Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 19 September 2011

Sejak Dini

Baca: 1Samuel 2:26
Tetapi Samuel yang muda itu, semakin besar dan semakin disukai, baik di hadapan TUHAN maupun di hadapan manusia
(1 Samuel 2:26).

Pipit , bocah usia 10 tahun itu bikin ulah. Dia memanjat menara seluler setinggi 60 meter di Sukadamai Ciputat, akibatnya memacetkan lalu lintas. Sehari kemudian, ia memanjat atap rumah kak Seto Mulyadi, ketua komnas perlindungan anak. Diduga karena depresi dan suka dimarahi oleh orangtuanya Pipit nekat.
Melihat tayangan televisi orang belajar banyak hal, dari tidak tahu menjadi tahu. Belajar tentang hal positif dan negatif. Apa­lagi kejadian tentang orang yang mau bunuh diri direkam sempurna, ade-gan demi adegan mencekam, itu semua akan terinternalisasi. Bukankah dewasa ini kejadian orang mau bunuh diri selalu ditayangkan televisi, sehingga dapat cepat terekam dalam memeri anak, dan mencontohnya?
Dampingi anak anak dan ajaklah diskusi. Ini adalah bentuk komu­nikasi di tengah sempitnya waktu untuk bercengkrama dengan anak, di tengah dunia modern. Anak akan asyik dengan dunianya sendiri. Jangan biarkan waktu dan kesibukan merampas kebersamaan kita dengan anak anak. Perbanyaklah membina relasi.
Ajarlah anak bersikap kritis untuk tidak menyerap begitu saja tentang nilai nilai kekerasan, perilaku barbar dan orang tidak dapat lagi meredam gejolak emosinya.
Belajarlah melalui metode pendidikan orang Yahudi, untuk menga­jar berulang ulang setiap ada waktu dan ciptakan kesempatan, bahkan kita yang harus bisa menciptakan relasi. Belajarlah seperti Samuel yang pada usia dini menyerap nilai-nilai kerohanian pada Imam Eli, sehingga tumbuh religiositas yang makin mendalam. —Pdt. Agus Wiyanto

Didiklah orang muda menurut jalan yang patut baginya, maka pada masa tuanya pun ia tidak akan menyimpang dari pada jalan itu. –Amsal 22:6

Minggu, 18 September 2011

Tabita

Baca: Kisah Para Rasul 9:36-43
Di Yope ada seorang murid perempuan bernama Tabita -- dalam bahasa Yunani Dorkas. Perempuan itu banyak sekali berbuat baik dan memberi sedekah
(Kisah Para Rasul 9:36).

Tabita atau juga disebut Dorkas tinggal di kota Yope, kota di tepi laut Tengah; sebelah barat Yerusalem, sebelah utara Gaza, sebelah Timur Kaisarea. Tak heran jika penduduk kota pantai ini kebanyakan bekerja sebagai nelayan. Gelombang Laut Tengah terkenal amat besar dan ganas. Banyak nelayan mati tenggelam ditelan ombak. Alhasil banyak janda miskin termasuk Tabita yang telah lama menjanda karena suaminya mati ditelan ombak. Harta yang ia miliki hanya-lah gunting, jarum dan benang. Kalau dinilai tidak lebih dari sepuluh ribu rupiah. Sejak kecil Tabita mempunyai kegemaran menjahit. Keterampilan lain mungkin tidak dimilikinya, sehingga sepeninggal suaminya ia hidup menjanda dan mengembangkan keterampilannya sebagai penjahit pakaian. Ia mengasihi sesama karena ia merasa sudah dikasihi Tuhan. Setiap hari ia membuat baju dan dibagi-bagikan kepada tetangganya. Pelayanan kasih Tabita sangat luar biasa.
Pada suatu hari Tabita jatuh sakit sampai meninggal. Mungkin se­bagai balas budi tetangga-tetangga Tabita sepakat mengutus dua orang pergi mengundang Petrus yang pada waktu itu sedang berada di kota Lida, dekat Yope untuk melawat Tabita. Dari kisah selanjutnya kita tahu Tabita hidup kembali.
Dengan sepenuh hati Tabita melayani sesama. Tabita diperkenan Tuhan. Dalam pelayanannya sebagai murid Tuhan Yesus hanya dengan modal gunting, jarum dan benang, tapi ia diberkati Tuhan dan menjadi berkat bagi sesama. Kita yang merasa telah diberkati Tuhan, kita juga harus menjadi berkat bagi sesama. —Ev. Sumanto Mardihutomo.

Marilah menjadi berkat dengan apa yang kita miliki.

Sabtu, 17 September 2011

Usahakanlah Kesejahteraan


Baca: Yeremia 29:4-7.
Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada Tuhan, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu (Yeremia 29:7).

Waktu itu umat Yehuda berada dalam pembuangan di Babel. Di tengah kondisi sosio-politis yang menghancurkan harga diri seperti itu, Yeremia menasihati agar umat rela berpartisipasi dalam mengusahakan kesejahteraan bangsa. Umat diminta untuk mendoakan bangsa yang telah menyengsara­kannya itu. Alasannya, “kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu!” Alasan tersebut sangat realistis. Bukan demi kepentingan dan kebesaran umat itu sendiri saja, melain­kan demi kelangsungan misinya sebagi umat Allah.
Mencermati keberadaan umat kristen di negeri kita dalam konteks sosial-politik sekarang ini, mungkin kita cenderung berpikiran, bahwa hidup serta persoalan-persoalan yang kita hadapi itu pada hakekatnya mirip dengan keadaan umat di masa Pembuangan Babel itu. Bukankah kita sering merasa telah dijadikan sasaran kebencian serta kemarahan banyak orang secara tidak beralasan? Demikian pula hak-hak kita sebagai warganegara tidak dihormati, tapi diabaikan dan bahkan ditiadakan. Atau kita merasa telah dijadikan “warga negara kelas dua”, yang secara tidak adil harus mengalami diskriminasi di berbagai bidang?
Kalau kita berpikiran demikian, nasihat Yeremia cukup relevan untuk kita jalankan. Berpartisipasilah dalam membangun bangsa. Berdoalah bagi masyarakat, agar damai sejahtera yang berdasarkan keadilan, kebenaran dan kasih semakin terwujud. Di tengah-tengah kehidupan masyarakat, janganlah berpikir dan berbuat secara sempit dan eksklusif, demi kepentingan kelompok sendiri saja. —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, ampunilah dosa-dosa bangsa kami, cegahlah mereka yang ingin berbuat jahat, tetapi tambahilah jumlah orang-orang yang dengan tulus dan gigih mau memperjuangkan terwujudnya kebenaran, keadilan dan kasih-kemanusiaan, demi kesejahteraan orang banyak. Amin.

Jumat, 16 September 2011

Pasti Hidup

Baca: Matius 4:1-4
Tuhan Yesus menjawab: ”Ada tertulis: manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah.“ (Matius 4:4).

Kesaksian dari beberapa panti asuhan Kristen yang miskin membuat hati ini sedih, tapi sekaligus bangga. Sedih karena mereka hanya bergantung kepada Tuhan melalui para donatur, tapi juga bangga karena mereka mempunyai Allah yang tidak pernah membuat mereka amat sangat kekurangan. Lagu: ”Sungguh kubangga Bapa“ menjadi lagu favorit mereka. Mereka hidup tanpa orangtua, tetapi mereka melihat Allah sebagai Bapa melalui pertolongan yang tepat pada waktunya. Bagaimana dengan Anda?
Manusia milik Allah diciptakan kekal. Tubuh manusia akan mati, namun roh diciptakan kekal. Oleh sebab itu manusia tidak bergantung hanya pada makanan dari dunia ini saja. Setiap orang yang berpegang pada Firman Tuhan pasti akan mampu bertahan untuk menjalani hidup ini dalam suka dan duka bahkan sampai kekal (Yohanes 10:10).
Bertahanlah hidup karena ada Firman Tuhan. Roti adalah gambaran apa yang dibuat manusia, sementara Firman yang keluar dari mulut Allah menyatakan sesuatu yang pasti dan benar-benar akan terjadi. Jangan silau dengan yang dari dunia ini, tetapi percayalah kepada Firman-Nya yang bisa mengubah dua roti dan lima ikan dapat dimakan oleh 5000 orang. Bahkan masih sisa 12 bakul.
Jangan hanya percaya pada yang kita ketahui. Sebagian dari kita hafal ayat-ayat Alkitab. Tetapi hafal saja tidak cukup. Tuhan Yesus berkata agar kita percaya kepada setiap firman yang keluar dari mulut Allah. Semua yang tertulis dalam Alkitab adalah Firman Allah yang harus kita percaya dan kita amini. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Rahasia mengatasi ketakutan dan kekhawatiran hidup adalah berpegang pada Firman Tuhan yang hidup.

Kamis, 15 September 2011

Perintah Sebagai Pelita

Baca: Amsal 6:20-24
Karena perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan
(Amsal 6:23).

Dalam kehidupan sehari-hari, perintah sering bermakna negatif. Karena dalam perintah terkandung suatu ungkapan yang diucapkan seseorang dengan nada memaksa. Dan biasanya perintah dilakukan oleh se­seorang yang berada di posisi lebih tinggi kepada orang yang di bawahnya. Karena itu­lah perintah dan teguran umumnya kurang disukai dalam kehidupan persahabatan. Karena kita tidak mungkin bersahabat dengan teman yang suka memerintah.
Lalu mengapa kitab Amsal mengatakan : perintah itu pelita, dan ajaran itu cahaya, dan teguran yang mendidik itu jalan kehidupan.” Tampaknya penulis kitab Amsal menempatkan makna perintah, teguran dan penga­jaran dalam kerangka ”hikmat”. Tanpa hikmat atau kebijaksanaan, maka tidaklah mungkin mampu menjadi pelita, cahaya dan membawa jalan kehidupan. Melalui hikmat, baik perintah, teguran maupun penga­jaran akan menjadi ungkapan yang menyentuh hati dan mengubah hidup seseorang ke arah kebenaran. Jadi perintah yang berhikmat, teguran yang bijaksana dan pengajaran yang mencelikkan akal-budi sangatlah dibutuhkan.
Sikap berhikmat tidak pernah berkawan-karib dengan kesombongan, dusta dan hati yang jahat. Sebaliknya sikap berhikmat dipenuhi oleh kerendahan hati sehingga bersedia memelihara perintah ayah dan peng-ajaran ibunya (Ayat 20). Dia selalu mengingat-ingat dan merenungkan di dalam hatinya sehingga setiap perintah, teguran dan pengajaran yang telah diterimanya menjadi pelita. Pdt. Ifer Fr. Sirima

Doa: Ya Bapa, ajarlah kami selalu rendah-hati menyambut setiap perintah, teguran dan pengajaranMu. Khususnya bukalah hati kami untuk mendengar dan melaksanakan perintah kasih-Mu. Amin.