Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Senin, 09 Januari 2012

Komitmen


Baca: Mazmur 92:15-16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberi­takan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan
tidak ada kecurangan pada-Nya
(Mazmur 92:15-16).
  Untuk perenungan di awal tahun, saya meng-ajak pembaca Musa melakukan peragaan. Silakan mengambil satu lembar kertas HVS putih. Lipatlah kertas itu menjadi 4 kolom dan tengahnya dilipat menjadi dua. Kemudian buka kembali kertas tersebut, maka akan ada 4 kolom. Sekarang tuliskan angka tahun untuk bagian horizontal (datar) mulai dari sudut kiri bawah ditulis angka 0, 25, 50, 75 dan sudut paling kanan bawah ditulis angka 100 tahun (lihat gambar).
Kemudian bagian vertikal (tegak) sebelah kiri bawah tuliskan waktu mulai dari 0, kemudian 12 (tengah), dan kiri atas ditulis angka 24 yang menunjukkan sehari ada 24 jam.









    0                                             25                                                50                                                   75                                     100
Berapa usia Anda sekarang? Robeklah kertas tersebut sesuai dengan usia Anda. Hasilnya adalah lembaran kertas yang tersisa makin mengecil. Kertas yang menunjukkan usia yang sudah dijalani dibuang, karena waktu itu sudah lewat dan tidak akan kembali.
Berapa usia maksimal manusia saat ini? 80—85 tahun? Robeklah kertas pada batas usia tersebut.
Karena robekan tersebut kertas menjadi makin kecil, namun masih dikurangi lagi. Pada umumnya sepertiga bagian dipergunakan untuk tidur dan istirahat (8 jam). Jadi hanya tinggal 16 jam kita melakukan aktivitas. Maka lebar kertas tersebut dirobek kembali. Sisakan dua pertiga kali usia yang masih tersisa. Itulah lembaran hidup kita. Apa yang akan kita isi di lembaran yang masih tersedia? Tulislah komitmen Anda dan simpan di Alkitab. –Pdt. Agus Wiyanto

Pemazmur memberikan teladan di usia tua tidak mau hidup pasif dan ber­pangku tangan, menghabiskan waktu tampa berbuat apa apa.

Jumat, 06 Januari 2012

Ada Apa di Tahun yang Baru?

Baca: Yesaya 40:31
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah
(Yesaya 40:31).
Menjelang tahun yang baru, biasanya timbul pertanyaan seperti apa yang akan terjadi di tahun yang baru, apakah aku masih sanggup berkarya, bagaimana dengan negara kita ini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam diri kita, yang berhubungan dengan diri kita pribadi maupun keluarga kita. Kadang orang percaya juga lari ke para normal, percaya pada ramalan-ramalan atau menghubungkannya dengan shio.
Kekuatiran memang selalu menjadi bagian dalam hidup kita. Namun perlukah kita begitu kuatir sampai harus menggadaikan kapercayaan, iman kita, dan kasih Allah yang selama ini memeliharakan kita? Pantaskah kita meragukan kasih Allah yang sudah dibuktikan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia? Bukankah Yesus sendiri pun mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.“? (Matius 6:34).
Sementara kita yang memasuki usia senja mulai kuatir akan kesehatan tubuh kita. Ya, memang fisik kita semakin melemah, sering kita menjadi sasaran beberapa macam penyakit, dan hidup rasanya jadi semakin perlahan. Usia tua tidak bisa dihindari, itu fenomena alam. Namun kita tidak boleh lupa, sebagai pengikut Yesus, setiap hari Tuhan selalu memperbarui kita secara spiritual, sehingga kita selalu mempunyai kekuatan yang baru. Apakah Anda akan tenggelam dalam rasa kuatir dan ketidakpastian hidup Anda di tahun yang baru? Berpaling dan berpeganglah kepada Tuhan, yang tangan-Nya senantiasa siap memegang tangan Anda. –Irene Talakua

Dia yang bisa menenangkan gelombang laut yang dahsyat, Dia yang akan menguatkan kita dalam melangkah, yang akan memperbarui kita di setiap pagi mendatang.

Sabtu, 24 Desember 2011

Mataku Telah Melihat Keselamatan


Baca: Lukas 2:29-30
“Sekarang, Tuhan, biar­kanlah hamba-Mu ini pergi dalam damai sejahtera, sesuai dengan firman-Mu, sebab mataku telah melihat keselamatan yang dari pada-Mu.” 
(Lukas 2:29-30).
Simeon sudah lanjut umurnya menjadi teladan, bukan hanya kata-kata yang teru­cap, tetapi keyakinan iman yang mantap, sebagai puncak kepercayaannya. “sekarang mataku telah melihat keselamatan yang dari padamu”. Pernyataannya ini diucapkan ketika Yesus dibawa ke Bait Allah. Meski­pun telah lanjut, ia masih setia datang ke Bait Allah untuk menjalankan aktifitas ritualnya sehingga ia dicatat sebagai orang yang hidupnya benar dan saleh sampai akhir hayatnya. Selama tubuh masih bisa berbakti dan memuji Allah mengapa kita tidak memuliakan Allah seperti yang dilakukan Simeon? Usir kemalasan yang ada meskipun kita didera kemunduran fisik dan gerak motorik.
Melihat dari mata hatinya dan percaya. Apa yang dinantikan Simeon selama ini terwujud, dalam diri Yesus - yang saat itu berusia 8 hari. Simeon melihat Yesus bukan secara fisik, tapi melihat dengan mata hati dan menimbulkan pengharapan. Simeon melihat melampaui apa yang dilihat orang lain, bayi Yesus memang bayi biasa, tetapi Simeon percaya Dia adalah anak Allah yang sudah datang ke dunia.
Melampaui apa yang nampak secara fisik. Ungkapan kepuasan batin nampak di sini, “sekarang Tuhan biarkan hambamu pergi, dalam damai sejahtera karena telah melihat keselamatan yang dari pada Tuhan.” Ada rasa puas untuk bertemu Tuhan dalam keabadian, jikalau Tuhan memanggilnya nanti. Ia sudah siap dan tidak takut mati. Adakah rasa damai dan puas yang kita jalani sebagai lanjut usia selama ini?
–Pdt. Agus Wiyanto

Melihat dengan mata iman sehingga tetap mempunyai harapan, selama di­berikan umur di bumi, dan siap bertemu dengan Tuhan dalam keabadian adalah lambang orang yang mau 
berserah dan tetap percaya.

Jumat, 23 Desember 2011

Bayi Itu Menangis

Lukas 2:8-14
 “ ...Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana,seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita” (Lukas 2:15).

Seorang penyanyi solo sedang melantun-kan lagu ”Bayi Yesus” di sebuah acara Natal. Lagu itu sangat menggetarkan hati dan sebagian penonton menangis terharu. Ada apa? Ternyata pada saat yang sama seorang ibu yang membawa bayi dan bayi itu menangis. Suasana malam itu benar-benar hidup. Seorang penonton berkomentar, ”Bayi itu masuk acara tepat pada waktu­nya.“ Tetapi si penyanyi solo tadi tidak me-ngetahuinya. Dalam rekaman yang dibuat, suara bayi itu mengiringi sang penyanyi sampai selesai.
Kerajaan Allah sudah datang, Pemerintahan Allah sudah dimulai dengan lahirnya Tuhan Yesus, namun masih banyak orang yang mencari-cari Juruselamat yang lain untuk mendapatkan ketenangan dan kedamaian hidupnya. Para gembala jelas mendengar suara malaikat yang memberitahukan bahwa telah lahir Juruselamat dan mereka bergegas pergi ke Betlehem untuk menemuinya. Kita setiap kali menyanyikan lagu-lagu Natal, tapi sayang kalau sampai tidak pernah mendengar suara Yesus di balik lagu-lagu yang kita nyanyikan atau dalam kotbah –kotbah Natal. Perayaan Natal sering tertutup dengan kemeriahan dan kesibukan sehingga kita kehilangan arti Natal itu sendiri.
Belajarlah dari para gembala yang menemui bayi Yesus dalam kesu-nyian namun pulang dengan hati yang penuh sukacita dan memuliakan Allah. Ambil waktu sejenak untuk “menemui Yesus” sebelum masuk dalam kemeriahan Natal yang melelahkan. Suara Yesus akan kembali menggetarkan jiwa dan roh kita bila kita mau mendengar dengan sung­guh-sungguh dan percaya. –Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr 

Menangislah karena kasih Allah yang melingkupi kita sebelum kita ditangisi Allah karena kebebalan kita.

Kamis, 22 Desember 2011

Sukacita Walau Dalam Kesulitan

Baca: Lukas 2:1-7
Kata Maria: “Sesungguh­nya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” Lalu malaikat itu meninggal­kan dia.” (Lukas 1:38)
Makna kebahagiaan dan sukacita sering dipahami hanya jika kita mengalami keuntungan, bila kita selalu mengambil keputusan yang serba aman, tidak berisiko atau berhadapan dengan kesulitan. Dalam konteks ini makna sukacita dan bahagia dipahami jika ritme kehidupan ini se­lalu berjalan serba datar, bahkan menanjak, menjauh dari tantangan, dan mulus tanpa masalah.
Atas perintah Kaisar Agustus, Maria dan Yusuf harus pergi sementara waktu dari kota Nazaret ke Betlehem untuk melaksanakan pendaftaran sensus penduduk. Dengan jarak yang sangat jauh tersebut sebenarnya perjalanan Yusuf dan Maria bukanlah suatu perjalanan yang menyenangkan. Perjalanan yang sangat jauh itu harus ditempuh dengan cara berjalan kaki atau naik keledai. Padahal waktu itu Maria sedang hamil tua. Jadi kisah Natal yang dialami oleh para pelaku karya keselamatan Allah, yaitu Maria dan Yusuf bukanlah suatu kisah yang membawa sukacita atau kebahagiaan. Kesulitan dan penderitaan dalam perjalanan dari Nazaret ke Betlehem yang dialami oleh Maria terjadi sebagai konsekuensi jawaban Maria yang bersedia untuk mengandung dari Roh Kudus (Lukas 1:38).
Justru melalui kesulitan dan penderitaan yang dialami oleh Ma­ria dan Yusuf, terbukalah wilayah yang luas tanpa batas anugerah keselamatan dari Allah bagi umat manusia. Bagaimana dengan kita, apakah kita bersedia menempuh kesulitan dan penderitaan demi tugas yang diberikan oleh Allah? –Pdt. Ifer Fr. Sirima

Doa: Ya Kristus, sadarkanlah kami untuk tidak mencari rasa aman yang semu, tetapi bantulah kami untuk menemukan sukacita dalam setiap tugas panggilanMu meskipun berat dan sulit. Amin.