Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Sabtu, 09 Oktober 2010

Kasih Bapa

Baca: Lukas 15:11-32
...ketika ia masih jauh, ayahnya telah melihatnya, lalu tergeraklah hatinya oleh belas kasihan. ayahnya itu berlari mendapatkan dia lalu merangkul dan mencium dia.
Lukas 15:20

Hari berganti minggu, minggu berganti bulan, entah sudah berapa lama ia menunggu, tanpa lelah, tanpa bosan. Setiap hari de-ngan setia dinantinya kedatangan anaknya yang merantau entah ke mana. Sebenarnya hatinya terluka ketika anak bungsunya itu pergi meninggalkan rumah, meninggal-kan dirinya dengan membawa semua uang bagiannya. Ia punya sejuta alasan untuk tidak lagi mencintai anaknya itu, tetapi hati seorang ayah, mana sanggup berbuat seperti itu. Meski hatinya terluka, cinta-nya terhadap anaknya tak mungkin pudar.

Ia tak bisa membencinya. Bagaimanapun dia tetap anaknya. Jadi dinantinya sang anak kembali. Ia yakin anaknya pasti kembali suatu saat nanti... nanti... tetapi kapan? Besok, lusa, setahun lagi? Tak ada kepastian. Tetapi sang bapa setia menunggu dengan sepenuh harapan, cinta dan ampunan.

Barangkali saat ini kita adalah orang tua yang sedang menunggu “kep¬ulangan” anak kita. Anak kita sedang dalam masalah besar, menunggu pertobatan. Mungkin kita sebut dia bengal menurut ukuran kita atau tidak berbakti. Apakah kita telah kehilangan cinta kepada anak kita sendiri? Bagaimanapun cinta orang tua kepada anaknya harusnya seperti cinta Allah Bapa kepada kita, manusia berdosa. Walau kita sesat, Dia masih bersabar dan mencintai. Allah Bapa tidak bisa membenci kita karena hakikat-Nya adalah cinta (1Yohanes 4:8). Dia tidak bisa menarik cinta-Nya, sama seperti bunga melati yang tak bisa menghentikan wangi aromanya bagi mereka yang jahat. Semoga kita dirahmati cinta seperti kasih Allah Bapa kita. —Liana Poedjihastuti

Pokok Doa: bagi orang tua dan anak-anak yang
sedang dalam pergumulan masalah.

Jumat, 08 Oktober 2010

Gelas Retak

Baca: Efesus 4:32
Tetapi hendaklah kamu ramah seorang terhadap yang lain, penuh kasih mesra dan saling mengampuni, sebagaimana Allah di dalam Kristus telah
mengampuni kamu.
Efesus 4:32

Dalam suatu hubungan terkadang tidak bisa kita hindarkan adanya konflik. Demiki¬an juga halnya dengan hubungan dalam ke¬luarga. Banyak hal dapat menjadi penyebab keretakan sebuah hubungan, mulai dari yang sepele sampai ke hal-hal yang kompleks.

Sebagian orang mengatakan bahwa jika sebuah hubungan sudah retak, maka tidak¬lah mungkin diperbaiki lagi, seperti sebuah gelas yang retak tidaklah mungkin diper¬baiki menjadi seperti semula. Pendapat ini menunjukkan pandangan hidup orang yang cenderung pesimis.
Bagi orang yang optimis, akan melihat dari sudut pandang yang ber-beda. Keretakan dalam suatu relasi tidak semata-mata dilihat sebagai sebuah akhir dari relasi itu sendiri. Keretakan sebuah relasi bagi mereka dianggap sebuah peringatan yang dapat lebih mempererat relasi dan pemberian makna yang lebih dalam dari relasi itu.
Memang benar, seperti sebuah gelas retak tidaklah mungkin akan kembali seperti semua. Sekalipun dilem atau dilas kembali pasti akan ada bekas-bekasnya. Tinggal bagaimana memberikan nilai lebih dan sentuhan-sentuhan yang halus dan indah, sehingga bekas dari keretakan itu justru akan memancarkan sebuah keindahan dan harmonisasi.

Demikian juga halnya dengan relasi dalam kehidupan kita. Salah satu hal yang dapat merekatkan kembali relasi yang telah retak adalah adanya kerelaan untuk mengampuni. Memang mengampuni adalah hal yang tidak gampang dilakukan, tetapi dengan mengingat bahwa kita telah diampuni oleh Kristus, maka kita pun wajib saling mengampuni. —Darmanto

Dengan saling mengampuni kita akan mengukir
keindahan hidup yang kita jalani bersama.

Kamis, 07 Oktober 2010

Modal Kita

Baca: 1 Korintus 12:12-26
Jadi mata tidak dapat berkata kepada tangan: “Aku tidak membutuhkan engkau.” Dan kepala tidak dapat ber¬kata kepada kaki: “tidak membutuhkan engkau.”
1 Korintus 12:21

Mengunjungi dokter gigi adalah hal yang menakutkan bagi saya, membayangan rasa sakit, ngilu, dan suara bor yang semakin memusatkan pikiran ke gigi yang sedang bermasalah. Tetapi menjalani perawatan gigi sungguh dapat mengingatkan betapa kehadiran dokter gigi sangat kita butuhkan. Demikian juga kehadiran orang-orang lain, tukang masak, atau penjual sayur yang lewat setiap pagi. Mereka memang tidak menentu¬kan hidup mati kita, tetapi bukankah dalam beberapa hal sesungguhnya kita membutuh¬kan kehadiran mereka?

Untuk dapat makan malam pada waktunya, kadang-kadang kita harus mempercayakan tugas memasak kepada tukang masak, dengan harapan ia menggunakan bahan-bahan yang layak makan. Demikian juga kepada penjual sayur, kita punya harapan ia akan lewat depan rumah pagi ini dengan membawa sayur. Alangkah repotnya bila kita harus menyelesai¬kan segala urusan sendiri tanpa kehadiran orang lain! Oleh karena itu kehadiran orang-orang lain di sekitar kita memang perlu mendapatkan penghargaan yang cukup. Rasanya tak ada ungkapan yang lebih jelas selain: Kita sungguh saling membutuhkan. Keindahannya terletak pada makna yang terkandung di dalamnya, yaitu kepercayaan, pengharapan dan penghargaan.

Hari ini marilah kita melihat bagaimana kita menjalin hubungan dengan setiap orang yang ada dalam lingkaran kehidupan kita: kelu¬arga, sahabat, kolega, saudara seiman, siapa pun. Apakah kita punya “modal”, yaitu kepercayaan, pengharapan dan penghargaan untuk membuktikan bahwa kita saling membutuhkan? —Ocky Sundari

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk saling mempercayai,
menaruh pengharapan dan memberi penghargaan, karena
sesungguhnya kami saling membutuhkan.
Amin.

Rabu, 06 Oktober 2010

Menjadi Penolong

Baca: Kejadian 2:21-22
Dan dari rusuk yang diambil Tuhan allah dari manusia itu, dibangun-nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.
Kejadian 2:22

Tuhan menciptakan penolong yang se-padan dari tulang rusuk pria untuk meleng¬kapi dan menyempurnakannya dalam hidup berkeluarga. Adalah benar yang dikatakan oleh Dale S. Hadley dalam puisinya ini: Women was created from the rib of man. Not from his head to be o bove him. Not his feet to be walked upon. From his side to be equal. Near his arm to be protected. And close to his heart to be loved.
Apa fungsi tulang rusuk? Fungsinya untuk melindungi organ tubuh yang lebih lemah seperti jantung dan paru paru. Perempuan diciptakan dari tulang rusuk laki-laki, maka perempuan harus men¬jalankan fungsinya sebagai penolong, karena tidak selamanya laki-laki itu tegar dan kuat menghadapi kerasnya arus kehidupan dan ketika bergumul dengan masalah. Sesungguhnya laki-laki membutuhkan penolong ketika ia bergumul dengan pekerjaan, mengalami krisis ekonomi, ancaman PHK, bahkan ketika memasuki usia yang semakin uzur.

Pertama: Jadilah penolong bukan perongrong. Perongrong adalah orang yang selalu tidak puas dengan apa yang ada. Sudah mempunyai rumah, kok kecil, lalu minta rumah yang megah dan mentereng.

Kedua: Jalankan fungsi Anda sebagai tulang rusuk bukan untuk menusuk dengan kata kata yang pedas dan menyerang kelemahan pa-sangan Anda yang menyudutkan.

Ketiga: Angkatlah orang lain dengan tangan yang perkasa. Sebab tangan perempuan adalah tangan yang terampil melakukan sesuatu mulai dari urusan dapur sampai dengan mengurus dan mendampingi anak dan suami. Niscaya pasangan Anda akan merasakan kehadiran Anda yang bermakna. —Pdt. Agus Wiyanto

Suami membutuhkan penolong, yaitu istrinya,
yang selalu hadir di sisinya, memberikan
pertimbangan yang bermakna.

Selasa, 05 Oktober 2010

Cinta Kanak-kanak

Baca: Maleakhi 2:13-16
Dan janganlah orang tidak setia terhadap istri dari masa mudanya.
Maleakhi 2:15

Seorang ahli pernikahan mengatakan, jika suami-istri mau menjalin keharmonisan, maka mereka harus kembali ke masa kanak-kanak. Artinya, jangan malu-malu untuk memperlakukan pasangannya seperti te¬man bermain di masa kecil. Anak-anak bisa cepat marah, tetapi bisa cepat pulih dan bermain lagi seperti sediakala. Kembali ke masa kanak-kanak dalam hidup berkeluarga artinya:

Tidak melupakan Tuhan yang telah mempersatukan pernikahan. Allah yang Esa telah membuat suami-istri menjadi satu bagaikan daging dan roh. Dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Apakah keharmonisan dalam hidup keluarga kita masih seperti daging dan roh, tidak bisa dipisahkan satu terhadap yang lain?

Hidup tanpa dipengaruhi oleh hal-hal yang jahat dan merusak. Anak-anak kebanyakan masih polos, apa adanya dan kalaupun berbuat yang nakal itu pun karena ketidaktahuannya. Berbeda dalam hidup berke¬luarga yang tahu banyak tentang “abc-nya hidup” ini. Ingatlah bahwa kita semua adalah keturunan ilahi (ayat 15). Oleh sebab itu keluarga kita harus mencerminkan sifat-sifat Allah. Jangan melakukan hal-hal yang mempermalukan Allah.

Miliki cinta yang tulus dan setia. Cinta kanak-kanak adalah cinta yang tulus dan setia. Setiap kali ada bahaya, anak akan lari kepada orang tuanya.Kedekatannya menggambarkan ketulusan dan kesetiaannya. Keluarga Kristen seharusnya tidak lari ke mana-mana bila ada masalah. Larilah kepada Tuhan dan jadikan pasangan hidup kita sebagai teman berbagi. Cinta yang tulus dan setia harus dipertahankan sejak menikah. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Rumah tangga akan seperti tempat bermain dan
taman rekreasi bila kita bisa sehidup semati.

Senin, 04 Oktober 2010

Mengenal Kitab Suci

Baca: 2 Timotius 3:14-17
Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci.
2 Timotius 3:15

Timotius adalah salah seorang murid Paulus yang sangat disayang dan dipuji-pujinya, karena sifat dan sikapnya sebagai pengikut Kristus yang taat dan setia, termasuk kese-diaannya untuk ikut menderita bersama Paulus demi Kristus. Adalah sangat menarik, bahwa selain mengemukakan sifat dan sikap Timotius yang amat terpuji itu, Paulus juga menekankan kenyataan bahwa dari kecil, Timotius “sudah mengenal Kitab Suci”. Dengan demikian, Paulus hendak mene¬kankan bahwa Timotius memiliki sifat dan sikap yang terpuji tersebut karena sejak kecil ia telah mengenal, yang berarti juga mengetahui, isi Kitab Suci yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Bahwa Timotius sudah mengenal Kitab Suci sejak kecil, pasti tidak terlepas dari pendidikan yang diterimanya di dalam keluarganya. Ke¬nyataan ini memberi pelajaran dan bukti bagi kita, betapa penting peran keluarga dalam melaksanakan pendidikan keimanan melalui pengenalan akan isi Alkitab. Oleh sebab itu, kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, agar pengenalan akan isi Alkitab melalui kehidupan dan kegiatan keluarga itu dapat terlaksana. Memang, mungkin kita diper¬hadapkan dengan berbagai kendala dan kesulitan. Namun percayalah, kalau hal itu sungguh-sungguh kita akui sebagai hal yang amat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan keimanan kita, pasti akan kita dapatkan jalan keluarnya. Yang penting dan menentukan, harus ada kemauan! —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, ciptakanlah dalam kehidupan dan
kegiatan keluarga kami, saat-saat untuk lebih mengenal
dan mendalami isi Kitab Suci-Mu. Amin.

Minggu, 03 Oktober 2010

Debat

Baca: 2 Timotius 3:14-17
Ingatlah juga bahwa dari kecil engkau sudah mengenal Kitab Suci.
2 Timotius 3:15

Timotius adalah salah seorang murid Paulus yang sangat disayang dan dipuji-pujinya, karena sifat dan sikapnya sebagai pengikut Kristus yang taat dan setia, termasuk kese-diaannya untuk ikut menderita bersama Paulus demi Kristus. Adalah sangat menarik, bahwa selain mengemukakan sifat dan sikap Timotius yang amat terpuji itu, Paulus juga menekankan kenyataan bahwa dari kecil, Timotius “sudah mengenal Kitab Suci”. Dengan demikian, Paulus hendak mene¬kankan bahwa Timotius memiliki sifat dan
sikap yang terpuji tersebut karena sejak kecil ia telah mengenal, yang berarti juga mengetahui, isi Kitab Suci yang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.

Bahwa Timotius sudah mengenal Kitab Suci sejak kecil, pasti tidak terlepas dari pendidikan yang diterimanya di dalam keluarganya. Ke¬nyataan ini memberi pelajaran dan bukti bagi kita, betapa penting peran keluarga dalam melaksanakan pendidikan keimanan melalui pengenalan akan isi Alkitab. Oleh sebab itu, kita perlu berusaha dengan sungguh-sungguh, agar pengenalan akan isi Alkitab melalui kehidupan dan kegiatan keluarga itu dapat terlaksana. Memang, mungkin kita diper¬hadapkan dengan berbagai kendala dan kesulitan. Namun percayalah, kalau hal itu sungguh-sungguh kita akui sebagai hal yang amat penting bagi pertumbuhan dan perkembangan kehidupan keimanan kita, pasti akan kita dapatkan jalan keluarnya. Yang penting dan menentukan, harus ada kemauan! —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, ciptakanlah dalam kehidupan dan
kegiatan keluarga kami, saat-saat untuk lebih mengenal
dan mendalami isi Kitab Suci-Mu. Amin.

Sabtu, 02 Oktober 2010

Sumpit

Baca: Pengkhotbah 4:9-12
Berdua lebih baik daripada seorang diri…
Pengkotbah 4:9

Di antara tiga perangkat alat makan, sendok garpu, pisau garpu, dan sumpit, yang ketiga adalah yang paling tidak terampil saya gunakan. Barangkali karena tidak terbiasa.

Menarik memperhatikan penggunaan ketiga perangkat alat makan ini. Baik sendok garpu maupun pisau garpu harus kita pegang de-ngan kedua tangan, satu alat di satu tangan. Tetapi untuk sumpit, walaupun jumlahnya dua, penggunaannya hanya dengan satu ta-ngan. Kalau digunakan dengan dua tangan malah tidak akan berfungsi. Yang lebih menarik adalah baik sendok garpu dan pisau garpu bisa ditanggalkan salah satunya, tetapi kita masih tetap bisa makan dengan nyaman dan lazim, misalnya makan hanya dengan sendok tanpa garpu, atau makan dengan garpu saja tanpa pisau. Tetapi kita tidak bisa melakukannya hanya dengan satu batang sumpit saja bukan? Harus sepasang sumpit bersama-sama dengan satu tangan.

Begitu juga relasi manusia. Tidak ada relasi, termasuk relasi dalam keluarga—suami istri, orangtua anak—yang dapat berjalan dengan baik tanpa dukungan kedua belah pihak. Demikian juga dengan perteng¬karan, tidak mungkin hanya disebabkan oleh satu pihak. Tidak ada yang satu salah atau yang satu benar. Keduanya salah, keduanya benar. Baik buruknya relasi bergantung pada peran serta kedua belah pihak. Berdua lebih baik daripada seorang diri, kata Pengkhotbah, karena mereka bisa saling membantu.

Sepasang sumpit juga bisa melambangkan doa dan usaha. Menjalin sebuah relasi haruslah disertai keduanya, tak bisa hanya salah satu saja. —Liana Poedjihastuti

Bagaimana relasi keluarga kita saat ini? Adakah yang selalu
merasa benar atau sebaliknya selalu dipersalahkan? Sudahkah kita mengupayakan suatu relasi yang bermakna, dan mendoakannya?

Senin, 27 September 2010

Masih Adakah Alasan

Baca: Roma 8:28
Kita tahu sekarang, bahwa Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.
Roma 8:28

Adakalanya dalam hidup ini segala sesuatu terasa serba kelabu. Kesulitan datang berur-utan. Masalah datang silih berganti. Doa-doa sepertinya sia-sia. Ketika terjadi keadaan seperti ini, masih adakah alasan untuk ber¬sukacita?

Menurut Rasul Paulus masih ada. Kepada jemaat di Filipi, dari balik tembok penjara, ia menyerukan dengan penuh semangat: Bersu¬kacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan bersukacitalah! (Filipi 4 :4). Kata kunci dalam seruan nasihatnya ini adalah, dalam Tuhan! Kenapa mesti dalam Tuhan? Karena bila kita hidup de-ngan beriman kepada-Nya, sesungguhnya tidak pernah ada satu keadaan pun dalam kehidupan kita yang lepas dari tangan-Nya. Ia turut bekerja dalam segala sesuatu (Roma 8:28). Tetapi pertanyaan yang masih tinggal barangkali, kalau memang Allah turut bekerja dalam hidup kita, mengapa kesulitan, masalah, dan penderitaan masih tinggal berlama-lama dalam kehidupan kita? Kok tidak segera diangkat-Nya?
Tuhan bukan asal turut bekerja dalam setiap keadaan kita. Campur tangan-Nya selalu dengan tujuan yang jelas, yaitu untuk kebaikan kita. Itu sebabnya ketika kita sudah berseru tetapi beban itu belum juga segera diangkat-Nya, Ia pasti mempunyai tujuan yang baik dengan semua itu. Barangkali Ia sedang memproses dan membentuk kita, agar kita menjadi lebih baik lagi di hadapan-Nya. Itu sebabnya dalam keadaan seperti ini pun kita harus tetap bisa bersukacita. Masih ada alasan untuk bersukacita, karena tahu Ia selalu menghendaki yang baik untuk kita. —Handoyo

Yang baik itu sering kali dihasilkan dari yang pahit.
Obat yang menyembuhkan sering kali rasanya
pahit dan tidak mengenakkan.

Minggu, 26 September 2010

Tuhan Menggendong Kita

Baca: Yesaya 46:3-5
Sampai masa tuamu aku tetap dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4

Sajak Footprints (Jejak) yang dikarang oleh Margaret Fishback telah menyentuh hati jutaan orang di seluruh dunia. Setiap orang termenung setiap kali membaca sajak itu, yang menggambarkan perjalanan hidup di mana telapak kaki kita dan telapak kaki Tuhan Yesus membekas bersebelahan. Tetapi pada saat-saat musibah menimpa dan perjalanan menjadi sulit serta berbahaya, ternyata yang tampak hanya tapak kaki Tu¬han. Telapak kaki kita tidak tampak, hanya telapak kaki Tuhan membekas dengan jelas.
Mana telapak kaki kita? Telapak kaki kita tidak ada, sebab pada saat-saat seperti itu kita sedang diangkat, digendong Tuhan.

Dalam pergumulan hidup kita sehari-hari, berapa kali sudah kita “merasa” dikecewakan Tuhan, karena pertolongan yang dirasakan begitu lambat? Mungkin kita sudah berhenti berharap, dan tidak lagi percaya akan pertolongan-Nya, karena merasa Tuhan meninggalkan kita? Jan¬gan biarkan pertanyaan itu membuat kita meragukan Dia. Sebaliknya, dengan memelihara kepekaan bahwa Allah mengunjungi kita lewat ke¬hidupan sehari-hari, kita akan diteguhkan kembali bahwa sesungguhnya Dia peduli dan sanggup menolong kita.

Kuatkan dan teguhkan hati kita sekali lagi, karena di saat paling lemah, di situ kuat kuasa Tuhan beroleh kesempatan untuk dinyata¬kan. Dalam hati kita berkata, “Aku akan menantikan dengan setia dan tidak putus asa sampai Tuhan menyatakan pertolongan-Nya. Aku percaya Tuhan tidak pernah meninggalkan aku, di masa yang sulit sekalipun, Dia mengangkat dan menggendong aku.” —Prihanto Ngesti Basuki

Pertolongan Tuhan akan segera datang.
Janji-Nya akan segera digenapi.

Sabtu, 25 September 2010

Sukacita Dalam Penderitaan

Baca: 1 Petrus 4:12-19
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan yaitu Allah ada padamu.
1 Petrus 4:14

Biasanya orang akan bersukacita kalau mendapatkan sesuatu yang berkaitan dengan kegembiraan, keberuntungan, kesuksesan atau segala hal lain yang bersifat memba¬hagiakan. Sukacita dianggap kebalikan atau lawan dari penderitaan, kegagalan, ke-sialan, kesedihan atau segala sesuatu yang bersifat merugikan. Jadi, jika ada orang yang bersukacita karena kegagalan, kedukaan, penderitaan atau segala sesuatu yang tidak membahagiakan dirinya, pasti semua orang akan mengatakan bahwa itu tidak normal.

Di antara murid-murid Tuhan Yesus, pastilah kita akrab dengan nama Petrus. Dia adalah murid Yesus yang emosional, labil tetapi sangat loyal. Petrus adalah satu-satunya murid Yesus yang pernah menyangkal menge¬nal Yesus sampai tiga kali dengan mengatakan, aku tidak mengenal Dia, ketika seseorang menanyainya pada malam Yesus akan disalib. Tetapi kemudian setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, Petrus berubah total. Petrus merasa berbahagia dalam penderitaan, untuk nama Yesus. Bagi Petrus adalah hal yang lumrah jika dirinya mengalami siksaan, hinaan dan penderitaan saat memberitakan Kabar Baik, bahkan dia dapat ber¬sukacita dalam penderitaan itu.

Bagaimanakah dengan pelayanan kita saat ini, apakah kita juga dapat bersukacita di tengah-tengah hinaan, penderitaan dan keke¬cewaan yang mungkin kita temui? Ataukah kita merasakan bahwa pelayanan yang kita lakukan adalah beban yang sangat berat yang harus dijalankan? —Pramudya

dimuliakanlah nama-mu dalam hidupku.

Jumat, 24 September 2010

Sukacita Dengan Sesama

Baca: Roma 12:10-15
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menagis!
Roma 12:15

Seruan dan nasihat Paulus untuk bersu¬kacita ataupun menangis bersama sesama itu tentu tidak dimaksudkan hanya sebagai perbuatan basa-basi atau pura-pura saja, me¬lainkan benar-benar merupakan wujud dari rasa solidaritas dan kepedulian yang tulus terhadap sesama. Dan semuanya itu berakar serta bersumber dari rasa kasih yang tulus, yang keluar dari lubuk hati dan kesadaran nurani yang mendalam. Sikap dan perbuatan solider seperti itu merupakan perwujudan atau penerapan dari perintah untuk mengasihi sesama sebagai diri sendiri. Atau menurut Lukas 6:31, “Seba¬gaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Oleh sebab itu dalam Roma 12:9-10 Paulus menyerukan, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”, dan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara”.

Dalam hal ini sering kita berpikir dan mengira bahwa kasih, yang penerapannya berupa solider dan peduli terhadap sesama itu, memerlu¬kan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Menyadari bahwa kita tidak (lagi) cukup memiliki hal-hal tersebut, maka sering kita menjadi kecil hati dan lalu tidak berbuat apa-apa. Terhadap kenyataan seperti itu hendaknya kita menyadari bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama itu tidak selalu harus “dibayar” dengan tenaga, waktu dan biaya seperti itu. Orang yang menerima perlakuan sesamanya yang dengan tulus mau bersukacita ataupun menangis bersamanya itu, tentu merasa sangat bahagia dan berterima kasih. —Pdt. Em. Sutarno

Solider dan peduli terhadap sesama, lebih memerlukan
hati ketimbang tenaga, waktu dan biaya. Oleh sebab itu,
bukalah dan sediakan hati untuk itu.

Kamis, 23 September 2010

Beban Kehidupan

Baca: Filipi 4:4-5
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat.
Filipi 4: 4-5

Setiap orang memiliki beban kesulitannya sendiri. Haruskah setiap kesulitan hidup merampas sukacita kita? Tentu saja tidak. Lihatlah Paulus meskipun mengalami situasi yang tidak enak, sukacitanya tak terampas. Saat itu Paulus berada di dalam penjara Filipi, bahkan menunggu datangnya vonis yang bisa saja dia dijatuhi hukuman mati (Filipi 1:21-25), dan ada penyakit yang tidak sembuh. Namun dalam siatuasi hidup yang tidak enak, dengan fasilitas yang terbatas tidak menjadikan dirinya patah semangat
dengan mental yang tidak berdaya. Paulus tetap tegar beriman dan memiliki semangat, sukacita yang dibagikan kepada jemaat Filipi.
Sukacita seperti apa yang diajarkan Paulus? Jangan cari sukacita yang semu, karena dunia banyak menawarkan sukacita sesaat sebagai pelarian sesaat untuk melupakan masalah, tetapi masalah tidak terurai tuntas. Jangan cari sukacita sekadar eforia untuk meluapkan kegembiraan sesaaat, yang hasilnya tidak mengubah apa pun dalam hidup kita. Jangan cari sukacita dalam sesuatu yang fun, membuat tertawa sejenak, terpingkal- pingkal tetapi tidak menyelesaikan akar masalah yang kita hadapi. Buang pikiran yang negatif dan kembangkan pikiran yang positif.

Sebagai anak-anak Tuhan kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti ada rencana dan maksud Tuhan di dalam¬Nya. Buanglah perasaan bahwa kita adalah orang yang paling malang hingga menyesali diri. Jangan membandingkan beban hidup kita dengan orang lain karena segala perkara dapat kita tanggung dalam Tuhan yang selalu memberikan kekuatan kepada diri kita. —Pdt. Agus Wiyanto
Ajakan Paulus, bersukacita senantiasa dalam segala hal,
bersukacita dalam segala keadaan. Ketika hidup
berjalan lancar maupun mengalami situasi yang tidak enak.

Sabtu, 18 September 2010

Sukacita Karena Janji Allah

Baca: Roma 8:17-18
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah...
Roma 8:17

Seorang anak menderita dan menangis sedih karena menginginkan sesuatu yang menu¬rutnya itu sangat berarti baginya. Ketika ayahnya mengetahui hal itu dan menjanjikan akan memenuhi keinginan dan harapannya, maka penderitaan dan kesedihannya seketika itu juga lenyap. Hatinya penuh sukacita dan berbunga-bunga. Mengapa anak itu telah bisa merasa gembira walaupun apa yang di¬inginkan belum menjadi kenyataan? Hal ini disebabkan anak itu percaya bahwa ayahnya pasti menepati janjinya.

Barangkali saat ini kita juga sedang menderita karena banyak keingin-an atau perkara membebani hidup kita, masalah silih berganti datang. Usia yang sudah tidak muda lagi menjadikan kita semakin lambat dalam banyak hal, padahal masih banyak harapan dan keinginan yang belum terlaksana.

Jika kita percaya dan mengaku bahwa kita adalah anak Allah, sehingga berarti Allah adalah Bapa kita, maka seharusnyalah kita bersukacita meskipun kita menderita, karena Allah telah menjanjikan kemuliaan jika kita mau menderita besama Dia. Percayakah kita kepada Bapa kita, seperti anak yang bersukacita karena percaya kepada ayahnya? —Suprijarso

Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji,
tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.
engkau, Tuhan, yang akan menepatinya....
—Mazmur 12:7-8

Jujur

Baca: Amsal 14:2
Siapa berjalan dengan jujur, takut akan Tuhan, tetapi orang yang sesat jalan¬nya, menghina Dia.
Amsal 14:2

Ada seorang penjual roti di kampung saya, Jombor, Tuntang, Kabupaten Semarang, Budi, demikian panggilannya. Pekerjaan se¬bagai penjual roti sudah dijalaninya puluhan tahun. Pada suatu hari Budi melayani seorang langganannya, tetapi dia lupa memberikan uang kembalian kepada pelanggannya itu. Seharusnya harga sebuah roti hanya seribu lima ratus rupiah, tetapi sang pelanggan memberi uang dua ribu rupiah, berarti masih ada kembalian lima ratus rupiah. Budi baru menyadari kemudian kalau uang kembalian itu ternyata masih ada di gerobak dorongnya.

Budi mengantar uang kembalian dengan merasa bersalah ke rumah orang itu dan meminta maaf. Dari sini terlihat, bahwa Budi tidak mau terjerumus dalam suatu kesalahan meskipun peluang untuk berlaku curang itu ada, dan meskipun nilai uangnya tidak berarti. Kejujuran te-taplah kejujuran. Dan karena kejujurannya itu Budi disayang para pelanggannya. Bagi Budi, bukan semata-mata agar disayang oleh pelang¬gannya dia bersikap jujur, tetapi lebih dari itu, karena dia tahu sikap de¬mikianlah yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya.

Mungkin tidak banyak kita jumpai orang-orang seperti Budi, yang tetap bersikap jujur dalam menjalani kehidupan dewasa ini. Untung masih ada si Budi. Di tengah kehidupan yang keras ini, bagaimanapun juga, sebagai anak-anak-Nya, kita patut menghormati Tuhan dengan hidup jujur. —Denny Reksa

Kejujuran membawa hidup kita menjadi sukacita.

Rabu, 15 September 2010

Jangan Mencobai Tuhan

Baca: Ulangan 6:16-19
Janganlah kamu mencobai Tuhan, allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.
Ulangan 6:16

“Kalau besok aku mendapatkan pekerjaan, aku akan rajin ke gereja. Kalau aku bisa sembuh dari penyakit kanker ini, aku akan jadi aktivis gereja. Kalau kelak aku jadi orang kaya, aku akan selalu membantu keuangan gereja, kalau Tuhan mampu menyelamatkan aku dari belitan utang, aku berjanji akan persepuluhan rutin”, dan lain-lain. Pernah¬kah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini, atau kita sendiri yang sering mengucap¬kan kata-kata itu?

Kalau kita memperhatikan orang-orang Kristen masa kini, kebanyakan mereka dan mungkin termasuk kita, tanpa sadar sering mencobai Tuhan. Kita mengajukan suatu syarat kepada Tuhan sebelum taat melakukan perintah-Nya, padahal Tuhan tak pernah menuntut kita membayar sesuatu untuk memberkati hidup kita. Setiap hari sejak lahir sampai sekarang, Tuhan selalu memberikan udara, sinar matahari, waktu 24 jam, tak peduli kita mau menjadi Kristen atau tidak. Tuhan Yesus bahkan rela mati supaya kita selamat. Tuhan tak pernah mengajukan syarat untuk menebus dosa kita, lalu pantaskah kita meragukan kasih Tuhan dengan mencobai-Nya?
Jika hari ini kita mengalami berbagai masalah, sakit atau masalah keluarga, belajarlah untuk tidak mengeluh atau meragukan kasih Tuhan seperti yang pernah bangsa Israel lakukan, sehingga mereka di hukum Tuhan. Seorang bijak berkata, jangan meminta beban yang ringan kepada Tuhan, namun mintalah Tuhan menguatkan bahu Anda, sehingga seberat apa pun beban hidup datang silih berganti, Anda semakin kuat dan bergantung pada kuasa-Nya tanpa ragu. —Richard T. G. R

Doa: Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk memikul
beban hidup kami hari lepas hari. Amin.

Menyukakan Hati Tuhan

Baca: Lukas 15:4-7
Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Lukas 15:7

Dalam karya-Nya sebagai Juru Selamat, Tuhan Yesus sering mendatangi orang-orang yang oleh masyarakat luas dianggap sebagai orang berdosa, seperti pemungut cukai dan penderita penyakit kusta. Sikap Yesus ini mendatangkan ketidaksenangan dan ketidak¬setujuan, khususnya kaum Farisi dan para ahli Taurat.

Menurut kaum Farisi dan ahli Taurat, orang-orang berdosa tidak perlu diperhati¬kan dan dikasihani lagi, sebab Tuhan sendiri
akan menghukum mereka akibat dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Dalam menjawab mereka yang mengecam-Nya itu, Yesus menggunkan perumpamaan domba yang hilang, yang pasti akan dicari sampai ke¬temu oleh gembalanya. Dan ketika sang gembala itu dapat menemukan dombanya yang hilang, timbullah kegembiraan dan kesukacitaan yang besar dalam hatinya. Kegembiraan seperti yang dirasakan oleh gembala itu menjadi gambaran kegembiraan yang pasti juga akan terjadi di surga, “karena satu orang berdosa yang bertobat”.
Dengan demikian, pertobatan seseorang yang berdosa itu sangat di¬hargai, dan karenanya juga diupayakan oleh Yesus dalam menjalankan karya penyelamatan-Nya. Orang yang bertobat, berarti kembali dari ke-tersesatan akibat dosa. Dan oleh pertobatan itu diampuni dan dibebaskan dari hukuman yang seharusnya dikenakan kepadanya. Oleh pertobatan, kebinasaan diganti dengan keselamatan. Itulah sebabnya, pertobatan menimbulkan kesukacitaan, tidak hanya dalam kehidupan orang yang bertobat dan persekutuan di mana orang itu berada, tetapi bahkan juga di surga. Karenanya, tidak rindukah kita untuk mau melakukan perto¬batan, demi kesukaan besar di surga? —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, kami ingin menyukakan hati-Mu.
Karenanya ajarlah dan mampukan kami untuk bertobat
dari segala kesalahan dan dosa-dosa kami. Amin.

Hidup Dengan Sukacita

Baca: Roma 8:35-39
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Roma 8:37

Para gelandangan di Washington kebanya¬kan punya ponsel dan alamat e-mail untuk mengecek apakah kupon makanan gratis masih ada, apakah lamaran pekerjaannya diterima, dan sebagainya (Jawa Pos, 25 Maret 2009. Ponsel membuat mereka bisa berkomunikasi dengan dunia. Inilah orang-orang yang menghadapi hidupnya dengan sukacita. Bukan termenung menangisi nasib. Firman Tuhan memberi resep menghadapi hidup ini dengan sukacita.
Asal masih ada kasih Kristus. Manusia membutuhkan pendampingan untuk menghadapi masalah dan penderi¬taannya. Dan Kristus telah datang dengan kasih-Nya. Ia membela dan mengasihi kita dengan memberikan diri-Nya mati untuk meyakinkan kita bahwa Ia sungguh-sungguh menyertai kita. Apalagi yang disusah¬kan?

Hadapi semua masalah dengan iman. Kenyataan hidup yang pahit kadang-kadang tidak bisa dihindarkan atau ditolak. Kepada kita Tuhan mengaruniakan iman agar kita siap untuk menghadapi semua. Akal budi saja belum cukup dan bahkan kesiapan mental pun masih kurang. Paulus sudah membuktikannya, bagaimana dengan Anda?

Jadilah pemenang sekali untuk selamanya. Tidak ada pemenang yang sedih dan susah karena menang. Semua pemenang akan tertawa dan bersorak-sorai. Perjuangan dan ketabahan iman akan mengantar kita untuk bersukacita sebagai pemenang dalam perlombaan hidup ini. Karena sebelum kita menang, Tuhan Yesus sudah menang lebih dahulu. Kita ada di pihak yang selalu menang. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Hidup adalah perlombaan dan pemenangnya adalah
yang mau dimotivasi oleh pemenang yang telah
mengalahkan dosa, iblis dan maut.