Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 22 September 2011

Bongkar Pasang


Baca: 2 Timotius 3:16
Segala tulisan yang diilham­kan Allah memang berman­faat untuk menyatakan kesalahan, untuk memper­baiki kelakuan…
(2 Timotius 3:16).


Manakah yang lebih diminati, firman yang penuh berkat ataukah yang siap mem­bongkar hidup? Bisa ditebak jawabannya. Kebanyakan orang lebih menyukai diberkati ketimbang membiarkan hidupnya dibong­kar. Kalau bisa tetap diberkati tapi tetap menutup rapat-rapat hidup. Artinya, kita ingin Tuhan tidak usah melihat keadaan hidup kita yang sesungguhnya.
Alkitab menjelaskan bahwa hidup yang selaras firman adalah hidup yang terbuka. Artinya tidak ada bagian hidup yang disembunyikan khususnya terhadap dosa dan kesalahan. Jika daging menutupi, maka firman membongkar.
Ketika hidup seseorang berada dalam terang firman, maka terjadi trans­formasi di dalamnya. Bagian hidup yang paling dalam dan tersembunyi diterangi dan dibarui sehingga mata jasmani dan rohani menjadi terang melihat perbedaan benar salah, baik buruk. Itulah maksud firman yang mengatakan bahwa segala tulisan yang diilhamkan (Alkitab) bermanfaat untuk menyatakan kesalahan ( 2 Timotius 3:16). Ia membongkar bagian hidup yang bertentangan dengan kebenaran dan kekudusan Tuhan. Saat firman bekerja acapkali memang tidak mudah, sakit, tersinggung, marah, dan lain-lain. Tapi bila diterima dengan hati yang tulus, inilah yang mengubah kehidupan menjadi indah dalam pandangan Tuhan. Ya, firman Tuhan tidak hanya membongkar kesalahan-kesalahan kita tetapi juga memperbaiki kelakukan (ayat 16). Firman memang melukai, tetapi seperti tangan dokter yang membuang tumor untuk menyembuhkan, fir­man mengubah hidup kita sesuai dengan kehendak-Nya. —SIMPEI HUGO

Hanya firman yang mampu membongkar kesalahan dan memperbaikinya.

Rabu, 21 September 2011

Firman dan Pertumbuhan Sikap

Baca: Mazmur 119:111-132
Itulah sebabnya aku men­cintai perintah-perintah- Mu lebih dari pada emas, bahkan dari pada emas tua. Itulah sebabnya aku hidup jujur sesuai dengan segala titah-Mu; segala jalan dusta aku benci
(Mazmur 119 :127-128).


Dewasa ini, sulit sekali mencari orang jujur. Salah satu alasannya adalah karena takut akan manusia. Takut ditolak, takut direndahkan, takut ditanggapi negatif, takut dianggap tidak berpihak, takut dilawan. Tetapi yang tidak kita sadari, perilaku ini berarti mem­biarkan orang lain membentuk diri kita, bu­kan Tuhan. Kita akan lebih mengutamakan kompromi dari sisi akal manusia, sehingga akhirnya kita makin menyimpang dari apa yang Allah inginkan atas hidup kita.
Bergaul dengan firman secara teratur dan mendalam akan menum­buhkan jati diri dan sikap yang benar di dalam kita. Sikap benar terhadap sesama tumbuh sebagai akibat sikap kita terhadap firman Allah, membuat karakter kita mengalami pertumbuhan yang baik dan benar.
Sikap benar apa yang akan tumbuh sebagai akibat dari bergaul akrab dan menaati firman? Hati kita akan condong pada apa yang dinilai baik dan mulia. Jika firman menjadi harta pusaka kita, maka kita akan me­minati keputusan Allah, membenci sikap bercabang hati. Kita akan lebih gentar terhadap Allah daripada terhadap orang yang melawan Allah.
Kebiasaan membaca dan merenungkan firman membuat kita mam­pu melihat kepalsuan orang fasik. Penilaian Allah menjadi penilaian kita. Sikap kita mengalami pemurnian. Tindakan kita makin serasi dan sesuai dengan kehendak Allah. Untuk tiba pada kondisi demikian diperlukan proses panjang dan tekun, serta pergumulan seumur hidup kita. Disiplin membaca-gali Alkitab merupakan cara yang tepat untuk membentuk sikap itu. Selamat bertumbuh. —Prihanto Ngesti Basuki

Dibekali pemahaman firman, kita akan terlibat tidak dengan “membunglon”, tetapi membawa pengaruh positif dari kebenaran Tuhan.

Selasa, 20 September 2011

Apa Masih Kurang?


Baca: 2 Korintus 5:16-21
Jadi siapa yang ada di dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama su­dah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang ( 2 Korintus 5:17).

Pada hari Paskah yang lalu pak Nyoto menerima sakramen Baptis Kudus dan Sidi menandai langkahnya menjadi orang kristen. Usianya tidak muda lagi, sudah hampir 70 tahun. Tetapi ketekunannya dalam mengi­kuti katekisasi, terlebih lagi kemantapannya dalam mengambil keputusan untuk meneri­ma Tuhan Yesus sungguh patut diteladani.
Melihat semua itu, seorang teman, yang sudah jauh lebih dulu menjadi orang per­caya, bertanya dengan maksud meledek pak Nyoto.
“Wah, sekarang sudah jadi orang kristen. Rajin dan semangat lagi. Apa kamu hafal Doa Bapa Kami?” Dengan tersipu pak Nyoto menjawab: “Dulu pernah diajari waktu katekisasi, tapi sekarang sudah lupa.” “Siapa nama murid-murid Tuhan Yesus?” sergah sang teman lagi. Dengan nada pelan pak Nyoto menjawab: “Nama murid Tuhan Yesus pun dulu per­nah diberitahu, tapi sekarang sudah lupa.” Si teman terus mencecarnya: “Kalau nama-nama kitab dalam Alkitab?” “Yah, namanya orang sudah tua, gampang lupa.” Jawab pak Nyoto.
Lalu sang teman menyahut dengan suara meninggi: “Lho, bagaimana kamu ini. Katanya sekarang jadi orang Kristen. Tapi Doa Bapa Kami, nama murid Yesus, nama kitab lupa. Apa yang kamu tahu?” Tetap de-ngan tenang pak Nyoto menjawab: ”Memang semua tadi aku tak ingat, tak tahu. Tapi satu yang aku tahu, dulu, aku seorang yang bejat. Sekarang, setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Juruselamat, aku mulai belajar hidup yang benar, perhatian kepada keluarga, menjadi suami dan ayah yang bertanggungjawab. Cuma itu yang aku tahu. Apa itu masih kurang?” —Handoyo.

Siapa yang ada di dalam Kristus adalah ciptaan baru, bukan sekadar penampilan baru.

Senin, 19 September 2011

Sejak Dini

Baca: 1Samuel 2:26
Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia
(1 Samuel 2:26).

Pipit , bocah usia 10 tahun itu bikin ulah. Dia memanjat menara seluler setinggi 60 meter di Sukadamai Ciputat, akibatnya memacetkan lalu lintas. Sehari kemudian, ia memanjat atap rumah kak Seto Mulyadi, ketua komnas perlindungan anak. Diduga karena depresi dan suka dimarahi oleh orangtuanya Pipit nekat.
Melihat tayangan televisi orang belajar banyak hal, dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar tentang hal positif dan negatif. Apa­lagi kejadian tentang orang yang mau bunuh diri direkam sempurna, ade-gan demi adegan mencekam, itu semua akan terinternalisasi. Bukankah dewasa ini kejadian orang mau bunuh diri selalu ditayangkan televisi, sehingga dapat cepat terekam dalam memeri anak, dan mencontohnya?
Dampingi anak anak dan ajaklah diskusi. Ini adalah bentuk komu­nikasi di tengah sempitnya waktu untuk bercengkrama dengan anak, di tengah dunia modern. Anak akan asyik dengan dunianya sendiri. Jangan biarkan waktu dan kesibukan merampas kebersamaan kita dengan anak anak. Perbanyaklah membina relasi.
Ajarlah anak bersikap kritis untuk tidak menyerap begitu saja tentang nilai nilai kekerasan, perilaku barbar dan orang tidak dapat lagi meredam gejolak emosinya.
Belajarlah melalui metode pendidikan orang Yahudi, untuk menga­jar berulang ulang setiap ada waktu dan ciptakan kesempatan, bahkan kita yang harus bisa menciptakan relasi. Belajarlah seperti Samuel yang pada usia dini menyerap nilai-nilai kerohanian pada Imam Eli, sehingga tumbuh religiositas yang makin mendalam. —Pdt. Agus Wiyanto

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. –Amsal 22:6

Minggu, 18 September 2011

Tabita

Baca: Kisah Para Rasul 9:36-43
Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah
(Kisah Para Rasul 9:36).

Tabita atau juga disebut Dorkas tinggal di kota Yope, kota di tepi laut Tengah; sebelah barat Yerusalem, sebelah utara Gaza, sebelah Timur Kaisarea. Tak heran jika penduduk kota pantai ini kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Gelombang Laut Tengah terkenal amat besar dan ganas. Banyak nelayan mati tenggelam ditelan ombak. Alhasil banyak janda miskin termasuk Tabita yang telah lama menjanda karena suaminya mati ditelan ombak. Harta yang ia miliki hanya-lah gunting, jarum dan benang. Kalau dinilai tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Sejak kecil Tabita mempunyai kegemaran menjahit. Keterampilan lain mungkin tidak dimilikinya, sehingga sepeninggal suaminya ia hidup menjanda dan mengembangkan keterampilannya sebagai penjahit pakaian. Ia mengasihi sesama karena ia merasa sudah dikasihi Tuhan. Setiap hari ia membuat baju dan dibagi-bagikan kepada tetangganya. Pelayanan kasih Tabita sangat luar biasa.
Pada suatu hari Tabita jatuh sakit sampai meninggal. Mungkin se­bagai balas budi tetangga-tetangga Tabita sepakat mengutus dua orang pergi mengundang Petrus yang pada waktu itu sedang berada di kota Lida, dekat Yope untuk melawat Tabita. Dari kisah selanjutnya kita tahu Tabita hidup kembali.
Dengan sepenuh hati Tabita melayani sesama. Tabita diperkenan Tuhan. Dalam pelayanannya sebagai murid Tuhan Yesus hanya dengan modal gunting, jarum dan benang, tapi ia diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Kita yang merasa telah diberkati Tuhan, kita juga harus menjadi berkat bagi sesama. —Ev. Sumanto Mardihutomo.

Marilah menjadi berkat dengan apa yang kita miliki.