Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 24 Januari 2011

Aliran Air

Baca: Yohanes 20:21
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.
Yohanes 20:21
Sering kita jumpai air yang tergenang dan membusuk. Kondisinya sangat tidak nya­man, bahkan mengundang banyak penyakit. Berbeda dengan aliran air yang jernih indah dipandang, akan didapati suara gemercik yang sedap dan merdu didengar.    
Pada hakikatnya misi Allah adalah peng­utusan untuk memberitakan Injil agar setiap orang menjadi percaya dan menerimanya, sehingga memperoleh keselamatan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Keselamatan
adalah hak bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya. Kewajiban untuk meneruskannya adalah tanggung jawab bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya.
Kita umat Kristen telah menerima Injil Keselamatan dari Allah sebagai anugerah. Namun tidak semuanya mengetahui bahwa Injil tidak boleh berhenti hanya sampai pada kita, melainkan harus diteruskan kepada seluruh bangsa di muka bumi. Berita Injil keselamatan dari Allah bagai­kan aliran air yang harus selalu mengalir.
Allah Bapa mengutus Tuhan Yesus, kemudian Tuhan Yesus mengutus kita orang beriman. Pengutusan dalam Matius 28:19: “Karena itu per­gilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” tersebut berkelanjutan yang tidak pernah berhenti. Berpartisipasi dan terlibat aktif dalam melaksana­kan Amanat Agung Kristus adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Jika tidak, kita akan menjadi genangan air yang membusuk kar­ena tidak mengalirkan air kehidupan yang telah mengalir dalam hidup kita. —Sumanto Mardihutomo.

Berita Injil bagaikan air kehidupan yang harus dialirkan kepada
sesama agar mereka juga memperoleh keselamatan.

Minggu, 23 Januari 2011

Tiada Yang Mustahil

Baca: Kejadian 18:10-15
Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?...
Kejadian 18:14
Pada zaman ini masih banyak kisah ajaib yang kita dengar dan saksikan. Semua men­jadi bukti bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Tuhan akan terus menunjukkan bahwa Ia ada dan menyertai umat-Nya. Seperti kecelakaan pesawat terbang yang menghancurkan body pesawat itu, namun sebagian besar penumpangnya selamat.
Abraham dan Sara yang sudah tua, ter-nyata masih dimungkinkan untuk mempu­nyai anak. Masihkah Anda percaya bahwa mukjizat Allah juga bisa terjadi di tahun ini?
Jangan menertawakan janji dan perkataan Tuhan. Sara tertawa ketika diberi tahu bahwa dirinya akan mengandung dan mempunyai anak. Janji Tuhan tidak untuk ditertawakan, tetapi diimani bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Ketika kita menghadapi jalan buntu, cobalah berpaling kepada Tuhan untuk percaya kepada janji-janji-Nya. Janji-janji-Nya pasti digenapi.
Janji Tuhan tidak untuk disangkal, tetapi diterima dengan ber­serah. Sara penuh dengan keraguan (ayat 12-13) dan menganggap Tuhan sedang bergurau dengannya di masa tua. Janji Tuhan tidak kenal berapa umur kita, karena Tuhan mau menggenapi-Nya kapan saja dan di mana saja asal kita berserah. Berserah dan percaya bahwa janji Tuhan itu pasti (Bilangan 23:19).
Menyesuaikan waktu Tuhan akan melihat keajaiban. Tuhan ber­kata bahwa tahun depan Aku akan kembali mendapatkan Sara yang telah mempunyai seorang anak laki-laki (ayat14). Tuhan butuh waktu menyatakan kehendak-Nya agar manusia tidak kaget mengalami yang di luar kebiasaannya. Dan Sara juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diucapkan Tuhan. Jangan pernah berhenti untuk berharap! —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Mukjizat terjadi karena ada janji Tuhan yang pasti digenapi.

Sabtu, 22 Januari 2011

Alzheimer

Baca: Amsal 4:23-27
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Amsal 4:23
Alzheimer adalah gangguan intelektual dan kemampuan kognitif yang menganggu performa sosial dan kerja. Penyakit ini biasa-nya menyerang pada usia 50 tahun ke atas. Di Amerika Serikat dan Eropa, alzheimer menjadi penyebab kematian nomor empat setelah kanker, jantung dan stroke. Tanda umum gejala alzheimer pada stadium awal adalah kemunduran konsentrasi dan daya ingat, kesulitan mempelajari hal baru, sering lupa pembicaraan atau janji, kesulitan membaca kalender dan menentukan waktu, terakhir ketidakmampuan memecahkan masalah sehari-hari. Cara sederhana dan murah untuk mencegah alzheimer adalah dengan menghindari mengkonsumsi junk food, banyak melakukan kegiatan melatih otak seperti membaca buku, mengisi teka-teki silang, dan berolahraga secara teratur untuk memper­lancar aliran darah ke otak.
Input menentukan output. Apa yang Anda masukan dalam tubuh itu pula yang akan mempengaruhi kesehatan serta performa Anda. Kalau selama ini Anda membangun tubuh jasmani dengan pola hidup sehat serta melakukan kegiatan-kegiatan positif, Anda akan menikmati hidup sampai tua dengan sehat, dan sebaliknya.
Sama seperti tubuh jasmani, kita membangun tubuh rohani dengan mengkonsumsi makanan bergizi seperti rajin membaca Alkitab, berdoa dan berpuasa. Tubuh rohani akan selalu sehat dan tak mudah lemah menghadapi badai masalah kalau kita rajin memberinya “makanan bergizi.” Namun kalau tidak teratur memberi makan tubuh rohani, tak heran kita begitu mudah jatuh saat badai masalah menghantam. Tentu kita tak ingin mengalami hal ini bukan? —Richard T.G.R.

Dengan tubuh jasmani dan rohani yang sehat kita bisa melakukan
banyak perbuatan yang memuliakan nama Tuhan.

Langkah Kita

Baca: Mazmur 37:23-26
Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.
Mazmur 37:23-24
Kalimat Tuhan menetapkan langkah-langkah orang bisa disalahmengertikan sebagai takdir, bahwa Tuhan sudah menetapkan, menentu­kan atau menggariskan jalan hidup manusia, dan manusia tidak dapat keluar dari jalan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga, manusia ibarat robot yang tinggal mengikuti program dari pembuatnya. Tentu saja bukan demikian. Kata menetapkan sebenarnya memiliki arti yang sama dengan kata: me­neguhkan, menguatkan, menegakkan, atau mengukuhkan. Ini yang membuat Mazmur 37:23-24 menjadi bermakna indah dan sangat menguatkan. Terlebih, kalau kita hubungkan dengan kehidupan Daud yang menulis Mazmur ini.
Langkah kehidupan Daud berkali-kali sempat gontai dan goyah, bahkan tersandung dan jatuh. Ia pernah terancam dibunuh, terjatuh dalam skandal seks, kehilangan anak, dan lain-lain. Tetapi, ia selalu dapat kembali bangun dan langkahnya kembali tegak. Dari mana ia bisa seperti itu? Katanya, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”
Kita ibarat seorang anak yang sedang belajar berjalan, dan Tuhan ada­lah sang ibu. Ketika anak terjatuh, sang ibu memegang tangan anaknya, mengangkatnya untuk berdiri dan berjalan kembali. Demikianlah Tuhan, Ia selalu siap menolong kita untuk berdiri dan berjalan kembali.
Janji firman Tuhan saat ini memberikan keyakinan kepada kita un­tuk menjalani kehidupan dengan langkah mantap, sekalipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan kita. Persoalannya apakah kita mau percaya? —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi.

Doa: Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Bimbinglah
aku untuk menjalani setiap langkah kehidupanku dan melakukan yang
berkenan kepada-Mu. Aku percaya, Engkau tidak akan membiarkan
kakiku goyah. Mantapkanlah langkahku. Amin.

Jumat, 21 Januari 2011

Iman Yang Tidak Tahu

Iman yang Tidak Tahu
Baca: Pengkhotbah 2:20-25
Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan...
Pengkhotbah 2:26
Memasuki tahun 2011 ada banyak harapan dan keprihatian bercampur aduk dalam benak kita. Begitu banyak harapan yang membesarkan hati, namun banyak pula bayang-bayang gelap yang tak selalu kita mengerti. Karena itulah banyak orang suka berspekulasi dengan mencari pegangan dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertang-gungjawabkan. Namun ada pula yang mem-bangun suatu optimisme yang berlebihan de-ngan mengangkat ayat-ayat tertentu dalam Alkitab. Dan berdasarkan ayat-ayat itu, lalu orang yang merasa memahami Alkitab sering menjadi sok tahu. Ia merasa mampu menentukan bahwa Allah sedang marah atau sedang senang pada saat tertentu, bahwa Allah menyukai atau membenci orang tertentu, bahwa Allah menyetujui atau menolak model kesalehan tertentu. Orang semacam itu juga sering merasa mampu menentukan nasib manusia, siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti binasa.
Pengkhotbah agaknya menampilkan iman yang lebih rendah hati, yaitu iman yang banyak meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Bukan iman yang serba tahu, tetapi iman yang mengaku tidak tahu tentang banyak hal. Ia mengajarkan orang untuk takut kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada-Nya, tetapi Ia juga menyadari bahwa manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah. Ia memperlihatkan mana sikap hidup yang baik yang layak dipilih, dan mana yang merupakan kebodohan dan seharusnya dihindari, namun ia tidak berani menentukan nasib manusia berdasarkan perbuatan atau kesalehannya. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa rendah hati
dalam hidup beriman, dengan sikap hidup yang mau
taat pada kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2011

Tekun Dan Sabar

Baca: Kolose 1:9-12
Dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.
Kolose 1:11
Adalah wajar, apabila secara manusiwai kita memiliki kekhawatiran tertentu dalam memasuki tahun yang baru ini. Sebab, oleh perkembangan situasi dan kondisi, mungkin saja kita merasa sedang mengalami proses penurunan dan kemunduran dalam berba-gai bidang kehidupan, yang kesemuanya itu mengancam kelangsungan kesejahteraan serta keselamatan hidup kita.
Di sisi lain, sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Juru Selamat, yang telah dan pasti juga akan menyelamatkan hidup kita, kita hendaknya juga percaya bahwa Dia pasti juga, berdasarkan kuasa kemuliaan-Nya, akan memampukan kita “menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”, seperti dinyatakan Paulus kepada Jemaat Kolose. Oleh kuasa kemuliaan-Nya, kita menjadi mampu menanggung seluruh kekhawatiran dan pergumulan kita, berdasarkan keyakinan bahwa melalui ketekunan dan kesabaran kita itu, pada waktunya kita juga akan “dilayakkan mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang”, yaitu keselamatan sejati dan kekal bersama Kristus dalam Kemuliaan-Nya.
Di dalam menghadapi keadaan yang kita rasakan mengganggu dan merusak kesejahteraan serta keselamatan kita, tanpa kemampuan nyata untuk mengatasinya, yang kita perlukan adalah daya tahan untuk menjalani atau menanggungnya dengan tekun dan sabar, tanpa ke­hilangan rasa selamat dan sejahtera, karena yakin bahwa semuanya itu pasti akan berlalu, dan digantikan dengan keselamatan kekal dalam Kristus. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, kalau persoalan dan kekhawatiran kami sekarang ini
memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kami, mampukanlah kami untuk menanggungnya dengan sabar, tekun dan penuh kepasrahan kepada-Mu, tanpa harus kehilangan rasa damai sejahtera-Mu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2011

Janji Yang Hidup

Janji yang Hidup
Baca: Yohanes 14:1-14
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yohanes 14:6
Kita suka menikmati “mesin-mesin instan”, seperti ATM, HP, komputer dan sebagainya, namun kita juga sering mengeluhkan kelam­banan mereka hanya karena harus menung-gu satu dua menit saja. Singkat kata, orang menginginkan kepastian di depan mata, sekarang juga. Alat-alat dan orang-orang yang kita anggap dapat memuaskan secara instan lalu mendapat tempat istimewa di hati kita, bahkan menjadi penuntun kita; seolah-olah masa depan tak terjamin dan hidup menjadi
tidak tenang tanpa mereka. Sesungguhnya, seperti apa masa depan kita?
Semasa hidup Daud, Tuhan berjanji, “Apabila umurmu telah genap... maka Aku akan membangkitkan keturunanmu... Kasih setia-Ku tidak akan hilang daripadanya...” (2 Samuel 7:12-16). Daud lalu menaikkan doa syukur untuk pemeliharaan Tuhan atas masa lalu hingga masa depan­nya. Di masa yang berbeda, Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal...” (Yohanes 14:1-2); dan sebagai Pembimbing, Ia menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (ayat 6).
Mesin-mesin instan sering macet dan tak berkuasa atas masa depan. Namun Tuhan adalah janji yang hidup, yang tak pernah gagal. Mau­kah kita dipimpin hanya oleh janji Tuhan? —Ocky Sundari.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
—Mazmur 23:1-2

Selasa, 18 Januari 2011

Tersembunyi Ujung Jalan

Baca: Kejadian 12:1-3; Ibrani 11:8
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya... - Ibrani 11:8
Salut kepada anak-anak muda yang berani berpisah dengan orangtua untuk sekolah di luar negeri. Mereka sebelumnya sudah pernah diajak orangtua ke luar negeri atau mengikuti program pengenalan lingkungan. Di samping itu motivasi dan cita-cita menjadi bagian dari keberanian itu. Bagaimana dengan Abram? Ia disuruh Tuhan untuk meninggalkan negeri-nya tanpa ditunjukkan ke mana tujuannya, selain janji Tuhan bahwa akan ada penyertaan dan berkat (Kejadian 12:3). Ujung jalan bisa saja tersembunyi, tetapi pimpinan Tuhan tidak pernah salah. Mau coba?
Pimpinan Tuhan seperti peta buta tetapi jelas arahan-Nya. Kadang kala kita dihadapkan pada jalan dengan peta buta. Dengan berbagai tanda tanya kita berseru: “Tuhan, mengapa ini harus terjadi?” atau “Di manakah Engkau, kenapa kami jadi begini?” Jawaban Tuhan Yesus singkat: Ikutlah Aku.” Bagaimana bila jalan tersembunyi itu harus saudara lalui ketika sakit, bermasalah dan hidup dalam penderitaan?
Pimpinan Tuhan adalah berjalan tanpa bertanya lagi. Abraham tidak perlu bertanya, cukup ditanggapi mau atau tidak mau untuk pergi. Percayalah bahwa Tuhan pasti lebih tahu. Pimpinan-Nya tidak pernah salah karena semakin banyak bertanya justru semakin membuat kita bingung sendiri. Nikmati saja perjalanan itu.
Pimpinan Tuhan perlu disikapi dengan iman dan akal budi. Beri­man bukan berarti meniadakan logika. Beriman adalah menundukkan logika di bawah kuasa-Nya. Dengan iman kita percaya, dengan logika kita memahami kehendak-Nya. Abraham beriman oleh sebab itu ia berangkat, Abraham pakai logika bahwa Allah pasti tidak pernah salah menyuruhnya untuk pergi dari negerinya. Bagaimana dengan Anda? —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Iman dan logika dipakai Tuhan agar manusia percaya
dan memahami karya-Nya yang besar dan ajaib.

Senin, 17 Januari 2011

Cerdik

Baca: Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Matius 10:16
Anak-anak sering diberi dongeng tentang kecerdikan kancil yang mencuri ketimun, bertemu harimau, dan kisah-kisah lainnya. Inti pelajarannya adalah bahwa hidup kancil sukses dan terhindar dari bahaya karena kecerdikannya, padahal kecerdikan itu untuk menipu. Sayang, mungkin tanpa kita sadari, di balik cerita kecerdikan tersebut banyak kelicikan yang ikut tertanam di hati anak. Ilmu tipu-menipu akhirnya diterapkan kelak di usia dewasa. Itulah pendidikan yang diberikan oleh dunia.
Berbeda sekali dengan kecerdikanyang alkitabiah, bukan kecerdikan kancil melainkan, “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Seekor ular mendesir lari menghindari musuh. Jika terpojok dia melingkarkan tubuh-nya seolah-olah pasrah menyerah namun apabila musuh tetap menyerang, dia akan menyerang balik membela diri juga. Kecerdikan membela diri seekor ular adalah sebuah misi apologetika untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
Lebih dari itu bahwa kecerdikan yang alkitabiah diimbangi dengan sebuah hati yang tulus, jujur dan penuh kedamaian, yang dilambangkan burung merpati. Kecerdikan yang alkitabiah ini yang harus diajarkan oleh orangtua dan opa oma terhadap anak dan cucu.
Cerita Alkitab semestinya dipakai sebagai bahan dasar pendidikan kerohanian bagi anak-anak. Misalnya kecerdikan Daud melawan raksasa Goliat, Daud yang berperawakan kecil dipakai Tuhan untuk menghancurkan angkara murka Goliat. Harapan ke depan agar mereka menjadi generasi penerus yang akan melaksanakan Amanat Agung Kristus. Memberitakan Injil Keselamatan bukan mewartakan kelicikan dan ilmu tipu-menipu sang kancil. —Sumanto Mardihutomo. 
Peran orangtua dan opa oma sangat penting dalam mengubah
paradigma pendidikan kepada anak dan cucu.

Panggil Aku Naomi

Baca: Rut 1
Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus....
Rut 4:14
Dalam bahasa Ibrani nama Naomi berarti menyenangkan. Suatu nama yang manis, na­mun karena pengalaman hidup yang dialami-nya Naomi berkata, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tu­han telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku (Rut 1:20-21).
Mungkin kita bisa menangkap nada getir yang menyertai kata-kata Naomi itu. Bagaimana tidak, selama tinggal di daerah Moab, dalam kurun waktu 10 tahun, dia kehilangan suaminya, Elimelekh, dan kedua anak lelakinya, Mahlon dan Kilyon. Semula mereka berharap mendapatkan keberuntungan dengan meninggalkan Betlehem, yang pada waktu itu dilanda kelaparan, menuju daerah Moab. Ternyata justru di daerah Moab itu Naomi mengalami kehilangan yang luar biasa. Sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke Betlehem.
Barangkali saat ini kita seperti Naomi. Perjalanan hidup kita dipenuhi oleh kepahitan dan kegetiran. Belajar dari Naomi, mari “kembali ke Betle­hem”, ke dalam rengkuhan tangan Tuhan. Naomi akhirnya mendapatkan pertolongan Tuhan dengan kelahiran Obed, ayah Isai, ayah Daud (Rut 4:14-16).
Meskipun telah mengalami banyak kepahitan, marilah kita tetap meyakini kasih setia Tuhan. Semestinya Naomi berkata: “Tetap panggil aku Naomi, sebab bersama Tuhan, yang terasa pahit sesungguhnya tetap menyenangkan.” —Liana Poedjihastuti.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. –Roma 8:28

Sabtu, 15 Januari 2011

Selilit

Baca: Roma 12:1-3
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu...
Roma 12:2
Selilit memberi rasa tak nyaman, sisa-sisa makanan membuat akhir makan yang nikmat menjadi terganggu. Selilit sering membuat mulut gerah dan lidah berge­liat kuat ingin mengusirnya. Ya, kita bisa gunakan tusuk gigi, senjata pamungkas untuk mengusir selilit. Atau kita gunakan saja perkakas modern, floss, sejenis benang khusus untuk membersihkah sela-sela gigi dari sisa-sisa makanan.
Selilit itu mengganggu, menebar rasa tak enak, bahkan bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut. Hidup ini juga sering terselip “selilit” yang bisa menghambat diri kita. Mungkin pahit hati yang terpendam dalam akibat penindasan, pelecehan atau penolakan orang lain. Mungkin juga perkara-perkara kecil yang membuat kita jengkel dan marah, lalu menyeruakkan dendam di hati. Atau barangkali sikap munafik, sirik, iri, dengki, dusta atau niat jahat apa pun yang terselip di hati kita. Segera bersihkanlah!
Nafikanlah hal-hal buruk yang menyusup ke dalam diri kita. Perba­ruilah hati, pikiran, sikap, ucapan dan tindakan kita. Perbaruilah akal budi kita! Itulah nasihat terpenting Paulus kepada jemaat di Roma, dan juga kepada kita. Agar kita tidak serupa dengan dunia yang tak lekang oleh rancangan dan perbuatan jahat ini. Itulah sebabnya, kita diminta Paulus untuk mempersembahkan tubuh kita, tubuh yang kudus, menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan. Jadi, awalilah hari ini, di tahun baru ini, dengan membersihkan diri kita, agar dikenan dan benar di hadapan-Nya. —Agus Santosa.

Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian
bertambah terang sampai rembang tengah hari.
—Amsal 4:18

Jumat, 14 Januari 2011

Pertanda

Baca: Kejadian 8:1-22
Menjelang waktu senja, pulanglah burung merpati itu mendapatkanmu, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar.
Kejadian 8:11
Kegelapan membuat orang berusaha lebih keras menemukan sumber cahaya untuk mengatasi suasana gelap yang menguasai. Mungkin ini adalah “naluri alamiah” dalam diri makhluk hidup. Bahkan tumbuhan se-lalu mencari sumber cahaya untuk kelang-sungan hidupnya.
Nuh, pernah mengalami “saat-saat gelap” yang menakutkan dalam perjalanan hidup beriman. Bayangkan, semua penduduk di daerahnya mengalami musibah besar: air bah yang meliputi bumi—lebih hebat dari terjangan tsunami! Nuh bersama keluarganya harus tinggal selama berbulan-bulan di tengah hamparan air bah yang entah kapan akan surut. Sementara tidak ada manusia lain di sekitarnya yang selamat. Tentu ini bukanlah hal yang mudah, sementara ia harus memelihara binatang-binatang yang juga hidup di dalam bahtera itu. Namun Nuh teguh berpegang pada janji Tuhan, bahwa ia dan keluarganya akan tetap dipelihara. Nuh sabar menanti saatnya Allah menyatakan suatu pertanda. “Sehelai daun zaitun” yang dibawa seekor burung merpati sebagai tanda bahwa air bah mulai surut. Saat-saat yang mendebarkan dan tanpa kepastian telah berakhir.
Dalam iman, kita harus selalu yakin bahwa Allah tidak pernah mem-biarkan kita terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jika datang saat-saat gelap, saat di mana kebimbangan begitu menguasai kita, bersabar dan bertekunlah. Nantikan dan temukanlah pertanda yang Allah nyatakan di setiap pergumulan kita. Pertanda itu menyatakan bahwa Ia ada dan terus bekerja bersama dengan kita untuk membawa kebaikan bagi setiap orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:28). —Pdt. Meyske S. Tungka
Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa. —Roma 12:12

Kamis, 13 Januari 2011

Domba Yang Baik

Baca: Yohanes 10:1-4
Untuk dia penjaga membuka pintu dan dom-ba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar.
Yohanes 10:3
Untuk menunjukkan betapa besar kasih dan kepedulian-Nya kepada para pengikut-Nya, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang menge-nal nama domba-domba-Nya satu per satu (ayat 3), dan yang bahkan rela memberikan nya­wa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat 11). Dengan pernyataan-Nya yang sedemikian itu, apakah kita masih akan meragukan kes­ejahteraan dan keselamatan hidup kita?
Di sisi lain, kesejahteraan dan keselamat-
an dari si domba juga tergantung pada seberapa jauh ia mau mendengar­kan suara Sang Gembala dan bersedia mengikuti-Nya ketika dipanggil-Nya. Domba yang tidak mempedulikan panggilan Gembalanya dan berjalan semaunya sendiri tanpa menaati tuntunan-Nya, jangan berharap akan dapat selamat. Sebab, di perjalanan yang harus dilewatinya, di situ berkeliaran “serigala-serigala” buas yang siap menerkamnya! Dengan kata lain, domba yang dijamin keselamatannya itu ialah domba yang baik, yang mau mendengarkan dan mengikuti suara-Nya.
Sebagai domba-domba yang oleh perjalanan waktu merasa semakin lemah dan rapuh dalam menjalani kehidupan ini, kita bersyukur memiliki Tuhan Yesus, Juru Selamat, yang sebagai Gembala yang baik, berkenan memanggil dan menuntun kita di jalan kesejahteraan dan keselamatan. Kepada-Nya saja kita dapat mempercayakan segala sesuatunya, demi kes­ejahteraan dan keselamatan kita. Dari kita, yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk benar-benar mau mendengarkan suara-Nya, untuk selanjutnya mengikut Dia di jalan-Nya. —Pdt. Em. Sutarno

Penyerahan diri yang membawa keselamatan ialah
penyerahan diri yang disertai perbuatan ketaatan kepada-Nya.

Rabu, 12 Januari 2011

Ramal Meramal

Baca: Mazmur 23
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Mazmur 23:1
Masihkah kita ingat, kiamat adalah topik yang ramai dibicarakan orang, ketika ditemukan ramalan suku Maya bahwa tahun 2012 akan terjadi kiamat. Tidak mau kalah soal ramal meramal, ada yang mengatakan bahwa Joyoboyo pun telah meramal bahwa tahun 2013 kiamat. Ramal meramal rupa-rupanya telah ada sejak zaman dahulu, dan sampai sekarang pun tetap masih ada dan sangat digemari. Bahkan karena rasa ingin tahu masa depan, orang tidak segan-segan  datang dan berziarah ke makam-makam orang yang dianggap punya “kepandaian”, ke tempat-tempat yang dianggap keramat, semuanya untuk tujuan kebahagiaan dan keselamatan. Bahkan ketika ingin menang taruh-an dalam pertandingan sepakbola Piala Dunia, banyak orang kehilangan akal sehat sehingga minta si Paul “Gurita” dan si nuri untuk meramal.
Ketidakpastian dan keinginan untuk mengetahui yang tidak pasti, adalah sumber dari timbulnya keinginan orang untuk ramal meramal. Ketidakpastian itu terjadi, karena orang tidak percaya bahwa “Tuhan” menyertai setiap langkah hidupnya. Ketidakpercayaan itu timbul karena dia tidak pernah bersyukur atas segala yang terjadi dalam kehidupan, dan merenungkan bahwa semua yang terjadi karena rencana Tuhan yang selalu baik.
Tahun 2010 telah lewat dan saat ini kita masuki tahun 2011. Ini be­rarti tahun 2012 atau 2013 semakin dekat. Masihkah kita takut akan ramalan yang ada, atau kita lebih memilih percaya bahwa Tuhan akan selalu beserta kita di setiap langkah kehidupan ini? —Pramudya

Kalau saat ini kita mengalami kegagalan, sedang sakit, atau mendapatkan kesuksesan atau berkat berlimpah, percayalah Tuhan sedang merencana­kan sesuatu yang indah. Kalau saat ini kita masih dapat menghirup
udara segar, percayalah itu semua bentuk penyertaan Tuhan.

Selasa, 11 Januari 2011

Tiga Dimensi

Baca: Ratapan 3:21-26
Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Ratapan 3:25
Kalau kita melihat film tiga dimensi seolah-olah kita dibawa masuk ke dalam film itu. Seorang ibu penderita phobia takut keting­gian, menjerit ketika menyaksikan film di teater Keong Mas, Jakarta. Pemandangan alam Indonesia yang indah itu justru mena­kutkan karena penonton dibawa terbang untuk melihat dari dekat: kawah gunung, jurang yang dalam, tebing yang curam. Ibu itu kemudian menutup mata selama pertun­jukkan tersebut. Sayang sekali!
Adakah kita juga mengalami phobia takut menghadapi masa depan? Ikuti bimbingan Tuhan untuk menghadapi tahun 2011 ini:
Kasih setia Tuhan pasti lebih besar dari segalanya (ayat 23). Sebesar apa pun masalah kita dan segelap apa pun masa depan kita, kasih setia Tuhan masih lebih besar dari semuanya. Kasih setia-Nya seperti lautan yang tidak pernah kering. Jangan melihat dari satu sisi, lihatlah dengan tiga dimensi pasti lebih indah.
Masa depan adalah lembaran baru yang dibuka Tuhan (ayat 23). Manusia tanpa masa depan akan mengalami kemandegan dan akhirnya frustrasi. Masa depan tidak perlu ditakuti, karena Tuhan membuat apa yang di depan kita selalu baru. Temukanlah yang baru dari Tuhan, jangan takut.
Kebaikan Tuhan hanya bisa dilihat oleh orang percaya yang opti-mis (ayat 25). Berharap kepada Tuhan akan menimbulkan semangat hidup, karena Tuhan Yesus tidak berubah dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya (Ibrani 13:8). Di balik masalah dan masa depan yang belum kita jalani, di sana ada Tuhan yang selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Nantikan terus kebaikan-Nya. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Dalam tiga dimensi di sana ada Tuhan Yesus,
kita dan masa depan kita.

Senin, 10 Januari 2011

Menghitung Hari

Baca: Mazmur 90:1-17
Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12
Mazmur yang isinya merupakan doa dari Musa ini mengajarkan sesuatu yang indah kepada kita, yang saat ini baru saja memasuki tahun yang baru. Di belakang kita membentang jalan yang sudah kita lalui. Berbagai kenangan bertaburan di sana. Sementara di hadapan kita membentang pula jalan yang seberapa panjang bakal kita lalui kita tak tahu. Tetapi yang pasti, berbagai tantangan menghadang di sana. Lalu apa yang mesti kita lakukan
dalam kondisi dan posisi seperti ini?
Mazmur ini diawali dengan pengakuan, betapa Tuhan itu kekal. Maka Dialah tempat perteduhan sejati (ayat 1-2). Kemudian disusul dengan pengakuan, betapa manusia itu fana, rapuh dan rentan kondisinya, betapa singkat dan sementara hidupnya (ayat 3-6).
Dengan menyadari ini, sepatutnya manusia mengakui ketidakberdaya-annya di hadapan Sang Maha Kekal (ayat 7-12). Tengoklah pengalaman hidup di hari-hari yang sudah lewat. Muaranya ada di satu kesimpulan, betapa sungguh kita penuh kelemahan dan ketidakberdayaan.
Kalau sekarang kita mengayunkan langkah menapaki hari-hari ke­hidupan yang membentang di hadapan, dengan berbagai ketidakpasti­annya, baiklah kita menjalaninya dengan bersandar pada kasih setia dan kemurahan Tuhan semata (ayat 13-17).
Wujudnya adalah menjalani hidup dengan menghitung hari. Bukan mencari hari, mana hari baik untuk melakukan ini dan itu. Karena dengan berbuat seperti ini justru menunjukkan keraguan kita akan kehadiran dan penyertaan Tuhan pada semua hari. Menghitung hari artinya meng­gunakan semua hari dengan sebaik-baiknya, karena semua hari itu berharga. Ini menjadikan kita orang bijaksana. —Handoyo.
Mencari hari berarti meragukan penyertaan Tuhan, tetapi menghitung
hari berarti mempercayakan diri pada penyertaan Tuhan.

Minggu, 09 Januari 2011

Menemukan Jalan

Baca: 2 Korintus 4:1-15
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.
2 Korintus 4:8
Kegagalan sering menjadi alasan bagi seseorang untuk meyakinkan diri bahwa ia memang tidak punya kemampuan di suatu bidang. Kegagalan juga—oleh banyak orang —dianggap sebagai “noda” dan “cacat” da­lam perjalanan hidupnya. Pandangan dan pikiran seperti ini jelas mematikan harapan untuk bangkit.
Bagi orang tertentu, kegagalan adalah pencerahan untuk memandang dan men­emukan jalan yang lebih baik menuju keberhasilan. Sebut saja Albert Einstein, fisikawan legendaris. Tahun 1905 Universitas Bern telah menolak disertasi doktoralnya karena menganggap hasil karya Einstein menyimpang dan isinya hanyalah khayalan. Winston Churchil, pemimpin dan pahlawan Perang Dunia II Inggris, ternyata pernah tidak lulus ujian masuk Universitas Oxford. Bayangkanlah, jika mereka menghentikan langkah ketika menemukan kegagalan dalam perjuangan hidupnya. Mereka tidak pernah akan menjadi “seseorang” yang dikenal dan dikenang karya dan jasanya bagi dunia.
Paulus menyadari, bahwa penindasan, tekanan dan kegagalan dapat saja membuat mereka tidak lagi melihat jalan keluar dan mulai putus asa. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa dari kegelapan selalu akan muncul terang (ayat 6). Inilah cara pandang orang percaya menyikapi kegelapan. Bertahanlah dan percaya, Allah akan menunjukkan cahaya terang, suatu jalan yang lebih baik menuju masa depan. Kalau kita gagal hari ini, kita masih punya hari-hari lain untuk memperbaiki dan memper­juangkan hal yang lebih bermakna. —Pdt. Meyske S. Tungka

Kegagalan hanya penghalang sesaat yang memperlambat
jalan kita menuju keberhasilan yang sesungguhnya.

Sabtu, 08 Januari 2011

Observasi, Refleksi dan Aksi


Baca: Keluaran 33:15
Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”
Keluaran 33:15
Observasi adalah pengamatan atas keselu­ruhan hidup, seluruh peristiwa yang kita jalani baik suka ataupun duka, khususnya, perjalanan hidup setahun yang sudah kita lewati. Apakah banyak hal yang menyenang­kan terjadi dalam hidup kita? Apakah ada hal-hal yang menyedihkan, mendebarkan, menguras air mata terjadi dalam hidup kita? Dengan terengah-engah kita mengatasi masalah, tetapi akhirnya selamat juga. Se-karang Kalau kita kalkulasi manakah yang terbanyak mampir dalam hidup kita selama tahun 2010? Mengapa Tuhan mengizinkan semua itu terjadi? Tentu ada maksud Tuhan di dalamnya, yakni untuk membentuk kita semakin setia, dewasa, bertanggung jawab dan semakin bergantung pada Dia saja.
Refleksi adalah tahap menghubungkan pengalaman hidup dengan firman Tuhan. Pengalaman orang percaya yang melihat segala sesuatu terjadi dalam rencana Tuhan. Bimbinglah aku! merupakan ungkapan bahwa kita hanyalah manusia lemah yang selalu membutuhkan bimb­ingan-Nya, dengan terbuka dan kerendahan hati menyambut tangan Tuhan yang perkasa yang akan menuntun hidupnya. Bukan karena aku mampu dan kuat melangkah, tetapi dengan sikap yang terus berserah dan menyediakan hati pada pimpinan-Nya. Pengalaman, kepandaian bukan apa apa, kalau tidak ada penyertaan Tuhan
Aksi adalah rencana tindak lanjut dari orang percaya, tentu saja dengan komitmen baru. Seperti permintaan Musa kepada Tuhan agar mem­bimbing dan menyertai umat-Nya melangkah, mari kita juga meminta “Tuhan berjalanlah di samping kami.” —Pdt. Agus Wiyanto

Takut melangkah sendiri, tetapi merasa aman bersama
Tuhan itu adalah sikap orang beriman.

Jumat, 07 Januari 2011

Mengingat Kebaikan Tuhan

Baca: Nehemia 9:1-15
Dengan tiang awan Engkau memimpin mereka pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan  yang mereka lalui.
Nehemia 9:12
Bagi umat Israel, kebaikan Allah tak perlu dipertanyakan lagi. Sejak awal, Allah pen­cipta dan pemilik alam semesta ini telah memilih dan mengikatkan perjanjian kekal dengan nenek moyang Israel. Kesetiaan-Nya sepanjang sejarah bangsa Israel sungguh luar biasa.
Saat bangsa Israel diperbudak di Mesir, Allah menunjuk Musa untuk memimpin mereka keluar dari perbudakan dan mem­bawa mereka ke Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang mereka untuk mereka miliki. Perjalanan padang gurun bukan perjalanan yang mudah, setiap saat mereka diperhadapkan dengan musuh yang mau menghancurkan me-reka. Namun kesetiaan-Nya tidak pernah berkurang dan kekuatan-Nya tidak pernah memudar sehingga semua musuh dikalahkan. Dengan tiang awan Dia memimpin mereka pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui (ayat 12). Allah bukan hanya memimpin dengan keperkasaan-Nya, Dia pun menurunkan Taurat sebagai tuntunan cara hidup umat yang berkenan kepada-Nya, ketika kelak mereka sudah menikmati Tanah Perjanjian.
Sejauh ini, kita juga telah mengalami kasih setia Allah. Mengingat kembali kebaikan Tuhan menjadi pembangkit keinsyafan akan kegagalan dan ketidaksetiaan kita, pada saat yang sama mensyukuri kebaikan Allah. Tidak pernah ada masa dalam hidup kita ketika Tuhan lupa atau ingkar janji, maka seharusnya juga tidak ada alasan bagi kita bertahan dalam kegagalan dan ketidaksetiaan. Kita harus tetap setia berjalan di belakang-Nya, mengikut Dia. —Prihanto Ngesti Basuki.

Betapa baik-Nya Engkau, Tuhan. Kasih-Mu tiada berkesudahan.
—Syair lagu Betapa Baik-Nya Engkau, Tuhan

Rabu, 05 Januari 2011

Yang Lebih Besar Akan Datang

Yang Lebih Besar akan Datang
Baca: Yesaya 30:15-18
Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih Nya kepadamu...
Yesaya 30:18
Seorang penjudi menang taruhan malam itu. Teman-temannya berkata: “Hari ini hari keberuntungan bagimu.” Ia didesak untuk bertaruh lagi malam itu dan ia pun setuju. Keesokan harinya penjudi ini pulang tanpa membawa uang sepeser pun karena malam itu juga ia kalah besar.
Umat Israel enggan bertobat karena me-reka mengandalkan kekuatan manusia dan kuda (ayat 16-17), seperti penjudi yang meng-andalkan keberuntungan dan enggan berhenti bertaruh. Kepada umat Israel Tuhan tetap nenunjukkan kasih-Nya bahwa yang lebih besar masih akan datang.
Memasuki tahun 2011 nantikanlah yang lebih besar dari Tuhan:
Kekuatan kita ada di dalam ketenangan dan percaya (ayat 15). Jangan takut menghadapi perubahan dan tantangan, tetaplah tenang dan percaya kepada Tuhan, maka ketakutan kita akan diganti dengan kekuatan untuk berani menanggung segala peristiwa dan masalah yang bakal terjadi.
Jangan mengecilkan peran Tuhan (ayat 15) karena hal itu bisa menutup pintu campur tangan-Nya. Yesus berkata: “...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Tuhan Allah lebih besar dari masalah kita. Kita harus mengubah diri dari merasa bisa menjadi bersama Tuhan kita bisa.
Cukup dengan kasih sayang-Nya (ayat 18). Tuhan tidak minta kita melakukan ritual yang memberatkan. Sambutlah kasih dan kepedulian-Nya, agar Ia bebas untuk menolong kita tanpa halangan. Karena yang lebih besar disediakan Tuhan dan kita diminta untuk percaya bahwa tahun ini akan lebih baik daripada yang lalu. —Pdt. AndreAs GunAwAn Pr.

Yang lebih besar akan datang bila kita mau
merasa kecil di hadapan-Nya.

Memperbaharui Manusia Lama

Baca: 2 Korintus 5:17-19
Kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.- Kolose 3:9-10
Tahun yang baru tidak berarti bahwa segala sesuatu juga harus baru. Memang, mungkin saja ada yang ingin menjadikan tahun baru sebagai momentum untuk membeli pakaian baru atau melakukan sesuatu yang baru. Namun pada umumnya hal-hal semacam itu tidak dianggap menjadi suatu keharusan yang dikaitkan dengan peristiwa kedatang-an tahun yang baru. Bahkan biasanya, dalam memasuki tahun yang baru, banyak hal lama yang tetap masih kita pakai dan gunakan atau lakukan. Tahun baru tidak selalu berarti dan mengakibatkan per-ubahan ataupun pembaruan-pembaruan. Dengan kata lain, tahun baru dapat saja tidak menimbulkan pengaruh apa pun dalam kehidupan.
Lain halnya dengan “kemanusiaan yang baru” sebagai akibat karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Sebagaimana dinyatakan Paulus, kemanusiaan yang baru, di dalam dan oleh Kristus, berarti kemanusia-an yang telah meninggalkan yang lama, yang dikuasai oleh dosa, dan digantikan dengan yang baru, yang ditebus dan disucikan oleh Kristus, sehingga penuh kasih dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, kemanusiaan yang baru itu juga berarti selalu diperbarui secara terus-menerus, sama dengan kehendak Kristus juga secara terus-menerus harus diusahakan perwujudannya dalam kehidupan mereka yang mengaku percaya kepada-Nya. Tahun yang baru dapat saja tidak berpengaruh pembaruan apa pun. Tetapi kemanusiaan yang baru, harus melahirkan dan meng-akibatkan pembaruan-pembaruan hidup, sebagai wujud kasih dan ketaatan kepada Kristus, yang telah menjadikan manusia baru itu. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, bimbinglah kami untuk mau menanggalkan sifat-
sifat kemanusiaan lama kami yang bertentangan dengan kehendak-
Mu, dan mengenakan sifat-sifat baru yang semakin sesuai
dengan hukum-hukum-Mu. Amin.

Selasa, 04 Januari 2011

Musa

Baca: Keluaran 3:1-14
Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.
Keluaran 3:10
Seperti biasanya, Musa bersiap untuk me-nggembalakan domba milik mertuanya, Yitro, seorang imam di Midian. Namun kali ini ia menggiring ternak milik mertuanya itu agak jauh dari biasanya, yakni sampai ke luar, ke seberang padang gurun, sampai ke Gunung Horeb, Gunung Allah (ayat 1).
Saat Musa sedang menggembalakan ternak mertuanya itulah, ia melihat peman­dangan yang mengherankan: semak duri menyala, tetapi tidak dimakan api. Karena itulah ia bermaksud memeriksa penglihatan yang hebat itu (ayat 2-3). Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” Dan ia menjawab: “Ya, Allah” (ayat 4).
Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita tahu panggilan Allah atas Musa un­tuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa menyadari beratnya tugas yang diterimanya, ditambah kemungkinan dia bukan orang yang percaya diri, maka bisa dimengerti dialog antara Allah dan Musa berjalan dengan alot. Berbagai dalih dikemukakan oleh Musa untuk menolak tu­gas itu, sampai akhirnya ia tak sanggup berkata-kata lagi, dan menerima pengutusan Allah itu. Selanjutnya, dalam perjalanan imannya, ia belajar menaati kehendak Allah dan mengandalkan kekuatan-Nya. Ia memegang janji Allah yang akan selalu menyertai umat pilihan-Nya itu.
Bagaimana dengan kita? Tugas apa yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah selama ini kita telah menolak panggilan-Nya? Maukah kita belajar dari Musa, menerima panggilan-Nya, menaati dan mengan­dalkan Dia? Liana Poedjihastuti.

Musa, teladan ketaatan seorang hamba Tuhan.


Senin, 03 Januari 2011

Sebelum Perjalanan

Baca : Mazmur 37:1-6
Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. - Mazmur 37:5

Setiap kali hendak menempuh perjalanan ke luar kota, saya dan istri selalu berdoa ter­lebih dahulu. Kami berdoa di rumah sesaat sebelum berangkat, atau terkadang berdoa di dalam mobil sebelum kendaraan melaju. Mungkin tidak ada yang istimewa dengan kebiasaan ini, Anda dan keluarga juga biasa melakukannya. Kita ingin berserah kepada Tuhan Yesus agar Ia menudungi kita dengan keselamatan-Nya, merahmati kita dengan sukacita, hikmat, kesehatan dan kekuatan
selama perjalanan.
Saat mengawali perjalanan hidup sepanjang tahun baru ini, alangkah indahnya jika kita memulainya dengan berserah kepada Tuhan. Di dalam Mazmur 37, Daud mengajarkan agar kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, melakukan yang baik, dan bergembira karena-Nya, sebab Ia senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada kita (ayat 3-4). Serah­kanlah hidup kita kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, Ia akan bertindak (ayat 5).
Tuhan ingin kita berpaut pada-Nya dengan sepenuh hati, hidup menurut segala ketetapan-Nya, dan tetap mengikuti segala perintah-Nya (lihat 1 Raja-raja 8:61). Jika kita berserah kepada Tuhan, itu berarti kita memberikan diri untuk disucikan, menyerahkan diri untuk diku­duskan, dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (lihat 1 Korintus 6:11). Mari serahkanlah hidup kita sepanjang tahun ini, hari demi hari, dengan sepenuh hati percaya kepada-Nya, maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang, dan hak-hak kita seperti siang (ayat 6).—Agus Santosa.
Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu.— Amsal 16:3

Minggu, 02 Januari 2011

Refleksi Tema: Tuhan, Bimbinglah Aku!

Selamat Tahun Baru! Hari baru di tahun 2011. Apakah hari ini berbeda dengan hari-hari kemarin? Mungkin ada yang merasa semuanya baru: pakaian baru, semangat dan komitmen baru. Tetapi, banyak pula yang merasa biasa-biasa saja dalam menyambut tahun baru. Semuanya masih seperti yang lalu.
Bisa dimengerti jika orang penuh harap-an memasuki tahun baru, berharap tahun ini lebih baik dari tahun yang telah berlalu. Na-
mun tak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang pesimis, tidak lagi me-miliki harapan karena terpuruk dalam berbagai persoalan. Komitmen baru, harapan baru, atau masalah baru sekalipun, sepatutnyalah kita bersyukur karena masih diberi kesempatan memasuki tahun 2011.
Kita memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi di tahun ini. Karena ketidakpastian ini banyak orang merasa gamang memasuki tahun yang baru. Untuk kita yang termasuk kategori ini, mari menyimak pesan Natal tahun 1939 yang disampaikan oleh raja Inggris, Raja George VI: “Kukatakan kepada pria yang berdiri di ambang tahun: ‘Berilah aku cahaya sehingga aku bisa berjalan dengan aman menuju ke tempat yang tidak kuketahui.’ Dan ia menjawab, ‘Pergilah ke kegelapan dan letakkan¬lah tanganmu pada tangan Tuhan. Maka hal itu akan lebih baik daripada cahaya dan lebih aman daripada suatu jalan yang sudah kaukenal.’”
Jika Tuhan yang membimbing kita, kita pasti dapat menjalani ta¬hun ini, harapan dan tantangannya. Oleh karena itu, marilah dengan rendah hati kita memohon, “Ya Tuhan, bimbinglah aku menjalani tahun 2011.” —Liana Poedjihastuti

Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan
memberikan ketenteraman kepadamu. —Keluaran 33:14