajak peran media massa, televisi khususnya. Bahwa kesehatan itu ada di dapur, bukan di restoran. Bahwa meja makan ibu yang menentukan hari depan kesehatan keluarga. Jajanan sehat itu yang serba direbus, dikukus, atau disangrai.
Demi tujuan menginvestasi generasi sehat, lidah anak perlu disetel ulang. Jangan sampai lagi membangun “generasi kerupuk” dan kelompok usia produktif sampai mati prematur oleh stroke, jantung koroner, dan kanker hanya karena sejak kecil membiarkan mereka salah memilih menu, dan jajanan.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:

Sehat itu Murah Asal Tahu Jurusnya

Tayang: Minggu, 22 November 2009 · Kometar:Belum Ada 
TIDAK harus menjadi dokter untuk menjadi sesehat dokter. Buat menjadi sesehat orang Swiss pun tak perlu sekaya mereka. Kalau sekarang Anda merasa sudah tua, rencanakan dasawarsa terakhir hidup Anda menjadi masa terbaik dalam hidup Anda.
Anda mampu memilih sendiri cara untuk menjadi sehat. Kalau Anda merasa masa lalu Anda tidak begitu sehat, tidak pernah terlambat untuk mulai membangun kembali kesehatan Anda. Yakinlah bahwa Anda belumlah mendekati akhir hidup.
Hidup adalah sebuah proyek, dan Anda manajernya. Apa yang Anda pikir dan lakukan tentang kesehatan merupakan investasi hari tua Anda. Potensi untuk sehat ditentukan oleh semua yang sudah Anda kerjakan sebagai manajer proyek. Kualitas hidup Anda merupakan akumulasi dari segala kebiasaan, keyakinan, sikap yang dijalani sepanjang proyek hidup Anda sampai hari ini. Targetnya supaya memperoleh hidup yang selalu baru di sepanjang usia.
Tak cukup hanya memperoleh umur panjang. Tujuan utama hidup di dunia sekarang bukan untuk menambah agar lebih tua belaka, melainkan melakoni hidup dengan benar pada setiap usia agar tetap sehat sepanjang hayat. Untuk itu harus pintar, dan bijak melakoni hidup.
Anda sendiri penentu hidup sehat, bukan orang lain. Peran dokter kecil saja. Pandai-pandai mengisi penuh gelas waktu hidup Anda. Di luar tangan Tuhan, kuota umur Anda ditentukan seberapa tebal buku perjalanan hidup Anda. Bila bijak belajar dari membaca buku hidup, kita boleh berharap ada bonus umur di tahun senja kita kelak.
Mari kita baca otobiografi tubuh kita masing-masing. Baik buruknya masa tua ditentukan pula oleh kesehatan kita hari ini. Kuasa, harta, kedudukan tidak akan ada artinya kalau tidak sehat. Konsep “Sehat Itu Murah” (sebuah judul buku penulis) ingin menambah tebal buku hidup Anda. Saya mengajak Anda memulainya dari sekarang.
Untuk sehat, peran gen dalam sel tubuh Anda hanya sepertiga. Selebihnya soal gaya hidup. Mungkin Anda selama ini keliru memilih gaya hidup. Namun tak pernah terlambat buat membuka kembali lembaran baru hidup sehat. Anggap hidup Anda bakal terulur lebih lama. Tukar kursi goyang Anda dengan sepatu olahraga, dan percaya kalau kesehatan terbaik itu ada di dapur Anda, bukan di restoran.
Sekarang kita memasuki “Graying Revolution”. Semakin banyak orang berumur panjang di dunia. Tapi tidak semua berbahagia. Karena memang tak cukup berumur panjang semata kalau ternyata tidak berkualitas. Target proyek hidup Anda haruslah bagaimana menjadi tua yang berkualitas. Untuk itu healthy-aging perlu dibangun. Dengan menjadi tua yang berkualitas berarti diri Anda adalah aset, dan bukan beban.
Anda harus berani menolak mengaku tua, kalau jiwa dan spirit Anda tetap belia. Kibarkan sikap Peter-Pan-Syndrome. Bahwa hidup cuma sekali. Pupuk dengan hal-hal yang positif saja. Pastikan dosis ketawa Anda tiga kali sehari. Dengan itu Anda bisa menghapus kesedihan dunia, dan sebuah kado hidup bugar akan dikirim buat Anda.
Rajin check up kesehatan saja belum cukup. Anda juga montir yang perlu cerdik melakukan check up terhadap kehidupan. Ciptakan kegembiraan bagi orang lain juga. Manfaatkan setiap kesempatan, agar otak tidak tidur, dan hari-hari selalu terasa baru. Untuk bisa menjadi begitu, tetap sehat kuncinya. Orang yang sehat sudah merasa bersyukur walau sekadar menjadi orang biasa belaka.Seseorang menjadi sangat kaya raya bila kondisinya sehat.
“Sehat Itu Murah” bukan slogan, melainkan keyakinan medis yang saya kumpulkan, dan simpulkan sendiri. Itu saya peroleh dari pergaulan keseharian dengan pasien, surat-surat konsultasi yang saya terima puluhan tahun lamanya, pertanyaan yang diajukan selama seminar, dan talkshow, makin meyakinkan saya bahwa untuk sehat ternyata tidak mahal. Setiap orang punya potensi untuk bisa tiba sampai ke situ, asalkan mau.
Konsep “Sehat Itu Murah” saja mungkin tidak lengkap. Namun yang sekecil ini pun ingin menambah tebal buku hidup Anda. Tidak ada cara lain untuk menjadi sehat. Mungkin Anda harus menyetel ulang mesin hidup Anda jika keliru. Saya tahu itu tidak mudah. Tapi Anda bisa.
***
Sebuah studi mengungkapkan kalau tubuh manusia didesain buat bisa bertahan hidup sampai 120 tahun (Maximum Life Potential, Dr. Walter M. Bortz). Namun lebih banyak orang yang hidupnya tidak panjang. Apa masih mungkin sekarang ini setiap orang mampu menempuh umur sepanjang itu? Saya mengajak Anda menjawabnya bisa.
Rata-rata orang lebih duapertiga masa hidupnya dihabiskan untuk bekerja. Bukan sedikit yang sampai menjelang ajal masih terus mencari nafkah. Aktivitas otak sepanjang hayat eloknya memang tidak boleh ikut pensiun. Namun aktivitas fisik berlebihan tanpa henti membuat tubuh lekas lapuk, dan aus. Mereka yang bekerja fisik tanpa henti sampai uzur, Maximum Life Potential-nya berisiko tidak lagi penuh lantaran masalah kesehatan bakal lebih banyak muncul di hari tua.
Seseorang dikatakan mampu menikmati hidup, dan hidup dirasakan bermakna kalau hidupnya ditempuh dengan seimbang (harmoni). Untuk itu tak perlu hidup berlebihan. Perlu menyediakan waktu untuk merenung. Punya waktu untuk ‘time-out’ sejenak, melakukan check up juga terhadap kehidupan. Tahu pula kapan saatnya harus minggir menepi (“Ruralisasi”).
Agar menjadi kurang bermasalah dalam kesehatan, pikirkan pula seberapa bagus harusnya kita memperlakukan tubuh di sepanjang hidup. Cukupkah gizi, sehingga mesin tubuh kita awet tahan lama. Cukupkah jeda harian sehingga roda dan ban tubuh kita tidak lekas aus, dan gundul. Sudah cukupkah tenang dan ayem jiwa kita sehingga stressor dalam hidup tidak merongrong jasmani kita.
Jiwa yang gundah merusak badan juga. Stres sendiri merongrong tubuh. Kencing manis, jantung koroner, darah tinggi, lemak darah, begitu juga kanker diperburuk oleh hadirnya stres. Barangkali itu sebab usia krisis orang di dunia yang dulu rata-rata baru terjadi setelah usia 50, karena cenderung dirundung stres yang berkepanjangan (malstress), krisis orang sekarang sudah muncul ketika umur belum masuk 40 tahunan.
Kita melihat semakin banyak kasus psychosomatic muncul pada orang sekarang. Badannya sehat, tapi keluhan fisiknya macam-macam. Inilah bentuk keluhan penyakit di badan yang dihibahkan oleh jiwa yang gundah. Bentuk penyakit badan yang muncul akibat jiwa yang tengah merana.
***
SESUNGGUHNYA masihkah ada yang bisa kita lakukan agar tidak punya masalah kesehatan sampai di ujung hayat? Inilah beberapa butir kiat kita yang masih mungkin kita kerjakan demi tetap sehat berkualitas sampai di ujung umur.
1. Umur tubuh kita (Maximum Life Potential) ditentukan oleh kualitas pembuluh darah yang berada di dalamnya. Pembuluh darah bertugas memasok makanan bagi seluruh sel tubuh. Agar pembuluh darah optimal melaksanakan tugasnya bukan saja dindingnya yang harus tetap elastis, melainkan perlu dicegah agar tak menumpuk karat lemak (atherosclerosis) di dalam sana. Untuk itu kadar lemak dalam darah (cholesterol, triglyceride) tidak boleh terus menerus dibiarkan tinggi. Kencing manis, darah tinggi, asam urat, dan radikal bebas sendiri berkomplot membantu menambah tebal karat lemak dinding pembuluh darah.
Dengan bertambahnya usia, dinding pembuluh darah sendiri akan semakin mengeras dan kaku (arteriosclerosis). Proses kekakuan ini dipercepat selain bila nutrisi yang kita konsumsi tidak selalu lengkap, kondisi darah tinggi pun tetap kita pelihara. Untuk itu selain darah tinggi harus dikontrol, menu harian perlu kecukupan seluruh ragam zat gizi, termasuk sejumlah vitamin dan mineral yang membantu memelihara pembuluh darah tubuh kita tetap belia.
Namun dinding pembuluh darah yang masih elastis dan tanpa karat lemak saja belum cukup untuk menyehatkan jika kualitas darah yang mengalir di dalamnya tidak normal. Darah dikatakan sehat kalau penuh bermuatan oksigen selain lengkap pula zat nutrien yang dikandungnya. Untuk itu perlu olah napas (lewat bergerak badan dan meditasi) selain tetap doyan makan apa saja menu berkualitas (menjadi pemakan segala).
Dinding pembuluh darah yang sehat, darah yang berisi lengkap muatan oksigen dan nutriennya masih belum menjamin makanan itu bisa tiba ke dalam sel yang membutuhkannya bila jantung tidak memompa optimal. Maka kerja jantung perlu optimal. Dengan cara begitu sel-sel tubuh tidak kekurangan makanan, dan optimal menunjang tubuh. Sekian miliar sel tubuh tetap bugar dan tidak layu.
Sel-sel tubuh membentuk jaringan. Jaringan membentuk organ. Jika organ tubuh tidak mendapatkan makanan yang optimal porsi maupun kualitasnya, mereka akan lekas merana. Sel organ yang merana akan kian mundur fungsinya.
Jika semua organ tubuh mengendur fungsinya, mesin tubuh tidak bekerja optimal. Kondisi ini yang memunculkan gejala penurunan vitalitas fisik. Kasus “tidak-sehat-tidak-sakit” di kalangan orang modern berhulu dari kondisi seperti ini juga. Sel kekurangan zat gizi, selain tidak selalu kecukupan oksigen.
Kasus lesu-letih-lemah lazim dikeluhkan orang sekarang. Dokter dihadapkan pada kenyataan pasien minta dokter membuatkan resep untuk mendongkrak vitalitasnya yang dirasakan pasien semakin mundur. Kasus demikian lazim bermula dari sel tubuh yang dibiarkan berlama-lama menderita kekurangan pasokan makanan yang dibutuhkannya.
Kondisi itu bisa sebab pembuluh darahnya sendiri yang sudah tidak sehat, atau bisa juga sebab kualitas darahnya yang kurang gizi, atau boleh jadi sebab kerja jantung yang memang sudah lemah (akibat penyakit atau kurang bergerak badan), atau gabungan dari ketiganya.
Sel-sel tubuh yang kekurangan makanan akan menjadikannya cepat aus dan lekas tua. Tanpa harus kekurangan pasokan makanan saja, dengan bertambahnya usia, sel-sel tubuh mengalami proses degeneratif. Menyaksikan semakin lajunya proses degeneratif itulah yang kemudian menggerakkan Linus Pauling, peraih Nobel vitamin C, mengubah paradigma hidup sehat dengan menilik langsung pada nasib menjadi krisisnya sel tubuh kebanyakan orang modern (Konsep “Orthomolecular Medicine”).
2. Jadi upaya menyehatkan tubuh berarti harus ditujukan pada upaya menyehatkan seluruh sel tubuh. Supaya sel tubuh sehat dan jaringan organ yang dibangunnya bekerja normal, pasokan makanannya pun harus optimal.
Untuk itu pembuluh darah di seluruh tubuh perlu dirawat. Caranya, selain menu harian meja makan keluarga perlu ditata porsi dan kelengkapan nutriennya, semua penyakit yang merongrong keutuhan pembuluh darah, khususnya oleh kencing manis, darah tinggi, asam urat, radikal bebas, harus disingkirkan. Untuk bisa mencapai itu, selain perlu obat dan pantang ini-itu, perlu pula menu seimbang, yakni menu yang memadai porsi dan lengkap pula seluruh nutrien yang dibutuhkan tubuh.
Kasus orang modern “kurang gizi” bagian yang tengah diperhatikan oleh penganut “Orthomolecular Medicine”. Dari situ pula muncul alasan mengapa sekarang begitu banyak makanan suplemen ditawarkan. Menu barat yang keliru namun menjadi masalah orang Indonesia karena kita meniru pilihan makan yang tidak tepat.
3. Radikal bebas (free radicals) ada di dalam dan di luar tubuh. Tubuh sendiri memproduksi antioxidant untuk menawarkan racun radikal bebas yang terbentuk dalam tubuh. Namun kehidupan zaman sekarang yang penuh polusi (udara, air, makanan, overtraining), antioxidant yang tubuh produksi sudah tak mampu lagi menawarkan begitu meruahnya radikal bebas yang kian mencemari tubuh.
Untuk mengurangi tumpukan radikal bebas, kita bisa menata hidup dengan memilih gaya dan pola hidup yang lebih arif dalam soal makan, bekerja, aktivitas harian, dan pilihan berdomisili.
4. Usahakan agar menu harian lebih alami, menjauhkan makanan olahan (junk food), kini menjadi kiblat orang di negara maju. Kita sendiri malah bangga kalau bisa makan burger, steak, dan menu fast food, serta junk food yang sebetulnya sudah banyak kehilangan zat gizinya, dan tergolong boros lemak, gula, dan garam. Jenis menu begini yang bikin lemak dalam darah kita cenderung lebih tinggi dari normal.
Anggapan semakin gemuk semakin memberi kesan makmur harus pupus dari benak anak-anak kita. Bukan yang gemuk melainkan yang tidak gemuk justru yang tergolong sehat. Begitu hendaknya kita sampai ujung usia.
STATUS kesehatan seseorang mencerminkan otobiografi menu hariannya sepanjang hidupnya. Menu modern di satu sisi bikin kelebihan gizi sehingga menjadikan berat badan selalu melebihi ukuran normal. Pada sisi lain bikin banyak orang yang hidupnya kecukupan berisiko kekurangan gizi. Kenapa?
Tidak sedikit di Amerika orang yang kekurangan asupan mineral, termasuk trace elements akibat monodiet, selain memilih menu olahan yang gizinya sudah kritis. Tubuh membutuhkan lebih 45 jenis nutrien setiap hari. Sebagian tidak bisa dibuatnya sendiri (essential) dan hanya mengandalkan dari menu harian.
Makanan kalengan, masakan olahan, junk food, fast food, merupakan “menu ampas’, sebab sudah banyak kehilangan zat gizi akibat cara panen, cara simpan, cara olah yang salah. Sementara lapisan permukaan tanah (topsoil) bumi kita sudah luruh ke laut sehingga kehilangan sebagian besar unsur hara yang dibutuhkan tanaman, ternak, maupun tubuh manusia.
Sayur mayur, dan ternak yang kita konsumsi sekarang ini sudah tidak lengkap lagi kandungan zat gizinya dibanding yang dikonsumsi nenek moyang kita dulu. Jika tubuh kekurangan zat gizi yang tubuh tidak bisa membuatnya sendiri, lama kelamaan akan mengganggu mesin tubuh juga. Sakit gizi macam begini yang kini banyak diderita orang modern dalam bentuk keluhan dan gejala yang beraneka: antara lain keluhan letih-lelah-lesu. Tak sedikit keluhan orang sekarang yang bukan suatu entitas penyakit. Bisa jadi hanya sekadar “kurang gizi” orang modern.
Bisa dimengerti jika banyak kasus penyakit jantung, hati, prostat, pancreas, atau organ lainnya sampai gangguan jiwa muncul hanya lantaran kekurangan trace elements tertentu. Inilah mineral alit yang dibutuhkan dalam dosis yang amat kecil, namun menimbulkan gangguan bila tubuh tidak mendapatkannya setiap hari. Tubuh kita membutuhkan puluhan jenis trace elements, yang tidak selalu tersedia dalam menu harian kita sekarang ini bila pola makan masih monodiet selain memilih “menu ampas”.
Kaitan zinc dengan gangguan prostat, chromium dengan kencing manis, selenium dengan jantung, dan banyak riset baru mengungkapkan betapa esensial peranan mineral dan trace elements dalam memunculkan banyak “penyakit” (kurang gizi) yang mengejewantah sebagai keluhan dan gejala yang mungkin bukan entity suatu penyakit.
Polusi kita sudah bikin kuyup manusia di mana-mana. Udara yang kita hirup setiap detik polutannya sudah melebihi ambang yang diperkenan. Air yang kita minum belum tentu cukup mineralnya selain banyak cemarannya. Menu harian kita juga sudah tercemar pengawet, zat warna, penyedap, selain bibit penyakit, serta radikal bebas yang memberi andil untuk mencetuskan banyak penyakit termasuk risiko terkena kanker.
HIDUP sehat sampai tua itu hidup yang senantiasa terjaga tertib dan teratur. Tertib dan teratur waktu makan, waktu bekerja, waktu jeda, dan waktu melepas lelah, rekreasi, selain rutin bergerak badan. Merasa diri bermakna. Bukan saja tahu arah ke mana hidup, melainkan juga benar juga menempuhnya di mata Tuhan.
Tak perlu minta bukti lagi kalau hidup kurang gerak (sedentary life) bakal meningkatkan risiko jantung koroner, atau stroke, sama jahatnya dengan merokok dan minuman keras. Ada baiknya mulai berpikir untuk ‘do by yourself’ dalam keseharian (menjadi Inem di rumah sendiri, atau tak malu menjadi suami yang “Mr. Mom”, apa salahnya ikut mengganti popok bayi, menggendong anak, mencuci baju, mengepel dan mencuci piring, oleh karena semua pekerjaan rumah tangga merupakan exercise paling alami bagi otot tubuh kita tanpa perlu menyisihkan waktu khusus seperti kalau untuk golf, atau tennis, dan fitness, misalnya).
Untuk vitamin batin kita perlu menyediakan waktu buat rekreasi, dan banyak tertawa. Dosis tertawa sekurang-kurangnya tiga kali sehari, kalau bisa sampai terpingkal-pingkal. Tertawa menyehatkan jantung dan paru-paru, selain menambah deras aliran darah. Tertawa juga meningkatkan hormon endorfin, morfin yang diproduksi tubuh, untuk mengendurkan rasa perih-pedih kehidupan.
Biasakan mengajak otak tetap aktif, senantiasa berpikir positif (bagian dari kuasa doa), dan mengasah otak kanan dengan lebih sering menikmati produk kesenian (musik, pameran lukisan, sastra), selain dengan brain-gym, sehingga berhasil membangun hidup seimbang antara pikir, laku, dan rasa.
Makalah Bulan Keluarga GKI Pondok Indah, Jakarta, 10 Oktober 2009
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:
 

Telapak Kaki Nyeri, Kenapa?

Jawaban Surat Pembaca
Tayang: Senin, 7 Juni 2010 · Kometar:4 
Saya seorang pria, 46 tahun, karyawan kantoran, selama ini sehat-sehat saja. Hanya kadang-kadang alergi gatal. Untuk itu saya pantang makan ayam, telur, ikan asin, udang. Saya jarang berolahraga, paling hanya senam dan lari-lari kecil. Tiga bulan lalu, bangun tidur kedua telapak kaki saya nyeri. Dan itu berlangsung terus, dan mengganggu.
Pertanyaan saya:
  1. Apakah nyeri telapak kaki itu berhubungan dengan usia yang makin tua?
  2. Atau memang ada penyakit tertentu?
Bd.
Jakarta
Sdr Bd.
Sayang Anda tidak menuliskan berapa berat badan Anda sekarang ini. Mengapa perlu saya ketahui? Karena terkait dengan dugaan saya, bahwa keluhan nyeri pada kedua telapak kaki itu ada hubungannya dengan berat badan. Antara lain, bila kebiasaan Anda tidak memakai alas kaki, atau alas kaki yang biasa Anda gunakan tergolong tidak cukup empuk.
Kita tahu pada orang dengan berat badannya berlebih, persendian tulang belakang, lutut, dan kaki memikul beban tubuh lebih berat dibanding bila berat badan tidak gemuk. Pada wanita, berat badan tidak gemuk pun dipikul sebagai beban lebih oleh persendian tersebut apabila memakai sepatu atau alas kaki bertumit tinggi.
Bila benar berat badan Anda berlebih, besar kemungkinan memang ada peradangan pada selaput otot (fascia) di telapak kaki, kalau bukan jepitan saraf di sekitarnya. Bila saraf meradang, maka keluhannya rasa nyeri di situ.
Bila dugaan saya benar begitu, maka peradangan saraf itu mesti diredakan dengan memberi obat antiradang saraf. Kita tahu bila saraf meradang, tidak lekas mereda. Apalagi bila proses yang membuatnya meradang itu tetap berlangsung.
Misal, pada orang yang memilih kebiasaan sengaja berjalan di atas batu kerikil dengan tujuan refleksi. Tekanan seberat badan kita yang akan dipikul oleh persarafan kaki itulah yang kerap menimbulkan masalah pada kaki.
Menjadi semakin besar kemungkinan itu penyebabnya apabila selama ini Anda memang hobi berjalan kaki di atas batu kerikil, atau memakai sandal berduri model refleksi. Refleksi sendiri tidak salah apabila tekanan yang diterima hanya beberapa kilogram sekuat tekanan jari pelaku refekksi. Namun bisa bermasalah bila tekanan yang diterima kaki seberat badan pemiliknya, lalu itu yang menjadi berbeda akibatnya. Alih-alih memberikan hasil menyehatkan, justru malah menimbulkan masalah kaki.
Jadi, hemat saya keluhan itu bukan bagian dari proses menua. Oleh karena saya tidak memeriksanya langsung, dan saya hanya sebatas menganalisis dari sedikit keluhan dan gejala yang Anda alami, analisis saya bisa saja tidak tepat dengan realita “penyakit” yang tengah Anda alami.
Yang dapat Anda lakukan sekarang, hentikan kebiasaan yang keliru seperti sudah saya sebutkan di atas. Gunakan alas kaki yang lebih empuk kalau selama ini Anda memilih alas kaki yang keras. Pilih sepatu olahraga, dan sandal Jepang (busa), bahkan selama berjalan di dalam rumah sekalipun. Apalagi bila mawas, berat badan Anda sudah berlebih. Hentikan juga bila benar Anda punya hobi berjalan kaki di atas batu kerikil. Termasuk tidak melakukan kegiatan melompat seperti saat berolahraga badminton, volley, basket, atau senam jenis yang high impact.
Jangan lupa, lewat umur 40 sebaiknya tidak perlu berlari-lari atau jogging, karena kondisi sendi lutut sudah tidak sebagus masih belia. Selain minyak sendi sudah berkurang, rawan sendi lutut pun sudah menipis. Kegiatan berlari atau jogging akan mencederai sendi lutut dengan kondisi tersebut. Padahal efek aerobics-nya setara dengan berjalan kaki tergopoh-gopoh (brisk walking).
Kecil kemungkinan keluhan itu berhulu dari meningginya asam urat (uric acid) dalam darah (hyperuricaemia). Karena jika benar sebab kelebihan asam urat, keluhan tidak hanya memilih di kaki, dan jika keluhannya di kaki pun biasanya muncul di ibu jari. Namun apabila ada riwayat pernah kelebihan asam urat dalam darah, tidak ada salahnya diperiksa kadar asam urat di laboratorium. Bila ternyata asam uratnya di atas 7.0, berarti ada pengaruh buruk dari situ.
Barang tentu harus dipikirkan pula penyebab penyakit otoimun melihat Anda ada bakat alergi. Penyakit darah ini juga bisa muncul pada persendian yang tergolong sebagai rheumatoid arthritis. Namun bila itu penyebabnya, biasanya tidak pada telapak kaki muncul keluhannya, melainkan pada persendian tangan. Untuk memastikan itu penyebabnya dapat dilihat dari pemeriksaan darah untuk melihat adanya faktor rematik itu.
Saran saya, apabila setelah meghentikan semua yang saya sebutkan di atas, dan kemudian keluhannya mereda, lalu hilang sama sekali, dugaan bahwa faktor peradangan selaput fascia telapak kaki itu benar adanya. Namun bila setelah semua itu dihentikan, masih juga terasa nyeri di telapak kaki, berarti memerlukan tambahan obat antiradang saraf.
Untuk itu kita memilih non-steroid-anti-inflamasi (NSAID). Sekarang banyak pilihan obat golongan itu, yang tentu perlu resep dokter. Anda bisa menghubungi saya di hnadesul@yahoo.com untuk mengambil resep obatnya, karena saya tidak boleh menuliskannya di sini.
Dr. Handrawan Nadesul
Sumber:

Bahaya Industri Rumahan Jajanan Kita

Tayang: Sabtu, 20 November 2010 · Kometar:Belum Ada 
SUDAH lama sejumlah penganan buatan rumahan di Jambi diberitakan kedapatan menggunakan rhodamine-B, zat pewarna bukan untuk konsumsi manusia. Dalam catatan Lembaga Perlindungan Konsumen tentu ini bukan kejadian baru. Sudah lama industri makanan rumahan kita diam-diam, luput dari pengawasan yang berwenang, oleh karena menggunakan bahan yang sebetulnya bukan untuk konsumsi manusia. Yang menggunakan bahan kimia aman namun melebihi takaran yang diperbolehkan.
Pengawet formalin dalam tahu, pemanis buatan sakarin dalam sirop, limun, dan kecap, serta zat pewarna untuk tekstil, rhodamine-B salah satunya, ditambahkan dalam saus tomat, kue, dan makanan jajanan lainnya. Kalau tidak diberitahu, rakyat yang mengonsumsinya setiap hari harus menanggung rusaknya kesehatan yang mungkin tidak terpulihkan.
Food Standard Agent, Amerika Serikat mengingatkan kepada publik yang mengonsumsi makanan oriental agar berhati-hati mengonsumsi kecap. Dari beberapa merk kecap yang diperiksa kedapatan zat kimiawi 3-MCPD dan 1,3 DCP melebihi dosis yang diperkenankan. Kelebihan zat kimiawi jenis ini bisa mencetuskan kanker (carcinogenic).
Sekitar tahun 80-an di area pabrik semen Cibinong, Jawa Barat, suatu siang mendadak puluhan karyawan mual, mulas, dan muntah-muntah sehabis makan mi-baso di pinggir jalan. Setelah dilacak oleh Dinas Kesehatan, diduga keracunan zat pewarna tekstil dalam saus tomatnya.
Mana mungkin harga sebotol saus tomat industri rumahan bisa semurah itu kalau isinya benar tomat. Saus tomat murah umumnya terbuat dari ubi dicampur dengan zat pewarna (untuk tekstil oleh karena harganya lebih murah), ditambah cuka. Begitu pula dengan sambal botol murah, atau kecap, sirop, limun produksi rumahan, dengan harga jual yang sukar diterima akal perhitungan dagang. Saus tomat dan sambal seperti itu kebanyakan masih dikonsumsi masyarakat bawah dan kita masih melihatnya hari-hari ini.
Proses bertahun-tahun
Menelan bahan-bahan yang tidak laik dikonsumsi manusia memang tidak langsung mematikan seperti kalau menelan pestisida. Demikian pula jika mengonsumsi bahan kimia yang lazim terkandung dalam makanan, namun jika takarannya melebihi dosis yang diperkenankan, bisa berbahaya juga. Sebut saja zat kimia dalam kecap, dan bagaimana kita memakai penyedap masakan (asam glutamat) melebihi takaran.
Dulu pemakaian penyedap masakan menggunakan takaran terbuat dari kayu ramping layaknya sendok es krim dengan tujuan agar takaran tidak berlebihan. Sekarang dengan leluasa menuang langsung dari kantung kemasan, atau dengan sendok makan. Padahal sudah banyak bukti kelebihan penyedap untuk waktu lama mencetuskan kanker. Sampai sekarang takaran penyedap di restoran, mi-bakso, soto, dan sejenisnya lipatan kali dosis yang aman dari ancaman kanker, dan tidak mendapat peringatan.
Kasus keracunan pestisida acap terjadi sebab bekas kemasan antihama itu di kalangan petani biasa dipakai untuk pembungkus penganan apa saja. Keracunan sehabis makan pisang goreng yang dibungkus dengan kertas kemasan pestisida, bukan kejadian sekali dua.Akibat ketidaktahuan yang sama terjadi pada keracunan bongkrek, atau sehabis mengonsumsi jamur beracun.
Bahan kimia yang tidak laik dikonsumsi dalam makanan umumnya bersifat pencetus kanker yang efek buruknya baru muncul sekian tahun kemudian. Ini berbahaya, sebab selama sekian lama mengonsumsinya konsumen tidak merasakan apa-apa dan tidak sadar kalau dalam tubuhnya sudah ada bom waktu bakal jatuh sakit, atau calon terserang kanker, dan entah penyakit apa lagi.
Bukan saja industri rumahan, Lembaga Perlindungan Konsumen pernah menemukan mutu kecap dan sirop bermerk industri besar bukan produksi rumahan yang berbeda-beda kemurnian kandungan bahannya, selain ada juga yang mencampurkan bahan yang tidak laik dikonsumsi. Di mana letak salahnya kalau semua produk makanan yang tak sehat dikonsumsi, baik rumahan maupun yang bermerk itu, legal memiliki izin?
Sukar mengawasi
Di kita, industri makanan rumahan begitu banyak. Betul sebagian besar telah mendapat izin dari yang berwenang. Namun jika Lembaga Perlindungan Kosumen kita masih saja menemukan penyimpangan dalam hal kandungan zat berbahaya, nasib konsumen untuk terlindung dari risiko terkena penyakit, dan kanker, tidak bertambah baik. Di AS, misalnya, jangankan industri rumahan (pembuat kue), restoran pun diawasi ketat tata kebersihannya. Bukan saja dalam hal penggunaan bahan yang tak laik dikonsumsi, izin produksi terancam dicabut jika higiene produksinya berkategori buruk.
Di kita, kotornya dapur rumah makan, bahaya cemaran kuman dalam limbah dapur ke makanan yang diolah berlangsung setiap saat. Restoran dan warung nasi yang mengolah makanan berdekatan dengan kamar kecil di kita dianggap lumrah. Mencret sehabis minum jus, atau mengonsumsi buah dingin, terjadi akibat kurang bersihnya makanan disajikan, sebab ketidaktahuan pengelola, sebetulnya bagian yang tidak boleh dibiarkan terus terjadi.
Kontrol terhadap produsen makanan kita agaknya belum sampai ke situ. Rentang jangkau monitoring terhadap semua industri makanan rumahan belum memungkinkan untuk mengawasi begitu banyak produsen. Tindakan hukum terhadap produsen yang menyimpang hanya terjadi jika ada laporan dari konsumen, atau baru jika sudah terjadi kasus. Itu berarti konsumen tetap belum sepenuhnya terlindung dari ancaman terhadap kesehatan akibat mengonsumsi makanan berisi zat yang merugikan kesehatan, yang oleh karena tidak dilarang, terus saja dikonsumsi.
Bagi konsumen kelas atas bukan berarti pasti bebas sama sekali dari ancaman bahaya mengonsumsi segala jenis makanan olahan. Keripik kentang, kentang goreng, es krim, pizza (Pepperoni pizza), dan semua jenis makanan olahan dengan pemanasan bersuhu tinggi, kini terungkap merupakan pengancam kesehatan juga sebab mengandung zat acrylamide yang bersifat mencetuskan kanker juga.
Selain itu zat dioxin sudah menyelusup masuk ke dalam makanan siap-saji, daging, ikan, produk susu, dan semua jenis menu berlemak. Belum lama ini WHO menetapkan zat dioxin dalam makanan yang dijual, tergolong pencetus kanker. Hampir semua orang di negara industri (96%) positif dioxin dalam darahnya akibat tercemar dari makanan olahan yang dikonsumsinya.
Periset Swedia menemukan bahwa semua camilan dengan karbohidrat tinggi (terigu, kentang, beras, jagung) yang dibakar dan digoreng dengan suhu tinggi mengandung acrylamide yang bersifat carcinogenic itu. Acrylamide bahan untuk pembuat plastik dan zat warna, selain pemurni air minum. Itu sebab tergolong berbahaya juga kemasan masakan restoran yang panas jika dibungkus dengan bahan plastik, atau menggunakan sterofom. Tak terkecuali masakan yang berasal dari menu tradisional jika dibakar atau digoreng dengan suhu tinggi. Kentang mengandung zat asparagine selain gula. Jika asparagine dipanaskan akan berubah menjadi acrylamide si pencetus kanker itu.
Pilih bukan menu olahan
Semakin sedikit saja pilihan menu harian kita yang bebas dari pencemar zat berbahaya bagi kesehatan. Bahkan sekadar ikan asin, menu rutin kaum papa pun mengandung zat nitrosamin, yang tergolong zat pencetus kanker juga. Maka, buat kita yang menginginkan tetap sehat, cara makan paling arif memang hanya kembali ke jenis menu alami.
Kendati memang tidak seratus persen bersih dari cemaran pupuk, pestisida, dan mineral berbahaya di tanah maupun sudah mencemari lautan kita terhadap ikan, kerang, dan semua produk laut, namun makanan alami seperti umbi-umbian, kacang-kacangan, padi-padian, belut, dan lele di sawah, pepaya dan belimbing di pekarangan, daun singkong dan kangkung di kebun hidroponik, relatif masih lebih bersih dibanding jenis menu olahan yang kita beli. Terlebih jenis makanan olahan yang diproduksi dengan cara-cara yang tidak mengindahkan nasib kesehatan konsumennya.
Tanpa memberitahu, tanpa melakukan kontrol dan monitoring, dan hukum tidak bekerja, berarti diam-diam kita sedang membiarkan perusakan terhadap sosok kesehatan orang banyak itu terus saja berlangsung. Sayangnya semua itu tidak selalu konsumen tahu, apalagi menyadarinya.
Dr Handrawan Nadesul
Sumber:
http://gkipi.org/category/artikel-lepas/

Umur Kita Di Menu Olahan

Tayang: Sabtu, 29 Januari 2011 · Kometar:Belum Ada
BERBICARA soal mi, kita teringat betapa sudah membanjirnya aneka bahan kimia mengalir dalam darah kebanyakan rakyat kita. Penelusuran WHO bahkan menyebutkan dalam darah bayi pun kini terkandung kimia dioxin pencetus kanker (carcinogenic), sisa sampah industri yang mencemari susu. Sumber lain dioxin berasal dari mengonsumsi menu olahan (refined diet). Menu siap saji salah satunya.

Membanjirnya zat aditif makanan
Di Amerika Serikat lebih 30 ribu zat kimia dicampurkan dalam industri makanan. Setiap tahun bertambah 6 ribu kimia baru. Untuk proses penyimpanan makanan saja terpakai lebih 10 ribu bahan kimia. Tubuh manusia tak terelakkan dikepung oleh bukan menu nenek moyang.
Sebagian besar kimia industri makanan sudah terbukti mengganggu sistem kekebalan tubuh, selain pencetus kanker (carcinogenic), dan munculnya sejumlah penyakit baru. Sebut Saccharine diseases, dan Western diseases. Penyebabnya lantaran orang di negara industri sekarang menelan 9 Kg kimia dalam makanan setiap tahunnya.
Laporan dari Singapura belakangan ini menyebutkan, kanker usus besar menduduki peringkat pertama di antara kasus kanker di negeri banyak orang mancanegara datang berobat. Fakta ini memperkuat bukti bahwa risiko kanker dunia paling tinggi terkait dengan faktor diet. Bahwa nasib kesehatan kita pada apa yang kita konsumsi.Risiko tembakau terhadap kanker tidak segalak faktor diet.
Bukti lain muncul dari Cina. Kanker terbanyak di Cina ternyata muncul di provinsi yang konsumsi dagingnya paling banyak. Ini peniscaya lain bahwa peran daging sebagai pencetus kanker mengalahkan faktor turunan melihat secara genetik penduduk Cina bersifat homogen.

Kesehatan ada di dapur
Camilan pabrikan dari karbohidrat (refined carbohydrate) disebut mencetuskan kanker usus (Dr Thomas L Cleave). Kesimpulan sama muncul dari Swedia. Bahwa camilan karbohidrat yang diproses dengan suhu tinggi memunculkan acrylamide pencetus kanker sebagaimana nitrosamine dalam ikan asin, dan makanan kaleng. Ham dan sandwich mengandung lebih 13 zat aditif. Keripik dicampurkan kimia perenyah, selain pengawet, dan pemanis buatan. Belum zat warna tekstil (rhodamine B dan methylene yellow) dalam sirop, saus tomat, dan kerupuk murah.
Selain zat aditif tak aman dalam industri makanan, seringnya industri makanan rumahan, takaran pemakaian aditif tanpa terkontrol melebihi dosis yang diperkenan. Kendati sudah mendapat izin yang berwenang bila kimia makanan dicampurkan berlebihan, merusak badan juga. Kalau aditif dilarang dan masih beredar, kerusakan hati dan ginjal mengancam konsumen.
Food Standard Agent Amerika Serikat bahkan mengingatkan konsumen kecap agar tidak sembarangan memilih bila kandungan 3-MCPD dan 1,3 DCP melebihi yang diperbolehkan. Kelebihan aditif ini mencetuskan kanker juga. Bukan pula cuma formalin ancaman dalam makanan orang sekarang, pemanis saccharine yang dulu dinilai aman, kini harus ditinggalkan.
Pro kontra sejumlah pemanis buatan muncul di setiap negara, apakah masih aman dikonsumsi. Dunia menghabiskan tak kurang 15 ton pemanis buatan setiap tahun. Tidak semua aman. Namun hampir semua jajanan kita tak luput dari pemanis buatan. Belum tentu semua diperkenan. Yang sekarang dinilai aman, nanti belum tentu.
Seperti itu gejolak dunia obat dan makanan. Demikian halnya dengan pengawet golongan benzoate dalam mi dan penganan lain, termasuk dalam kosmetik. Berapa takaran, dan berapa lama dipakai, menentukan seberapa jelek efek buruknya terhadap kesehatan.
Sebaik-baik bahan kimia dalam makanan, lebih baik membebaskan tubuh dari cemaran bahan kimia paling aman sekalipun. Seperti halnya kimia obat, yang dulu aman, bisa berubah tak aman dengan berjalannya waktu. Yang aman dikonsumsi sesekali mungkin menjadi tak aman bila dikonsumsi terus-menerus untuk waktu lama. Efek carcinogenic suatu zat bertabiat seperti itu juga.

“Slow food”
Rakyat kita sudah telanjur terpapar bahan kimia dalam makanan, kosmetik, jamu nakal, dan herbal yang tak jelas sumbernya. Bayangkan bertahun-tahun mengonsumsi kimia berefek buruk terhadap kesehatan, bisa diramalkan dalam dua-tiga puluh tahun ke depan akan lahir generasi kasus kanker, selain penyakit baru akibat keliru memilih makanan.
Demi mencegah kanker, dan munculnya penyakit peradaban lain, gerakan kembali ke menu nenek moyang saatnya dicanangkan pemerintah. Bukan kue donat, melainkan ubi rebus, talas rebus, atau pisang rebus jajanan menyehatkan. Nasi sepiring, ikan pepes, tempe dan tahu, sayur lodeh atau sayur asam, eloknya kembali menjadi menu nasional yang bersesuaian dengan kodrat tubuh kita. Sebetulnya itu yang sejak lama ditawarkan oleh menu “slow food” yang bersimpang jalan dengan menu siap saji sekarang ini (fast food).
Dari kecil lidah anak hendaknya dibentuk oleh menu rumah, bukan menu restoran. Semua penyakit metabolik, termasuk kencing manis yang kini meningkat di kalangan remaja, lahir lantaran terus menerus memilih menu restoran, jajanan pabrikan, selain produk industri makanan rumahan yang belum tentu aman, alih-alih menyehatkan.
Dr Handrawan Nadesul

Sumber:

Kamis, 10 Februari 2011

Tidak Membalas

Baca: 2 Samuel 3:22-30
Hak-Kulah dendam dan pembalasan... - Ulangan 32:35
Ada banyak bagian Alkitab yang tidak aku mengerti, salah satunya adalah cerita tentang Yoab, panglima Raja Daud. Besar jasanya bagi Daud. Yoab patuh pada perintah Daud untuk menempatkan Uria, suami Batsyeba, wanita yang diinginkan Daud, di barisan depan agar terbunuh (2 Samuel 11:6-21), walaupun ia tahu perintah Daud itu jahat. Yoab juga mendamaikan Daud dan Absalom (2 Samuel 14:28-33), dan jasa baik lainnya. Tetapi nasib Yoab sungguh mengenaskan karena ia telah membunuh Abner bin Ner, panglima raja Saul.
Aku bertanya-tanya, bukankah Abner terlebih dahulu membunuh Asael, adik Yoab (ayat 27; 2 Samuel 2:18-23). Jadi ketika Yoab ganti membunuh Abner, mengapa ia harus disalahkan dan dihukum? Karena membunuh Abner, Yoab dan keturunannya harus menanggung kutuk-an Raja Daud: Biarlah dalam keturunan Yoab tidak putus-putusnya ada orang yang mengeluarkan lelehan, yang sakit kusta, yang bertongkat, yang tewas oleh pedang atau yang kekurangan makanan (ayat 29). Yoab tidak dikategorikan sebagai pahlawan Daud (2 Samuel 23:8-39), seperti kedua adiknya, Abisai dan Asael. Tidak cuma itu, jalan hidup Yoab berakhir tragis, ia dibunuh oleh Salomo (1 Raja-raja 2:28-34) yang mematuhi wangsit ayahnya, Daud (1 Raja-raja 2:5-6).
Butuh waktu lama untuk menjawab tanya itu, sampai aku yakin Tuhan menyingkapkannya untukku, ketika membaca Ulangan 32:35. Tuhan tidak menghendaki kita membalas dendam, sebab hak Tuhan dendam dan pembalasan. Itulah cinta. Cinta tidak mendendam apa-lagi membalas dendam. Dapatkah kita bertindak seperti ini? —Liana Poedjihastuti
...Ia (kasih) tidak menyimpan kesalahan orang lain.
—1 Korintus 13:5

Rabu, 09 Februari 2011

Lupakanlah

Baca: Matius 5:46-48
Apabila kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah upahmu?
Matius 5:46
Artikel saya dimuat di sebuah harian na­sional yang berbasis di Jakarta, tetapi saya tidak pernah mengirimnya ke dewan redaksi. Jelas itu artikel saya. Meskipun judul artikel dan nama penulis diganti, tidak sepatah kata pun yang saya tidak kenali. Saya terkejut luar biasa, saya marah sekali! Karya tulis saya dibajak, dipublikasikan tanpa seizin saya, dan tidak mencantumkan nama saya. Siapa yang melakukannya? Seorang penulis yang saya kenal cukup dekat. Saya telah dikhia-nati, ditelikung oleh sesama penulis.
Saya hanya memikirkan satu cara untuk merebut kembali karya saya, menggugat! Surat dan bukti-bukti sudah saya siapkan, segera saya layangkan kepada harian itu. Sore hari, si pembajak itu datang menemui saya. Ia meminta maaf, mengakui kesalahan dan kekhilafannya karena telah “menikam” saya. Harga diri saya bertempur hebat melawan peng-akuannya. Ia memohon pengampunan... Akhirnya, saya memaafkan, membebaskan dia dari semua tuntutan.
Renungan hari ini ingin mengajarkan agar kita, anak-anak Tuhan, mau berbuat lebih dari orang lain. Jangan hanya mengasihi orang yang mengasihi kita saja (ayat 46). Jika kita hanya memberi salam, berbuat baik kepada saudara-saudara kita, tidakkah mereka yang menolak dan melawan Yesus juga berbuat demikian? (ayat 47).
Saudaraku, memaafkan tidak hanya membebaskan orang lain, tetapi juga memerdekakan kita dari amarah, benci, dendam, dan dosa yang lebih besar. Mari belajar memaafkan kesalahan dan kekhilafan orang lain yang telah mendera hidup kita, lupakanlah! —Agus Santosa.

Berbuatlah lebih dari sekadar memaafkan, lupakanlah!
—John Mason

Selasa, 08 Februari 2011

Teguran Yang Nyata

Baca: Amsal 27:5
Lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi.
Amsal 27:5
Kasih yang sesungguhnya harus dinyata­kan dalam tindakan yang nyata. Tindakan tersebut bisa berupa pemberian, pertolong-an, penghiburan, tetapi juga bisa berupa teguran. Sahabat yang sejati tidak akan membiarkan sahabatnya berjalan di jalan yang salah, yang membahayakan hidupnya di masa mendatang.
Teguran nyata diberikan kepada orang yang dikasihi supaya bertobat dan memper­baiki kesalahannya, supaya tidak tetap hi-dup dalam kesalahan yang membahayakan. Teguran itu bisa dinyatakan dengan sikap lemah lembut dan dilakukan di bawah empat mata (sendirian), tetapi dapat juga berupa teguran yang keras, bergantung pada orang yang ditegurnya.
Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya pernah menegur Kleopas dan temannya yang sedang mengadakan perjalanan ke Emasus dengan per­kataan: “Hai bodoh” (Lukas 24:13-33). Ini semacam shock therapy untuk menyadarkan cara berpikir mereka yang salah tentang Mesias. Teguran yang keras yang mengagetkan perlu diberikan bagi mereka yang sulit mengubah cara berpikir yang salah.
Jika kita menerima teguran semacam itu melalui firman Tuhan atau dari sesama, kita tidak perlu tersinggung. Sebaliknya, kita malah harus bersyukur, karena teguran itu diberikan untuk kebaikan kita. —A. Budipranoto.

Doa: Ya Tuhan, berilah kami hati terbuka untuk menerima teguran,
karena setiap teguran akan mendatangkan kebaikan. Amin.

Senin, 07 Februari 2011

Aku Ingat Kepadamu ....

Baca: Kejadian 8:1-14
Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin mengembus melalui bumi, sehingga air itu turun.
Kejadian 8:1
Beberapa kisah menunjukkan bagaimana Tuhan mengasihi umat-Nya melalui penye­lamatan, pengampunan dan jawaban atas permohonan umat-Nya. Kasih Allah di-nyatakan setelah Ia mengingat Nuh dan seisi bahteranya (Kejadian 8:1). Kisah lain, saat Sodom dan Gomora dimusnahkan, Tuhan ingat pada Abraham dan diselamatkan-Nya-lah Lot dan keluarganya (Kejadian 19:29). Demikian juga Allah ingat akan Rahel dan mengabulkan permohonannya untuk dapat melahirkan anak (Kejadian 30:22).
Semua pernyataan kasih Allah tersebut adalah karena Ia ingat akan (kasih-Nya terhadap) umat-Nya dan janji kasih-Nya. Sebaliknya, dosa-dosa umat-Nya yang begitu banyak tidak lagi diingat-ingat-Nya (Yesaya 43:23-25). Demikianlah cara Tuhan mengasihi kita: Tuhan mengingat kita, mengingat bahwa Ia mengasihi kita. Ia mengasihi kita melalui pengampunan dan penyelamatan, dan sekaligus Ia tidak mengingat-ingat dosa-dosa kita.
Semoga hati kita tersentuh oleh cara Tuhan ini. Semoga kita belajar mengasihi sesama kita dari cara Tuhan mengasihi kita: mengingat mereka dan menjadi saluran karya penyelamatan; mengingat mereka dengan pengampunan; dan tidak mengingat-ingat kesalahan mereka.
Hari ini, marilah kita memutuskan bagi seseorang, yang telah banyak berbuat salah, dan katakan dalam hati, “Aku ingat padamu dan mengam­punimu, aku tidak mengingat-ingat kesalahanmu.” —Ocky Sundari.

Kita mengasihi, karena allah lebih dahulu mengasihi kita.
–1 Yohanes 4:10

Minggu, 06 Februari 2011

Memancarkan Kebahagiaan

Baca: 1 Petrus 3:8-12
Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan...
1 Petrus 3:8-9
Siapa pun manusia akan menjadi tua. Na­mun menjadi tua dan bahagia, dalam arti menikmati masa tua dengan bahagia, adalah pilihan! Hidup bahagia ternyata pilihan, tetapi realitasnya hidup ini tidak bebas dari masalah, kesulitan bahkan penderitaan. Mencintai hidup berarti menghargai, me­melihara dan menikmati hidup pemberian Tuhan, serta menyadari bahwa hidup yang dilakoni bukanlah milik kita sendiri, me­lainkan milik Tuhan.
Firman Tuhan berdasarkan 1 Petrus 3:8-12 mengajarkan agar kebahagiaan dapat dicapai, maka kita perlu:
Pertama, menjaga lidah terhadap yang jahat dan bibir dari ucapan yang menipu. Perkataan yang positif, membangun, meneduhkan, penuh dengan kesungguhan dan kejujuran, bukan berarti mendiamkan, mem­biarkan kesalahan terus terjadi. Kedua, kita harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, menahan diri terhadap perbuatan jahat, ber-usaha berbuat baik. Ketiga, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk mencari dan mendapatkan perdamaian.
Dalam relasi dengan sesama, konflik sangat biasa terjadi. Antara suami-istri, orangtua-anak, mertua-menantu, saudara bersaudara, dalam rumah, dalam lingkungan bahkan dalam gereja. Perlu bagi kita untuk menangani konflik agar tidak berkepanjangan yang hanya membuahkan kebencian bahkan dendam. Meski tidak mudah melakoninya, marilah kita mengupayakannya karena kita dipanggil untuk memberkati, untuk memperoleh berkat, untuk mengupayakan kebahagiaan itu, sehingga dapat memancarkan kebahagiaan, oleh karena Tuhan yang ada dalam hidup kita ini bagi sesama di tengah-tengah dunia. —Pdt. Amalia P. E. Lalenoh.

Kebahagiaan tidak terletak di luar diriku, karena kebahagiaan
itu terletak pada Yesus Kristus yang ada di dalam diriku.

Sabtu, 05 Februari 2011

Kaidah Emas

Baca: 1 Yohanes 4:7-11
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka kita haruslah kita juga saling mengasihi.
1 Yohanes 4:11
Tuhan menghendaki agar keseluruhan hidup kita didasarkan pada prinsip kasih. Firman Tuhan menegaskan bahwa “Allah adalah kasih” (ayat 8). Karena Dia adalah kasih, maka Dia pun mengasihi kita, bahkan sampai mengutus Putra-Nya ke dalam dunia agar kita hidup oleh-Nya (ayat 9-10). Kalau Allah telah begitu mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi (ayat 11). Dalam hal ini, barangsiapa hidup dengan saling mengasihi itu menjadi tanda bahwa ia “lahir dari Allah dan mengenal Allah” (ayat 7).
Apakah arti dan konsekuensi dari hidup saling mengasihi yang men­jadi tanda dari pengenalan akan Allah itu? Mengenai hal ini Yesus de-ngan ringkas tetapi jelas menyatakannya dalam apa yang disebut sebagai “Kaidah Emas” bagi hidup orang-orang percaya, yaitu “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Jadi, kalau ingin orang lain berbuat baik kepada kita, kita harus berbuat baik kepadanya; kalau kita ingin orang lain jujur kepada kita, kita harus jujur pula kepadanya, dan seterusnya.
Dengan demikian, hidup saling mengasihi itu tidak tergantung pada emosi atau perasaan, yang sifatnya subjektif dan sering sesaat belaka, melainkan merupakan suatu keniscayaan yang harus terus terjadi pada setiap orang yang mengaku telah dikasihi Allah dan mengenal Allah. —Pdt. Em. Sutarno.

Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya,
tidak mungkin mengasihi allah yang tidak dilihatnya.
—1 Yohanes 4:20

Jumat, 04 Februari 2011

Kenalilah Siapa Kita

Baca: 2 Korintus 4:1-7
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.
2 Korintus 4:1
Apakah yang biasanya mendasari tindakan kasih (baca: pelayanan) kita kepada sesama? Besar atau kecil, kuat atau lemah, pasti kita selalu mempunyai alasan yang memotivasi kita untuk melakukan tindakan kasih itu. Dan bila kita memperhatikan biasanya mun-cul alasan-alasan pokok berikut.
Pertama, kita ingin membalas sesuatu yang diperbuat oleh orang lain sebagai ben­tuk reaksi kita atas kebaikannya. Kita akan melakukan tindakan kasih kalau orang lain sudah lebih dahulu berbuat. Kedua, kita ingin memperoleh atau menerima sesuatu dari tindakan kasih kita. Di sini berlaku hukum “kita memberi maka kita akan menerima”.
Kedua alasan dan motivasi yang disebut di atas tentu sah-sah saja dan sejauh yang kita amati, banyak sekali yang memberlakukan prinsip tersebut di sekitar kita. Karena itu kita banyak menyaksikan—atau bah­kan kita sendiri mengalaminya—banyak orang kehilangan daya dorong yang kuat untuk dapat melakukan tindakan kasih dalam pelayanan. Sebab apa yang mereka terima dan harapkan tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan.
Rasul Paulus memperluas alasan dan motivasi ketika kita akan melakukan tindakan kasih. Paulus mulai usaha mengenal siapa dirinya di hadapan Allah, bahwa dia bukanlah apa-apa dan siapa-siapa; namun dia dijadikan oleh Tuhan menjadi seseorang yang berarti di mata Tuhan dan manusia, ini terjadi semata-mata kasih karunia-Nya. Hanya oleh kasih-karunia-Nya kita dapat melakukan tindakan kasih yang murni bukan kekuatan dan kemampuan diri kita. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, bantulah kami untuk mengenal keberadaan
diri kami di hadapan-mu, agar dengan itu kami mampu selalu
melakukan tindakan kasih, karena kami sendiri hidup
dari anugerah dan kasih-Mu. Amin.

Kamis, 03 Februari 2011

Awal Dari Cinta

Baca: Wahyu 2:1-7
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Wahyu 2:4
Ada banyak orang bertanya: “Apakah tayangan di televisi dalam acara ‘Masihkah engkau mencintaiku’ sungguh-sungguh menghadirkan orang-orang yang melakon­inya atau ganti pemeran?” Jikalau benar para pelakunya, mengapa zaman ini orang sudah tidak mempunyai rasa malu, bahwa aib ke­luarganya ditonton jutaan orang di televisi. Tuhan merasa perlu untuk menegur jemaat Efesus yang sudah meninggalkan cintanya kepada Tuhan. Hari ini Tuhan juga menegur Anda, bila cintamu sudah mulai pudar.
Cinta Tuhan terlalu mahal untuk dinilai dengan apa pun. Adakah orang yang mau menggantikan hukuman yang paling berat untuk di­jalani? Tanpa syarat Yesus mau melakoni menanggung dosa kita mulai dari lahir sampai mati. Masih tegakah kita melukai hati-Nya dengan melupakan kasih-Nya yang tidak bersyarat?
Jangan menutupi keburukan kita dengan topeng pelayanan. Je­maat Efesus hebat dalam pelayanan, tetapi kehebatan itu hanya untuk menutupi kasih mereka yang semakin pudar. Bahaya besar bagi para pelayan Tuhan adalah ketika hati ini menjadi kering dan kosong tanpa cinta-Nya lagi. Segarkanlah hidup ini untuk kembali pada kasih yang semula.
Lebih baik kembali dari nol daripada meluber tetapi sia-sia. Mulai dari nol berarti siap untuk diisi kembali dengan cinta yang mula-mula. Dalam hidup pernikahan, bulan madu harus berlangsung terus sampai tua. Hal ini untuk menjaga agar pasutri tidak kehilangan cinta yang mula-mula.
Sebagai jemaat Tuhan, masih adakah kegembiraan cinta seperti ke­tika kita pertama kali dekat kepada Tuhan? Semoga masih. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Awal dari cinta harus dipelihara sampai
berakhir dengan cinta yang sama.

Rabu, 02 Februari 2011

Cintailah Seribu Kali ....

Baca: 2 Korintus 8:7-9
...Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
2 Korintus 8:9
Satire klasik yang mengatakan: Cintailah aku seribu kali, maka aku akan mencintaimu seratus kali! rasanya tetap relevan hingga hari ini. Tentu ini sekadar sindiran terhadap orang-orang yang selalu ingin memetik ke-untungan dari setiap kali berkiprah men­jalani kehidupan ini. Ya, tentu saja termasuk dalam urusan mencintai dan dicintai. Cinta seperti komoditas yang memiliki nilai, va-lues. Namun di balik kalimat satiris ini, cinta memang memiliki nilai, ada harganya. Cinta memang berharga, bahkan sangat mulia. Tetapi tidak semua yang berharga selalu dapat dijualbelikan, termasuk cinta, tidak untuk ditransaksikan.
Cinta bukan sekadar tiupan asmara semata. Cinta memang berharga dan karenanya harus dan layak diperjuangkan. Dan, seperti itulah kasih Tuhan kepada kita, lahir dari perjuangan paling dahsyat dari seorang Anak Manusia, Yesus Kristus. Ayat emas kita menegaskan, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (ayat 9).
Ini suatu pengorbanan cinta yang luar biasa! Yesus kaya, dalam arti memiliki segalanya yang tak mungkin kita miliki, oleh karena kita, Ia menjadi miskin, dalam arti Ia tidak memberikan syarat apa pun untuk mengasihi Anda dan saya! Haleluya! Sekarang apalagi yang membuat kita takut untuk lebih merapatkan diri kepada Yesus? Ia sangat rindu kita dengan sepenuh hati membalas kasih kesetiaan-Nya. —Agus Santosa.

Siapa yang lebih bodoh, seorang anak yang takut akan
kegelapan atau pria yang takut akan terang?
—Maurice Freehill

Selasa, 01 Februari 2011

Mengubah Diri Sendiri


Baca: 2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
2 Korintus 5:17
Seorang teolog pernah mengatakan: “Ketika masih muda saya adalah seorang revolusioner, jadi doa saya pada waktu itu adalah: ‘Tuhan, berilah saya tenaga untuk mengubah dunia.’ Setengah abad hampir lewat, dan saya belum berhasil mengubah satu orang pun, maka doa saya: ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah orang yang berhubungan dengan saya, yakni keluarga dan para sahabat saya.’ Ini pun tak berhasil. Sekarang saya sudah tua, hidup saya tak akan lama lagi, saya melihat betapa bodohnya saya. Maka doa saya sekarang adalah ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah diri saya sendiri.’ Ah, seandainya saya su­dah berdoa seperti ini sejak muda, maka hidup saya tidak akan menjadi sia-sia.”
Betapa sering kita seperti sang teolog. Dalam menghadapi persoalan atau atas nama pengembangan diri, kita lebih senang mengubah orang lain atau situasinya ketimbang mengubah diri sendiri.
Selagi masih dalam suasana tahun baru, di mana orang biasanya mem­buat komitmen, marilah kita membuat komitmen untuk mulai mengubah diri sendiri. Kita tak perlu menunggu sampai usia kita lanjut, berapa pun usia kita saat ini, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai mengubah diri sendiri. Kita yang ada di dalam Kristus, adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Mari memohon bimbingan Roh Kudus, untuk menunjukkan hal-hal mana dari diri kita—sikap, kebiasaan, sifat, motivasi, dan lain-lain—yang perlu kita ubah agar sesuai dengan kehendak Allah. —Liana Poedjihastuti
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna. —Roma 12:2

Mengubah Diri Sendiri

Baca: 2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
2 Korintus 5:17
Seorang teolog pernah mengatakan: “Ketika masih muda saya adalah seorang revolusioner, jadi doa saya pada waktu itu adalah: ‘Tuhan, berilah saya tenaga untuk mengubah dunia.’ Setengah abad hampir lewat, dan saya belum berhasil mengubah satu orang pun, maka doa saya: ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah orang yang berhubungan dengan saya, yakni keluarga dan para sahabat saya.’ Ini pun tak berhasil. Sekarang saya sudah tua, hidup saya tak akan lama lagi, saya melihat betapa bodohnya saya. Maka doa saya sekarang adalah ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah diri saya sendiri.’ Ah, seandainya saya su­dah berdoa seperti ini sejak muda, maka hidup saya tidak akan menjadi sia-sia.”
Betapa sering kita seperti sang teolog. Dalam menghadapi persoalan atau atas nama pengembangan diri, kita lebih senang mengubah orang lain atau situasinya ketimbang mengubah diri sendiri.
Selagi masih dalam suasana tahun baru, di mana orang biasanya mem­buat komitmen, marilah kita membuat komitmen untuk mulai mengubah diri sendiri. Kita tak perlu menunggu sampai usia kita lanjut, berapa pun usia kita saat ini, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai mengubah diri sendiri. Kita yang ada di dalam Kristus, adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Mari memohon bimbingan Roh Kudus, untuk menunjukkan hal-hal mana dari diri kita—sikap, kebiasaan, sifat, motivasi, dan lain-lain—yang perlu kita ubah agar sesuai dengan kehendak Allah. —Liana Poedjihastuti
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna. —Roma 12:2

Senin, 31 Januari 2011

Ketika Lonceng Berbunyi


Baca: Mazmur 138:1-8
Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan kasih setia-Mu untuk selama-lamanya: Janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu.-  Mazmur 138:8
Apa yang terjadi ketika lonceng terakhir di sekolah berbunyi? Anak-anak sekolah segera berkemas untuk pulang ke rumah sambil bersorak-sorai tanda sukacita. Tidak ada lagi pelajaran berikutnya.
Selesai adalah sepatah kata yang melega­kan buat orang yang sedang menghadapi masalah berat—utang menumpuk, sakit pe­nyakit, penderitaan dan banyak masalah lain. Percayalah bahwa waktunya akan datang, Tuhan akan menyelesaikan semua masalah
dalam hidup kita.
Tuhan akan menambahkan kekuatan (ayat 3). Tidak ada masalah yang selesai secara instan, namun sementara kita harus menghadapi-nya, Tuhan menambahkan kekuatan kepada kita agar tetap kuat dan tabah dalam menghadapinya. Jangan berhenti di tengah jalan. Setialah menunggu pertolongan-Nya.
Tuhan melihat dari surga pergumulan kita (ayat 6). Sebutir pasir di tepi pantai tetap ada harganya demikian pula hidup kita di tangan-Nya. Tuhan bersemayam di tempat tinggi, tetapi Ia mampu melihat ke dalaman hati kita dan menopang kita. Ketika Stefanus disiksa karena Injil, Tuhan Yesus berdiri menguatkannya (Kisah Para Rasul 7:55). Tuhan tidak tinggal diam mengetahui anak-anak-Nya dalam masalah.
Tuhan tidak pernah meninggalkan sisa masalah. Di atas kayu salib Yesus memberi contoh cara menyelesaikan masalah: “Sudah selesai”. Di tangan-Nya semua masalah diselesaikan sampai tuntas, karena Ia ingin kita hidup damai sejahtera. Yang tidak mau tuntas kadang-kadang adalah kita sendiri. Masalah disimpan sebagai luka batin. Jangan menyisakan masalah kalau Tuhan minta kita selesai. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Bagi Tuhan tidak ada kata sisa apabila Ia sudah
campur tangan untuk menyelesaikannya.