Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Selasa, 08 Februari 2011

Teguran Yang Nyata

Baca: Amsal 27:5
Lebih baik teguran yang nyata daripada kasih yang tersembunyi.
Amsal 27:5
Kasih yang sesungguhnya harus dinyata­kan dalam tindakan yang nyata. Tindakan tersebut bisa berupa pemberian, pertolong-an, penghiburan, tetapi juga bisa berupa teguran. Sahabat yang sejati tidak akan membiarkan sahabatnya berjalan di jalan yang salah, yang membahayakan hidupnya di masa mendatang.
Teguran nyata diberikan kepada orang yang dikasihi supaya bertobat dan memper­baiki kesalahannya, supaya tidak tetap hi-dup dalam kesalahan yang membahayakan. Teguran itu bisa dinyatakan dengan sikap lemah lembut dan dilakukan di bawah empat mata (sendirian), tetapi dapat juga berupa teguran yang keras, bergantung pada orang yang ditegurnya.
Tuhan Yesus setelah kebangkitan-Nya pernah menegur Kleopas dan temannya yang sedang mengadakan perjalanan ke Emasus dengan per­kataan: “Hai bodoh” (Lukas 24:13-33). Ini semacam shock therapy untuk menyadarkan cara berpikir mereka yang salah tentang Mesias. Teguran yang keras yang mengagetkan perlu diberikan bagi mereka yang sulit mengubah cara berpikir yang salah.
Jika kita menerima teguran semacam itu melalui firman Tuhan atau dari sesama, kita tidak perlu tersinggung. Sebaliknya, kita malah harus bersyukur, karena teguran itu diberikan untuk kebaikan kita. —A. Budipranoto.

Doa: Ya Tuhan, berilah kami hati terbuka untuk menerima teguran,
karena setiap teguran akan mendatangkan kebaikan. Amin.

Senin, 07 Februari 2011

Aku Ingat Kepadamu ....

Baca: Kejadian 8:1-14
Maka Allah mengingat Nuh dan segala binatang liar dan segala ternak, yang bersama-sama dengan dia dalam bahtera itu, dan Allah membuat angin mengembus melalui bumi, sehingga air itu turun.
Kejadian 8:1
Beberapa kisah menunjukkan bagaimana Tuhan mengasihi umat-Nya melalui penye­lamatan, pengampunan dan jawaban atas permohonan umat-Nya. Kasih Allah di-nyatakan setelah Ia mengingat Nuh dan seisi bahteranya (Kejadian 8:1). Kisah lain, saat Sodom dan Gomora dimusnahkan, Tuhan ingat pada Abraham dan diselamatkan-Nya-lah Lot dan keluarganya (Kejadian 19:29). Demikian juga Allah ingat akan Rahel dan mengabulkan permohonannya untuk dapat melahirkan anak (Kejadian 30:22).
Semua pernyataan kasih Allah tersebut adalah karena Ia ingat akan (kasih-Nya terhadap) umat-Nya dan janji kasih-Nya. Sebaliknya, dosa-dosa umat-Nya yang begitu banyak tidak lagi diingat-ingat-Nya (Yesaya 43:23-25). Demikianlah cara Tuhan mengasihi kita: Tuhan mengingat kita, mengingat bahwa Ia mengasihi kita. Ia mengasihi kita melalui pengampunan dan penyelamatan, dan sekaligus Ia tidak mengingat-ingat dosa-dosa kita.
Semoga hati kita tersentuh oleh cara Tuhan ini. Semoga kita belajar mengasihi sesama kita dari cara Tuhan mengasihi kita: mengingat mereka dan menjadi saluran karya penyelamatan; mengingat mereka dengan pengampunan; dan tidak mengingat-ingat kesalahan mereka.
Hari ini, marilah kita memutuskan bagi seseorang, yang telah banyak berbuat salah, dan katakan dalam hati, “Aku ingat padamu dan mengam­punimu, aku tidak mengingat-ingat kesalahanmu.” —Ocky Sundari.

Kita mengasihi, karena allah lebih dahulu mengasihi kita.
–1 Yohanes 4:10

Minggu, 06 Februari 2011

Memancarkan Kebahagiaan

Baca: 1 Petrus 3:8-12
Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan...
1 Petrus 3:8-9
Siapa pun manusia akan menjadi tua. Na­mun menjadi tua dan bahagia, dalam arti menikmati masa tua dengan bahagia, adalah pilihan! Hidup bahagia ternyata pilihan, tetapi realitasnya hidup ini tidak bebas dari masalah, kesulitan bahkan penderitaan. Mencintai hidup berarti menghargai, me­melihara dan menikmati hidup pemberian Tuhan, serta menyadari bahwa hidup yang dilakoni bukanlah milik kita sendiri, me­lainkan milik Tuhan.
Firman Tuhan berdasarkan 1 Petrus 3:8-12 mengajarkan agar kebahagiaan dapat dicapai, maka kita perlu:
Pertama, menjaga lidah terhadap yang jahat dan bibir dari ucapan yang menipu. Perkataan yang positif, membangun, meneduhkan, penuh dengan kesungguhan dan kejujuran, bukan berarti mendiamkan, mem­biarkan kesalahan terus terjadi. Kedua, kita harus menjauhi yang jahat dan melakukan yang baik, menahan diri terhadap perbuatan jahat, ber-usaha berbuat baik. Ketiga, kita harus berusaha sungguh-sungguh untuk mencari dan mendapatkan perdamaian.
Dalam relasi dengan sesama, konflik sangat biasa terjadi. Antara suami-istri, orangtua-anak, mertua-menantu, saudara bersaudara, dalam rumah, dalam lingkungan bahkan dalam gereja. Perlu bagi kita untuk menangani konflik agar tidak berkepanjangan yang hanya membuahkan kebencian bahkan dendam. Meski tidak mudah melakoninya, marilah kita mengupayakannya karena kita dipanggil untuk memberkati, untuk memperoleh berkat, untuk mengupayakan kebahagiaan itu, sehingga dapat memancarkan kebahagiaan, oleh karena Tuhan yang ada dalam hidup kita ini bagi sesama di tengah-tengah dunia. —Pdt. Amalia P. E. Lalenoh.

Kebahagiaan tidak terletak di luar diriku, karena kebahagiaan
itu terletak pada Yesus Kristus yang ada di dalam diriku.

Sabtu, 05 Februari 2011

Kaidah Emas

Baca: 1 Yohanes 4:7-11
Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka kita haruslah kita juga saling mengasihi.
1 Yohanes 4:11
Tuhan menghendaki agar keseluruhan hidup kita didasarkan pada prinsip kasih. Firman Tuhan menegaskan bahwa “Allah adalah kasih” (ayat 8). Karena Dia adalah kasih, maka Dia pun mengasihi kita, bahkan sampai mengutus Putra-Nya ke dalam dunia agar kita hidup oleh-Nya (ayat 9-10). Kalau Allah telah begitu mengasihi kita, maka kita juga harus saling mengasihi (ayat 11). Dalam hal ini, barangsiapa hidup dengan saling mengasihi itu menjadi tanda bahwa ia “lahir dari Allah dan mengenal Allah” (ayat 7).
Apakah arti dan konsekuensi dari hidup saling mengasihi yang men­jadi tanda dari pengenalan akan Allah itu? Mengenai hal ini Yesus de-ngan ringkas tetapi jelas menyatakannya dalam apa yang disebut sebagai “Kaidah Emas” bagi hidup orang-orang percaya, yaitu “Segala sesuatu yang kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah demikian juga kepada mereka” (Matius 7:12). Jadi, kalau ingin orang lain berbuat baik kepada kita, kita harus berbuat baik kepadanya; kalau kita ingin orang lain jujur kepada kita, kita harus jujur pula kepadanya, dan seterusnya.
Dengan demikian, hidup saling mengasihi itu tidak tergantung pada emosi atau perasaan, yang sifatnya subjektif dan sering sesaat belaka, melainkan merupakan suatu keniscayaan yang harus terus terjadi pada setiap orang yang mengaku telah dikasihi Allah dan mengenal Allah. —Pdt. Em. Sutarno.

Barangsiapa tidak mengasihi saudaranya yang dilihatnya,
tidak mungkin mengasihi allah yang tidak dilihatnya.
—1 Yohanes 4:20

Jumat, 04 Februari 2011

Kenalilah Siapa Kita

Baca: 2 Korintus 4:1-7
Oleh kemurahan Allah kami telah menerima pelayanan ini. Karena itu kami tidak tawar hati.
2 Korintus 4:1
Apakah yang biasanya mendasari tindakan kasih (baca: pelayanan) kita kepada sesama? Besar atau kecil, kuat atau lemah, pasti kita selalu mempunyai alasan yang memotivasi kita untuk melakukan tindakan kasih itu. Dan bila kita memperhatikan biasanya mun-cul alasan-alasan pokok berikut.
Pertama, kita ingin membalas sesuatu yang diperbuat oleh orang lain sebagai ben­tuk reaksi kita atas kebaikannya. Kita akan melakukan tindakan kasih kalau orang lain sudah lebih dahulu berbuat. Kedua, kita ingin memperoleh atau menerima sesuatu dari tindakan kasih kita. Di sini berlaku hukum “kita memberi maka kita akan menerima”.
Kedua alasan dan motivasi yang disebut di atas tentu sah-sah saja dan sejauh yang kita amati, banyak sekali yang memberlakukan prinsip tersebut di sekitar kita. Karena itu kita banyak menyaksikan—atau bah­kan kita sendiri mengalaminya—banyak orang kehilangan daya dorong yang kuat untuk dapat melakukan tindakan kasih dalam pelayanan. Sebab apa yang mereka terima dan harapkan tidak terjadi sebagaimana yang diharapkan.
Rasul Paulus memperluas alasan dan motivasi ketika kita akan melakukan tindakan kasih. Paulus mulai usaha mengenal siapa dirinya di hadapan Allah, bahwa dia bukanlah apa-apa dan siapa-siapa; namun dia dijadikan oleh Tuhan menjadi seseorang yang berarti di mata Tuhan dan manusia, ini terjadi semata-mata kasih karunia-Nya. Hanya oleh kasih-karunia-Nya kita dapat melakukan tindakan kasih yang murni bukan kekuatan dan kemampuan diri kita. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, bantulah kami untuk mengenal keberadaan
diri kami di hadapan-mu, agar dengan itu kami mampu selalu
melakukan tindakan kasih, karena kami sendiri hidup
dari anugerah dan kasih-Mu. Amin.

Kamis, 03 Februari 2011

Awal Dari Cinta

Baca: Wahyu 2:1-7
Namun demikian Aku mencela engkau, karena engkau telah meninggalkan kasihmu yang semula.
Wahyu 2:4
Ada banyak orang bertanya: “Apakah tayangan di televisi dalam acara ‘Masihkah engkau mencintaiku’ sungguh-sungguh menghadirkan orang-orang yang melakon­inya atau ganti pemeran?” Jikalau benar para pelakunya, mengapa zaman ini orang sudah tidak mempunyai rasa malu, bahwa aib ke­luarganya ditonton jutaan orang di televisi. Tuhan merasa perlu untuk menegur jemaat Efesus yang sudah meninggalkan cintanya kepada Tuhan. Hari ini Tuhan juga menegur Anda, bila cintamu sudah mulai pudar.
Cinta Tuhan terlalu mahal untuk dinilai dengan apa pun. Adakah orang yang mau menggantikan hukuman yang paling berat untuk di­jalani? Tanpa syarat Yesus mau melakoni menanggung dosa kita mulai dari lahir sampai mati. Masih tegakah kita melukai hati-Nya dengan melupakan kasih-Nya yang tidak bersyarat?
Jangan menutupi keburukan kita dengan topeng pelayanan. Je­maat Efesus hebat dalam pelayanan, tetapi kehebatan itu hanya untuk menutupi kasih mereka yang semakin pudar. Bahaya besar bagi para pelayan Tuhan adalah ketika hati ini menjadi kering dan kosong tanpa cinta-Nya lagi. Segarkanlah hidup ini untuk kembali pada kasih yang semula.
Lebih baik kembali dari nol daripada meluber tetapi sia-sia. Mulai dari nol berarti siap untuk diisi kembali dengan cinta yang mula-mula. Dalam hidup pernikahan, bulan madu harus berlangsung terus sampai tua. Hal ini untuk menjaga agar pasutri tidak kehilangan cinta yang mula-mula.
Sebagai jemaat Tuhan, masih adakah kegembiraan cinta seperti ke­tika kita pertama kali dekat kepada Tuhan? Semoga masih. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Awal dari cinta harus dipelihara sampai
berakhir dengan cinta yang sama.

Rabu, 02 Februari 2011

Cintailah Seribu Kali ....

Baca: 2 Korintus 8:7-9
...Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.
2 Korintus 8:9
Satire klasik yang mengatakan: Cintailah aku seribu kali, maka aku akan mencintaimu seratus kali! rasanya tetap relevan hingga hari ini. Tentu ini sekadar sindiran terhadap orang-orang yang selalu ingin memetik ke-untungan dari setiap kali berkiprah men­jalani kehidupan ini. Ya, tentu saja termasuk dalam urusan mencintai dan dicintai. Cinta seperti komoditas yang memiliki nilai, va-lues. Namun di balik kalimat satiris ini, cinta memang memiliki nilai, ada harganya. Cinta memang berharga, bahkan sangat mulia. Tetapi tidak semua yang berharga selalu dapat dijualbelikan, termasuk cinta, tidak untuk ditransaksikan.
Cinta bukan sekadar tiupan asmara semata. Cinta memang berharga dan karenanya harus dan layak diperjuangkan. Dan, seperti itulah kasih Tuhan kepada kita, lahir dari perjuangan paling dahsyat dari seorang Anak Manusia, Yesus Kristus. Ayat emas kita menegaskan, “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya” (ayat 9).
Ini suatu pengorbanan cinta yang luar biasa! Yesus kaya, dalam arti memiliki segalanya yang tak mungkin kita miliki, oleh karena kita, Ia menjadi miskin, dalam arti Ia tidak memberikan syarat apa pun untuk mengasihi Anda dan saya! Haleluya! Sekarang apalagi yang membuat kita takut untuk lebih merapatkan diri kepada Yesus? Ia sangat rindu kita dengan sepenuh hati membalas kasih kesetiaan-Nya. —Agus Santosa.

Siapa yang lebih bodoh, seorang anak yang takut akan
kegelapan atau pria yang takut akan terang?
—Maurice Freehill

Selasa, 01 Februari 2011

Mengubah Diri Sendiri


Baca: 2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
2 Korintus 5:17
Seorang teolog pernah mengatakan: “Ketika masih muda saya adalah seorang revolusioner, jadi doa saya pada waktu itu adalah: ‘Tuhan, berilah saya tenaga untuk mengubah dunia.’ Setengah abad hampir lewat, dan saya belum berhasil mengubah satu orang pun, maka doa saya: ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah orang yang berhubungan dengan saya, yakni keluarga dan para sahabat saya.’ Ini pun tak berhasil. Sekarang saya sudah tua, hidup saya tak akan lama lagi, saya melihat betapa bodohnya saya. Maka doa saya sekarang adalah ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah diri saya sendiri.’ Ah, seandainya saya su­dah berdoa seperti ini sejak muda, maka hidup saya tidak akan menjadi sia-sia.”
Betapa sering kita seperti sang teolog. Dalam menghadapi persoalan atau atas nama pengembangan diri, kita lebih senang mengubah orang lain atau situasinya ketimbang mengubah diri sendiri.
Selagi masih dalam suasana tahun baru, di mana orang biasanya mem­buat komitmen, marilah kita membuat komitmen untuk mulai mengubah diri sendiri. Kita tak perlu menunggu sampai usia kita lanjut, berapa pun usia kita saat ini, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai mengubah diri sendiri. Kita yang ada di dalam Kristus, adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Mari memohon bimbingan Roh Kudus, untuk menunjukkan hal-hal mana dari diri kita—sikap, kebiasaan, sifat, motivasi, dan lain-lain—yang perlu kita ubah agar sesuai dengan kehendak Allah. —Liana Poedjihastuti
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna. —Roma 12:2

Mengubah Diri Sendiri

Baca: 2 Korintus 5:17
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.
2 Korintus 5:17
Seorang teolog pernah mengatakan: “Ketika masih muda saya adalah seorang revolusioner, jadi doa saya pada waktu itu adalah: ‘Tuhan, berilah saya tenaga untuk mengubah dunia.’ Setengah abad hampir lewat, dan saya belum berhasil mengubah satu orang pun, maka doa saya: ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah orang yang berhubungan dengan saya, yakni keluarga dan para sahabat saya.’ Ini pun tak berhasil. Sekarang saya sudah tua, hidup saya tak akan lama lagi, saya melihat betapa bodohnya saya. Maka doa saya sekarang adalah ‘Tuhan, berilah saya rahmat untuk mengubah diri saya sendiri.’ Ah, seandainya saya su­dah berdoa seperti ini sejak muda, maka hidup saya tidak akan menjadi sia-sia.”
Betapa sering kita seperti sang teolog. Dalam menghadapi persoalan atau atas nama pengembangan diri, kita lebih senang mengubah orang lain atau situasinya ketimbang mengubah diri sendiri.
Selagi masih dalam suasana tahun baru, di mana orang biasanya mem­buat komitmen, marilah kita membuat komitmen untuk mulai mengubah diri sendiri. Kita tak perlu menunggu sampai usia kita lanjut, berapa pun usia kita saat ini, tak pernah ada kata terlambat untuk memulai mengubah diri sendiri. Kita yang ada di dalam Kristus, adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang (2 Korintus 5:17). Mari memohon bimbingan Roh Kudus, untuk menunjukkan hal-hal mana dari diri kita—sikap, kebiasaan, sifat, motivasi, dan lain-lain—yang perlu kita ubah agar sesuai dengan kehendak Allah. —Liana Poedjihastuti
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah
oleh pembaruan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada
Allah dan yang sempurna. —Roma 12:2

Senin, 31 Januari 2011

Ketika Lonceng Berbunyi


Baca: Mazmur 138:1-8
Tuhan akan menyelesaikannya bagiku! Ya Tuhan kasih setia-Mu untuk selama-lamanya: Janganlah Kautinggalkan perbuatan tangan-Mu.-  Mazmur 138:8
Apa yang terjadi ketika lonceng terakhir di sekolah berbunyi? Anak-anak sekolah segera berkemas untuk pulang ke rumah sambil bersorak-sorai tanda sukacita. Tidak ada lagi pelajaran berikutnya.
Selesai adalah sepatah kata yang melega­kan buat orang yang sedang menghadapi masalah berat—utang menumpuk, sakit pe­nyakit, penderitaan dan banyak masalah lain. Percayalah bahwa waktunya akan datang, Tuhan akan menyelesaikan semua masalah
dalam hidup kita.
Tuhan akan menambahkan kekuatan (ayat 3). Tidak ada masalah yang selesai secara instan, namun sementara kita harus menghadapi-nya, Tuhan menambahkan kekuatan kepada kita agar tetap kuat dan tabah dalam menghadapinya. Jangan berhenti di tengah jalan. Setialah menunggu pertolongan-Nya.
Tuhan melihat dari surga pergumulan kita (ayat 6). Sebutir pasir di tepi pantai tetap ada harganya demikian pula hidup kita di tangan-Nya. Tuhan bersemayam di tempat tinggi, tetapi Ia mampu melihat ke dalaman hati kita dan menopang kita. Ketika Stefanus disiksa karena Injil, Tuhan Yesus berdiri menguatkannya (Kisah Para Rasul 7:55). Tuhan tidak tinggal diam mengetahui anak-anak-Nya dalam masalah.
Tuhan tidak pernah meninggalkan sisa masalah. Di atas kayu salib Yesus memberi contoh cara menyelesaikan masalah: “Sudah selesai”. Di tangan-Nya semua masalah diselesaikan sampai tuntas, karena Ia ingin kita hidup damai sejahtera. Yang tidak mau tuntas kadang-kadang adalah kita sendiri. Masalah disimpan sebagai luka batin. Jangan menyisakan masalah kalau Tuhan minta kita selesai. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Bagi Tuhan tidak ada kata sisa apabila Ia sudah
campur tangan untuk menyelesaikannya.

Minggu, 30 Januari 2011

Pengalaman Buruk

Baca: Yohanes 21:15-19
“Tuhan, Engkau tahu segala sesuatu, Engkau tahu, bahwa aku mengasihi Engkau.” Kata Yesus kepadanya: “Gembalakan­lah domba-domba-Ku.”
Yohanes 21:17
Apa yang harus dilakukan dengan penga-laman masa lalu yang buruk? Buang saja dan tidak perlu diingat lagi! Mungkin itu yang akan dilakukan oleh sebagian besar orang. Tetapi tidak demikian dengan Tuhan Yesus.
Yesus bertanya apakah Simon mengasihi-Nya, dan dijawab oleh Simon bahwa dia mengasihi Yesus. Ini berulang sampai tiga kali. Bukankah dengan cara ini sebenarnya Yesus sedang mengajak dan mengarahkan
Petrus pada pengalaman masa lalunya yang buruk, yaitu saat Petrus me-nyangkal-Nya sebanyak tiga kali?
Pasti bukan maksud Yesus untuk mempermalukan Petrus agar harga dirinya luluh-lantak di hadapan para murid yang lain, melainkan Ia memandang Petrus sebagai orang yang ketika itu membutuhkan peng-ampunan dan pemulihan dari masa lalunya yang buruk. Dengan masa lalu buruk yang dihadirkan kembali pada saat itu, tentu dimaksudkan agar Petrus dapat belajar, hingga tidak terulang lagi dan bisa menjalani kehidupannya dengan lebih berkualitas. Ini terbukti kelak, Petrus akhir-nya mati dan memuliakan Tuhan sebagaimana Yesus nyatakan (ayat 19). Pemulihan terhadap Petrus dilakukan Yesus dengan cara memberi tugas: “Gembalakanlah domba-domba-Ku”, yang di telinga Petrus tentu berarti lebih dari sekadar pengampunan.
Bagi kita yang mempunyai pengalaman buruk, datanglah kepada Tuhan yang bisa membuatnya menjadi pengalaman yang baik dan memulihkan. Yesus akan membangkitkan kita dari “kelumpuhan hidup” untuk bersemangat menjalani hidup, kerja dan pelayanan kita dengan lebih baik lagi. —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi
Pengalaman yang buruk dapat berubah menjadi pengalaman yang baik
tatkala kita berhasil mengambil hikmahnya dan kemudian berpengaruh positif pada kehidupan kita sekarang dan di masa depan.

Sabtu, 29 Januari 2011

Senang Berkerut

Baca: Mazmur 92:13-16
Hiasan orang muda ialah kekuatannya, dan keindahan orang tua ialah uban.
Amsal 20:29
Takut berkerut? Itu sih biasa. Tetapi kalau Anda senang memiliki wajah berkerut, itu baru langka. Chow Yun Fat, aktor asal Hong­kong, ternyata sangat bangga dengan kerutan di wajahnya. Jasmine, istrinya, mengatakan ia harus mengejar-ngejar Chow bila harus mengoleskan pelembab anti kerut di wajah suaminya. Apa komentar Chow? Pria yang kini berusia 52 tahun ini berdalih kalau se-tiap kerutan melukiskan pengalaman hidup, dan sangat berarti baginya. “Uang tidak dapat membeli kerutan,” katanya bangga. Ternyata kiatnya ini cukup berhasil. Terbukti wajahnya tetap terlihat matang dan simpatik walaupun terus menua.
Bertambahnya usia adalah hal yang wajar dan mau tak mau akan dialami semua orang. Sehebat apa pun kita berusaha merawat tubuh agar tetap muda atau “kelihatan muda lebih lama”, bertambahnya usia pasti akan membuat kekuatan fisik melemah, kulit semakin keriput, dan uban semakin banyak di kepala kita. Serangan penyakit pun akan semakin terasa seiring melemahnya daya tahan. Menjadi tua adalah kodrat semua orang. Hal yang harus kita lakukan agar tetap bahagia dan semangat menjalani hidup adalah menerimanya dengan lapang dada.
Menjadi tua bukan berarti tak lagi bisa produktif. Sebaliknya, kita justru harus semakin menjadi berkat. Chow Yun Fat dan tokoh-tokoh lainnya adalah para pribadi yang semakin tua justru semakin bersinar, karena mereka memandang usia tua bukan sebagai beban, namun sebagai pengalaman hidup yang sangat berharga. —Richard T.G.R.

Berapa pun usia kita hari ini, marilah syukuri hidup ini dengan
melakukan yang terbaik melalui talenta yang Tuhan berikan.

Jumat, 28 Januari 2011

Pulihkanlah Kami

Baca: Mazmur 80
Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.
Mazmur 80:4
Mazmur 80 ditulis oleh Asaf bin Berekhya bin Simea, keturunan bani Kehat yang di-tugaskan Daud untuk menaikkan nyanyian dan pujian di rumah Tuhan. Asaf menja-lankan tugasnya sampai Salomo mendirikan Bait Allah. Ia merasakan sendiri hidup di lingkungan Yerusalem yang tak kudus, kota berkumpulnya orang-orang multi-etnis yang tak takut Tuhan. Bait Allah dinajiskan. Darah hamba-hamba Allah ditumpahkan seperti derasnya air mengalir. Israel menjadi tahanan, dicemooh, ditindas, dilumat harga diri bangsa pilihan-Nya itu, dan Tuhan pun dicela.
Asaf mengibaratkan Israel seperti pohon anggur yang Tuhan ambil dari Mesir, ditanam di tempat yang telah Ia sediakan, berakar dan hidup subur di Yerusalem (ayat 9-10). Asaf meratap, berseru dalam mazmurnya, “Ya Allah semesta alam, kembalilah kiranya, pandanglah dari langit, dan lihatlah! Indahkanlah pohon anggur ini, batang yang ditanam oleh tangan kanan-Mu! Mereka telah membakarnya dengan api dan menebangnya; biarlah mereka hilang lenyap oleh hardik wajah-Mu!” (ayat 15-17).
Saat ini keseharian kita mungkin tak jauh berbeda dengan yang dialami Asaf. Kita mungkin hidup bersama orang-orang yang tak ta­kut Tuhan, berani melecehkan Nama Yesus Kristus dan menyangkal kebenaran-Nya. Ibadah kita dilukai, dan kehidupan iman pun dicederai. Jangan pernah menyerah, Tuhan akan memulihkan keadaan kita, yang terpenting adalah ketaatan dan kerinduan kita akan kuasa pemulihan-Nya. Mari memohon seperti Asaf berseru, “Ya Tuhan, Allah semesta alam, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat” (ayat 20).—Agus Santosa.

Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu
akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu
dan kemuliaan Tuhan barisan belakangmu. —Yesaya 58:8

Kamis, 27 Januari 2011

Senantiasa Bersyukur

Baca: Efesus 5:18-21
Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.
Efesus 5:20
Kita mengucapkan syukur kepada Tuhan untuk sesuatu yang kita miliki atau alami, biasanya kalau merasa bahwa sesuatu itu baik, berguna ataupun membuat kita sela-mat dan sejahtera. Kita mengucap syukur dan terima kasih kepada-Nya, karena per­caya bahwa Dialah yang telah membuat dan mengaruniakan sesuatu kepada kita. Sikap seperti itu sungguh baik dan tepat bahkan wajib dilakukan oleh setiap orang yang me-ngaku percaya kepada Tuhan sebagai Sumber dan Penguasa hidup ini.
Tetapi untuk hal-hal yang kita rasakan tidak mendatangkan kebaikan ataupun manfaat bagi kita, bahkan yang membuat kita menjadi menderita dan sengsara, haruskah kita mengucap syukur kepada Tuhan? Meskipun demikian, Paulus dengan tegas berseru, “Ucapkanlah syukur senantiasa atas segala sesuatu.” Segala sesuatu, artinya apa saja, termasuk yang mem­buat kita sedih dan menderita. Apakah itu tidak mengada-ada?
Seruan Paulus yang terasa tidak masuk akal itu hanya akan dapat kita pahami dan terima kalau kita menyadari dan mengaminkan kebenaran kata-kesaksiannya bahwa “Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia” (Roma 8:28). Dalam keadaan yang bagaimanapun, Tuhan dapat men­jadikan keadaan tersebut baik bagi kita. Oleh sebab itu, dalam keadaan yang bagaimanapun kita wajib mengucap syukur kepada-Nya. —Pdt.Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, kami merasa bahwa hidup kami akan semakin terbebani
oleh hal-hal yang tidak menyejahterakan kami. Karenanya, ajarlah dan
mampukan kami tetap senantiasa bersyukur kepada-Mu, karena yakin bahwa Engkau menyertai kami dan bahkan sanggup menjadikan
segala sesuatu itu untuk kebaikan kami. Amin.

Rabu, 26 Januari 2011

Pembimbing dan Penuntun

Baca: Mazmur 23:1-6
...Ia membimbing aku ke air yang tenang... Ia menuntun aku di jalan  yang benar.
Mazmur 23:2-3
Seseorang pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia hidup itu saling mem­pengaruhi satu sama lain. Dalam kekuatan saling pengaruh ini, yang punya kekuatan lebih besar—seperti pangkat, harta, tenaga dan tentu jumlah—yang cenderung akan memberikan pengaruh, sehingga perkataan­nya didengar, kehendaknya diikuti, bahkan gaya hidupnya ditiru. Itulah keniscayaan hidup pada masa sekarang ini.
Dalam kondisi kehidupan seperti sekarang, kekuatan mempengaruhi itu adanya pada pemegang kekuasaan karena punya upaya pemaksa, pada penyandang popularitas karena punya banyak pengagum, dan pada kelompok yang disebut mayoritas karena punya banyak massa. Kekuatan mempengaruhi dari mereka itu menjadi semakin efektif bekerjanya karena peran media massa, yang getol menampilkan dan menyiarkan mereka berulang kali yang pada gilirannya memberi pengaruh besar pada kehidupan masyarakat. Tanpa disadari, menjadi pembimbing dan penuntun hidup masyarakat.
Pertanyaan penting buat kita adalah, apa dan siapa yang sekarang menjadi pembimbing dan penuntun hidup kita? Pendapat, pandangan serta gaya hidup orang banyakkah? Atau yang disiarkan media massakah? Pertanyaan berikutnya, membimbing dan menuntun menuju ke manakah semua itu?
Adalah bijaksana belajar dari Daud, yang memilih menjadikan Allah sebagai pembimbing dan penuntunnya. Karena Daud tahu, kalau Allah mebimbing Ia hanya akan membimbing ke air yang tenang (tempat yang baik), dan kalau Ia menuntun Ia hanya akan menuntun di jalan yang benar. Handoyo
Kalau Ia membimbing jelas ke mana arahnya, kalau
Ia menuntun jelas di mana jalan-Nya.

Selasa, 25 Januari 2011

Pemimpin Hidup Kita

Baca: Mazmur 48:15
Sesungguhnya inilah Allah, Allah kitalah Dia seterusnya dan untuk selamanya! Dialah yang memimpin kita.
Mazmur 48:15
O Tuhan pimpinlah langkahku, Ku tak b’rani jalan sendiri.
Serta-Mu inilah doaku, Ajar ku mendekatkan diri.
Menurut firman-Mu tiap hari, Jadikan pelita dalam glap.
Mencari domba yang sesat, Itulah kerinduan jiwaku.
Sebuah lagu yang merupakan doa dan harapan kita, yang mengaku pengikut Kris­tus, dalam menjalani kehidupan ini. Dalam  dunia yang semakin memanas ini banyak hal yang harus kita lakukan di dalam pimpinan Tuhan. Jika dalam kehidupan kita Tuhan yang menjadi pemimpinnya, maka kita akan berani melangkah, menjalani kehidupan ini dengan penuh keyakinan, tanpa keraguan.
Menjadikan Tuhan sebagai pemimpin hidup kita berarti kita harus mengikuti kehendak-Nya. Kita dapat mengetahui kehendak-Nya dengan membaca firman-Nya. Firman Tuhan itulah pedoman dan pegangan kita dalam mengarungi hidup dan menghadapi segala macam tantangan dan godaan.
Firman-Nya adalah pelita yang akan menerangi jalan kehidupan yang kita lakui, sehingga kita tidak akan terjerembab apalagi tersesat. Tidak hanya itu, sebagai orang yang dipimpin Tuhan, kita juga rindu untuk dapat mencari dan menemukan kembali domba-domba yang tersesat untuk dibawa kembali kepada Tuhan Yesus.
Sudahkah kita memiliki komitmen menjadikan Tuhan sebagai pemimpin kehidupan kita? Sudahkah firman Tuhan menjadi pelita yang menerangi jalan kehidupan kita dalam bertutur dan berperilaku? Dan sudahkah kita menemukan domba kepunyaan Tuhan yang tersesat? Darmanto.

Firman-Mu itu pelita bagi kakiku dan terang bagi jalanku.
—Mazmur 119:105

Senin, 24 Januari 2011

Aliran Air

Baca: Yohanes 20:21
Sama seperti Bapa mengutus Aku, demikian juga sekarang Aku mengutus kamu.
Yohanes 20:21
Sering kita jumpai air yang tergenang dan membusuk. Kondisinya sangat tidak nya­man, bahkan mengundang banyak penyakit. Berbeda dengan aliran air yang jernih indah dipandang, akan didapati suara gemercik yang sedap dan merdu didengar.    
Pada hakikatnya misi Allah adalah peng­utusan untuk memberitakan Injil agar setiap orang menjadi percaya dan menerimanya, sehingga memperoleh keselamatan melalui pengorbanan Yesus Kristus. Keselamatan
adalah hak bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya. Kewajiban untuk meneruskannya adalah tanggung jawab bagi setiap orang yang telah menerima Injil-Nya.
Kita umat Kristen telah menerima Injil Keselamatan dari Allah sebagai anugerah. Namun tidak semuanya mengetahui bahwa Injil tidak boleh berhenti hanya sampai pada kita, melainkan harus diteruskan kepada seluruh bangsa di muka bumi. Berita Injil keselamatan dari Allah bagai­kan aliran air yang harus selalu mengalir.
Allah Bapa mengutus Tuhan Yesus, kemudian Tuhan Yesus mengutus kita orang beriman. Pengutusan dalam Matius 28:19: “Karena itu per­gilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus,” tersebut berkelanjutan yang tidak pernah berhenti. Berpartisipasi dan terlibat aktif dalam melaksana­kan Amanat Agung Kristus adalah kewajiban dan tanggung jawab kita. Jika tidak, kita akan menjadi genangan air yang membusuk kar­ena tidak mengalirkan air kehidupan yang telah mengalir dalam hidup kita. —Sumanto Mardihutomo.

Berita Injil bagaikan air kehidupan yang harus dialirkan kepada
sesama agar mereka juga memperoleh keselamatan.

Minggu, 23 Januari 2011

Tiada Yang Mustahil

Baca: Kejadian 18:10-15
Adakah sesuatu apa pun yang mustahil untuk Tuhan?...
Kejadian 18:14
Pada zaman ini masih banyak kisah ajaib yang kita dengar dan saksikan. Semua men­jadi bukti bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Tuhan akan terus menunjukkan bahwa Ia ada dan menyertai umat-Nya. Seperti kecelakaan pesawat terbang yang menghancurkan body pesawat itu, namun sebagian besar penumpangnya selamat.
Abraham dan Sara yang sudah tua, ter-nyata masih dimungkinkan untuk mempu­nyai anak. Masihkah Anda percaya bahwa mukjizat Allah juga bisa terjadi di tahun ini?
Jangan menertawakan janji dan perkataan Tuhan. Sara tertawa ketika diberi tahu bahwa dirinya akan mengandung dan mempunyai anak. Janji Tuhan tidak untuk ditertawakan, tetapi diimani bahwa bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Ketika kita menghadapi jalan buntu, cobalah berpaling kepada Tuhan untuk percaya kepada janji-janji-Nya. Janji-janji-Nya pasti digenapi.
Janji Tuhan tidak untuk disangkal, tetapi diterima dengan ber­serah. Sara penuh dengan keraguan (ayat 12-13) dan menganggap Tuhan sedang bergurau dengannya di masa tua. Janji Tuhan tidak kenal berapa umur kita, karena Tuhan mau menggenapi-Nya kapan saja dan di mana saja asal kita berserah. Berserah dan percaya bahwa janji Tuhan itu pasti (Bilangan 23:19).
Menyesuaikan waktu Tuhan akan melihat keajaiban. Tuhan ber­kata bahwa tahun depan Aku akan kembali mendapatkan Sara yang telah mempunyai seorang anak laki-laki (ayat14). Tuhan butuh waktu menyatakan kehendak-Nya agar manusia tidak kaget mengalami yang di luar kebiasaannya. Dan Sara juga butuh waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang diucapkan Tuhan. Jangan pernah berhenti untuk berharap! —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Mukjizat terjadi karena ada janji Tuhan yang pasti digenapi.

Sabtu, 22 Januari 2011

Alzheimer

Baca: Amsal 4:23-27
Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.
Amsal 4:23
Alzheimer adalah gangguan intelektual dan kemampuan kognitif yang menganggu performa sosial dan kerja. Penyakit ini biasa-nya menyerang pada usia 50 tahun ke atas. Di Amerika Serikat dan Eropa, alzheimer menjadi penyebab kematian nomor empat setelah kanker, jantung dan stroke. Tanda umum gejala alzheimer pada stadium awal adalah kemunduran konsentrasi dan daya ingat, kesulitan mempelajari hal baru, sering lupa pembicaraan atau janji, kesulitan membaca kalender dan menentukan waktu, terakhir ketidakmampuan memecahkan masalah sehari-hari. Cara sederhana dan murah untuk mencegah alzheimer adalah dengan menghindari mengkonsumsi junk food, banyak melakukan kegiatan melatih otak seperti membaca buku, mengisi teka-teki silang, dan berolahraga secara teratur untuk memper­lancar aliran darah ke otak.
Input menentukan output. Apa yang Anda masukan dalam tubuh itu pula yang akan mempengaruhi kesehatan serta performa Anda. Kalau selama ini Anda membangun tubuh jasmani dengan pola hidup sehat serta melakukan kegiatan-kegiatan positif, Anda akan menikmati hidup sampai tua dengan sehat, dan sebaliknya.
Sama seperti tubuh jasmani, kita membangun tubuh rohani dengan mengkonsumsi makanan bergizi seperti rajin membaca Alkitab, berdoa dan berpuasa. Tubuh rohani akan selalu sehat dan tak mudah lemah menghadapi badai masalah kalau kita rajin memberinya “makanan bergizi.” Namun kalau tidak teratur memberi makan tubuh rohani, tak heran kita begitu mudah jatuh saat badai masalah menghantam. Tentu kita tak ingin mengalami hal ini bukan? —Richard T.G.R.

Dengan tubuh jasmani dan rohani yang sehat kita bisa melakukan
banyak perbuatan yang memuliakan nama Tuhan.

Langkah Kita

Baca: Mazmur 37:23-26
Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.
Mazmur 37:23-24
Kalimat Tuhan menetapkan langkah-langkah orang bisa disalahmengertikan sebagai takdir, bahwa Tuhan sudah menetapkan, menentu­kan atau menggariskan jalan hidup manusia, dan manusia tidak dapat keluar dari jalan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Sehingga, manusia ibarat robot yang tinggal mengikuti program dari pembuatnya. Tentu saja bukan demikian. Kata menetapkan sebenarnya memiliki arti yang sama dengan kata: me­neguhkan, menguatkan, menegakkan, atau mengukuhkan. Ini yang membuat Mazmur 37:23-24 menjadi bermakna indah dan sangat menguatkan. Terlebih, kalau kita hubungkan dengan kehidupan Daud yang menulis Mazmur ini.
Langkah kehidupan Daud berkali-kali sempat gontai dan goyah, bahkan tersandung dan jatuh. Ia pernah terancam dibunuh, terjatuh dalam skandal seks, kehilangan anak, dan lain-lain. Tetapi, ia selalu dapat kembali bangun dan langkahnya kembali tegak. Dari mana ia bisa seperti itu? Katanya, “Tuhan menetapkan langkah-langkah orang yang hidupnya berkenan kepada-Nya; apabila ia jatuh, tidaklah sampai tergeletak, sebab Tuhan menopang tangannya.”
Kita ibarat seorang anak yang sedang belajar berjalan, dan Tuhan ada­lah sang ibu. Ketika anak terjatuh, sang ibu memegang tangan anaknya, mengangkatnya untuk berdiri dan berjalan kembali. Demikianlah Tuhan, Ia selalu siap menolong kita untuk berdiri dan berjalan kembali.
Janji firman Tuhan saat ini memberikan keyakinan kepada kita un­tuk menjalani kehidupan dengan langkah mantap, sekalipun kita tidak mengetahui apa yang akan terjadi di depan kita. Persoalannya apakah kita mau percaya? —Pdt. Yefta Setiawan Krisgunadi.

Doa: Tuhan, aku tidak tahu apa yang akan terjadi di depan. Bimbinglah
aku untuk menjalani setiap langkah kehidupanku dan melakukan yang
berkenan kepada-Mu. Aku percaya, Engkau tidak akan membiarkan
kakiku goyah. Mantapkanlah langkahku. Amin.

Jumat, 21 Januari 2011

Iman Yang Tidak Tahu

Iman yang Tidak Tahu
Baca: Pengkhotbah 2:20-25
Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan...
Pengkhotbah 2:26
Memasuki tahun 2011 ada banyak harapan dan keprihatian bercampur aduk dalam benak kita. Begitu banyak harapan yang membesarkan hati, namun banyak pula bayang-bayang gelap yang tak selalu kita mengerti. Karena itulah banyak orang suka berspekulasi dengan mencari pegangan dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertang-gungjawabkan. Namun ada pula yang mem-bangun suatu optimisme yang berlebihan de-ngan mengangkat ayat-ayat tertentu dalam Alkitab. Dan berdasarkan ayat-ayat itu, lalu orang yang merasa memahami Alkitab sering menjadi sok tahu. Ia merasa mampu menentukan bahwa Allah sedang marah atau sedang senang pada saat tertentu, bahwa Allah menyukai atau membenci orang tertentu, bahwa Allah menyetujui atau menolak model kesalehan tertentu. Orang semacam itu juga sering merasa mampu menentukan nasib manusia, siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti binasa.
Pengkhotbah agaknya menampilkan iman yang lebih rendah hati, yaitu iman yang banyak meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Bukan iman yang serba tahu, tetapi iman yang mengaku tidak tahu tentang banyak hal. Ia mengajarkan orang untuk takut kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada-Nya, tetapi Ia juga menyadari bahwa manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah. Ia memperlihatkan mana sikap hidup yang baik yang layak dipilih, dan mana yang merupakan kebodohan dan seharusnya dihindari, namun ia tidak berani menentukan nasib manusia berdasarkan perbuatan atau kesalehannya. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa rendah hati
dalam hidup beriman, dengan sikap hidup yang mau
taat pada kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2011

Tekun Dan Sabar

Baca: Kolose 1:9-12
Dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.
Kolose 1:11
Adalah wajar, apabila secara manusiwai kita memiliki kekhawatiran tertentu dalam memasuki tahun yang baru ini. Sebab, oleh perkembangan situasi dan kondisi, mungkin saja kita merasa sedang mengalami proses penurunan dan kemunduran dalam berba-gai bidang kehidupan, yang kesemuanya itu mengancam kelangsungan kesejahteraan serta keselamatan hidup kita.
Di sisi lain, sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Juru Selamat, yang telah dan pasti juga akan menyelamatkan hidup kita, kita hendaknya juga percaya bahwa Dia pasti juga, berdasarkan kuasa kemuliaan-Nya, akan memampukan kita “menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”, seperti dinyatakan Paulus kepada Jemaat Kolose. Oleh kuasa kemuliaan-Nya, kita menjadi mampu menanggung seluruh kekhawatiran dan pergumulan kita, berdasarkan keyakinan bahwa melalui ketekunan dan kesabaran kita itu, pada waktunya kita juga akan “dilayakkan mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang”, yaitu keselamatan sejati dan kekal bersama Kristus dalam Kemuliaan-Nya.
Di dalam menghadapi keadaan yang kita rasakan mengganggu dan merusak kesejahteraan serta keselamatan kita, tanpa kemampuan nyata untuk mengatasinya, yang kita perlukan adalah daya tahan untuk menjalani atau menanggungnya dengan tekun dan sabar, tanpa ke­hilangan rasa selamat dan sejahtera, karena yakin bahwa semuanya itu pasti akan berlalu, dan digantikan dengan keselamatan kekal dalam Kristus. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, kalau persoalan dan kekhawatiran kami sekarang ini
memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kami, mampukanlah kami untuk menanggungnya dengan sabar, tekun dan penuh kepasrahan kepada-Mu, tanpa harus kehilangan rasa damai sejahtera-Mu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2011

Janji Yang Hidup

Janji yang Hidup
Baca: Yohanes 14:1-14
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yohanes 14:6
Kita suka menikmati “mesin-mesin instan”, seperti ATM, HP, komputer dan sebagainya, namun kita juga sering mengeluhkan kelam­banan mereka hanya karena harus menung-gu satu dua menit saja. Singkat kata, orang menginginkan kepastian di depan mata, sekarang juga. Alat-alat dan orang-orang yang kita anggap dapat memuaskan secara instan lalu mendapat tempat istimewa di hati kita, bahkan menjadi penuntun kita; seolah-olah masa depan tak terjamin dan hidup menjadi
tidak tenang tanpa mereka. Sesungguhnya, seperti apa masa depan kita?
Semasa hidup Daud, Tuhan berjanji, “Apabila umurmu telah genap... maka Aku akan membangkitkan keturunanmu... Kasih setia-Ku tidak akan hilang daripadanya...” (2 Samuel 7:12-16). Daud lalu menaikkan doa syukur untuk pemeliharaan Tuhan atas masa lalu hingga masa depan­nya. Di masa yang berbeda, Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal...” (Yohanes 14:1-2); dan sebagai Pembimbing, Ia menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (ayat 6).
Mesin-mesin instan sering macet dan tak berkuasa atas masa depan. Namun Tuhan adalah janji yang hidup, yang tak pernah gagal. Mau­kah kita dipimpin hanya oleh janji Tuhan? —Ocky Sundari.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
—Mazmur 23:1-2