Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Selasa, 06 Desember 2011

Kado Untuk Yesus


Baca: Matius 25:34-40
Mereka pun membuka tempat harta bendanya dan mempersembahkan persembahan kepada-Nya, yaitu emas, kemenyan dan mur (Matius 2:11).
Beberapa hari sebelum hari Natal seorang anak perempuan kecil berdoa. Mendadak ia berhenti dan bertanya dengan nada cemas kepada ibunya: “Ibu, kita mau memberi apa kepada Tuhan Yesus pada hari Natal? Tuhan ingin apa pada hari Natal?” Barangkali kita tertawa geli membaca tulisan Halford E. Luccock ini, tapi pertanyaan anak kecil itu merupakan pertanyaan yang penting.
Menjelang bulan Desember, kebanyakan kita telah bersiap diri menyambut Natal. Panitia Natal telah dibentuk jauh hari sebelumnya. Acara Natal telah dipersiapkan. Dekorasi Natal juga mulai dipajang pada masa Adven, dan tentu saja pakaian, makanan dan minuman tak pernah ketinggalan. Kado untuk orang-orang tercinta sudah dipikirkan bahkan sudah dibeli. Hal ini boleh-boleh saja, namun jangan melupakan hal yang paling penting yang diekspresikan Luccock dalam tanya “Apakah Tuhan tercatum dalam daftar hadiah natal kita?”
Tepat sekali pertanyaan anak perempuan kecil itu. Bukankah ketika kita memperingati ulang tahun seseorang kita memikirkan hadiah yang akan kita berikan? Lalu, mengapa ketika Natal tiba, sering kita hanya memberikan hadiah di antara kita, dan melupakan Yesus yang kita peringati hari kelahiran-Nya?
Para Majus tidak hanya mempersembahkan mas, kemenyan, dan mur, tetapi juga waktu dan jerih payah untuk menemukan Yesus. Ketika kita menunjukkan kepedulian dan kasih kita kepada mereka yang lemah, yang papa, tertindas, sengsara, yang sakit dan ditolak (Matius 25:34-40) itu akan merupakan kado yang menyenangkan hati-Nya.
–Liana Poedjihastuti

Apakah yang akan aku berikan kepada Yesus pada hari Natal ini?

Senin, 05 Desember 2011

Pertumbuhan Rohani


Baca: Markus 4:26–29
Beginilah hal Kerajaan Allah itu: seumpama orang yang menaburkan benih ditanah, … Bumi dengan sendirinya mengeluarkan buah mula-mula tangkainya, lalu bu­lirnya, kemudian butir-butir yang penuh isinya dalam bulir itu (Markus 4:26-28).
Menanam, Merawat, Menuai (3M) merupakan proses yang harus dilaku­kan oleh tiap petani agar dapat memetik buah dari hasil tanamannya. Benih yang ditabur di tanah akan tumbuh sendiri, pe-tani tidak dapat berbuat apa-apa atas proses tumbuhnya benih itu. Yang dapat dilakukan petani adalah merawatnya dengan member­sihkan tanaman-tanaman lain yang meng­hambat pertumbuhan, memberi pupuk dan menyiraminya agar tanaman dapat tumbuh subur sehingga berbuah, siap untuk dituai.
Dari Injil Markus 4:26-28 kita dapat mengambil pelajaran yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari hari bahwa Allah telah me­milih kita sebagai tempat untuk “menabur” Roh Kudus dan merupakan anugerah bagi kita masing-masing. Oleh karena itu kita harus merawat/ menjaga agar Roh Kudus tetap tinggal dalam diri kita. Caranya antara lain dengan membersihkan atau membuang sikap dan perilaku yang menghambat pertumbuhan rohani kita, memberikan makanan ro­hani berupa firman Tuhan dan menyirami melalui doa setiap hari. Proses pertumbuhan rohani yang kita lalui mungkin kelihatan lambat tetapi pasti, tersembunyi tetapi nyata, lemah tetapi memiliki kuasa.
Bagaimana dengan kehidupan kita sehari-hari sebagai warga Kera­jaan Allah, apakah sudah melalui “proses” di atas dengan rajin, tekun, sabar sehingga dapat menghasilkan buah-buah Roh? Tetapi buah Roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran, kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri. Tidak ada hukum yang menentang hal-hal itu (Galatia 5:22-23). –Teguh Pribadi

Doa: Ya Tuhan Yesus, kiranya kami diberikan kekuatan untuk membuang hal-hal yang menghambat pertumbuhan rohani. Kami juga mohon kiranya Roh Kudus terus berkarya memimpin hidup kami. Amin.

Kamis, 01 Desember 2011

Mulailah dari Diri Sendiri


Baca: Roma 12:2
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pem­baharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berke­nan kepada Allah dan yang sempurna (Roma 12:2).
Dua orang anak laki-laki kecil bersauda­ra bertengkar sepanjang hari. Ayah mereka telah berkali-kali melerai dan mem­peringatkan keduanya. Namun mereka tetap saja bertikai. Akhirnya si ayah memarahi anak sulungnya, tetapi si sulung membela diri dengan berkata, “Adik begitu kasar dan kurang ajar terhadapku.” Malam itu mereka bertiga berlutut berdoa di sisi tempat tidur. Setelah selesai, ternyata si sulung masih terus berdoa dengan tenang. Ayahnya pena­saran. Setelah dilihatnya si sulung selesai berdoa, dia bertanya apa yang telah dia doakan dalam doa sendirian itu. Si sulung menjawab “Oh, aku hanya mohon kepada Tuhan agar adik menjadi anak yang lebih baik.”
Bukankah jawaban si sulung dalam ilustrasi Bruno Hagspiel di atas juga biasa kita temui di sekitar kita? Banyak kali orang juga bersikap dan bertindak seperti si sulung. Orang selalu menginginkan orang lain yang berubah, bukan dirinya. Ketika orang diminta berubah, dengan cepat ia mengerenyitkan kening, seraya berkata dengan nada tak senang, “Aku? Berubah? Dia yang seharusnya berubah, bukan aku.”
Kita juga sering mengharapkan orang lain yang berubah, bukan kita. Kita menolak untuk berubah. Kita tidak mau meminta maaf terlebih dahulu, apalagi jika jelas-jelas hal itu bukan salah kita. Kita juga tidak bersedia mengampuni.
Merubah orang lain sesungguhnya jauh lebih sulit ketimbang merubah diri sendiri. Paulus mengingatkan kita agar tidak seperti dunia melainkan bersedia berubah untuk melakukan kehendak Allah. –Liana Poedjihastuti

Dibutuhkan kebesaran hati untuk bersedia berubah demi kebaikan orang lain atau situasi.

Rabu, 30 November 2011

Mimpi atau Fakta?


Kejadian 41:14-16
Yusuf menyahut Firaun: ”Bukan sekali-kali aku, melainkan Allah juga akan memberitakan kesejahte-raan kepada tuanku Firaun.” (Kejadian 41:16).
Kalimat damai sejahtera sering dipakai dalam pernyataan seperti berikut ini. “Setelah masalah itu selesai, saya benar-benar merasakan damai sejahtera di hati saya.“ atau “Saya merasa tidak ada damai sejahtera di tempat saya bekerja.”
Ketika Yusuf diminta Firaun untuk menafsirkan mimpinya, Yusuf berkata bahwa bukan dirinya yang akan membawa berita damai kepada Riraun, melainkan Allah.
Hanya Allah yang dapat memberi kedamaian. Hati Firaun gundah selama belum ada orang yang bisa dengan tepat menafsirkan mimpinya. Yusuf mendapat kesempatan untuk menafsirkan mimpi Firaun, tetapi ia tetap berkata bahwa hanya Allah yang bisa memberi damai kepada Firaun terkait mimpinya. Bagi Firaun, damai menjadi impian, bagi Yusuf damai adalah anugerah Allah semata. Adakah hati kita mengalami damai sejahtera dari Allah sehingga bisa menjadi pembawa damai bagi orang lain? Kalau belum, cobalah cari yang menjadi kendalanya.
Bagi orang percaya, damai dari Allah adalah kenyataan. Yesus berkata: ”Damai sejahtera-Ku, Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Jan­ganlah gelisah dan gentar hatimu.“ (Yohanes 14:27).
Damai dari Allah bukan perasaan, tapi kenyataan yang melingkupi hati kita. Apapun yang terjadi, Allah akan mengawal dengan damai seperti kata Yusuf kepada Firaun. Seburuk apapun mimpi Firaun, Allah akan memberitahukan dalam damai sejahtera-Nya. Damai sejahtera- Nya yang kita terima mempersiapkan kita untuk menjadi pembawa damai. – Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr

Damai dalam badai menjadi awal bagi pembawa damai yang sejati karena Al­lah yang hadir dalam masalah membuat kita kaya dengan kesaksian.

Selasa, 29 November 2011

Hari Esok atau Kini?


Baca: Pengkotbah 9:10
Segala sesuatu yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan, kerjakanlah itu sekuat tenaga, karena tak ada pekerjaan, pertim­bangan, pengetahuan dan hikmat dalam dunia orang mati, ke mana engkau akan pergi (Pengkotbah 9:10).

Semasa kecil, saya sering membayang­kan hari esok adalah hari yang cerah. Akan ada matahari yang membangunkan fajar, dan membawa harapan bagi manusia menyambut hari baru. Itu yang membuat saya berpandangan “masih ada hari esok.” Selesai ujian di sekolah adalah saat bersenang senang karena masih ada hari esok. Selesai melakukan tugas yang dituntut pekerjaan, saatnya bersantai ria karena masih ada hari esok. Selain memperkecil stres karena tidak mau diperbudak oleh tuntutan pekerjaan dan belajar sekarang, “masih ada hari esok” akan sedikit meredakan ketegangan syaraf yang memacu adrenalin. Walaupun secara jujur masa depan juga bikin deg-degan, karena penuh dengan ketidakpastian, tapi sering orang menunda pe­kerjaan, karena masih ada hari esok yang akan datang.
Setelah menjalani pengalaman selama lima puluh tahun, dan kenyang dengan asam garam dunia, saya menyadari, hari esok dan menunda pekerjaan yang semestinya dilakukan bukan sikap bijaksana. Apalagi berdalih membenarkan diri: “masih ada hari esok.” Jadikan hari ini menjadi hari yang bermakna karena saya tidak tahu apa yang akan terjadi pada hari esok, tentang diri saya, apakah saya masih bernafas atau sudah terbujur kaku, karena nyawa manusia berada di tangan Tuhan. Jangan berlagak sekarang masih sehat, kuat dan prima. Siap sedialah untuk hari ini, kerjakan yang dimandatkan kepada kita untuk kita selesaikan. Benar kata pengkobah, apa yang dijumpai tanganmu untuk dikerjakan kerjakan sekuat tenaga, jangan menunda- nunda.
– Pdt. Agus Wiyanto

Jangan tunda apa yang Anda bisa kerjakan hari ini.