Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 17 Juli 2011

Pantang "Habis Akal"

Baca: Lukas 5:17-19
Karena mereka tidak dapat membawanya masuk berhubung dengan banyaknya orang di situ, naiklah mereka ke atap rumah, lalu membongkar atap itu, dan menurunkan orang itu dengan tempat tidurnya ke tengah-tengah orang banyak, tepat di depan Yesus.
Lukas 5:19

Dari kisah orang lumpuh yang diusung oleh teman-temannya ke depan Yesus agar disembuhkan dari sakitnya, kita memper­oleh pelajaran yang sangat berharga menge-nai pentingnya solidaritas dan kepedulian terhadap sesama yang menderita. Orang yang lumpuh tidak mungkin datang sendi-ri kepada Yesus. Ia membutuhkan bantuan orang lain. Untunglah ada sekelompok orang yang memiliki solidaritas dan kepedu­lian akan penderitaannya, sehingga secara bersama-sama rela membantunya, dengan mengusung dia ke hadapan Yesus. Ternyata usaha mereka tidak mu­dah dan mengalami hambatan serius. Oleh banyaknya orang yang mengerumuni Yesus, mereka tidak dapat membawanya ke hadapan-Nya. Namun mereka tidak menyerah oleh keadaan. Dengan cara yang tidak biasa dan bahkan cukup nekat, mereka naik ke atap, menjebolnya, dan menurunkan orang lumpuh itu tepat di depan Yesus. Maka tertolonglah orang itu.
Di dalam hidup ini ada begitu banyak orang sengsara dan menderita, yang tidak mampu keluar dari penderitaan mereka itu, kalau tidak di-bantu oleh orang lain. Untuk itu pertolongan yang dibutuhkan dapat diberikan secara perseorangan, tetapi sering harus dilakukan secara bersama-sama oleh kelompok. Selain itu, di dalam memberikan perto­longan, sering muncul berbagai hambatan dan rintangan. Dalam hal ini, kita jangan cepat-cepat berhenti berupaya menolong, karena dikalahkan oleh hambatan-hambatan itu. Kita harus kreatif mengatasi keadaan, dan bahkan kalau perlu agak nekat demi tertolongnya orang yang menderita! —Pdt. Em. Sutarno.

Kita, secara sendiri maupun bersama, terpanggil untuk memberikan
pertolongan kepada yang membutuhkan, tanpa harus menyerah
pada hal-hal yang menghambatnya.

Sabtu, 16 Juli 2011

Senandung Usia Senja

Baca: Ayub 7:1-21
Aku jemu, aku tidak mau hidup untuk selama-lamanya. Biarkanlah aku, karena hari-hariku hanya seperti embusan napas saja.
Ayub 7:16


Kehidupan ini unik dan penuh misteri. Merekah dan berfantasi; namun meredup dan bervariasi. Andai Tuhan Sang Pemilik kehidupan menyebarkan angket pilihan, pasti setiap manusia memilih tetap belia sepanjang hayat. Sebab, usia senja menim-bulkan beragam masalah. Tidak heran, ahli susuk dan ahli kosmetik andal sering kali diburu demi melawan bahkan menunda masa tua. Ini senapas dengan syair Chairil Anwar bahwa manusia ingin tampil bugar untuk hidup seribu tahun lagi.
Namun cerita Alkitab ternyata kontras dengan beragam fantasi itu. Kisah Ayub dalam bacaan ini memaparkan apa adanya kehidupan itu. Hidup memang berat dan membosankan. Berat menapaki usia serta jenuh menelusuri lika-likunya. Senja hari tua seakan meredup dan se-nandungnya pun hanyalah sayup-sayup. Kehadiran para sahabatnya tanpa arti, selain menghakimi dan memvonis. Atas nama motivasi dan kepentingan, Elifas, Bildad, Sofar dan Elihu mengacaukan konsentrasi Ayub. Sampai-sampai Allah juga menjadi sasaran pelampiasan emosi-nya (bandingkan Ayub 10:1-22). Pertanyaannya, di manakah Allah saat badai melanda? Pada kisah lanjutan Ayub, Allah menuntun sampai ia dipertemukan dengan berkat-berkat-Nya.
Pedihnya kehidupan akan menjadi hari kemarin dan masa lalu; jika setiap umat beriman terus menggemakan senandung imannya kepada Allah yang Mahasetia dan Mahapeduli. Karena itu, senandungkanlah kidung syukur kala usia senja, dan bagikanlah pengalaman tersebut kepada sesama sehingga mereka pun berpengharapan kepada Allah saat badai melanda. —Simon Herman Kian.

Senandungkanlah keindahan hidup di sepanjang usia, maka hari-hari kehidupan Anda akan berarti bagi Allah dan sesama.

Jumat, 15 Juli 2011

Tuhan, Engkau Di Mana?


Baca: Nahum 1:2-8
Tuhan itu baik; Ia adalah tempat pengungsian pada waktu kesusahan;ia mengenal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.
Nahum 1:7

Kitab Nahum memberi gambaran yang lengkap tentang siapakah Allah. Allah bisa hadir sebagai sosok yang cemburu dan pem-balas (ayat 2), tetapi sekaligus Allah juga hadir sebagai Tuhan yang panjang sabar dan besar kuasa-Nya (ayat 8). Allah bisa berada dalam puting beliung dan badai, tetapi Ia juga Tuhan yang baik. Oleh sebab itu ja-nganlah bertanya: Tuhan, Engkau di mana? Tuhan ada di mana-mana dan sekalipun murka, Ia tetaplah Tuhan yang baik. Ketika kenyataan dan keadaan berubah menjadi
badai yang menakutkan, lakukanlah hal-hal ini:
Larilah hanya kepada Tuhan karena di sana ada tempat peng-ungsian. Musibah meletusnya Gunung Merapi memaksa pemerintah setempat mendirikan tenda-tenda pengungsian. Di sanalah penduduk merasa aman dari bencana. Ke manakah kita lari mencari pengungsian ketika badai hidup datang tiba-tiba? Jangan lari ke mana-mana, larilah hanya kepada Tuhan Yesus saja. Pasti aman dan ada damai sejahtera.
Percayalah ada jaminan bahwa Tuhan mengenal kita. “Ia menge-nal orang-orang yang berlindung kepada-Nya.” Ke mana kita lari ke sana-lah masa depan kita ditentukan. Kita lari menjauh dari Tuhan atau mendekat kepada-Nya?
Tuhan berkuasa melakukan di luar kemampuan kita. “...menye-berangkan mereka pada waktu banjir” (ayat 8). Banjir membuat orang panik dan menyerah pada keadaan. Tuhan sanggup menolong di saat kita panik dan tidak tahu lagi apa yang harus kita perbuat. Bagi Tuhan, banjir dan badai adalah masalah kecil. Yang penting jangan mengecilkan Tuhan agar kuasa-Nya menjadi nyata. —Pdt. Andreas Gunawan Pr.

Berpikir positif bahwa Tuhan itu baik akan membuat sikap
kita positif ketika menghadapi badai kehidupan ini.

Kamis, 14 Juli 2011

Menderita Itu Anugerah

Baca: Filipi 1:29
Sebab kepada kamu dikaruniakan bukan saja untuk percaya kepada
Kristus, melainkan juga untuk menderita untuk Dia.
Filipi 1:29


Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari berbagai macam masalah baik yang berasal dari keluarga, orang lain mau­pun masyarakat. Sering kali masalah ini menyebabkan penderitaan bagi kita.
Pendertiaan yang dimaksud di sini bukan disebabkan oleh dosa kita, melainkan karena iman kita kepada Tuhan Yesus Kristus.
Kita berusaha melakukan hal-hal yang benar, baik, dan penuh kasih, tetapi justru tak jarang kita malah mendapat perlakuan yang tidak menyenangkan, ditolak, dikucilkan, dan dicemooh yang semua itu bisa mengakibatkan kita stres. Dan apabila tidak kuat iman kita bisa mencari pelarian ke hal-hal yang justru akan semakin membawa kita menderita.
Saat ini sebagai orang percaya kita diingatkan oleh nasihat Rasul Paulus bahwa penderitaan karena Dia merupakan karunia dari Tuhan. Penderitaan juga merupakan proses pemurnian iman kita. Kita dihibur­kan ketika mengetahui bahwa menderita bagi Kristus bersifat sementara dan itu akan mendatangkan kemuliaan bagi kita.
Dengan menahami makna penderitaan karena Kristus tersebut, maka kita dapat bersyukur dan menerimanya dengan penuh sukacita. Kita menghadapi penderitaan sebagai kehendak Allah dan meneladani sikap Kristus yang juga menderita. Memang tidak mudah mengambil sikap demikian, namun dengan kekuatan Kristus, kita akan mampu menanggungnya dan pada akhirnya semua itu akan menjadi berkat bagi kita, sesama dan kebesaran nama-Nya. —Teguh Pribadi.

Doa: Tambahkanlah iman kami, ampuni orang-orang
yang bersalah kepada kami. Amin.

Rabu, 13 Juli 2011

Jangan Bersungut-sungut

Baca: Bilangan 14:26-30
Dan janganlah bersungut-sungut, seperti yang dilaku­kan oleh beberapa orang dari mereka, sehingga mereka dibinasakan oleh malaikat maut.
1 Korintus 10:10


Konon dikisahkan seorang kaisar Romawi sedang mempersiapkan pesta akbar dan mengundang banyak orang. Tetapi sayang, pada hari H, terjadi badai dahsyat hingga tak seorang pun datang ke pesta akbar itu. Kaisar bersungut-sungut dan marah kepada Dewa Badai yang dianggapnya sebagai biang kerok ketidakhadiran para tamunya. Sang kaisar lalu memerintahkan para serdadunya untuk menembakkan anak panah ke udara menye-rang Dewa Badai sebagai balas dendam. Tentu saja anak panah itu turun kembali ke bumi bahkan melukai para serdadunya.
Gerutuan, keluhan, omelan dan sungut-sungut kita ibarat anak panah yang diarahkan kepada Tuhan. Anak panah itu akan kembali kepada kita dan mencelakakan diri kita sendiri.
Ambillah pelajaran dari bangsa Israel. Mereka begitu mudah dan sering bersungut-sungut. Ketika mereka ingin minum di Mara, air di situ rasanya pahit, mereka lantas bersungut-sungut (Keluaran 15:24). Ketika mereka kelaparan, mereka bersungut-sungut (Keluaran 16:1-3). Mereka juga bersungut-sungut ketika harus berhadapan dengan suku Enak, yang berperawakan raksasa (Bilangan 13:33; 14:3). Dan masih banyak hal lagi yang membuat mereka bersungut-sungut. Akibatnya Tuhan menghukum mereka. Mereka tidak akan masuk tanah perjanjian, yang berusia dua puluh tahun ke atas akan mati di padang gurun, kecuali Kaleb bin Yefune dan Yosua bin Nun (Bilangan 14:27-30).
Orang Israel lebih melihat kesulitan lalu bersungut-sungut daripada melihat berkat-berkat Tuhan lalu mensyukurinya. Bagaimana dengan kita? —Liana Poedjihastuti.

Dalam keseharian, kita lebih mudah bersungut-sungut
atau bersyukur?