Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 17 April 2011

Salib = Krendahan Hati

Baca: Filipi 2:5-8
Dan dalam keadaan  sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib.
Filipi 2:8


Jemaat merupakan persekutuan orang-orang yang percaya kepada Tuhan Yesus sebagai Juru Selamat. Dalam hal ini “persekutuan” itu mempunyai dasar dan sumbernya pada Kristus, yang melalui pengorbanan-Nya sampai mati di kayu salib, telah memulihkan kembali hubungan baik antara manusia de-ngan Allah dan manusia dengan sesamanya. Dengan demikian, unsur pengorbanan seharusnya menjadi salah satu aspek utama dan terpenting di dalam persekutuan atau kehidupan bersama berjemaat. Sedangkan untuk dapat melakukan pengorbanan, Paulus mengingatkan pentingnya kerendahan hati. Untuk itu, ia menyerukan kepada jemaat di Filipi agar dalam kehidupan bersama atau persekutuan itu, mereka mengacu kepada Kristus yang telah rela meninggalkan kemuliaan-Nya dan merendahkan diri-Nya menjadi hamba yang taat sampai mati di kayu salib, demi ke-selamatan umat manusia. Kalau Tuhan Yesus sendiri rela mengorbankan dan merendahkan diri-Nya sampai sedemikian, maka kita pun juga harus rela berbuat demikian.
Oleh sebab itu, salib hendaknya menjadi tanda peringatan menge­nai betapa besarnya pengorbanan yang Ia telah karuniakan kepada kita. Selain itu salib hendaknya juga kita terima sebagai ajakan dan panggilan untuk bersedia mengikuti apa yang Ia telah lakukan itu, demi kesejahteraan dan keselamatan sesama kita. Jalan salib yang kita usahakan jalani itu juga menjadi bukti dan wujud dari ucapan syukur kita atas pengorbanan-Nya bagi kita. —Pdt. Em. Sutarno
Doa: Tuhan, ampunilah kami, kalau kami masih
sering kurang mewujudkan makna salib dalam kehidupan
berjemaat, karena ketidakmauan kami merendahkan
diri demi kesejahteraan sesama. Amin.


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi




 Salib, Kutuk atau Rahmat?

Pdt. Meyske S. Tungka
Kematian adalah peristiwa alamiah bagi setiap makhluk hidup ter­masuk manusia. Namun kematian melalui cara atau jalan penyaliban, bukanlah kematian biasa. Selain rasa sakit yang amat sangat dirasakan, kematian dengan cara disalib merupakan hukuman bagi orang-orang yang divonis telah melakukan kejahatan besar sehingga dianggap men­galami kutukan dari Tuhan (Ulangan 21:23).
Penyaliban Yesus sungguh menarik hati banyak orang, sebab Yesus bukanlah pelaku kejahatan yang merugikan seseorang atau orang ba-nyak seperti yang biasanya dilakukan para penjahat kelas kakap. Menu­rut Leonardo Boff, Yesus telah menjadi skandal bagi banyak lapisan masyarakat pada waktu itu. Mereka adalah para ahli Taurat yang sangat menjaga ketat tafsir kitab-kitab suci, kaum Saduki yaitu para imam dan keluarga ningrat yang kolot dan oportunis, para tokoh masyarakat, pengusaha kaya, pejabat ibukota Yerusalem, partai politik Herodian (yang dekat dengan Herodes) yang menginginkan kemerdekaan dari penguasa yaitu bangsa Romawi (Leonardo Boff, Jesus Christ Liberator, 1972). Gutierrez (1973) juga menyimpulkan bahwa kematian Yesus pada salib adalah sebuah skandal politik dan oleh Pilatus Ia dinobatkan sebagai “Raja Orang Yahudi”.
Ketakutan para penguasa politik maupun agama terhadap keha-diran Yesus sangatlah berlebihan. Dalam pikiran mereka Yesus tengah mengumpulkan kekuatan massa untuk menggulingkan penguasa. Na­mun kebangkitan Yesus telah mengubah kenyataan yang konyol itu. Kebangkitan Yesus mematahkan kekuatan manusia yang sarat dengan rekayasa dan intrik politik mapun agama. Gutierrez kemudian memberi makna teologis dari kematian Yesus, yaitu: Ia mati sebagai korban situasi keberdosaan manusia.
Yesus mati karena berjuang untuk pembebasan dan memerangi akar dari tatanan yang tidak adil. Yesus sadar sepenuhnya ada harga yang harus dibayar bagi pembebasan manusia dari ikatan kuasa kejahatan dan dosa yaitu “ketaatan pada kebenaran” dan risikonya adalah mati di kayu salib.
Yesus mau mengajarkan kepada dunia, bahwa ketaatan pada kebe­naran selalu mengandung risiko, dan bahwa hanya orang-orang yang berani menangung risiko itulah, yang akan membawa dunia dan manusia pada pemulihan dan penyelamatan. “Tiada kebangkitan tanpa Salib.” Tiada kemenangan tanpa kerelaan menderita. Penderitaan adalah cara berada Tuhan dalam solidaritas dengan manusia. Dengan demikian Tuhan adalah cinta. Tanpa penderitaan, Tuhan tidak sempurna dalam mencintai manusia dan dunia.
Ini sebuah pilihan. Sebuah bentuk kebebasan Allah untuk menentu­kan jalan dan cara-Nya mengasihi manusia. Dan lihatlah... segala kuasa tunduk dan takluk pada cara mengasihi yang sedemikian (Filipi 2:6-11). Cinta Tuhan adalah mengorbankan diri-Nya sendiri, supaya manusia tiba pada cinta sejati. Salib bukan lagi sebuah kutuk. Salib bukan lagi simbol ketidakberdayaan manusia Yesus yang tanpa dosa itu. Salib telah mem­bungkamkan suara lantang para tentara Romawi. Salib telah memecah tabir Bait Allah yang menjadi simbol pemisah antara manusia dan Allah yang diciptakan agama. Salib telah membuat para penguasa dunia dan agama tertunduk dan harus mengakui “sungguh Ia adalah Anak Allah.” Penyaliban Yesus memperlihatkan bahwa kebenaran Ilahi sedang menyelimuti manusia dengan cinta yang membebaskan dari keterikatan dan kekuatan jahat dan dosa.
Salib sebagai lambang kutuk itu telah berubah makna—oleh pengor-banan Yesus—menjadi simbol rahmat dan anugerah: untuk setiap orang yang mau menderita dalam ketaatan kepada Tuhan, akan tersedia kehi-dupan yang membebaskan. Bebas dari rasa takut, rasa salah dan terutama bebas dari kendali dosa. Salib itu juga telah menjadi simbol cinta yang berbagi. Perjamuan Kudus sebagai lambang tercurahnya darah dan ter-pecahnya tubuh Yesus adalah bukti pemberian diri. Bukti cinta yang membebaskan. Adakah cinta yang lebih besar dari Yesus yang tersalib bagi kita?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Nama : ________________________________________________
E-mail: _______________________________________________
Komentar Anda : ________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________________