Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 21 Januari 2011

Iman Yang Tidak Tahu

Iman yang Tidak Tahu
Baca: Pengkhotbah 2:20-25
Karena kepada orang yang dikenan-Nya Ia mengaruniakan hikmat, pengetahuan dan kesukaan...
Pengkhotbah 2:26
Memasuki tahun 2011 ada banyak harapan dan keprihatian bercampur aduk dalam benak kita. Begitu banyak harapan yang membesarkan hati, namun banyak pula bayang-bayang gelap yang tak selalu kita mengerti. Karena itulah banyak orang suka berspekulasi dengan mencari pegangan dari sumber-sumber yang tidak bisa dipertang-gungjawabkan. Namun ada pula yang mem-bangun suatu optimisme yang berlebihan de-ngan mengangkat ayat-ayat tertentu dalam Alkitab. Dan berdasarkan ayat-ayat itu, lalu orang yang merasa memahami Alkitab sering menjadi sok tahu. Ia merasa mampu menentukan bahwa Allah sedang marah atau sedang senang pada saat tertentu, bahwa Allah menyukai atau membenci orang tertentu, bahwa Allah menyetujui atau menolak model kesalehan tertentu. Orang semacam itu juga sering merasa mampu menentukan nasib manusia, siapa yang pasti selamat dan siapa yang pasti binasa.
Pengkhotbah agaknya menampilkan iman yang lebih rendah hati, yaitu iman yang banyak meninggalkan pertanyaan tanpa jawaban yang pasti. Bukan iman yang serba tahu, tetapi iman yang mengaku tidak tahu tentang banyak hal. Ia mengajarkan orang untuk takut kepada Allah dan mempertanggungjawabkan perbuatannya kepada-Nya, tetapi Ia juga menyadari bahwa manusia tidak dapat menyelami pekerjaan Allah. Ia memperlihatkan mana sikap hidup yang baik yang layak dipilih, dan mana yang merupakan kebodohan dan seharusnya dihindari, namun ia tidak berani menentukan nasib manusia berdasarkan perbuatan atau kesalehannya. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami untuk senantiasa rendah hati
dalam hidup beriman, dengan sikap hidup yang mau
taat pada kehendak-Mu. Amin.

Kamis, 20 Januari 2011

Tekun Dan Sabar

Baca: Kolose 1:9-12
Dikuatkan dengan segala kekuatan oleh kuasa kemuliaan-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar.
Kolose 1:11
Adalah wajar, apabila secara manusiwai kita memiliki kekhawatiran tertentu dalam memasuki tahun yang baru ini. Sebab, oleh perkembangan situasi dan kondisi, mungkin saja kita merasa sedang mengalami proses penurunan dan kemunduran dalam berba-gai bidang kehidupan, yang kesemuanya itu mengancam kelangsungan kesejahteraan serta keselamatan hidup kita.
Di sisi lain, sebagai orang-orang yang mengaku percaya kepada Tuhan Yesus Juru Selamat, yang telah dan pasti juga akan menyelamatkan hidup kita, kita hendaknya juga percaya bahwa Dia pasti juga, berdasarkan kuasa kemuliaan-Nya, akan memampukan kita “menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar”, seperti dinyatakan Paulus kepada Jemaat Kolose. Oleh kuasa kemuliaan-Nya, kita menjadi mampu menanggung seluruh kekhawatiran dan pergumulan kita, berdasarkan keyakinan bahwa melalui ketekunan dan kesabaran kita itu, pada waktunya kita juga akan “dilayakkan mendapatkan bagian dalam apa yang ditentukan untuk orang-orang kudus di dalam Kerajaan Terang”, yaitu keselamatan sejati dan kekal bersama Kristus dalam Kemuliaan-Nya.
Di dalam menghadapi keadaan yang kita rasakan mengganggu dan merusak kesejahteraan serta keselamatan kita, tanpa kemampuan nyata untuk mengatasinya, yang kita perlukan adalah daya tahan untuk menjalani atau menanggungnya dengan tekun dan sabar, tanpa ke­hilangan rasa selamat dan sejahtera, karena yakin bahwa semuanya itu pasti akan berlalu, dan digantikan dengan keselamatan kekal dalam Kristus. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, kalau persoalan dan kekhawatiran kami sekarang ini
memang menjadi bagian tak terpisahkan dalam hidup kami, mampukanlah kami untuk menanggungnya dengan sabar, tekun dan penuh kepasrahan kepada-Mu, tanpa harus kehilangan rasa damai sejahtera-Mu. Amin.

Rabu, 19 Januari 2011

Janji Yang Hidup

Janji yang Hidup
Baca: Yohanes 14:1-14
Kata Yesus kepadanya: “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”
Yohanes 14:6
Kita suka menikmati “mesin-mesin instan”, seperti ATM, HP, komputer dan sebagainya, namun kita juga sering mengeluhkan kelam­banan mereka hanya karena harus menung-gu satu dua menit saja. Singkat kata, orang menginginkan kepastian di depan mata, sekarang juga. Alat-alat dan orang-orang yang kita anggap dapat memuaskan secara instan lalu mendapat tempat istimewa di hati kita, bahkan menjadi penuntun kita; seolah-olah masa depan tak terjamin dan hidup menjadi
tidak tenang tanpa mereka. Sesungguhnya, seperti apa masa depan kita?
Semasa hidup Daud, Tuhan berjanji, “Apabila umurmu telah genap... maka Aku akan membangkitkan keturunanmu... Kasih setia-Ku tidak akan hilang daripadanya...” (2 Samuel 7:12-16). Daud lalu menaikkan doa syukur untuk pemeliharaan Tuhan atas masa lalu hingga masa depan­nya. Di masa yang berbeda, Tuhan Yesus sendiri berfirman, “Janganlah gelisah hatimu; percayalah kepada Allah, percayalah juga kepada-Ku. Di rumah Bapa-Ku banyak tempat tinggal...” (Yohanes 14:1-2); dan sebagai Pembimbing, Ia menegaskan, “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (ayat 6).
Mesin-mesin instan sering macet dan tak berkuasa atas masa depan. Namun Tuhan adalah janji yang hidup, yang tak pernah gagal. Mau­kah kita dipimpin hanya oleh janji Tuhan? —Ocky Sundari.

Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau,
Ia membimbing aku ke air yang tenang.”
—Mazmur 23:1-2

Selasa, 18 Januari 2011

Tersembunyi Ujung Jalan

Baca: Kejadian 12:1-3; Ibrani 11:8
Karena iman Abraham taat, ketika ia dipanggil untuk berangkat ke negeri yang akan diterimanya menjadi milik pusakanya... - Ibrani 11:8
Salut kepada anak-anak muda yang berani berpisah dengan orangtua untuk sekolah di luar negeri. Mereka sebelumnya sudah pernah diajak orangtua ke luar negeri atau mengikuti program pengenalan lingkungan. Di samping itu motivasi dan cita-cita menjadi bagian dari keberanian itu. Bagaimana dengan Abram? Ia disuruh Tuhan untuk meninggalkan negeri-nya tanpa ditunjukkan ke mana tujuannya, selain janji Tuhan bahwa akan ada penyertaan dan berkat (Kejadian 12:3). Ujung jalan bisa saja tersembunyi, tetapi pimpinan Tuhan tidak pernah salah. Mau coba?
Pimpinan Tuhan seperti peta buta tetapi jelas arahan-Nya. Kadang kala kita dihadapkan pada jalan dengan peta buta. Dengan berbagai tanda tanya kita berseru: “Tuhan, mengapa ini harus terjadi?” atau “Di manakah Engkau, kenapa kami jadi begini?” Jawaban Tuhan Yesus singkat: Ikutlah Aku.” Bagaimana bila jalan tersembunyi itu harus saudara lalui ketika sakit, bermasalah dan hidup dalam penderitaan?
Pimpinan Tuhan adalah berjalan tanpa bertanya lagi. Abraham tidak perlu bertanya, cukup ditanggapi mau atau tidak mau untuk pergi. Percayalah bahwa Tuhan pasti lebih tahu. Pimpinan-Nya tidak pernah salah karena semakin banyak bertanya justru semakin membuat kita bingung sendiri. Nikmati saja perjalanan itu.
Pimpinan Tuhan perlu disikapi dengan iman dan akal budi. Beri­man bukan berarti meniadakan logika. Beriman adalah menundukkan logika di bawah kuasa-Nya. Dengan iman kita percaya, dengan logika kita memahami kehendak-Nya. Abraham beriman oleh sebab itu ia berangkat, Abraham pakai logika bahwa Allah pasti tidak pernah salah menyuruhnya untuk pergi dari negerinya. Bagaimana dengan Anda? —Pdt. Andreas Gunawan Pr.
Iman dan logika dipakai Tuhan agar manusia percaya
dan memahami karya-Nya yang besar dan ajaib.

Senin, 17 Januari 2011

Cerdik

Baca: Matius 10:16
Lihat, Aku mengutus kamu seperti domba ke tengah-tengah serigala, sebab itu hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati.
Matius 10:16
Anak-anak sering diberi dongeng tentang kecerdikan kancil yang mencuri ketimun, bertemu harimau, dan kisah-kisah lainnya. Inti pelajarannya adalah bahwa hidup kancil sukses dan terhindar dari bahaya karena kecerdikannya, padahal kecerdikan itu untuk menipu. Sayang, mungkin tanpa kita sadari, di balik cerita kecerdikan tersebut banyak kelicikan yang ikut tertanam di hati anak. Ilmu tipu-menipu akhirnya diterapkan kelak di usia dewasa. Itulah pendidikan yang diberikan oleh dunia.
Berbeda sekali dengan kecerdikanyang alkitabiah, bukan kecerdikan kancil melainkan, “Cerdik seperti ular, tulus seperti merpati.” Seekor ular mendesir lari menghindari musuh. Jika terpojok dia melingkarkan tubuh-nya seolah-olah pasrah menyerah namun apabila musuh tetap menyerang, dia akan menyerang balik membela diri juga. Kecerdikan membela diri seekor ular adalah sebuah misi apologetika untuk mempertahankan diri dari serangan musuh.
Lebih dari itu bahwa kecerdikan yang alkitabiah diimbangi dengan sebuah hati yang tulus, jujur dan penuh kedamaian, yang dilambangkan burung merpati. Kecerdikan yang alkitabiah ini yang harus diajarkan oleh orangtua dan opa oma terhadap anak dan cucu.
Cerita Alkitab semestinya dipakai sebagai bahan dasar pendidikan kerohanian bagi anak-anak. Misalnya kecerdikan Daud melawan raksasa Goliat, Daud yang berperawakan kecil dipakai Tuhan untuk menghancurkan angkara murka Goliat. Harapan ke depan agar mereka menjadi generasi penerus yang akan melaksanakan Amanat Agung Kristus. Memberitakan Injil Keselamatan bukan mewartakan kelicikan dan ilmu tipu-menipu sang kancil. —Sumanto Mardihutomo. 
Peran orangtua dan opa oma sangat penting dalam mengubah
paradigma pendidikan kepada anak dan cucu.

Panggil Aku Naomi

Baca: Rut 1
Terpujilah Tuhan, yang telah rela menolong engkau pada hari ini dengan seorang penebus....
Rut 4:14
Dalam bahasa Ibrani nama Naomi berarti menyenangkan. Suatu nama yang manis, na­mun karena pengalaman hidup yang dialami-nya Naomi berkata, “Janganlah sebutkan aku Naomi; sebutkanlah aku Mara, sebab Yang Mahakuasa telah melakukan banyak yang pahit kepadaku. Dengan tangan yang penuh aku pergi, tetapi dengan tangan yang kosong Tuhan memulangkan aku. Mengapakah kamu menyebutkan aku Naomi, karena Tu­han telah naik saksi menentang aku dan Yang Mahakuasa telah mendatangkan malapetaka kepadaku (Rut 1:20-21).
Mungkin kita bisa menangkap nada getir yang menyertai kata-kata Naomi itu. Bagaimana tidak, selama tinggal di daerah Moab, dalam kurun waktu 10 tahun, dia kehilangan suaminya, Elimelekh, dan kedua anak lelakinya, Mahlon dan Kilyon. Semula mereka berharap mendapatkan keberuntungan dengan meninggalkan Betlehem, yang pada waktu itu dilanda kelaparan, menuju daerah Moab. Ternyata justru di daerah Moab itu Naomi mengalami kehilangan yang luar biasa. Sampai akhirnya ia memutuskan kembali ke Betlehem.
Barangkali saat ini kita seperti Naomi. Perjalanan hidup kita dipenuhi oleh kepahitan dan kegetiran. Belajar dari Naomi, mari “kembali ke Betle­hem”, ke dalam rengkuhan tangan Tuhan. Naomi akhirnya mendapatkan pertolongan Tuhan dengan kelahiran Obed, ayah Isai, ayah Daud (Rut 4:14-16).
Meskipun telah mengalami banyak kepahitan, marilah kita tetap meyakini kasih setia Tuhan. Semestinya Naomi berkata: “Tetap panggil aku Naomi, sebab bersama Tuhan, yang terasa pahit sesungguhnya tetap menyenangkan.” —Liana Poedjihastuti.
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu
untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah. –Roma 8:28

Sabtu, 15 Januari 2011

Selilit

Baca: Roma 12:1-3
Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaruan budimu...
Roma 12:2
Selilit memberi rasa tak nyaman, sisa-sisa makanan membuat akhir makan yang nikmat menjadi terganggu. Selilit sering membuat mulut gerah dan lidah berge­liat kuat ingin mengusirnya. Ya, kita bisa gunakan tusuk gigi, senjata pamungkas untuk mengusir selilit. Atau kita gunakan saja perkakas modern, floss, sejenis benang khusus untuk membersihkah sela-sela gigi dari sisa-sisa makanan.
Selilit itu mengganggu, menebar rasa tak enak, bahkan bisa menimbulkan masalah bagi kesehatan gigi dan mulut. Hidup ini juga sering terselip “selilit” yang bisa menghambat diri kita. Mungkin pahit hati yang terpendam dalam akibat penindasan, pelecehan atau penolakan orang lain. Mungkin juga perkara-perkara kecil yang membuat kita jengkel dan marah, lalu menyeruakkan dendam di hati. Atau barangkali sikap munafik, sirik, iri, dengki, dusta atau niat jahat apa pun yang terselip di hati kita. Segera bersihkanlah!
Nafikanlah hal-hal buruk yang menyusup ke dalam diri kita. Perba­ruilah hati, pikiran, sikap, ucapan dan tindakan kita. Perbaruilah akal budi kita! Itulah nasihat terpenting Paulus kepada jemaat di Roma, dan juga kepada kita. Agar kita tidak serupa dengan dunia yang tak lekang oleh rancangan dan perbuatan jahat ini. Itulah sebabnya, kita diminta Paulus untuk mempersembahkan tubuh kita, tubuh yang kudus, menjadi persembahan yang hidup bagi Tuhan. Jadi, awalilah hari ini, di tahun baru ini, dengan membersihkan diri kita, agar dikenan dan benar di hadapan-Nya. —Agus Santosa.

Jalan orang benar itu seperti cahaya fajar, yang kian
bertambah terang sampai rembang tengah hari.
—Amsal 4:18

Jumat, 14 Januari 2011

Pertanda

Baca: Kejadian 8:1-22
Menjelang waktu senja, pulanglah burung merpati itu mendapatkanmu, dan pada paruhnya dibawanya sehelai daun zaitun yang segar.
Kejadian 8:11
Kegelapan membuat orang berusaha lebih keras menemukan sumber cahaya untuk mengatasi suasana gelap yang menguasai. Mungkin ini adalah “naluri alamiah” dalam diri makhluk hidup. Bahkan tumbuhan se-lalu mencari sumber cahaya untuk kelang-sungan hidupnya.
Nuh, pernah mengalami “saat-saat gelap” yang menakutkan dalam perjalanan hidup beriman. Bayangkan, semua penduduk di daerahnya mengalami musibah besar: air bah yang meliputi bumi—lebih hebat dari terjangan tsunami! Nuh bersama keluarganya harus tinggal selama berbulan-bulan di tengah hamparan air bah yang entah kapan akan surut. Sementara tidak ada manusia lain di sekitarnya yang selamat. Tentu ini bukanlah hal yang mudah, sementara ia harus memelihara binatang-binatang yang juga hidup di dalam bahtera itu. Namun Nuh teguh berpegang pada janji Tuhan, bahwa ia dan keluarganya akan tetap dipelihara. Nuh sabar menanti saatnya Allah menyatakan suatu pertanda. “Sehelai daun zaitun” yang dibawa seekor burung merpati sebagai tanda bahwa air bah mulai surut. Saat-saat yang mendebarkan dan tanpa kepastian telah berakhir.
Dalam iman, kita harus selalu yakin bahwa Allah tidak pernah mem-biarkan kita terombang-ambing dalam ketidakpastian. Jika datang saat-saat gelap, saat di mana kebimbangan begitu menguasai kita, bersabar dan bertekunlah. Nantikan dan temukanlah pertanda yang Allah nyatakan di setiap pergumulan kita. Pertanda itu menyatakan bahwa Ia ada dan terus bekerja bersama dengan kita untuk membawa kebaikan bagi setiap orang yang dikasihi-Nya (Roma 8:28). —Pdt. Meyske S. Tungka
Bersukacitalah dalam pengharapan, sabarlah dalam kesesakan,
dan bertekunlah dalam doa. —Roma 12:12

Kamis, 13 Januari 2011

Domba Yang Baik

Baca: Yohanes 10:1-4
Untuk dia penjaga membuka pintu dan dom-ba-domba mendengarkan suaranya dan ia memanggil domba-dombanya masing-masing menurut namanya dan menuntunnya keluar.
Yohanes 10:3
Untuk menunjukkan betapa besar kasih dan kepedulian-Nya kepada para pengikut-Nya, Tuhan Yesus mengumpamakan diri-Nya sebagai Gembala yang baik, yang menge-nal nama domba-domba-Nya satu per satu (ayat 3), dan yang bahkan rela memberikan nya­wa-Nya bagi domba-domba-Nya (ayat 11). Dengan pernyataan-Nya yang sedemikian itu, apakah kita masih akan meragukan kes­ejahteraan dan keselamatan hidup kita?
Di sisi lain, kesejahteraan dan keselamat-
an dari si domba juga tergantung pada seberapa jauh ia mau mendengar­kan suara Sang Gembala dan bersedia mengikuti-Nya ketika dipanggil-Nya. Domba yang tidak mempedulikan panggilan Gembalanya dan berjalan semaunya sendiri tanpa menaati tuntunan-Nya, jangan berharap akan dapat selamat. Sebab, di perjalanan yang harus dilewatinya, di situ berkeliaran “serigala-serigala” buas yang siap menerkamnya! Dengan kata lain, domba yang dijamin keselamatannya itu ialah domba yang baik, yang mau mendengarkan dan mengikuti suara-Nya.
Sebagai domba-domba yang oleh perjalanan waktu merasa semakin lemah dan rapuh dalam menjalani kehidupan ini, kita bersyukur memiliki Tuhan Yesus, Juru Selamat, yang sebagai Gembala yang baik, berkenan memanggil dan menuntun kita di jalan kesejahteraan dan keselamatan. Kepada-Nya saja kita dapat mempercayakan segala sesuatunya, demi kes­ejahteraan dan keselamatan kita. Dari kita, yang diperlukan hanyalah kesediaan untuk benar-benar mau mendengarkan suara-Nya, untuk selanjutnya mengikut Dia di jalan-Nya. —Pdt. Em. Sutarno

Penyerahan diri yang membawa keselamatan ialah
penyerahan diri yang disertai perbuatan ketaatan kepada-Nya.

Rabu, 12 Januari 2011

Ramal Meramal

Baca: Mazmur 23
Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.
Mazmur 23:1
Masihkah kita ingat, kiamat adalah topik yang ramai dibicarakan orang, ketika ditemukan ramalan suku Maya bahwa tahun 2012 akan terjadi kiamat. Tidak mau kalah soal ramal meramal, ada yang mengatakan bahwa Joyoboyo pun telah meramal bahwa tahun 2013 kiamat. Ramal meramal rupa-rupanya telah ada sejak zaman dahulu, dan sampai sekarang pun tetap masih ada dan sangat digemari. Bahkan karena rasa ingin tahu masa depan, orang tidak segan-segan  datang dan berziarah ke makam-makam orang yang dianggap punya “kepandaian”, ke tempat-tempat yang dianggap keramat, semuanya untuk tujuan kebahagiaan dan keselamatan. Bahkan ketika ingin menang taruh-an dalam pertandingan sepakbola Piala Dunia, banyak orang kehilangan akal sehat sehingga minta si Paul “Gurita” dan si nuri untuk meramal.
Ketidakpastian dan keinginan untuk mengetahui yang tidak pasti, adalah sumber dari timbulnya keinginan orang untuk ramal meramal. Ketidakpastian itu terjadi, karena orang tidak percaya bahwa “Tuhan” menyertai setiap langkah hidupnya. Ketidakpercayaan itu timbul karena dia tidak pernah bersyukur atas segala yang terjadi dalam kehidupan, dan merenungkan bahwa semua yang terjadi karena rencana Tuhan yang selalu baik.
Tahun 2010 telah lewat dan saat ini kita masuki tahun 2011. Ini be­rarti tahun 2012 atau 2013 semakin dekat. Masihkah kita takut akan ramalan yang ada, atau kita lebih memilih percaya bahwa Tuhan akan selalu beserta kita di setiap langkah kehidupan ini? —Pramudya

Kalau saat ini kita mengalami kegagalan, sedang sakit, atau mendapatkan kesuksesan atau berkat berlimpah, percayalah Tuhan sedang merencana­kan sesuatu yang indah. Kalau saat ini kita masih dapat menghirup
udara segar, percayalah itu semua bentuk penyertaan Tuhan.

Selasa, 11 Januari 2011

Tiga Dimensi

Baca: Ratapan 3:21-26
Tuhan adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.
Ratapan 3:25
Kalau kita melihat film tiga dimensi seolah-olah kita dibawa masuk ke dalam film itu. Seorang ibu penderita phobia takut keting­gian, menjerit ketika menyaksikan film di teater Keong Mas, Jakarta. Pemandangan alam Indonesia yang indah itu justru mena­kutkan karena penonton dibawa terbang untuk melihat dari dekat: kawah gunung, jurang yang dalam, tebing yang curam. Ibu itu kemudian menutup mata selama pertun­jukkan tersebut. Sayang sekali!
Adakah kita juga mengalami phobia takut menghadapi masa depan? Ikuti bimbingan Tuhan untuk menghadapi tahun 2011 ini:
Kasih setia Tuhan pasti lebih besar dari segalanya (ayat 23). Sebesar apa pun masalah kita dan segelap apa pun masa depan kita, kasih setia Tuhan masih lebih besar dari semuanya. Kasih setia-Nya seperti lautan yang tidak pernah kering. Jangan melihat dari satu sisi, lihatlah dengan tiga dimensi pasti lebih indah.
Masa depan adalah lembaran baru yang dibuka Tuhan (ayat 23). Manusia tanpa masa depan akan mengalami kemandegan dan akhirnya frustrasi. Masa depan tidak perlu ditakuti, karena Tuhan membuat apa yang di depan kita selalu baru. Temukanlah yang baru dari Tuhan, jangan takut.
Kebaikan Tuhan hanya bisa dilihat oleh orang percaya yang opti-mis (ayat 25). Berharap kepada Tuhan akan menimbulkan semangat hidup, karena Tuhan Yesus tidak berubah dari dahulu, sekarang dan selama-lamanya (Ibrani 13:8). Di balik masalah dan masa depan yang belum kita jalani, di sana ada Tuhan yang selalu memberikan yang terbaik untuk umat-Nya. Nantikan terus kebaikan-Nya. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Dalam tiga dimensi di sana ada Tuhan Yesus,
kita dan masa depan kita.

Senin, 10 Januari 2011

Menghitung Hari

Baca: Mazmur 90:1-17
Ajarilah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.
Mazmur 90:12
Mazmur yang isinya merupakan doa dari Musa ini mengajarkan sesuatu yang indah kepada kita, yang saat ini baru saja memasuki tahun yang baru. Di belakang kita membentang jalan yang sudah kita lalui. Berbagai kenangan bertaburan di sana. Sementara di hadapan kita membentang pula jalan yang seberapa panjang bakal kita lalui kita tak tahu. Tetapi yang pasti, berbagai tantangan menghadang di sana. Lalu apa yang mesti kita lakukan
dalam kondisi dan posisi seperti ini?
Mazmur ini diawali dengan pengakuan, betapa Tuhan itu kekal. Maka Dialah tempat perteduhan sejati (ayat 1-2). Kemudian disusul dengan pengakuan, betapa manusia itu fana, rapuh dan rentan kondisinya, betapa singkat dan sementara hidupnya (ayat 3-6).
Dengan menyadari ini, sepatutnya manusia mengakui ketidakberdaya-annya di hadapan Sang Maha Kekal (ayat 7-12). Tengoklah pengalaman hidup di hari-hari yang sudah lewat. Muaranya ada di satu kesimpulan, betapa sungguh kita penuh kelemahan dan ketidakberdayaan.
Kalau sekarang kita mengayunkan langkah menapaki hari-hari ke­hidupan yang membentang di hadapan, dengan berbagai ketidakpasti­annya, baiklah kita menjalaninya dengan bersandar pada kasih setia dan kemurahan Tuhan semata (ayat 13-17).
Wujudnya adalah menjalani hidup dengan menghitung hari. Bukan mencari hari, mana hari baik untuk melakukan ini dan itu. Karena dengan berbuat seperti ini justru menunjukkan keraguan kita akan kehadiran dan penyertaan Tuhan pada semua hari. Menghitung hari artinya meng­gunakan semua hari dengan sebaik-baiknya, karena semua hari itu berharga. Ini menjadikan kita orang bijaksana. —Handoyo.
Mencari hari berarti meragukan penyertaan Tuhan, tetapi menghitung
hari berarti mempercayakan diri pada penyertaan Tuhan.

Minggu, 09 Januari 2011

Menemukan Jalan

Baca: 2 Korintus 4:1-15
Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, namun tidak putus asa.
2 Korintus 4:8
Kegagalan sering menjadi alasan bagi seseorang untuk meyakinkan diri bahwa ia memang tidak punya kemampuan di suatu bidang. Kegagalan juga—oleh banyak orang —dianggap sebagai “noda” dan “cacat” da­lam perjalanan hidupnya. Pandangan dan pikiran seperti ini jelas mematikan harapan untuk bangkit.
Bagi orang tertentu, kegagalan adalah pencerahan untuk memandang dan men­emukan jalan yang lebih baik menuju keberhasilan. Sebut saja Albert Einstein, fisikawan legendaris. Tahun 1905 Universitas Bern telah menolak disertasi doktoralnya karena menganggap hasil karya Einstein menyimpang dan isinya hanyalah khayalan. Winston Churchil, pemimpin dan pahlawan Perang Dunia II Inggris, ternyata pernah tidak lulus ujian masuk Universitas Oxford. Bayangkanlah, jika mereka menghentikan langkah ketika menemukan kegagalan dalam perjuangan hidupnya. Mereka tidak pernah akan menjadi “seseorang” yang dikenal dan dikenang karya dan jasanya bagi dunia.
Paulus menyadari, bahwa penindasan, tekanan dan kegagalan dapat saja membuat mereka tidak lagi melihat jalan keluar dan mulai putus asa. Namun ia sadar sepenuhnya bahwa dari kegelapan selalu akan muncul terang (ayat 6). Inilah cara pandang orang percaya menyikapi kegelapan. Bertahanlah dan percaya, Allah akan menunjukkan cahaya terang, suatu jalan yang lebih baik menuju masa depan. Kalau kita gagal hari ini, kita masih punya hari-hari lain untuk memperbaiki dan memper­juangkan hal yang lebih bermakna. —Pdt. Meyske S. Tungka

Kegagalan hanya penghalang sesaat yang memperlambat
jalan kita menuju keberhasilan yang sesungguhnya.

Sabtu, 08 Januari 2011

Observasi, Refleksi dan Aksi


Baca: Keluaran 33:15
Berkatalah Musa kepada-Nya: “Jika Engkau sendiri tidak membimbing kami, janganlah suruh kami berangkat dari sini.”
Keluaran 33:15
Observasi adalah pengamatan atas keselu­ruhan hidup, seluruh peristiwa yang kita jalani baik suka ataupun duka, khususnya, perjalanan hidup setahun yang sudah kita lewati. Apakah banyak hal yang menyenang­kan terjadi dalam hidup kita? Apakah ada hal-hal yang menyedihkan, mendebarkan, menguras air mata terjadi dalam hidup kita? Dengan terengah-engah kita mengatasi masalah, tetapi akhirnya selamat juga. Se-karang Kalau kita kalkulasi manakah yang terbanyak mampir dalam hidup kita selama tahun 2010? Mengapa Tuhan mengizinkan semua itu terjadi? Tentu ada maksud Tuhan di dalamnya, yakni untuk membentuk kita semakin setia, dewasa, bertanggung jawab dan semakin bergantung pada Dia saja.
Refleksi adalah tahap menghubungkan pengalaman hidup dengan firman Tuhan. Pengalaman orang percaya yang melihat segala sesuatu terjadi dalam rencana Tuhan. Bimbinglah aku! merupakan ungkapan bahwa kita hanyalah manusia lemah yang selalu membutuhkan bimb­ingan-Nya, dengan terbuka dan kerendahan hati menyambut tangan Tuhan yang perkasa yang akan menuntun hidupnya. Bukan karena aku mampu dan kuat melangkah, tetapi dengan sikap yang terus berserah dan menyediakan hati pada pimpinan-Nya. Pengalaman, kepandaian bukan apa apa, kalau tidak ada penyertaan Tuhan
Aksi adalah rencana tindak lanjut dari orang percaya, tentu saja dengan komitmen baru. Seperti permintaan Musa kepada Tuhan agar mem­bimbing dan menyertai umat-Nya melangkah, mari kita juga meminta “Tuhan berjalanlah di samping kami.” —Pdt. Agus Wiyanto

Takut melangkah sendiri, tetapi merasa aman bersama
Tuhan itu adalah sikap orang beriman.

Jumat, 07 Januari 2011

Mengingat Kebaikan Tuhan

Baca: Nehemia 9:1-15
Dengan tiang awan Engkau memimpin mereka pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan  yang mereka lalui.
Nehemia 9:12
Bagi umat Israel, kebaikan Allah tak perlu dipertanyakan lagi. Sejak awal, Allah pen­cipta dan pemilik alam semesta ini telah memilih dan mengikatkan perjanjian kekal dengan nenek moyang Israel. Kesetiaan-Nya sepanjang sejarah bangsa Israel sungguh luar biasa.
Saat bangsa Israel diperbudak di Mesir, Allah menunjuk Musa untuk memimpin mereka keluar dari perbudakan dan mem­bawa mereka ke Tanah Kanaan, tanah yang dijanjikan-Nya kepada nenek moyang mereka untuk mereka miliki. Perjalanan padang gurun bukan perjalanan yang mudah, setiap saat mereka diperhadapkan dengan musuh yang mau menghancurkan me-reka. Namun kesetiaan-Nya tidak pernah berkurang dan kekuatan-Nya tidak pernah memudar sehingga semua musuh dikalahkan. Dengan tiang awan Dia memimpin mereka pada siang hari dan dengan tiang api pada malam hari untuk menerangi jalan yang mereka lalui (ayat 12). Allah bukan hanya memimpin dengan keperkasaan-Nya, Dia pun menurunkan Taurat sebagai tuntunan cara hidup umat yang berkenan kepada-Nya, ketika kelak mereka sudah menikmati Tanah Perjanjian.
Sejauh ini, kita juga telah mengalami kasih setia Allah. Mengingat kembali kebaikan Tuhan menjadi pembangkit keinsyafan akan kegagalan dan ketidaksetiaan kita, pada saat yang sama mensyukuri kebaikan Allah. Tidak pernah ada masa dalam hidup kita ketika Tuhan lupa atau ingkar janji, maka seharusnya juga tidak ada alasan bagi kita bertahan dalam kegagalan dan ketidaksetiaan. Kita harus tetap setia berjalan di belakang-Nya, mengikut Dia. —Prihanto Ngesti Basuki.

Betapa baik-Nya Engkau, Tuhan. Kasih-Mu tiada berkesudahan.
—Syair lagu Betapa Baik-Nya Engkau, Tuhan

Rabu, 05 Januari 2011

Yang Lebih Besar Akan Datang

Yang Lebih Besar akan Datang
Baca: Yesaya 30:15-18
Sebab itu Tuhan menanti-nantikan saatnya hendak menunjukkan kasih Nya kepadamu...
Yesaya 30:18
Seorang penjudi menang taruhan malam itu. Teman-temannya berkata: “Hari ini hari keberuntungan bagimu.” Ia didesak untuk bertaruh lagi malam itu dan ia pun setuju. Keesokan harinya penjudi ini pulang tanpa membawa uang sepeser pun karena malam itu juga ia kalah besar.
Umat Israel enggan bertobat karena me-reka mengandalkan kekuatan manusia dan kuda (ayat 16-17), seperti penjudi yang meng-andalkan keberuntungan dan enggan berhenti bertaruh. Kepada umat Israel Tuhan tetap nenunjukkan kasih-Nya bahwa yang lebih besar masih akan datang.
Memasuki tahun 2011 nantikanlah yang lebih besar dari Tuhan:
Kekuatan kita ada di dalam ketenangan dan percaya (ayat 15). Jangan takut menghadapi perubahan dan tantangan, tetaplah tenang dan percaya kepada Tuhan, maka ketakutan kita akan diganti dengan kekuatan untuk berani menanggung segala peristiwa dan masalah yang bakal terjadi.
Jangan mengecilkan peran Tuhan (ayat 15) karena hal itu bisa menutup pintu campur tangan-Nya. Yesus berkata: “...sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa” (Yohanes 15:5). Tuhan Allah lebih besar dari masalah kita. Kita harus mengubah diri dari merasa bisa menjadi bersama Tuhan kita bisa.
Cukup dengan kasih sayang-Nya (ayat 18). Tuhan tidak minta kita melakukan ritual yang memberatkan. Sambutlah kasih dan kepedulian-Nya, agar Ia bebas untuk menolong kita tanpa halangan. Karena yang lebih besar disediakan Tuhan dan kita diminta untuk percaya bahwa tahun ini akan lebih baik daripada yang lalu. —Pdt. AndreAs GunAwAn Pr.

Yang lebih besar akan datang bila kita mau
merasa kecil di hadapan-Nya.

Memperbaharui Manusia Lama

Baca: 2 Korintus 5:17-19
Kamu telah menanggalkan manusia lama serta kelakuannya, dan telah mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbarui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya.- Kolose 3:9-10
Tahun yang baru tidak berarti bahwa segala sesuatu juga harus baru. Memang, mungkin saja ada yang ingin menjadikan tahun baru sebagai momentum untuk membeli pakaian baru atau melakukan sesuatu yang baru. Namun pada umumnya hal-hal semacam itu tidak dianggap menjadi suatu keharusan yang dikaitkan dengan peristiwa kedatang-an tahun yang baru. Bahkan biasanya, dalam memasuki tahun yang baru, banyak hal lama yang tetap masih kita pakai dan gunakan atau lakukan. Tahun baru tidak selalu berarti dan mengakibatkan per-ubahan ataupun pembaruan-pembaruan. Dengan kata lain, tahun baru dapat saja tidak menimbulkan pengaruh apa pun dalam kehidupan.
Lain halnya dengan “kemanusiaan yang baru” sebagai akibat karya penyelamatan dan penebusan Kristus. Sebagaimana dinyatakan Paulus, kemanusiaan yang baru, di dalam dan oleh Kristus, berarti kemanusia-an yang telah meninggalkan yang lama, yang dikuasai oleh dosa, dan digantikan dengan yang baru, yang ditebus dan disucikan oleh Kristus, sehingga penuh kasih dan ketaatan kepada-Nya. Karenanya, kemanusiaan yang baru itu juga berarti selalu diperbarui secara terus-menerus, sama dengan kehendak Kristus juga secara terus-menerus harus diusahakan perwujudannya dalam kehidupan mereka yang mengaku percaya kepada-Nya. Tahun yang baru dapat saja tidak berpengaruh pembaruan apa pun. Tetapi kemanusiaan yang baru, harus melahirkan dan meng-akibatkan pembaruan-pembaruan hidup, sebagai wujud kasih dan ketaatan kepada Kristus, yang telah menjadikan manusia baru itu. —Pdt. Em. Sutarno.
Doa: Tuhan, bimbinglah kami untuk mau menanggalkan sifat-
sifat kemanusiaan lama kami yang bertentangan dengan kehendak-
Mu, dan mengenakan sifat-sifat baru yang semakin sesuai
dengan hukum-hukum-Mu. Amin.

Selasa, 04 Januari 2011

Musa

Baca: Keluaran 3:1-14
Jadi sekarang, pergilah, Aku mengutus engkau kepada Firaun untuk membawa umat-Ku, orang Israel, keluar dari Mesir.
Keluaran 3:10
Seperti biasanya, Musa bersiap untuk me-nggembalakan domba milik mertuanya, Yitro, seorang imam di Midian. Namun kali ini ia menggiring ternak milik mertuanya itu agak jauh dari biasanya, yakni sampai ke luar, ke seberang padang gurun, sampai ke Gunung Horeb, Gunung Allah (ayat 1).
Saat Musa sedang menggembalakan ternak mertuanya itulah, ia melihat peman­dangan yang mengherankan: semak duri menyala, tetapi tidak dimakan api. Karena itulah ia bermaksud memeriksa penglihatan yang hebat itu (ayat 2-3). Ketika dilihat Tuhan, bahwa Musa menyimpang untuk memeriksanya, berserulah Allah dari tengah-tengah semak duri itu kepadanya: “Musa, Musa!” Dan ia menjawab: “Ya, Allah” (ayat 4).
Dalam ayat-ayat selanjutnya, kita tahu panggilan Allah atas Musa un­tuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir. Musa menyadari beratnya tugas yang diterimanya, ditambah kemungkinan dia bukan orang yang percaya diri, maka bisa dimengerti dialog antara Allah dan Musa berjalan dengan alot. Berbagai dalih dikemukakan oleh Musa untuk menolak tu­gas itu, sampai akhirnya ia tak sanggup berkata-kata lagi, dan menerima pengutusan Allah itu. Selanjutnya, dalam perjalanan imannya, ia belajar menaati kehendak Allah dan mengandalkan kekuatan-Nya. Ia memegang janji Allah yang akan selalu menyertai umat pilihan-Nya itu.
Bagaimana dengan kita? Tugas apa yang Tuhan berikan kepada kita? Apakah selama ini kita telah menolak panggilan-Nya? Maukah kita belajar dari Musa, menerima panggilan-Nya, menaati dan mengan­dalkan Dia? Liana Poedjihastuti.

Musa, teladan ketaatan seorang hamba Tuhan.


Senin, 03 Januari 2011

Sebelum Perjalanan

Baca : Mazmur 37:1-6
Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak. - Mazmur 37:5

Setiap kali hendak menempuh perjalanan ke luar kota, saya dan istri selalu berdoa ter­lebih dahulu. Kami berdoa di rumah sesaat sebelum berangkat, atau terkadang berdoa di dalam mobil sebelum kendaraan melaju. Mungkin tidak ada yang istimewa dengan kebiasaan ini, Anda dan keluarga juga biasa melakukannya. Kita ingin berserah kepada Tuhan Yesus agar Ia menudungi kita dengan keselamatan-Nya, merahmati kita dengan sukacita, hikmat, kesehatan dan kekuatan
selama perjalanan.
Saat mengawali perjalanan hidup sepanjang tahun baru ini, alangkah indahnya jika kita memulainya dengan berserah kepada Tuhan. Di dalam Mazmur 37, Daud mengajarkan agar kita percaya sepenuhnya kepada Tuhan, melakukan yang baik, dan bergembira karena-Nya, sebab Ia senantiasa melimpahkan anugerah-Nya kepada kita (ayat 3-4). Serah­kanlah hidup kita kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, Ia akan bertindak (ayat 5).
Tuhan ingin kita berpaut pada-Nya dengan sepenuh hati, hidup menurut segala ketetapan-Nya, dan tetap mengikuti segala perintah-Nya (lihat 1 Raja-raja 8:61). Jika kita berserah kepada Tuhan, itu berarti kita memberikan diri untuk disucikan, menyerahkan diri untuk diku­duskan, dibenarkan dalam nama Tuhan Yesus Kristus dan dalam Roh Allah kita (lihat 1 Korintus 6:11). Mari serahkanlah hidup kita sepanjang tahun ini, hari demi hari, dengan sepenuh hati percaya kepada-Nya, maka Tuhan akan memunculkan kebenaran kita seperti terang, dan hak-hak kita seperti siang (ayat 6).—Agus Santosa.
Serahkanlah perbuatanmu kepada Tuhan,
maka terlaksanalah segala rencanamu.— Amsal 16:3

Minggu, 02 Januari 2011

Refleksi Tema: Tuhan, Bimbinglah Aku!

Selamat Tahun Baru! Hari baru di tahun 2011. Apakah hari ini berbeda dengan hari-hari kemarin? Mungkin ada yang merasa semuanya baru: pakaian baru, semangat dan komitmen baru. Tetapi, banyak pula yang merasa biasa-biasa saja dalam menyambut tahun baru. Semuanya masih seperti yang lalu.
Bisa dimengerti jika orang penuh harap-an memasuki tahun baru, berharap tahun ini lebih baik dari tahun yang telah berlalu. Na-
mun tak dapat dipungkiri, ada orang-orang yang pesimis, tidak lagi me-miliki harapan karena terpuruk dalam berbagai persoalan. Komitmen baru, harapan baru, atau masalah baru sekalipun, sepatutnyalah kita bersyukur karena masih diberi kesempatan memasuki tahun 2011.
Kita memang tak pernah tahu apa yang akan terjadi di tahun ini. Karena ketidakpastian ini banyak orang merasa gamang memasuki tahun yang baru. Untuk kita yang termasuk kategori ini, mari menyimak pesan Natal tahun 1939 yang disampaikan oleh raja Inggris, Raja George VI: “Kukatakan kepada pria yang berdiri di ambang tahun: ‘Berilah aku cahaya sehingga aku bisa berjalan dengan aman menuju ke tempat yang tidak kuketahui.’ Dan ia menjawab, ‘Pergilah ke kegelapan dan letakkan¬lah tanganmu pada tangan Tuhan. Maka hal itu akan lebih baik daripada cahaya dan lebih aman daripada suatu jalan yang sudah kaukenal.’”
Jika Tuhan yang membimbing kita, kita pasti dapat menjalani ta¬hun ini, harapan dan tantangannya. Oleh karena itu, marilah dengan rendah hati kita memohon, “Ya Tuhan, bimbinglah aku menjalani tahun 2011.” —Liana Poedjihastuti

Lalu Ia berfirman: “Aku sendiri hendak membimbing engkau dan
memberikan ketenteraman kepadamu. —Keluaran 33:14

Minggu, 31 Oktober 2010

Hanya Untuk Dicintai

Baca: Mazmur 127:3
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka daripada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.
Mazmur 127:3

Hati kita miris mendengar dan melihat kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kandung terhadap anak-anak mereka sendiri. Belum lama, kita dibuat terperangah oleh kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu di Jakarta Utara, terhadap putranya yang baru berusia 5 bulan, mengakibatkan kedua ta-ngan dan kaki sang putra patah. Kita tak habis pikir, apa yang bisa dilakukan seorang anak berusia lima bulan untuk membangkitkan amarah ibunya? Paling-paling dia menangis, merasa tak nyaman karena lapar atau buang kotoran. Anak yang seharusnya sedang lucu-lucunya, menggemaskan, berceloteh, dan penuh gelak tawa, harus terbaring mengenaskan.

Kadang terbersit dalam pikiran saya, jika orangtua tidak dapat memberikan kasih sayang, bahkan hanya menyakiti anak, tidakkah sebaiknya mereka tak usah memiliki anak? Bagaimana pendapat Anda?

Dari hari ke hari kekerasan terhadap anak semakin marak. Pelakunya, sayang sekali, justru lebih banyak dilakukan oleh para ibu. Tangan ibu, yang mengandung dan melahirkan, tangan yang seharusnya membelai dan memeluk dengan penuh kasih sayang, menjadi liar tak terkendali, lalu menggampar dan mengemplang.

Anakmu bukan milikmu, demikian bunyi salah satu baris puisi penyair asal Lebanon, Kahlil Gibran. Ya, anak adalah milik Tuhan yang dika-runiakan, dititipkan kepada kita. Bagi kita yang mendapat karunia itu harus menjaganya dengan sepenuh hati. Sebab ia, si buah hati, bukan sebagai aset ketika kita tua nanti, pantas menerima yang terbaik demi kebahagiaannya semata. —Liana Poedjihastuti

Anak-anak dilahirkan untuk dicintai bukan untuk disakiti.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Menjadi Teladan

Baca: Lukas 9:49-50
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:50

Apa yang Anda rasakan kalau seseorang meniru tingkah laku Anda atau sesuatu yang Anda kerjakan? Katakanlah orang tersebut meniru cara Anda bertutur kata, meniru usaha yang sedang Anda jalankan atau meniru kebiasaan Anda. Apakah Anda merasa tersinggung atau tersanjung? Kalau boleh, saya menyarankan kepada Anda untuk merasa tersanjung dan membiarkan saja orang itu meniru Anda. Kalau Anda selama ini memiliki kebiasaan yang positif seperti sopan santun dalam berkata-kata, rapi dalam cara berpakaian, rajin bekerja, atau pintar bergaul, biarkan saja orang lain meniru kebiasaan Anda karena itu berarti Anda membiarkan hidupnya menjadi semakin baik.
Perhatikan keadaan sekitar kita. Segala produk yang bermutu pasti akan segera ditiru produsen lain. Kita juga boleh meniru. Kita meniru karena kita ingin selalu belajar dan mencoba hal-hal baru.
Sebetulnya meniru adalah proses yang wajar selama kita tetap menjadi diri sendiri. Sebagai orang Kristen, kita justru harus meneladan dan meniru Tuhan kita, Yesus Kristus. Berbahagialah dan bersyukurlah kalau hidup Anda bisa menginspirasi orang lain sehingga mereka berusaha melakukan apa yang Anda lakukan.
Pertahankan terus kebiasaan dan karakter Kristus yang Anda miliki dan buang segala karakter buruk yang masih tersisa. Hidup kita di dunia ini sangat singkat, jadi berikan nilai-nilai positif dan per¬buatan yang membangun untuk orang-orang di sekitar kita sehingga dari hidup kita mereka bisa melihat karakter Kristus dan meneladaninya. —Richard T. G. R

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu
dan dalam kesucianmu.
1 Timotius 4:12

Jumat, 29 Oktober 2010

Orang Ketiga

Baca: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya.
1 Samuel 1:6

Sebutan “orang ketiga” mempunyai pengertian negatif. Mengapa? Karena sudah banyak korban akibat “orang ketiga” yang masuk da-lam kehidupan pernikahan, entah dengan cara terang-terangan, sembunyi-sembunyi bahkan dengan kuasa gelap.
Pernikahan Elkana dan Hana yang tidak dikaruniai anak, menjadi pintu masuk bagi “orang ketiga”. Hana sakit hati dengan kehadiran Penina. Akankah Hana minta cerai atau malah stres dan bunuh diri? Tidak! Cara menyiasati hadirnya “orang ketiga menurut Hana” adalah:

Jangan meninggalkan pasangan kita di tengah pencobaan. Cinta memang kuat seperti maut. Pertahankan cinta yang telah dibina mula-mula dan jangan meninggalkan pasangan kita di tengah godaan dan pencobaan. Jangan membuka peluang iblis untuk mencari waktu yang baik (Lukas 4:13). Pertahankan seni bercinta lebih hangat lagi.
Antara madu dan racun, pilihlah botolnya untuk diisi dengan cinta. Hana sakit hati karena madu yang bernama Penina lebih memberi harapan ke masa depan daripada dirinya yang tidak punya anak. Namun Hana lebih suka mencari Tuhan dan mengisi hatinya dengan cinta kepada Tuhan (ayat 10). Akankah Anda meniru Hana ketika cinta terbagi?

Kalahkan “orang ketiga” dengan doa. Siapa sangka bahwa Hana pada akhirnya juga dikaruniai seorang anak bernama Samuel? Padahal Tuhan sudah menutup kandungannya (ayat 6). Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Ketika Hana berdoa, Tuhan hadir membuka kandungannya. Dia adalah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, Ketiga-Nya yang Esa. Doa memang luar biasa kasiatnya! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Kalau harus memilih madu atau racun,
pilihlah botolnya dan isi dengan cinta Tuhan.

Kamis, 28 Oktober 2010

Nasihat Orang Tua

Baca: 1 Raja-raja 12:6-9
Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu...
1 Raja-raja 12:8

Tak lama sesudah Rehabeam dinobatkan sebagai raja menggantikan Salomo, ayahnya, Yerobeam bersama sepuluh suku Israel wilayah utara menghadap dengan permo¬honan agar raja meringankan beban rakyat yang dulu dibebankan oleh Salomo.
Rehabeam lalu meminta nasihat para orang tua yang dulu menjadi pendamping Salomo. Para orang tua tersebut, yang rupanya tahu kekeliruan Salomo, menasehatinya agar mengabulkan permohonan rakyat, agar rakyat mau tetap tunduk kepadanya. Sayang,
Rehabeam tidak mau menuruti nasihat itu, dan lebih suka mengikuti nasihat orang-orang muda sebayanya. Akibatnya, kerajaan terpecah men-jadi dua, Israel di utara dan Yehuda di selatan.

Dari kisah tersebut dapat ditarik pelajaran, bahwa orang tua, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, mampu memberikan nasihat yang tepat dalam menghadapi persoalan. Sayang, nasihat itu sering tidak dapat diterima oleh “generasi muda” yang menganggap pendapat itu kolot, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Sedangkan nasihat yang tidak diterima, dapat membuat yang memberikannya menjadi kecewa, merasa tidak dihargai, hingga enggan mengemukakan pendapat.
Meski demikian, perlu kita sadari bahwa tetap menjadi tanggung jawab para orang tua untuk menyampaikan pendapat dan nasihat kepada kaum muda mengenai apa yang diyakini benar, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Setidak-tidaknya, pendapat dan nasihat itu dapat menjadi masukan pertimbangan yang berharga untuk memperkaya dan mempertepat keputusan yang hendak dibuat. —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, karuniakan kepada kami keberanian dan kemampuan
untuk tetap menyampaikan pendapat dan nasihat yang tepat
kepada mereka yang lebih muda dari kami. Amin.

Rabu, 27 Oktober 2010

Mertua Dan Menantu

Baca: Rut 1:7-18
...sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki. Rut 4:15

Seorang pendeta menggunakan ilustrasi ini dalam khotbahnya. Anggota jemaatnya, seorang ibu, bertanya mengapa Tuhan tidak mendengarkan doanya. “Apa yang Ibu doa¬kan?” Tanya sang pendeta. “Saya doakan agar anak saya bercerai dari istrinya, sebab istrinya tidak menghormati saya, ia jahat terhadap saya,” jelas si ibu. Pendeta itu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa yang tidak punya maksud baik (Yakobus 4:3).

Saya terpekur sembari membatin, sede¬mikian buruknyakah hubungan mertua menantu, sampai menginginkan anaknya bercerai. Tidakkah si ibu berpikir, dengan perceraian, mungkin ia bahagia, tetapi, apakah putranya akan sebahagia dirinya berpisah dari istrinya?

Tak dapat dipungkiri, dewasa ini masih saja terdengar isu hubungan mertua menantu yang jauh dari harmonis. Tetapi, lihatlah Naomi dan Rut. Hubungan mereka begitu mesra. Pasti ada yang dilihat oleh Rut dari Naomi, yang membuatnya bisa menghormati dan mengasihi mertuanya itu, dan sebaliknya (Rut 1:16-17; 4:15).
Jika kita seorang mertua, apakah perkataan, dan tindakan kita penuh pengertian seperti Naomi? Jika kita seorang menantu, apakah kita mengasihi mertua kita, seperti Rut? Bagaimanapun juga kalau tidak ada dia, ibunya, tidak akan ada suami kita bukan?

Sebagai mertua, sanggupkah kita berdoa seperti Grace Crowell, “Tak ada kata-kata yang memadai untuk mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Tuhan, untuk istri putraku... Aku merelakan putraku bagi dia, aku yang telah begitu lama menyiapkan putraku dengan penuh kasih sayang untuk dia...” —Liana Poedjihastuti.

Cintai dan hormati mertuamu, jangan jahat
terhadapnya. Engkau sekarang memang seorang menantu,
tetapi besok engkau juga akan menjadi mertua.

Selasa, 26 Oktober 2010

Saudara Terdekat

Baca: Lukas 15:1-7
Lebih baik tetangga yang dekat daripada saudara yang jauh.
Amsal 27:10

Tidak dapat kita pungkiri, di zaman yang semakin modern ini orang semakin terpusat pada diri sendiri. Alasan seperti kesibukan, dan persaingan yang ketat, telah memaksa manusia untuk berpikir praktis dan efisien. Di satu sisi ini sungguh membuat hidup lebih baik dan mudah, tetapi pada sisi lain hubungan-hubungan menjadi renggang. Jadwal kerja yang padat membuat kesulitan bagi kita untuk berelasi dengan orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Sebegitu kuatkah modernisasi memaksa kita menjadi terasing satu dengan yang lain? Menurut saya, itu tergantung dari cara kita me-nikmati kehidupan ini. Seorang teman saya yang super sibuk, tetap me-miliki waktu untuk menyapa dan bercakap-cakap dengan teman-teman tetangganya.

Ternyata kita memang tak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan mereka, orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mereka adalah bagian dari proses pertumbuhan yang sehat sebagai komunitas. Pada waktu saya membaca Amsal 27:10 ini, saya teringat nasihat ibu saya: “Saudara yang terdekat adalah tetangga.”

Memang kita perlu menata hubungan dengan tetangga. Kita perlu berbagi dan menjadi bagian dalam kesukaan dan kesedihan mereka. Yesus memberi contoh tentang kegembiraan yang dibagikan oleh se-seorang yang menemukan kembali dombanya yang hilang (Lukas 15:6). Kegembiraan bersama tetangga dijadikan simbol suasana sukacita sur¬gawi. Marilah kita bagikan kegembiraan hidup di dalam Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, melalui dukungan, perhatian, dan ketulusan untuk saling membantu. —Pdt. Meyske S. Tungka.

Dalam kelebihan dan kekurangan bersama
orang lain, kita saling melengkapi.

Senin, 25 Oktober 2010

Dunia Semakin Sepi

Baca: Mazmur 71:9-12
Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.
Mazmur 71:9

Seorang pendeta berkata kepada saya bahwa mulai ada gejala di gerejanya, anak-anak muda yang datang ke gereja ternyata ada yang ber-hp-ria dan ber–facebook-ria se¬mentara pelayanan firman. Ini berarti akan tumbuh sikap tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Pemazmur yang sudah lanjut usia kha¬watir hidupnya akan mengalami kesepian di tengah keramaian karena miskinnya ke-pedulian. Bagaimana cara menumbuhkan kepedulian agar di dalam keluarga kita tetap hangat dan segar?

Ciptakan budaya menghargai yang tua atau yang berjasa. Tua dan yang purna tugas atau pensiun hampir selalu diartikan tidak berguna, tidak punya apa-apa, tidak produktif dan sebagainya. Kasih dalam ke¬luarga harus mencakup mereka yang tua. Bukankah para lansia masih termasuk warga kita.
Yang habis seharusnya diisi dengan yang baru. Zaman ini banyak produk yang bisa “diisi ulang”. Kenapa kalau yang tua sudah habis kekuat-annya, tidak diisi lagi dengan semangat baru agar tetap hidup dan tidak kecewa di hari tuanya? Adakah anggota keluarga Anda yang perlu “isi ulang”? Mintalah kepada Tuhan, dan penuhkan dengan Roh Kudus.
Kesepian hanya bisa terobati dengan cinta. Tua bukan berarti tidak lagi membutuhkan cinta. Selama masih ada hayat dikandung badan, cinta akan menyertainya. Pemazmur menjerit jangan sampai dirinya ditinggalkan. Mengalami kesepian di tengah keramaian. Tidak ada yang menyapa dan mengasihinya. Ingat kelak yang muda juga akan menjadi tua. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Kesepian positif bisa melahirkan inspirasi.
Kesepian negatif mengakibatkan jeritan hati.

Minggu, 24 Oktober 2010

Bukan Rutinitas Semata

Baca: Ibrani 9:11-14
Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh roh yang kekal telah mempersembah¬kan diri-nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan me¬nyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada yang hidup?
Ibrani 9:14

Sering kita melihat antrean di beberapa tempat misalnya di sebuah warung makan, di loket pertunjukan konser musik, di swa¬layan. Mereka rela mengantre di tempat-tempat ramai semacam itu beberapa lama untuk mendapatkan kepuasan sesaat. Mereka mengantre di warung makan yang katanya masakannya enak, sampai makanpun terasa tak nyaman karena belum habis makannya sudah ditunggui orang yang siap untuk menempati tempat duduk yang sedang kita gunakan untuk.

Makanan jasmani saja bisa membuat kita rela untuk mengantre di warung, mengapa kita tak mau untuk mencari makanan rohani yang lebih mengenyangkan kita dari kelaparan rohani kita? Mengapa kita tak memiliki kerinduan untuk pergi ke gereja demi untuk memuasakan dahaga rohani kita?

Kita mungkin punya artis idola yang membuat kita tergila-gila. Tetapi tahukah kita, mereka hanya manusia biasa yang tak layak kita puja-puja secara berlebihan. Kita memiliki Tuhan Yesus yang lebih pantas dan layak untuk kita puja dan idolakan.

Jika kita rela mengantre dengan sabar tanpa mengeluh saat di super¬market, mengapa kita tidak juga sabar untuk mendengarkan khotbah di gereja? Kita cenderung mengeluh karena khotbah terlalu panjang, padahal sehabis kebaktian di gereja kita ada acara. Kita membatasi dengan waktu yang kita tentukan sendiri. Akhirnya kebaktian belum selesai kita sudah kabur. —Sara Tee

Jadilah Kristen sejati yang tak menganggap
pergi ke gereja sebagai rutinitas semata.