Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 26 September 2011

Maukah Tetap Setia


Baca: Yesaya 59:1–3
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yesaya 59:2).

Mister X, seorang kawan lama, seolah ‘menuai badai’: kehilangan istri dan menyaksikan anaknya yang sakit keras dan semakin memprihatinkan. Sejak berkenalan dengan benda-benda magis dan para dukun beberapa tahun terakhir, banyak hal menjadi kacau dalam hidupnya, termasuk kematian istri dan penderitaan anaknya. Apakah Tuhan telah meninggalkannya? Saya percaya tidaklah demikian. Jangankan Tuhan, saudara-saudara seimanpum terus mendoakannya. Sesungguhnyalah tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menyelamatkan, tetapi dosa kitalah yang memisahkan kita dari Allah (Yesaya 59:1 – 2).
Kita bukan hendak menghakimi pengalaman Mister X ini, sebab kitapun tak dapat memastikan apakah pengalaman pahitnya merupakan akibat langsung dari keterlibatannya dengan ‘dunia perdukunan’. Namun marilah melihat ke dalam diri kita: di saat memiliki keinginan-keinginan tertentu, barangkali kedagingan kitalah yang mencobai diri kita. Firman Tuhan tidak lagi menjadi rujukan ketika kita hendak bertindak. Sebaliknya kita menjadi terlalu sibuk dan memusatkan perhatian pada keinginan-keinginan yang makin tak terkendali sehingga banyak hal yang jauh lebih penting menjadi terabaikan. Apa yang penting menurut Tuhan menjadi tidak penting bagi kita, bahkan terkadang kita anggap sebagai penghalang dalam mencapai suatu tujuan.
Firman Tuhanlahlah yang seharusnya menjadi pedoman ketika kita hendak mengambil keputusan dan bertindak. Apakah kita mau tetap setia dan tidak meninggalkan Dia? —Ocky Sundari

Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,
jauhkanlah kakimu dari kejahatan. –Amsal 4:27

Minggu, 25 September 2011

Selagi Masih Ada Kesempatan


Baca: Galatia 6:10
Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman
(Galatia 6:10).


Seorang kaya mengeluh kepada sahabatnya, “Sepertinya orang-orang tidak menyukai aku. Mereka mengatakan aku ini seorang yang egois dan kikir. Padahal dalam surat wasiatku, aku akan menyumbangkan semua milikku kepada lembaga amal.” Sahabatnya merenung sejenak, kemudian berkata, “Ceri­tera sapi dan babi berikut ini mungkin bisa menjawab keingintahuanmu.” Suatu hari, demikian sang sahabat memulai ceriteranya, seekor babi menemui seekor sapi dan meng-eluh dengan sedih. “Orang lebih ramah kepadamu karena memang kamu telah memberi mereka susu. Tetapi, mereka juga mendapat begitu banyak dariku. Mereka mendapat dagingku, bahkan kakiku juga mereka masak menjadi masakan yang sangat lezat. Meski begitu nampaknya tak seorangpun menyukaiku sebab bagi mereka aku hanyalah seekor babi.” Setelah diam sejenak sapi itu berkata, “Mungkin karena aku memberikan sesuatu pada saat aku masih hidup.”
Ceritera Willi Hoffsuemmer ini semoga menggugah kita untuk melakukan sesuatu selagi kita masih memiliki kesempatan untuk melaku­kannya. Akan datang masanya ketika kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa, saat kematian menjemput.
Banyak di antara kita yang menyimpan segala sesuatu, yang baru akan dibagi-bagikan ketika kita telah tiada. Saat ini apa yang Anda miliki? Waktu? Harta? Ketrampilan? Berikanlah dengan murah hati, jangan ditahan-tahan. Ikutilah nasihat rasul Paulus, “… selama masih ada ke-sempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” —Liana Poedjihastuti

Mari menjadi berguna, selagi kesempatan itu masih ada.

Sabtu, 24 September 2011

Jangan Ada Dusta

Baca: Bilangan 23: 13-20
Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta… Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya? (Bilangan 23:19).

Tempe bukan lagi makanan rendah dan hanya untuk kalangan sederhana. Di za­man ini tempe diyakini sebagai makanan yang bergizi. Kata “tempe” sering dipinjam untuk menyatakan kebohongan. “Esuk dele, sore tempe”, artinya pagi berupa kedelai, sore sudah berubah menjadi tempe. Lalu pada malam hari dijual sebagai tempe pe­nyet (tempe ditekan dan dibumbui pedas). Itulah sindiran untuk orang yang mudah berubah-ubah perkataan atau janji. Allah bukan manusia, apa yang disabdakan-Nya pasti terjadi.
Allah tidak berdusta dan tidak dapat didustai. Dapatkah kita me­nyembunyikan apa yang ada di dalam hati nurani kita? Manusia bisa membohongi sesamanya bahkan dirinya sendiri, namun ia tidak bisa membohongi Allah. Belajarlah dari Ananias dan Safira yang mencoba membohongi Allah namun berakhir dengan kematian (Kisah Para Rasul 5:1-11). Jangan ikuti musibah mereka!
Satunya kata dengan perbuatan, satunya mulut dengan tindakan. Kalau Allah berfirman, maka yang disabdakan pasti akan dilaksanakan- Nya. Kita yang mengamininya jangan bimbang dan ragu untuk percaya dengan sepenuh hati. Firman Tuhan bukan hanya untuk dibaca, tapi diimani sepenuh hati.
Ada berkat yang tersedia bagi yang percaya “dan apabila Dia memberkati, maka aku tidak dapat membalikkannya” (ayat 20). Yang sudah terjadi tidak bisa ditarik kembali. Yang benar-benar percaya pasti akan diberkati dan berkat itu tidak akan mungkin ditarik kembali. Allah kita konsekuen dengan yang diucapkan-Nya. Percayalah dan jangan bimbang lagi! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Orang yang hanya mencoba-coba firman Allah tidak akan pernah mendapat­kan berkat-Nya.

Jumat, 23 September 2011

Berikan Yang Terbaik

Baca: Yohanes 12:3
Maka Maria mengambil setengah kati minyak narwastu murni yang mahal harganya, lalu meminyaki kaki Yesus dan menyekanya dengan rambutnya; dan bau minyak semerbak di seluruh rumah itu (Yohanes 12:3).


Ia adalah organis sebuah gereja di Jakarta, rumahnya jauh, ditempuh dengan tiga kali naik kendaraan umum, dengan sendiri, namun dia melakukan tugasnya dengan setia. Saat bertugas ia hadir paling awal. Usianya masih 18 tahun ketika pertama kali melayani sebagai organis. Saat ini usianya 52 tahun, jadi ia telah melayani selama 33 tahun, dan tidak pernah ada kata bosan untuk terus melayani. Pekerjaannya sehari-hari adalah memberikan kursus musik dari rumah ke rumah.
Apa rahasia kesetiaan pelayanannya? Kesempatan, daya - usaha, serta doa. Itu tiga resep orang beriman. Kesempatan adalah suatu momentum yang harus dipergunakan, karena kesempatan itu tidak pernah datang kedua kalinya. Namun kesempatan itu bukan hanya faktor kebetulan, tetapi kita harus memandangnya bahwa Tuhan mau memakai kita. Siapakah si organis itu di tengah gereja besar yang penuh dengan sumber daya manusia? Tetapi ia terus berusaha meningkatkan ketrampilannya. Ia tidak minder dan merasa dirinya kecil. Dan doa adalah faktor yang tidak boleh dilupakan, karena Tuhan akan terus memperlengkapi kita, sekecil apapun talenta kita kalau mau diberikan kepadaNya.
Perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak narwastu sadar, saat itu adalah kesempatan dan ia tidak menyia- nyiakannya. Ia mengambil minyak narwastu miliknya yang mahal harganya sebagai ungkapan ka­sihNya. Meski ada orang yang mencelanya, ia tidak mundur karena ia yakin dengan apa yang diperbuatnya. Hasilnya, Yesuspun menerima apa yang dilakukannnya. —Pdt. Agus Wiyanto

Jangan terpaku pada apa yang dikatakan orang tentang diri Anda, tetapi berilah apa yang dapat Anda lakukan dalam pelayanan gereja Anda.

Kamis, 22 September 2011

Bongkar Pasang


Baca: 2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilham­kan Allah memang berman­faat untuk menyatakan kesalahan, untuk memper­baiki kelakuan…
(2 Timotius 3:16).


Manakah yang lebih diminati, firman yang penuh berkat ataukah yang siap mem­bongkar hidup? Bisa ditebak jawabannya. Kebanyakan orang lebih menyukai diberkati ketimbang membiarkan hidupnya dibong­kar. Kalau bisa tetap diberkati tapi tetap menutup rapat-rapat hidup. Artinya, kita ingin Tuhan tidak usah melihat keadaan hidup kita yang sesungguhnya.
Alkitab menjelaskan bahwa hidup yang selaras firman adalah hidup yang terbuka. Artinya tidak ada bagian hidup yang disembunyikan khususnya terhadap dosa dan kesalahan. Jika daging menutupi, maka firman membongkar.
Ketika hidup seseorang berada dalam terang firman, maka terjadi trans­formasi di dalamnya. Bagian hidup yang paling dalam dan tersembunyi diterangi dan dibarui sehingga mata jasmani dan rohani menjadi terang melihat perbedaan benar salah, baik buruk. Itulah maksud firman yang mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan (Alkitab) bermanfaat untuk menyatakan kesalahan ( 2 Timotius 3:16). Ia membongkar bagian hidup yang bertentangan dengan kebenaran dan kekudusan Tuhan. Saat firman bekerja acapkali memang tidak mudah, sakit, tersinggung, marah, dan lain-lain. Tapi bila diterima dengan hati yang tulus, inilah yang mengubah kehidupan menjadi indah dalam pandangan Tuhan. Ya, firman Tuhan tidak hanya membongkar kesalahan-kesalahan kita tetapi juga memperbaiki kelakukan (ayat 16). Firman memang melukai, tetapi seperti tangan dokter yang membuang tumor untuk menyembuhkan, fir­man mengubah hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. —SIMPEI HUGO

Hanya firman yang mampu membongkar kesalahan dan memperbaikinya.