Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 12 September 2011

Antara Pelayanan Dan Berkat

Baca: 2 Korintus 12:7-10
Tetapi jawab Tuhan ke­padaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sem­purna.”
(2 Korintus 12:9).

Yakub bukan seorang tokoh panutan. Seti­daknya di masa mudanya ia pernah menipu ayahnya, ia merebut hak kesulungan abang­nya dengan licik. Ia juga memperkenalkan model menyuap ketika terancam oleh ke­marahan sang abang. Tapi toh ia mendapat karunia Allah menjadi bapak bangsa Israel. Sebaliknya, Rasul Paulus, imannya teguh, pelayanannya dengan segenap hati, ketika minta agar sakitnya disembuhkan, Tuhan tidak mengabulkan.
Sepertinya antara “melayani Tuhan” dengan “berkat Tuhan” masing-masing berjalan sendiri-sendiri, tidak ada hubungan sebab-akibat. Jadi, ketika kita setia melayani, itu tak ada hubungan langsung dengan “ber­kat” yang kita harapkan akan kita terima. Berkat itu semata-mata hak prerogatif Allah, tak ada hubungannya dengan apakah kita setia melayani. Bukankah matahari diterbitkan bagi orang yang baik maupun yang jahat?
Jika kita bersedia melayani, jangan karena kita mengharapkan apa-apa sebagai hasilnya. Pelayanan itu semata-mata kita lakukan karena Ia sudah memberi kita karunia hidup kekal, dan kita melayani dengan setia dan suka cita karena kita hendak bersyukur.
Di usia emas seperti kita ini, mungkin kita mengalami berbagai musibah seperti sakit, keterbatasan, ditinggalkan teman, saudara, bahkan anak, dan tak dihargai. Namun jangan kita lantas mengeluh “Aku setia melayani Tuhan sekian tahun lamanya, kok malah mendapat musibah seperti ini.” Ingatlah sabda Tuhan kepada Paulus “…cukuplah karuniaku kepadamu, sebab justru dalam kelemahanmulah kuasa-Ku dinyatakan.” —Yahya Wardoyo

Kita melayani Dia sebagai ungkapan rasa syukur atas kasih setia-Nya ke­pada kita.

Minggu, 11 September 2011

Diberi Kebebasan

Baca: Yohanes 8:2–11
…Akulah terang dunia; barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup (Yohanes 8:12).

Mudah saja bagi Adam, manusia pertama itu, melanggar perintah Tuhan tentang pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat karena ia mendapati adanya kebebasan untuk memilih. Mudah saja melanggarnya dengan berpikir, “toh, pohon itu dibiarkan saja ada di situ.”
Kita memang mendapat kebebasan untuk memilih. Hingga saat ini, berapa puluh atau bahkan ratus kalikah kita diberi kesempatan memilih? Terkadang kita bisa menentukan pilihan dengan mudah, tetapi sering juga kita dihadapkan pada pilihan yang sulit karena ada berbagai kepentingan yang kita pertimbangkan.
Tuhan Yesus mengatakan kepada para ahli Taurat dan orang-orang Farisi, “Barangsiapa di antara kamu tidak berdosa, hendaklah ia yang pertama melemparkan batu kepada perempuan itu.” (Yohanes 8: 7). Dan kepada perempuan yang berzinah itu Ia berkata, “Pergilah, dan jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang.” (ayat 11). Tuhan Yesus bersabda sekaligus membuka kesempatan yang sama kepada para ahli Taurat, orang Farisi dan perempuan yang berzinah itu untuk menentukan sendiri tindakan yang akan diambilnya.
Tuhan memberikan kepada kita kebebasan sekaligus akal budi, dan ingin kita menentukan pilihan sesuai dengan maksud-Nya ketika manusia pertama diciptakan, yaitu ‘makhluk yang diciptakan menurut gambar Allah’ (Kejadian 1:26-27). Sebelum menentukan pilihan, marilah kita merenungkan apakah pilihan yang akan kita ambil adalah tepat: bertanggungjawab dan mencerminkan maksud Tuhan memberikan akal budi kepada kita? —Ocky Sundari

Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan,
karena dari situlah terpancar kehidupan. –Amsal 4:23

Sabtu, 10 September 2011

Jangan Main-Main


Baca: Amsal 13:13-16
Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa yang taat kepada perintah, akan menerima balasan
(Amsal 13:13).

Seorang ayah mewariskan tanah perkebunan kepada kedua anaknya laki-laki dengan pesan agar tanah itu jangan dijual kepada sia­papun karena di dalam tanah itu tersimpan harta karun yang luar biasa besarnya. Setelah si ayah meninggal, kedua anak itu terus menggarap tanah tersebut namun tidak juga menemukan harta karun. Kemudian, salah seorang anaknya menyadari bahwa yang dimaksud harta karun oleh ayahnya adalah panen luar biasa yang setiap kali terjadi dan hasil kebun itu selalu dibeli orang dengan harga mahal. Dimanakah letak rahasia keberhasilan kedua anak itu?
Percaya bahwa yang dikatakan ayahnya adalah sebuah kebenaran. Mereka tidak main-main, melainkan percaya pada apa yang dikatakan oleh ayahnya. Mereka juga tidak serakah lalu menebang semua pohon hanya untuk mencari harta karun. Kepercayaan adalah modal untuk memiliki apa yang dijanjikan. Sejauh mana kita percaya bahwa firman Tuhan adalah sebuah kebenaran?
Taat kepada apa yang dijanjikan tanpa mencoba yang lain. Kedua anak itu tidak coba-coba untuk merombak kebun peninggalan ayahnya. Ditaati apa yang dipesankan ayahnya bahwa ada harta karun di tanah warisan itu. Jangan memodifikasi firman Tuhan, sebab apa yang disabda­kan Allah sempurna. Kita diminta untuk menaatinya. Hanya itu!
Sikap kita terhadap firman Tuhan. Anak yang meremehkan nasihat yang baik dari orangtuanya akan menyesal di kemudian hari ketika yang diucapkan orangtuanya berakibat negatip. Pilihlah untuk taat kepada Firman-Nya. Kebahagiaan menanti Anda. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

TAAT
T=Tuhan berfirman, A=aku percaya dan melakukan,
A=aku melakukan yang aku bisa, T=Tuhan melakukan yang aku tidak bisa.

Jumat, 09 September 2011

Lapar Akan Kebenaran


Baca: Matius 5:6
Berbahagialah orang yang lapardanhausakankebena­ran, karena mereka akan dipuaskan (Matius 5:6).

Apakah mungkin orang bisa mengasihi dan melayani Tuhan tanpa firman? Seorang Kristen pernah mengatakan begini: “Tanpa Alkitab kita bisa mengenal Tuhan, bisa mengasihi bahkan melayani.” Mungkinkah itu? Yang jelas ada perbedaan antara orang yang mencari dan memahami firman dengan yang tidak, saat mengerjakan pekerjaan-pekerjaan Tuhan. Orang yang memahami Firman Tuhan akan tahu apa yang harus ia lakukan. Ia tahu melakukan sesuatu yang menyenangkan dan memuliakan nama Tuhan. Sementara orang yang tidak memahami firman-Nya, mungkin kelihatan sibuk, tetapi sesung­guhnya tidak mengerjakan apapun dalam pandangan Tuhan, karena ia tidak tahu apa yang harus diperbuat bagi Tuhan.
Orang yang mengasihi Tuhan adalah orang yang mestinya lapar dan haus akan kebenaran. Tanpa itu, ia tidak akan mendapatkan apapun dan juga tidak akan melakukan apapun. Lapar dan haus men­dorongnya mencari dan menggali sumber kebenaran yang memuaskan dahaga jiwanya. Inilah makna kata bahagia yang diucapkanYesus bagi mereka yang lapar dan haus akan kebenaran-Nya. Karena jiwa mereka terpuaskan dan tidak akan mencari apa-apa lagi, kecuali saat mencari dan menemukan kebenaran itu.
Di dalam dunia yang terus membuat kita lapar dan haus akan banyak hal ini, apakah kita masih dan makin merasa lapar dan haus akan firman-Nya? Inilah kerinduan terdalam dari orang yang ingin mengasihi dan melayani Tuhan. Kebahagiaan mereka adalah pada saat jiwa mereka mencari dan terpuaskan oleh kebenaran-Nya. Bagaimana dengan kita? —SIMPEI HUGO.

Lapar akan dunia akan haus lagi. Lapar akan Tuhan akan dipuaskan.

Kamis, 08 September 2011

Kesatuan dan Solidaritas

Baca: 1 Korintus 12:12-14
Karena itu jika satu anggota menderita, semu anggota turut menderita; jika satu anggota dihormati, semua anggota turut bersukacita
(1 Korintus 12:26).

Untuk menggambarkan hakikat dari ge­reja dan hubungan antar warganya, Paulus mengumpamakannya dengan tubuh ma­nusia. Sebagaimana tubuh itu mempunyai banyak anggota yang berlain-lainan keadaan dan fungsinya, demikian pula gereja mem­punyai warga yang berbeda-beda dalam hal keberadaan dan karunia yang dimiliki. Na­mun, sebagaimana anggota-anggota tubuh itu bersama-sama menjadi tubuh yang satu, demikian pula warga gereja yang berbeda-beda itu bersama-sama membentuk gereja yang satu. Selain itu, dalam kesatuan itu, kalau tangan sakit, seluruh tubuh juga menderita sakit. Sebaliknya, kalau ada anggota tubuh yang merasa enak, seluruh tubuh juga ikut merasa enak. Dengan kata lain, di antara anggota itu terdapat solidaritas dan saling-kepedulian yang kuat.
Kiasan Paulus itu tidak hanya berlaku bagi warga gereja secara per­orangan, tapi juga berlaku bagi kehidupan dan hubungan para warga sebagai persekutuan, yaitu antara gereja dengan gereja, baik yang sealiran maupun yang tidak. Dengan demikian, dalam kehidupan gereja-gereja seharusnya terdapat kesatuan dan solidaritas yang nyata, seperti nampak dalam kebersamaan dan kerjasama. Mengamati keadaan sekarang ini, pertanyaan muncul, seberapa jauh kebersamaan di antara gereja-gereja itu telah menampakkan kesatuan, saling peduli dan solidaritas dalam arti yang sebenar-benarnya? Jangan-jangan masing-masing hanya sibuk dengan kepentingan dan keinginannya sendiri, sehingga perhatian dan komitmen yang diberikan hanya sebatas basa-basi belaka. —Pdt. Em. Sutarno.

Supaya mereka semua menjadi satu, sama seperti Engkau, ya Bapa, di dalam Aku dan Aku di dalam Engkau, agar mereka juga di dalam Kita, su­paya dunia percaya, bahwa yang telah mengutus Aku. –Yohanes 17:21

Rabu, 07 September 2011

Firman Kehidupan

Baca: Filipi 2:12-18
”....sehingga kamu bercaha­ya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia, sambil berpegang pada firman kehidupan, agar aku dapat bermegah pada hari Kristus,.... (Filipi 2:15-16).

Dalam menjalani kehidupan ini, setiap orang tanpa kecuali mempergunakan sistem nilai. Di dalam melakukan pertimbangan dan keputusan selalu kita melakukannya berdasarkan nilai-nilai yang telah kita hayati dan aminkan. Dan sebagai orang percaya tentunya, kita dipanggil untuk memegang nilai-nilai yang dinyatakan dalam firman Tuhan. Sebab di dalam firman Tuhan, kita mengimani nilai-nilai kebenaran ilahi. Yang mana nilai-nilai kebenaran ilahi mampu menyelamatkan dan memberi kepastian. Sebaliknya nilai-nilai “di luar firman Tuhan” bersifat relatif, berubah-ubah dan subyektif. Nilai-nilai “di luar firman Tuhan” tetap kita perlukan, tetapi harus selalu ditempatkan di bawah terang firman Tuhan.
Bilamana kita berpegang pada firman kehidupan, mungkin kita tidak berhasil menyelesaikan masalah secara cepat, tetapi dijamin tepat. Mungkin kita tidak selalu berhasil menyelesaikan masalah atau krisis secara tuntas, tetapi dapat dipertanggung-jawabkan secara moral. Yang pasti dalam menghadapi masalah atau krisis tersebut kita tidak kehilangan pegangan, sebab kita berpegang pada firman kehidupan yang bersumber kepada Kristus.
Jika demikian, mengapa kita masih sering mencari penopang-peno­pang yang lain di luar Kristus? Marilah kita mau hidup mengandalkan Firman kehidupan, yakni Kristus. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, mampukanlah kami untuk selalu berpegang pada firman kehidupanMu. Tanpa Engkau, maka kami tidak akan menemukan kebenaran yang menyelamatkan. Amin.

Selasa, 06 September 2011

Tidak Menyala


Baca: Matius 5:14-16
Demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga (Matius 5:16).

Barangkali Anda pernah mengalami kejadian ini. Ketika hendak menghidupkan lampu pijar, lampu itu tak mau menyala. Kita langsung menduga bola lampunya rusak dan segera menggantinya dengan bola lampu yang baru. Tapi, lampu masih tak bisa menyala. Barulah kita curiga, jangan-jangan ada pemadaman listrik sementara. Dan benar, bola lampu pijar yang lama masih berfungsi. Yang terjadi adalah putusnya aliran listrik karena terkena giliran pemadaman. Ah…
Hidup spiritualitas kita juga begitu. Kita sudah menerima Yesus sebagai Juru Selamat. Namun hidup kita tetap belum dapat bercahaya, menjadi terang dunia. Jangankan menerangi dunia, menerangi sekitar kita saja belum mampu. Hidup kita belum bisa menjadi terang karena kita belum melakukan kehendak Allah. Kita masih hidup dalam kegelapan, melakukan perbuatan daging seperti percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, amarah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora dan sebagainya (Galatiga 5:19-21).
Agar dapat bersinar, kita harus meninggalkan keinginan daging dan menggantinya dengan keinginan Roh, yaitu kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, dan penguasaan diri (Galatia 5:22-23). Kita baru bisa hidup dalam Roh, dan dengan demikian bersinar, jika kita berpaut kepadaNya. Dia-lah Sumber Kekuatan yang memampukan kita melakukan keinginan Roh yang menyenangkan hati-Nya. —Liana Poedjihastuti

Mari memeriksa hidup kita, jangan-jangan hidup kita tidak menjadi terang selama ini. Jika demikian, mari segera datang kepadaNya agar kita bisa memancarkan sinar-Nya demi untuk kemuliaan nama-Nya.