Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Minggu, 31 Oktober 2010

Hanya Untuk Dicintai

Baca: Mazmur 127:3
Sesungguhnya, anak-anak lelaki adalah milik pusaka daripada Tuhan, dan buah kandungan adalah suatu upah.
Mazmur 127:3

Hati kita miris mendengar dan melihat kekerasan yang dilakukan oleh orangtua kandung terhadap anak-anak mereka sendiri. Belum lama, kita dibuat terperangah oleh kekerasan yang dilakukan oleh seorang ibu di Jakarta Utara, terhadap putranya yang baru berusia 5 bulan, mengakibatkan kedua ta-ngan dan kaki sang putra patah. Kita tak habis pikir, apa yang bisa dilakukan seorang anak berusia lima bulan untuk membangkitkan amarah ibunya? Paling-paling dia menangis, merasa tak nyaman karena lapar atau buang kotoran. Anak yang seharusnya sedang lucu-lucunya, menggemaskan, berceloteh, dan penuh gelak tawa, harus terbaring mengenaskan.

Kadang terbersit dalam pikiran saya, jika orangtua tidak dapat memberikan kasih sayang, bahkan hanya menyakiti anak, tidakkah sebaiknya mereka tak usah memiliki anak? Bagaimana pendapat Anda?

Dari hari ke hari kekerasan terhadap anak semakin marak. Pelakunya, sayang sekali, justru lebih banyak dilakukan oleh para ibu. Tangan ibu, yang mengandung dan melahirkan, tangan yang seharusnya membelai dan memeluk dengan penuh kasih sayang, menjadi liar tak terkendali, lalu menggampar dan mengemplang.

Anakmu bukan milikmu, demikian bunyi salah satu baris puisi penyair asal Lebanon, Kahlil Gibran. Ya, anak adalah milik Tuhan yang dika-runiakan, dititipkan kepada kita. Bagi kita yang mendapat karunia itu harus menjaganya dengan sepenuh hati. Sebab ia, si buah hati, bukan sebagai aset ketika kita tua nanti, pantas menerima yang terbaik demi kebahagiaannya semata. —Liana Poedjihastuti

Anak-anak dilahirkan untuk dicintai bukan untuk disakiti.

Sabtu, 30 Oktober 2010

Menjadi Teladan

Baca: Lukas 9:49-50
Yesus berkata kepadanya: “Jangan kamu cegah, sebab barangsiapa tidak melawan kamu, ia ada di pihak kamu.”
Lukas 9:50

Apa yang Anda rasakan kalau seseorang meniru tingkah laku Anda atau sesuatu yang Anda kerjakan? Katakanlah orang tersebut meniru cara Anda bertutur kata, meniru usaha yang sedang Anda jalankan atau meniru kebiasaan Anda. Apakah Anda merasa tersinggung atau tersanjung? Kalau boleh, saya menyarankan kepada Anda untuk merasa tersanjung dan membiarkan saja orang itu meniru Anda. Kalau Anda selama ini memiliki kebiasaan yang positif seperti sopan santun dalam berkata-kata, rapi dalam cara berpakaian, rajin bekerja, atau pintar bergaul, biarkan saja orang lain meniru kebiasaan Anda karena itu berarti Anda membiarkan hidupnya menjadi semakin baik.
Perhatikan keadaan sekitar kita. Segala produk yang bermutu pasti akan segera ditiru produsen lain. Kita juga boleh meniru. Kita meniru karena kita ingin selalu belajar dan mencoba hal-hal baru.
Sebetulnya meniru adalah proses yang wajar selama kita tetap menjadi diri sendiri. Sebagai orang Kristen, kita justru harus meneladan dan meniru Tuhan kita, Yesus Kristus. Berbahagialah dan bersyukurlah kalau hidup Anda bisa menginspirasi orang lain sehingga mereka berusaha melakukan apa yang Anda lakukan.
Pertahankan terus kebiasaan dan karakter Kristus yang Anda miliki dan buang segala karakter buruk yang masih tersisa. Hidup kita di dunia ini sangat singkat, jadi berikan nilai-nilai positif dan per¬buatan yang membangun untuk orang-orang di sekitar kita sehingga dari hidup kita mereka bisa melihat karakter Kristus dan meneladaninya. —Richard T. G. R

Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu,
dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu
dan dalam kesucianmu.
1 Timotius 4:12

Jumat, 29 Oktober 2010

Orang Ketiga

Baca: 1 Samuel 1:1-8
Tetapi madunya selalu menyakiti hatinya supaya ia gusar, karena Tuhan telah menutup kandungannya.
1 Samuel 1:6

Sebutan “orang ketiga” mempunyai pengertian negatif. Mengapa? Karena sudah banyak korban akibat “orang ketiga” yang masuk da-lam kehidupan pernikahan, entah dengan cara terang-terangan, sembunyi-sembunyi bahkan dengan kuasa gelap.
Pernikahan Elkana dan Hana yang tidak dikaruniai anak, menjadi pintu masuk bagi “orang ketiga”. Hana sakit hati dengan kehadiran Penina. Akankah Hana minta cerai atau malah stres dan bunuh diri? Tidak! Cara menyiasati hadirnya “orang ketiga menurut Hana” adalah:

Jangan meninggalkan pasangan kita di tengah pencobaan. Cinta memang kuat seperti maut. Pertahankan cinta yang telah dibina mula-mula dan jangan meninggalkan pasangan kita di tengah godaan dan pencobaan. Jangan membuka peluang iblis untuk mencari waktu yang baik (Lukas 4:13). Pertahankan seni bercinta lebih hangat lagi.
Antara madu dan racun, pilihlah botolnya untuk diisi dengan cinta. Hana sakit hati karena madu yang bernama Penina lebih memberi harapan ke masa depan daripada dirinya yang tidak punya anak. Namun Hana lebih suka mencari Tuhan dan mengisi hatinya dengan cinta kepada Tuhan (ayat 10). Akankah Anda meniru Hana ketika cinta terbagi?

Kalahkan “orang ketiga” dengan doa. Siapa sangka bahwa Hana pada akhirnya juga dikaruniai seorang anak bernama Samuel? Padahal Tuhan sudah menutup kandungannya (ayat 6). Bagi Tuhan tak ada yang mustahil. Ketika Hana berdoa, Tuhan hadir membuka kandungannya. Dia adalah Allah Bapa, Putra dan Roh Kudus, Ketiga-Nya yang Esa. Doa memang luar biasa kasiatnya! —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Kalau harus memilih madu atau racun,
pilihlah botolnya dan isi dengan cinta Tuhan.

Kamis, 28 Oktober 2010

Nasihat Orang Tua

Baca: 1 Raja-raja 12:6-9
Tetapi ia mengabaikan nasihat yang diberikan para tua-tua itu...
1 Raja-raja 12:8

Tak lama sesudah Rehabeam dinobatkan sebagai raja menggantikan Salomo, ayahnya, Yerobeam bersama sepuluh suku Israel wilayah utara menghadap dengan permo¬honan agar raja meringankan beban rakyat yang dulu dibebankan oleh Salomo.
Rehabeam lalu meminta nasihat para orang tua yang dulu menjadi pendamping Salomo. Para orang tua tersebut, yang rupanya tahu kekeliruan Salomo, menasehatinya agar mengabulkan permohonan rakyat, agar rakyat mau tetap tunduk kepadanya. Sayang,
Rehabeam tidak mau menuruti nasihat itu, dan lebih suka mengikuti nasihat orang-orang muda sebayanya. Akibatnya, kerajaan terpecah men-jadi dua, Israel di utara dan Yehuda di selatan.

Dari kisah tersebut dapat ditarik pelajaran, bahwa orang tua, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki, mampu memberikan nasihat yang tepat dalam menghadapi persoalan. Sayang, nasihat itu sering tidak dapat diterima oleh “generasi muda” yang menganggap pendapat itu kolot, ketinggalan zaman, dan sebagainya. Sedangkan nasihat yang tidak diterima, dapat membuat yang memberikannya menjadi kecewa, merasa tidak dihargai, hingga enggan mengemukakan pendapat.
Meski demikian, perlu kita sadari bahwa tetap menjadi tanggung jawab para orang tua untuk menyampaikan pendapat dan nasihat kepada kaum muda mengenai apa yang diyakini benar, berdasarkan pengetahuan dan pengalaman yang dimiliki. Setidak-tidaknya, pendapat dan nasihat itu dapat menjadi masukan pertimbangan yang berharga untuk memperkaya dan mempertepat keputusan yang hendak dibuat. —Pdt. Em. Sutarno.

Doa: Tuhan, karuniakan kepada kami keberanian dan kemampuan
untuk tetap menyampaikan pendapat dan nasihat yang tepat
kepada mereka yang lebih muda dari kami. Amin.

Rabu, 27 Oktober 2010

Mertua Dan Menantu

Baca: Rut 1:7-18
...sebab menantumu yang mengasihi engkau telah melahirkannya, perempuan yang lebih berharga bagimu dari tujuh anak laki-laki. Rut 4:15

Seorang pendeta menggunakan ilustrasi ini dalam khotbahnya. Anggota jemaatnya, seorang ibu, bertanya mengapa Tuhan tidak mendengarkan doanya. “Apa yang Ibu doa¬kan?” Tanya sang pendeta. “Saya doakan agar anak saya bercerai dari istrinya, sebab istrinya tidak menghormati saya, ia jahat terhadap saya,” jelas si ibu. Pendeta itu menyimpulkan bahwa Tuhan tidak mengabulkan doa yang tidak punya maksud baik (Yakobus 4:3).

Saya terpekur sembari membatin, sede¬mikian buruknyakah hubungan mertua menantu, sampai menginginkan anaknya bercerai. Tidakkah si ibu berpikir, dengan perceraian, mungkin ia bahagia, tetapi, apakah putranya akan sebahagia dirinya berpisah dari istrinya?

Tak dapat dipungkiri, dewasa ini masih saja terdengar isu hubungan mertua menantu yang jauh dari harmonis. Tetapi, lihatlah Naomi dan Rut. Hubungan mereka begitu mesra. Pasti ada yang dilihat oleh Rut dari Naomi, yang membuatnya bisa menghormati dan mengasihi mertuanya itu, dan sebaliknya (Rut 1:16-17; 4:15).
Jika kita seorang mertua, apakah perkataan, dan tindakan kita penuh pengertian seperti Naomi? Jika kita seorang menantu, apakah kita mengasihi mertua kita, seperti Rut? Bagaimanapun juga kalau tidak ada dia, ibunya, tidak akan ada suami kita bukan?

Sebagai mertua, sanggupkah kita berdoa seperti Grace Crowell, “Tak ada kata-kata yang memadai untuk mengucapkan syukur kepada-Mu, ya Tuhan, untuk istri putraku... Aku merelakan putraku bagi dia, aku yang telah begitu lama menyiapkan putraku dengan penuh kasih sayang untuk dia...” —Liana Poedjihastuti.

Cintai dan hormati mertuamu, jangan jahat
terhadapnya. Engkau sekarang memang seorang menantu,
tetapi besok engkau juga akan menjadi mertua.

Selasa, 26 Oktober 2010

Saudara Terdekat

Baca: Lukas 15:1-7
Lebih baik tetangga yang dekat daripada saudara yang jauh.
Amsal 27:10

Tidak dapat kita pungkiri, di zaman yang semakin modern ini orang semakin terpusat pada diri sendiri. Alasan seperti kesibukan, dan persaingan yang ketat, telah memaksa manusia untuk berpikir praktis dan efisien. Di satu sisi ini sungguh membuat hidup lebih baik dan mudah, tetapi pada sisi lain hubungan-hubungan menjadi renggang. Jadwal kerja yang padat membuat kesulitan bagi kita untuk berelasi dengan orang-orang yang tinggal di sekitar kita. Sebegitu kuatkah modernisasi memaksa kita menjadi terasing satu dengan yang lain? Menurut saya, itu tergantung dari cara kita me-nikmati kehidupan ini. Seorang teman saya yang super sibuk, tetap me-miliki waktu untuk menyapa dan bercakap-cakap dengan teman-teman tetangganya.

Ternyata kita memang tak dapat hidup sendiri. Kita membutuhkan mereka, orang-orang yang hidup di sekitar kita. Mereka adalah bagian dari proses pertumbuhan yang sehat sebagai komunitas. Pada waktu saya membaca Amsal 27:10 ini, saya teringat nasihat ibu saya: “Saudara yang terdekat adalah tetangga.”

Memang kita perlu menata hubungan dengan tetangga. Kita perlu berbagi dan menjadi bagian dalam kesukaan dan kesedihan mereka. Yesus memberi contoh tentang kegembiraan yang dibagikan oleh se-seorang yang menemukan kembali dombanya yang hilang (Lukas 15:6). Kegembiraan bersama tetangga dijadikan simbol suasana sukacita sur¬gawi. Marilah kita bagikan kegembiraan hidup di dalam Tuhan kepada orang-orang yang ada di sekitar kita, melalui dukungan, perhatian, dan ketulusan untuk saling membantu. —Pdt. Meyske S. Tungka.

Dalam kelebihan dan kekurangan bersama
orang lain, kita saling melengkapi.

Senin, 25 Oktober 2010

Dunia Semakin Sepi

Baca: Mazmur 71:9-12
Janganlah membuang aku pada masa tuaku, janganlah meninggalkan aku apabila kekuatanku habis.
Mazmur 71:9

Seorang pendeta berkata kepada saya bahwa mulai ada gejala di gerejanya, anak-anak muda yang datang ke gereja ternyata ada yang ber-hp-ria dan ber–facebook-ria se¬mentara pelayanan firman. Ini berarti akan tumbuh sikap tidak peduli terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Pemazmur yang sudah lanjut usia kha¬watir hidupnya akan mengalami kesepian di tengah keramaian karena miskinnya ke-pedulian. Bagaimana cara menumbuhkan kepedulian agar di dalam keluarga kita tetap hangat dan segar?

Ciptakan budaya menghargai yang tua atau yang berjasa. Tua dan yang purna tugas atau pensiun hampir selalu diartikan tidak berguna, tidak punya apa-apa, tidak produktif dan sebagainya. Kasih dalam ke¬luarga harus mencakup mereka yang tua. Bukankah para lansia masih termasuk warga kita.
Yang habis seharusnya diisi dengan yang baru. Zaman ini banyak produk yang bisa “diisi ulang”. Kenapa kalau yang tua sudah habis kekuat-annya, tidak diisi lagi dengan semangat baru agar tetap hidup dan tidak kecewa di hari tuanya? Adakah anggota keluarga Anda yang perlu “isi ulang”? Mintalah kepada Tuhan, dan penuhkan dengan Roh Kudus.
Kesepian hanya bisa terobati dengan cinta. Tua bukan berarti tidak lagi membutuhkan cinta. Selama masih ada hayat dikandung badan, cinta akan menyertainya. Pemazmur menjerit jangan sampai dirinya ditinggalkan. Mengalami kesepian di tengah keramaian. Tidak ada yang menyapa dan mengasihinya. Ingat kelak yang muda juga akan menjadi tua. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Kesepian positif bisa melahirkan inspirasi.
Kesepian negatif mengakibatkan jeritan hati.

Minggu, 24 Oktober 2010

Bukan Rutinitas Semata

Baca: Ibrani 9:11-14
Betapa lebihnya darah Kristus, yang oleh roh yang kekal telah mempersembah¬kan diri-nya sendiri kepada Allah sebagai persembahan yang tak bercacat, akan me¬nyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada yang hidup?
Ibrani 9:14

Sering kita melihat antrean di beberapa tempat misalnya di sebuah warung makan, di loket pertunjukan konser musik, di swa¬layan. Mereka rela mengantre di tempat-tempat ramai semacam itu beberapa lama untuk mendapatkan kepuasan sesaat. Mereka mengantre di warung makan yang katanya masakannya enak, sampai makanpun terasa tak nyaman karena belum habis makannya sudah ditunggui orang yang siap untuk menempati tempat duduk yang sedang kita gunakan untuk.

Makanan jasmani saja bisa membuat kita rela untuk mengantre di warung, mengapa kita tak mau untuk mencari makanan rohani yang lebih mengenyangkan kita dari kelaparan rohani kita? Mengapa kita tak memiliki kerinduan untuk pergi ke gereja demi untuk memuasakan dahaga rohani kita?

Kita mungkin punya artis idola yang membuat kita tergila-gila. Tetapi tahukah kita, mereka hanya manusia biasa yang tak layak kita puja-puja secara berlebihan. Kita memiliki Tuhan Yesus yang lebih pantas dan layak untuk kita puja dan idolakan.

Jika kita rela mengantre dengan sabar tanpa mengeluh saat di super¬market, mengapa kita tidak juga sabar untuk mendengarkan khotbah di gereja? Kita cenderung mengeluh karena khotbah terlalu panjang, padahal sehabis kebaktian di gereja kita ada acara. Kita membatasi dengan waktu yang kita tentukan sendiri. Akhirnya kebaktian belum selesai kita sudah kabur. —Sara Tee

Jadilah Kristen sejati yang tak menganggap
pergi ke gereja sebagai rutinitas semata.

Sabtu, 23 Oktober 2010

Jangan Menggeser Tuhan

Baca: Matius 19:27-30
Dan setiap orang yang karena nama-Ku meninggal¬kan rumahnya, saudaranya laki-laki atau saudaranya perempuan, bapa atau ibu¬nya, anak-anak atau ladang¬nya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup kekal.
Matius 19:29

Sebagai orang tua, mungkin kita mengang¬gap wajar-wajar saja kalau merasa tersing¬gung dan marah, manakala nasihat kita kepada anak kita tidak dituruti. Dalam hal ini, mungkin kita merasa tidak dihormati dan disepelekan. Bukankah menjadi kewa¬jiban anak untuk menghormati dan menaati orangtuanya, sebagaimana diperintahkan di dalam Hukum ke-5?

Pendapat semacam itu, baru setengah be-nar. Dan itu sangat berbahaya. Sebab, kalau diterus-teruskan, dapat justru menjadi seratus persen tidak benar! Maksudnya, bertumpu pada perintah bahwa anak harus menghormati dan menaati orangtua, kita lalu menganggap bahwa semua pendapat kita itu pasti benar, sedang pendapat anak kita pasti salah. Oleh karena itu, semua yang kita nasihatkan, harus ditaati dan dituruti. Dalam hal ini, kita seolah-olah telah menempatkan diri sebagai “tuhan” terhadap anak kita. Padahal, sebagai manusia berdosa, kita juga memiliki banyak kelemahan dan kekurangan. Karenanya, mungkin saja nasihat yang ingin kita paksakan itu sebenarnya keliru.

Tuhan Yesus mengingatkan, bahwa orangtua bukan segala-galanya, yang harus ditaati dan diikuti secara membabibuta. “Barangsiapa meng-asihi bapa atau ibunya lebih daripada-Ku, ia tidak layak bagi-Ku”. De-ngan kata lain, orangtua tidak boleh menggeser Tuhan, melainkan justru harus menundukkan diri kepada Tuhan. Oleh sebab itu, dalam bersikap kepada anak, orangtua juga harus menyadari keterbatasannya, dan rela merendahkan diri, tidak merasa selalu benar dan harus dituruti. —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, tolonglah kami untuk dapat merendahkan
diri di hadapan anak kami, dan lenyapkan keinginan untuk
memaksakan pendapat kepada anak kami. Amin.

Jumat, 22 Oktober 2010

Kesempatan

Baca: Lukas 10:38-42
Tetapi hanya satu saja yang perlu: maria telah memilih bagian yang terbaik, yang tidak akan diambil daripadanya.
Lukas 10:42

Yang membedakan orang sukses dan gagal adalah bagaimana ia memanfaatkan kesem¬patan. Kesempatan merupakan jalan untuk menuju kesuksesan. Orang yang lemah hanya menunggu kesempatan menghampirinya. Ia terus menunggu tanpa mau berusaha. Tak jarang setelah menunggu lama, kesempatan yang datang, ia biarkan berlalu karena ia tak mengetahui atau menyadarinya.

Orang yang kuat tidak hanya menunggu kesempatan. Ia berusaha menciptakan ke-sempatan walau orang lain tak bisa melihat adanya peluang. Tipe ini terus berinovasi untuk menciptakan kesempat-an. Tetapi orang yang bijaksana, adalah orang yang bisa memanfaatkan kesempatan.
Ada yang menunggu kesempatan, ada yang menciptakan kesempatan, dan ada yang memanfaatkan kesempatan. Orang sukses adalah yang mampu memanfaatkan kesempatan sekecil apa pun. Ia mampu me-respons kesempatan itu, memanfaatkan kesempatan itu lalu menindak¬lanjuti dengan suatu tindakan nyata. Tentu tak mudah memanfaatkan kesempatan yang ada untuk meraih kesuksesan. Ada rintangan dan persoalan untuk mencapainya. Tetapi di dalam kesulitan pasti tersem¬bunyi kesempatan.
Saat Yesus datang bersama murid-muridnya ke rumah Maria dan Marta, Maria mengambil kesempatan itu dengan baik. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk duduk di dekat kaki Yesus dan mendengarkan perkataan-Nya. Sedangkan Marta? Apa yang ia lakukan? Marta sibuk melayani. Marta telah melewatkan kesempatan besar untuk mendapatkan berkat. Bagaimana dengan kita? Mari memanfaatkan setiap kesempatan untuk lebih dekat dengan Yesus. —Sara Tee

Orang yang bijaksana mampu memanfaatkan
kesempatan untuk meraih kesuksesan.

Kamis, 21 Oktober 2010

Pendamping Anak

Baca: Kejadian 2:18-24
Sebab itu seorang laki-laki akan meninggalkan ayah¬nya dan ibunya dan bersatu dengan istrinya, sehingga keduanya menjadi satu daging.
Kejadian 2:24

Pernikahan merupakan keputusan bersama antara laki-laki dan perempuan dewasa. Di dalamnya mereka ingin hidup saling bergan¬tung satu dengan yang lain dan membuat kesepakatan-kesepakatan bersama untuk menghadapi kehidupan yang penuh tantang-an. Hal inilah yang harus dijunjung tinggi oleh kedua pihak orangtua. Kedua anak yang pernah dibesarkan sekarang sudah de-wasa dan hidupnya tidak bergantung lagi kepada orang¬tuanya. Mereka sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan dalam menghadapi kehidupan dengan segala permasalahannya.

Kedua pihak orangtua sudah tidak boleh terlalu banyak ikut campur dalam rumah tangga anak-anaknya. Orangtua yang masih terlalu men¬campuri keluarga anaknya hanya akan menimbulkan perpecahan dalam kehidupan keluarga anak-anaknya. Kecuali anaknya yang sudah berke¬luarga itu minta nasihat atau pertolongan orangtuanya, itu pun harus atas kesepakatan pasangan, maka orangtua bisa memberikan nasihat, pertimbangan dan bantuannya. Orangtua harus bisa menempatkan diri sebagai pendamping anak-anak yang mengasihi. —A. Budipranoto

Doa: Ya, Tuhan, sebagai lansia di mana anak kami
sudah berkeluarga, biarlah kami sebagai pendamping yang
mengasihi, tidak terlalu banyak mencampuri urusan
rumah tangga anak kami. Amin.

Rabu, 20 Oktober 2010

Peringatan

Baca: Ibrani 3:13-16
Tetapi nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan “hari ini”...
Ibrani 3:13

Setiap bungkus rokok merek apa pun di In¬donesia wajib mencantumkan tulisan: “Me-rokok dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi dan gangguan kehamilan dan janin.” Peringatan ini barangkali lebih dianggap sekadar untuk memenuhi legal formal produk rokok ketimbang sebagai imbauan serius bagi kaum perokok akan bahaya merokok.

Ketika penulis Ibrani menganjurkan agar kita saling mengingatkan seorang akan yang lain yang menyimpang dari kebenaran, tentu
tidak dimaksudkan sekadar formalitas atau legalitas semata. Kita diminta dengan tulus hati dan sungguh-sungguh untuk menasihati orang-orang yang kita kasihi agar tidak tegar hatinya karena tipu daya dosa (ayat 13). “Nasihatilah seorang akan yang lain setiap hari, selama masih dapat dikatakan ‘hari ini’...” Pernyataan ini menyiratkan keseriusan, bukan sekadar basa basi, agar kita menasihati orang-orang yang kita kasihi tidak melakukan perbuatan dosa yang dapat membangkitkan amarah Tuhan. Kita tidak ingin melihat suami, istri atau anak-anak kita mengeraskan hati mendengarkan suara Tuhan (ayat 15).

Yakobus berpesan, “Saudara-saudaraku, jika ada di antara kamu yang menyimpang dari kebenaran dan ada seorang yang membuat dia berbalik, ketahuilah, bahwa barangsiapa membuat orang berdosa berba¬lik dari jalannya yang sesat, ia akan menyelamatkan jiwa orang itu dari maut dan menutupi banyak dosa” (Yakobus 5:19-20). Lalu bagaimana kita memberikan nasihat, peringatan atau teguran? Sebaiknya berdoalah kepada Tuhan sebelum memberikan nasihat, peringatan atau teguran. Ingat, seranglah masalahnya, bukan orangnya, dan tekankanlah untuk segera bertobat! —Agus Santosa

Siapa menegur orang akan kemudian lebih disayangi
daripada orang yang menjilat.
—Amsal 28:23

Selasa, 19 Oktober 2010

Jembatan Bukan Tembok

Baca: 1 Yohanes 4:17-21
Di dalam kasih tidak ada ketakutan: kasih yang sempurna melenyapkan ketakutan; sebab ketakutan mengandung hukuman dan barangsiapa takut, ia tidak sempurna di dalam kasih.
1 Yohanes 4:18

Ada seorang gadis yang takut sekali kehi-langan kekasihnya. Segala cara dipakai pe¬muda itu untuk meyakinkan gadis pujaannya bahwa dirinya tidak akan mempermainkan¬nya. Suatu hari pemuda tersebut membaca ayat di atas dan dikirimkannya kepada gadis itu. Wow, luar biasa tanggapannya. Sekarang gadis itu percaya 100% kepada pemuda yang mencintainya. Apakah karena diambil dari firman Tuhan? Tidak! Tetapi makna dari kata-kata itu yang meneguhkan gadis tersebut.

Kasih yang sejati bagaikan bangunan sebuah jembatan. Jembatan tidak pernah dibuat putus di tengah. Jembatan selalu menyambung antara tempat yang satu dengan tempat di seberangnya. Putus di tengah berarti terjun ke laut, kan? Buatlah jembatan dalam rumah tangga kita, jangan sampai putus hubungan antar sesama anggota keluarga kita.

Ketakutan terjadi kalau berada di atas tembok atau di balik tembok. Orang yang takut ketinggian jangan memanjat tembok. Orang yang takut terpisah jangan berada di balik tembok. Ingat Tembok Berlin masa lalu. Dalam rumah tangga cobalah hindari membuat “tembok” . Tembok suami istri, tembok orang tua dan anak, tembok mertua dan menantu. Makin tinggi sebuah tembok, akan makin gelap suasananya. Seram!
Kasih dapat diuji melalui apa yang sedang kita bangun bersama. Rumah tangga Anda sedang mengarah kemana? Mendirikan tembok atau membangun jembatan? Yang jelas keduanya butuh waktu lama untuk membangunnya, tetapi bila sudah runtuh pasti menelan banyak korban
Pilihlah membangun jembatan dengan pondasi Kasih Kristus. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Jembatan dibangun untuk menjadi jalan kasih, tetapi tembok
akan membentuk bayang-bayang gelap di kedua sisinya.

Senin, 18 Oktober 2010

Alasan Bertengkar

Baca: Efesus 5:33
Bagaimanapun juga, bagi kamu masing-masing berlaku: kasihilah istrimu seperti dirimu sendiri dan istri hendaklah menghormati suaminya.
Efesus 5:33

Apa yang biasanya menjadi alasan perteng¬karan Anda dengan pasangan? Pasti Anda bisa menyebutkan sederet alasan, mulai dari kebiasaan yang menjengkelkan sampai masalah yang lebih serius seperti perbedaan prinsip. Tetapi tahukah Anda bahwa menu¬rut Lovasik, kebanyakan pertikaian di antara pasutri dimulai karena satu pihak sedang marah kepada orang lain?

Tidak jarang para suami pulang ke ru¬mah membawa “oleh-oleh” rasa jengkel dan marah karena di tempat kerja dicela atasan, betengkar dengan rekan kerja, kuota tak terpenuhi, dan lain-lain . Tentu hal ini tak adil untuk keluarganya. Mereka tidak tahu apa-apa, tetapi kena damprat. Mestinya oleh-oleh untuk keluarga kan yang enak-enak saja.

Lalu bagaimana mengantisipasi keadaan seperti itu? Kisah Lovasik yang jenaka ini sungguh menginspirasi. Sepasang suami-istri membuat kesepakatan. Jika sang suami pulang dari ladang dalam keadaan tidak senang dan ingin marah, ia akan melipat satu bagian kaki celana lebih tinggi dari yang lain. Begitu melihat tanda itu, si istri akan tahu, itulah saat bertindak hati-hati karena suaminya bak bom yang siap ledak. Sebaliknya jika si istri sedang jengkel atau merasa tak enak, ia akan mengenakan peniti di sudut atas bajunya. Kesepakatan itu telah banyak menghindarkan mereka dari pertengkaran yang tak perlu.

Tentu di balik kesepakatan itu, terdapat dasar kuat sebagai lan¬dasannya, yaitu saling mengasihi hingga keduanya mampu bertenggang rasa. Tertarik untuk mencobanya? Mengapa tidak menemukan sendiri ke-sepakatan Anda? —Liana Poedjihastuti

Tetapi buah roh ialah: kasih, sukacita, damai sejahtera, kesabaran,
kemurahan, kebaikan, kesetiaan, kelemahlembutan, penguasaan diri.
—Galatia 5:22-23

Minggu, 17 Oktober 2010

Keseimbangan

Baca: Galatia 6:2
Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Demikianlah kamu memenuhi hukum Kristus.
Galatia 6:2

Ketika saya mengatur aquarium dengan tanaman air dan ikan-ikan air tawar, saya menyadari tidak semua tanaman dan ikan dengan harga mahal harus saya beli agar aquarium terlihat alami. Ikan murah harga Rp 2.000,00 seperti ikan jenis gupi yang kecil berekor panjang dan berwarna-warni, ikan neon yang badannya mengandung warna fosfor, ikan plati berekor seperti pisau dan ikan white/ blak molly dapat diguna¬kan untuk mendampingi ikan-ikan mahal berharga puluhan ribu rupiah seperti discus merah/violet, ikan mono berbentuk segitiga warna putih, manfish yang berjurai panjang dan bala-bala yang berbentuk seperti hiu.

Kehadiran ikan-ikan murah itu tidak sekadar meramaikan aquarium dengan biaya murah, tetapi sekaligus menjadi penyeimbang warna, bentuk dan pengisi tempat kosong di sela-sela tanaman air dan kayu bakau sehingga aquarium tampak alami. Namun demikian, tidak dapat dipungkiri bahwa tidak semua jenis ikan dapat dicampur dalam satu tempat.

Dari perpaduan ikan-ikan itu saya belajar, rupanya keseimbangan dapat terjadi kalau kita mengetahui kelemahan dan kekuatan masing-masing. Ketika si lemah dapat menerima si kuat, dan si kuat melindungi si lemah karena membutuhkan, maka akan tercipta keseimbangan dan keharmonisan dalam kehidupan bersama.
Bagaimana dengan keluarga kita, apakah setiap anggota keluarga menyadari kekuatan dan kelemahan masing-masing? Dan yang lebih penting lagi dapatkah setiap anggota keluarga saling memahami, mengerti, saling membutuhkan, dan saling menolong? —Pramudya

Dalam kelemahan kita menyadari kekuatan orang lain
dan membutuhkannya, dan dalam kekuatan, kita melihat
kelemahan orang lain dan harus menolongnya.

Sabtu, 16 Oktober 2010

Di Hati Suami

Baca: Amsal 31:10-12
Istri yang cakap siapakah akan mendapat¬kannya? Ia lebih berharga daripada permata.
Amsal 31:10

Setiap perempuan harus menyadari bahwa dirinya adalah sosok pribadi yang berharga di mata Allah. Allah telah menciptakan Anda dengan istimewa, diperlengkapi dengan po¬tensi dan talenta yang sudah dikembangkan. Sesudah menikah, perempuan ditaruh dan dipasang di hati suaminya untuk dicin¬tainya. Perintah Allah kepada suami adalah untuk mengasihi istrinya, karena kecantikan dan kemolekan akan lenyap dimakan usia, satu hal yang akan lestari adalah perempuan yang takut akan Tuhan dan membawa keluarganya berjalan di jalan Tuhan.

Pertama: Jangan lenyapkan kebanggaan itu, walaupun dahulu Anda kurus, tinggi dan lansing, kini berubah, badan dan pinggang bertambah gemuk. Dahulu berwajah cantik, kini kulit menjadi kisut, dahulu wanita karier, kini menjadi nenek yang pekerjaannya momong cucu, dan siang malam menunggu panggilan anak dan mantu untuk dititipi cucu, jangan lenyapkan kebanggaan itu.

Kedua: Hai, para suami taruhlah istrimu di dalam hatimu, kasihilah dia setiap waktu dan jangan turunkan statusnya menjadi lebih rendah, dari statusnya yang semula. Janganlah kekosongan hatimu diisi oleh wanita lain.
Ketiga: Bimbinglah istri Anda dengan kepemimpinan yang ber¬dasarkan kasih bukan dengan kuasa yang tak terbantahkan. Bukan gengsi dan harga diri yang ditonjolkan, tetapi tunjukkan pengorbanan dan pelayanan apa yang bisa Anda lakukan. Niscaya hidup berkeluarga kita akan tampak indahnya. —Pdt. Agus Wiyanto

Suami jangan ingin dianggap nomor satu, yang mesti dilayani,
tetapi lakukan apa yang bisa anda lakukan untuk
kebahagiaan pasangan Anda.

Jumat, 15 Oktober 2010

Seorang Mesias

Baca: Yohanes 1:24-27
Yohanes menjawab mereka, katanya: “aku membaptis dengan air; tetapi di tengah-tengah kamu berdiri Dia yang tidak kamu kenal.”
Yohanes 1:26

Di sebuah keluarga, tiga orang kakak-beradik sering kali bertengkar. Ketiganya tidak ada yang mau mengalah, apalagi bila itu me¬nyangkut kepemilikan barang-barang yang sebenarnya bisa mereka gunakan bersama. Kedua orang tua mereka, sungguh prihatin melihat ketiganya dari hari ke hari. Mereka bukannya memperlihatkan kemajuan kede¬wasaan mereka, namun semakin konyol dengan tidak segan-segan saling melukai.
Kedua orang tua mereka hampir putus asa, namun tetap berupaya mencari jalan memecahkan masalah pelik itu. Mulailah keduanya menyusun rencana, ketiga anak mereka digilir dikirim ke desa ke tempat kakek mereka, se-orang pendeta emiritus. Seperti biasa sang kakek tidak banyak bicara, namun menjelang setiap anak hendak pulang kembali ke rumah, ia sempat memesankan bahwa salah seorang dari anggota keluarga mereka adalah Mesias.
Awalnya pesan itu tidak begitu berkesan dan memberi dampak apa pun. Namun tak lama kemudian mulai tampak perubahan. Si sulung merasa kedua adiknya banyak sekali perubahan, jangan-jangan salah satu dari mereka adalah Mesias seperti kata kakek. Sebaliknya kedua adik melihat perubahan drastis dari kakak mereka. Pikir mereka jangan-jangan ini Mesias seperti yang dipesankan kakek mereka. Ketiga anak bersaudara ini mulai berhati-hati dalam bersikap, berperilaku dan berbicara satu terhadap yang lain. Perubahan hidup ini ternyata memikat yang lain, sehingga dalam waktu yang tidak terlalu lama, mereka semua dapat hidup rukun dan saling mengasihi. —Pdt. Meyske S. Tungka

Doa: Ya Bapa, kami sungguh menyesal, begitu banyak waktu, tenaga dan daya yang kami habiskan untuk mencari engkau, namun kami ga¬gal menemukan engkau karena kami lupa bahwa Engkau selalu hadir mengamati kami dalam hidup kami setiap hari. Amin.

Kamis, 14 Oktober 2010

Keluarga Harmonis

Baca: Kolose 3:12-14
Dan di atas semuanya itu kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatu¬kan dan menyempurnakan.
Kolose 3:14

Keluarga merupakan tempat di mana sekelompok orang, oleh ikatan darah, hidup bersama-sama. Meski ada dalam ikatan darah, mungkin saja terjadi konflik antar anggota keluarga, akibat perbedaan penda¬pat dan kepentingan. Meski pada umumnya ikatan darah itu dapat menjadi perekat untuk memulihkan kembali keretakan yang terjadi, namun tidak tertutup kemungkinan bahwa pemulihan tidak dapat terjadi. Atau, kalau pun terjadi, itu hanya menyangkut “kulit lu¬arnya” saja, sehingga pemulihan yang sesung-
guhnya tetap tidak terjadi. Dengan demikian, ikatan darah ternyata belum dapat menjadi jaminan penuh bagi terpeliharanya keharmonisan hubungan di dalam keluarga.

Menyadari kenyataan tersebut, kita masih memerlukan dasar lain yang bersumber dari firman Tuhan, untuk memelihara dan melestarikan keserasian kehidupan berkeluarga. Dari sekian banyak nasihat menge¬nai dasar-dasar bagi hubungan antar manusia umumnya, yang pasti juga bermanfaat bagi hubungan dalam keluarga, apa yang dinasihatkan Paulus kepada jemaat Kolose dapat kita gunakan. Paulus menasihatkan, agar orang-orang percaya mau mengenakan belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, kesabaran dan pengampun, dalam menjalani kehidupan bersama. Paulus menekankan, “... di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” Itulah “resep” dari Alkitab, yang kalau benar-benar dilakukan oleh setiap anggota keluarga, pasti akan menjadikan kehidupan dalam keluarga itu tetap serasi dan sejahtera. —Pdt. Em. Sutarno

Doa: Tuhan, hindarkanlah keretakan yang mengancam
keluarga kami, dengan mengaruniakan kasih-Mu
sebagai perekatnya. Amin.

Rabu, 13 Oktober 2010

Pola Timbangan

Baca: Lukas 6:27-36
Dan sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.
Lukas 6:31

Barangkali tidak berlebihan bila dikatakan bahwa salah satu kebutuhan kita membentuk persekutuan adalah agar kita memperoleh dukungan dan pengayoman dalam kehidupan bersama orang lain. Inilah juga yang sering kita harapkan dari sebuah persekutuan keluarga. Di dalam keluarga, bapak, ibu, anak, dan saudara merasakan kebutuhan yang sama: ingin diterima, didukung dan diayomi. Karena itu ketika keinginan itu tidak kita peroleh, maka dengan mudah kita menjadi tawar hati dan kehilangan semangat untuk hidup bersama anggota kerluarga.

Sebagai orang tua kita hanya ingin mengasihi anak-anak kita tatkala mereka berlaku manis dan tidak nakal. Sebaliknya anak-anak hanya mau mendengar apa kata orang tua tatkala semua keinginan mereka mampu dipenuhi. Seorang suami hanya akan mengasihi istrinya, kalau istrinya mau menuruti kata-katanya—dan sebaliknya. Seorang kakak hanya akan mengasihi adiknya ketika adiknya mau memenuhi perintahnya; dan seterusnya.

Apa yang ada dalam hubungan keluarga seperti tersebut di atas, adalah hubungan yang saling menuntut dan ingin memperlakukan orang lain se¬bagai bawahan dan pesuruh yang harus selalu memenuhi segala keinginan¬nya. Satu-satunya pola timbangan yang dipakai dalam hubungan macam begitu adalah: Kamu mengasihi saya, saya juga mengasihi kamu.

Tuhan Yesus mempunyai pola timbangan yang baru dalam menjalin dan membina relasi—termasuk keluarga, yakni pola timbangan: “...sebagaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” —Pdt. Ifer Fr. Sirima

Doa: Ya Tuhan, berilah kami kemampuan untuk memakai
pola timbangan yang baru yang engkau ajarkan kepada kami
dalam kehidupan keluarga-keluarga kami. Amin.

Selasa, 12 Oktober 2010

Cocok atau Cekcok

Baca: Matius 19:1-6
Demikianlah mereka bukan lagi dua, melainkan satu. Karena itu, apa yang telah dipersatukan Allah, tidak boleh diceraikan manusia.
Matius 19:6

Apabila di ruang makan ada hiasan sendok dan garpu dipajang, itu wajar. Tetapi kalau hiasan itu dipasang di dalam kamar tidur, jangan berpikir bahwa suami-istri itu hobi-nya makan. Tidak. Sendok garpu adalah lambang keharmonisan suami-istri. Selalu cekcok tetapi memang itulah pasangannya. Ketahuilah bahwa Allah tidak pernah men¬jodohkan, tetapi menyatukan, seperti dua lembar kertas yang direkatkan menjadi satu. Bagaimana perjalanan rumah tangga Anda sejauh ini? Masih seperti sendok dan garpu?

Pernikahan bukan menyocokkan tetapi menyatukan perbedaan. Perbedaan pria dan wanita memang diciptakan Tuhan. Menikah ada¬lah hidup bersama orang yang berbeda sampai kematian memisahkan keduanya. Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi untuk saling mengisi dan melengkapi.
Cekcok kecil membahagiakan, cekcok besar membahayakan. Cekcok kecil memang tidak bisa dihindarkan karena perbedaan, tetapi justru itulah seninya bercinta. Yang bahaya adalah bila cekcok kecil itu dikembangkan menjadi cekcok besar. Ini yang Tuhan tidak kehendaki sebab bisa mengarah kepada perceraian.

Perangnya sendok dan garpu di atas piring, tanda masih saling membutuhkan. Berselisih paham, salah pengertian, kurang tanggap dan sebagainya jangan dibesarkan menjadi tanda-tanda perceraian. Itu sih perangnya sendok dan garpu dalam keluarga. Asal jangan sampai “piring”nya retak. Kalau mau baik, gantilah dengan piring plastik yang anti pecah. Artinya jangan saling mengeraskan hati, tapi usahakan saling mengampuni. Setuju? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Sendok dan garpu walaupun cekcok di atas piring
usakahan jangan sampai piring pecah.