Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 11 Agustus 2011

Pengharapan Kita


Baca: 1 Timotius 4:1-10
Itulah sebabnya kita berjerih payah dan berjuang, karena kita menaruh pengharapan kita kepada Allah yang hidup, Juru Selamat semua manusia, terutama mereka yang percaya.
1 Timotius 4:10


Jikalau kita mau bekerja keras dan tekun, kalau kita mau membesarkan dan mendidik anak dengan sungguh-sungguh, kalau kita mau pergi ke dokter untuk berobat bila sakit, kalau kita mau pergi ke gereja setiap minggu, dan seterusnya; bila kita mau bertanya: se-muanya itu untuk apa? Mengapa kita mau melakukan semua itu dengan segenap hati kita? Sudah barang tentu semua itu kita la-kukan, demi “sesuatu” yang kita dambakan, yakni kita mempunyai pengharapan.
Adanya ”pengharapan” di dalam hidup kita akan mampu membuat hidup ini lebih indah dan bergairah. Dan bukan hanya itu. Pengharapan akan mampu memberi kekuatan dan kemampuan untuk bertahan, di tengah banyaknya cobaan dan badai sekalipun. Apa yang kita lihat di sini, bahwa kita sungguh membutuhkan pengharapan untuk mampu bertahan hidup. Lebih dari sekadar makanan, minuman dan pakaian, pengharapanlah yang menjadi bahan bakar kehidupan kita. Tanpa pengharapan, hidup kita seperti mobil yang kehabisan bensin. Mogok.
Itulah sebabnya Rasul Paulus ingin menegaskan kepada Timotius bahwa semua aktivitas pelayanan yang tengah ia tunaikan, bukanlah sekadar usaha pengisi waktu dan sia-sia, melainkan sebuah upaya yang dilakukan dengan kesadaran bahwa pada waktunya akan membawa ha-sil yang baik. —Pdt. Ifer Fr. Sirima.

Doa: Ya Bapa, biarlah pengharapan kami sebagai anak-anak
Tuhan selalu diperteguh di dalam Engkau, dan janganlah biarkan
kami meniru pengharapan dunia yang semu
dan berubah-ubah ini. Amin.

Rabu, 10 Agustus 2011

Apa Maksud Tuhan


Baca: Mazmur 105:1-6
Bernyanyilah bagi-Nya, bermazmurlah bagi-Nya, percakapkanlah segala perbuatan-Nya yang ajaib.
Mazmur 105:2

Hampir saya tak mengenalinya ketika kami bertemu. Anto, seorang teman lama, keli-hatan lebih segar dan rapi dibandingkan da­hulu saat saya mengenalnya. Singkat kata, ia bercerita tentang sakit dan kesembuhannya. Ia bersaksi bagaimana Tuhan tetap setia dan memeliharanya sampai ia pulih dari bebe-rapa penyakit akibat cara hidupnya yang kacau. Ia bersaksi betapa Tuhan tetap meng­ingatnya sekalipun sebelumnya ia memilih untuk tidak mengingat Tuhan. Kuasa kasih Tuhan melalui kesembuhan fisik itu telah memberinya kesadaran dan keyakinan, “Tuhan punya maksud dan tujuan mengapa saya disembuhkan.” Dan, kini ia memiliki beberapa komitmen pelayanan sebagai ungkapan syukur guna mewujudkan maksud Tuhan.
Seperti pengalaman Anto, bahwa kita sampai pada keadaan seperti saat ini membuktikan bagaimana Tuhan telah senantiasa memelihara kita, apa pun keadaan yang kita alami. Atas perbuatan-Nya yang ajaib, maukah kita bersaksi seperti Anto, juga seperti yang diserukan oleh pemazmur, bernyanyilah, bermazmurlah, dan percakapkanlah (Mazmur 105:2)? Dan lebih dari itu, maukah kita merenungkan maksud dan tujuan Tuhan ketika Ia mengizinkan beberapa hal terjadi di masa lalu dan masa kini kita?
Masa lalu beserta semua pengalaman kita tentu berbeda-beda; keadaan kita saat ini pun juga berbeda-beda. Apa yang telah Tuhan ajarkan kepada kita melalui masa-masa yang kita lewati? Apa pula maksud Tuhan dengan semuanya itu? Marilah kita jalin komunikasi dengan Tuhan, temukan maksud-Nya, dan berupaya mewujudkannya. Tuhan menolong kita. —Ocky Sundari.

Nyanyikanlah mazmur bagi Tuhan, hai orang-orang yang dikasihi-Nya,
dan persembahkanlah syukur kepada nama-Nya yang kudus.
—Mazmur 30:5

Selasa, 09 Agustus 2011

Pertolongan Tuhan


Baca: Mazmur 69:14
Tetapi aku, aku berdoa kepada-Mu, ya Tuhan, pada waktu Engkau berkenan, ya Allah; demi kasih setia-Mu yang besar jawablah aku dengan pertolongan-Mu
yang setia!
Mazmur 69:14

Ada sepasang pasutri lansia, sang suami berusia 65 tahun dan istrinya 60 tahun. Bagi pasutri lansia ini, air panas merupakan kebu­tuhan vital karena selain untuk menyegarkan badan saat mandi juga untuk mengendorkan otot-otot yang kaku. Namun selama empat hari heater tidak menyala. Upaya sudah di­lakukan untuk mengecek apakah regulator belum terpasang dengan baik ataukah gasnya yang bermasalah. Karena kehabisan akal di­undanglah teknisi heater, namun teknisi pun tidak menyelesaikan masalah, heater tetap  tidak mau menyala. Sang nenek berujar: ya sudahlah kita masak air saja sesudah itu kita cek sekali lagi. Sorenya pasutri ini melakukan pengecek-an ulang. Hasilnya nihil. Dengan pasrah nenek bergumam: “Harus beli heater baru.”
Tetapi nenek tidak yakin kalau heaternya yang rusak, dengan penuh iman dan ingat Mazmur 69:14, ia mencoba kembali heaternya. Aneh, Tuhan mendengar doa nenek, heater menyala. Anehnya lagi heater me­nyala dengan air panas yang pas, tidak menambah air panas atau dingin seperti biasanya.
Pasutri lansia ini heran menyaksikan pertolongan Tuhan dan akhirnya menyatakan imannya bahwa: Pertama, doa yang sungguh-sungguh dan penuh iman dipanjatkan kepada Tuhan, meski tidak terucap ternyata Tuhan berkenan mengabulkan. Kedua, dengan kesulitan atau masalah yang dihadapi sekecil apa pun, Tuhan hendak memakai seseorang untuk bersabar dan mengandalkan pertolongan Tuhan. Percayakah kita, bahwa Tuhan selalu memberkati dan menolong kita? —Prajanti Efrayim.

Tuhan memberkati dan memberikan kepada kita sesuai
dengan kebutuhan kita dan pas untuk kita. Tuhan
tidak pernah lalai akan janji-Nya.

Senin, 08 Agustus 2011

Tuhan Tak Sayang


Baca: 2 Korintus 12:7-10
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna.”
2 Korintus12:9

Penderita gagal jantung ini pasien saya, yang kalau telat obat mesti megap-megap be­rat, plus kedua kakinya bengkak. Sebenarnya kalau ia mau setia minum obat, kondisinya bisa lebih baik. Hari itu terbukalah peng-akuannya: “Hari Minggu, Senin dan Kamis saya tidak minum obat, habis, saya kan mesti ikut Kebaktian Minggu, dan ikut PA hari Senin serta kebaktian doa kalau Kamis. Kalau minum obat kan terus kencing tiap 15 menit, malu sama teman-teman, mondar mandir ke toilet. Lagi pula kata pendeta,
Tuhan maklum kalau saya tidak minum obat sebab saya sedang sibuk melayani Tuhan. Tapi, saya yang sudah setia sekian tahun melayani Tuhan, ternyata Tuhan tidak sayang sama saya, malah diganjar gagal jantung yang bukan makin sembuh tapi makin payah.”
Lantas saya sadar, ternyata selama ini saya “ditipu” dia. Saya pikir dia minum obat dengan setia, saya sendiri heran kok seakan-akan obatnya nggak manjur lagi, ternyata ia “lebih setia dalam pelayanan” ketimbang “setia minum obat” yang katanya “berasal dari manusia”.
Percayakah Anda, ternyata banyak, terutama kaum lansia yang meng-anut “iman” bersama Tuhan tak perlu obat, bukankah Tuhan itu sendiri adalah obat atas segala penyakit? Karenanya lantas tidak tertib lagi men­jaga kesehatan.
Tuhan ingin umat-Nya tetap melayani-Nya tetapi dengan tubuh yang sehat, dengan tertib minum obat yang sudah Ia sediakan untuk umat­Nya juga. Dan bukan karena tidak sayang jika Tuhan mengizinkan kita menderita sakit. Ia berkata, “Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu.” —Yahya Wardoyo
Rasa sayang Tuhan itu bukan selalu berarti Dia
mengabulkan semua permohonan kita.

Minggu, 07 Agustus 2011

Hanya Kolam Susu

Baca: Keluaran 3:15-18
Jadi Aku telah berfirman: Aku akan menuntun kamu keluar dari kesengsaraan di Mesir... ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya.
Keluaran 3:17



Lagu lama Koes Plus salah satu liriknya berbunyi: ...bukan lautan hanya kolam susu. Lagu itu menggambarkan kekayaan alam Indonesia yang luar biasa. Karena itu lautan disamakan dengan kolam susu.
Janji Tuhan bahwa umat Israel akan dibawa ke negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya pertama kali didengar oleh Musa ketika Tuhan Allah memanggilnya. Namun jangan lupa bahwa janji itu diucapkan setelah ada sederet nama suku bangsa yang harus dihadapi dalam proses ke sana. Apa artinya bagi umat waktu itu dan kita masa kini?
Berkat Tuhan tidak turun dengan sendirinya. Walaupun umat di bawah pimpinan Tuhan namun tidak otomatis berkat Tuhan turun dengan sendirinya. Ada tantangan yang harus mereka hadapi yaitu suku-suku yang ada di daerah yang akan mereka masuki. Hanya orang percaya yang berani menghadapi tantangan, maka berkat akan dicurahkan Tuhan.
Tuhan menghadapkan pilihan untuk mengalami berkat-Nya. Suku-suku yang ada menjadi “pilihan umat” bagaimana mereka meng-hadapinya? Kompromi atau mengalahkan mereka? Hidup ini juga pi-lihan: akankah kita mengandalkan Tuhan atau mengandalkan manusia? Pilihan yang kita ambil mengandung risiko.
Berkat Tuhan terjadi di luar kemampuan kita untuk mengerti. Bagaimana mungkin kalau setiap jarahan harus dimusnahkan dan hampir negeri yang akan dimasuki berlatar belakang agraris, di sana akan berlimpah “ susu dan madu”? Jangan berpikir bahwa yang kita bayangkan sama dengan yang akan Tuhan berikan.
Yang dibutuhkan hanyalah percaya bahwa “susu dan madu” akan da-tang berlimpah. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Untuk mengalami berkat-berkat-Nya dibutuhkan
KTP: Ketaatan, Tantangan dan Pilihan.