Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 27 Juni 2011

Bertumbuh Melalui Penderitaan


Baca: Roma 5:3-5
Kita malah bermegah juga dalam kesengsaraan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu men­imbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan.
Roma 5:3-4
Siapa yang mau menderita? Rasanya cuma orang bodoh saja yang mau menderita. Kalau saja bisa memilih tentu kita akan memilih untuk tidak menderita. Sayangnya, penderitaan tidak bisa kita elakkan, itu ada­lah bagian dari hidup kita. Kita menderita karena berbagai masalah yang menimpa kita.
Tidak demikian halnya dengan Paulus. Alih-alih merasa gusar atau lari dari pen­deritaan, dia malah berkata “...kita malah bermegah juga dalam kesengsaraaan kita, karena kita tahu, bahwa kesengsaraan itu menimbulkan ketekunan, dan ketekunan menimbulkan tahan uji dan tahan uji menimbulkan pengharapan. Dan pengharapan tidak mengecewakan, karena kasih Allah telah dicurahkan di dalam hati kita oleh Roh Kudus yang telah dikaruniakan kepada kita.”
Sebelum Yusuf sampai ke istana Firaun dan menjadi mangkubumi di Mesir (Kejadian 42:6), ia menempuh jalan panjang penuh penderitaan. Dijual oleh saudara-saudaranya sebagai budak, difitnah oleh isteri Potifar, dan akhirnya menjadi terpidana di penjara. Tetapi, melewati perjalanan penuh derita itulah ia akhirnya sampai ke istana, mendapat kemuliaan dan menjadi berkat bagi keluarga dan bangsanya.
Demosthenes gagap. Dia mengisi mulutnya dengan batu-batu dan berjalan-jalan di tepi pantai sambil berteriak kepada ombak. Dia me-ngalami perjuangan yang berat sebelum akhirnya, meski cacat, ia menjadi seorang ahli pidato ternama di Yunani.
Apakah saat ini Anda sedang dalam penderitaan? Seperti Yusuf dan Demosthenes, Anda juga pasti bisa bertumbuh melalui penderitaan yang Anda alami. —Liana Poedjihastuti
Jangan takut pada penderitaan. Siapa tahu itu merupakan jalan menuju rahmat.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Minggu, 26 Juni 2011

Hidup Berbuah

Baca: Mazmur 72:17-18
Biarlah namanya tetap selama-lamanya, kiranya namanya semakin dike­nal selama ada matahari. Kiranya segala bangsa saling memberkati dengan namanya, dan menyebut dia berbahagia. Terpujilah Tuhan, Allah Israel, yang melakukan perbuatan yang ajaib seorang diri.
Mazmur 72:17-18
Ketika ibu saya, Sri Indriati, meninggal dunia di Malang tanggal 21 Agustus 2010 dalam usia 80 tahun, saya menemukan ayat ini di dalam Alkitab yang biasa dipakai ibu ke gereja. Dicoret dengan spidol merah dan hijau, agar guratan maknanya jelas. Lalu ada tulisan tangan yang menyalin sama persis kata-kata yang terdapat dalam ayat ini, dan diletakkan dalam Alkitabnya. Ayat ini bukan hanya berhenti menjadi ayat favorit-nya, tetapi juga dihidupi dalam seluruh kehidupannya.
Benar yang dikatakan pemazmur: Setiap orang disiapkan menjadi pengajar. Tuhan adalah Pendidik Agung kita, yang telah mendidik kita mengenal kasih-Nya. Tetapi Tuhan juga mau supaya kita menjadi pengajar bagi orang lain. Tugas tiap orang beriman adalah memberitakan perbuatan Allah yang besar-ajaib. Bukan hanya melalui kata-kata, tetapi melalui perilaku hidup dan keteladanan.
Rasakan kasih karunia Allah setiap hari. Kekuatan bukan sesuatu yang kita ciptakan sendiri. Kekuatan juga tidak dapat dibeli dengan nilai rupiah. Kekuatan adalah kasih karunia Allah yang ditambahkan setiap hari. Kekuatan Tuhan datang ketika kekuatan kita tidak mencukupi lagi, saat kita merasa kehabisan sumber energi. Kala tubuh menjadi tua dan renta, kekuatan batin kita semestinya makin menyala-nyala, menceri­takan kebaikan Tuhan, kasih dan pemeliharan Tuhan. Itu adalah pokok bahasan materi yang tidak akan pernah tamat diberitakan sepanjang hidup kita.
Berdoalah agar menjadi berkat. Ini kesempatan yang masih Tuhan berikan. —Pdt. Agus Wiyanto
Menjadi pendoa untuk orang lain adalah tanda bahwa kita masih bertumbuh dan berbuah.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Sabtu, 25 Juni 2011

Doa Kita


Baca: Lukas 22:42
Ya Bapaku, jikalau Engkau mau, ambillah cawan ini daripadaku; tetapi bukanlah kehendak­Ku, melainkan kehendak-Mulah yang terjadi.
Lukas 22:42
Orang beriman sering orientasi doanya masih berpusat pada kepentingan diri, apa-kah itu permohonan rezeki, kecukupan, kesehatan, dijauhkan dari kesukaran dan penderitaan, dan lain sebagainya. Kalau doa syafaat untuk orang lain pun nadanya serupa.
Kita tidak mau melihat di balik suatu pe-ristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita, ada rencana agung dari Tuhan, yang Tuhan rencanakan, yang akhirnya untuk kebaik-an kita dan sesama. Kita belajar dari Yuhan Yesus, secara manusia mati di kayu salib merupakan penderitaan yang sangat berat, sehingga dalam doa-Nya Ia minta kepada Bapa supaya “cawan minuman yang pahit” itu tidak Ia alami. Tetapi Tuhan Yesus tidak menolak kalau jalan itu harus Ia tempuh, karena Ia menyadari di balik peristiwa itu ada rencana agung dari Allah Bapa-Nya.
Pada akhirnya Ia menyerahkan kepada kehendak Bapa-Nya. Ia harus menjalani jalan salib, karena hanya melalui jalan itu, keselamatan dan keampunan dosa tersedia bagi bangsa-bangsa di dunia.
Doa kita pun harus bertumbuh, dari berdoa yang berpusat un­tuk kepentingan diri menjadi doa mendengarkan kehendak Bapa di surga. Tidak bereaksi menolak kalau ada peristiwa buruk menimpa kita, melainkan kalau harus kita jalani, kita harus menerimanya, dengan menyadari bahwa pasti Tuhan mempunyai rencana yang agung untuk kebaikan kita dan sesama kita, seperti Kristus pun rela mati di atas kayu salib, suatu penderitaan yang membawa kepada keselamatan. —A. Budipranoto
Doa: Dalam setiap peristiwa yang harus kami alami, betapapun pahitnya, biarlah kami dapat melihat rencana agung Tuhan, sehingga kami bisa mengucapkan kehendak-Mu jadilah, karena kami tahu semuanya untuk keselamatan kami dan orang yang kami kasihi. Amin.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Jumat, 24 Juni 2011

Bertumbuh Seutuhnya

Baca: Kolose 2:6-7
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Lukas 2:52
Penyingkiran Yusuf dan Maria dari Yudea ke Mesir untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman Raja Herodes memakan wak-tu perjalanan tiga tahun dan menelusuri 1.000 km. Mesir telah menjadi “Kawah Candradimuka” bagi Yesus seperti dalam pe-wayangan ketika Gatotkaca mendapatkan kesaktiannya.
Di Mesir, Yesus diproses untuk bertum-buh seutuhnya dan muncul sebagai Anak Allah yang penuh hikmat dan penuh kuasa disukai Allah dan manusia. Sudahkah kita bertumbuh seutuhnya di dalam iman kita kepada Kristus?
Bertumbuh seutuhnya melalui hikmat Allah. Semakin bertambah dewasa hidup kita seharusnya semakin bertumbuh juga hikmat kita. Semua tergantung apakah kita selalu mendalami firman-Nya sampai mengakar ibarat sebuah pohon yang bertumbuh. Sudahkah cara ber-pikir kita mengandung hikmat Allah di dalamnya?
Bertumbuh seutuhnya mengalami kuasa Allah. Yesus bertambah besar-Nya dalam hal dipenuhi kuasa Allah. Jikalau kita tetap teguh da-lam iman, maka tidak mustahil hal-hal besar akan terjadi dalam hi-dup kita. Jangan cuma menjadi penonton, tapi jadilah pemain yang mengalami sendiri kuasa-Nya.
Bertumbuh seutuhnya sebagai citra Allah. Yesus makin dikasihi Allah dan manusia. Dialah cermin dari citra Allah yang sejati. Ciptakan kehidupan yang seimbang antara yang rohaniah dan jasmaniah sehingga pribadi kita sebagai pengikut Kristus menjadi daya tarik orang lain.
Tuhan sudah melakukan-Nya. Bagaimana dengan kita? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Ketika manusia sudah tidak lagi bisa dipercaya sesamanya, jadilah orang yang dapat dipercaya.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi