Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Jumat, 24 Juni 2011

Bertumbuh Seutuhnya

Baca: Kolose 2:6-7
Dan Yesus makin bertambah besar dan bertambah hikmat-Nya dan besar-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia.
Lukas 2:52
Penyingkiran Yusuf dan Maria dari Yudea ke Mesir untuk menyelamatkan bayi Yesus dari ancaman Raja Herodes memakan wak-tu perjalanan tiga tahun dan menelusuri 1.000 km. Mesir telah menjadi “Kawah Candradimuka” bagi Yesus seperti dalam pe-wayangan ketika Gatotkaca mendapatkan kesaktiannya.
Di Mesir, Yesus diproses untuk bertum-buh seutuhnya dan muncul sebagai Anak Allah yang penuh hikmat dan penuh kuasa disukai Allah dan manusia. Sudahkah kita bertumbuh seutuhnya di dalam iman kita kepada Kristus?
Bertumbuh seutuhnya melalui hikmat Allah. Semakin bertambah dewasa hidup kita seharusnya semakin bertumbuh juga hikmat kita. Semua tergantung apakah kita selalu mendalami firman-Nya sampai mengakar ibarat sebuah pohon yang bertumbuh. Sudahkah cara ber-pikir kita mengandung hikmat Allah di dalamnya?
Bertumbuh seutuhnya mengalami kuasa Allah. Yesus bertambah besar-Nya dalam hal dipenuhi kuasa Allah. Jikalau kita tetap teguh da-lam iman, maka tidak mustahil hal-hal besar akan terjadi dalam hi-dup kita. Jangan cuma menjadi penonton, tapi jadilah pemain yang mengalami sendiri kuasa-Nya.
Bertumbuh seutuhnya sebagai citra Allah. Yesus makin dikasihi Allah dan manusia. Dialah cermin dari citra Allah yang sejati. Ciptakan kehidupan yang seimbang antara yang rohaniah dan jasmaniah sehingga pribadi kita sebagai pengikut Kristus menjadi daya tarik orang lain.
Tuhan sudah melakukan-Nya. Bagaimana dengan kita? —Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.
Ketika manusia sudah tidak lagi bisa dipercaya sesamanya, jadilah orang yang dapat dipercaya.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Kamis, 23 Juni 2011

Bertumbuh Dalam Kasih


Baca: Filipi 4:4-9
Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.
Filipi 4:8
Setiap makhluk hidup bertumbuh. Manu­sia memiliki dua macam pertumbuhan, fisik dan rohani. Bertumbuh merupakan tanda adanya kehidupan yang berlanjut. Bertum­buh secara fisik tidak selalu disertai dengan pertumbuhan rohani. Ada orang yang sudah cukup tua secara fisik, namun belum dewasa dalam iman.
Untuk bertumbuh, seseorang memer­lukan asupan yang baik seperti halnya gizi yang diperlukan tubuh. Rasul Paulus juga mengajak kita bersikap selektif terhadap asupan yang harus diberikan oleh pikiran kita, yaitu kita harus memi-kirkan semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji (Filipi 4:8). Sikap selektif terhadap asupan diperlukan untuk memelihara hati dan pikiran kita dalam Kristus Yesus, yang diisi oleh damai sejahtera Allah.
Otak tidak hanya butuh asupan intelektual, melainkan juga butuh asupan spiritual. Perkembangan intelektual perlu diimbangi oleh ke-matangan spiritual. Pikiran yang sehat menghasilkan pikiran yang indah. Itulah yang dipesankan oleh Rasul Paulus kepada kita dalam Filipi 4:8. Hal ini merupakan resep yang manjur bagaimana seharusnya kita bertumbuh secara spiritual, sekaligus kita diarahkan ke arah pertumbu­han itu, yaitu dalam kasih Tuhan Yesus Kristus.
Jika kita mampu melakukan hal-hal yang tertulis dalam surat Filipi 4:8 ini, maka Allah yang menjadi sumber damai sejahtera akan menyertai kita. —Prihanto Ngesti Basuki
Selamat bertumbuh dalam Kasih Kristus.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Rabu, 22 Juni 2011

Bercermin


Baca: 2 Korintus 3:18
Dan kita semua mencerminkan kemuliaan Tuhan....
2 Korintus 3:18
Meskipun tidak lagi muda, saya yakin Anda tetap bercermin setiap hari bukan? Hari ini ketika Anda bercermin, tolong amati dengan lebih saksama wajah Anda yang terpantul dari cermin itu. Apa yang tampak di sana? Seorang tua dengan sisa-sisa kecantikan atau ketampanannya? Atau seseorang yang bahagia atau seseorang yang walaupun belum begitu tua namun tampak uzur? Atau seseorang yang penuh dengan kerutan kekhawatiran dan lelah?
Tentang cermin, Tonne memiliki cerita yang bisa kita ambil hikmahnya. Seorang penduduk California, begitu ceritera Tonne, memiliki dua anak gadis yang beranjak remaja. Yang seorang berparas cantik, sedangkan yang seorang lagi berparas kurang cantik. Si ayah menasihati kedua anak gadisnya demikian: “Ketika kamu bercermin setiap hari, anak-anakku, bagi anakku yang cantik ingatlah selalu agar kamu tidak pernah merendahkan kecantikanmu dengan kebu­rukan perilakumu. Dan bagi kamu anakku yang kurang cantik, ingatlah bahwa kamu bisa menutupi kekurang-elokan parasmu dengan daya tarik kebajikan perilakumu.” Sungguh sebuah nasihat yang bijak bukan?
Bagaimana dengan kita? Barangkali secara fisik kita ini sudah tidak lagi menarik. Rambut sudah ubanan, gigi telah banyak yang tanggal hingga pipi terlihat peyot, wajah kisut, dan berjalan tidak lagi tegap. Tetapi, dalam paras tua kita semoga masih tersimpan sorot mata yang bahagia, penuh rasa syukur, semangat, kelembutan karena kerelaan mengampuni, kehangatan dan kebaikan hati. Wajah yang mencerminkan kemuliaan Allah. —Liana Poedjihastuti
Setiap kali kita bercermin, biarlah itu mengingatkan kita bahwa kita seharusnya mencerminkan kemuliaan Allah, melalui kata dan perbuatan kita.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Selasa, 21 Juni 2011

Menumbuhkan Cinta


Baca: 1 Petrus 5:7
Serahkanlah segala kekhawatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.
1 Petrus 5:7
Semua orang dimuka bumi ini pastilah pernah merasakan cinta, tidak terkecuali kita. Cinta dapat menyapa kita, tidak peduli latar belakang dan status sosial kita, tidak memandang usia, tua maupun muda. Na­mun sangat disayangkan terkadang kita lupa untuk memeliharanya.
Cinta bukanlah hal yang statis, tetapi penuh dengan kedinamisan. Sebenarnya cinta tidak pernah benar-benar mati dalam hidup kita dan tidak pernah meninggalkan kita. Yang ada kitalah yang sering menyia-nyiakan cinta dan menempatkannya dalam tempat yang tak layak.
Rasa khawatir merupakan salah satu sebab yang membuat kita tidak dapat menumbuhkembangkan cinta. Khawatir membuat kita selalu merasa was-was. Khawatir menyita banyak waktu kita, lebih dari itu khawatir menyita perhatian kita.
Biarkanlah cinta tumbuh apa adanya. Yakinlah bahwa Tuhan akan senantiasa memelihara cinta yang kita miliki. Yang terpenting adalah bagaimana kita merawat dan memelihara cinta yang kita miliki agar orang di sekitar kita bisa melihat dan merasakan cinta yang ada da­lam diri kita. Bak bunga mawar di taman, harum semerbak ke seluruh desa, memancarkan aroma dan warna kemilau penuh pesona.
Pernahkah kita menyerahkan kekhawatiran yang kita miliki kepada Tuhan? Jika belum, sekaranglah saatnya. Dengan demikian cahaya cinta yang kita miliki tidak tertutup oleh bayang-bayang kekhawatiran. Pada gilirannya cinta yang kita pancarkan akan memancarkan cinta Allah. —Darmanto
Cinta hanya mungkin tumbuh dalam kebebasan hati yang tidak diliputi oleh rasa kekhawatiran dan ketakutan.
Y. P. B. Wiratmoko, Merenung Sejenak

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi

Senin, 20 Juni 2011

Akar Pahit

Baca: Ibrani 12:14-15
Jagalah supaya jangan ada seorang pun menjauh­kan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit yang menimbulkan kerusuhan dan yang mencemarkan banyak orang.
Ibrani 12:15
Orang-orang yang percaya, bahwa ber­dasarkan kasih karunia Allah telah dise-lamatkan oleh dan di dalam Tuhan Yesus, terpanggil untuk menyatukan diri di da­lam jemaat, yaitu persekutuan para orang percaya. Di dalam persekutuan tersebut para orang percaya diharapkan mau saling tolong-menolong dan topang-menopang, baik untuk kehidupan iman-kerohanian mereka, maupun dalam menjalani kehidup-an sehari-hari.
Paulus dalam Galatia 6:2 memberikan nasihat agar dalam persekutuan tersebut hendaknya para warganya mau saling “bertolong-tolongan” dalam menanggung beban masing-masing. Sebab, dengan berbuat demikian, itu membuktikan bahwa mereka telah “memenuhi hukum Kristus”, yaitu hukum untuk mengasihi sesama se-perti diri sendiri. Hidup saling tolong-menolong dan kasih-mengasihi itu juga harus menjadi ciri khas bagi persekutuan orang-orang percaya, sekaligus menjadi wujud dari ucapan syukur atas kasih karunia yang diakui dan dipercaya telah diperoleh dari Tuhan.
Meskipun demikian, ciri khas tersebut dalam kenyataannya sering tidak tampak tumbuh dan berkembang dalam kehidupan bersama melalui persekutuan. Bukannya saling tolong-menolong berdasarkan kasih, melainkan justru saling “gigit-menggigit” dengan penuh keben­cian. Dalam hal ini Surat Ibrani mengemukakan bahwa keadaan yang seperti itu disebabkan oleh “tumbuhnya akar pahit” dalam kehidupan orang percaya. Akar pahit itu tumbuh sebagai akibat dari menjauhnya seseorang dari kasih karunia Allah. Yaitu sikap yang melupakan bahwa ia telah terlebih dahulu memperoleh kasih pengampunan dari Allah, sehingga selanjutnya harus juga mengasihi dan bersedia mengampuni sesama. —Pdt. Em. Sutarno
Waspadalah. Jangan biarkan akar-akar pahit yang merusak dan mencemarkan kehidupan pribadi dan persekutuan, tumbuh dan berkembang dengan suburnya.

===============================================================
Diambil dari Renungan Harian MUSA, Penerbit: Sanggar Mitra Sabda, Jl. Merdeka Utara I-B/ 10; SALATIGA 50714; Telp/Fax: 0298-325176,  E-mail: mitrasabda@yahoo.co.id


Bilamana ingin berlangganan  Rp 4.000,00 per edisi