Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 22 Agustus 2011

Bersyukur Kepada Tuhan


Baca: 1 Tawarikh 16:34
Bersyukurlah kepada Tuhan, sebab Ia baik! Bahwasanya untuk selama-lamanya kasih setia-Nya.
1 Tawarikh 16:34

Seorang janda lansia, sebut saja Ibu Berta curhat kepada saya. Secara singkat inilah curahan hatinya. Ia merasa Tuhan itu ter-kadang adil terkadang juga tidak, kadang-kadang baik, kadang-kadang tidak. “Tuhan mengambil suamiku saat aku masih muda, dua orang anak kami masih kecil, jadi aku harus bekerja membanting tulang demi ke­langsungan hidup kami. Apalagi kalau aku membandingkan dengan Ibu Titan. Pasutri lengkap, harta berlimpah dan hanya punya anak tunggal.” Katanya memelas.
Saya menguatkan ibu Berta dengan mengatakan: “Ibu, hal itu benar kalau hanya melihat hal yang tampak tanpa melihat pergumulan yang dialami setiap keluarga. Tahukah Ibu kalau ibu Titan juga memiliki per­gumulan? Ia berupaya untuk mendapatkan lebih dari satu anak. Hartanya berlimpah tetapi jauh dari suami, karena suami bekerja di kota lain. Bisa saja ibu Titan mengkalim Tuhan itu tidak adil, tidak baik karena hanya memberi seorang anak. Tetapi, ibu Titan menerima apa yang dikehendaki Tuhan atas dirinya. Ia mengikuti kedaulatan Tuhan dan yakin atas ke­baikan Tuhan bagi keluarganya. Sehingga ia bersyukur.” Mendengar itu, ibu Berta segera berkata: “Oh, begitu ya. Selama ini aku mengeluh terus karena merasa menjadi orang susah. Tetapi ternyata ada juga orang yang berkecukupan yang juga memiliki pergumulan, dan dalam pergumulan dan masalahnya, ia tidak mengeluh. Terima kasih Ibu telah membuat saya tidak berlarut menyalahkan Tuhan.”
Bagaimana sikap kita ketika menghadapi masalah? Menyalahkan Tuhan atau tetap mampu bersyukur? —Prajanti Efrayim.

Tetaplah bersyukur atas apa yang terjadi dalam hidup kita karena
yakin bahwa Tuhan baik dan tidak pernah salah.

Minggu, 21 Agustus 2011

Memiliki Yesus


Baca: Matius 6:19-20; 25-34
Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditam­bahkan kepadamu.
Matius 6:33

Seperti dikisahkan oleh Ahma, J. (Koran Lansia GKI Muara Karang No. 60 Th. XVI Maret 2011), Ibu Samsul menghadapi penyakit kanker dengan tabah, menjalani hidupnya dengan tetap bersemangat, dan bahkan melakukan tugas-tugas pelayanan-nya dengan sukacita. Ketabahan, semangat dan sukacita itu tetap ada dan menjadi bagian dari hidupnya karena ia... memiliki Yesus.
Kita sering menghubungkan berkat de-ngan keadaan yang menyenangkan secara jasmaniah, dan cenderung menganggap ke-
adaan yang sebaliknya sebagai kesulitan, ujian atau malahan cobaan dalam hidup, serta kurang memaknainya sebagai maksud Tuhan yang membawa berkat. Namun sikap Ibu Samsul di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya memiliki Yesus merupakan berkat yang lebih dari cukup. Pada hari ini kita diingatkan oleh firman Tuhan, “Tetapi kumpulkanlah bagimu harta di surga; di surga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya” (ayat 20).
Memiliki Yesus adalah berkat yang tak terbandingkan karena tak habis dimakan bancana ataupun luruh oleh waktu. Pengalaman Ibu Samsul memiliki Yesus memberikan ketabahan, semangat dan sukacita. Walau­pun harus hidup bersama suatu penyakit ataupun penderitaan, memiliki Yesus adalah suatu berkat: bukan hanya ketabahan, semangat dan su­kacita, melainkan juga keselamatan abadi. Dan dengan demikian, marilah kita meyakini dan mengatakan “amin!” untuk sabda Tuhan, “Tetapi carilah dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu” (ayat 33). —Ocky Sundari.

Sebab Kerajaan Allah bukanlah soal makanan atau minuman,
tetapi soal kebenaran, damai sejahtera dan sukacita
oleh Roh Kudus. —Roma 14:17

Sabtu, 20 Agustus 2011

Menelusuri Lorong Berkat

Baca: Ulangan 28:2
Segala berkat ini akan datang kepadamu dan menjadi bagianmu, jika engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu.
Ulangan 28:2


Seseorang yang mendapatkan kesuksesan dalam hidupnya biasanya pernah menga­lami pengalaman pahit di masa lalu. Tak ada ke-suksesan besar yang datang kepada seseorang dengan begitu saja. Ada banyak pelajaran dan pengalaman yang menyertai kesuksesan tersebut.
Sebagian besar tokoh sukses dunia be­rangkat dari bawah. Mereka merangkak dan belajar banyak hal, berusaha memahami dan melakukan hal-hal yang diperlukan untuk mencapai sukses. Banyak kepahitan yang mereka lalui. Meski demikian, mereka memilih untuk tidak menyerah pada krikil-krikil tajam yang menyertai perjalanan hidupnya, dan tetap berusaha melakukan segala sesuatu dengan sebaik mungkin.
Meski memerlukan waktu yang panjang dan jalan yang berliku, mereka menyadari bahwa sesungguhnya semua kepahitan yang dialami tersebut merupakan perwujudan rencana Tuhan yang secara langsung atau tak langsung dipergunakan untuk membentuk mereka menjadi orang yang sukses. Mereka mau mendengarkan suara Tuhan. Hari demi hari, mereka mencari petunjuk-Nya dan melaksanakannya, dan pada akhirnya mereka merasakan hasilnya. Berkat Tuhan hadir dalam hidup mereka.
Saat ini barangkali kita sendiri tengah mengalami banyak masalah dan hal-hal yang kurang menyenangkan. Tetapi, janganlah kita terburu-buru menyerah dan jangan berhenti percaya pada penggenapan janji berkat Tuhan. Ketika kita mau mendengarkan petunjuk-Nya, limpahan berkat akan datang kepada kita. Selayaknya kita menggunakan ber­kat tersebut untuk menjadikan diri kita lebih baik. —Suryo Pratomo Santoso.

Berusahalah untuk mengikuti petunjuk-Nya, maka

Jumat, 19 Agustus 2011

Negeri Kita Yang Baik

Baca: Ulangan 8:6-10
Sebab Tuhan, Allahmu, membawa engkau masuk ke dalam negeri yang baik.
Ulangan 8:7


Bulan ini kita merayakan kemerdekaan yang ke-66. Sebelum merdeka, kita pernah dijajah oleh bangsa-bangsa lain. Mengapa? Karena negeri kita kaya. Mereka menjajah, agar da-pat merampas kekayaan kita. Itulah sebabnya, selama dalam penjajahan, rakyat kita tidak dapat memanfaatkan kekayaan negerinya sendiri, sehingga kehidupannya tidak dapat berkembang sebagaimana mestinya. Kini kita telah terbebas dari penjajahan bangsa lain, sehingga dapat mengatur diri sendiri menurut kehendak dan keinginan sendiri, termasuk dalam memanfaatkan kekayaan negeri kita.
Pertanyaannya, apakah kehidupan rakyat kita sekarang sungguh-sungguh telah menjadi lebih baik ketimbang dahulu? Sebagian kecil dari rakyat, kehidupannya sekarang ini memang sudah begitu baik dan maju, tidak kalah dengan bangsa-bangsa lain. Tetapi, bagian terbesar rakyat kita, kehidupan sosial, ekonomi dan politik pada hakikatnya masih tidak jauh berbeda dengan zaman penjajahan dahulu. Penuh persoalan dan penderitaan. Ironisnya, kalau dahulu penyebabnya adalah keserakahan bangsa lain, kini penyebabnya keserakahan bangsa sendiri!
Menghadapi kenyataan seperti itu, kita sebagai umat Tuhan percaya, bahwa bangsa kita telah dikaruniai Tuhan dengan suatu negeri yang be­gitu baik, sehingga harus selalu ingat dan mematuhi firman-Nya untuk “berpegang pada perintah Tuhan, dengan hidup menurut jalan yang ditunjukkan-Nya dan dengan takut akan Dia” (ayat 6). Sebagai bagian dari bangsa kita, kita perlu mengingatkan bangsa kita akan perintah-Nya itu, melalui perbuatan keteladanan dan doa, agar seluruh rakyat “tidak akan kekurangan apa pun”. —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, kasihani, ampuni, dan tobatkanlah bangsa kami,
sehingga damai-sejahtera-Mu dapat kami nikmati. Amin.

Kamis, 18 Agustus 2011

Tidak Tahu Berterima Kasih


Baca: Lukas 6:35
...Ia baik terhadap orang-orang yang tidak tahu berterima kasih dan terhadap orang-orang jahat.
Lukas 6:35

Borok di kaki pemuda itu sangat besar dan dalam. Luka itu tidak hanya menimbulkan rasa nyeri, tetapi juga membuat pemuda itu harus menggunakan tongkat ketika berjalan. Begitulah, dengan tertatih-tatih ia datang ke balai pengobatan setiap hari untuk diobati. Suster di balai pengobatan itu dengan telaten membersihkan nanah lukanya, mengganti perban, dan membubuhkan penisilin ter-baik. Pada waktu itu penisilin masih jarang, dan tentu saja mahal harganya. Setelah sebu­lan, suster itu memberi tahu si pemuda bahwa ia tak perlu datang lagi, karena boroknya sudah sembuh. Tentu Anda berpikir pemuda itu akan sangat berterima kasih untuk semua yang telah dilakukan suster itu bukan? Alih-alih berterima kasih pemuda itu malah berkata: “Apa yang akan suster berikan kepadaku karena aku telah setia datang ke balai pengobatan setiap hari?”
Mengejutkan? Memang, ceritera yang dikisahkan Frank Mihalic ini membuat kita tertegun, terheran-heran, menghela napas, dan menge­lus dada. Barangkali ada yang menyeletuk. “Kok ada orang seperti itu, bukannya berterima kasih.”
Apakah di antara kita ada yang demikian? Kita sudah diberkati setiap hari dengan udara, sinar matahari, waktu secara cuma-cuma. Belum lagi berkat jasmani dan rohani lainnya. Terlebih, keselamatan dari Tuhan Yesus yang rela mati bagi kita. Tapi ketika kita beribadah dan berdoa, kita masih saja selalu meminta ini dan itu, lupa berterima kasih. Ironisnya, kita juga mengatakan: “Aku sudah melayani Tuhan, lalu apa balasan Tuhan kepadaku?” Astaga! —Liana Poedjihastuti.

Doa: Terima kasih ya Tuhan, Engkau tetap baik kepada kami,
walaupun kami sering tidak tahu berterima kasih. Amin.

Rabu, 17 Agustus 2011

Berkat Yang Tersendat

Baca: Hagai 1:1-11
Itulah sebabnyalangit menahan embunnya dan bumi menahan hasilnya.
Hagai 1:10

Kelaparan adalah burung gagak, demikian kalimat dalam puisi W.S. Rendra. Burung ga-gak adalah lambang kematian. Burung gagak akan datang di mana ada bangkai tergeletak. Kelaparan menjadi momok bagi setiap orang. Oleh kuasa Tuhan, kelaparan bisa terjadi seperti yang dialami umat Israel pada zaman Nabi Hagai. Mereka sibuk tanpa peduli lagi dengan hal-hal yang rohani. Rumah-rumah pribadi dibangun sementara Rumah Tuhan dibiarkan runtuh. Apakah memang ada kaitan antara kedekatan dengan Tuhan dan berkat-berkat yang kita terima setiap hari?
Yang utama dilupakan, yang pribadi diutamakan. Tidak ada orang yang melarang kita maju dan sukses kalau memang mampu. Namun yang Tuhan kehendaki adalah perhatian kita pada hal-hal yang rohani masih tetap berjalan. Kadang orang menjadi lupa Tuhan bila keadaan sudah mapan dan semua lancar. Tuhan bisa membalikkan keadaan bila kita lupa kepada Sang Pemberi berkat.
Berkat bisa tersendat kalau kita lupa beribadah. Pada akhir ibadah, umat menerima berkat Tuhan melalui pelayan Tuhan. Apakah kita tahu arti berkat Tuhan itu? Seminggu lamanya kita bekerja dan berkat itu akan terus menaungi kita. Oleh sebab itu jangan lupakan hari-hari di mana kita beribadah.
Rumah Tuhan adalah tempat Tuhan menyediakan berkat-Nya. Ketika umat membiarkan Rumah Tuhan runtuh, ternyata berimbas pada perekonomian mereka juga hancur. Berkat bisa datang dari mana saja, tetapi sumber berkat itu ada di dalam Rumah Tuhan di mana dua atau tiga orang berkumpul atas nama Tuhan, maka Tuhan Yesus ada di sana. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Bahtera hidup akan menjadi oleng kalau
berkat Tuhan tersendat.