Baca: 1 Petrus 4:12-19
Berbahagialah kamu, jika kamu dinista karena nama Kristus, sebab Roh Kemuliaan yaitu Allah ada padamu.
1 Petrus 4:14
Biasanya orang akan bersukacita kalau mendapatkan sesuatu yang berkaitan dengan kegembiraan, keberuntungan, kesuksesan atau segala hal lain yang bersifat memba¬hagiakan. Sukacita dianggap kebalikan atau lawan dari penderitaan, kegagalan, ke-sialan, kesedihan atau segala sesuatu yang bersifat merugikan. Jadi, jika ada orang yang bersukacita karena kegagalan, kedukaan, penderitaan atau segala sesuatu yang tidak membahagiakan dirinya, pasti semua orang akan mengatakan bahwa itu tidak normal.
Di antara murid-murid Tuhan Yesus, pastilah kita akrab dengan nama Petrus. Dia adalah murid Yesus yang emosional, labil tetapi sangat loyal. Petrus adalah satu-satunya murid Yesus yang pernah menyangkal menge¬nal Yesus sampai tiga kali dengan mengatakan, aku tidak mengenal Dia, ketika seseorang menanyainya pada malam Yesus akan disalib. Tetapi kemudian setelah Yesus bangkit dan naik ke surga, Petrus berubah total. Petrus merasa berbahagia dalam penderitaan, untuk nama Yesus. Bagi Petrus adalah hal yang lumrah jika dirinya mengalami siksaan, hinaan dan penderitaan saat memberitakan Kabar Baik, bahkan dia dapat ber¬sukacita dalam penderitaan itu.
Bagaimanakah dengan pelayanan kita saat ini, apakah kita juga dapat bersukacita di tengah-tengah hinaan, penderitaan dan keke¬cewaan yang mungkin kita temui? Ataukah kita merasakan bahwa pelayanan yang kita lakukan adalah beban yang sangat berat yang harus dijalankan? —Pramudya
dimuliakanlah nama-mu dalam hidupku.
Tentang Sanggar Mitra Sabda
- Sanggar Mitra Sabda
- PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.
Sabtu, 25 September 2010
Jumat, 24 September 2010
Sukacita Dengan Sesama
Baca: Roma 12:10-15
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menagis!
Roma 12:15
Seruan dan nasihat Paulus untuk bersu¬kacita ataupun menangis bersama sesama itu tentu tidak dimaksudkan hanya sebagai perbuatan basa-basi atau pura-pura saja, me¬lainkan benar-benar merupakan wujud dari rasa solidaritas dan kepedulian yang tulus terhadap sesama. Dan semuanya itu berakar serta bersumber dari rasa kasih yang tulus, yang keluar dari lubuk hati dan kesadaran nurani yang mendalam. Sikap dan perbuatan solider seperti itu merupakan perwujudan atau penerapan dari perintah untuk mengasihi sesama sebagai diri sendiri. Atau menurut Lukas 6:31, “Seba¬gaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Oleh sebab itu dalam Roma 12:9-10 Paulus menyerukan, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”, dan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara”.
Dalam hal ini sering kita berpikir dan mengira bahwa kasih, yang penerapannya berupa solider dan peduli terhadap sesama itu, memerlu¬kan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Menyadari bahwa kita tidak (lagi) cukup memiliki hal-hal tersebut, maka sering kita menjadi kecil hati dan lalu tidak berbuat apa-apa. Terhadap kenyataan seperti itu hendaknya kita menyadari bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama itu tidak selalu harus “dibayar” dengan tenaga, waktu dan biaya seperti itu. Orang yang menerima perlakuan sesamanya yang dengan tulus mau bersukacita ataupun menangis bersamanya itu, tentu merasa sangat bahagia dan berterima kasih. —Pdt. Em. Sutarno
Solider dan peduli terhadap sesama, lebih memerlukan
hati ketimbang tenaga, waktu dan biaya. Oleh sebab itu,
bukalah dan sediakan hati untuk itu.
Bersukacitalah dengan orang yang bersukacita, dan menangislah dengan orang yang menagis!
Roma 12:15
Seruan dan nasihat Paulus untuk bersu¬kacita ataupun menangis bersama sesama itu tentu tidak dimaksudkan hanya sebagai perbuatan basa-basi atau pura-pura saja, me¬lainkan benar-benar merupakan wujud dari rasa solidaritas dan kepedulian yang tulus terhadap sesama. Dan semuanya itu berakar serta bersumber dari rasa kasih yang tulus, yang keluar dari lubuk hati dan kesadaran nurani yang mendalam. Sikap dan perbuatan solider seperti itu merupakan perwujudan atau penerapan dari perintah untuk mengasihi sesama sebagai diri sendiri. Atau menurut Lukas 6:31, “Seba¬gaimana kamu kehendaki supaya orang perbuat kepadamu, perbuatlah juga demikian kepada mereka.” Oleh sebab itu dalam Roma 12:9-10 Paulus menyerukan, “Hendaklah kasih itu jangan pura-pura”, dan “Hendaklah kamu saling mengasihi sebagai saudara”.
Dalam hal ini sering kita berpikir dan mengira bahwa kasih, yang penerapannya berupa solider dan peduli terhadap sesama itu, memerlu¬kan tenaga, waktu dan biaya yang tidak sedikit. Menyadari bahwa kita tidak (lagi) cukup memiliki hal-hal tersebut, maka sering kita menjadi kecil hati dan lalu tidak berbuat apa-apa. Terhadap kenyataan seperti itu hendaknya kita menyadari bahwa solidaritas dan kepedulian terhadap sesama itu tidak selalu harus “dibayar” dengan tenaga, waktu dan biaya seperti itu. Orang yang menerima perlakuan sesamanya yang dengan tulus mau bersukacita ataupun menangis bersamanya itu, tentu merasa sangat bahagia dan berterima kasih. —Pdt. Em. Sutarno
Solider dan peduli terhadap sesama, lebih memerlukan
hati ketimbang tenaga, waktu dan biaya. Oleh sebab itu,
bukalah dan sediakan hati untuk itu.
Kamis, 23 September 2010
Beban Kehidupan
Baca: Filipi 4:4-5
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat.
Filipi 4: 4-5
Setiap orang memiliki beban kesulitannya sendiri. Haruskah setiap kesulitan hidup merampas sukacita kita? Tentu saja tidak. Lihatlah Paulus meskipun mengalami situasi yang tidak enak, sukacitanya tak terampas. Saat itu Paulus berada di dalam penjara Filipi, bahkan menunggu datangnya vonis yang bisa saja dia dijatuhi hukuman mati (Filipi 1:21-25), dan ada penyakit yang tidak sembuh. Namun dalam siatuasi hidup yang tidak enak, dengan fasilitas yang terbatas tidak menjadikan dirinya patah semangat
dengan mental yang tidak berdaya. Paulus tetap tegar beriman dan memiliki semangat, sukacita yang dibagikan kepada jemaat Filipi.
Sukacita seperti apa yang diajarkan Paulus? Jangan cari sukacita yang semu, karena dunia banyak menawarkan sukacita sesaat sebagai pelarian sesaat untuk melupakan masalah, tetapi masalah tidak terurai tuntas. Jangan cari sukacita sekadar eforia untuk meluapkan kegembiraan sesaaat, yang hasilnya tidak mengubah apa pun dalam hidup kita. Jangan cari sukacita dalam sesuatu yang fun, membuat tertawa sejenak, terpingkal- pingkal tetapi tidak menyelesaikan akar masalah yang kita hadapi. Buang pikiran yang negatif dan kembangkan pikiran yang positif.
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti ada rencana dan maksud Tuhan di dalam¬Nya. Buanglah perasaan bahwa kita adalah orang yang paling malang hingga menyesali diri. Jangan membandingkan beban hidup kita dengan orang lain karena segala perkara dapat kita tanggung dalam Tuhan yang selalu memberikan kekuatan kepada diri kita. —Pdt. Agus Wiyanto
Ajakan Paulus, bersukacita senantiasa dalam segala hal,
bersukacita dalam segala keadaan. Ketika hidup
berjalan lancar maupun mengalami situasi yang tidak enak.
Bersukacitalah senantiasa dalam Tuhan! Sekali lagi kukatakan: Bersukacitalah! Hendaklah kebaikan hatimu diketahui semua orang. Tuhan sudah dekat.
Filipi 4: 4-5
Setiap orang memiliki beban kesulitannya sendiri. Haruskah setiap kesulitan hidup merampas sukacita kita? Tentu saja tidak. Lihatlah Paulus meskipun mengalami situasi yang tidak enak, sukacitanya tak terampas. Saat itu Paulus berada di dalam penjara Filipi, bahkan menunggu datangnya vonis yang bisa saja dia dijatuhi hukuman mati (Filipi 1:21-25), dan ada penyakit yang tidak sembuh. Namun dalam siatuasi hidup yang tidak enak, dengan fasilitas yang terbatas tidak menjadikan dirinya patah semangat
dengan mental yang tidak berdaya. Paulus tetap tegar beriman dan memiliki semangat, sukacita yang dibagikan kepada jemaat Filipi.
Sukacita seperti apa yang diajarkan Paulus? Jangan cari sukacita yang semu, karena dunia banyak menawarkan sukacita sesaat sebagai pelarian sesaat untuk melupakan masalah, tetapi masalah tidak terurai tuntas. Jangan cari sukacita sekadar eforia untuk meluapkan kegembiraan sesaaat, yang hasilnya tidak mengubah apa pun dalam hidup kita. Jangan cari sukacita dalam sesuatu yang fun, membuat tertawa sejenak, terpingkal- pingkal tetapi tidak menyelesaikan akar masalah yang kita hadapi. Buang pikiran yang negatif dan kembangkan pikiran yang positif.
Sebagai anak-anak Tuhan kita harus yakin bahwa segala sesuatu yang terjadi dalam hidup kita pasti ada rencana dan maksud Tuhan di dalam¬Nya. Buanglah perasaan bahwa kita adalah orang yang paling malang hingga menyesali diri. Jangan membandingkan beban hidup kita dengan orang lain karena segala perkara dapat kita tanggung dalam Tuhan yang selalu memberikan kekuatan kepada diri kita. —Pdt. Agus Wiyanto
Ajakan Paulus, bersukacita senantiasa dalam segala hal,
bersukacita dalam segala keadaan. Ketika hidup
berjalan lancar maupun mengalami situasi yang tidak enak.
Sabtu, 18 September 2010
Sukacita Karena Janji Allah
Baca: Roma 8:17-18
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah...
Roma 8:17
Seorang anak menderita dan menangis sedih karena menginginkan sesuatu yang menu¬rutnya itu sangat berarti baginya. Ketika ayahnya mengetahui hal itu dan menjanjikan akan memenuhi keinginan dan harapannya, maka penderitaan dan kesedihannya seketika itu juga lenyap. Hatinya penuh sukacita dan berbunga-bunga. Mengapa anak itu telah bisa merasa gembira walaupun apa yang di¬inginkan belum menjadi kenyataan? Hal ini disebabkan anak itu percaya bahwa ayahnya pasti menepati janjinya.
Barangkali saat ini kita juga sedang menderita karena banyak keingin-an atau perkara membebani hidup kita, masalah silih berganti datang. Usia yang sudah tidak muda lagi menjadikan kita semakin lambat dalam banyak hal, padahal masih banyak harapan dan keinginan yang belum terlaksana.
Jika kita percaya dan mengaku bahwa kita adalah anak Allah, sehingga berarti Allah adalah Bapa kita, maka seharusnyalah kita bersukacita meskipun kita menderita, karena Allah telah menjanjikan kemuliaan jika kita mau menderita besama Dia. Percayakah kita kepada Bapa kita, seperti anak yang bersukacita karena percaya kepada ayahnya? —Suprijarso
Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji,
tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.
engkau, Tuhan, yang akan menepatinya....
—Mazmur 12:7-8
Dan jika kita adalah anak, maka kita juga adalah ahli waris, maksudnya orang-orang yang berhak menerima janji-janji Allah...
Roma 8:17
Seorang anak menderita dan menangis sedih karena menginginkan sesuatu yang menu¬rutnya itu sangat berarti baginya. Ketika ayahnya mengetahui hal itu dan menjanjikan akan memenuhi keinginan dan harapannya, maka penderitaan dan kesedihannya seketika itu juga lenyap. Hatinya penuh sukacita dan berbunga-bunga. Mengapa anak itu telah bisa merasa gembira walaupun apa yang di¬inginkan belum menjadi kenyataan? Hal ini disebabkan anak itu percaya bahwa ayahnya pasti menepati janjinya.
Barangkali saat ini kita juga sedang menderita karena banyak keingin-an atau perkara membebani hidup kita, masalah silih berganti datang. Usia yang sudah tidak muda lagi menjadikan kita semakin lambat dalam banyak hal, padahal masih banyak harapan dan keinginan yang belum terlaksana.
Jika kita percaya dan mengaku bahwa kita adalah anak Allah, sehingga berarti Allah adalah Bapa kita, maka seharusnyalah kita bersukacita meskipun kita menderita, karena Allah telah menjanjikan kemuliaan jika kita mau menderita besama Dia. Percayakah kita kepada Bapa kita, seperti anak yang bersukacita karena percaya kepada ayahnya? —Suprijarso
Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji,
tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.
engkau, Tuhan, yang akan menepatinya....
—Mazmur 12:7-8
Jujur
Baca: Amsal 14:2
Siapa berjalan dengan jujur, takut akan Tuhan, tetapi orang yang sesat jalan¬nya, menghina Dia.
Amsal 14:2
Ada seorang penjual roti di kampung saya, Jombor, Tuntang, Kabupaten Semarang, Budi, demikian panggilannya. Pekerjaan se¬bagai penjual roti sudah dijalaninya puluhan tahun. Pada suatu hari Budi melayani seorang langganannya, tetapi dia lupa memberikan uang kembalian kepada pelanggannya itu. Seharusnya harga sebuah roti hanya seribu lima ratus rupiah, tetapi sang pelanggan memberi uang dua ribu rupiah, berarti masih ada kembalian lima ratus rupiah. Budi baru menyadari kemudian kalau uang kembalian itu ternyata masih ada di gerobak dorongnya.
Budi mengantar uang kembalian dengan merasa bersalah ke rumah orang itu dan meminta maaf. Dari sini terlihat, bahwa Budi tidak mau terjerumus dalam suatu kesalahan meskipun peluang untuk berlaku curang itu ada, dan meskipun nilai uangnya tidak berarti. Kejujuran te-taplah kejujuran. Dan karena kejujurannya itu Budi disayang para pelanggannya. Bagi Budi, bukan semata-mata agar disayang oleh pelang¬gannya dia bersikap jujur, tetapi lebih dari itu, karena dia tahu sikap de¬mikianlah yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya.
Mungkin tidak banyak kita jumpai orang-orang seperti Budi, yang tetap bersikap jujur dalam menjalani kehidupan dewasa ini. Untung masih ada si Budi. Di tengah kehidupan yang keras ini, bagaimanapun juga, sebagai anak-anak-Nya, kita patut menghormati Tuhan dengan hidup jujur. —Denny Reksa
Kejujuran membawa hidup kita menjadi sukacita.
Siapa berjalan dengan jujur, takut akan Tuhan, tetapi orang yang sesat jalan¬nya, menghina Dia.
Amsal 14:2
Ada seorang penjual roti di kampung saya, Jombor, Tuntang, Kabupaten Semarang, Budi, demikian panggilannya. Pekerjaan se¬bagai penjual roti sudah dijalaninya puluhan tahun. Pada suatu hari Budi melayani seorang langganannya, tetapi dia lupa memberikan uang kembalian kepada pelanggannya itu. Seharusnya harga sebuah roti hanya seribu lima ratus rupiah, tetapi sang pelanggan memberi uang dua ribu rupiah, berarti masih ada kembalian lima ratus rupiah. Budi baru menyadari kemudian kalau uang kembalian itu ternyata masih ada di gerobak dorongnya.
Budi mengantar uang kembalian dengan merasa bersalah ke rumah orang itu dan meminta maaf. Dari sini terlihat, bahwa Budi tidak mau terjerumus dalam suatu kesalahan meskipun peluang untuk berlaku curang itu ada, dan meskipun nilai uangnya tidak berarti. Kejujuran te-taplah kejujuran. Dan karena kejujurannya itu Budi disayang para pelanggannya. Bagi Budi, bukan semata-mata agar disayang oleh pelang¬gannya dia bersikap jujur, tetapi lebih dari itu, karena dia tahu sikap de¬mikianlah yang dikehendaki Tuhan untuk dilakukan oleh umat-Nya.
Mungkin tidak banyak kita jumpai orang-orang seperti Budi, yang tetap bersikap jujur dalam menjalani kehidupan dewasa ini. Untung masih ada si Budi. Di tengah kehidupan yang keras ini, bagaimanapun juga, sebagai anak-anak-Nya, kita patut menghormati Tuhan dengan hidup jujur. —Denny Reksa
Kejujuran membawa hidup kita menjadi sukacita.
Rabu, 15 September 2010
Jangan Mencobai Tuhan
Baca: Ulangan 6:16-19
Janganlah kamu mencobai Tuhan, allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.
Ulangan 6:16
“Kalau besok aku mendapatkan pekerjaan, aku akan rajin ke gereja. Kalau aku bisa sembuh dari penyakit kanker ini, aku akan jadi aktivis gereja. Kalau kelak aku jadi orang kaya, aku akan selalu membantu keuangan gereja, kalau Tuhan mampu menyelamatkan aku dari belitan utang, aku berjanji akan persepuluhan rutin”, dan lain-lain. Pernah¬kah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini, atau kita sendiri yang sering mengucap¬kan kata-kata itu?
Kalau kita memperhatikan orang-orang Kristen masa kini, kebanyakan mereka dan mungkin termasuk kita, tanpa sadar sering mencobai Tuhan. Kita mengajukan suatu syarat kepada Tuhan sebelum taat melakukan perintah-Nya, padahal Tuhan tak pernah menuntut kita membayar sesuatu untuk memberkati hidup kita. Setiap hari sejak lahir sampai sekarang, Tuhan selalu memberikan udara, sinar matahari, waktu 24 jam, tak peduli kita mau menjadi Kristen atau tidak. Tuhan Yesus bahkan rela mati supaya kita selamat. Tuhan tak pernah mengajukan syarat untuk menebus dosa kita, lalu pantaskah kita meragukan kasih Tuhan dengan mencobai-Nya?
Jika hari ini kita mengalami berbagai masalah, sakit atau masalah keluarga, belajarlah untuk tidak mengeluh atau meragukan kasih Tuhan seperti yang pernah bangsa Israel lakukan, sehingga mereka di hukum Tuhan. Seorang bijak berkata, jangan meminta beban yang ringan kepada Tuhan, namun mintalah Tuhan menguatkan bahu Anda, sehingga seberat apa pun beban hidup datang silih berganti, Anda semakin kuat dan bergantung pada kuasa-Nya tanpa ragu. —Richard T. G. R
Doa: Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk memikul
beban hidup kami hari lepas hari. Amin.
Janganlah kamu mencobai Tuhan, allahmu, seperti kamu mencobai Dia di Masa.
Ulangan 6:16
“Kalau besok aku mendapatkan pekerjaan, aku akan rajin ke gereja. Kalau aku bisa sembuh dari penyakit kanker ini, aku akan jadi aktivis gereja. Kalau kelak aku jadi orang kaya, aku akan selalu membantu keuangan gereja, kalau Tuhan mampu menyelamatkan aku dari belitan utang, aku berjanji akan persepuluhan rutin”, dan lain-lain. Pernah¬kah kita mendengar ucapan-ucapan seperti ini, atau kita sendiri yang sering mengucap¬kan kata-kata itu?
Kalau kita memperhatikan orang-orang Kristen masa kini, kebanyakan mereka dan mungkin termasuk kita, tanpa sadar sering mencobai Tuhan. Kita mengajukan suatu syarat kepada Tuhan sebelum taat melakukan perintah-Nya, padahal Tuhan tak pernah menuntut kita membayar sesuatu untuk memberkati hidup kita. Setiap hari sejak lahir sampai sekarang, Tuhan selalu memberikan udara, sinar matahari, waktu 24 jam, tak peduli kita mau menjadi Kristen atau tidak. Tuhan Yesus bahkan rela mati supaya kita selamat. Tuhan tak pernah mengajukan syarat untuk menebus dosa kita, lalu pantaskah kita meragukan kasih Tuhan dengan mencobai-Nya?
Jika hari ini kita mengalami berbagai masalah, sakit atau masalah keluarga, belajarlah untuk tidak mengeluh atau meragukan kasih Tuhan seperti yang pernah bangsa Israel lakukan, sehingga mereka di hukum Tuhan. Seorang bijak berkata, jangan meminta beban yang ringan kepada Tuhan, namun mintalah Tuhan menguatkan bahu Anda, sehingga seberat apa pun beban hidup datang silih berganti, Anda semakin kuat dan bergantung pada kuasa-Nya tanpa ragu. —Richard T. G. R
Doa: Ya Tuhan, berilah kami kekuatan untuk memikul
beban hidup kami hari lepas hari. Amin.
Menyukakan Hati Tuhan
Baca: Lukas 15:4-7
Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Lukas 15:7
Dalam karya-Nya sebagai Juru Selamat, Tuhan Yesus sering mendatangi orang-orang yang oleh masyarakat luas dianggap sebagai orang berdosa, seperti pemungut cukai dan penderita penyakit kusta. Sikap Yesus ini mendatangkan ketidaksenangan dan ketidak¬setujuan, khususnya kaum Farisi dan para ahli Taurat.
Menurut kaum Farisi dan ahli Taurat, orang-orang berdosa tidak perlu diperhati¬kan dan dikasihani lagi, sebab Tuhan sendiri
akan menghukum mereka akibat dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Dalam menjawab mereka yang mengecam-Nya itu, Yesus menggunkan perumpamaan domba yang hilang, yang pasti akan dicari sampai ke¬temu oleh gembalanya. Dan ketika sang gembala itu dapat menemukan dombanya yang hilang, timbullah kegembiraan dan kesukacitaan yang besar dalam hatinya. Kegembiraan seperti yang dirasakan oleh gembala itu menjadi gambaran kegembiraan yang pasti juga akan terjadi di surga, “karena satu orang berdosa yang bertobat”.
Dengan demikian, pertobatan seseorang yang berdosa itu sangat di¬hargai, dan karenanya juga diupayakan oleh Yesus dalam menjalankan karya penyelamatan-Nya. Orang yang bertobat, berarti kembali dari ke-tersesatan akibat dosa. Dan oleh pertobatan itu diampuni dan dibebaskan dari hukuman yang seharusnya dikenakan kepadanya. Oleh pertobatan, kebinasaan diganti dengan keselamatan. Itulah sebabnya, pertobatan menimbulkan kesukacitaan, tidak hanya dalam kehidupan orang yang bertobat dan persekutuan di mana orang itu berada, tetapi bahkan juga di surga. Karenanya, tidak rindukah kita untuk mau melakukan perto¬batan, demi kesukaan besar di surga? —Pdt. Em. Sutarno
Doa: Tuhan, kami ingin menyukakan hati-Mu.
Karenanya ajarlah dan mampukan kami untuk bertobat
dari segala kesalahan dan dosa-dosa kami. Amin.
Akan ada sukacita di surga karena satu orang berdosa yang bertobat, lebih daripada sukacita karena sembilan puluh sembilan orang benar yang tidak memerlukan pertobatan.Lukas 15:7
Dalam karya-Nya sebagai Juru Selamat, Tuhan Yesus sering mendatangi orang-orang yang oleh masyarakat luas dianggap sebagai orang berdosa, seperti pemungut cukai dan penderita penyakit kusta. Sikap Yesus ini mendatangkan ketidaksenangan dan ketidak¬setujuan, khususnya kaum Farisi dan para ahli Taurat.
Menurut kaum Farisi dan ahli Taurat, orang-orang berdosa tidak perlu diperhati¬kan dan dikasihani lagi, sebab Tuhan sendiri
akan menghukum mereka akibat dosa-dosa yang telah mereka perbuat. Dalam menjawab mereka yang mengecam-Nya itu, Yesus menggunkan perumpamaan domba yang hilang, yang pasti akan dicari sampai ke¬temu oleh gembalanya. Dan ketika sang gembala itu dapat menemukan dombanya yang hilang, timbullah kegembiraan dan kesukacitaan yang besar dalam hatinya. Kegembiraan seperti yang dirasakan oleh gembala itu menjadi gambaran kegembiraan yang pasti juga akan terjadi di surga, “karena satu orang berdosa yang bertobat”.
Dengan demikian, pertobatan seseorang yang berdosa itu sangat di¬hargai, dan karenanya juga diupayakan oleh Yesus dalam menjalankan karya penyelamatan-Nya. Orang yang bertobat, berarti kembali dari ke-tersesatan akibat dosa. Dan oleh pertobatan itu diampuni dan dibebaskan dari hukuman yang seharusnya dikenakan kepadanya. Oleh pertobatan, kebinasaan diganti dengan keselamatan. Itulah sebabnya, pertobatan menimbulkan kesukacitaan, tidak hanya dalam kehidupan orang yang bertobat dan persekutuan di mana orang itu berada, tetapi bahkan juga di surga. Karenanya, tidak rindukah kita untuk mau melakukan perto¬batan, demi kesukaan besar di surga? —Pdt. Em. Sutarno
Doa: Tuhan, kami ingin menyukakan hati-Mu.
Karenanya ajarlah dan mampukan kami untuk bertobat
dari segala kesalahan dan dosa-dosa kami. Amin.
Hidup Dengan Sukacita
Baca: Roma 8:35-39
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Roma 8:37
Para gelandangan di Washington kebanya¬kan punya ponsel dan alamat e-mail untuk mengecek apakah kupon makanan gratis masih ada, apakah lamaran pekerjaannya diterima, dan sebagainya (Jawa Pos, 25 Maret 2009. Ponsel membuat mereka bisa berkomunikasi dengan dunia. Inilah orang-orang yang menghadapi hidupnya dengan sukacita. Bukan termenung menangisi nasib. Firman Tuhan memberi resep menghadapi hidup ini dengan sukacita.
Asal masih ada kasih Kristus. Manusia membutuhkan pendampingan untuk menghadapi masalah dan penderi¬taannya. Dan Kristus telah datang dengan kasih-Nya. Ia membela dan mengasihi kita dengan memberikan diri-Nya mati untuk meyakinkan kita bahwa Ia sungguh-sungguh menyertai kita. Apalagi yang disusah¬kan?
Hadapi semua masalah dengan iman. Kenyataan hidup yang pahit kadang-kadang tidak bisa dihindarkan atau ditolak. Kepada kita Tuhan mengaruniakan iman agar kita siap untuk menghadapi semua. Akal budi saja belum cukup dan bahkan kesiapan mental pun masih kurang. Paulus sudah membuktikannya, bagaimana dengan Anda?
Jadilah pemenang sekali untuk selamanya. Tidak ada pemenang yang sedih dan susah karena menang. Semua pemenang akan tertawa dan bersorak-sorai. Perjuangan dan ketabahan iman akan mengantar kita untuk bersukacita sebagai pemenang dalam perlombaan hidup ini. Karena sebelum kita menang, Tuhan Yesus sudah menang lebih dahulu. Kita ada di pihak yang selalu menang. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Hidup adalah perlombaan dan pemenangnya adalah
yang mau dimotivasi oleh pemenang yang telah
mengalahkan dosa, iblis dan maut.
Tetapi dalam semuanya itu kita lebih daripada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.
Roma 8:37
Para gelandangan di Washington kebanya¬kan punya ponsel dan alamat e-mail untuk mengecek apakah kupon makanan gratis masih ada, apakah lamaran pekerjaannya diterima, dan sebagainya (Jawa Pos, 25 Maret 2009. Ponsel membuat mereka bisa berkomunikasi dengan dunia. Inilah orang-orang yang menghadapi hidupnya dengan sukacita. Bukan termenung menangisi nasib. Firman Tuhan memberi resep menghadapi hidup ini dengan sukacita.
Asal masih ada kasih Kristus. Manusia membutuhkan pendampingan untuk menghadapi masalah dan penderi¬taannya. Dan Kristus telah datang dengan kasih-Nya. Ia membela dan mengasihi kita dengan memberikan diri-Nya mati untuk meyakinkan kita bahwa Ia sungguh-sungguh menyertai kita. Apalagi yang disusah¬kan?
Hadapi semua masalah dengan iman. Kenyataan hidup yang pahit kadang-kadang tidak bisa dihindarkan atau ditolak. Kepada kita Tuhan mengaruniakan iman agar kita siap untuk menghadapi semua. Akal budi saja belum cukup dan bahkan kesiapan mental pun masih kurang. Paulus sudah membuktikannya, bagaimana dengan Anda?
Jadilah pemenang sekali untuk selamanya. Tidak ada pemenang yang sedih dan susah karena menang. Semua pemenang akan tertawa dan bersorak-sorai. Perjuangan dan ketabahan iman akan mengantar kita untuk bersukacita sebagai pemenang dalam perlombaan hidup ini. Karena sebelum kita menang, Tuhan Yesus sudah menang lebih dahulu. Kita ada di pihak yang selalu menang. —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Hidup adalah perlombaan dan pemenangnya adalah
yang mau dimotivasi oleh pemenang yang telah
mengalahkan dosa, iblis dan maut.
Langganan:
Postingan (Atom)