Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Rabu, 25 April 2012

Hidup Bak Parasut


Baca: 1 Korintus 10:23-33
Sama seperti aku juga berusaha menyenang­kan hati semua orang dalam segala hal, bukan untuk kepentingan diriku, tetapi untuk kepentingan orang banyak, supaya mereka beroleh selamat (1 Korintus 10:33).
Dewasa ini terkadang muncul dalam benak dan hati kita kegusaran, ke­galauan, kebimbangan dan keragu-raguan dalam menjalani kehidupan ini. Tak jarang kita bertanya dalam hati, “apa yang sesung­guhnya harus aku lakukan?”
Mari kita hening sejenak sambil mem­baca 1 Korintus 10:23-33. Dalam Bacaan kita ini pertama-tama saya menemukan bahwa kemauan yang banyak yang kita miliki harus kita seleksi apakah itu berguna dan dapat membangun kehidupan kita. Kedua, perjuangan yang kita lakukan tidak hanya untuk kepentingan diri sendiri tapi harus memperhatikan kepentingan orang lain. Ketiga, rasa kecurigaan kita harus dikaji kembali dengan tidak hanya memper­hatikan keberatan nurani kita tetapi juga nurani orang lain. Keempat, senantiasa berterima kasih terhadap apa yang kita terima dan melakukan itu hanya untuk memuliakan Allah.
Dan pada akhirnya dalam menjalani kehidupan ini, agar hidup kita menjadi bermakna dan dapat memuliakan Allah adalah dengan senan­tiasa nengingat perkataan Paulus dalam setiap langkah kehidupan kita. Hidup kita jangan sampai membuat orang lain berbuat dosa. Hidup kita harus dapat menyenangkan hati orang lain tanpa maksud kepen-tingan pribadi. Dan puncaknya adalah agar setiap orang yang melihat dan merasakan kehidupan kita juga turut diselamatkan oleh Allah sang Pemilik hidup.
Ada pepatah mengatakan pikiran manusia bak parasut, dia hanya akan berfungsi jika terbuka. Marilah kita lakukan dengan hidup kita, bukalah hidup kita untuk Tuhan dan sesama agar hidup kita menjadi berguna. –Darmanto

Doa: Tuhan, inilah aku dan hidupku kupersembahkan untuk kemuliaan Tuhan. Amin.

Senin, 23 April 2012

Hati Sebagai Hamba


Baca: Yohanes 3:16
Karena begitu besar ka­sih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah menga­runiakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal (Yohanes 3:16).
“Bagaimana ‘ku membalas kasih-Mu, s’gala yang kupunya itu milik-Mu, itu milik- Mu….” Itulah sepenggal syair dari lagu yang sudah kita kenal dengan judul Hati Sebagai Hamba. Jika kita merenungkan syair tersebut, memang sesungguhnya sampai kapanpun dan dengan apapun, kita tidak akan pernah bisa membalas kasih Tuhan. Bagaimana tidak, “hutang” kita kepada Tuhan sungguh teramat besar. Sebetulnya kita sama sekali tidak layak untuk memperoleh keselamatan karena dosa-dosa kita yang sungguh besar. Namun, seperti Firman Tuhan yang menjadi dasar perenungan kita ini, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”
Ya, hanya karena kasih-Nya yang begitu besarlah, pada akhirnya kita mendapat anugerah keselamatan dan hidup yang kekal. Maka dari itulah, walaupun sesungguhnya kita tidak mungkin dapat membalas “hutang” kita kepada Tuhan, sebagai orang-orang yang telah ditebus melalui darah Kristus yang begitu mahal, kita perlu menjadi insan-insan yang tahu diri dan tahu berterima kasih. Caranya bagaimana? Mari kita dedikasikan seluruh hidup kita hanya bagi Dia. Marilah kita menghamba secara total bagi-Nya.
Tentu kita sudah paham bagaimana seorang hamba yang baik, ia be­gitu setia dan taat kepada tuannya. Demikian pula dengan kita, sebagai hamba-Nya tentu kita pun harus mau taat dan setia kepada setiap kehendak Tuan kita, yaitu Tuhan Yesus Kristus.
–Pdt. David Nugrahaningwidi

Mungkin apa yang kita berikan kepada Tuhan tidak akan pernah cukup untuk membalas kasih-Nya. Namun, dengan memiliki hati seorang hamba, paling tidak kita sudah menjadi insan-insan yang tahu diri.

Selasa, 10 April 2012

Jangan Biarkan Dosa Menguasaimu Lagi


Baca: Roma 6:10-13
Kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tubuhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya (Roma 6:11,12).
.
Kebangkitan Kristus dari kematian membuktikan bahwa Ia telah me-ngalahkan kematian. Dalam hal ini, karena kematian itu merupakan akibat dari dosa, maka kebangkitan Kristus berarti bahwa Ia telah mengalahkan kuasa dosa. Selanjutnya, oleh kebangkitan Kristus itu para orang percaya juga akan mengalami kebangkitan dengan-Nya, yang berarti kuasa dosa itu tidak akan menguasai mereka lagi. Mengenai hal itu Paulus menegaskan, “Manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa” (ayat 6). Kemudian ia mengingatkan, “Kamu telah mati bagi dosa, tetapi hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus. Sebab itu hendaklah dosa jangan berkuasa lagi di dalam tu­buhmu yang fana, supaya kamu jangan lagi menuruti keinginannya.” (ayat 11). Singkatnya, kematian dan kebangkitan Kristus telah membuat kita dibebaskan dari kuasa dosa, oleh sebab itu hidup kita harus kita upayakan dengan sungguh-sungguh jangan sampai menjadi hamba dosa kembali.
Mengaku percaya akan kebangkitan Kristus dan dengan sukacita menerima berkat-berkat yang menyertainya, namun tanpa kesediaan untuk meninggalkan atau membuang perilaku dosa dalam kehidup-an, berarti bahwa pemahaman mengenai makna kebangkitan itu masih belum lengkap dan hanya sepihak saja. Lebih buruk lagi, sikap dan perilaku yang seperti itu sebenarnya merupakan pelecehan dan pengkhianatan terhadap makna kebangkitan Kristus. Kepercayaan yang seperti itu jelas tidak akan mendatangkan keselamatn yang sejati. –Pdt. Em. Sutarno

Setiap berkat yang dikaruniakan Tuhan kepada kita harus kita pandang se­bagai kesempatan dan jalan untuk lebih mengasihi dan menaati kehendak- Nya serta memuliakan nama-Nya.

Senin, 09 April 2012

Salib


Baca : Yohanes 3:14 – 15
Dan sama seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus diting­gikan, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya beroleh hidup yang kekal
(Yohanes 3:14 – 15).

Kita pasti tahu salib, tapi kadang-kadang hanya sebatas bahwa itu adalah simbol Kekristenan. Kadang sebagai assessoris, kalung, anting-anting, gelang atau bross. Seringkali salib juga dipasang di dinding ruang tamu atau ruang keluarga. Karena kita orang Kristen ya ada salib. Suatu kelumrahan atau kewajaran.
Untuk kita yang percaya bahwa Yesus Kristus adalah Juru Selamat, salib mempu­nyai makna yang lebih dalam. Salib berbi­cara tentang pengampunan dan perdamaian dengan Allah Bapa. Dosa kita yang diturunkan oleh Adam dan Hawa sudah dihapuskan karena pengurbanan Yesus Kristus di kayu salib. Pengampunan yang kita dapat, bukan karena usaha kita, tetapi pengampunan melalui pengurbanan Yesus.
Kita sering melihat ada salib kecil dinukilkan di batu nisan. Salib itu tidak sekedar menunjukkan identitas bahwa orang yang meninggal itu adalah orang Kristen. Salib itu adalah simbol bahwa sebagai orang percaya kita mempunyai pengharapan, pengampunan dan kedamaian dengan Allah Bapa dalam hidup atau mati kita. Kristus sudah memberikan hidup yang kekal sekarang dan selamanya bagi orang percaya.
Sebelum mati di kayu salib, Yesus berkata: ”Seperti Musa meninggikan ular di padang gurun, demikian juga Anak Manusia harus ditinggikan, supaya setiap orang yang percaya kepada Nya beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:14-15).
Jadi, salib bukanlah sekedar simbol Kekristenan. Marilah dalam merayakan Paskah kita merenungi kembali arti atau simbol salib secara lebih mendalam. –Irene Talakua

Calvary’s cross is the only bridge to eternal life.