Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 31 Juli 2011

Tuhan Menggendong Kita

Baca: Mazmur 121:1-8
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambut-mu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukan­nya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4


Bapak Gunalan, seorang tua yang cukup dikenal di gerejanya, bertanya kepada teman yang sebaya dengan dia, katanya, “Apakah engkau pernah membaca Yesaya 46:4? Di situ Tuhan menyatakan, Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih ram­butmu Aku menggendong kamu. Jika sudah pernah membacanya, tolong jelaskan apakah engkau merasa digendong Tuhan? Sebab aku yang sudah setua ini merasa tidak mengerti bahwa aku digendong Tuhan.”
Masa tua adalah masa banyak mengalami “penurunan”, sehingga memerlukan perhatian lebih. Karenanya tidak sedikit para lanjut usia merasa hidup kurang sejahtera. Kesaksian, dan pengalaman iman teman sebaya bisa menguatkan dan mengobati perasaan kurang sejahtera itu. Contoh di atas, pak Gunalan, sedang memerlukan pertolongan teman untuk menjelaskan makna penyertaan Tuhan dalam hidupnya. Pak Gunalan cukup bijaksana, ia mencari tahu dari teman tentang apa yang ia perlukan. Mungkin yang ditanya juga kurang siap dengan jawaban jitu, tetapi anehnya saat mendapat penjelasan sederhana pak Gunalan merasa puas. Ia mendapat penjelasan berikut ini: Benar! Tuhan selalu menggendong kita, Ia tidak pernah melepaskan kamu sehingga kamu sekarang dapat datang ke sini dan bertemu dengan aku. Kamu bisa berkata-kata, bisa mengingat firman dan bisa bertanya, itu semua berkat “gendongan” Tuhan. Begitu juga aku bila tidak digendong Tuhan, aku tidak dapat menjelaskan itu semua kepadamu. —Pdt. Em. Efrayim Purwoatmodjo.

Doa: Tuhan, mampukan aku mengerti dan menghargai
penyertaan-Mu, sehingga meski kabut menyelimuti hidupku,
aku tetap menyadari engkau besertaku. Amin.

Sabtu, 30 Juli 2011

Kapan Badai Berlalu?


Baca: Yeremia 15:10-21
Mengapakah penderitaanku tidak berkesudahan, dan lukaku sangat payah, sukar disembuhkan? Sungguh, Engkau seperti sungai yang curang bagiku, air yang tidak dapat dipercayai.
—Yeremia15:18


Judul di atas mengingatkan kita pada krisis multidimensi yang meluluhlantakkan Indo-nesia lebih dari satu dasawarsa yang lalu. Setiap anak bangsa khawatir akibat carut-marutnya percaturan politik negeri ini yang terbukti sarat dengan kepentingan pribadi serta golongan. Ditambah dengan berbagai bencana alam, lengkaplah penderitaan bang-sa kita. Kapan badai ini berlalu dari bumi Nusantara? Memang benar permasalahan yang tak kunjung sirna sering kali menim-bulkan banyak reaksi dan pertanyaan.
Pengalaman Nabi Yeremia adalah pelajaran berharga yang korelasi dengan krisis kehidupan manusia. Pergulatan batin yang serius antara ketulusan sebagai utusan Allah dengan pemberontakan nalar manusiawi-nya cukup kuat. Sikap apatis umat Israel yang enggan membuka hati terhadap sabda Tuhan, Allah Israel, membuat ia berputus asa. Dan karena itu, ia pun mempertanyakan peran serta Tuhan yang mengutusnya. “Engkau seperti sungai yang curang dan air yang tidak dapat dipercayai.” Tidak ada motif lain di balik ungkapan apa adanya Yeremia. Ia hanya bermaksud “menggugah” kepedulian Allah, sesembahannya. Dan ter-bukti! Ternyata kesetiaan Allah itu turun-temurun bagi “orang-orang pilihan-Nya”. Kerasnya kehidupan merupakan badai yang tak mudah dilewati. Serbaneka krisis menjadi benalu atau parasit bagi usia dan karya manusia. Hanya ada satu jawaban, badai pasti berlalu ketika manusia tidak melembagakan dosa, tetapi mengimani Allah Sang Rahmani yang berkuasa mengubah badai menjadi berkat kehidupan selama-lamanya. —Simon Herman Kian.

Prestasi yang tidak tertandingi bagi orang beriman adalah
ketika ia Berhasil melewati badai kehidupan.

Jumat, 29 Juli 2011

Tuhan Beserta Kita

Baca: Yesaya 46:4
Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.
Yesaya 46:4


Ada banyak orang menganggap bahwa masalah yang datang dalam kehidupan ini bagaikan penyedap masakan. Hidup akan se­makin berarti ketika masalah menghampiri. Namun tidak sedikit orang menjadi sangat tertekan manakala masalah menghampiri dan bercokol dalam hidupnya. Ini seperti masakan, jika kurang garam menjadi ham­bar dan kurang membangkitkan selera, na­mun masakan yang kebanyakan garam juga menyebabkan orang tidak menyentuhnya apalagi memakan dan merasakan nikmatnya.
Terhadap masalah yang datang dalam hidup kita terkadang kita hanya menyepelekan begitu saja sehingga pada akhirnya menjadi bertumpuk-tumpuk. Sekecil apa pun masalah yang menghampiri kita adalah masalah dan harus dikelola dengan baik untuk diatasi. Atau terkadang belum apa-apa kita menganggap bahwa masalah yang kita hadapi sangat berat sehingga rasanya kita tidak mampu mengatasinya dan kita tidak kuat menanggungnya.
Di sinilah kita sering melupakan campur tangan dan melibatkan Tuhan dari awal dalam mengatasi masalah yang kita hadapi. Yang ada hanyalah menyalahkan Tuhan setelah kita merasakan masalahnya men­jadi sulit dibatasi sendiri.
Kitab Yesaya 46 ayat 4, mengingatkan kembali kita bahwa Tuhan telah berjanji untuk tetap mendampingi kita sampai kapan pun. Namun demikian bersediakah kita memberi ruang untuk pendampingan Tuhan tersebut? Bersediakah kita menghadapi masalah hidup ini bersama Tuhan dan tidak mengandalkan kekuatan kita sendiri? —Darmanto.

Kita harus tetap bersandar dan mengandalkan Tuhan dalam seluruh
hidup kita, karena Tuhan senantiasa memberkati kita.



Kamis, 28 Juli 2011

Jangan Mudah Menyerah

Baca: Lukas 19:1-4
Maka berlarilah dia mendahului orang banyak, lalu memanjat pohon ara untuk melihat Yesus, yang akan lewat di situ.
Lukas 19:4

Ada banyak orang, termasuk kita, yang ingin mengenal Yesus secara lebih dekat dan lebih dalam lagi. Namun sering terdapat rintangan dan halangan tertentu, baik yang muncul dari dalam maupun luar diri kita, yang membuat keinginan dan upaya kita untuk lebih dekat dengan-Nya itu terganggu dan terhambat. Hambatan dari dalam diri sendiri itu misalnya merasa tidak punya cu­kup waktu karena kesibukan. Atau mungkin juga karena menganggap pertemuan dengan Yesus kurang menyenangkan, karena kecaman dan kritikan-Nya terhadap perilaku kita yang tidak sesuai dengan hukum-hukum-Nya. Sedang hambatan dari luar timbul, misalnya akibat tekanan dan reaksi negatif dari lingkungan yang tidak menyukai kedekatan kita dengan-Nya.
Zakheus sangat ingin bertemu dengan Yesus. Namun dia merasa, dirinya penuh dengan dosa dan kesalahan akibat profesinya sebagai pe­mungut cukai. Selain itu tubuhnya juga pendek, sehingga tidak mampu bersaing dengan massa yang berdesak-desakan ingin melihat Yesus. Namun Zakheus tidak menyerah begitu saja pada hambatan-hambatan yang ada, sehingga membatalkan niatnya melihat Yesus. Ia tetap terus berusaha, bahkan dengan cara yang aneh dan tidak biasa, yaitu dengan tanpa malu-malu memanjat pohon di pinggir jalan. Upayanya yang pantang menyerah itu ternyata membuahkan hasil. Ia tidak hanya dapat melihat Yesus, tetapi Yesus bahkan berkenan menemuinya dan bermalam di rumahnya, yang membuatnya bertobat dan menjadi sela­mat. —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan Yesus, teguhkanlah tekad kami untuk berusaha lebih
dekat dengan-Mu, dan karuniakan jalan guna mengatasi
rintangan-rintangan yang menghambatnya. Amin.


Rabu, 27 Juli 2011

Di Balik Kesusahan

Baca: Ayub 8:1-22
Sebab Aku ini mengetahui rancangan-rancangan apa yang ada pada-Ku mengenai kamu, demikianlah firman Tuhan, yaitu rancangan damai sejahtera dan bukan rancangan kecelakaan, untuk memberikan kepa­damu hari depan yang
penuh harapan.
Yeremia 29:11


Ketika Tuhan menciptakan manusia, Tuhan meminta agar manusia mematuhi-Nya, dan Ia menjanjikan berkat bagi kita yang menaati-Nya. Sebaliknya, hukuman diberikan bagi kita yang tidak menaati ke-hendak-Nya (Mazmur 1). Inilah pemaham-an Bildad dan kebanyakan kita, tentang Tuhan—sebuah pemahaman yang benar, na­mun tidak menyeluruh. Itu sebabnya Bildad mendesak Ayub untuk mengakui dosanya. Alasan Bildad sederhana, yaitu bahwa Tuhan memberkati orang yang benar dan menghukum orang yang fasik—sebuah hukum sebab-akibat yang universal dan mudah dicerna. Namun, ada segi-segi lain yang perlu kita pertim­bangkan.
Kesulitan yang menimpa kita bukan selalu berarti Tuhan menghukum kita dan sebaliknya. Rencana-Nya terlalu luas untuk kita pahami. Allah memiliki kebebasan untuk berbuat dan kadang tindakan-Nya melenceng dari pemahaman kita yang terlalu sederhana ini. Tetapi, jangan mengira bahwa kebebasan Allah identik dengan kejahatan dan kesewenang-wenangan. Ia adalah Allah yang Mahabaik. Segala tindakan-Nya tidak akan termuati oleh maksud jahat.
Saat kesusahan menimpa, janganlah kita langsung memvonis bahwa Tuhan sedang menghukum kita. Periksalah diri kita, apakah ada dosa tersembunyi yang perlu kita bereskan dengan Tuhan. Jika tidak ada, terimalah kesusahan itu sebagai kehendak Tuhan yang tidak kita pahami. Tuhan tidak berjanji bahwa kita akan senantiasa mengerti tujuan akhir dari tindakan-Nya. Tetapi satu yang harus tetap kita pegang adalah bahwa rancangan-Nya merupakan rancangan damai sejahtera. —Prihanto Ngesti Basuki.

Kesusahan tidak senantiasa berarti hukuman Tuhan; adakalanya
kesusahan adalah baju kemurahan Tuhan.