Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 07 April 2011

Bukan Batu Sandungan


Baca: 1 Korintus 1:23-25
Kami memberitakan  Kristus yang disalibkan: untuk orang-orang Yahudi suatu batu sandungan dan untuk orang-orang bukan Yahudi suatu kebodohan.
1 Korintus 1:23

Pemberitaan Paulus mengenai Kristus se-bagai Juru Selamat, namun yang mati di kayu salib, sulit dapat diterima oleh banyak orang. Bagi orang Yahudi, pemberitaan tersebut menjadi batu sandungan, karena bertentangan dengan ajaran dan penghara­pan mereka, bahwa Mesias harus merupakan Raja perkasa yang sanggup mengalahkan musuh-musuhnya. Bagi orang bukan Yahu­di, pemberitaan tentang Juru Selamat yang disalib itu juga tidak dapat diterima, karena dianggap merupakan kebodohan yang tidak sesuai dengan akal sehat. Bagaimana mungkin mempercayai Juru Selamat yang tidak dapat menyelamatkan diri sendiri?
Namun, menurut kesaksian Paulus, bagi orang-orang yang oleh kuasa Tuhan dipanggil untuk menerima keselamatan dari-Nya, Kristus yang disalib itu justru menunjukkan “kekuatan dan hikmat Allah”. Bahwa Kristus mau dan sanggup melakukan pengorbanan yang begitu besar sehingga rela disalib, itu merupakan tindakan yang menunjukkan betapa tinggi hikmat-Nya dan besar kuasa-Nya yang melampaui segala hikmat dan kekuatan manusia.
Sikap dan anggapan terhadap salib Kristus sebagai batu sandungan dan kebodohan itu ternyata hidup juga di kalangan banyak orang sampai sekarang ini, termasuk kita yang mengaku percaya kepada-Nya. Bukankah kita sering juga mengharapkan dan berusaha menjadikan Kristus sebagai yang penuh kekuasaan dan kemegahan, melalui kehidupan dan aktivitas kita sebagai Gereja maupun pribadi? Sikap dan anggapan seperti itu tidak sesuai dengan makna salib yang sesung­guhnya, sehingga harus kita hindari. —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk memahami dan
mempercayai salib sebagai hikmat dan kekuatan-Mu
yang menyelamatkan kami. Amin.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 06 April 2011

Salib-Ku Enak

Bacaan Alkitab: Matius 11:28-30
Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Ku pun ringan.
Matius 11:30

 “Jadi orang Kristen kok susah ya? Dulu sebe­lum jadi Kristen, aku berpikir orang Kristen itu enak. Selalu bersukacita. Di mana saja, kapan saja selalu menyanyi. Dalam upacara pemakaman yang sedang diliputi dukacita saja menyanyi, apalagi pada saat suasana su­kacita. Tetapi kok setelah jadi orang Kristen, ternyata tidak seindah yang kubayangkan...”
Ya, mungkin ada di antara kita yang pernah memiliki pemikiran seperti itu, yaitu jadi orang Kristen itu enak, tanpa masalah, dan semuanya bisa beres.
Oh, jangan terburu-buru berpikiran seperti itu! Sebab, setiap manusia, termasuk juga anak-anak Tuhan, selama ia masih hidup di dunia ini, sama sekali tidak steril dengan yang namanya masalah. Siapa pun kita, pasti suatu saat akan menghadapi masalah-masalah kehidupan. Hanya saja, sebagai orang-orang beriman, kita diberi kekuatan yang luar biasa oleh Tuhan di dalam menghadapi setiap permasalahan hidup tersebut.
Secara jelas, di dalam bacaan hari ini, kita bisa melihat janji Tuhan tersebut, yaitu pada saat kita mau datang dan menyerahkan segala per-masalahan hidup kita, Tuhan pasti akan memberikan kelegaan kepada kita. Tuhan tahu persis, sampai batas mana kita mampu untuk memikul salib kita masing-masing. Jadi, percayalah apa pun masalah kehidupan yang kita alami, kita pasti sanggup untuk melewatinya, karena salib yang kita pikul itu enak, dan itu pas buat kita. —David N. Widi

Menjadi anak-anak Tuhan tidak berarti steril dari
masalah kehidupan. namun yang pasti, anak-anak
Tuhan pasti mampu memikulnya, karena salib
yang kita pikul itu enak.



==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 05 April 2011

Menjadi Pengikut Kristus

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 2:5
Supaya iman kamu jangan bergantung pada hikmat manusia, tetapi pada kekuatan Allah.
1 Korintus 2:5
Memanggul salib bukanlah nasib tidak berdaya yang harus dihadapi manusia de-ngan perasaan menyerah. Tuhan tidak men­ciptakan manusia untuk menjadi semacam “wayang” yang ditaruh di dalam kotak, usai dipentaskan oleh “sang dalang” dalam suatu lakon pertunjukan. Sudah selesai lakon yang dimainkan dan kalah dalam pertarungan melawan kerasnya kehidupan, tentu wayang tersebut akan dimasukkan kotak. Tinggal tokoh yang kuat dan super yang bertahan.
Salib adalah konsekuensi logis yang harus dijalani, ketika manusia harus menghadapi berbagai kesulitan dengan menujukkan “integritas” dan “identitas” imannya. Tidak ada iman yang bertumbuh dengan matang kalau tidak dirabuk dengan kesulitan dan penderitaan yang datang menderanya. Kesulitan justru menjadi semacam pupuk yang memberikan spirit maju, karena kita mempunyai Tuhan yang hidup, bukan menjadi alasan lari dari gelanggang.
Seperti ditunjukkan Yesus yang berani menghadapi jalan salib dengan konsekuen dan konsisten menjalaninya, harus mencapai puncak bukit Golgota demi menebus dosa umat manusia. Sekalipun berat langkah yang harus dijalani, itu tidak menyurutkan semangat dan tekat-Nya, menjalani jalan salib sampai tuntas.
Sebagai pengikut Yesus ada salib yang harus ditanggung, seperti ditegaskan Yesus kepada para murid-Nya. Mereka akan dibenci dan tidak disukai banyak orang. Namun jangan merasa takut. Jangan pernah menye-rah sebagai pengikut Tuhan. Kita bukan ikut Yesus yang kalah memikul salib, tetapi Yesus pemenang, Ia yang mengalahkan musuh-Nya dengan cinta kasih. —Pdt. Agus Wiyanto.

Seberat apa pun salib yang anda pikul jangan coba membandingkan
dengan salib orang lain, lalu berkata salib saya lebih berat dan sukar. Ada porsi yang mampu kita tanggung dan Tuhan akan menyertai-Nya.


 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Salib Besar Dan Kecil


Bacaan Alkitab: Lukas 9:22-27
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut aku, ia harus menyangkal dirinya, memi­kul salibnya setiap hari  dan mengikut Aku.”
Lukas 9:23

Beratnya memanggul salib digambarkan se­bagai berikut: Ada tiga pemanggul salib yang sama besar dan sama beratnya. Di tengah perjalanan seorang dari mereka meletakkan salib itu karena merasa sudah tidak sanggup memanggulnya. Yang seorang lagi memo­tongnya menjadi salib kecil dan ringan. Sampailah mereka di sebuah jurang tanpa jembatan. Kedua pemanggul salib menyesal karena telah meninggalkan dan mengubah salib yang mereka panggul. Hanya seorang saja yang bisa melewati jurang itu karena
salib yang besar itu cukup menjadi jembatan untuk menyeberang. Ba­gaimana dengan “salib Tuhan” yang sedang Anda panggul?
Mengikut Yesus bukan seperti mengikut seorang tokoh dunia. Ta­waran yang dihadapkan Tuhan Yesus bukan kedudukan enak, kebahagiaan masa depan, tetapi penderitaan seperti apa yang dialami-Nya (ayat 22). Jangan pernah bermimpi bahwa mengikut Yesus semua jalan jadi mulus. Jalan Tuhan memang sukar, tetapi ujung jalan-Nya pasti indah.
Mengikut Yesus harus ada yang hilang untuk bisa mendapat. Ke­hilangan nyawa adalah kata lain kehilangan yang istimewa dalam dunia ini (ayat 24). Kehilangan itu akan mendapat yang lebih istimewa sebagai upah kerelaannya untuk meninggalkan yang ditawarkan dunia. Pasti tidak rugi. Sanggupkah kita?
Mengikut Yesus, yang surgawi lebih menjanjikan daripada yang duniawi. Kekayaan, kedudukan, kesenangan macam apa pun tidak ada yang bisa menggantikan sukacita surgawi yang akan kita terima bila men­jadi pengikut Yesus yang taat dan setia. Percayalah Yesus tidak menjanjikan pepesan kosong. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Priyono.
Salib Yesus memang berat, tetapi berjalan bersama-nya yang
berat akan menjadi ringan karena Ia selalu mengajak
kita untuk bicara dalam perjalanan ini.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 04 April 2011

Menerima Ajakan


Bacaan Alkitab: Lukas 9:57-62
Yesus berkata... “Serigala mempunyai liang dan burung mempu­nyai sarang, tetapi Anak Manusia tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya.”
Lukas 9:58

Sering kita menyebut diri sebagai pengikut Kristus. Bahkan ada pula lagu-lagu rohani yang sering kita nyanyikan, menyatakan ke-sanggupan kita mengikut Yesus. Benarkah kita sanggup dan sedang mengikuti Tuhan Yesus, ke mana pun arah-Nya?
Teringat saya akan anak kami ketika dia masih kecil. Suatu waktu dia menangis saat kami akan meninggalkannya di rumah, dan baru berhenti menangis ketika kami membawanya serta. Tetapi tak lama kemu­dian ia merengek minta pulang. Tentu saja,
sebab ia merasa tak nyaman di perjalanan, dan merasa tak dapat melaku­kan apa yang diinginkannya. Barangkali kita juga bersikap seperti itu ketika ingin mengikut Yesus.
Bacaan hari ini mengajak kita merenungkan undangan Tuhan.Yesus memberikan sebuah ajakan kepada seseorang untuk mengikut Dia (ayat 59), tetapi di samping itu kepada seorang lainnya Ia mengatakan bahwa diri-Nya “tidak mempunyai tempat untuk meletakkan kepala-Nya” (ayat 58). Sebuah peringatan yang membuat kita berpikir berulang kali apakah mau ikut atau tidak, apalagi bila kita berada di tempat dan waktu tersebut; tak tahu ke mana arah dan tujuan kepergian-Nya.
Kepada orang-orang yang bermaksud mengikuti Dia, tetapi memiliki prioritas lain yang lebih penting, Tuhan Yesus tidak berkenan (ayat 60 dan 62). Sekarang, keputusan ada di tangan kita, apakah kita mau menerima ajakan Tuhan Yesus dan mengikuti-Nya dan siap dengan apa pun konsekuensinya? —Ocky Sundari.

Barangsiapa tidak memikul salibnya dan
mengikut Aku, Ia tidak layak bagi-Ku.
—Matius 10:38


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 03 April 2011

Merendahkan Diri


Bacaan Alkitab: Matius 20:26-27, 23:11-12
Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.
Amsal 29:23

Apa warna pakaian yang Anda kenakan hari ini? Tentu itu pilihan Anda! Ya, apa yang kita kenakan merupakan pilihan kita, termasuk menjadi rendah hati juga pilihan kita. Kerendahan hati seperti pakaian yang membalut pribadi kita. Ini seperti nasihat Paulus kepada jemaat di Kolose, agar orang-orang pilihan Allah selain mengenakan belas kasihan, kemurahan, kelemahlembutan dan kesabaran, juga mengenakan kerendahan hati (Kolose 3:12).
Apakah kita membalut diri dengan kerendahan hati? Itu pilihan kita! Yesus memberikan pilihan kepada Anda dan saya, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Matius 23:12). Tentang pilihan ini, C. Peter Wagner dalam bukunya, Humility, menjelas­kan bahwa meninggikan dan merendahkan merupakan kata kerja aktif, sedangkan direndahkan dan ditinggikan adalah kata kerja pasif. Kata kerja aktif menunjukkan bahwa tindakan itu tergantung sepenuhnya pada kehendak kita, sedangkan yang pasif membutuhkan kehendak Tuhan. Jadi, jika kita memilih untuk rendah hati, kita akan ditinggikan Tuhan. Jika kita tidak rendah hati, Tuhan tidak akan meninggikan kita.
Renungan hari ini ingin menuntun agar kita juga rendah hati dalam menunaikan pelayanan kita. Agar kita tidak mencari kepentingan sendiri atau pujian yang sia-sia, sebaliknya dengan rendah hati kita menganggap orang lain lebih utama daripada diri kita sendiri (Filipi 2:3). Izinkanlah kerendahan hati membalut pelayanan kita, hari ini dan juga hari-hari selanjutnya! —Agus Santosa.

Karena itu rendahkanlah dirimu di bawah tangan
Tuhan yang kuat, supaya kamu ditinggikan-
Nya pada waktunya. —1 Petrus 5:6

 ==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 02 April 2011

Memanggul Salib

Setiap kali berbelanja di pasar tradisional, saya selalu dibuat kagum oleh keperkasaan para perempuan setengah baya yang menjual jasa dengan memanggul barang belanja para pembeli maupun barang kulakan pedagang. Mereka terlihat perkasa saat memikul atau memanggul beban berat dengan selendang pengikat di pundak yang dililitkan pada punggung.
Memikul atau memanggul adalah mele­takkan beban di atas tubuh, dan ketika Yesus mengatakan bahwa setiap orang yang mengikut Dia harus memikul salibnya setiap hari, artinya kita harus siap me-manggul beban demi Yesus, Mesias dari Allah. [Kata mesias berasal dari kata dalam bahasa Ibrani masyiakh, yang artinya orang yang diurapi. Kata ini sepadan dengan kata khristos dalam bahasa Yunani yang artinya juga yang diurapi. Kita lebih akrab menyapa-Nya, Kristus.]
Yesus adalah Mesias pilihan Allah, Yang diurapi Allah, Anak Domba Paskah yang rela menanggung banyak penderitaan, disalibkan, mati dan bangkit pada hari ketiga untuk menebus dosa manusia. Yesus adalah Kurban terakhir dan paling sempurna bagi penebusan dosa umat manusia. Jika Anda dan saya adalah umat tebusan-Nya, kita seharus­nya mematuhi kehendak-Nya dengan menyediakan diri demi Dia dan memikul salib kita setiap hari. Ini adalah bukti bahwa kita rela mati dan mau memanggul penderitaan demi Yesus Mesias. Inilah kematian yang mengantarkan kita pada kehidupan kekal oleh penebusan Yesus Kristus, Anak Domba Paskah yang diurapi Allah.
Renungan Harian MUSA bulan ini menyajikan tiga puluh renungan yang menuntun kita untuk menilik hati, kehendak dan tindakan kita agar lebih setia, tegar dan rendah hati dalam memikul Salib. Selamat Paskah. —Agus Santosa

Jumat, 01 April 2011

Bukan Aku Lagi

Baca: Lukas 18:11-12
...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.
Galatia 2:20

Ya Allah, aku mengucap syukur kepada-Mu, karena aku tidak sama seperti semua orang lain, bukan perampok, bukan orang lalim, bukan pezina dan bukan juga seperti pemungut cukai ini; aku berpuasa dua kali seminggu, aku memberikan sepersepuluh dari segala penghasilanku” (Lukas 18:11-12).
Bagaimana perasaan Anda ketika mem­baca doa orang Farisi ini? Mungkin ada yang merasa itu doa yang wajar, karena kenyataan­nya demikian. Tetapi, saya yakin, banyak di antara kita yang merasa neg, berasa mual, mendengar doa semacam itu. Sepintas doa ini kedengaran mengucap syukur, tetapi sebenarnya menyombongkan diri. Doanya lebih berisi pamer diri. Bayangkan hanya satu kali dia menyebut “Mu”, sementara lima kali menyebut “aku”.
Inilah kecenderungan manusia pada umumnya: merasa diri paling baik, paling hebat, paling benar, bahkan di hadapan Tuhan sekalipun. Manusia yang sebetulnya miskin dan papa cenderung menyombong­kan diri dan memuja-muja diri. Betapa ironis, sebab Allah yang begitu berkuasa dan kaya malah begitu rendah hati.
Sering kali kita tergoda untuk unjuk diri, melakukan sesuatu hanya sekadar agar dilihat orang (Matius 23:5). Membangun citra taat dan setia padahal hatinya memendam berbagai rupa-rupa kejahatan.
Paulus mengingatkan kita, “...bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.” Marilah membebaskan diri dari hidup yang hanya berpusat pada aku, agar dapat berpusat ke­pada Kristus, hingga orang yang melihat, tidak merasa neg, melainkan memuliakan Allah. —Liana Poedjihastuti
Ambillah dari diriku segala yang memisahkan diriku dari Dikau.
Berilah kepadaku segala yang mendekatkan diriku kepada
Ambillah diriku dari diriku dan berikanlah seluruh diriku
kepada Dikau. —Doa Santo Nicolaus Von Der Flue


=================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 31 Maret 2011

Pilihan Yang Sulit

Bacaan Alkitab: Filipi 1:21-26
Aku didesak dari dua pihak: aku ingin pergi dan diam bersama-sama dengan Kristus, itu memang jauh lebih baik; tetapi lebih perlu untuk tinggal di dunia ini karena kamu.
Filipi 1:23-24

Jika kita lupa minum obat yang diharus-kan, maka menyesal hanya sebentar. Jikalau kita salah jalan, maka memutar arah butuh waktu agak lama, kalau salah potong rambut sehingga terlalu pendek, butuh waktu satu bulan. Tidak naik kelas, harus menunggu setahun. Bagaimana kalau salah pilih pa-sangan hidup? Bisa kecewa seumur hidup dan masalah akan datang silih berganti.
Salah pilih fatal akibatnya. Firman Tuhan memberi nasihat bagaimana memilih yang tepat di antara hal yang terkadang sama-sama pentingnya.
Pikirkan manfaatnya lebih dahulu baru bertindak. Paulus berkata, “Jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah” (ayat 22). Hidup ini anugerah dari Tuhan sehingga tidak boleh kita miliki untuk diri sendiri.
Pilihlah yang terbaik diantara yang baik. Bagi Paulus pergi dan diam bersama Kristus, itu memang jauh lebih baik (ayat 23). Dengan demikian akan terbebas dari semua penderitaannya di dunia ini. Tetapi kalau tugas dari Tuhan masih harus dilanjutkan, yang terbaik harus menjadi prioritas. Masih adakah tugas yang Tuhan percayakan kepada kita? Jangan berhenti sebelum menyelesaikannya.
Pilihlah yang lebih perlu kalau Tuhan masih mau memakai kita. Dalam kondisi apa pun: sakit, kecewa, putus asa jangan sekali-kali meninggalkan Tuhan. Lebih baik kita bergumul apakah yang kita hadapi adalah sebuah tantangan atau ujian iman. Bila kita masih dipakai Tuhan, mengapa memilih yang terburuk? Pikirkan bahwa Tuhan masih memakai kita dan kita masih diperlukan banyak orang. Setuju? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Pilihan yang sulit adalah sebuah tantangan agar kita
terus naik sampai ke puncak kemenangan.


======================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 29 Maret 2011

Hanya Pada-Mu

Bacaan Alkitab: Lukas 18:35-43
Anak Daud, kasihanilah aku!
Lukas 18:39

Pada bulan Agustus 2010, terjadi kecela­kaan di salah satu tambang emas di Cile, sebuah negara di Amerika Latin. Terowong-an tambang runtuh menutup jalur keluar, sehingga 33 orang penambang terjebak di kedalaman 700 meter. Istri presiden Cile, meminta suaminya terus berjuang menyela­matkan para penambang tersebut. Presiden lalu memerintahkan penyelamatan para pe­nambang dengan biaya berapa pun. Presiden dan istrinya tanpa lelah menggalang dana di negaranya dan seluruh dunia, terjun lang-
sung mengkoordinir usaha penyelamatan, memberi semangat regu pe­nyelamat dan para penambang, ketika berhasil berkomunikasi dengan mereka. Sampai akhirnya para penambang berhasil diselamatkan. Seluruh dunia bersorak dan kagum akan perjuangan sang presiden. Tiga puluh tiga orang adalah jumlah kecil dibandingkan dengan penduduk Cile. Seandainya presiden tidak menyelamatkan 33 orang tersebut, mungkin rakyat Cile dan dunia memakluminya karena sungguh mustahil bisa menyelamatkan 33 orang di kedalaman 700 meter di bawah tanah. Tetapi pilihan tepat presiden telah menyelamatkan para penambang, dan pilihan itu telah pula menjadikan negara Cile terkenal di dunia.
Bagaimana dengan kita? Ada banyak pilihan di depan mata kita. Mana yang akan kita pilih? Si Buta dari Yerikho memilih meminta kesembuhan kepada Yesus, karena dia percaya Yesus adalah pilihan tepat untuk menyembuhkan penyakitnya. Yesus menyembuhkannya, dan ia memuliakan nama Allah. Semua orang yang ada disitu melihatnya dan juga memuliakan Allah. —Pramudya.

Pilihan tepat akan menjadikan hidup bermakna,
pilihan salah akan membuat hidup menderita.


===================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 28 Maret 2011

Harga Yang Harus Dibayar

Bacaan Alkitab: 1 Korintus 1:18-31
Sebab pemberitaan tentang salib memang adalah kebodohan bagi mereka yang akan binasa, tetapi bagi kita yang diselamatkan pemberitaan itu adalah kekuatan Allah.
1 Korintus 1:18

Kita mendengar ada banyak orang beriman, yang meninggalkan, bahkan mengingkari imannya, demi kedudukan, jabatan, keka-yaan, bahkan cinta. Realitas saat ini, tidak sedikit anak Tuhan, yang rela “menjual” Tuhannya, agar bisa naik jabatan, gampang menempati posisi tertentu dalam pekerjaan, atau bisa menikah dengan seseorang yang dicintai. Mungkin kita bertanya, “Kok begitu mudah seseorang mengingkari iman, hanya sekadar untuk kenikmatan duniawi yang sesaat dan fana?”
Ada begitu banyak orang yang tidak mau “membayar harga”, saat ia memutuskan menjadi anak Tuhan. Mereka ini menganggap bahwa salib adalah suatu kebodohan. Manakala dunia beserta dengan segala kesenan­gannya dapat dinikmati dengan mengingkari “salib”, maka lebih baik lepaskan “salib” itu, kemudian meraih segala kenikmatan serta kesenangan duniawi, daripada harus “membayar harga” dengan memanggul salib.
Memang tak dapat dipungkiri, memanggul salib itu berat dan tidak mudah. Ada harga yang harus kita bayar saat kita mau menjadi anak-anak Tuhan. Mungkin kita menjadi sulit untuk meraih jabatan atau posisi-posisi tertentu dalam pekerjaan kita, mungkin dalam usaha maupun bisnis kita bisa mengalami kendala, atau bahkan kita tidak bisa bersanding dengan orang yang kita cintai karena berbeda iman. Namun percayalah, semua itu tidak akan sia-sia, sebab dengan “harga” yang kita bayar, kita pun akan memperoleh sesuatu yang lebih berharga dari apa pun yang berharga di dunia ini, yaitu keselamatan kekal dalam diri Yesus Kristus. —Pdt. David N. Widi.

Menjadi anak-anak Tuhan berarti mau untuk
“membayar harga” yang mahal.


======================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 27 Maret 2011

Orang Sendiri


Bacaan Alkitab: Matius 13:53-58
Dan karena ketidak-percayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ.
Matius 13:58

Dalam kehidupan sehari-hari kita sering menjumpai hal-hal berikut. Ketika seorang anak teman yang sedang bertamu memecah­kan gelas minum, kita dengan cepat memberi maaf. Ketika seseorang menolong kita me­nyelesaikan sesuatu saat kita sedang kesulitan, kita segera mengucapkan terima kasih seraya berkata, “Wah untung ada dia.” Kita dengan tulus bisa mengagumi karya dan ide orang lain.Tetapi sikap itu berubah ketika yang melaku­kan hal-hal tersebut justru “orang kita” sendiri, sebagaimana dinampakkan dalam contoh berikut. Ketika istri atau suami atau anak, atau orangtua mengece­wakan kita, misalnya memecahkan gelas, apalagi gelas kristal, kita cepat sekali marah dan memberikan hukuman. Ketika mereka melakukan se-suatu untuk kita, kita lupa berberterima kasih. Ketika orang dekat kita, “orang sendiri” menunjukkan prestasi yang cemerlang, patut dikagumi, kita tidak menghargainya.
Apa akibatnya jika kita tetap berperilaku seperti ini? Kita akan me-ngalami kehidupan yang tidak menyenangkan bersama orang-orang terdekat kita, dan orang-orang terdekat kita tidak mampu menunjukkan prestasi terbaiknya, karena kita tak pernah menghargainya.
Hal semacam ini ternyata juga dialami oleh Yesus. Mereka kecewa sebab Yesus (yang prestasinya hebat itu) itu ternyata “orang sendiri”! Akibatnya, karena ketidakpercayaan mereka, tidak banyak mukjizat diadakan-Nya di situ (ayat 58, Markus 6:5). Mari kita mulai lebih menghargai orang-orang terdekat kita, sebagai ungkapan syukur kita kepada-Nya. —Yahya Wardoyo.

doa: Tuhan, ajari hamba-mu ini bisa menghargai orang-orang dekat
kami, mensyukuri kehadiran mereka, karena hanya dengan
demikian hamba-mu bisa mensyukuri karunia-mu. amin.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 26 Maret 2011

Menjadi Berkat Atau Kutuk

Bacaan Alkitab: Kejadian 2:7
Dengan lidah kita memuji Tuhan, Bapa kita; dan dengan lidah kita mengutuk manusia yang diciptakan menurut rupa Allah, dari mulut yang satu keluar berkat dan kutuk. Hal ini, saudara-saudaraku, tidak boleh demikian terjadi.
Yakobus 3:9-10

Tahukah Anda, mengapa ketika masih muda bunga matahari berpaling ke arah matahari? Sebelum tengah hari bunga matahari muda berpaling ke sisi yang mengarah ke matahari, setelah tengah hari akan membalik dan meng-ubah arahnya ke sisi yang lain. Jadi, bunga matahari berpaling seiring dengan beredarnya matahari sehingga tampak mengikuti ma­tahari. Karena gerakan ini daun-daunnya menerima sinar matahari secara optimal.
Seperti bunga matahari muda yang meng-arahkan diri pada sinar matahari, hidup kita juga harus terarah kepada Tuhan Yesus, Cahaya Kehidupan. Hanya mereka yang mengarahkan diri, mendengarkan dan menaati firman-Nya yang dapat menjadi berkat dan napas kehidupan bagi banyak orang.
Allah memanggil kita untuk menjadi berkat bagi banyak orang, tidak hidup hanya bagi diri sendiri, sebab hidup yang demikian adalah hidup yang kerdil dan sempit. Tidak gampang menjadi berkat. Alih-alih men­jadi berkat, kita malah cenderung mengutuk, mencelakakan, bahkan membinasakan orang lain. Hal ini disebabkan dalam diri kita berse­mayam ilah yang ingin mencari nikmat dan kesenangan diri semata.
Tuhan Allah mengembuskan napas hidup ke dalam hidung manu­sia, maka ia menjadi makhluk yang hidup (Kejadian 2:7). Karena itu napas yang kita embuskan haruslah membawa udara yang menghidupkan, yang membawa pengharapan bagi orang-orang yang kita jumpai, bukan napas kematian. Kiranya kita mendapat rahmat untuk menjadi berkat, bahkan bagi mereka yang memaki, mengutuki, dan menganiaya kita sekalipun. —Liana Poedjihastuti.
Sekali menjadi berkat, tetap menjadi berkat.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 25 Maret 2011

Pengakuan Yang Sia-Sia


Bacaan Alkitab: Matius 7:21-23
“Bukan setiap orang yang berseru kepada-Ku, ‘Tuhan, Tuhan!’ akan masuk ke dalam Kerajaan Surga, melainkan dia yang melakukan kehendak Bapa-Ku yang di surga.”
Matius 7:21

Menjadi orang Kristen dan anggota gereja yang dewasa, merupakan pilihan yang kita buat berdasarkan keyakinan. Keyakinan tersebut dapat muncul dan tumbuh akibat dari keturunan, tetapi dapat juga karena pertobatan dari keyakinan lain. Dalam hal ini Tuhan Yesus mengingatkan bahwa keya­kinan, yang memang sangat diperlukan dan menjadi syarat dalam menjadi pengikut-Nya, ternyata belum cukup. Meski dengan penuh keyakinan kita berani dan mampu berseru, “Tuhan, Tuhan!” kepada-Nya, itu
belum menjadi jaminan bahwa kita pasti juga akan masuk ke dalam kerajaan-Nya. Jadi, meski kita sudah membuat pilihan yang tepat dan benar untuk menjadi orang Kristen dan warga gereja, demikian juga se­cara terbuka berani mengakui semuanya itu di tengah-tengah masyarakat, namun hal itu ternyata belum menjadi jaminan bahwa kita pasti juga akan masuk ke dalam kerajaan-Nya.
Jadi, yang menjamin masuknya orang ke dalam kerajaan-Nya itu ternyata bukan hanya keyakinan dan pengakuan belaka, melainkan keyakinan dan pengakuan yang disertai dengan perbuatan yang “melaku­kan kehendak Bapa”. Tegasnya, keyakinan dan pengakuan yang disertai dengan perbuatan yang sesuai dengan perintah dan hukum-hukum Tu­han. Mengaku percaya kepada-Nya, tetapi perbuatan-perbuatannya melanggar perintah dan larangan-Nya, tidak akan mendatangkan keselamatan. Pengakuan seperti itu merupakan pengakuan basa-basi dan formalistis belaka yang sia-sia dan tidak bermanfaat. —Pdt.Em. Sutarno.

Tetapi hendaklah kamu menjadi pelaku firman dan
bukan hanya pendengar saja. —Yakobus 1:22


======================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 24 Maret 2011

Mengapa Harus Mengomel?


Bacaan Alkitab: Habakuk 3:18-19
Namun aku akan bersorak-sorak di dalam Tuhan, beria-ria di dalam Allah yang menyelamat­kan aku. Tuhanku itu kekuatanku: Ia membuat kakiku seperti kaki rusa, Ia membiarkan aku berjejak di bukit-bukitku.
Habakuk 3:18-19

Pernahkah kita mengalami situasi yang tidak enak dalam hidup ini? Usia tua, sakit dan harus masuk rumah sakit, sementara biaya rumah sakit mahal. Pensiunan dengan uang yang terbatas sementara ada kebutuhan hidup yang besar, sehingga kita harus cermat mengatur pengeluaran. Ketahanan fisik yang semakin terbatas sehingga harus bergantung kepada pertolongan orang lain untuk mela-kukan sesuatu. Pergi ke gereja harus diantar oleh anak cucu, tidak dapat pergi sendiri dan mandiri seperti pada waktu masih muda.
Situasi hidup yang tidak enak membuat kita cepat mengeluh dan hati merasa kecut. Takut untuk melangkah dan melakukan sesuatu, sering membuat kita bertanya dan protes kepada Tuhan. Orang bilang “ngomel” adalah hak asasi seseorang untuk menyuarakan gejolak suara hati bergolak, merespon sesuatu yang tidak enak. Tetapi mengapa orang beriman harus ngomel sebagai respon pertama terhadap situasi yang tidak menyenangkan? Orang yang suka ngomel akan dicap sebagai orang yang bawel dan menjadi rewel.
Orang beriman yang cepat mengeluh tidak akan menyelesaikan persoalan. Persoalan tidak dapat selesai dengan seribu keluhan. Jangan menjadi orang yang cengeng menghadapi hidup dan hari tua. Habakuk mengajarkan sikap untuk begantung kepada Tuhan di tengah siatuasi hidup yang tidak enak.
Bangunlah harapan di dalam Tuhan. Itu sikap yang tepat daripada hanya bisa mengumpat keadaan dan mengerutu. Kita mempunyai Tuhan yang hidup dan berkuasa. Harapan di dalam Tuhan bukan sesuatu yang kosong. —Pdt. Agus Wiyanto.

Tuhan akan bekerja dengan cara-nya. Sikap yang perlu dibangun
adalah belajar percaya dan berserah, dengan hati yang tenang.


=====================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 23 Maret 2011

Kuda Putih Dan Hitam

Bacaan Alkitab: 1 Petrus 2:1-5
Karena itu buanglah segala kejahatan, segala tipu muslihat dan segala macam kemunafikan, kedengkian dan fitnah.
1 Petrus 2:1

Konon manusia diumpamakan dengan sebuah kereta yang ditarik oleh dua kuda putih dan hitam. Kalau kuda putih dike­nyangkan, maka kuda hitam akan kelaparan. Demikian juga sebaliknya. Kuda-kuda itu menggambarkan hidup jasmani dan hidup rohani. Jika kita hanya memenuhi kebutuh-an jasmani, maka rohani kita akan kering dan sebaliknya demikian.
Firman Tuhan memberi arahan yang seimbang agar hidup ini berkenan kepada Tuhan.
Tinggalkan yang lama dan jangan diambil lagi. Melepas merupakan hal yang paling berat dalam hidup kita. Melepas dosa adalah tindakan yang paling sukar karena sudah menjadi kebiasaan. Buanglah, artinya lupakan dan jangan dipungut lagi. Bisakah kita melakukannya?
Kembali menjadi bayi rohani bukan hal yang memalukan. Keba-nyakan kita tersinggung jikalau disebut kekanak-kanakan. Firman Tu­han justru berkata “sama seperti bayi yang baru lahir”. Ada kehausan, kerinduan dan ketergantungan kepada yang lebih kuat, lebih kuasa dan yang berhak memberi. Lebih baik menjadi seperti bayi rohani daripada menjadi Kristen kekanak-kanakan.
Bukan putih, bukan hitam dan bukan abu-abu. Kadang-kadang tidak jelas identitas kita sebagai anak Tuhan. Tidak ini dan tidak itu. Katanya Kristen, tetapi perbuatannya berlawanan dengan imannya. Fir­man Tuhan meminta agar kita datang kepada Batu yang Hidup, Tuhan Yesus Kristus, agar jelas siapa kita dan tidak tergoyahkan lagi iman kita. Mau? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Allah tidak meminta aneka warna di hadapan-Nya. Ia meminta
kita menjadi terang yang menerangi semua orang.


=========================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 22 Maret 2011

Hidup Yang Lebih Hidup

Bacaan Alkitab: Matius 11:28; Yohanes 10:28-29
...adalah lebih berbahagia memberi daripada menerima.
Kisah Para Rasul 20:35

Ada banyak ukuran, misalnya sentimeter, milimeter, yard dan inci. Hidup juga ada ukurannya. Ukuran apa yang digunakan untuk mengukur arti hidup atau keber­hasilan hidup kita? Ukuran yang sering dipergunakan oleh kebanyakan orang adalah mempunyai. Mempunyai pacar, gelar, mobil, atau rumah. Mempunyai anak, menantu, cucu, dan seterusnya. Mempunyai merupa­kan ukuran yang lazim dalam mengukur hidup.
Tuhan Yesus tidak menggunakan kelaziman itu. Dia bukan orang yang mempunyai ini dan itu (lihat Matius 8:20). Ukuran yang digunakan-Nya untuk mengukur keberhasilan hidup bukanlah mempunyai, melainkan memberi. Hidup Tuhan Yesus bukan diisi dengan kesibukan untuk mempunyai, melainkan dengan kesibukan untuk memberi. Tuhan Yesus mengukur hidup bukan dengan ukuran bagaimana mendapat faedah untuk hidup kita, melainkan bagaimana memberi faedah bagi hidup kita.
Jika kita hanya memikirkan apa yang kita peroleh atau yang kita punyai, maka hidup ini hanya merupakan sebuah living saja. Hidup kita baru menjadi life bila kita mulai belajar memberi; memberi perto­longan, memberi perhatian, memberi pengampunan, memberi waktu dan memberi diri. Itulah ukuran yang digunakan Tuhan Yesus.
Tuhan Yesus tidak bermaksud bahwa kita tidak boleh menerima. Ia juga menerima makanan yang disajikan Marta, menerima bantuan Simon Kirene untuk memikul salib.
Menjadi manusia adalah menerima dan memberi; bersedia menerima kasih dan bersedia memberi kasih, namun kedalaman dan keluhuran arti hidup terletak dalam memberi. —Prihanto Ngesti Basuki.

Ketika kamu memberi dari milikmu, kamu memberi sedikit. Ketika Kamu memberi diri, itulah pemberian yang sebenar-benarnya. –Kahlil Gibran


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 21 Maret 2011

Mari "Menderita"

Bacaan Alkitab: Roma 13:12-14
Orang yang tak dapat mengendalikan diri adalah seperti kota yang roboh temboknya.
Amsal 25:28

Konon Douglas Mc Gregor, seorang pakar psikologi manajemen, begitu yakin bahwa orang hanya bisa disiplin jika dilimpahi hadiah, atau yang lebih mujarab lagi kalau diganjar hukuman demi hukuman. Inikah yang namanya disiplin? Tidak, sesungguh-nya disiplin adalah suatu kepiawaian mengendalikan diri.
Disiplin terkadang memang keras dan menyakitkan, namun itu tidak berarti melu- mat harga diri. Disiplin justru bisa memer-dekakan jiwa yang terbelenggu, menyemai
harapan akan kebaikan, dan memancarkan kebenaran ilahi. Disiplin itu bagaikan tembok untuk melindungi diri dari emosi-emosi negatif, yang dalam Kitab Roma dikatakan sebagai “tabiat yang bersifat daging”. Disi­plin juga bukanlah seratus persen berisi penderitaan yang sarat kepahitan dan duka nestapa.
Dalam bukunya The Road Less Traveled, Scott Peck meyakini disiplin sebagai seni dan teknik menderita secara konstruktif. Bagaimana menderita secara konstruktif itu? Cara termudah adalah dengan menunda kepuasan kita. Ini berarti kita harus rela menjadwal ulang kesenangan dan ke-nikmatan hidup kita. Saat kita diet, menghindari minuman beralkohol, atau belajar hidup hemat, sesungguhnya kita sedang menunda kepuasan. Cara yang lain, kita harus berani memikul tanggung jawab. Maling teriak maling, enggan mengambil beban atau tarak risiko, sama artinya tidak disiplin, lari dari kenyataan. Kita harus lebih mendekat pada kebenaran, karena kebenaran adalah kenyataan yang membuat kita semakin tegas berurusan dengan setiap kesulitan dan penderitaan. Sudahkah kita berani mendisiplin diri tanpa harus mengingkari kenyataan hidup ini? —Agus Santosa.

Disiplin diri adalah suatu kebiasaan hidup yang membuat
hidup ini menjadi lebih indah.


==================================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 20 Maret 2011

Bersikap

Bacaan Alkitab: Pengkhotbah 1:1-11
Apa yang pernah ada akan ada lagi, dan apa yang pernah dibuat akan dibuat lagi; tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.
Pengkhotbah 1:9

Dalam sebuah perenungan yang menda­lam, Salomo sampai pada kesimpulan bahwa peristiwa-peristiwa selalu terulang dalam catatan sejarah hidup manusia. Apa yang kita alami sekarang, juga pernah dialami ma­nusia sebelumnya, hingga ia berkata, “Tak ada sesuatu yang baru di bawah matahari.” Bagi Salomo, tidak ada peristiwa-peristiwa yang terlalu besar dan istimewa yang mem­buat manusia harus mengalami guncangan hebat dalam hidup. Tak heran jika Salomo terjebak pada keyakinannya: “Segala sesuatu
adalah kesia-siaan dan usaha menjaring angin” (ayat 14).
Mungkin kesimpulan Salomo ada benarnya, bahwa banyak manusia begitu dikuasai oleh masalah hidup yang membuat mereka kelelahan dan kehilangan kegembiraan hidup. Hidup dilihat seperti seorang yang mengangkat beban berat dan setiap saat ia berusaha melepaskan beban itu. Hidup menjadi begitu melelahkan (ayat 13).
Lalu, adakah pilihan bagi kita untuk menemukan hidup yang sungguh dapat kita nikmati dan maknai? Bagi John C. Maxwell, sepuluh persen hidup adalah bagaimana kita menjalankannya, tetapi sembilan puluh persen adalah bagaimana kita menyikapinya. Tak peduli apa yang kita hadapi atau yang akan terjadi, sikap kita lebih penting dibanding dengan peristiwa atau kejadian yang kita alami.
Sikap adalah sebuah pilihan. Kita mau memilih menggerutu, marah, membiarkan diri dikuasai dan dikendalikan masalah kita, atau kita mau memaknai dan belajar tentang keteguhan hati, kesediaan menerima dan melihat hal positif di balik peristiwa-peristiwa bahkan hal-hal buruk yang kita alami? Mari bersikap! —Pdt. Meyske S. Tungka.
Menjadi bahagia dan bermakna adalah sebuah pilihan.


======================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi