Tentang Sanggar Mitra Sabda

Foto saya
PROFIL Sanggar Mitra Sabda adalah sebuah Lembaga Swadaya Gerejawi, Mitra Gereja/ Lembaga bagi pemulihan relasi dengan Allah; dengan diri sendiri, dengan sesama dan dengan lingkungannya.

Kamis, 12 Januari 2012

Oleh Kasih Karunia-Nya


Baca: Galatia 1:11-24
Tetapi waktu Ia, yang telah memilih aku se­jak kandungan ibuku dan memanggil aku
oleh kasih karunia- Nya, berkenan me­nyatakan Anak-Nya di dalam aku, supaya aku
memberitakan Dia... (Galatia 1:15-16).
Saulus di masa awal perkembangan kekristenan telah memposisikan diri sebagai lawan yang dengan gencar dan ke­jam menghancurkan jemaat-jemaat Tuhan. Tetapi anehnya, Kristus berkenan memakai Saulus menjadi alat-Nya yang begitu ber­pengaruh. Kerangka berpikir dan sistem kepercayaan Saulus dapat berubah secara total untuk mengasihi dan melayani Kristus. Padahal sebelumnya Saulus dianggap telah mengalami kemajuan rohani dalam agama Yahudi. Jadi mustahillah bila Saulus dapat berubah pendirian dengan begitu cepat dan radikal menjadi seorang saksi bagi Kristus. Apa yang mustahil menjadi suatu kemungkinan bukan karena Saulus telah diubahkan oleh perbuatan manusia. Saulus berubah bukan karena hasil khotbah atau pengajaran para rasul yang lain. Dasar perubahan hidup rasul Paulus ditentukan oleh kasih-karunia dan pemilihan Kristus.
Saulus dipilih karena kasih-karunia Allah adalah agar dia dapat men­jadi penyalur kasih-karunia dan keselamatan Kristus bagi bangsa-bangsa. Sebab apabila Saulus dipilih Allah karena amal-ibadah dan kesalehannya, maka dia akan memberitakan keselamatan Allah yang harus dicapai manusia dengan perbuatan baiknya. Apabila keselamatan Allah dapat dicapai melalui perbuatan baik atau keagamaan seseorang, maka karya penebusan Kristus menjadi tidak berarti.
Dengan pemahaman seperti di atas, kitapun boleh belajar dari penga-laman Rasul Paulus bahwa bila kita boleh hidup sampai hari ini, memasuki tahun baru 2012 ini, hanya karena kasih karunia-Nya. –Pdt. Ifer Fr. Sirima

Doa: Ya Bapa, terima kasih kalau kami boleh hidup hanya oleh kasih karunia- Mu. Jangan Kaubiarkan kami menjadi takabur, agar kami terus mau menjadi alat yang kecil di tangan-Mu menyampaikan kabar baik bagi sekeliling kami. Amin.

Rabu, 11 Januari 2012

Jas Merah


Baca: Mazmur 77:12-15
Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban–Mu dari zaman purbakala (Mazmur 77:12).
Jas Merah adalah singkatan Jangan Sekali-kali Meninggalkan Sejarah. Itulah salah satu judul pidato Bung Karno. CEO Kali­bata City baru saja menyerahkan satu unit apartemen di Kalibata City kepada Bapak Ilyas Karim (84 tahun), salah satu saksi sejarah dan pengibar bendera pusaka tanggal 17 Agustus 1945 yang masih hidup. Semula mantan pejuang ini tinggal di pinggir rel kereta api di Kalibata, JakSel.
Mengingat perbuatan- perbuatan masa lalu bagi sebagian orang dianggap mem­buang waktu. Tapi bagi orang yang mau menelusuri sejarah, hal tersebut besar sekali gunanya. Pemazmur mengalami sendiri bagaimana meng­hadapi pergumulan hidupnya sampai akhirnya ia menemukan Tuhan dengan cara menelusuri kembali masa lalunya.
Masa lalu bukan untuk dilupakan tapi dipakai sebagai pelajaran berharga. Manusia mudah terjebak pada apa yang dialaminya kini tanpa mau melihat kembali apa yang Tuhan sudah lakukan di masa lalu. Tahun 2011 sudah kita tinggalkan, tapi adakah kita mencatat perbuatan-perbuat-an Tuhan yang luar biasa yang pernah kita alami? Berkat, pertolongan Tuhan, masalah yang berat tapi toh akhirnya selesai juga?
Merenungkan karya Tuhan akan membuat kita senantiasa maju bersama-Nya. Ketika kita terjebak pada kebosanan atau rutinitas hidup, coba renungkan kembali perbuatan-perbuatan Allah yang besar dalam hidup Anda. Kita masuki tahun 2012 dengan percaya bahwa Allah sedang membuka lembaran baru di tahun ini untuk kita seperti yang pernah dilakukan-Nya, ”Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban… “ (ayat 15). –Pdt. Em. Andreas Gunawan Pr.

Melupakan karya Tuhan di masa lalu sama dengan memutus sejarah kea-jaiban Allah yang masih terus berlangsung.

Selasa, 10 Januari 2012

Aku Tidak Takut


Baca: Mazmur 23:1-6
Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku...(Mazmur 23:4).
Dalam usia yang semakin bertambah dan kondisi kehidupan semakin menurun dalam banyak hal, maka ketika kita memikirkan masa depan, yang biasanya muncul dan mengemuka ialah kekuatiran. Apalagi usia tua itu sering membuat kita lalu cenderung menjadi mudah bingung dan kurang percaya diri, bahkan untuk hal-hal yang kecil sekalipun. Misalnya kita harus pergi ke suatu tempat yang belum pernah atau sudah lama sekali tidak kita kunjungi. Kita lalu menjadi begitu kuatir mengenai bagaimana kita akan dapat sampai ke sana dengan aman dan lancar, tanpa mengalami kesulitan atau harus tersesat? Kalau kita memakai kendaraan sendiri, di mana akan memarkir atau menyimpannya di sana? Dan berbagai thethek-bengek lainnya, yang sebenarnya tidak perlu merisaukan kita, apalagi sampai membuat sulit tidur!
Raja Daud adalah orang yang dalam hidupnya selain penuh kemuliaan juga sarat dengan kesulitan, kesengsaraan dan penderitaan. Namun dia dapat bersaksi dengan indahnya melalui mazmur-mazmurnya tentang Tuhan yang menjadi Gembalanya yang tepercaya, dalam keadaan hidup yang bagaimanapun. “Tuhan adalah gembalaku, takkan kekurangan aku”, “Ia menyegarkan jiwaku”, “Ia menuntun aku”. Karena sudah terbukti dalam seluruh hidupnya, maka Daud dapat dengan penuh keyakinan bersaksi, “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya”, sebab ia yakin seyakin-yakinnya bahwa Tuhan menyertainya. Dan kalau Dia menyertainya, segala sesuatu pasti akan baik-baik saja baginya. –Pdt. Em. Sutarno

Doa : Tuhan ampuni kami, kalau oleh kekurang-imanan kami, kami masih menguatirkan banyak sekali hal dalam hidup kami. Amin

Senin, 09 Januari 2012

Komitmen


Baca: Mazmur 92:15-16
Pada masa tua pun mereka masih berbuah, menjadi gemuk dan segar, untuk memberi­takan, bahwa TUHAN itu benar, bahwa Ia gunung batuku dan
tidak ada kecurangan pada-Nya
(Mazmur 92:15-16).
  Untuk perenungan di awal tahun, saya meng-ajak pembaca Musa melakukan peragaan. Silakan mengambil satu lembar kertas HVS putih. Lipatlah kertas itu menjadi 4 kolom dan tengahnya dilipat menjadi dua. Kemudian buka kembali kertas tersebut, maka akan ada 4 kolom. Sekarang tuliskan angka tahun untuk bagian horizontal (datar) mulai dari sudut kiri bawah ditulis angka 0, 25, 50, 75 dan sudut paling kanan bawah ditulis angka 100 tahun (lihat gambar).
Kemudian bagian vertikal (tegak) sebelah kiri bawah tuliskan waktu mulai dari 0, kemudian 12 (tengah), dan kiri atas ditulis angka 24 yang menunjukkan sehari ada 24 jam.









    0                                             25                                                50                                                   75                                     100
Berapa usia Anda sekarang? Robeklah kertas tersebut sesuai dengan usia Anda. Hasilnya adalah lembaran kertas yang tersisa makin mengecil. Kertas yang menunjukkan usia yang sudah dijalani dibuang, karena waktu itu sudah lewat dan tidak akan kembali.
Berapa usia maksimal manusia saat ini? 80—85 tahun? Robeklah kertas pada batas usia tersebut.
Karena robekan tersebut kertas menjadi makin kecil, namun masih dikurangi lagi. Pada umumnya sepertiga bagian dipergunakan untuk tidur dan istirahat (8 jam). Jadi hanya tinggal 16 jam kita melakukan aktivitas. Maka lebar kertas tersebut dirobek kembali. Sisakan dua pertiga kali usia yang masih tersisa. Itulah lembaran hidup kita. Apa yang akan kita isi di lembaran yang masih tersedia? Tulislah komitmen Anda dan simpan di Alkitab. –Pdt. Agus Wiyanto

Pemazmur memberikan teladan di usia tua tidak mau hidup pasif dan ber­pangku tangan, menghabiskan waktu tampa berbuat apa apa.

Jumat, 06 Januari 2012

Ada Apa di Tahun yang Baru?

Baca: Yesaya 40:31
Tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah
(Yesaya 40:31).
Menjelang tahun yang baru, biasanya timbul pertanyaan seperti apa yang akan terjadi di tahun yang baru, apakah aku masih sanggup berkarya, bagaimana dengan negara kita ini? Banyak sekali pertanyaan yang muncul dalam diri kita, yang berhubungan dengan diri kita pribadi maupun keluarga kita. Kadang orang percaya juga lari ke para normal, percaya pada ramalan-ramalan atau menghubungkannya dengan shio.
Kekuatiran memang selalu menjadi bagian dalam hidup kita. Namun perlukah kita begitu kuatir sampai harus menggadaikan kapercayaan, iman kita, dan kasih Allah yang selama ini memeliharakan kita? Pantaskah kita meragukan kasih Allah yang sudah dibuktikan melalui pengorbanan Yesus di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia? Bukankah Yesus sendiri pun mengatakan, “Sebab itu janganlah kamu kuatir akan hari besok, karena hari besok mempunyai kesusahannya sendiri.“? (Matius 6:34).
Sementara kita yang memasuki usia senja mulai kuatir akan kesehatan tubuh kita. Ya, memang fisik kita semakin melemah, sering kita menjadi sasaran beberapa macam penyakit, dan hidup rasanya jadi semakin perlahan. Usia tua tidak bisa dihindari, itu fenomena alam. Namun kita tidak boleh lupa, sebagai pengikut Yesus, setiap hari Tuhan selalu memperbarui kita secara spiritual, sehingga kita selalu mempunyai kekuatan yang baru. Apakah Anda akan tenggelam dalam rasa kuatir dan ketidakpastian hidup Anda di tahun yang baru? Berpaling dan berpeganglah kepada Tuhan, yang tangan-Nya senantiasa siap memegang tangan Anda. –Irene Talakua

Dia yang bisa menenangkan gelombang laut yang dahsyat, Dia yang akan menguatkan kita dalam melangkah, yang akan memperbarui kita di setiap pagi mendatang.