Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 14 Juli 2011

Menderita Itu Anugerah

Baca: Filipi 1:29
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada
Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.
Filipi 1:29


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari berbagai macam masalah baik yang berasal dari keluarga, orang lain mau­pun masyarakat. Sering kali masalah ini menyebabkan penderitaan bagi kita.
Pendertiaan yang dimaksud di sini bukan disebabkan oleh dosa kita, melainkan karena iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus.
Kita berusaha melakukan hal-hal yang benar, baik, dan penuh kasih, tetapi justru tak jarang kita malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, ditolak, dikucilkan, dan dicemooh yang semua itu bisa mengakibatkan kita stres. Dan apabila tidak kuat iman kita bisa mencari pelarian ke hal-hal yang justru akan semakin membawa kita menderita.
Saat ini sebagai orang percaya kita diingatkan oleh nasihat Rasul Paulus bahwa penderitaan karena Dia merupakan karunia dari Tuhan. Penderitaan juga merupakan proses pemurnian iman kita. Kita dihibur­kan ketika mengetahui bahwa menderita bagi Kristus bersifat sementara dan itu akan mendatangkan kemuliaan bagi kita.
Dengan menahami makna penderitaan karena Kristus tersebut, maka kita dapat bersyukur dan menerimanya dengan penuh sukacita. Kita menghadapi penderitaan sebagai kehendak Allah dan meneladani sikap Kristus yang juga menderita. Memang tidak mudah mengambil sikap demikian, namun dengan kekuatan Kristus, kita akan mampu menanggungnya dan pada akhirnya semua itu akan menjadi berkat bagi kita, sesama dan kebesaran nama-Nya. —Teguh Pribadi.

Doa: Tambahkanlah iman kami, ampuni orang-orang
yang bersalah kepada kami. Amin.

Rabu, 13 Juli 2011

Jangan Bersungut-sungut

Baca: Bilangan 14:26-30
Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilaku­kan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
1 Korintus 10:10


Konon dikisahkan seorang kaisar Romawi sedang mempersiapkan pesta akbar dan mengundang banyak orang. Tetapi sayang, pada hari H, terjadi badai dahsyat hingga tak seorang pun datang ke pesta akbar itu. Kaisar bersungut-sungut dan marah kepada Dewa Badai yang dianggapnya sebagai biang kerok ketidakhadiran para tamunya. Sang kaisar lalu memerintahkan para serdadunya untuk menembakkan anak panah ke udara menye-rang Dewa Badai sebagai balas dendam. Tentu saja anak panah itu turun kembali ke bumi bahkan melukai para serdadunya.
Gerutuan, keluhan, omelan dan sungut-sungut kita ibarat anak panah yang diarahkan kepada Tuhan. Anak panah itu akan kembali kepada kita dan mencelakakan diri kita sendiri.
Ambillah pelajaran dari bangsa Israel. Mereka begitu mudah dan sering bersungut-sungut. Ketika mereka ingin minum di Mara, air di situ rasanya pahit, mereka lantas bersungut-sungut (Keluaran 15:24). Ketika mereka kelaparan, mereka bersungut-sungut (Keluaran 16:1-3). Mereka juga bersungut-sungut ketika harus berhadapan dengan suku Enak, yang berperawakan raksasa (Bilangan 13:33; 14:3). Dan masih banyak hal lagi yang membuat mereka bersungut-sungut. Akibatnya Tuhan menghukum mereka. Mereka tidak akan masuk tanah perjanjian, yang berusia dua puluh tahun ke atas akan mati di padang gurun, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun (Bilangan 14:27-30).
Orang Israel lebih melihat kesulitan lalu bersungut-sungut daripada melihat berkat-berkat Tuhan lalu mensyukurinya. Bagaimana dengan kita? —Liana Poedjihastuti.

Dalam keseharian, kita lebih mudah bersungut-sungut
atau bersyukur?

Selasa, 12 Juli 2011

Tuhan Mendengar


Baca: Mazmur 6:1-11
...sebab Tuhan telah mendengar tangisku.
Mazmur 6:9


Sebagian orang berpendapat bahwa me­nangis adalah tanda kelemahan dan ketidak­berdayaan. Padahal, kata para konselor, menangis itu sehat. Sebab dengan menangis seseorang dapat menyalurkan rasa sakit, rasa duka, atau beban yang menindih. Penging­karan terhadap perasaan sakit, membuat seseorang justru rentan pada depresi dan tekanan batin yang berdampak pada sakit secara psikis dan fisik.
Daud merasakan tekanan yang berat da­lam jiwanya. Ia sadar, begitu berat tanggung
jawab sebagai pemimpin bangsa. Ia dikejar oleh orang-orang yang menen­tangnya, termasuk Absalom, anaknya sendiri. Daud juga sadar, ia telah jatuh ke dalam dosa, merancang kematian atas Uria, dan menjadikan Batsyeba istrinya. Keluarganya berantakan. Amnon anaknya menodai adiknya sendiri, Tamar (2 Samuel 13:1-22).
Dalam kegalauan hatinya, ia tahu kepada siapa ia harus pergi. Di hadapan orang lain, mungkin Daud merasa malu. Namun kepada Tu­han tak ada yang tersembunyi. Kepada Tuhan ia mengadu, menangis, “Kasihanilah aku Tuhan, sebab aku merana” (ayat 3).
Ada saat di mana kita berada pada titik terendah dalam hidup ini. Saat kita merasa tak mampu mengadu kepada orang lain. Kita merasa sendiri dan tak berarti, seakan awan gelap menutup bagian yang terang dari hidup kita. Tuhan Mahamendengar, Mahapengampun dan Mahakasih. Tuhan tidak ingin kita terpuruk begitu dalam. Ia menginginkan kita bangkit. Ia siap menopang kita. Maukah kita membawa segala beban kepada-Nya, termasuk beban dosa yang begitu menghimpit jiwa kita? —Pdt. Meyske S. Tungka
Dalam kesesakan aku telah berseru kepada Tuhan. Tuhan telah
menjawab aku dengan memberi kelegaan —Mazmur 118:5

Senin, 11 Juli 2011

Dewasa Itu Pilihan

Baca: Yesaya 57:10
Oleh perjalananmu yang jauh engkau sudah letih lesu, tetapi engkau tidak berkata: “Tidak ada hara­pan!” Engkau mendapat kekuatan yang baru, dan sebab itu engkau tidak menjadi lemah.
Yesaya 57:10


Iklan sebuah merek rokok berbunyi: “Tua itu pasti, dewasa itu pilihan”. Maksudnya menjadi tua itu adalah suatu proses alami yang harus dihadapi. Cepat atau lambat kita semua dibawa ke sana. Jadi sifatnya pasti terjadi. Sedangkan dewasa bukan hanya ditentukan oleh umur biologis seseorang, tetapi ada kematangan secara seimbang aspek fisik, mental, emosional, sosial dan spiritual. Seorang yang dewasa berarti bisa menjadi dirinya sendiri dan menerima tang­gung jawab.
Perjalanan jauh sudah dijalani. Menjadi tua sama dengan melaku­kan perjalanan hidup yang panjang dengan segala suka-duka. Kerut ketuaan di sekitar wajah, rambut yang semakin memutih, itu tidak dapat diobati dengan pil yang canggih. Namun semangat hidup tetap harus berkobar.
Pengharapan jangan padam. Sebagai lansia kita harus tetap mempu­nyai pengharapan di dalam Tuhan karena kita masih dapat mengerjakan sesuatu untuk diri sendiri dan orang lain.
Tinggalkan warisan keteladanan. Salah satu keinginan lansia adalah meninggalkan warisan. Warisan berupa materi dapat hilang kalau yang ditinggalkan tidak cakap mengurusnya. Warisan nilai- nilai luhur kete­ladanan yang akan dikenang oleh anak cucu dan menantu. Itu adalah peninggalan yang lestari. Jangan menjadi oma opa yang bawel dan rewel tapi jadilah pribadi yang bijaksana dalam bersikap, tidak memihak ketika ada konflik antara anak dan cucu.
Mintalah kekuatan Tuhan setiap hari. Ia akan memberikannya kepada kita. Kekuatan Allah terjadi justru ketika kita makin bergantung kepadaNya. —Pdt. Agus Wiyanto.

Menjadi dewasa harus menjadi pilihan dan sugesti dalam diri kita
agar kita dapat bertumbuh di hari tua dengan bijaksana.

Minggu, 10 Juli 2011

Memohon Dengan Benar


Baca: Matius 7:7-11
Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat, ketuklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.
Matius 7:7


Dalam kehidupan ini kita semua pernah mengalami bahwa apa yang kita inginkan ternyata tidak atau belum terkabul juga, meski kita sudah lama menantikan dan mengupayakannya. Diperhadapkan dengan kenyataan seperti itu kita lalu bertanya-ta-nya, apa yang salah? Usaha kita masih kurang sungguh-sungguh? Atau apakah keinginan kita yang terlalu muluk-muluk dan tidak re­alistis? Jawab yang tepat dan benar terhadap pertanyaan-pertanyaan tersebut sulit kita dapatkan dengan pasti. Meskipun demikian,
itu dapat kita jadikan bahan refleksi diri dan menarik kesimpulan. Misalnya, kalau kita merasa dan yakin bahwa yang kita harapkan itu sudah benar, maka kita dapat lebih bersungguh-sungguh lagi dalam memperjuangkannya. Atau kalau kita merasa apa yang kita inginkan itu keliru, maka kita dapat mengubah dan memperbaikinya, atau bahkan meninggalkannya sama sekali.
Tuhan Yesus memberikan jaminan, bahwa apabila kita melalui doa kita kepada-Nya mau “meminta, mencari dan mengetuk-ketuk”, maka kita pasti akan “diberi, mendapatkan dan dibukakan pintu”. Artinya, di dalam memohon kepada Tuhan, permohonan itu harus disertai tekad yang sungguh-sungguh, penuh kepercayaan kepada-Nya, bahwa Dia pasti mau mendengarkan dan menjawabnya. Yaitu dengan memberikan apa yang paling tepat dan paling baik bagi kita, menurut kebijakan-Nya, bukan kemauan kita semata-mata. Sebab, sebagaimana diingatkan Paulus, kita tidak tahu bagaimana berdoa dengan benar, yaitu apakah yang kita mohonkan di dalam doa itu sudah benar (Roma 8:26). —Pdt.Em. Sutarno.

Memohon dengan penuh iman melalui doa, jangan
sampai berubah menjadi pemaksaan kehendak, melainkan
pasrah sepenuhnya pada kebijakan-Nya.

Ketekunan Iman


Baca: Kisah Para Rasul 14:21-28
Di tempat itu mereka menguatkan hati murid-murid itu dan menasi­hati mereka supaya mereka bertekun di dalam iman, dan mengatakan, bahwa untuk masuk ke dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara.
Kisah Para Rasul 14:22

Sudah biasa kita mendengar bahwa setiap orang mempunyai “salibnya” sendiri. Tidak pandang bulu, siapa pun dia: berpendidikan atau tidak, berpangkat atau hanya seorang bawahan, kaya atau miskin; tanpa kecuali pasti pernah mengalami masalah. Termasuk kita sebagai orang beriman kepada Yesus, tidak pernah imun dari masalah, kegagalan, kesusahan, pergumulan, tantangan dan lain-lainnya.
Yang membedakan tiap-tiap orang dari masalah-masalah itu adalah: bagaimana seseorang menyikapinya. Jika disikapi dengan kemarahan atau keputus-asaan, maka masalah atau masa sulit itu akan melumpuhkan semangat hidup, membuat kita terkulai tanpa daya! Sebaliknya, jika disikapi dengan ketekunan, maka masa sulit bisa dipandang sebagai suatu “kesempatan emas”. Mengapa? Karena melaluinya kita justru ditempa untuk berpikir lebih jauh, berinisiatif lebih banyak dan melihat kemungkinan yang lebih luas. Melalui kegagalan, kesulitan dan bermacam kendala, sesung­guhnya kita sedang ditempa untuk menjadi lebih dewasa dan lebih berpengalaman.
Itulah yang dilakukan oleh Rasul Paulus dan Barnabas di Kota Derbe, ketika mereka sedang mengabarkan Injil. Banyak masalah dan tantangan yang dihadapi, namun mereka tetap minta kepada orang-orang yang baru saja menerima Injil untuk bertekun di dalam iman,
Apakah saat ini anda tengah mengalami masa sulit, kegagalan bisnis, keretakan hubungan, sakit penyakit, atau lain-lainnya? Ingatlah nasihat Rasul Paulus dan Barnabas: Bertekunlah di dalam iman dan jangan patah semangat. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Ketekunan adalah sikap pantang menyerah, terus berusaha
untuk melakukan yang terbaik di saat terburuk.