Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 29 September 2011

Memikul Salib


Baca: Lukas 9:23
Kata-Nya kepada mereka semua: “Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memi­kul salibnya setiap hari dan mengikut Aku.”
(Lukas 9:23).


Teman saya, seorang anggota komisi lansia, menderita sakit sudah lama tak kunjung sembuh. Tadinya ia seorang aktivis gereja. Di tengah sakitnya terdengar ia mengeluh: “Yaah, hitung-hitung pikul salib.”  Saya membatin “Apa ya, yang begini ini yang na­manya pikul salib?” Apakah seorang kristen yang menanggung sakit dan musibah selalu berarti sedang pikul salib? Menurut saya, bukan, sebab saya tahu sakit teman saya itu antara lain karena pola hidupnya yang tidak sehat dan ia juga tidak disiplin berobat.
Yesus memikul salib, apa artinya? Artinya Ia menanggung sengsara dalam upaya menyelamatkan umat manusia. Dan apa maksud Yesus ketika Ia bersabda: “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku.”? Kalau salib bagi Kristus artinya “sengsara demi menyelamatkan umat manusia”, maka kira-kira begitu jugalah yang Ia maksudkan ketika Ia bersabda “Pikullah salibmu dan ikutlah Aku”, yaitu bersedia berkorban (bahkan menang­gung sengsara) untuk kepentingan orang lain, mengikut teladan Yesus. Jadi, bukan tiap musibah yang kita alami bisa disebut sebagai “pikul salib”, sebab ada banyak musibah dan masalah di mana kita tercebur di dalamnya, yang bukan demi kepentingan orang lain, melainkan demi kepentingan kita sendiri, dan sering sebagai akibat kesalahan yang kita buat sendiri.
Injil Lukas 9:23 menegaskan, urut-urutan untuk mengikut Yesus adalah menyangkal diri (menjauhkan diri dari mementingkan diri), memikul salibnya (bersedia berkorban untuk kepentingan orang lain) barulah dapat dikatakan mengikut Yesus. —Yahya Wardoyo

Bersediakah kita menyangkal diri, memikul salib setiap hari dan mengikut Dia?

Rabu, 28 September 2011

Dibangkitkan Dalam Kemuliaan


Baca: 1 Korintus 15:42-44.
Yang ditaburkan adalah tubuh alamiah, yang dibangkitkan adalah tubuh rohaniah (1 Korintus 15:44).

Alkitab menyatakan adanya dua macam tubuh, yaitu tubuh alamiah dan tubuh ro­haniah. “Tubuh alamiah” ialah keberadaan selama di dunia ini, yang pada hakikatnya lemah, hina dan pasti binasa. Lemah, karena sangat rentan terhadap sakit-penyakit dan marabahaya yang sewaktu-waktu dapat me­nyerang dan membuat tak berdaya. Lemah, karena dikuasai oleh berbagai keterbatasan dan ketidakmampuan untuk melawan atau­pun menahan beban persoalan dan penderi­taan, sehingga dibayang-bayangi kebinasaan. Hina, karena begitu mudah tergoda untuk melakukan hal-hal yang dipengaruhi oleh nafsu manusiawi dan duniawi yang berlawanan dengan perintah Tuhan. Sedang “tubuh rohaniah” ialah yang akan kita terima sesudah kebangkitan, yang sifatnya penuh kekuatan, kemuliaan dan ketidak-binasaan.
Dengan demikian, melalui kebangkitan, akan terjadi transformasi keberadaan dan kehidupan secara radikal dan total. Sama seperti Kristus yang dalam keadaan tubuh alamiah telah mengalami kelemahan, kehi­naan dan ketertaklukan kepada kematian, namun melalui kebangkitan- Nya menerima kemuliaan surgawi dari Allah Bapa, demikian juga kita yang percaya kepada Kristus, pasti akan dibangkitkan dari kematian, meninggalkan tubuh alamiah dan mengenakan tubuh rohaniah yang baru, yang penuh kekuatan, kemuliaan dan ketidakbinasaan itu.
Janji akan dikaruniakan-Nya “tubuh rohaniah” itu semoga men­jadi sumber kekuatan, penghiburan dan pengharapan kita dalam menjalani kehidupan yang penuh ketidakpastian dan kekuatiran ini. —Pdt. Em. Sutarno

Doa : Terima kasih, Tuhan, oleh kematian dan kebangkitan Kristus Engkau menjanjikan suatu kehidupan yang baru bagi kami, yang bebas dari segala kelemahan, kehinaan dan kebinasaan. Mampukan kami mempercayai dan memegangi janji- Mu itu, sehingga kami dengan tabah dan rasa damai se­jahtera menjalani kehidupan ini. Amin

Selasa, 27 September 2011

Tetap Tegar Di Dalam Tuhan

Baca: Ibrani 12:3
Ingatlah selalu akan Dia, yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, su­paya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa
(Ibrani 12:3).

“Jalan hidup tak selalu tanpa kabut yang pekat; namun kasih Tuhan Nyata pada wak­tu yang tepat,…” Sebaris syair dari sebuah lagu rohani ini mengingatkan kepada kita sekaligus menunjukkan kepada kita bahwa ada sebuah realita kehidupan di mana kita selalu diperhadapkan pada berbagai perma­salahan, kesulitan, kebimbangan, keraguan dan tekanan hidup. Terkadang kita merasa tidak sanggup lagi untuk menghadapi semua ini, dan jika kita mengikuti perasaan ini, maka kita akan jatuh ke dalam keputusasaan. Dan jika kita putus asa, itu berarti kita mengingkari keberadaan Tuhan dengan segala kasih-Nya yang senantiasa menyertai kita di sepanjang hidup kita.
Lagu itu tidak hanya mengingatkan kita bahwa hidup di dunia ini penuh dengan masalah, tetapi juga mengingatkan kita bahwa kasih Tu­han pasti datang pada waktu yang tepat. Karena itulah kita tidak perlu berkecil hati atau patah semangat menghadapi tantangan hidup.
Apakah Anda sedang mengalami masalah dan dalam tekanan berat saat ini? Teladanilah Kristus yang yang tekun menanggung bantahan yang sehebat itu terhadap diri-Nya dari pihak orang-orang berdosa, supaya jangan kamu menjadi lemah dan putus asa (Ibrani 12:3). Mintalah kekuatan dari Tuhan Yesus dalam menghadapi semua permasalahan hidup niscaya kita akan menjadi kuat dan tetap tegar dalam meng­hadapi badai kehidupan ini. Sesungguhnya Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu (Ratapan 3:22-23). —Darmanto

Dalam segala hal kami ditindas, namun tidak terjepit; kami habis akal, na­mun tidak putus asa –2Korintus 4:8

Senin, 26 September 2011

Maukah Tetap Setia


Baca: Yesaya 59:1–3
tetapi yang merupakan pemisah antara kamu dan Allahmu ialah segala kejahatanmu, dan yang membuat Dia menyembunyikan diri terhadap kamu, sehingga Ia tidak mendengar, ialah segala dosamu (Yesaya 59:2).

Mister X, seorang kawan lama, seolah ‘menuai badai’: kehilangan istri dan menyaksikan anaknya yang sakit keras dan semakin memprihatinkan. Sejak berkenalan dengan benda-benda magis dan para dukun beberapa tahun terakhir, banyak hal menjadi kacau dalam hidupnya, termasuk kematian istri dan penderitaan anaknya. Apakah Tuhan telah meninggalkannya? Saya percaya tidaklah demikian. Jangankan Tuhan, saudara-saudara seimanpum terus mendoakannya. Sesungguhnyalah tangan Tuhan tak kurang panjang untuk menyelamatkan, tetapi dosa kitalah yang memisahkan kita dari Allah (Yesaya 59:1 – 2).
Kita bukan hendak menghakimi pengalaman Mister X ini, sebab kitapun tak dapat memastikan apakah pengalaman pahitnya merupakan akibat langsung dari keterlibatannya dengan ‘dunia perdukunan’. Namun marilah melihat ke dalam diri kita: di saat memiliki keinginan-keinginan tertentu, barangkali kedagingan kitalah yang mencobai diri kita. Firman Tuhan tidak lagi menjadi rujukan ketika kita hendak bertindak. Sebaliknya kita menjadi terlalu sibuk dan memusatkan perhatian pada keinginan-keinginan yang makin tak terkendali sehingga banyak hal yang jauh lebih penting menjadi terabaikan. Apa yang penting menurut Tuhan menjadi tidak penting bagi kita, bahkan terkadang kita anggap sebagai penghalang dalam mencapai suatu tujuan.
Firman Tuhanlahlah yang seharusnya menjadi pedoman ketika kita hendak mengambil keputusan dan bertindak. Apakah kita mau tetap setia dan tidak meninggalkan Dia? —Ocky Sundari

Janganlah menyimpang ke kanan atau ke kiri,
jauhkanlah kakimu dari kejahatan. –Amsal 4:27

Minggu, 25 September 2011

Selagi Masih Ada Kesempatan


Baca: Galatia 6:10
Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman
(Galatia 6:10).


Seorang kaya mengeluh kepada sahabatnya, “Sepertinya orang-orang tidak menyukai aku. Mereka mengatakan aku ini seorang yang egois dan kikir. Padahal dalam surat wasiatku, aku akan menyumbangkan semua milikku kepada lembaga amal.” Sahabatnya merenung sejenak, kemudian berkata, “Ceri­tera sapi dan babi berikut ini mungkin bisa menjawab keingintahuanmu.” Suatu hari, demikian sang sahabat memulai ceriteranya, seekor babi menemui seekor sapi dan meng-eluh dengan sedih. “Orang lebih ramah kepadamu karena memang kamu telah memberi mereka susu. Tetapi, mereka juga mendapat begitu banyak dariku. Mereka mendapat dagingku, bahkan kakiku juga mereka masak menjadi masakan yang sangat lezat. Meski begitu nampaknya tak seorangpun menyukaiku sebab bagi mereka aku hanyalah seekor babi.” Setelah diam sejenak sapi itu berkata, “Mungkin karena aku memberikan sesuatu pada saat aku masih hidup.”
Ceritera Willi Hoffsuemmer ini semoga menggugah kita untuk melakukan sesuatu selagi kita masih memiliki kesempatan untuk melaku­kannya. Akan datang masanya ketika kita tidak lagi bisa melakukan apa-apa, saat kematian menjemput.
Banyak di antara kita yang menyimpan segala sesuatu, yang baru akan dibagi-bagikan ketika kita telah tiada. Saat ini apa yang Anda miliki? Waktu? Harta? Ketrampilan? Berikanlah dengan murah hati, jangan ditahan-tahan. Ikutilah nasihat rasul Paulus, “… selama masih ada ke-sempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.” —Liana Poedjihastuti

Mari menjadi berguna, selagi kesempatan itu masih ada.