Baca:
Lukas 6:1-5
Kata Yesus lagi kepada mereka: ”Anak Manusia adalah Tuhan
atas hari Sabat.”
Lukas 6:5
Suatu saat yang tidak saya duga,
ketika anak-anak kami masih kecil, di meja makan si bungsu bertanya dengan
spontan: “Pa, mana yang harus didahulukan makan atau berdoa?” Tanpa pikir
panjang saya jawab: “berdoa dulu sebelum makan.” Dan si bungsu pun menerima
saja tanpa melakukan protes.
Usai makan, saya baru memikirkan kembali
pertanyaan si bungsu di atas, itu kalau ada makanan. Bagaimana kalau tidak ada
makanan. Bukankah orang baru dapat berdoa dengan baik bila sudah mendapat
makanan, bila sudah kenyang? Konflik semacam ini juga terjadi antara Tuhan
Yesus dengan orang-orang Farisi.
Dalam bacaan Alkitab hari ini,
ternyata Yesus mendahulukan kebutuhan makan daripada aturan hari sabat. Bagi
Tuhan Yesus ada hukum yang jauh lebih utama, yaitu: “Dan sebagaimana kamu
kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada
mereka” (Lukas 6:31). Hukum itu tidak lain adalah Hukum Kasih.
Yesus mengerti betul kebutuhan
murid-murid-Nya. Karena itu, Ia mengizinkan mereka untuk memetik bulir gandum.
Sementara itu orang-orang Farisi melihat Hukum Sabat sebagai yang utama. Tidak
salah memang, karena dalam hukum sabat ada semangat kasih. Masalahnya
orang-orang Farisi melihat hukum sebagai hukum, bukan semangatnya. Sehingga
dalam praktik kehidupan sehari-hari, hukum menjadi momok dan membebani.
Menjadi murid Yesus berarti
belajar menaati hukum sejauh hukum itu mengutamakan kehidupan manusia yang
lebih baik. Mari-lah
kita terus belajar dari Tuhan Yesus yang menjalankan aturan demi kehidupan yang lebih baik. —Pdt. Ifer Fr. Sirima
Doa:
Tuhan Yesus, terima kasih atas teladan yang Engkau
beri, mampukanlah kami untuk taat pada hukum yang membawa kebaikan dalam hidup
bersama. Amin.
===============================================================
Diambil
dari Renungan Harian MUSA,
Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714;
Telp/Fax: 0298-325176, E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id
Bilamana
ingin berlangganan Rp 4.000,00 per edisi

Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________