Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 30 Januari 2011

Pengalaman Buruk

Baca: Yohanes 21:15-19
“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakan­lah domba-domba-Ku.”
Yohanes 21:17
Apa yang harus dilakukan dengan penga-laman masa lalu yang buruk? Buang saja dan tidak perlu diingat lagi! Mungkin itu yang akan dilakukan oleh sebagian besar orang. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan Yesus.
Yesus bertanya apakah Simon mengasihi-Nya, dan dijawab oleh Simon bahwa dia mengasihi Yesus. Ini berulang sampai tiga kali. Bukankah dengan cara ini sebenarnya Yesus sedang mengajak dan mengarahkan
Petrus pada pengalaman masa lalunya yang buruk, yaitu saat Petrus me-nyangkal-Nya sebanyak tiga kali?
Pasti bukan maksud Yesus untuk mempermalukan Petrus agar harga dirinya luluh-lantak di hadapan para murid yang lain, melainkan Ia memandang Petrus sebagai orang yang ketika itu membutuhkan peng-ampunan dan pemulihan dari masa lalunya yang buruk. Dengan masa lalu buruk yang dihadirkan kembali pada saat itu, tentu dimaksudkan agar Petrus dapat belajar, hingga tidak terulang lagi dan bisa menjalani kehidupannya dengan lebih berkualitas. Ini terbukti kelak, Petrus akhir-nya mati dan memuliakan Tuhan sebagaimana Yesus nyatakan (ayat 19). Pemulihan terhadap Petrus dilakukan Yesus dengan cara memberi tugas: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, yang di telinga Petrus tentu berarti lebih dari sekadar pengampunan.
Bagi kita yang mempunyai pengalaman buruk, datanglah kepada Tuhan yang bisa membuatnya menjadi pengalaman yang baik dan memulihkan. Yesus akan membangkitkan kita dari “kelumpuhan hidup” untuk bersemangat menjalani hidup, kerja dan pelayanan kita dengan lebih baik lagi. —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi
Pengalaman yang buruk dapat berubah menjadi pengalaman yang baik
tatkala kita berhasil mengambil hikmahnya dan kemudian berpengaruh positif pada kehidupan kita sekarang dan di masa depan.

Sabtu, 29 Januari 2011

Senang Berkerut

Baca: Mazmur 92:13-16
Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.
Amsal 20:29
Takut berkerut? Itu sih biasa. Tetapi kalau Anda senang memiliki wajah berkerut, itu baru langka. Chow Yun Fat, aktor asal Hong­kong, ternyata sangat bangga dengan kerutan di wajahnya. Jasmine, istrinya, mengatakan ia harus mengejar-ngejar Chow bila harus mengoleskan pelembab anti kerut di wajah suaminya. Apa komentar Chow? Pria yang kini berusia 52 tahun ini berdalih kalau se-tiap kerutan melukiskan pengalaman hidup, dan sangat berarti baginya. “Uang tidak dapat membeli kerutan,” katanya bangga. Ternyata kiatnya ini cukup berhasil. Terbukti wajahnya tetap terlihat matang dan simpatik walaupun terus menua.
Bertambahnya usia adalah hal yang wajar dan mau tak mau akan dialami semua orang. Sehebat apa pun kita berusaha merawat tubuh agar tetap muda atau “kelihatan muda lebih lama”, bertambahnya usia pasti akan membuat kekuatan fisik melemah, kulit semakin keriput, dan uban semakin banyak di kepala kita. Serangan penyakit pun akan semakin terasa seiring melemahnya daya tahan. Menjadi tua adalah kodrat semua orang. Hal yang harus kita lakukan agar tetap bahagia dan semangat menjalani hidup adalah menerimanya dengan lapang dada.
Menjadi tua bukan berarti tak lagi bisa produktif. Sebaliknya, kita justru harus semakin menjadi berkat. Chow Yun Fat dan tokoh-tokoh lainnya adalah para pribadi yang semakin tua justru semakin bersinar, karena mereka memandang usia tua bukan sebagai beban, namun sebagai pengalaman hidup yang sangat berharga. —Richard T.G.R.

Berapa pun usia kita hari ini, marilah syukuri hidup ini dengan
melakukan yang terbaik melalui talenta yang Tuhan berikan.

Jumat, 28 Januari 2011

Pulihkanlah Kami

Baca: Mazmur 80
Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.
Mazmur 80:4
Mazmur 80 ditulis oleh Asaf bin Berekhya bin Simea, keturunan bani Kehat yang di-tugaskan Daud untuk menaikkan nyanyian dan pujian di rumah Tuhan. Asaf menja-lankan tugasnya sampai Salomo mendirikan Bait Allah. Ia merasakan sendiri hidup di lingkungan Yerusalem yang tak kudus, kota berkumpulnya orang-orang multi-etnis yang tak takut Tuhan. Bait Allah dinajiskan. Darah hamba-hamba Allah ditumpahkan seperti derasnya air mengalir. Israel menjadi tahanan, dicemooh, ditindas, dilumat harga diri bangsa pilihan-Nya itu, dan Tuhan pun dicela.
Asaf mengibaratkan Israel seperti pohon anggur yang Tuhan ambil dari Mesir, ditanam di tempat yang telah Ia sediakan, berakar dan hidup subur di Yerusalem (ayat 9-10). Asaf meratap, berseru dalam mazmurnya, “Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!” (ayat 15-17).
Saat ini keseharian kita mungkin tak jauh berbeda dengan yang dialami Asaf. Kita mungkin hidup bersama orang-orang yang tak ta­kut Tuhan, berani melecehkan Nama Yesus Kristus dan menyangkal kebenaran-Nya. Ibadah kita dilukai, dan kehidupan iman pun dicederai. Jangan pernah menyerah, Tuhan akan memulihkan keadaan kita, yang terpenting adalah ketaatan dan kerinduan kita akan kuasa pemulihan-Nya. Mari memohon seperti Asaf berseru, “Ya Tuhan, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (ayat 20).—Agus Santosa.

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu
akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu
dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. —Yesaya 58:8

Kamis, 27 Januari 2011

Senantiasa Bersyukur

Baca: Efesus 5:18-21
Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.
Efesus 5:20
Kita mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk sesuatu yang kita miliki atau alami, biasanya kalau merasa bahwa sesuatu itu baik, berguna ataupun membuat kita sela-mat dan sejahtera. Kita mengucap syukur dan terima kasih kepada-Nya, karena per­caya bahwa Dialah yang telah membuat dan mengaruniakan sesuatu kepada kita. Sikap seperti itu sungguh baik dan tepat bahkan wajib dilakukan oleh setiap orang yang me-ngaku percaya kepada Tuhan sebagai Sumber dan Penguasa hidup ini.
Tetapi untuk hal-hal yang kita rasakan tidak mendatangkan kebaikan ataupun manfaat bagi kita, bahkan yang membuat kita menjadi menderita dan sengsara, haruskah kita mengucap syukur kepada Tuhan? Meskipun demikian, Paulus dengan tegas berseru, “Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu.” Segala sesuatu, artinya apa saja, termasuk yang mem­buat kita sedih dan menderita. Apakah itu tidak mengada-ada?
Seruan Paulus yang terasa tidak masuk akal itu hanya akan dapat kita pahami dan terima kalau kita menyadari dan mengaminkan kebenaran kata-kesaksiannya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Dalam keadaan yang bagaimanapun, Tuhan dapat men­jadikan keadaan tersebut baik bagi kita. Oleh sebab itu, dalam keadaan yang bagaimanapun kita wajib mengucap syukur kepada-Nya. —Pdt.Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, kami merasa bahwa hidup kami akan semakin terbebani
oleh hal-hal yang tidak menyejahterakan kami. Karenanya, ajarlah dan
mampukan kami tetap senantiasa bersyukur kepada-Mu, karena yakin bahwa Engkau menyertai kami dan bahkan sanggup menjadikan
segala sesuatu itu untuk kebaikan kami. Amin.

Rabu, 26 Januari 2011

Pembimbing dan Penuntun

Baca: Mazmur 23:1-6
...Ia membimbing aku ke air yang tenang... Ia menuntun aku di jalan  yang benar.
Mazmur 23:2-3
Seseorang pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia hidup itu saling mem­pengaruhi satu sama lain. Dalam kekuatan saling pengaruh ini, yang punya kekuatan lebih besar—seperti pangkat, harta, tenaga dan tentu jumlah—yang cenderung akan memberikan pengaruh, sehingga perkataan­nya didengar, kehendaknya diikuti, bahkan gaya hidupnya ditiru. Itulah keniscayaan hidup pada masa sekarang ini.
Dalam kondisi kehidupan seperti sekarang, kekuatan mempengaruhi itu adanya pada pemegang kekuasaan karena punya upaya pemaksa, pada penyandang popularitas karena punya banyak pengagum, dan pada kelompok yang disebut mayoritas karena punya banyak massa. Kekuatan mempengaruhi dari mereka itu menjadi semakin efektif bekerjanya karena peran media massa, yang getol menampilkan dan menyiarkan mereka berulang kali yang pada gilirannya memberi pengaruh besar pada kehidupan masyarakat. Tanpa disadari, menjadi pembimbing dan penuntun hidup masyarakat.
Pertanyaan penting buat kita adalah, apa dan siapa yang sekarang menjadi pembimbing dan penuntun hidup kita? Pendapat, pandangan serta gaya hidup orang banyakkah? Atau yang disiarkan media massakah? Pertanyaan berikutnya, membimbing dan menuntun menuju ke manakah semua itu?
Adalah bijaksana belajar dari Daud, yang memilih menjadikan Allah sebagai pembimbing dan penuntunnya. Karena Daud tahu, kalau Allah mebimbing Ia hanya akan membimbing ke air yang tenang (tempat yang baik), dan kalau Ia menuntun Ia hanya akan menuntun di jalan yang benar. Handoyo
Kalau Ia membimbing jelas ke mana arahnya, kalau
Ia menuntun jelas di mana jalan-Nya.

Selasa, 25 Januari 2011

Pemimpin Hidup Kita

Baca: Mazmur 48:15
Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita.
Mazmur 48:15
O Tuhan pimpinlah langkahku, Ku tak b’rani jalan sendiri.
Serta-Mu inilah doaku, Ajar ku mendekatkan diri.
Menurut firman-Mu tiap hari, Jadikan pelita dalam glap.
Mencari domba yang sesat, Itulah kerinduan jiwaku.
Sebuah lagu yang merupakan doa dan harapan kita, yang mengaku pengikut Kris­tus, dalam menjalani kehidupan ini. Dalam  dunia yang semakin memanas ini banyak hal yang harus kita lakukan di dalam pimpinan Tuhan. Jika dalam kehidupan kita Tuhan yang menjadi pemimpinnya, maka kita akan berani melangkah, menjalani kehidupan ini dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan.
Menjadikan Tuhan sebagai pemimpin hidup kita berarti kita harus mengikuti kehendak-Nya. Kita dapat mengetahui kehendak-Nya dengan membaca firman-Nya. Firman Tuhan itulah pedoman dan pegangan kita dalam mengarungi hidup dan menghadapi segala macam tantangan dan godaan.
Firman-Nya adalah pelita yang akan menerangi jalan kehidupan yang kita lakui, sehingga kita tidak akan terjerembab apalagi tersesat. Tidak hanya itu, sebagai orang yang dipimpin Tuhan, kita juga rindu untuk dapat mencari dan menemukan kembali domba-domba yang tersesat untuk dibawa kembali kepada Tuhan Yesus.
Sudahkah kita memiliki komitmen menjadikan Tuhan sebagai pemimpin kehidupan kita? Sudahkah firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi jalan kehidupan kita dalam bertutur dan berperilaku? Dan sudahkah kita menemukan domba kepunyaan Tuhan yang tersesat? Darmanto.

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
—Mazmur 119:105

Senin, 24 Januari 2011

Aliran Air

Baca: Yohanes 20:21
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.
Yohanes 20:21
Sering kita jumpai air yang tergenang dan membusuk. Kondisinya sangat tidak nya­man, bahkan mengundang banyak penyakit. Berbeda dengan aliran air yang jernih indah dipandang, akan didapati suara gemercik yang sedap dan merdu didengar.    
Pada hakikatnya misi Allah adalah peng­utusan untuk memberitakan Injil agar setiap orang menjadi percaya dan menerimanya, sehingga memperoleh keselamatan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Keselamatan
adalah hak bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya. Kewajiban untuk meneruskannya adalah tanggung jawab bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya.
Kita umat Kristen telah menerima Injil Keselamatan dari Allah sebagai anugerah. Namun tidak semuanya mengetahui bahwa Injil tidak boleh berhenti hanya sampai pada kita, melainkan harus diteruskan kepada seluruh bangsa di muka bumi. Berita Injil keselamatan dari Allah bagai­kan aliran air yang harus selalu mengalir.
Allah Bapa mengutus Tuhan Yesus, kemudian Tuhan Yesus mengutus kita orang beriman. Pengutusan dalam Matius 28:19: “Karena itu per­gilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” tersebut berkelanjutan yang tidak pernah berhenti. Berpartisipasi dan terlibat aktif dalam melaksana­kan Amanat Agung Kristus adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Jika tidak, kita akan menjadi genangan air yang membusuk kar­ena tidak mengalirkan air kehidupan yang telah mengalir dalam hidup kita. —Sumanto Mardihutomo.

Berita Injil bagaikan air kehidupan yang harus dialirkan kepada
sesama agar mereka juga memperoleh keselamatan.

Minggu, 23 Januari 2011

Tiada Yang Mustahil

Baca: Kejadian 18:10-15
Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?...
Kejadian 18:14
Pada zaman ini masih banyak kisah ajaib yang kita dengar dan saksikan. Semua men­jadi bukti bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Tuhan akan terus menunjukkan bahwa Ia ada dan menyertai umat-Nya. Seperti kecelakaan pesawat terbang yang menghancurkan body pesawat itu, namun sebagian besar penumpangnya selamat.
Abraham dan Sara yang sudah tua, ter-nyata masih dimungkinkan untuk mempu­nyai anak. Masihkah Anda percaya bahwa mukjizat Allah juga bisa terjadi di tahun ini?
Jangan menertawakan janji dan perkataan Tuhan. Sara tertawa ketika diberi tahu bahwa dirinya akan mengandung dan mempunyai anak. Janji Tuhan tidak untuk ditertawakan, tetapi diimani bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Ketika kita menghadapi jalan buntu, cobalah berpaling kepada Tuhan untuk percaya kepada janji-janji-Nya. Janji-janji-Nya pasti digenapi.
Janji Tuhan tidak untuk disangkal, tetapi diterima dengan ber­serah. Sara penuh dengan keraguan (ayat 12-13) dan menganggap Tuhan sedang bergurau dengannya di masa tua. Janji Tuhan tidak kenal berapa umur kita, karena Tuhan mau menggenapi-Nya kapan saja dan di mana saja asal kita berserah. Berserah dan percaya bahwa janji Tuhan itu pasti (Bilangan 23:19).
Menyesuaikan waktu Tuhan akan melihat keajaiban. Tuhan ber­kata bahwa tahun depan Aku akan kembali mendapatkan Sara yang telah mempunyai seorang anak laki-laki (ayat14). Tuhan butuh waktu menyatakan kehendak-Nya agar manusia tidak kaget mengalami yang di luar kebiasaannya. Dan Sara juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diucapkan Tuhan. Jangan pernah berhenti untuk berharap! —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Mukjizat terjadi karena ada janji Tuhan yang pasti digenapi.

Sabtu, 22 Januari 2011

Alzheimer

Baca: Amsal 4:23-27
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Amsal 4:23
Alzheimer adalah gangguan intelektual dan kemampuan kognitif yang menganggu performa sosial dan kerja. Penyakit ini biasa-nya menyerang pada usia 50 tahun ke atas. Di Amerika Serikat dan Eropa, alzheimer menjadi penyebab kematian nomor empat setelah kanker, jantung dan stroke. Tanda umum gejala alzheimer pada stadium awal adalah kemunduran konsentrasi dan daya ingat, kesulitan mempelajari hal baru, sering lupa pembicaraan atau janji, kesulitan membaca kalender dan menentukan waktu, terakhir ketidakmampuan memecahkan masalah sehari-hari. Cara sederhana dan murah untuk mencegah alzheimer adalah dengan menghindari mengkonsumsi junk food, banyak melakukan kegiatan melatih otak seperti membaca buku, mengisi teka-teki silang, dan berolahraga secara teratur untuk memper­lancar aliran darah ke otak.
Input menentukan output. Apa yang Anda masukan dalam tubuh itu pula yang akan mempengaruhi kesehatan serta performa Anda. Kalau selama ini Anda membangun tubuh jasmani dengan pola hidup sehat serta melakukan kegiatan-kegiatan positif, Anda akan menikmati hidup sampai tua dengan sehat, dan sebaliknya.
Sama seperti tubuh jasmani, kita membangun tubuh rohani dengan mengkonsumsi makanan bergizi seperti rajin membaca Alkitab, berdoa dan berpuasa. Tubuh rohani akan selalu sehat dan tak mudah lemah menghadapi badai masalah kalau kita rajin memberinya “makanan bergizi.” Namun kalau tidak teratur memberi makan tubuh rohani, tak heran kita begitu mudah jatuh saat badai masalah menghantam. Tentu kita tak ingin mengalami hal ini bukan? —Richard T.G.R.

Dengan tubuh jasmani dan rohani yang sehat kita bisa melakukan
banyak perbuatan yang memuliakan nama Tuhan.

Langkah Kita

Baca: Mazmur 37:23-26
Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.
Mazmur 37:23-24
Kalimat Tuhan menetapkan langkah-langkah orang bisa disalahmengertikan sebagai takdir, bahwa Tuhan sudah menetapkan, menentu­kan atau menggariskan jalan hidup manusia, dan manusia tidak dapat keluar dari jalan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga, manusia ibarat robot yang tinggal mengikuti program dari pembuatnya. Tentu saja bukan demikian. Kata menetapkan sebenarnya memiliki arti yang sama dengan kata: me­neguhkan, menguatkan, menegakkan, atau mengukuhkan. Ini yang membuat Mazmur 37:23-24 menjadi bermakna indah dan sangat menguatkan. Terlebih, kalau kita hubungkan dengan kehidupan Daud yang menulis Mazmur ini.
Langkah kehidupan Daud berkali-kali sempat gontai dan goyah, bahkan tersandung dan jatuh. Ia pernah terancam dibunuh, terjatuh dalam skandal seks, kehilangan anak, dan lain-lain. Tetapi, ia selalu dapat kembali bangun dan langkahnya kembali tegak. Dari mana ia bisa seperti itu? Katanya, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”
Kita ibarat seorang anak yang sedang belajar berjalan, dan Tuhan ada­lah sang ibu. Ketika anak terjatuh, sang ibu memegang tangan anaknya, mengangkatnya untuk berdiri dan berjalan kembali. Demikianlah Tuhan, Ia selalu siap menolong kita untuk berdiri dan berjalan kembali.
Janji firman Tuhan saat ini memberikan keyakinan kepada kita un­tuk menjalani kehidupan dengan langkah mantap, sekalipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan kita. Persoalannya apakah kita mau percaya? —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi.

Doa: Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Bimbinglah
aku untuk menjalani setiap langkah kehidupanku dan melakukan yang
berkenan kepada-Mu. Aku percaya, Engkau tidak akan membiarkan
kakiku goyah. Mantapkanlah langkahku. Amin.

Jumat, 21 Januari 2011

Iman Yang Tidak Tahu

Iman yang Tidak Tahu
Baca: Pengkhotbah 2:20-25
Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan...
Pengkhotbah 2:26
Memasuki tahun 2011 ada banyak harapan dan keprihatian bercampur aduk dalam benak kita. Begitu banyak harapan yang membesarkan hati, namun banyak pula bayang-bayang gelap yang tak selalu kita mengerti. Karena itulah banyak orang suka berspekulasi dengan mencari pegangan dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertang-gungjawabkan. Namun ada pula yang mem-bangun suatu optimisme yang berlebihan de-ngan mengangkat ayat-ayat tertentu dalam Alkitab. Dan berdasarkan ayat-ayat itu, lalu orang yang merasa memahami Alkitab sering menjadi sok tahu. Ia merasa mampu menentukan bahwa Allah sedang marah atau sedang senang pada saat tertentu, bahwa Allah menyukai atau membenci orang tertentu, bahwa Allah menyetujui atau menolak model kesalehan tertentu. Orang semacam itu juga sering merasa mampu menentukan nasib manusia, siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti binasa.
Pengkhotbah agaknya menampilkan iman yang lebih rendah hati, yaitu iman yang banyak meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Bukan iman yang serba tahu, tetapi iman yang mengaku tidak tahu tentang banyak hal. Ia mengajarkan orang untuk takut kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada-Nya, tetapi Ia juga menyadari bahwa manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah. Ia memperlihatkan mana sikap hidup yang baik yang layak dipilih, dan mana yang merupakan kebodohan dan seharusnya dihindari, namun ia tidak berani menentukan nasib manusia berdasarkan perbuatan atau kesalehannya. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa rendah hati
dalam hidup beriman, dengan sikap hidup yang mau
taat pada kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2011

Tekun Dan Sabar

Baca: Kolose 1:9-12
Dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.
Kolose 1:11
Adalah wajar, apabila secara manusiwai kita memiliki kekhawatiran tertentu dalam memasuki tahun yang baru ini. Sebab, oleh perkembangan situasi dan kondisi, mungkin saja kita merasa sedang mengalami proses penurunan dan kemunduran dalam berba-gai bidang kehidupan, yang kesemuanya itu mengancam kelangsungan kesejahteraan serta keselamatan hidup kita.
Di sisi lain, sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Juru Selamat, yang telah dan pasti juga akan menyelamatkan hidup kita, kita hendaknya juga percaya bahwa Dia pasti juga, berdasarkan kuasa kemuliaan-Nya, akan memampukan kita “menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”, seperti dinyatakan Paulus kepada Jemaat Kolose. Oleh kuasa kemuliaan-Nya, kita menjadi mampu menanggung seluruh kekhawatiran dan pergumulan kita, berdasarkan keyakinan bahwa melalui ketekunan dan kesabaran kita itu, pada waktunya kita juga akan “dilayakkan mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang”, yaitu keselamatan sejati dan kekal bersama Kristus dalam Kemuliaan-Nya.
Di dalam menghadapi keadaan yang kita rasakan mengganggu dan merusak kesejahteraan serta keselamatan kita, tanpa kemampuan nyata untuk mengatasinya, yang kita perlukan adalah daya tahan untuk menjalani atau menanggungnya dengan tekun dan sabar, tanpa ke­hilangan rasa selamat dan sejahtera, karena yakin bahwa semuanya itu pasti akan berlalu, dan digantikan dengan keselamatan kekal dalam Kristus. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, kalau persoalan dan kekhawatiran kami sekarang ini
memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kami, mampukanlah kami untuk menanggungnya dengan sabar, tekun dan penuh kepasrahan kepada-Mu, tanpa harus kehilangan rasa damai sejahtera-Mu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2011

Janji Yang Hidup

Janji yang Hidup
Baca: Yohanes 14:1-14
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yohanes 14:6
Kita suka menikmati “mesin-mesin instan”, seperti ATM, HP, komputer dan sebagainya, namun kita juga sering mengeluhkan kelam­banan mereka hanya karena harus menung-gu satu dua menit saja. Singkat kata, orang menginginkan kepastian di depan mata, sekarang juga. Alat-alat dan orang-orang yang kita anggap dapat memuaskan secara instan lalu mendapat tempat istimewa di hati kita, bahkan menjadi penuntun kita; seolah-olah masa depan tak terjamin dan hidup menjadi
tidak tenang tanpa mereka. Sesungguhnya, seperti apa masa depan kita?
Semasa hidup Daud, Tuhan berjanji, “Apabila umurmu telah genap... maka Aku akan membangkitkan keturunanmu... Kasih setia-Ku tidak akan hilang daripadanya...” (2 Samuel 7:12-16). Daud lalu menaikkan doa syukur untuk pemeliharaan Tuhan atas masa lalu hingga masa depan­nya. Di masa yang berbeda, Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal...” (Yohanes 14:1-2); dan sebagai Pembimbing, Ia menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (ayat 6).
Mesin-mesin instan sering macet dan tak berkuasa atas masa depan. Namun Tuhan adalah janji yang hidup, yang tak pernah gagal. Mau­kah kita dipimpin hanya oleh janji Tuhan? —Ocky Sundari.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
—Mazmur 23:1-2

Selasa, 18 Januari 2011

Tersembunyi Ujung Jalan

Baca: Kejadian 12:1-3; Ibrani 11:8
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya... - Ibrani 11:8
Salut kepada anak-anak muda yang berani berpisah dengan orangtua untuk sekolah di luar negeri. Mereka sebelumnya sudah pernah diajak orangtua ke luar negeri atau mengikuti program pengenalan lingkungan. Di samping itu motivasi dan cita-cita menjadi bagian dari keberanian itu. Bagaimana dengan Abram? Ia disuruh Tuhan untuk meninggalkan negeri-nya tanpa ditunjukkan ke mana tujuannya, selain janji Tuhan bahwa akan ada penyertaan dan berkat (Kejadian 12:3). Ujung jalan bisa saja tersembunyi, tetapi pimpinan Tuhan tidak pernah salah. Mau coba?
Pimpinan Tuhan seperti peta buta tetapi jelas arahan-Nya. Kadang kala kita dihadapkan pada jalan dengan peta buta. Dengan berbagai tanda tanya kita berseru: “Tuhan, mengapa ini harus terjadi?” atau “Di manakah Engkau, kenapa kami jadi begini?” Jawaban Tuhan Yesus singkat: Ikutlah Aku.” Bagaimana bila jalan tersembunyi itu harus saudara lalui ketika sakit, bermasalah dan hidup dalam penderitaan?
Pimpinan Tuhan adalah berjalan tanpa bertanya lagi. Abraham tidak perlu bertanya, cukup ditanggapi mau atau tidak mau untuk pergi. Percayalah bahwa Tuhan pasti lebih tahu. Pimpinan-Nya tidak pernah salah karena semakin banyak bertanya justru semakin membuat kita bingung sendiri. Nikmati saja perjalanan itu.
Pimpinan Tuhan perlu disikapi dengan iman dan akal budi. Beri­man bukan berarti meniadakan logika. Beriman adalah menundukkan logika di bawah kuasa-Nya. Dengan iman kita percaya, dengan logika kita memahami kehendak-Nya. Abraham beriman oleh sebab itu ia berangkat, Abraham pakai logika bahwa Allah pasti tidak pernah salah menyuruhnya untuk pergi dari negerinya. Bagaimana dengan Anda? —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Iman dan logika dipakai Tuhan agar manusia percaya
dan memahami karya-Nya yang besar dan ajaib.

Senin, 17 Januari 2011

Cerdik

Baca: Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Matius 10:16
Anak-anak sering diberi dongeng tentang kecerdikan kancil yang mencuri ketimun, bertemu harimau, dan kisah-kisah lainnya. Inti pelajarannya adalah bahwa hidup kancil sukses dan terhindar dari bahaya karena kecerdikannya, padahal kecerdikan itu untuk menipu. Sayang, mungkin tanpa kita sadari, di balik cerita kecerdikan tersebut banyak kelicikan yang ikut tertanam di hati anak. Ilmu tipu-menipu akhirnya diterapkan kelak di usia dewasa. Itulah pendidikan yang diberikan oleh dunia.
Berbeda sekali dengan kecerdikanyang alkitabiah, bukan kecerdikan kancil melainkan, “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Seekor ular mendesir lari menghindari musuh. Jika terpojok dia melingkarkan tubuh-nya seolah-olah pasrah menyerah namun apabila musuh tetap menyerang, dia akan menyerang balik membela diri juga. Kecerdikan membela diri seekor ular adalah sebuah misi apologetika untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
Lebih dari itu bahwa kecerdikan yang alkitabiah diimbangi dengan sebuah hati yang tulus, jujur dan penuh kedamaian, yang dilambangkan burung merpati. Kecerdikan yang alkitabiah ini yang harus diajarkan oleh orangtua dan opa oma terhadap anak dan cucu.
Cerita Alkitab semestinya dipakai sebagai bahan dasar pendidikan kerohanian bagi anak-anak. Misalnya kecerdikan Daud melawan raksasa Goliat, Daud yang berperawakan kecil dipakai Tuhan untuk menghancurkan angkara murka Goliat. Harapan ke depan agar mereka menjadi generasi penerus yang akan melaksanakan Amanat Agung Kristus. Memberitakan Injil Keselamatan bukan mewartakan kelicikan dan ilmu tipu-menipu sang kancil. —Sumanto Mardihutomo. 
Peran orangtua dan opa oma sangat penting dalam mengubah
paradigma pendidikan kepada anak dan cucu.

Panggil Aku Naomi

Baca: Rut 1
Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus....
Rut 4:14
Dalam bahasa Ibrani nama Naomi berarti menyenangkan. Suatu nama yang manis, na­mun karena pengalaman hidup yang dialami-nya Naomi berkata, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tu­han telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku (Rut 1:20-21).
Mungkin kita bisa menangkap nada getir yang menyertai kata-kata Naomi itu. Bagaimana tidak, selama tinggal di daerah Moab, dalam kurun waktu 10 tahun, dia kehilangan suaminya, Elimelekh, dan kedua anak lelakinya, Mahlon dan Kilyon. Semula mereka berharap mendapatkan keberuntungan dengan meninggalkan Betlehem, yang pada waktu itu dilanda kelaparan, menuju daerah Moab. Ternyata justru di daerah Moab itu Naomi mengalami kehilangan yang luar biasa. Sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke Betlehem.
Barangkali saat ini kita seperti Naomi. Perjalanan hidup kita dipenuhi oleh kepahitan dan kegetiran. Belajar dari Naomi, mari “kembali ke Betle­hem”, ke dalam rengkuhan tangan Tuhan. Naomi akhirnya mendapatkan pertolongan Tuhan dengan kelahiran Obed, ayah Isai, ayah Daud (Rut 4:14-16).
Meskipun telah mengalami banyak kepahitan, marilah kita tetap meyakini kasih setia Tuhan. Semestinya Naomi berkata: “Tetap panggil aku Naomi, sebab bersama Tuhan, yang terasa pahit sesungguhnya tetap menyenangkan.” —Liana Poedjihastuti.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. –Roma 8:28

Sabtu, 15 Januari 2011

Selilit

Baca: Roma 12:1-3
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu...
Roma 12:2
Selilit memberi rasa tak nyaman, sisa-sisa makanan membuat akhir makan yang nikmat menjadi terganggu. Selilit sering membuat mulut gerah dan lidah berge­liat kuat ingin mengusirnya. Ya, kita bisa gunakan tusuk gigi, senjata pamungkas untuk mengusir selilit. Atau kita gunakan saja perkakas modern, floss, sejenis benang khusus untuk membersihkah sela-sela gigi dari sisa-sisa makanan.
Selilit itu mengganggu, menebar rasa tak enak, bahkan bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut. Hidup ini juga sering terselip “selilit” yang bisa menghambat diri kita. Mungkin pahit hati yang terpendam dalam akibat penindasan, pelecehan atau penolakan orang lain. Mungkin juga perkara-perkara kecil yang membuat kita jengkel dan marah, lalu menyeruakkan dendam di hati. Atau barangkali sikap munafik, sirik, iri, dengki, dusta atau niat jahat apa pun yang terselip di hati kita. Segera bersihkanlah!
Nafikanlah hal-hal buruk yang menyusup ke dalam diri kita. Perba­ruilah hati, pikiran, sikap, ucapan dan tindakan kita. Perbaruilah akal budi kita! Itulah nasihat terpenting Paulus kepada jemaat di Roma, dan juga kepada kita. Agar kita tidak serupa dengan dunia yang tak lekang oleh rancangan dan perbuatan jahat ini. Itulah sebabnya, kita diminta Paulus untuk mempersembahkan tubuh kita, tubuh yang kudus, menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan. Jadi, awalilah hari ini, di tahun baru ini, dengan membersihkan diri kita, agar dikenan dan benar di hadapan-Nya. —Agus Santosa.

Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian
bertambah terang sampai rembang tengah hari.
—Amsal 4:18

Jumat, 14 Januari 2011

Pertanda

Baca: Kejadian 8:1-22
Menjelang waktu senja, pulanglah burung merpati itu mendapatkanmu, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar.
Kejadian 8:11
Kegelapan membuat orang berusaha lebih keras menemukan sumber cahaya untuk mengatasi suasana gelap yang menguasai. Mungkin ini adalah “naluri alamiah” dalam diri makhluk hidup. Bahkan tumbuhan se-lalu mencari sumber cahaya untuk kelang-sungan hidupnya.
Nuh, pernah mengalami “saat-saat gelap” yang menakutkan dalam perjalanan hidup beriman. Bayangkan, semua penduduk di daerahnya mengalami musibah besar: air bah yang meliputi bumi—lebih hebat dari terjangan tsunami! Nuh bersama keluarganya harus tinggal selama berbulan-bulan di tengah hamparan air bah yang entah kapan akan surut. Sementara tidak ada manusia lain di sekitarnya yang selamat. Tentu ini bukanlah hal yang mudah, sementara ia harus memelihara binatang-binatang yang juga hidup di dalam bahtera itu. Namun Nuh teguh berpegang pada janji Tuhan, bahwa ia dan keluarganya akan tetap dipelihara. Nuh sabar menanti saatnya Allah menyatakan suatu pertanda. “Sehelai daun zaitun” yang dibawa seekor burung merpati sebagai tanda bahwa air bah mulai surut. Saat-saat yang mendebarkan dan tanpa kepastian telah berakhir.
Dalam iman, kita harus selalu yakin bahwa Allah tidak pernah mem-biarkan kita terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jika datang saat-saat gelap, saat di mana kebimbangan begitu menguasai kita, bersabar dan bertekunlah. Nantikan dan temukanlah pertanda yang Allah nyatakan di setiap pergumulan kita. Pertanda itu menyatakan bahwa Ia ada dan terus bekerja bersama dengan kita untuk membawa kebaikan bagi setiap orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:28). —Pdt. Meyske S. Tungka
Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa. —Roma 12:12

Kamis, 13 Januari 2011

Domba Yang Baik

Baca: Yohanes 10:1-4
Untuk dia penjaga membuka pintu dan dom-ba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar.
Yohanes 10:3
Untuk menunjukkan betapa besar kasih dan kepedulian-Nya kepada para pengikut-Nya, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang menge-nal nama domba-domba-Nya satu per satu (ayat 3), dan yang bahkan rela memberikan nya­wa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat 11). Dengan pernyataan-Nya yang sedemikian itu, apakah kita masih akan meragukan kes­ejahteraan dan keselamatan hidup kita?
Di sisi lain, kesejahteraan dan keselamat-
an dari si domba juga tergantung pada seberapa jauh ia mau mendengar­kan suara Sang Gembala dan bersedia mengikuti-Nya ketika dipanggil-Nya. Domba yang tidak mempedulikan panggilan Gembalanya dan berjalan semaunya sendiri tanpa menaati tuntunan-Nya, jangan berharap akan dapat selamat. Sebab, di perjalanan yang harus dilewatinya, di situ berkeliaran “serigala-serigala” buas yang siap menerkamnya! Dengan kata lain, domba yang dijamin keselamatannya itu ialah domba yang baik, yang mau mendengarkan dan mengikuti suara-Nya.
Sebagai domba-domba yang oleh perjalanan waktu merasa semakin lemah dan rapuh dalam menjalani kehidupan ini, kita bersyukur memiliki Tuhan Yesus, Juru Selamat, yang sebagai Gembala yang baik, berkenan memanggil dan menuntun kita di jalan kesejahteraan dan keselamatan. Kepada-Nya saja kita dapat mempercayakan segala sesuatunya, demi kes­ejahteraan dan keselamatan kita. Dari kita, yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk benar-benar mau mendengarkan suara-Nya, untuk selanjutnya mengikut Dia di jalan-Nya. —Pdt. Em. Sutarno

Penyerahan diri yang membawa keselamatan ialah
penyerahan diri yang disertai perbuatan ketaatan kepada-Nya.

Rabu, 12 Januari 2011

Ramal Meramal

Baca: Mazmur 23
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Mazmur 23:1
Masihkah kita ingat, kiamat adalah topik yang ramai dibicarakan orang, ketika ditemukan ramalan suku Maya bahwa tahun 2012 akan terjadi kiamat. Tidak mau kalah soal ramal meramal, ada yang mengatakan bahwa Joyoboyo pun telah meramal bahwa tahun 2013 kiamat. Ramal meramal rupa-rupanya telah ada sejak zaman dahulu, dan sampai sekarang pun tetap masih ada dan sangat digemari. Bahkan karena rasa ingin tahu masa depan, orang tidak segan-segan  datang dan berziarah ke makam-makam orang yang dianggap punya “kepandaian”, ke tempat-tempat yang dianggap keramat, semuanya untuk tujuan kebahagiaan dan keselamatan. Bahkan ketika ingin menang taruh-an dalam pertandingan sepakbola Piala Dunia, banyak orang kehilangan akal sehat sehingga minta si Paul “Gurita” dan si nuri untuk meramal.
Ketidakpastian dan keinginan untuk mengetahui yang tidak pasti, adalah sumber dari timbulnya keinginan orang untuk ramal meramal. Ketidakpastian itu terjadi, karena orang tidak percaya bahwa “Tuhan” menyertai setiap langkah hidupnya. Ketidakpercayaan itu timbul karena dia tidak pernah bersyukur atas segala yang terjadi dalam kehidupan, dan merenungkan bahwa semua yang terjadi karena rencana Tuhan yang selalu baik.
Tahun 2010 telah lewat dan saat ini kita masuki tahun 2011. Ini be­rarti tahun 2012 atau 2013 semakin dekat. Masihkah kita takut akan ramalan yang ada, atau kita lebih memilih percaya bahwa Tuhan akan selalu beserta kita di setiap langkah kehidupan ini? —Pramudya

Kalau saat ini kita mengalami kegagalan, sedang sakit, atau mendapatkan kesuksesan atau berkat berlimpah, percayalah Tuhan sedang merencana­kan sesuatu yang indah. Kalau saat ini kita masih dapat menghirup
udara segar, percayalah itu semua bentuk penyertaan Tuhan.

Selasa, 11 Januari 2011

Tiga Dimensi

Baca: Ratapan 3:21-26
Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Ratapan 3:25
Kalau kita melihat film tiga dimensi seolah-olah kita dibawa masuk ke dalam film itu. Seorang ibu penderita phobia takut keting­gian, menjerit ketika menyaksikan film di teater Keong Mas, Jakarta. Pemandangan alam Indonesia yang indah itu justru mena­kutkan karena penonton dibawa terbang untuk melihat dari dekat: kawah gunung, jurang yang dalam, tebing yang curam. Ibu itu kemudian menutup mata selama pertun­jukkan tersebut. Sayang sekali!
Adakah kita juga mengalami phobia takut menghadapi masa depan? Ikuti bimbingan Tuhan untuk menghadapi tahun 2011 ini:
Kasih setia Tuhan pasti lebih besar dari segalanya (ayat 23). Sebesar apa pun masalah kita dan segelap apa pun masa depan kita, kasih setia Tuhan masih lebih besar dari semuanya. Kasih setia-Nya seperti lautan yang tidak pernah kering. Jangan melihat dari satu sisi, lihatlah dengan tiga dimensi pasti lebih indah.
Masa depan adalah lembaran baru yang dibuka Tuhan (ayat 23). Manusia tanpa masa depan akan mengalami kemandegan dan akhirnya frustrasi. Masa depan tidak perlu ditakuti, karena Tuhan membuat apa yang di depan kita selalu baru. Temukanlah yang baru dari Tuhan, jangan takut.
Kebaikan Tuhan hanya bisa dilihat oleh orang percaya yang opti-mis (ayat 25). Berharap kepada Tuhan akan menimbulkan semangat hidup, karena Tuhan Yesus tidak berubah dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya (Ibrani 13:8). Di balik masalah dan masa depan yang belum kita jalani, di sana ada Tuhan yang selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Nantikan terus kebaikan-Nya. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Dalam tiga dimensi di sana ada Tuhan Yesus,
kita dan masa depan kita.

Senin, 10 Januari 2011

Menghitung Hari

Baca: Mazmur 90:1-17
Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12
Mazmur yang isinya merupakan doa dari Musa ini mengajarkan sesuatu yang indah kepada kita, yang saat ini baru saja memasuki tahun yang baru. Di belakang kita membentang jalan yang sudah kita lalui. Berbagai kenangan bertaburan di sana. Sementara di hadapan kita membentang pula jalan yang seberapa panjang bakal kita lalui kita tak tahu. Tetapi yang pasti, berbagai tantangan menghadang di sana. Lalu apa yang mesti kita lakukan
dalam kondisi dan posisi seperti ini?
Mazmur ini diawali dengan pengakuan, betapa Tuhan itu kekal. Maka Dialah tempat perteduhan sejati (ayat 1-2). Kemudian disusul dengan pengakuan, betapa manusia itu fana, rapuh dan rentan kondisinya, betapa singkat dan sementara hidupnya (ayat 3-6).
Dengan menyadari ini, sepatutnya manusia mengakui ketidakberdaya-annya di hadapan Sang Maha Kekal (ayat 7-12). Tengoklah pengalaman hidup di hari-hari yang sudah lewat. Muaranya ada di satu kesimpulan, betapa sungguh kita penuh kelemahan dan ketidakberdayaan.
Kalau sekarang kita mengayunkan langkah menapaki hari-hari ke­hidupan yang membentang di hadapan, dengan berbagai ketidakpasti­annya, baiklah kita menjalaninya dengan bersandar pada kasih setia dan kemurahan Tuhan semata (ayat 13-17).
Wujudnya adalah menjalani hidup dengan menghitung hari. Bukan mencari hari, mana hari baik untuk melakukan ini dan itu. Karena dengan berbuat seperti ini justru menunjukkan keraguan kita akan kehadiran dan penyertaan Tuhan pada semua hari. Menghitung hari artinya meng­gunakan semua hari dengan sebaik-baiknya, karena semua hari itu berharga. Ini menjadikan kita orang bijaksana. —Handoyo.
Mencari hari berarti meragukan penyertaan Tuhan, tetapi menghitung
hari berarti mempercayakan diri pada penyertaan Tuhan.

Minggu, 09 Januari 2011

Menemukan Jalan

Baca: 2 Korintus 4:1-15
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.
2 Korintus 4:8
Kegagalan sering menjadi alasan bagi seseorang untuk meyakinkan diri bahwa ia memang tidak punya kemampuan di suatu bidang. Kegagalan juga—oleh banyak orang —dianggap sebagai “noda” dan “cacat” da­lam perjalanan hidupnya. Pandangan dan pikiran seperti ini jelas mematikan harapan untuk bangkit.
Bagi orang tertentu, kegagalan adalah pencerahan untuk memandang dan men­emukan jalan yang lebih baik menuju keberhasilan. Sebut saja Albert Einstein, fisikawan legendaris. Tahun 1905 Universitas Bern telah menolak disertasi doktoralnya karena menganggap hasil karya Einstein menyimpang dan isinya hanyalah khayalan. Winston Churchil, pemimpin dan pahlawan Perang Dunia II Inggris, ternyata pernah tidak lulus ujian masuk Universitas Oxford. Bayangkanlah, jika mereka menghentikan langkah ketika menemukan kegagalan dalam perjuangan hidupnya. Mereka tidak pernah akan menjadi “seseorang” yang dikenal dan dikenang karya dan jasanya bagi dunia.
Paulus menyadari, bahwa penindasan, tekanan dan kegagalan dapat saja membuat mereka tidak lagi melihat jalan keluar dan mulai putus asa. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa dari kegelapan selalu akan muncul terang (ayat 6). Inilah cara pandang orang percaya menyikapi kegelapan. Bertahanlah dan percaya, Allah akan menunjukkan cahaya terang, suatu jalan yang lebih baik menuju masa depan. Kalau kita gagal hari ini, kita masih punya hari-hari lain untuk memperbaiki dan memper­juangkan hal yang lebih bermakna. —Pdt. Meyske S. Tungka

Kegagalan hanya penghalang sesaat yang memperlambat
jalan kita menuju keberhasilan yang sesungguhnya.